You are on page 1of 25

LAPORAN KASUS

MENINGITIS SEROSA

PEMBIMBING :
dr. Ellen R Sianipar, Sp.A

DISUSUN OLEH
Citra Anggraini

110.2009.066

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PASAR REBO JAKARTA
KEPANITERAAN KLINIK PERIODE 25 MEI 1 AGUSTUS 2015

BAB I
STATUS PASIEN
A. Identitas Pasien
Nama

: An. MZ

TTL / Umur

: 3 Mei 2014 / 1 Tahun 1 bulan

BB

: 9,9 kg

TB

: 76 cm

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Beringin No.50 Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta

Masuk RS

: 6 Juni 2015

Keluar RS

:-

Tgl.Pemeriksaan

: 26 Juni 2015

No. RM

: 2015-620927

B. Identitas Orang Tua

Ayah

Ibu

Nama

Tn. H

Ny. N

Umur

26 tahun

23 tahun

Pendidikan

SMA

SMA

Pekerjaan

Montir

IRT

Agama

Islam

Islam

C. Anamnesa
Alloanamnesa dengan orangtua pasien tanggal 26 juni 2015 di bangsal mawar RSUD
Pasar Rebo

Keluhan utama

: Pasien tidak sadar atau selalu tidur sejak 3 hari SMRS.

Keluhan Tambahan

: Demam, batuk.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke IGD RSUD Pasar Rebo rujukan dari RS Adiyaksa dengan penurunan
kesadaran sejak 3 hari SMRS.
Pasien batuk sejak 3 minggu SMRS, batuk berdahak namun sulit keluar, nyeri
menelan (-), darah (-), sesak (-). Keluhan batuk disertai demam sejak 3 minggu
SMRS, demam naik turun dengan suhu tertinggi 39C, diberi obat penurun panas suhu
kembali normal namun demam lagi 6 jam setelah minum obat, disertai kejang satu

kali pada hari ke 3 demam, kejang seluruh badan selama <1 menit. Keluhan mual,
muntah, BAB cair, penurunan berat badan selama beberapa bulan terakhir disangkal.
Pasien lalu berobat ke poli Anak RSUD Pasar Rebo lalu diberi obat dan sembuh dari
batuk dan demam 2 minggu kemudian. Namun setelah itu pasien menjadi kurang aktif
dalam bermain, napsu makan mulai menurun, sering tidur. Pasien lalu dibawa ke RS
Adiyaksa 3 hari SMRS, karena pasien tidur dan sulit untuk dibangunkan, hanya
bangun ketika makan saja. Pasien sempat dirawat namun tidak ada perbaikan dan
kumudian di rujuk ke RSUD Pasar Rebo untuk terapi lebih lanjut.

Riwayat penyakit dahulu


Pasien sering batuk sejak usia enam bulan namun sembuh ketika berobat ke dokter.
Riwayat kejang dan alergi disangkal.

Riwayat penyakit keluarga


Pasien merupakan anak pertama dari dua bersaudara, adik pasien tidak mengalami hal
serupa. Orang tua serta kakek nenek juga tidak ada memiliki riwayat TB atau
pengobatan 6 bulan. Ayah pasien merokok.

Riwayat kehamilan dan kelahiran


R

Rw

iR aw

M
I
I
R

b
b

e
u
u
w

P
N
T
P
B
D
L

i y

i
B
B
i
K

t a

i
p

a y

s
l
a
m

ya

wa

Riwayat tumbuh kembang

Usia
4 bulan

Motorik Kasar
Mengangkat kepala

Motorik Halus
-

Bicara
-

sambil tengkurap bolak

Sosial
Bereaksi thd
suara

balik
6 bulan

Duduk dibantu

Tertawa saat
bermain

9 bulan

Berdiri berpegangan

Kata-kata namun

Komunikasi

belum jelas

Riwayat Makan
Pasien tidak mendapatkan ASI sejak lahir dan diganti oleh susu formula sampai saat
ini. Bubur susu instan diberikan usia 4 bulan. Buah sudah diberikan sejak usia 6
bulan, nasi tim dan bubur bayi pada usia 9 bulan. Usia 1 tahun pasien memakan menu
makanan keluarga. Nafsu makan pasien baik apabila pasien tidak sakit. Pasien selalu
minum susu formula 6 botol susu perhari, pasien makan 3 kali sehari 1 piring dengan
lauk yang bervariasi. Pasien sudah memakan sayur, telor, ayam dan daging.
Kesan : Kualitas dan kuantitas makanan sampai saat ini masih normal.

