Вы находитесь на странице: 1из 13

LAPORAN PENDAHULUAN

LIMFADENITIS

Disusun oleh :
Adha Tazakka
P17420213040
3B

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
PRODI KEPERAWATAN PURWOKERTO
2015

LAPORAN PENDAHULUAN LIMFADENITIS


A. Konsep Medis
1. Pengertian
Limfadenitis adalah peradangan pada kelenjar getah bening yang terjadi
akibat terjadinya infeksi dari suatu bagian tubuh maka terjadi pula peradangan
pada kelenjar getah bening regioner dari lesi primer. limfadenitis tuberkulosis (TB)
merupakan peradangan pada kelenjar limfe atau getah bening yang disebabkan
oleh basil tuberkulosis (Ioachim, 2009).
Apabila peradangan terjadi pada kelenjar limfe di leher disebut dengan
scrofula (Dorland, 2004).
Limfadenitis pada kelenjar limfe di leher inilah yang biasanya paling sering
terjadi (Kumar, 2004).
Jadi dapat disimpulkan Limfadenitis adalah peradangan pada kelenjar getah
bening disebabkan oleh basil tuberculosis.
2. Etiologi
Limfadenitis bisa disebabkan oleh infeksi dari berbagai organisme yaitu
bakteri,virus,

protozoa,

riketsia

atau

jamur.

Streptokokus

dan

bakteri

staphylococcal adalah penyebab paling umum dari limfadenitis, meskipun virus,


protozoa, rickettsiae, jamur, dan basil TB juga dapat menginfeksi kelenjar getah
bening. Ciri khasnya, infeksi tersebut menyebar menuju kelenjar getah bening dari
infeksi kulit, telinga, hidung, atau mata atau dari beberapa infeksi seperti infectious
mononucleosis, infeksi cytomegalovirus, infeksi streptococcal, tuberculosis, atau
sifilis. Infeksi tersebut bisa mempengaruhi kelenjar getah bening atau hanya pada
salah satu daerah pada tubuh.

3. Patofisiologi
Kelenjar getah bening (KGB) adalah bagian dari sistem pertahanan tubuh kita.
Tubuh kita memiliki kurang lebih sekitar 600 kelenjar getah bening, namun hanya
di daerah sub mandibular, ketiak atau lipat paha yang teraba normal pada orang

sehat. Terbungkus kapsul fibrosa yang berisi kumpulan sel-sel pembentuk


pertahanan tubuh dan merupakan tempat penyaringan antigen (protein asing) dari
pembuluh-pembuluh getah bening yang melewatinya.
Pembuluh-pembuluh limfe akan mengalir ke kelenjar getah bening sehingga
dari lokasi kelenjar getah bening akan diketahui aliran pembuluh limfe yang
melewatinya. Oleh karena dilewati oleh aliran pembuluh getah bening yang dapat
membawa antigen dan memiliki sel pertahanan tubuh maka apabila ada antigen
yang menginfeksi maka kelenjar getah bening dapat menghasilkan sel-sel
pertahanan tubuh yang lebih banyak untuk mengatasi antigen tersebut sehingga
kelenjar getah bening membesar.
Pembesaran kelenjar getah bening dapat berasal dari penambahan sel-sel
pertahanan tubuh yang berasal dari kelenjar getah bening itu sendiri seperti
limfosit, sel plasma, monosit dan histiosit atau karena datangnya sel-sel
peradangan (neutrofil) untuk mengatasi infeksi di kelenjar getah bening
(limfadenitis), infiltrasi sel-sel ganas atau timbunan dari penyakit metabolite
macrophage (gaucher disease). Dengan mengetahui lokasi pembesaran kelenjar
getah bening maka kita dapat mengarahkan kepada lokasi kemungkinan terjadinya
infeksi atau penyebab pembesaran kelenjar getah bening.
Benjolan, bisa berupa tumor baik jinak atau ganas, bisa juga berupa
pembesaran kelenjar getah bening. Kelenjar ini ada banyak sekali di tubuh kita,
antara lain di daerah leher, ketiak, dalam rongga dada dan perut, di sepanjang
tulang belakang kiri dan kanan sampai mata kaki. Kelenjar getah bening berfungsi
sebagai penyaring bila ada infeksi lokal yang disebabkan bakteri atau virus. Jadi,
fungsinya justru sebagai benteng pertahanan tubuh.
4. Tanda dan Gejala
Gejala untuk menganalisa apakah terkena penyakit ini adalah kelenjar getah
bening yang terserang biasanya akan membesar dan jika diraba terasa lunak dan
nyeri, selain itu gejala klinis yang timbul adalah demam, nyeri tekan, dan tanda
radang. Kulit di atasnya terlihat merah dan terasa hangat, pembengkakan ini akan
menyerupai daging tumbuh atau biasa disebut dengan tumor. Dan untuk

memastikan apakah gejala-gejala tersebut merujuk pada penyakit limfadenitis


maka perlu adanya pengangkatan jaringan untuk pemeriksaan di bawah
mikroskop.
Limfadenitis pada taraf parah disebut limfadenitis kronis. Limfadenitis ini
terjadi ketika penderita mengalami infeksi kronis, misal pada kondisi ketika
seseorang dengan faringitis kronis akan ditemukan pembesaran kelenjar getah
bening leher (limfadenitis). Pembesaran di sini ditandai oleh tanda radang yang
sangat minimal dan tidak nyeri. Pembesaran kronis yang spesifik dan masih
banyak di Indonesia adalah akibat tuberkulosa. Limfadenitis tuberkulosa ini
ditandai oleh pembesaran kelenjar getah bening, padat/keras, multiple dan dapat
berhubungan satu sama lain. Dapat pula sudah terjadi perkijuan seluruh kelenjar,
sehingga kelenjar itu melunak seperti abses tetapi tidak nyeri seperti abses banal.
Apabila abses ini pecah kekulit, lukanya sulit sembuh oleh karena keluar secara
terus menerus sehingga seperti fistula.
Limfadenitis tuberculosa pada kelenjar getah bening dapat terjadi sedemikian
rupa, besar dan berhubungan sehingga leher penderita itu disebut seperti bull neck.
Pada keadaan seperti ini kadang-kadang sulit dibedakan dengan limfoma
malignum. Limfadenitis tuberkulosa diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan
histopatologi, terutama yang tidak disertai oleh tuberkulosa paru.

5. Pathway

6. Komplikasi
a. Pembentukan abses
Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi
bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi
infeksi.
b. Sepsis (septikemia atau keracunan darah)
Sepsis adalah kondisi medis yang berpotensi berbahaya atau mengancam
nyawa, yang ditemukan berhubungan dengan infeksi yang diketahui atau
dicurigai.
c. Fistula (terlihat dalam limfadenitis yang disebabkan oleh TBC)
Limfadenitis tuberkulosa ini ditandai oleh pembesaran kelenjar getah bening,
padat/keras, multiple dan dapat berkonglomerasi satu sama lain. Dapat pula
sudah terjadi perkijuan seluruh kelenjar, sehingga kelenjar itu melunak seperti

abses tetapi tidak nyeri. Apabila abses ini pecah ke kulit, lukanya sulit sembuh
oleh karena keluar secara terus menerus sehingga seperti fistula. Fistula
merupakan penyakit yang erat hubungannya dengan immune system / daya
tahan tubuh setiap individual.
7. Pemeriksaan penunjang
a. Ultrasonografi (USG)
USG merupakan salah satu teknik yang dapat dipakai untuk mengetahui
ukuran, bentuk, dan gambaran mikronodular.
b. Biopsi
Biopsi dapat dilakukan dengan mengambil sel keluar melalui jarum atau
dengan operasi menghapus satu atau lebih kelenjar getah bening. Sel-sel atau
kelenjar getah bening akan dibawa ke lab dan diuji. Biopsi dilakukan terutama
bila terdapat tanda dan gejala yang mengarahkan kepada keganasan.
c. Kultur
Kultur (contoh dikirim ke laboratorium dan diletakkan pada kultur medium
yang

membiarkan

mikroorganisme

untuk

berkembang)

kemungkinan

diperlukan untuk memastikan diagnosa dan untuk mengidentifikasikan


organisme penyebab infeksi.
d. CT Scan
CT Scan adalah mesin x-ray yang menggunakan komputer untuk mengambil
gambar tubuh Anda untuk mengetahui apa yang mungkin menyebabkan
limfadenitis Anda. Sebelum mengambil gambar, Anda mungkin akan diberi
pewarna melalui intravena di pembuluh darah Anda agar dapat melihat gambar
dengan jelas. CT Scan dapat mendeteksi pembesaran kelenjar getah bening
servikalis dengan diameter 5 mm atau lebih.
e. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Magnetic resonance imaging (MRI) digunakan untuk melihat dalam tubuh
Anda. Dokter dapat menggunakan gambar ini untuk mencari penyebab
limfadenitis.
8. Penatalaksanaan

