You are on page 1of 5

PENGARUH KECEPATAN PENGADUKAN LAMBAT DAN VOLUME

KOAGULAN PADA KOAGULASI LIMBAH LABORATORIUM


TERHADAP PENURUNAN pH DAN TURBIDITY
Aditya Abzar Firdaus, Amida Murti, Della Fajar Puspita, Maritsya Dita K.P, Septi
Rindu Wastuti, dan Sofiannisa Aulia
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang
1. PENDAHULUAN

Kegiatan di laboratorium berpotensi mencemari lingkungan. Beragam bahan kimia


berbahaya digunakan dalam kegiatan di laboratorium. Mulai dari asam asam kuat seperti
Asam Sulfat (H2SO4), Asam Klorida (HCl), Asam Nitrat (HNO3), dan lain lain.
Kemudian juga terdapat basa kuat Sodium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida
(KOH), garam logam juga terdapat dalam limbah ini. Begitu pula senyawa senyawa
organik seperti alkohol, asam pikrat, fenol, sikloheksan, juga bahan pembersih seperti
deterjen. Secara keseluruhan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.85
Tahun 1999, bahwa unsur-unsur di atas merupakan senyawa yang tergolong Bahan
Berbahaya dan Beracun. Keragaman jenis senyawa kimia yang terdapat dalam air limbah
laboratorium ini menyebabkan limbah memiliki tingkat keasaman yang rendah apabila
banyak mengandung asam,, sedangkan dari segi fisik memiliki warna yang gelap, kerap
kali ditemukan padatan.
Dampak yang ditimbulkan limbah laboratorium ini bermacam macam.
Bahayanya bagi kesehatan sangat banyak, kerusakan organ tubuh dapat dirasakan dan
menyebabkan berbagai penyakit berbahaya apabila zat kimia (khususnya garam logam)
terakumulasi dalam tubuh. Hal lain yang dapat terkena bahaya limbah laboratorium adalah
kualitas dan keseimbangan lingkungan, seperti zat organik yang langsung dibuang ke
sungai akan mengganggu kebutuhan oksigen organisme sungai. Tidak hanya itu, limbah ini
juga dapat merusak peralatan logam yang digunakan karena limbah mengandung zat yang
korosif. Untuk itu sangat diperlukan penanganan yang serius dalam pengolahan limbah
laboratorium.
Koagulasi merupakan pengolahan secara kimia yang umum dilakukan untuk
mengurangi padatan terlarut dengan bantuan zat kimia berupa koagulan. Berdasarkan
sebuah penelitian tentang pengolahan limbah dengan menggunakan koagulan alum sulfat
dan PAC (poli alluminium klorida) yang bertujuan untuk mendapatkan dosis dan jenis
koagulan yang tepat, didapatkan alum sulfat dengan konsentrasi 1 gr/l menghasilkan efluen
limbah dengan pH yang mendekati netral dan penurunan TDS di atas 60% (Mohammad
Said, 2009). Kelebihan dari penelitian ini adalah didapatkan jenis dan dosis koagulan yang
tepat juga jenis jenis padatan yang menurun jumlahnya pada limbah tersebut, namun
belum didapatkan kondisi operasi yang maksimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari kondisi optimal untuk proses koagulasi
terutama pada kecepatan pengadukan lambat dan volume koagulan yang diberikan.
Dengan koagulan alum sulfat sebanyak 1 gr/l limbah laboratorium diproses untuk
menetralkan pH dan menurunkan kekeruhan limbah tersebut. Kekurangan dari sistem
penelitian yang dilakukan penulis adalah kecepatan pengadukan lambat yang digunakan
masih relatif tinggi untuk dikategorikan sebagai pengadukan lambat.