Riwayat Imunisasi

Imunisasi di Bidan

0 Bulan

: Hepatitis B 0

1 Bulan

: BCG, Polio 1

2 Bulan

: DPT-HB-Hib 1, Polio 2

3 Bulan

: DPT-HB-Hib 2, Polio 3

4 Bulan

: DPT-HB-Hib 3, Polio 4

9 Bulan

: Campak

Riwayat Sosial Ekonomi


Sosial Ekonomi:

Jumlah penghasilan ayah Rp 2.000.000,- sampai Rp 3.000.000,- per bulan, yang


dirasa cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Seluruh anggota keluarga
pasien sudah mengikuti program BPJS sejak pasien berusia 4 bulan.
Lingkungan:
Pasien sempat tinggal bersama dengan kakek dan neneknya sampai usia 6 bulan, lalu
setelah itu pindah tinggal sendiri di rumah milik sendiri sampai sekarang. Pasien saat
ini tinggal di Cipayung Jakarta Timur. Rumah tidak berdekatan dengan pabrik besar
ataupun pusat listrik bertegangan tinggi. Rumah berukuran kurang lebih 100 m2. jarak
antar rumah tidak berdekatan, udara dan pencahayaan rumah cukup baik, sarana
prasarana tempat pembuangan sampah cukup baik. Di dalam rumah terdapat 1
ruangan keluarga, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dan dapur. Sarana air bersih berasal
dari pompa air tanah dan listrik berasal dari PLN. Hubungan dengan tetangga cukup
baik. Tetangga tidak ada yang sedang pengobatan TB atau batuk lama. Fasilitas
kesehatan yang terdekat yaitu bidan dalam radius 1 km.
D. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum

: Tampak sakit berat

2. Kesadaran

: Apatis. GCS 9 (E2V2M5)

3. Tanda Vital

Frekuensi nadi

: 132 x/menit, teratur, nadi kuat, isi cukup

Frekuensi napas

: 36 x/menit

Suhu

: 37,30 Celsius

Tekanan darah

: 90/70 mmHg

4. Kulit

: Turgor baik, CRT < 2 detik

5. Kepala

: Lingkar kepala 46 cm, rambut hitam merata, tidak mudah dicabut

6. Mata

: Refleks cahaya (+/-), pupil bulat anisokor 3/4,


Conjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)

7. Leher

: Dalam batas normal tidak terdapat pembesaran KGB

8. Telinga

: Normotia, serumen (+)

9. Hidung

: Normotia, secret (-), hiperemis (-)

10. Tenggorok : Sulit dinilai


11. Mulut

: mukosa bibir basah, sianosis tidak ada

12. Jantung
a. Inspeksi

: Iktus cordis tidak tampak

b. Palpasi

: Iktus kordis teraba di sela iga V midklavikula kiri

c. Perkusi

i. Batas atas jantung di sela iga 3 garis sternal kiri


ii. Batas kanan jantung di sela iga 4 garis sternal kanan
iii. Batas kiri jantung di sela iga 4 garis midklavikula kiri
d. Auskultasi : Bunyi jantung I II regular, tidak ada murmur, tidak ada
gallop
13. Paru
a. Inspeksi

: Gerak simetris saat statis dan dinamis.

b. Palpasi

: Fremitus, simetris kanan-kiri.

c. Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru.

d. Auskultasi : Suara nafas vesikuler, wheezing tidak ada, rhonki tidak ada.
14. Abdomen
a. Inspeksi

: Datar, tidak ada massa

b. Auskultasi : Bising usus positif normal


c. Palpasi

: Supel, hepar tidak teraba, Lien tidak teraba.


Nyeri tekan (-). Turgor baik.

d. Perkusi

: Timpani pada seluruh abdomen

15. Ektremitas : Edema +


+

+, spasme + + , akral hangat, tidak ada deformitas.


+

16. Tanda rangsang meningeal


a. Kaku kuduk

: Negatif

b. Brudzinki I

: Negatif

c. Brudzinki II

: Negatif

d. Kernig

: Negatif

e. Lasque

: Negatif

17. Status gizi


Klinis: edema -/-, tampak kurus -/Antropometris:

Berat Badan (BB)

: 9,9 kg

Tinggi/Panjang Badan

: 76 cm

Lingkar kepala

: 46 cm

Lingkar lengan atas

: 14 cm

BB/U

: -2 s/d +2

TB/U

: -2 s/d +2

BB/TB

: -2 s/d +2

Simpulan status gizi : gizi baik.


E. Data Laboratorium
9/6
Hematologi
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Eritrosit
Trombosit

10/6

11,3
34
13830
4,7
29800

15/6

17/6

20/6

23/6

27/6

9,8
31
10330
4,2
81000

9,5
31
12060
4,2
15300

9,3
30
6580
3,9
34200

9,1
30
6790
3,8
30100

11,7
36
9380
4,6
28700

0
Hitung jenis

Basofil
Eosinofil
Neutrofil

batang
Neutrofil

segmen
Limfosit
Monosit
LUC

63

66

55

59

59

43

28

28

35

28

29

43

Klinik
SGOT
SGPT
Ureum

43
25
16

106
280
13

115
136

159
88

darah
Kreatinin

0,40

0,39

535,5

551,3

Kimia

darah
eGFR
Elektrolit
Natrium

138

140

134

145

Kalium
Klorida

5,0
100

4,6
95

3,6
93

4,8
98

USG kepala (10/6/2015)


Hasil : Tidak tampak lesi hiperekhoik/isoekhoik/hipoekhoik intraserebral.
Dilatasi ventrikel lateral kanan-kiri dan ventikrel III
Tidak tampak deviasi midline. Sulcy dan gyri baik.
Kesan : Hidrocephalus.