Tata laksana pembesaran kelenjar getah bening leher didasarkan kepada


penyebabnya. Banyak kasus dari pembesaran kelenjar getah bening leher sembuh
dengan sendirinya dan tidak membutuhkan pengobatan apa pun selain dari
observasi. Kegagalan untuk mengecil setelah 4-6 minggu dapat menjadi indikasi
untuk dilaksanakan biopsy kelenjar getah bening. Biopsy dilakukan bila terdapat
tanda dan gejala yang mengarahkan kepada keganasan, kelenjar getah bening yang
menetap atau bertambah besar dengan pengobatan yang tepat, atau diagnosis
belum dapat ditegakkan.
Pembesaran kelenjar getah bening biasanya disebabkan oleh virus dan sembuh
sendiri, walaupun pembesaran kelenjar getah bening dapat berlangsung mingguan.
Pengobatan pada infeksi kelenjar getah bening oleh bakteri (limfadenitis) adalah
anti-biotic oral 10 hari dengan pemantauan dalam 2 hari pertama flucloxacillin 25
mg/kgBB empat kali sehari. Bila ada reaksi alergi terhadap antibiotic golongan
penicillin dapat diberikan cephalexin 25 mg/kg (sampai dengan 500 mg) tiga kali
sehari atau erythromycin 15 mg/kg (sampai 500 mg) tiga kali sehari.

A. Konsep Medis
1. Pengkajian
a. Identitas klien : selain nama klien, juga orangtua; asal kota dan daerah,
jumlah keluarga.
b. Keluhan : penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit.
c. Riwayat penyakit sekarang : tanda dan gejala klinis TB serta terdapat
benjolan/bisul pada tempat-tempat kelenjar seperti : leher, inguinal, axilla
dan sub mandibula.
d. Riwayat penyakit dahulu : pernah sakit batuk yang lama dan benjolan
bisul pada leher serta tempat kelenjar yang lainnya seperti amandel atau

adanya infeksi gigi dan gusi, dan sudah diberi pengobatan antibiotik tidak
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

sembuh-sembuh?
Pernah berobat tapi tidak sembuh?
Pernah berobat tapi tidak teratur?
Riwayat kontak dengan penderita TBC.
Daya tahan yang menurun.
Riwayat imunisasi/vaksinasi.
Riwayat pengobatan.
Riwayat sosial ekonomi dan lingkungan.
Riwayat keluarga: biasanya keluarga ada yang mempunyai penyakit yang

sama.
m. Lingkungan: Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman yang
padat, ventilasi rumah yang kurang, jumlah anggota keluarga yang
banyak.
n. Pola fungsi kesehatan : pola persepsi sehat dan penatalaksanaan
kesehatan.
o. Keadaan umum: alergi, kebiasaan, imunisasi.
p. Pola nutrisi-metabolik : anoreksia, mual, tidak enak diperut, berat badan
turun, turgor kulit jelek, kulit kering dan kehilangan lemak sub kutan, sulit
dan sakit menelan, turgor kulit jelek.
q. Pola eliminasi : perubahan karakteristik feses dan urine, nyeri tekan pada
kuadran kanan atas dan hepatomegali, nyeri tekan pada kuadran kiri atas
dan splenomegali.
r. Pola aktifitas-latihan : Sesak nafas, fatique, tachicardia,aktifitas berat
timbul sesak nafas (nafas pendek).
s. Pola tidur dan istirahat: iritable, sulit tidur, berkeringat pada malam hari.
t. Pola kognitif-perseptual : kadang terdapat nyeri tekan pada nodul limfa,
nyeri tulang umum, takut, masalah finansial, umumnya dari keluarga tidak
mampu.
Pemeriksaan fisik : pemeriksaan yang dilakukan terhadap fisik pasien yang
berkaitan dengan penyakit yang diderita oleh pasien untuk melakukan
pengambilan data-data kesehatan pasien serta untuk mengambil langkah yang
tepat dalam pemberian terapi lebih lanjut.
a. Demam: suhu 40-410C hilang timbul.

b. Batuk: terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang/
mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk
purulen (menghasilkan sputum).
c. Sesak nafas: terjadi bila sudah lanjut, dimana infiltrasi radang sampai
setengah paru.
d. Nyeri dada: ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang
sampai ke pleura.
e. Malaise: ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala,
nyeri otot dan kering diwaktu malam hari.
f. Pada tahap dini sulit diketahui.
g. Ronchi basah, kasar dan nyaring.
h. Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi
memberi suara limforik.
i. Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis.
j. Adanya Pembesaran kelenjar biasanya multipel.
k. Benjolan/pembesaran kelenjar pada leher (servikal), axilla, inguinal dan
sub mandibula.
l. Kadang terjadi abses
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya faktor resiko
b. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan
napas
c. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual
muntah
d. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologi)
e. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan
3. Perencanaan Keperawatan
No
1

Tujuan dan Kriteria


hasil
Gangguan pertukaran gas Tujuan :
Setelah
dilakukan1.
berhubungan
dengan
tindakan keperawatan
adanya faktor resiko
selama 3 x 24 jam2.
pola nafas berangsur
efektif
Diagnosa

Intervensi
Respiratory Monitoring
Monitor frekuensi, ritme
dan kedalaman pernafasan
Catat pergerakan dada,
kesimetrisan,
penggunaan
otot tambahan

NOC :
Respiratory Status
1.
2.
3.
4.

3.

Kriteria Hasil :
4.
Tanda vital dalam
rentang normal
1.
Ekspansi
dada
optimal dan simetris 2.
Bernafas mudah
Keadaan inspirasi 3.
4.

Bersihan jalan nafas

Tujuan :
Setelah
dilakukan1.
tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam2.
pola nafas berangsur
efektif
NOC :
3.
Respiratory Status

tidak efektif
berhubungan dengan
obstruksi jalan napas

Kriteria Hasil :
4.
Tanda vital dalam
rentang normal
1.
2. Ekspansi
dada
optimal dan simetris 2.
3. Bernafas mudah
4. Keadaan inspirasi 3.
1.

4.
3

Resiko nutrisi kurang


dari kebutuhan tubuh b.d
mual muntah

Tujuan :
Setelah dilakukan
1.
tindakan keperawatan
3 x 24 jam mual
muntah dapat teratasi 2.
sehingga resiko tidak 3.
terjadi
4.

Monitor pola nafas seperti,


bradipneu,
takipneu,
hiperventilasi
Auskultasi suara pernafasan
Oxygen terapy
Pertahankan jalan nafas
yang paten
Pertahankan posisi pasien
dengan kepala lebih tinggi
Siapkan
peralatan
oksigenasi
Monitor dan atur aliran
oksigen
Respiratory Monitoring
Monitor frekuensi, ritme
dan kedalaman pernafasan
Catat pergerakan dada,
kesimetrisan,
penggunaan
otot tambahan
Monitor pola nafas seperti,
bradipneu,
takipneu,
hiperventilasi
Auskultasi suara pernafasan
Oxygen terapy
Pertahankan jalan nafas
yang paten
Pertahankan posisi pasien
dengan kepala lebih tinggi
Siapkan
peralatan
oksigenasi
Monitor dan atur aliran
oksigen
Management Nutrisi
Kaji riwayat makanan yang
biasa dimakan dan kebiasaan
makan
Timbang berat badan
Anjurkan ibu untuk tetap
memberikan asi rutin
Kolaborasikan dengan ahli

NOC :
Status Nutrisi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
4

Kriteria Hasil :
Berat badan pasien
sesuai umur
Stamina
Tenaga
Kekuatan
menggenggam
Penyembuhan
jaringan
Daya tahan tubuh
Konjungtiva tidak
anemis
Pertumbuhan

gizi untuk menentukan


jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan
1.
2.
3.
4.

Nyeri akut berhubungan Tujuan :


Setelah dilakukan
dengan
agen
injuri
tindakan keperawatan1.
(biologi)
3 x 24 jam resiko
kekurangan cairan U
dapat diatasi
NOC :
Pain level
Kriteria Hasil :
Melaporkan nyeri
berkurang
Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
Mapu mengontrol
nyeri
Hipertermi berhubungan Tujuan :
1.
Setelah dilakukan
dengan
proses
tindakan keperawatan
peradangan
3 x 24 jam resiko
kekurangan cairan
dapat diatasi
NOC :
Thermoregulasi
Kriteria Hasil :

Monitoring Nutrisi
Monitor turgor kulit
Monitor mual dan muntah
Monitor intake nutrisi
Monitor pertumbuhan dan
perkembangan anak

NIC :
Pain Management
Lakukan pengkajian nyeri
secara komprehensif
Observasi reaksi nonverbal
Ajarkan teknik nafas dalam
Tingkatkan istirahat
Monitor vital sign

Monitor suhu sesering


mungkin
Monitor nadi, TD, RR
Catat adanya fluktuasi TD
Monitor hidrasi seperti turgor
kulit, kelembaban membrane
mukosa

Suhu 36,5-37,5
Nadi, RR rentang
normal
Tidak ada perubahan
warna

4. Evaluasi
a. Tanda vital dalam rentang normal, ekspansi dada optimal dan simetris,
bernafas mudah
b. Berat badan pasien sesuai umur, stamina dan tenaga bagus
c. Melaporkan nyeri berkurang
d. Suhu 36,5-37,5 , nadi, RR rentang normal

DAFTAR PUSTAKA
Ioachim HarryL, Medeiros. Lymph Node Pathology, Fourth Edition, Lippincot
Wiilliam & Wilkins ;2003: 294-303
Kumar Vinay, Cotran S. Ramzi, Robbins L. Stanley. Robbins Basic Pathology. 8th
Edition. W.B Saunders Company. Philadelphia. Pennsylvania.
Baratawidjaja. G. K, Rengganis Iris. 2012. Imunologi Dasar, Jakarta, Balai Penerbit
FKUI
Limfadenitis. Available at:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16862/4/Chapter%20II.pdf. Accessed
on Juni 23, 2015.
http://deddyrn.blogspot.com/2009/09/limfadenintis-tuberkulosis.html. accessed on
Juni 23, 2015