2. TUJUAN PERCOBAAN
- Mengetahui proses koagulasi menggunakan koagulan alum sulfat
- Menurunkan kekeruhan dan menetralkan pH air limbah laboratorium menggunakan
metode koagulasi
- Mengetahui penurunan kekeruhan dan penetralan pH terhadap proses koagulasi yang
dilakukan
- Mengetahui kecepatan optimal dan volume koagulan untuk proses koagulasi menggunakan
alum sulfat dan pengaruhnya pada penurunan kekeruhan dan penetralan pH
3. METODOLOGI PENELITIAN
1. Alat dan Bahan

a. Bahan
Bahan yang digunakan untuk praktikum ini antara lain limbah dari laboratorium
kimia dasar yang diencerkan secara bervariasi sebanyak dua, tiga, empat, enam,
dan dua bela kali dan alum sulfat (tawas) yang diencerkan sebanyak 1 gr/l atau
1000 ppm.
b. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat-alat gelas, pH universal,
neraca analitik, motor pengaduk, dan tachometer.
2. Variabel
Variabel bebas yang dimanipulasi pada penelitian ini yaitu kecepatan pengadukan lambat
dalam satuan rpm dan pengaruhnya pada variabel terikat pH dan turbidity.
3. Prosedur kerja
a. Tahapan percobaan
Persiapan
alat dan
bahan

b.
1.
-

Percobaan
dengan
variabel

Pengambila
n dan
analisis
sampel

Pengumpulan
dan analisis
data

Pembahas
an

Prosedur analisis
Analisis turbidity
Cuci kuvet tempat sampel akan dianalis.
Bersihkan dinding bagian luar kuvet agar tidak mempengaruhi pembacaan.
Kalibrasi alat dengan memasukkan sampel standar kalibrasi dan memasukkan nilai
kalibrasi yang tercatat pada kuvet standar.
- Mengisi kuvet hingga tanda batas melalui dinding kuvet agar tidak bergelembung.
- Masukkan kuvet berisi sampel ke dalam tempat uji, tekan read dan tunggu hingga
angka tidak berubah (konstan).
- Catat angka yang tertera pada alat analisis turbidity.
2. Analisis pH
- Ambil sampel ke dalam beaker glass 100 ml secukupnya.
- Celupkan kertas pH universal.
- Cocokkan warna dengan daftar pH yang tertera dan catat pH yang menunjukkan
kesamaan warna.

4. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


1. Hasil percobaan
Proses koagulasi yang dilakukan pada air limbah laboratorium sebelumnya diencerkan
sesuai dengan petunjuk pembimbing yaitu bervariasi sebanyak dua, tiga, empat, enam, dan 12 kali

dan setelah didapatkan sampel dan dianalisis, hasil pengukuran dikalikan dengan faktor
pengenceran tersebut, jika pengenceran dua kali maka faktor pengencerannya adalah dua.
Pengalian faktor pengenceran ini hanya dilakukan pada hasil analisis turbidity agar didapatkan
hasil turbidity aktual yang sebanding dengan turbidity air limbah sebenarnya.

Tabel 1. Data Pengamatan pH, Turbidity, dan Persen Penurunan Turbidity


(Sampel telah dikalikan dengan faktor pengenceran)

Tabel di atas menunjukkan tabel hasil percobaan yang dilakukan masing masing
kelompok selama sekali seminggu dalam dua bulan April dan Mei. Setiap kelompok memiliki
empat variabel kecepatan yang berbeda beda. Pada tabel persen penurunan turbidity dapat dilihat
ada tanda minus yang disebabkan oleh ketidaktelitian praktikan dalam mengukur turbidity awal
sehingga didapatkan turbidity hasil koagulasi yang lebih besar dari turbidity awal.
2. Pembahasan
6
4
pH

2
0
150

200

250

300

350

400

450

500

volume 0 ml
volume 20 ml
volume 40 ml
volume 60 ml

kecepatan pengedukan lambat (rpm)

Gambar 1. Pengaruh volume koagulan dan kecepatan pengadukan lambat terhadap pH

Sebagaimana diketahui bahwa pengadukan lambat bertujuan untuk menghasilkan gerakan


air secara perlahan sehingga terjadi kontak antar partikel yang membentuk gabungan partikel
hingga berukuran besar. Apabila partikel ini bergabung maka seharusnya jumlah partikel yang
terlarut pada air limbah berkurang sehingga pH yang dipengaruhi oleh zat terlarut tersebut akan
mendekati netral yaitu pH air bersih. Tidak hanya kecepatan pengadukan lambat, volume
pemberian koagulan juga berpengaruh: semakin banyak volume koagulan yang diberikan maka

efisiensi pemisahan semakin besar (Subiarto, 2000). Dapat dilihat pada gambar bahwa pH tidak
dapat menunjukkan suatu pola apakah semakin naik atau semakin turun seiring bertambahnya
kecepatan dan bertambahnya volume koagulan.