Laboratorium Analisa Cairan Tubuh (11/6/2015)


Glukosa
Protein Cairan Liquor
Cairan tubuh
Spesimen
Jumlah sel

6 mg/dL
0,38
Liquor
140 /L (transudat)

Hitung Jenis MN
Limfosit
Monosit
Hitung Jenis PMN
Neutrofil

Test Mauntoux (+)

CT Scan Kepala (12/6/2015)

Dewasa : 40-70
Anak : 60-80

<500 : Transudat
>500 : Eksudat

5%
3%
92 %

CT Scan Kepala tanpa dan dengan kontras, potongan axial ketebalan slice 5-10 mm,
dengan hasil sbb :
Tampak kontras enhacement pada white matter, falx cerebri, dan fisura sylvii.
Dilatasi ventrikel lateral kanan kiri, ventrikel III dan plexus choroideus kanan kiri.
Tidak tampak deviasi midline. Tidak tampak lesi di pons, CPA maupun cerebellum.
Sulci dan gyri baik. Tulang intak. Pneumatisasi mastoid, bulbus oculi dan N.optikus
baik.
Sinus eithmoidalis, sinus frontalis, dan sphenoidalis baik.
Kesan : Hidrocephalus
Meningoensefalitis

Laboratorium bakteriologi (15/6/2015)


Biakan Aerob & resitensi
Spesimen
: Darah dan cairan otak.

Result

: tidak ada pertumbuhan mikroorganisme.

Laboratorium urinalisa (22/6/2015)


Urin Lengkap
Makroskopik
Warna
Kejernihan
Kimia Urin
Berat jenis
pH
Glukosa
Bilirubin
Keton
Darah / Hb
Protein
Urobilinogen
Nitrit
Leukosit esterase
Sedimen
Leukosit
Eritrosit
Silinder
Sel epitel
Kristal
Bacteria
Lain-lain

Hasil

Rujukan

Kuning
Agak keruh

Kuning
Jernih

1.010
7,5
Negatif
Negatif
Negatif
2+
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

1.015 1.025
4,8 7,4
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

2-3/LPB
3-7/LPB
Negatif
1+
Negatif
1+
Negatif

< 10/L
<3/L
Positif
Negatif

Pemeriksaan EEG (24/6/2015)


Informasi klinis :
Dirawat dengan diagnosis me ningoensefalitis (LCS : Leukosit >>, PMN : 92 : 8
CT Scan kepala : Hidrocephalus
Riwayat demam, disertai kejang hari ke 3 demam.
Perekaman dilakukan selama 40 menit dalam keadaan tidak sadar
(Soporocomatous/GCS 6). Rekaman didominasi gelombang lambat teta bercampur
dengan teta difus. Reaktifitas terhadap buka tutup mata tidak dapat dinilai. Reaktifitas
terhadap rangsang nyeri.
Beberapa kali tampak cetusan gelombang tajam didaerah frontal kiri (F3).
Kesan :
EEG interiktal Abnormal berupa :
1. Perlambatan umum.
2. Aktifitas epileptiform fokal di frontak kiri.
Kolerasi klinis : sesuai dengan disfungsi kortikal difus (encephalopathy/edema cerebri
difus) dengan potensial epileptogenik di frontal kiri.

F. Resume

Pasien datang ke IGD RSUD Pasar Rebo rujukan dari RS Adiyaksa dengan penurunan
kesadaran sejak 3 hari SMRS. Pasien batuk sejak 3 minggu SMRS dan diserat demam
serta kejang 1x saat demam. Pasien sudah sering batuk sejak usia 6 bulan dan sembuh
dengan obat dari dokter namun kembali batu 1-2 minggu setelah obat habis. Orang
tua pasien tidak mengetahui apakah sekitar pasien ada penderita TB atau tidak.

Pemeriksaan Fisis

GCS 9

Mata : Refleks cahaya (+/-), pupil bulat anisokor 3/4.

Ekstremitas : Edema +
+

+, spasme + + , akral hangat, tidak ada deformitas.


+

Rangsang meningeal : saat diperiksa (-)


Pemeriksaan penunjang
LCS : Glukosa 6,
CT.scan kepala hydrocephalus
Test Mauntoux (+) positif

G. Diagnosis Kerja
Meningitis serosa (tuberkulosa)
H. Diagnosis Banding
Ensefalitis
I. Tatalaksana
Minum susu 125cc/3jam
Sanmol drip 100mg/6jam
Kalmetasone 3x1mg
Ceftriaxone 3x300mg
Rimcure 1tabx1
J. Prognosis

Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam

: dubia ad bonam

Quo ad sanationam

: dubia ad bonam

K. Follow Up

S:

27/6/2015
Pasien sudah S:

respon

28/6/2015
Pasien sudah S:

29/6/2015
30/6/2015
Pasien sudah S: Pasien semakin

terkadang respon jika disentuh, respon jika disentuh, respon jika disentuh,

apabila

disentuh, menguap,

demam (+), muntah (+),

demam menguap, demam (+) menguap, demam (+)

muntah

(-), naik turun, muntah naik turun, muntah

(-), Minum susu 125 Minum susu 125 cc/3 (-), Minum susu 125 (-), Minum susu 125
cc/3 jam, BAK BAB jam, BAK baik, BAB cc/3 jam, BAK baik, cc/3 jam, BAK baik,
baik.

(-).

BAB (-).

BAB (-).

O : KU : TSB, Kes : O : KU : TSB, Kes : O : KU : TSB, Kes : O : KU : TSB, Kes :


Apatis.

Apatis.

Apatis.

Apatis.

S: 39,1C, N: 112x/, S: 40,1C, N: 132x/, S: 37,6C, N: 120x/, S: 36,7C, N: 124x/,


Rr: 28x/.

Rr: 32x/.

Rr: 28x/.

Rr: 32x/.

Kepala : dbn

Kepala : dbn

Kepala : dbn

Kepala : dbn

Mata : Pupil anisokor Mata : Pupil anisokor Mata : Pupil anisokor Mata : Pupil anisokor
3/4,

RCL

(-/-), 3/4,

RCL

(-/-), 3/4,

RCL

(-/-), 3/4,

RCL

(-/-),

RCTL (-/-)

RCTL (-/-)

RCTL (-/-)

RCTL (-/-)

THT : dbn

THT : dbn

THT : dbn

THT : dbn

Thorax : dbn

Thorax : dbn

Thorax : dbn

Thorax : dbn

Abd : dbn

Abd : dbn

Abd : dbn

Abd : dbn

Eks : Spasme (+)

Eks : Spasme (+)

Eks : Spasme (+)

Eks : Spasme (+)

A: Meningitis TB

A: Meningitis TB

A: Meningitis TB

A: Meningitis TB

P : Minum susu 125 P : Minum susu 125 P : Minum susu 125 P : Minum susu 125
cc x 8, Kalmetasone cc x 8, Kalmetasone cc x 8, Kalmetasone cc x 8, Kalmetasone
tap

off

Sanmol

3x1

mg, tap off, Sanmol drip tap off, Sanmol drip tap off, Sanmol drip
drip 4x100mg

4x100mg

4x100mg

4x100mg
1/7/2015
S: Demam (-), respon S:

2/7/2015
Demam S:

3/7/2015
Demam

pasien masih sama (+),muntah

(-), minum

dengan

(+), BAB 1x/hari ampas

kemarin, minum

susu

susu

(-),
(+),

muntah (-), minum BAB 3x/hari ampas (+), dan BAK baik.
susu (+), BAB dan (+) dan BAK baik.
BAK baik.

O : KU : TSB, Kes :

O : KU : TSB, Kes : Apatis.

O : KU : TSB, Kes : Apatis.


Apatis.

S: 37,9C, N: 112x/,

S: 38,7C, N: 132x/, Rr: 28x/.

S: 37,9C, N: 112x/, Rr: 28x/.

Kepala : dbn

Rr: 28x/.

Kepala : dbn

Mata : Pupil anisokor

Kepala : dbn

Mata : Pupil anisokor 3/4,

Mata : Pupil anisokor 3/4,


3/4,

RCL

RCL

RCL

(-/-),

(-/-), RCTL (-/-)

(-/-), RCTL (-/-)

THT : dbn

RCTL (-/-)

THT : dbn

Thorax : dbn

THT : dbn

Thorax : dbn

Abd : dbn

Thorax : dbn

Abd : dbn

Eks : Spasme (+)

Abd : dbn

Eks : Spasme (+)

Lab:

Eks : Spasme (+)

A: Meningitis TB

DL: 10,6/34/4,2/6820

A: Meningitis TB

P : Minum susu 125 /201000.

P : Minum susu 125 cc x 8, Sanmol drip MCV/CH/CHC:


cc x 8, Kalmetasone 4x100mg

79/25/32

stop,

SGOT/PT: 89/40

Sanmol

4x100mg

drip

Ur/Cr: 12/0,34
Ct.scan
Hidrocephalus
Meningitis
A: Meningitis TB
P : Minum susu 125
cc x 8, Sanmol drip
4x100mg

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Anatomi dan Fisiologi

Meningen terdiri dari tiga lapis, yaitu:


1. Pia mater merupakan selaput jaringan penyambung

yang tipis

yang menutupi

permukaan otak dan membentang ke dalam sulkus, fisura dan sekitar pembuluh darah di
seluruh otak. Piamater juga membentang ke dalam fisura transversalis di bawah corpus
callosum. Di tempat ini piamater membentuk tela choroidea dari ventrikel tertius dan
lateralis, dan bergabung dengan ependim dan pembuluh-pembuluh darah choroideus
untuk membentuk pleksus choroideus dari ventrikel- ventrikel ini. Pia dan ependim
berjalan di atas atap dari ventrikel keempat dan membentuk tela choroidea di tempat itu.
2. Arachnoid merupakan selaput halus yang memisahkan pia mater dan durameter.
3. Dura mater merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan
ikat yang tebal dan kuat.

Dura

kranialis

atau pachymeninx adalah struktur

fibrosa yang kuat dengan lapisan dalam (meningen) dan lapisan luar (periosteal).
Duramater lapisan luar melekat

pada

permukaan

dalam

cranium

dan

juga

membentuk periosteum. Di antara kedua hemispher terdapat invaginasi yang disebut


falx cerebri yang melekat pada crista galli dan meluas ke crista frontalis ke belakang
sampai ke protuberantia occipitalis interna, tempat dimana duramater bersatu dengan
tentorium cerebelli yang meluas ke kedua sisi

Gambar 2.3.1 Struktur meningen dari luar

Gambar 2.1.1. Struktur meningen dari luar

Gambar 2.1.2. Sirkulasi Liquor Cerebrospinalis

2.2.

Definisi
Meningitis tuberkulosis adalah peradangan selaput otak atau meningen yang

disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meningitis tuberkulosis merupakan


hasil dari penyebaran hematogen dan limfogen bakteri Mycobacterium tuberculosis dari
infeksi primer pada paru.
Meningitis sendiri dibagi menjadi dua menurut pemeriksaan Cerebrospinal Fluid
(CSF) atau disebut juga Liquor Cerebrospinalis (LCS), yaitu: meningitis purulenta dengan
penyebab bakteri selain bakteri Mycobacterium tuberculosis, dan meningitis serosa dengan
penyebab bakteri tuberkulosis ataupun virus. Tanda dan gejala klinis meningitis hampir
selalu sama pada setiap tipenya, sehingga diperlukan pengetahuan dan tindakan lebih untuk
menentukan tipe meningitis. Hal ini berkaitan dengan penanganan selanjutnya yang
disesuaikan dengan etiologinya. Untuk meningitis tuberkulosis dibutuhkan terapi yang lebih
spesifik dikarenakan penyebabnya bukan bakteri yang begitu saja dapat diatasi dengan
antibiotik spektrum luas. World Health Organization (WHO) pada tahun 2009 menyatakan
meningitis tuberkulosis terjadi pada 3,2% kasus komplikasi infeksi primer tuberkulosis, 83%
disebabkan oleh komplikasi infeksi primer pada paru.
2.3.

Epidemiologi
Meningitis tuberculosis (TB) merupakan penyakit yang paling sering ditemukan di

negara yang sedang berkembang, salah satunya adalah Indonesia, dimana insidensi
tuberkulosis lebih tinggi terutama bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Meningitis
tuberculosis merupakan penyakit yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan tepat
karena mortalitas mencapai 30%, sekitar 5:10 dari pasien bebas meningitis TB memiliki
gangguan neurologis walaupun telah di berikan antibiotik yang adekuat. Diagnosis awal dan
penatalaksanaan yang tepat sangat diperlukan untuk mengurangi resiko gangguan neurologis
yang mungkin dapat bertambah parah jika tidak ditangani.
Meningitis TB merupakan salah satu komplikasi TB primer. Morbiditas dan
mortalitas penyakit ini tinggi dan prognosisnya buruk. Komplikasi meningitis TB terjadi
setiap 300 kasus TB primer yang tidak diobati. Centers for Disease Control (CDC)
melaporkan pada tahun 1990 morbiditas meningitis TB 6,2% dari seluruh kasus TB
ekstrapulmonal. Insiden meningitis TB sebanding dengan TB primer, umumnya bergantung
pada status sosio-ekonomi, higiene masyarakat, umur, status gizi dan faktor genetik yang
menentukan respon imun seseorang. Faktor predisposisi berkembangnya infeksi TB adalah
malnutrisi, penggunaan kortikosteroid, keganasan, cedera kepala, infeksi HIV dan diabetes

melitus. Penyakit ini dapat menyerang semua umur, anak-anak lebih sering dibanding
dengan dewasa terutama pada 5 tahun pertama kehidupan. Jarang ditemukan pada usia
dibawah 6 bulan dan hampir tidak pernah ditemukan pada usia dibawah 3 bulan.
Di Indonesia, meningitis tuberkulosis masih banyak ditemukan karena morbiditas
tuberkulosis pada anak masih tinggi. Penyakit ini dapat menyerang semua usia, termasuk
bayi dan anak kecil dengan kekebalan alamiah yang masih rendah. Angka kejadian
tertinggi dijumpai pada anak umur 6 bulan sampai dengan 4 atau 6 tahun, jarang
ditemukan pada umur dibawah 6 bulan, hampir tidak pernah ditemukan pada umur
dibawah 3 bulan.
Meningitis tuberkulosis menyerang 0,3% anak yang menderita tuberkulosis yang
tidak diobati. Angka kematian pada meningitis tuberkulosis berkisar antara 10-20%.
Sebagian besar memberikan gejala sisa, hanya 18% pasien yang akan kembali normal secara
neurologis dan intelektual. Angka kejadian TB paru di Indonesia dilaporkan terus meningkat
setiap tahun dan sejauh ini menjadi negara dengan urutan ketiga dengan kasus TB paru
terbanyak, pada tahun 2001, dilaporkan perubahan dari tahun sebelumnya, penderita TB
paru dari 21 orang menjadi 43 oreng per 100.000 penduduk, dan pasien BTA aktif
didapatkan 83 orang per 100.000 penduduk.
Di seluruh dunia, tuberkulosis merupakan penyebab utama dari morbiditas dan
kematian pada anak. Di Amerika Serikat, insidens tuberkulosis kurang dari 5% dari seluruh
kasus meningitis bakterial pada anak, namun penyakit ini mempunyai frekuensi yang lebih
tinggi pada daerah dengan sanitasi yang buruk, apabila meningitis tuberkulosis tidak
diobati, tingkat mortalitas akan meningkat, biasanya dalam kurun waktu tiga sampai lima
minggu. Angka kejadian meningkat dengan meningkatnya jumlah pasien tuberkulosis
dewasa.
2.4.

Tuberkulosis Ekstrapulmoner
Gejala tuberkulosis paru yang paling umum adalah batuk produktif yang persisten,

sering disertai gejala sistemik seperti demam, keringat malam, dan penurunan berat badan.
Gejala lain yang dapat ditemukan adalah batuk darah, sesak napas, nyeri dada, malaise,
serta anoreksia. Limfadenopati dengan TB paru juga dapat ditemukan, terutama pada
pasien dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Walaupun kebanyakan pasien dengan TB paru memiliki gejala batuk, gejala tersebut
tidak spesifik untuk tuberkulosis. Batuk dapat terjadi pada infeksi saluran napas akut,
asma, serta Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Walaupun begitu, batuk selama 2-3

minggu merupakan kriteria suspek TB dan digunakan pada guideline nasional dan
internasional, terutama pada daerah dengan prevalensi TB yang sedang sampai tinggi.
Pada negara dengan prevalensi TB yang rendah, batuk kronik lebih mungkin disebabkan
kondisi selain TB.
Dengan memfokuskan terhadap dewasa dan anak dengan batuk kronik, kesempatan
mengidentifikasi pasien dengan TB paru dapat dimaksimalkan. Selain gejala batuk, pada
pasien anak penting mengevaluasi berat badan yang sulit naik dalam kurun waktu 2 bulan
terakhir atau gizi buruk. Beberapa studi menunjukkan bahwa tidak semua pasien dengan
gejala respiratori menerima evaluasi yang adekuat untuk TB. Kegagalan ini terjadi karena
kurangnya deteksi dini TB sehingga menyebabkan meningkatnya keparahan penyakit
pada pasien dan meningkatnya kemungkinan transmisi Mycobacterium tuberculosis ke
orang-orang di sekitarnya.
Pada pemeriksaan fisik pasien dengan TB paru, kelainan yang didapat tergantung
luas kelainan. Pada awal perkembangan penyakit sulit ditemukan kelainan. Pada
umumnya kelainan paru terletak di lobus superior terutama apeks dan segmen posterior,
serta daerah apeks lobus inferior. Temuan yang bisa didapatkan antara lain suara napas
bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru,
diafragma, dan mediastinum.
Pada pleuritis TB, apabila cairan di rongga pleura cukup banyak, dapat ditemukan
redup atau pekak pada perkusi. Pada auskultasi suara napas melemah sampai tidak
terdengar pada sisi yang terdapat cairan. Pada limfadenitis TB terdapat pembesaran
kelenjar getah bening, tersering di daerah leher.
Dari urutan terjadinya, tuberkulosis ekstrapulmoner paling banyak terjadi di nodus
limfa, pleura, sistem genitourinaria, tulang dan sendi, meningen, peritoneum, dan
perikardium. Secara singkat tuberkulosis ekstrapulmoner diterangkan sebagai berikut:

Limfadenitis tuberkulosis dicirikan dengan pembesaran kelenjar getah bening


yang tidak nyeri (pada umumnya servikalis posterior dan supraklavikular).

Tuberkulosis pleura dapat bermanifestasi mulai dari efusi yang kecil, hingga
efusi besar sehingga menimbulkan nyeri pleura dan dispnu. Pemeriksaan fisik
menunjukkan efusi pleura (redup pada perkusi, suara napas menghilang). Jenis efusi
perlu ditentukan dengan melakukan pungsi pleura. Dapat pula terjadi empiema
tuberkulosis yang lebih jarang, pada umumnya disebabkan oleh ruptur kavitas.

Tuberkulosis saluran napas atas merupakan komplikasi dari tuberkulosis paru


dengan kavitasi. Tuberkulosis jenis ini melibatkan laring, faring, dan/atau epiglotis

sehingga memunculkan gejala serak, disfonia, dan disfagia disertai dengan batuk
produktif.

Tuberkulosis genitourinaria dapat menimbulkan gejala frekuensi, disuria, nokturia,


hematuria, serta nyeri abdomen.

Tuberkulosis

sistem

muskuloskeletal

mengenai

tulang

dan

sendi,

dan

patogenesisnya terkait dengan reaktivasi dari fokus hematogen dan penyebaran


melalui nodus limfa paravertebra. Dapat pula mengenai vertebra

sehingga

terkena tuberkulosis spinal (Potts disease atau spondilitis tuberkulosis).

Tuberkulosis meningitis dan tuberkuloma

Tuberkulosis perikardial akibat ekstensi langsung nodus limfa mediastinal atau hilus.
Kejadian tuberkulosis ekstrapulmoner dapat terjadi sekitar 15-20% pada populasi yang

prevalensi HIV-nya rendah. Kejadian ini akan semakin meningkat dengan tingginya
prevalensi infeksi HIV. Sebagaimana yang diketahui bahwa tuberkulosis merupakan infeksi
poportunistik tersering pada ODHA di Indonesia. Tuberkulosis paru adalah jenis
tuberkulosis yang paling banyak ditemukan pada ODHA, sedangkan tuberkulosis
ekstrapulmoner sering ditemukan pada ODHA dengan hitung CD4 yang lebih rendah.
Untuk mendiagnosis tuberkulosis ekstrapulmoner, sampel perlu didapakan dari tempattempat yang cenderung sulit, sehingga konfirmasi bakteriologis tuberkulosis ektrapulmoner
menjadi lebih sulit dibandingkan tuberkulosis paru. Selain itu terdapat kecenderungan
jumlah mikroorganisme M. tuberculosis pada situs ekstrapulmoner lebih sedikit sehingga
pemeriksaan mikroskopis basil tahan asam (BTA) menjadi lebih sulit. Sebagai contoh,
pemeriksaan cairan pleura pada pleuritis tuberkulosis hanya berhasil menemukan BTA pada
sekitar 5-10% kasus, dan temuan sama rendahnya pada meningitis tuberkulosis. Mengingat
fakta ini, kultur dan pemeriksaan histopatologi terhadap jaringan (misal: biopsi jarum halus
nodus limfa) menjadi penting sebagai alat diagnostik. Pemeriksaan foto toraks juga
sebaiknya silakukan untuk mengetahui adanya TB paru atau TB milier bersamaan dengan
TB ekstraparu. Pada pasien anak, bila memungkinkan dilakukan pemeriksaan dahak.
2.5.

Diagnosis dan Suspek Meningitis Tuberkulosa


Diagnosis ataupun suspek meningitis TB memerlukan gejala dan tanda meningitis

yang disertai klinis yang mengarahkan ke infeksi tuberkulosa dan pada hasil foto rontgen
toraks serta cairan serebrospinalis menunjukkan infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis.
Meningitis tuberkulosa dapat terjadi melalui 2 tahapan. Tahap pertama adalah ketika basil
My-cobacterium tuberculosis masuk melalui inhalasi droplet menyebabkan infeksi

terlokalisasi di paru dengan penyebaran ke limfonodi regional. Basil tersebut dapat


masuk ke

jaringan meningen atau parenkim otak membentuk lesi metastatik kaseosa

focisub- ependimal yang disebut rich foci. Tahap kedua adalah bertambahnya ukuran rich
foci sampai kemudian ruptur ke dalam ruang subarachnoid dan mengakibatkan meningitis.
Meningitis tuberkulosa merupakan bentuk tuberkulosis paling fatal dan menimbulkan
gejala sisa yang permanen, oleh karena itu, dibutuhkan diagnosis dan terapi yang
segera. Penyakit ini merupakan tuberkulosis ekstrapulmoner kelima yang sering dijumpai
dan diperkirakan sekitar 5,2% dari semua kasus tuberkulosis ekstrapulmoner serta 0,7%
dari semua kasus tuberkulosis. Gejala klinis saat akut adalah defisit saraf kranial, nyeri
kepala, meningismus, dan perubahan status mental. Gejala prodromal yang dapat dijumpai
adalah nyeri kepala, muntah, fotofobia, dan demam.
Tabel 2.5.1 Kriteria diagnosis untuk klasifikasi diagnosis meningitis TB

Berdasarkan tabel di atas, diagnosis kemungkinan meningitis TB (probable) adalah


apabila didapatkan skor

antara 10 sampai 12. Diagnosis mungkin bisa meningitis TB

(possible) jika skor di atas 6 di bawah 10. Penilaian cairan serebrospinalis pada pasien
dengan meningitis TB dapat menunjukkan warna yang jernih, pleocytosis sedang dengan
peningkatan pada limfosit, peningkatan kandungan protein dan konsentrasi glukosa yang
sangat rendah. Penemuan ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan penemuan meningitis
bakterial lain, yaitu pada meningitis bakterial tipikal penemuan pada cairan serebrospinalis
adalah berwarna keruh putih, pleocytosis yang sangat tinggi dan dengan peningkatan pada
neutrofil.
Pada meningitis TB, sering ditemukan glukosa pada cairan serebrospinalis di bawah 5
mg/dl dengan warna yang jernih, hitung jenis sel darah putih menunjukkan peningkatan
limfosit sebesar 50% atau lebih pada 50 sampai 500 per L sel darah putih di dalam cairan
serebrospinalis. Kandungan protein di atas 1 g/L dan glukosa kurang dari 2.2 mmol/L.
Namun pada beberapa kasus bisa ditemukan hasil penemuan laboratorium yang berbeda.
Diagnosis pasti meningitis TB dapat dibuat hanya setelah dilakukan pungsi lumbal
pada pasien dengan gejala dan tanda penyakit di sistem saraf pusat (defisit neurologis), basil
tahan asam positif dan atau atau M.tuberculosis terdeteksi menggunakan metode molekular
dan atau atau setelah dilakukan kultur cairan serebrospinal (CSF). Namun segala metode
untuk memastikan sebuah diagnosis meningitis TB ini memiliki resiko memperlambat terapi
inisiasi. Kultur memerlukan 2 sampai 3 minggu untuk mendapatkan hasil. Deteksi
mikroskopik untuk basil tahan asam dan isolasi kultur memiliki sensitivitas rendah. Metode
molekular yang paling baru juga memiliki sensitivitas dan spesifitas yang rendah namun
dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi bakteri yang berada di CSF sehingga dapat
menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi respon terapi.
2.6.Penatalaksanaan Meningitis TB
Penatalaksanaan meningitis TB berdasarkan tiga komponen berbeda: administrasi obat
anti TB, modulasi respon imun dan manajemen atau penatalaksanaan tekanan intrakranial
yang meningkat. Berikut adalah guideline dan dosis pemberian obat anti TB untuk infant dan
anak-anak baik lini pertama dan lini kedua:

Tabel 2.6.1 Guideline pemberian obat anti TB untuk infant dan anak-anak

Tabel 2.6.2 Guideline pemberian obat anti TB untuk infant dan anak-anak lini kedua

Sedangkan rekomendasi World Health Organization (WHO) untuk lini pertama obat
TB adalah sebagai berikut:
Tabel 2.6.3 Rekomendasi dosis obat TB lini pertama dari WHO

Fixed-dose drug combination (FDC) adalah obat yang mengandung dua atau lebih
jenis obat di dalam satu tablet atau kapsul. Keuntungan dari penggunaan FDC adalah
menurunkan resiko pembentukan resistensi terhadap obat dan medication errors yang
lebih sedikit sebab hanya sedikit obat yang perlu diresepkan. Anak-anak di atas usia 8
tahun dengan berat badan lebih dari 30 kg dapat diberikan standard four-drug FDC atau
FDC yang memiliki kandungan 4 jenis obat TB standar yang digunakan pada pasien
dewasa selama fase intensif (dua bulan) terapi.
Tabel 2.6.4 FDC untuk TB pada usia > 8 tahun dan berat badan > 30 kg

Ethambutol susah masuk ke dalam cairan serebrospinalis sehingga untuk regimen


meningitis TB biasanya diganti dengan ethionamide atau streptomycin. Isoniazid 15-20
mg/kg/day (dosis harian maksimum 400 mg). Rifampicin 15-20 mg/kg/day (dosis harian
maksimum 600 mg). Ethionamide 15-20 mg/kg/day (dosis harian maksimum 1 g).
Pyrazinamide 30-40

mg/kg/day (dosis harian maksimum 2 g). Meningitis TB juga

merupakan indikasi penggunaan kortikosteroid, biasanya yang digunakan adalah


prednisone oral yang diberikan dosis 2 mg/kg/hari (maksimum 60 mg per hari) selama
empat minggu sebagai tambahan obat TB dan dilakukan tapering off setelah dua minggu
(total penggunaan kortikosteroid 6 minggu).
2.7.

Prognosis
Angka kematian pada umumnya 50%. Prognosis buruk pada bayi dan orang tua. Bila

meningitis tuberkulosa tidak diobati, prognosisnya jelek sekali. Penderita dapat meninggal
dalam waktu 6-8 minggu. Prognosis ditentukan oleh kapan pengobatan dimulai dan pada
stadium berapa. Umur penderita juga mempengaruhi prognosis. Anak dibawah 3 tahun dan
dewasa diatas 40 tahun mempunyai prognosis yang jelek.

DAFTAR PUSTAKA

Epidemiologi tbc Indonesia. http://www.tbindonesia.or.id.


Guidelines for Tuberculosis Control in New Zealand

Treatment of Tuberculosis Disease. 2010; Wellington: Ministry of Health.


DP Moore, HS Schaaf, J Nuttall, BJ Marais. Childhood tuberculosis guidelines of the

2010

Chapter

3:

Southern African Society for Paediatric Infectious Diseases. South Afr J Epidemiol

Infect. 2009;24(3).
Bidstrup C, Andersen PH, Skinhj P, Andersen AB. Tuberculous meningitis in a country
with a low incidence of tuberculosis: still a serious disease and a diagnostic

challenge.Scand J Infect Dis 2002;34:811e4.


Nicola Principi, Susanna Esposito. Diagnosis

and

therapy

of

tuberculous

meningitis in children. Department of Maternal and Pediatric Sciences, Universit degli


Studi di Milano, Fondazione IRCCS Ca Granda Ospedale Maggiore Policlinico. Via
Commenda 9, 20122 Milan, Italy. Tuberculosis 2012: 92; 377-383