turbidity (NTU)

600
500
400
300
200
100
0
150

volume 0 ml
volume 20 ml
volume 40 ml
volume 60 ml
200

250

300

350

400

450

500

kecepatan pengadukan lambat (rpm)

Gambar 2. Pengaruh volume koagulan dan kecepatan pengadukan lambat pada turbidity
Lain halnya pada turbidity. Pada gambar di atas menunjukkan seiring bertambahnya
volume koagulan yang diberikan maka turbidity hasil koagulasi semakin menurun, jika turbidity
menurun artinya air limbah tersebut memiliki tingkat kekeruhan yang rendah sehingga semakin
jernih. Turbidity yang paling rendah didapatkan dari volume koagulan 60 ml. Sedangkan pada
kecepatan pengadukan lambat tidak didapatkan pola turbidity yang semakin naik atau turun namun
didapatkan turbidity paling rendah pada kecepatan 370 rpm.
Pada variabel kecepatan pengadukan sulit didapatkan polanya terhadap penurunan atau
kenaikan pada pH dan turbidity. Hal ini disebabkan karena kecepatan pengadukan yang dilakukan
masih relatif terlalu cepat untuk kategori pengadukan lambat. Umumnya kecepatan pengadukan
lambat yang digunakan berkisar antara 30 60 rpm namun motor pengaduk yang digunakan
praktikan terlalu cepat hingga tidak dapat mencapai kecepatan rendah tersebut.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
- Tidak didapatkan pola penurunan turbidity atau penetralan pH dalam berubahnya variabel
kecepatan pengadukan lambat, namun didapatkan turbidity paling rendah dengan
penggunaan kecepatan sebesar 370 rpm. Sehingga tujuan penurunan turbidity terhadap
perubahan kecepatan pengadukan lambat tidak tercapai.
- Pada penetralan pH tidak dapat menunjukkan pola terhadap perubahan volume sehingg
tujuan tidak dapat tercapai.
- Perubahan volume yang semakin banyak menyebabkan penurunan turbidity dari air limbah
laboratorium yang diolah sehingga tujuan penelitian pada poin ini tercapai.
2. Saran
- Sebaiknya apabila variabel kecepatan yang dimanipulasi harus tercapai batas minimum
agar proses pengamatan pengaruhnya dapat terlihat.
- Pengenceran yang dipakai dan sumber air limbah harus sama agar pengamatan pada pH
dapat dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.kepalasuku.webege.com/index.php?pilih=hal&id=5 (diakses pada 26 juni 2015 pada
pukul 07.15)

https://chemslife.wordpress.com/2012/12/29/limbah-laboratorium/ (diakses pada 26 juni 2015


pada pukul 07.48)
https://fentafellana.wordpress.com/penanganan-limbah-laboratorium/ (diakses pada 26 juni 2015
pada pukul 09.27)
http://ana-kes.com/manajemen-pengelolaan-limbah-laboratorium-kesehatan/ (diakses pada 26 juni
2015 pada pukul 10.17)
http://blogaar.blogspot.com/2011/11/efek-buruk-air-limbah.html (diakses pada 26 juni 2015 pada
pukul 12.45)
http://staff.uny.ac.id/system/files/pengabdian/endang-widjajanti-lfx-ms-dr/limbah.pdf (diakses pada
tanggal 26 juni 2015 pukul 14:06)
Sidni, Irvan; Zaman, Badrus; Sudarno. Penurunan Konsentrasi Timbal dan Krom dari Air Lindi
dengan Pemanfaatan Alum dan Ferri Klorida sebagai Koagulan Melalui Proses Koagulasi dan
Flokulasi.
Said, Muhammad. 2009. Pengolahan Air Limbah Laboratorium dengan Menggunakan
Koagulan Alum Sulfat dan Poli Aluminium Klorida (PAC). Universitas Sriwijaya
Subiarto; Martono, Herlan, 2000. Pengolahan Limbah Cair Industri Pelapisan Logam secara
Koagulasi-Flokulasi dengan Natrium Hidrofosfat. Prosiding Seminar Teknologi Pengelolaan
LimbahV Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN