You are on page 1of 55

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PERENCANAAN PENAMBANGAN EMAS JANGKA PENDEK BLOK


CIKONENG PT. CIBALIUNG SUMBERDAYA, BANTEN

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Dalam Menyelesaikan Program S1 Teknik Pertambangan

Oleh :
Rizky Ashary
BP. 2011/1106915

Konsentrasi

: Pertambangan Umum

Program Studi

: S1 Teknik Pertambangan

Jurusan

: Teknik Pertambangan

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Saat ini sebagian besar tambang yang ada di Indonesia adalah tambang
terbuka. Akan tetapi endapan bahan galian yang keberadaannya dekat dengan
permukaan bumi semakin lama akan berkurang karena telah habis ditambang.
Sedangkan jumlah cadangan dan kadar yang semakin menipis untuk ditambang
secara tambang terbuka, maka di masa yang akan datang kebutuhan akan bahan
galian ini akan dipasok dengan sistem tambang bawah tanah.
Endapan bahan galian emas yang ada di Indonesia keberadaannya cukup
banyak di Indonesia, namun emas yang ada dalam bentuk urat (vein) lebih
cocok menggunakan metode tambang bawah tanah.Di bandingkan dengan
tambang terbuka yang memerlukan biaya rendah untuk lebih rendah
dibandingan dengan tambang bawah tanah. Namun ketika jumlah tanah
penutup yang harus dikupas pada tambang terbuka semakin meningkat seiring
dengan kedalaman lubang bukaan tambang, maka biaya penambangan juga
akan semakin bertambah. Dengan melihat kondisi tersebut dapat ditentukan
bahwa metoda tambang bawah tanah akan lebih menguntungkan dibandingkan
tambang terbuka.
PT. Cibaliung Sumber Daya merupakan anak perusahaan dari PT Aneka
Tambang, Tbk yang bergerak dalam bidang pertambangan emas.PT. Cibaliung
Sumberdaya memiliki wilayah KP seluas 7811 hektar.Dengan rincian luas
KP.Eksplorasi seluas 6471 hektar dan luas KP.Eksploitasi seluas 1340 hektar.n

Resources emas yang dimiliki diperkirakan sebesar 1,5 juta wmt bijih emas
dengan kadar rata-rata 9,8 gram emas per ton, dengan umur tambang
diperkirakan selama 6 tahundengan maksimum produksi 70.000 toz emas.
Sistem

penambangan

dilakukan

dengan

menggunakan

metoda

penambangan bawah tanah (cut and fill).Ada dua tahap utama dalam metoda
penambangan bawah tanah di PT Cibaliung Sumberdaya yaitu pengembangan
(development) dan produksi (production). Terdapat dua blok penambangan
yaitu Blok Cikoneng dan Blok Cibitung, dimana kedua blok tersebut masih
produksi sampai sekarang.
Untuk pedoman penambangan pertahun maka dibuatlah rencana kerja
pada setiap bidang kerja, yang mana dari ke semua aspek bidang kerja
memiliki target masing-masing. Dari rencana kerja tahun 2015 setelah fase
triwulan pertama, adanya perbedaan dari rencana dan realisasi di lapangan.
untuk itu perlu dilakukan perubahan rencana kembali demi tercapainya target
produksi perbulan dari yang telah direncanakan.
Oleh karena itu, untuk memberikan wawasan mengenai hal tersebut,
penulis melakukan penelitian tugas akhir yang berjudul PERENCANAAN
PENAMBANGAN

EMAS

JANGKA

PENDEK

PADA

BLOK

CIKONENG PT. CIBALIUNG SUMBERDAYA


B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka dapat dirumuskan
beberapa permasalahan yang menjadi objek penelitian tugas akhir ini.

1. Rencana kerja tahun 2015 memiliki perbedaan dengan realisasi dilapangan


setelah melewati fase triwulan pertama.
2. Realisasi penambangan tahun 2015
3. Belum adanya perubahan rencana penambangan tahun 2015
4. Belum adanya rencana penambangan tahun 2016
C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini dapat dilakukan secara terstruktur, terorganisir dan
mencapai sasaran, maka dalam penelitian ini perlu adanya batasan masalah
yaitu hanya di batasi pada :
1. Penelitian ini dilakukan pada blok cikoneng PT. Cibaliung Sumberdaya,
Banten.
2. Desain kelanjutan kemajuan tambang dari bulan Mei sampai Desember
pada tahun 2015 dari sisa target tahun 2015 dan target 2016 .
3. Penjadwalan produksi untuk mencapai target produksi dan ore grade yang
sesuai dengan target tahun 2015 dan tahun 2016.
4. Dimensi lubang bukaan berdasarkan parameter geoteknik berdasarkan dari
rekomendasi geoteknik perusahaan.
5. Kadar batas yang diambil berdasarkan data perusahaan dengan nilai COG
3 gpt.
6. Menghitung Mining Recovery berdasarkan hasil rancangan desain lubang
bukaan.
7. Mengestimasi waktu kegiatan concrete dan filling untuk lubang bukaan
sill drift.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah yang diuraikan
maka muncul pertanyaan penelitian antara lain :
1. Bagaimana arah dan desain dari kemajuan tambang sampai dengan akhir
tahun 2015 dan tahun 2016?
2. Bagaimana Mining Recovery dari panjang lubang bukaan yang
direncanakan?
3. Bagaimana penjadwalan produksi, kemajuan Development dan Filling
sampai dengan tahun 2016?
4. Bagaimana kemampuan jumbo drill, LHD dan Mine Truck pada akhir
April 2015?
5. Bagaimana keserasian dari LHD dan Mine Truck yang sesuai dengan
kemajuan tambang sampai dengan akhir tahun 2016?
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini sebagai berikut :
1. Mengetahui arah kemajuan dari tambang sampai dengan akhir tahun 2015
dan 2016dari desain yang dibuat.
2. Mengetahui Mining Recovery dari panjang lubang bukaan yang
direncanakan.
3. Mengetahui penjadwalan produksi, kemajuan Development dan Filling
sampai dengan tahun 2016.

4. Mengetahui kemampuan Jumbo Drill, LHD dan Mine Truck pada Akhir
April 2015.
5. Mengetahui Keserasian dari LHD dan Mine Truck yang sesuai dengan
kemajuan tambang sampai dengan Akhir tahun 2016.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini :
1. Memberi masukan kepada perusahaan mengenai hasil penelitian yang
diperoleh, dan menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan proses
selanjutnya.
2. Menambah referensi peneliti mengenai perancangan penambangan bawah
tanah bagi Mahasiwa Teknik Pertambangan Universitas Negeri Padang.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Perusahaan
1. Sejarah Singkat Perusahaan
PT. Cibaliung Sumberdaya (PT.CSD) adalah anak perusahaan dari
PT.Aneka Tambang (Antam) dan merupakan perusahaan tambang emas
bawah tanah. Urat Kuarsa yang ditemukan pertama kali oleh seorang
pekerja bangunan yang berasal dari bayah pada bulan Oktober 1992.
Pada bulan April 1993 PT.ANTAM mengirim utusan untuk meneliti
keberadaan penambangan di Cibaliung. Kemudian Berdasarkan hasil
analisa yang diperoleh dari sampel sedimen sungai dengan ijin SKIP No.
71.K/2011/DDPT/1994,

Aneka

Tambang

mengajukan

Kuasa

Penambangan Eksplorasi pada bulan November 1994, yang akhirnya


disetujui pada bulan Mei 1995. Atas kuasa penambangan Eksplorasi yang
dimiliki oleh Aneka Tambang ini, dalam pelaksanaan penelitian
selanjutnya dilakukan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lain :
a. Tahun 1996-1999 PT Antam Tbk dengan Partner Palmer Resource
Ltd (Kanada), PT Sitrade Nusaglobus.
b. Tahun 1999-2008 Pt Antam Tbk dengan Partner Austindo
Resource Corporation NL (ARX) membentuk Perusahaan PT
Cibaliun Sumberdaya dalam pelaksanaannya.
c. Tahun 2009 sekarang PT Antam Tbk memiliki saham 99,15% pada
PT

Cibaliung

Sumberdaya

setelah

mengakuisisi

saham

kepemilikian Austindo Resource Corporation NL (ARX) pada


Bulan Juli 2009.
Berikut ini adalah Kronologis Proyek Cibaliung :
a. Tahun 1998-2003 Kegiatan Eksplorasi Core Diamond Drilling
Cikoneng Cibitung
b. Tahun 2004 Penyelesaian Tahapan Studi Kelayakan
c. Tahun 2005 Konstruksi Pembangunan Proyek, penyiapan lahan,
pembuatan jalan masuk Ciraden, pengembangan terowongan
Cibitung Box Cut dan Camp Ciburial.
d. Tahun 2006 Pembangunan terowongan Cibitung Box Cut, Pabrik,
Pembukaan area TSF (25 ha), pembangunan Infrastruktur dan
gudang handak.
e. Tahun 2007 Pembangunan terowongan Cibitung Box Cut (112 m)
dihentikan,

pengembangan

terowongan

Cikoneng

Portal,

Penyelesaian Pabrik, meneruskan konstruksi TSF (25 ha).


f. Tahun 2008 (Januari Oktober) Melanjutkan pembangunan
terowongan Cikoneng (1176m), penyelesaian tahap akhir pabrik
dan meneruskan konstruksi TSF (25 ha).
g. Tahun 2008 (November) memasuki tahap care & maintenance.
h. Tahun 2009 (16 Februari) Penandatanganan Head of Agreement
yang secara garis besar mengatur langkah-langkah pengambilalihan
seluruh kepemilikan saham Proyek Cibaliung oleh PT. Antam Tbk.

i. Tahun 2009 (Februari-Juni) Meneruskan kegiatan care &


maintenance sampai aspek legal pengambilalihan kepemilikan
selesai.
j. Tahun 2009 (6 Juli) Penandatanganan Akta Pengambilalihan
Kepemilikan PT CSD oleh PT Antam Tbk dan PT Antam
Resourcindo (PTARI).
k. Tahun 2009 (1 Agustus) Memasuki tahapan Konstruksi dan
Development
l. Tahun 2010 (13 Mei) Peleburan pertama core Bullion.

2. Struktur Organisasi
Struktur organisasi perusahaan dibuat guna meningkatkan kinerja
dari setiap departemen penyokong dalam suatu perusahaan. Dengan
struktur organisasi yang optimal maka diharapkan mampu mendukung
pencapaian target di setiap tahunnya. Penyusunan struktur organisasi
dibuat berdasarkan spesifikasi dan fungsi kinerja yang ada sehingga
dapat di pertanggung jawabkan. Berikut struktur organisasi PT.
Cibaliung Sumber Daya ( Gambar 1 ).

Struktur Organisasi
PT. Cibaliung Sumber Daya
Direksi

Dept Internal Audit

Genera l Ma na jer

Dept Manajemen Head Office

Manajemen
Operasional Strategik

Staf Direksi Kantor Pusat

Dept Tambang
Dept Kendali Mutu
Dept Pemeliharaan
Dept Pengolahan
Pabrik
Dept K3L
Dept Pengadaan &
Gudang
Dept Keuangan
Dept SDM
Dept CSR & Umum
Dept Sisdur

Gambar.1. Struktur Organisasi PT. Cibaliung Sumber Daya


B. Lokasi Kesampaian Daerah
PT.Cibaliung Sumber Daya secara geografis terletak di sebelah ujung
barat daya Pulau Jawa dan secara administratif terletak di dua desa, yaitu
Desa Mangkualam dan Desa Padasuka yang termasuk kedalam Kecamatan
Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Lokasi tambang PT.Cibaliung Sumber Daya dapat dicapai melalui
jalur darat dengan kendaraan roda empat selama kurang lebih 6 jam dari
Jakarta atau dengan jarak kurang lebih 202 km.

10

Sumber : Dokumen Departemen Kendali Mutu PT. Cibaliung Sumber Daya, 2014

Gambar.2. Peta Lokasi Tambang Emas Cibaliung


Dari Gambar .2 dapat dilihat lokasi tambang emas Cibaliung secara
gasir besar dibatasi oleh kawasan Citeureup dan Tanjung Lesung pada
sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah selatan, Taman Nasional Ujung
Kulon di sebelah barat dan provinsi Jawa Barat di sebelah barat.
PT. Cibaliung Sumber Daya memiliki wilayah KP. Eksplorasi seluas
6471 hektar dan luas KP. Eksploitasi seluas 1340 hektar. Resources emas
yang dimiliki diperkirakan sebesar 1,5 juta wmt bijih emas dengan kadar
rata-rata 9,8 gram emas per ton, dengan umur tambang diperkirakan selama
6 tahun dengan maksimum produksi 70.000 toz emas.

11

Sumber : Dokumen Departemen Kendali Mutu PT. Cibaliung Sumber Daya, 2014

Gambar.3. Peta Lokasi KP.Eksplorasi dan KP.Eksploitasi

C. Keadaan Geologi dan Stratigrafi


a. Kondisi Geologi
Keadaan geologi di PT Cibaliung Sumberdaya terletak di bagian
tengah dari busur magmatik Sunda Banda yang berumur Neogene.
Batuan asal (Host Rock) pembawa biih emas perak adalah batuan
Honje Vulkanic

dengan umur Akhir Miosen yang diterobos oleh

Subvulcanic Andesit Diorit berupa plug dan dike dan kadang


terpotong oleh diameter Breccia. Menumpang tidak selaras di atas
batuan asal ini berupa Dacitic tuff, sediment muda, dan aliran lava
basalt yang berumur Miosen Kuarter. Daerah penyelidikan merupakan
bagian dari Peta Geologi Lembar Cikarang dengan formasi cipacar dan
bojongmanik.

12

Jawa terletak pada Sunda Vulcanic Arc yang memanjang dari ujung
Sumatera melewati Jawa dan Bali, dan terus berlanjut hingga Indonesia
bagian timur. Jawa Bagian Barat sendiri terletak pada Zona Transisi
antara subduksi miring di bagian barat dan subduksi normal di bagian
timur. Area ini dibatasi oleh sesar Cimandiri dan sesar Ujung Kulon.
Daerah Vulcanic Arc merupakan daerah yang memiliki potensi mineral
tinggi. Hasil kegiatan eksplorasi bahan galian logam yang dilakukan
oleh Subdit. Daerah Cibaliung yang terletak di Zona Magmatic Arc
merupakan wilayah memiliki yang potensi emas yang tinggi.

Sumber : Dokumen Departemen Kendali Mutu PT. Cibaliung Sumber Daya, 2015

Gambar.4. Peta Geologi Regional


b. Geomorfologi
Berdasarkan peta Geomorfologi Daerah Cibaliung daerah kajian
termasuk ke dalam satuan struktural bergelombang. Satuan ini terbagi

13

menjadi dua kelas, yaitu Satuan bergelombang kuat struktural dan


satuan bergelombang lemah struktural. Satuan bergelombang lemah
struktural mendominasi daerah kajian. Satuan geomorfologi ini
mengelilingi seluruh wilayah kajian, sedangkan di bagian tengahnya
daerah kajian termasuk ke dalam satuan bergolombang kuat struktural.
Pada zona Jawa Bagian Barat, Pannekoek (1946), membagi zona
morfologi ini menjadi tiga bagian, yaitu:
1)

Zona Utara terdiri atas daerah lipatan, endapan kipas alluvial,


jalur peneplain, Gunung Ciremei, Kompleks Gunung Tangkuban
Perahu, dan Kompleks Pegunungan di Banten.

2)

Zona Tengah merupakan zona depresi yang diisi endapan


vulkanik muda. Pada zona ini terdapat lipatan menjungkir atau
membentuk

struktur

yang

menjorok

(thrusting)

yang

menyebabkan batuan tersier tertutup.


3)

Zona Selatan (daerah kajian termasuk ke dalam zona ini)


merupakan dataran tinggi yang luas yang memanjang dari
Kabupaten Sukabumi (sebenarnya merupakan suatu plato yang
memiliki lereng ke Samudera Hindia dengan bentuk tebing
patahan / escarpment

pada bagian utaranya, namun sudah

terkikis, sehingga tidak terlihat lagi platonya) sampai ke timur


yaitu Karangnunggal section atau plato Karangnunggal.

14

c. Stratigrafi
Sudana dan Santosa (1992) dalam Peta Geologi Lembar Cikarang
skala 1:100.000 membagi stratigrafi regional daerah penelitian ke
dalam tujuh formasi, yaitu :
1) Formasi Cimapag
Formasi ini terdiri dari dua bagian, bagian bawah terdiri
dari litologi breksi aneka bahan, lava andesit, batupasir,
batulempung, batugamping, konglomerat, aglomerat dan tuf;
bagian atas terdiri dari tuf dasit, lava andesit, dan tuf breksi.
Umurnya diduga Miosen Awal.
2) Formasi Honje
Satuan ini terdiri dari litologi berupa breksi gunungapi, tuf,
lava, andesit-basal, dan kayu terkersikkan. Formasi ini diduga
berumur Miosen Akhir berdasarkan sebagian dari satuan batuan
ini yang menjemari dengan Formasi Bojongmanik. Tebal Formasi
Honje diperkirakan berkisar dari 500600 m. Sebarannya terdapat
di sekitar Gn. Honje, Gn. Tilu, dan daerah Citerureup; setempat
diterobos batuan andesit-basalt (Sudana dan Santosa, 1992).
3) Formasi Bojongmanik
Formasi
perselingan

Bojongmanik

batupasir

dan

terdiri

dari

batulempung

litologi

berupa

bersisipan

napal,

batugamping, konglomerat, tuf, dan lignit. Fosil-fosil foraminifera

15

yang ditemukan pada satuan ini menunjukkan umur Miosen Akhir


- Pliosen atau pada zonasi Blow N16 N19. Selain fosil
foraminifera ditemukan juga pecahan moluska, ostrakoda,
ekinoid, dan kerang dengan lingkungan pengendapan darat hingga
laut dangkal. Tebal formasi ini diperkirakan mencapai 400 m
(Sudana dan Santosa, 1992).
4) Formasi Cipacar
Formasi ini terdiri dari tuf, tuf berbatuapung, batupasir tuf,
batulempung tuf, tuf breksi, dan napal. Satuan ini umumnya
berlapis baik dan tebalnya diperkirakan 250 m, ditindih tak
selaras oleh Formasi Bojong dan satuan batuan yang lebih muda.
Fosil - fosil foraminifera dalam formasi ini menunjukkan umur
relatif Pliosen (N19-N21). Dalam formasi ini dijumpai pula fosil
moluska,

kerangkerangan

dan

ostrakoda.

Lingkungan

pengendapannya adalah darat - laut dangkal (Sudana dan Santosa,


1992).
5) Andesit-Basalt
Batuan terobosan berupa andesit dan basalt yang diduga
berumur Pliosen. Satuan ini menerobos Formasi Cimapag dan
Formasi Honje (Sudana dan Santosa, 1992).

16

6) Formasi Bojong
Formasi ini terdiri dari litologi berupa batupasir gampingan,
batulempung karbonan, napal, lensa batugamping, tuf, dan
gambut. Formasi ini umumnya berlapis baik, tebalnya antara 150200 m, ditindih tak selaras oleh satuan batuan yang lebih muda.
Fosil - fosil foraminifera yang ditemukan pada formasi ini
menunjukkan umur relatif Pleistosen atau N22. Lingkungan
pengendapannya adalah litoral luar (Sudana dan Santosa, 1992).
7) Volkanik Kuarter
Batuan gunungapi Kuarter terdiri dari litologi breksi gunung
api, aglomerat, dan tuf. Satuan ini tebalnya diperkirakan lebih dari
100 m dan umurnya diduga Pleistosen (Sudana dan Santosa,
1992). Berdasarkan Sudana dan Santosa (1992), daerah
Sindanglaya dan sekitarnya termasuk ke dalam dua satuan batuan,
yaitu Formasi Bojongmanik dan Formasi Honje. Formasi Honje
merupakan nama formasi baru yang diusulkan Sudana dan
Santosa tahun 1992 untuk endapan volkanik dengan lokasi tipe
terletak di Pegunungan Honje, Cimanggu, Banten Selatan.
D. Kondisi Iklim dan Cuaca
Daerah Cibaliung memiliki dua musim yaitu musim hujan yang
berlangsung dari bulan Oktober sampai Maret dengan kisaran suhu 25C 30C dan musim kemarau yang berlangsung dari bulan April sampai

17

September dengan kisaran suhu 30C - 32C. Suhu udara minimum dan
maksimum berkisar antara 22,5C 27,9C dengan suhu udara rata-rata
dataran rendah adalah 27,9C dan untuk dataran tinggi adalah 22,5C.
Berdasarkan data curah hujan tahun 2005 2013 yang diperoleh dari
Departemen OHSE PT Cibaliung Sumberdaya, memiliki curah hujan ratarata 331,11 mm/tahun.
Tabel.1. Data Curah Hujan PT Cibaliung Sumberdaya
Tahu
n
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012

Jan

Feb

Mar

Apr

May

Jun

Jul

Ags

Sept

Okt

Nov

Des

525.00

378.10

332.60

556.40

342.40

262.00

269.00

189.80

273.80

273.40

501.40

782.00

910.50

441.00

422.70

331.50

114.00

78.00

0.00

0.00

0.00

0.00

76.50

399.50

176.00

191.00

774.20

370.60

298.00

198.10

19.30

0.00

0.00

48.00

102.60

935.80

961.20

943.20

523.00

304.30

18.40

32.40

0.00

5.30

86.90

295.20

1,052.80

686.50

543.40

721.50

321.50

314.90

269.30

316.50

94.50

1.50

24.50

372.00

728.70

237.00

486.00

400.50

446.50

174.00

665.00

299.50

476.50

400.00

454.50

506.70

403.00

554.90

516.70

286.50

555.00

216.60

279.50

124.90

186.70

0.60

0.00

123.50

391.80

348.70

883.20

488.70

443.90

484.00

122.30

39.90

0.00

0.00

0.00

221.80

54.70

303.90

1,086.30

536.30

234.70

571.56

351.30

387.90

197.60

142.50

20.30

282.10

226.50

956.00

6,088.30

4,386.80

4,054.10

3,323.86

2,460.20

1,739.20

1,243.60

739.70

860.00

2,122.70

3,538.00

5,204.30

RataRata

676.4778

487.4222

450.4556

369.3178

273.3556

193.2444

138.1778

82.18889

95.55556

235.8556

393.1111

578.2556

Max

1,086.30

943.20

774.20

571.56

665.00

387.90

476.50

400.00

454.50

506.70

1,052.80

956.00

Min

176.00

191.00

234.70

174.00

18.40

32.40

0.00

0.00

0.00

0.00

54.70

237.00

2013

Curah Hujan (mm/tahun)

Sumber : Departemen OHSE PT Cibaliung Sumber Daya, 2014

500
450
400
350
300
250
200
150
100
50
0

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

Rata-Rata 390,5 231,1 259,5 409,1 328,8 438,9 252,5 253,5 416,1
Sumber : Departemen OHSE PT Cibaliung Sumber Daya, 2014
Grafik.1. Data Grafik Curah Hujan PT Cibaliung Sumberdaya Tahun 2005 - 2013

18

E. Kajian Teori
1. Pembentukan Endapan Emas Epitermal (Genesa)
(Simmons et al, 2005 dalam Sibarani, 2008) berpendapat bahwa
endapan epitermal didefinisikan sebagai salah satu endapan dari sistem
hidrotermal yang terbentuk pada kedalaman dangkal yang umumnya
pada busur vulkanik yang dekat dengan permukaan. Penggolongan
tersebut berdasarkan temperatur (T), tekanan (P) dan kondisi geologi
yang dicirikan oleh kandungan mineralnya. Secara lebih detailnya
endapan epitermal terbentuk pada kedalaman dangkal hingga 1000 meter
dibawah permukaan dengan temperatur relatif rendah (50-200)0C dengan
tekanan tidak lebih dari 100 atm dari cairan meteorik dominan yang agak
asin (Pirajno, 1992).
Tekstur penggantian (replacement) pada mineral tidak menjadi ciri
khas karena jarang terjadi. Tekstur yang banyak dijumpai adalah berlapis
(banded) atau berupa fissure vein. Sedangkan struktur khasnya adalah
berupa struktur pembungkusan (cockade structure). Asosiasi pada
endapan ini berupa mineral emas (Au) dan perak (Ag) dengan mineral
penyertanya berupa mineral kalsit, mineral zeolit dan mineral kwarsa.
2. Tipe Endapan Epitermal
Endapan Epitermal sendiri memiliki dua tipe utama yaitu low
sulphidation dan high sulphidation yang dibedakan terutama berdasarkan
pada sifat kimia fluidanya dan berdasarkan pada alterasi dan
mineraloginya.

19

a. Low Sulphidation
Karakteristik Endapan Epitermal Sulfida Rendah / Tipe
Adularia-Serisit ( Epithermal Low Sulfidation) dapat dikategorikan
sebagai berikut :
1) Tinjauan Umum
Endapan epitermal sulfidasi rendah dicirikan oleh larutan
hidrotermal yang bersifat netral dan mengisi celah-celah batuan.
Tipe ini berasosiasi dengan alterasi kuarsa-adularia, karbonat,
serisit pada lingkungan sulfur rendah dan biasanya perbandingan
perak dan emas relatif tinggi. Mineral bijih dicirikan oleh
terbentuknya elektrum, perak sulfida, garam sulfat, dan logam
dasar sulfida. Batuan induk pada deposit logam mulia sulfidasi
rendah adalah andesit alkali, dasit, riodasit atau riolit. Secara
genesa sistem epitermal sulfidasi rendah berasosiasi dengan
vulkanisme riolitik. Tipe ini dikontrol oleh struktur-struktur
pergeseran (dilatational jog).
2) Genesa dan Karakteristik
Endapan ini terbentuk jauh dari tubuh intrusi dan
terbentuk melalui larutan sisa magma yang berpindah jauh dari
sumbernya kemudian bercampur dengan air meteorik di dekat
permukaan dan membentuk jebakan tipe sulfidasi rendah,
dipengaruhi

oleh

sistem

boiling

sebagai

mekanisme

20

pengendapan mineral-mineral bijih. Proses boiling disertai


pelepasan

unsur

gas

merupakan

proses

utama

untuk

pengendapan emas sebagai respon atas turunnya tekanan.


Perulangan
crusstiform

proses

boiling

banding

akan

dari

silika

tercermin
dalam

dari

tekstur

urat

kuarsa.

Pembentukan jebakan urat kuarsa berkadar tinggi mensyaratkan


pelepasan tekanan secara tiba-tiba dari cairan hidrotermal untuk
memungkinkan proses boiling. Sistem ini terbentuk pada
tektonik lempeng subduksi, kolisi dan pemekaran (Hedenquist
dkk., 1996 dalam Pirajno, 1992).
Kontrol utama terhadap pH cairan adalah konsentrasi CO2
dalam larutan dan salinitas. Proses boiling dan terlepasnya CO2
ke fase uap mengakibatkan kenaikan pH, sehingga terjadi
perubahan stabilitas mineral contohnya dari illit ke adularia.
Terlepasnya CO2 menyebabkan terbentuknya kalsit, sehingga
umumnya dijumpai adularia dan bladed calcite sebagai mineral
pengotor (gangue minerals) pada urat bijih sistem sulfidasi
rendah.
Endapan epitermal sulfidasi rendah akan berasosiasi
dengan alterasi kuarsaadularia, karbonat dan serisit pada
lingkungan sulfur rendah. Larutan bijih dari sistem sulfidasi
rendah variasinya bersifat alkali hingga netral (pH 7) dengan
kadar garam rendah (0-6 wt)% NaCl, mengandung CO2 dan

21

CH4 yang bervariasi. Mineral-mineral sulfur biasanya dalam


bentuk H2S dan sulfida kompleks dengan temperatur sedang
(150-300 C) dan didominasi oleh air permukaan.
Batuan samping (wallrock) pada endapan epitermal
sulfidasi rendah adalah andesit alkali, riodasit, dasit, riolit
ataupun batuan batuan alkali. Riolit sering hadir pada sistem
sulfidasi rendah dengan variasi jenis silika rendah sampai tinggi.
Bentuk endapan didominasi oleh urat-urat kuarsa yang mengisi
ruang terbuka (open space), tersebar (disseminated), dan
umumnya terdiri dari urat-urat breksi (Hedenquist dkk., 1996).
Struktur yang berkembang pada sistem sulfidasi rendah berupa
urat, cavity filling, urat breksi, tekstur colloform, dan sedikit
vuggy (Corbett dan Leach, 1996),
3) Interaksi Fluida
Epithermal Low Sulphidation terbentuk dalam suatu
sistem geotermal yang didominasi oleh air klorit dengan pH
netral dan terdapat kontribusi dominan dari sirkulasi air
meteorik yang dalam dan mengandung CO2, NaCl, and H2S.

22

4) Model Konseptual Endapan Emas Epitermal Sulfidasi Rendah

Gambar 5. Model endapan emas epitermal sulfidasi rendah


(Hedenquist dkk., 1996 dalam Nagel, 2008).
Gambar diatas merupakan model konseptual dari endapan
emas sulfidasi rendah. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa
endapan ephitermal

sulfidasi

rendah berasosiasi

dengan

lingkungan volkanik, tempat pembentukan yang relatif dekat


permukaan

serta

larutan

yang

berperan

dalam

proses

pembentukannya berasal dari campuran air magmatik dengan air


meteorit.
b. High Epithermal
Karakteristik Endapan Epitermal Sulfida Tinggi (Epithermal
High Sulfidation) atau Acid Sulfate dapat dikategorikan sebagai
berikut :

23

1) Tinjauan Umum
Endapan epitermal high sulfidation dicirikan dengan host
rock berupa batuan vulkanik bersifat asam hingga intermediet
dengan kontrol struktur berupa sesar secara regional atau intrusi
subvulkanik, kedalaman formasi batuan sekitar 500-2000 meter
dan

temperatur

1000C-3200C.

Endapan

Epitermal

High

Sulfidation terbentuk oleh sistem dari fluida hidrotermal yang


berasal dari intrusi magmatik yang cukup dalam, fluida ini
bergerak secara vertikal dan horizontal menembus rekahanrekahan pada batuan dengan suhu yang relatif tinggi (200-3000C),
fluida ini didominasi oleh fluida magmatik dengan kandungan
acidic yang tinggi yaitu berupa HCl, SO2, H2S (Pirajno, 1992).

Gambar 6. Keberadaan sistem sulfidasi tinggi

24

Gambar 7. Penampang Ideal Endapan Epitermal Menurut Buchanan (1981)

2) Genesa dan Karakteristik


Endapan epitermal high sulfidation terbentuk dari reaksi
batuan induk dengan fluida magma asam yang panas, yang
menghasilkan suatu karakteristik zona alterasi (ubahan) yang
akhirnya

membentuk

endapan

Au+Cu+Ag.

Sistem

bijih

menunjukkan kontrol permeabilitas yang tergantung oleh faktor


litologi, struktur, alterasi di batuan samping, mineralogi bijih dan
kedalaman formasi. High sulphidation berhubungan dengan pH
asam, timbul dari bercampurnya fluida yang mendekati pH asam
dengan larutan sisa magma yang bersifat encer sebagai hasil dari
diferensiasi magma, di kedalaman yang dekat dengan tipe
endapan porfiri dan dicirikan oleh jenis sulfur yang dioksidasi
menjadi SO.

25

3) Interaksi Fluida
Epithermal High Sulphidation terbentuk dalam suatu sistem
magmatic-hydrothermal yang didominasi oleh fluida hidrothermal
yang asam, dimana terdapat fluks larutan magmatik dan vapor
yang mengandung H2O, CO2, HCl, H2S, and SO2, dengan
variabel input dari air meteorik lokal.

2. Tambang Bawah Tanah (Underground Mining)


Tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining)
adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktivitas
penambangannya dilakukan di bawah permukaan bumi, dan tempat
kerjanya tidak langsung berhubungan dengan udara luar.
Tambang bawah tanah mengacu pada metode pengambilan bahan
mineral yang dilakukan dengan membuat terowongan menuju lokasi
mineral tersebut.Berbagai macam logam bisa diambil melalui metode ini
seperti emas, tembaga, seng, nikel, dan timbal.
Karena letak cadangan yang umumnya berada jauh dibawah tanah,
jalan masuk perlu dibuat untuk mencapai lokasi cadangan. Jalan masuk
dapat dibedakan menjadi beberapa:
a. Ramp adalah jalan masuk ini berbentuk spiral atau melingkar mulai
dari permukaan tanah menuju kedalaman yang dimaksud. Ramp
biasanya digunakan untuk jalan kendaraan atau alat - alat berat
menuju dan dari bawah tanah.

26

b. Shaft adalah lubang tegak (vertikal) yang digali dari permukaan


menuju cadangan mineral. Shaft ini kemudian dipasangi semacam
lift yang dapat difungsikan mengangkut orang, alat, atau bijih.
c. Adit adalah terowongan mendatar (horizontal) yang umumnya dibuat
disisi bukit atau pegunungan menuju ke lokasi bijih.
Ada dua tahap utama dalam metode tambang bawah tanah yaitu
development (pengembangan) dan production (produksi).Pada tahap
development, semua yang digali adalah batuan tak berharga.Tahap
development termasuk pembuatan jalan masuk dan penggalian fasilitasfasilitas bawah tanah lain. Sedangkan tahap production adalah pekerjaan
menggali sumber bijih itu sendiri. Tempat bijih digali disebut stope
(lombong).

27

Sumber : H.Hamrin, Guide to Underground Mining Methods and


Applications (Stockholm : Atlas Copco, 1997)

Gambar 8. Tambang Bawah Tanah


3. Metoda Cut and Fill
Cut and fill merupakan suatu cara penambangan yang menggali
bagian demi bagian. Sebelum pengalian berikutnya dilakukan maka
dilakukan penggisian material dari luar. Metode ini menggunakan
material pengisi (filling material) disamping penyanggaan yang teratur.
Keduanya membutuhkan biaya yang tinggi, oleh sebab itu cara
penambangan ini menjadi mahal dan hanya endapan-endapan bijih yang
bernilai tinggi saja yang dapat ditambang dengan cara ini. Fungsi
material pengisi :

28

a. Tempat berpijak dalam melakukan pemboran dan persiapan


peledakan.
b. Untuk penyangga batuan samping di tempat-tempat yang bijihnya
sudah diambil.
c. Untuk menghindari terjadinya amblesan (surface subsidence).

Sumber :http://www.michanarchy.com

Gambar 9. Metoda Cut and Fill

Syarat Penambangan Cut and Fill adalah metode ini cocok untuk
endapan-endapan bijih yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
a. Kekuatan bijih kuat dan keras tetapi di bagian tengah-tengahnya ada
yang kurang kompak dan kadang-kadang memerlukan temporary
support.
b. Kekuatan batuan samping agak lemah atau kurang kompak.
c. Bentuk endapan bijih tabular atau cebakan deposit dan batasnya
kurang teratur atau banyak batuan kosong (barren rock) di antara
endapan bijihnya.
d. Kemiringan endapan 35o - 90o untuk yang berbentuk vein.

29

e. Ukuran endapan 4 - 40 m, tetapi yang umumnya adalah 10 - 12 m.


f. Kadar bijih nilainya tinggi.
g. Kedalamannya dangkal atau dalam.
Pada kebanyakan cut and fill stopping, kemajuan penambangan
dilakukan naik sepanjang badan bijih miring. Kemajuan penambangan
dilakukan didalam suatu siklus yang meliputi tahapan aktivitas sebagai
berikut :
a. Pemboran dan peledakan untuk batuan berlapis dengan ketebalan 3
m dilakukan pada atap stope.
b. Scalling dan penyanggaan meliputi pemindahan loose material dari
atap dan dinding stope serta cara penempatan penyanggaan.
c. Pemuatan dan pengangkutan bijih, dimana bijih secara mekanis
dipindahkan dari dalam stopeke ore pass, kemudian jatuh ke jalan
pengangkutan oleh gravitasi.
d. Pengisian kembali (back filling) stope yang telah kosong diisi
kembali dengan material filling.
e.
Kelebihan metode penambangan cut and fill ini antara lain :
a. Termasuk metode yang luwes, karena metode ini bisa menambang
endapan-endapan yang tidak teratur bentuknya, diubah ke metode
penambangan yang lain tidak begitu sulit, memungkinkan untuk
dilakukannya selective mining, walaupun terbatas.

30

b. Akibat dari sifat metode ini maka dapat diusahakan mining


recovery yang tinggi.
c. Dari front atau lombong dapat sekaligus dilakukan prospecting dan
eksplorasi.
d. Batuan samping yang secara tidak sengaja pecah dapat dipakai
sebagai filling material sehingga tidak perlu diangkut ke luar
tambang.
e. Karena memakai material pengisi maka penyangga kayu bisa
dikurangi, surface subsidencedapat dicegah, kemungkinan kebakaran
dan pembusukkan juga berkurang.
f. Penambangan bisa dilakukan di beberapa lombong sekaligus
sehingga produksi bisa diatur besar kecilnya.

Kekurangan metode penambangan cut and fill antara lain :


a. Selain harus menambang bijihnya, juga harus mengurus material
pengisi sehingga diperlukan lebih banyak karyawan terutama jika
material pengisi harus diambil lebih jauh.
b. Untuk bentuk endapan bijih yang tidak teratur, maka batuan samping
harus sering digali.
c. Setiap kali akan dilakukan peledakan, maka harus mempersiapkan
alat untuk memisahkan material pengisinya dari bijih, berarti ada
ongkos tambahan.

31

d. Ongkos penambangannya mahal, Jadi hanya endapan bijih dengan


nilai tinggi bisa ditambang dengan metode ini.
e. Endapan bijih yang tipis tetapi perlu penambangan yang lebar untuk
mendapatkan ruang kerja yang leluasa dan enak. Jika ditambang
selebar ore body tidak mungkin jadi terpaksa diperlebar dengan
konsekuensi country rock harus diambil lebih dulu, batuan samping
diambil sebagian untuk filling dan sebagian dibuang.

4. Cadangan (Reserve)
a. Cadangan tereka/terduga/terkira (inferred / prossible raserve)
Perhitungannya hanya didasarkan pada data dan informasi geologi
serta percontoh dari singkapan yang ada ; kesalahan perhitungan
berkisar 40% - 60%.
b. Cadangan terunjuk/terindikasi (indicated / probable reserve)
Perhitungannya kecuali didasarkan pada data dan informasi yang lebih
rinci juga dilengkapi dengan data pengeboran ini geologi yang
jaraknya kurang rapat (>50 m untuk endapan bijih,> 250 m.
c. Cadangan terukur/teruji (measured / proven reserve)
Perhitungannya dapat diperoleh berdasarkan data pemercontohan
untuk sistematis dari pengeboran inti yang rapat (25 50 m untuk
endapan bijih; 100 250 m untuk endapan batubara); kesalahannya
maksimum 20%.

32

d. Cadangan tertambang (mineable reserve), yaitu cadangan terukur


yang dapat ditambang secara ekonomis. Satuannya m3 atau ton.
e. Cadangan

terperoleh

(recoverable

reserve)

adalah

cadangan

tertambang sesudah dikurangi kehilangan (losses) atau produksi


tambang yang dapat dijual, satuannya m3 atau ton.

5. Perhitungan Cadangan
Prinsip umum dalam penaksiran cadangan adalah bagaimana
mendapatkan suatu nilai pengganti terbaik dari sejumlah perconto yang
diambil dari suatu badan bijih. Secara lebih spesifik kita ingin menaksir
kadar pada suatu lokasi dimana tidak memiliki data dengan menggunakan
sejumlah perconto yang letaknya dekat dengan lokasi terbentuk.
Dalam menaksir suatu sumberdaya / cadangan mineral, diperlukan
suatu persyaratan penaksiran datalapangan melihat pentingnyabahwa
semua keputusan teknis sangat tergantung pada data lapangan merupakan
salahsatu tugas penting dan mempunyai tanggung jawab yang beratdalam
evaluasi sumberdaya(resource).
Model data yang kita buat adalah pendekatan dari realitas,
berdasarkan data atau informasi yang didapatkan di lapangan.Beberapa
faktor yang menentukan dalam perhitungan cadangan yaitu ;
a. Luas dan Ketebalan,
b. Kualitas dari pada Bahan Galian,
c. Berat Jenis,

33

d. Sebaran Bahan Galian (EndapanMineral), dll

Untuk menghitung volume cadangan maka didapat dengan


mengalikan antara luas blok dengan ketebalan yang mengandung bijih
pada data log bor tersebut.
V= L x t
Dimana :
V= Volume (m3)
L= Luas (m2)
t = Tebal (m)

Sedangkan menghitung tonase cadangan diperoleh dari hasil kali


volume blok dengan density insitu.
T=Vx
Dimana :
T= Tonase (ton)
V= Volume (m3)
= Density (ton/m3)

6. Jumlah Cadangan Bijih


Dari data hasil pemboran dan eksplorasi, dapat diketahui jumlah
cadangan bijih yang dapat ditambang (mineable).Dari jumlah bijih hasil

34

perhitungan cadangan tersebut terdapat standar pengurangan yang


digunakan oleh perusahaan sehingga diperoleh mining recovery.
Mining Recovery =

x 100%

Standar pengurangan tersebut dapat berupa :


a. Geologi Faktor
b. Mining Losses
c. Dilution

7. Perancangan Tambang (Mine Design)


Rancangan (design) adalah penentuan persyaratan, spesifikasi dan
criteria teknik yang rinci dan pasti untuk mencapai tujuan dan sasaran
kegiatan serta urutan teknis pelaksanaannya. DiIndustri pertambangan juga
dikenal rancangan tambang (minedesign) yang mencakup pula kegiatan kegiatan seperti yang ada pada perencanaan tambang, tetapi semua data
dan

informasinya

sudah

rinci.

Pada

umumnyaada

dua

tingkat

rancangan,yaitu:
a. Rancangan konsep (conceptual design), yaitu suatu rancangan awal
atau titik tolak rancangan yang dibuat atas dasar analisis dan
perhitungan secara garis besar dan baru dipandang dari beberapa segi
yang terpenting, kemudian akan dikembangkan agar sesuai dengan
keadaan (condition) nyata di lapangan.
b. Rancangan

rekayasa atau reka cipta (engineering design), adalah

suatu rancangan lanjutan dari rancangan konsep yang disusun dengan

35

rinci dan lengkap berdasarkan data dan informasi hasil penelitian


laboratorium serta literatur dilengkapi dengan hasil-hasil pemeriksaan
keadaan lapangan.
Rancangan konsep pada umumnya digunakan untuk perhitungan
teknis dan penentuan urutan kegiatan sampai tahap studi kelayakan
(feasibility study), sedangkan rancangan rekayasa (reka cipta) di pakai
sebagai dasar acuan atau

pegangan

dari

pelaksanaan

kegiatan

sebenarnya di lapangan yang meliputi rancangan batas akhir tambang,


tahapan

penambangan

penjadwalan produksi dan

(mining

stages/mining

material

phases

buangan

pushback),

(waste).Rancangan

rekayasa tersebut biasanya juga diperjelas menjadi rancangan bulanan,


mingguan dan harian.

8. Klasifikasi Massa Batuan (Rock Mass Classification)


Klasifikasi

massa

batuan

sangatlah

cocok

untuk

mewakili

karakteristik massa batuan karena terdiri atas beberapa parameter


diantaranya yaitu derajat pelapukan massa batuan dan sifat bidang lemah.
Hal tersebut terdapat sistem klasifikasi massa batuan yang dapat
merancang kemantapan lereng yang sama halnya dengan kemantapan
terowongan yang diantaranya yaitu adalah :

Rock Mass Rating (RMR), Bieniawski (1976, & 1989)

Rock Structure Rating (RSR), Wickham et al (1972)

Rock Tunneling Quality Index (Q System), Barton et al, (1974)

36

Dalam pengklasifikasian massa batuan sering digunakan lebih dari


satu parameter yang tergantung pada kebutuhan yang diinginkan namun
semakin banyak parameter yang dipakai maka semakin baik pula analisis.\

9. Geometri Lubang Bukaanp


Terowongan adalah lubang bukaan mendatar atau sedikit miring
yang dibuat di bawah tanah, gunung, sungai, laut, daerah industri, bahkan
pemukiman padat penduduk.Ada dua tujuan utama manusia membuat
terowongan.Terowongan yang dibuat untuk mengambil bahan galian
dibawah tanah, dikenal dengan terowongan tambang.
Konsep perancangan lubang bukaan adalah sesuatu hal yang relative
baru.Konsep ini berbeda dengan konsep perancangan struktur pada teknik
sipil pada umumnya.Metoda pelaksanaan memegang perenan yang sangat
besar dalam konsep rancangan terowongan.
a. Metoda-Metoda Pembuatan Lubang Bukaan
Berbagai macam metoda pembuatan lubang bukaan pada
batuan maupun tanah telah dikembangkan oleh manusia.Metodametoda tersebut memiliki karateristik masing-masing, baik itu
kelebihan maupun kekurangan. Tetapi secara umum metoda
pembuatan lubang bukaan terowongan dapat dikelompokkan
menjadi 2 bagian, yaitu :
1) Cara portal.
2) Cara open cut.

37

Ada beberapa metoda pembuatan lubang bukaan dengan cara


penggalian yaitu :
1) Metoda Full Face
Merupakan

metoda

dimana

seluruh

penampang

terowongan digali secara bersamaan.Metoda ini sangat cocok


untuk terowongan dengan penampang melintag kecil hingga
terowongan dengan diameter 3 meter.
Keuntungan dari metoda ini, yaitu :
a) Dengan menggali seluruh penampang lubang bukaan,
maka dapat mempercepat pekerjaan.
b) Lintasan untuk pembuangan hasil peledakan dapat
langsung dipasang bersamaan pada saat proses penggalian
berikutnya.
c) Proses tunneling dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Kerugian dari metoda ini, yaitu :
a) Membutuhkan alat-alat mekanis dalam jumlah besar.
b) Tidak dapat digunakan pada kondisi batuan atau tanah
yang tidak stabil.
c) Terbatas untuk terowongan yang memiliki lintasan
pendek.

38

2) Metoda Heading dan Bench


MetodaHeading dan Bench merupakan cara penggalian,
dimana bagian atas penampang terowongan digali terlebih
dahulu sebelum bagian bawah penampangnya. Setelah
penggalian bagian ata mencapai panjang 3-5 meter (heading),
penyangga bawah penampang dikerjakan (bench cut) sampai
membentuk penampang terowongan yang diinginkan. Proses
ini diulangi sampai seluruh lintasan terowongan tercapai.
Keuntungan metoda ini, yaitu :
a) Memungkinkan pengerjaan pengeboran dan pembuangan
sisa peledakan dilakukan secara simultan.
b) Metoda

ini

efektif

untuk

terowongan

berukuran

penampang besar dengan lintasan yang reltif panjang.


c) Metoda ini dapat diterapkan pada setiap kondisi batuan.
Kerugian metoda ini, yaitu :
a) Waktu pengerjaan relatif lebih lama jika dibandingkan
dengan metoda full face.

3) Metoda drift
a) Top Drift
Banyak digunakan pada penggalian endapan di suatu
tambang.Metoda ini tidak jauh berbeda dengan metoda
heading dan bench.

39

Gambar 10. Top Drift


b) Bottom Drift
Metoda ini dimulai dengan membuka bagian bawah
penampang.Pembukaan lubang-lubang bahan peledak
untuk membuka bagian atas penampang dilakukan dengan
membor dari bottom draft vertical atas.

Gambar 11. Bottom Drift

40

10. Pillar
Pada tambang bawah tanah pillar dapat digunakan sebagai
penyangga permanen atau dapat diambil untuk meningkatkan nilai dari
mining recovery. Bentuk-bentuk pillar ada beberapa macam, yaitu :
a) Pillar diantara draw point

yang dibuat diatas level tempat

transportasi.
b) Floor atau craw pillar pada bagian atas dari lubang bukaan.
c) Rib pillar yang memisahkan ruang-ruangan penambangan.

11. Concrete
Beton (concrete) adalah suatu komposit dari beberapa bahan batu
batuan yang direkatkan oleh bahan ikat. Beton (concrete) dibentuk dari
agregat campuran (halus dan kasar) dan ditambah dengan pasta semen.
Singkatnya dapat dikatakan pasta bahwa semen mengikat pasir dan bahanbahan agregat lain (batu kerikil,basalt dan sebagainya).
Bentuk paling umum dari beton adalah beton semen portlan , yang
terdiri dari agregat mineral (biasanya kerikil dan pasir), semen dan air.
Beton digunakan untuk membuat perkerasan jalan, struktur bangunan,
pondasi, jalan, jembatan penyeberangan, struktur parkiran, dasar untuk
pagar atau gerbang, dan semen dalam beton atau tembok blok.
Dalam perkembangannya banyak ditemukan beton baru hasil
modifikasi, seperti beton ringan, beton semprot, beton fiber, beton

41

berkekuatan tinggi, beton berkekuatan sangat tinggi, beton mampat sendiri


(selfcompacted concrete).
Kemajuan

teknologi

beton

yang

dikembangkan

untuk

menanggulangi kekurangan yang dimiliki beton normal disebut dengan


beton special.Beton special biasanya terbuat dari campuran semen
Portland dan agregat alami dan dibuat secara konvensional.

12. Shotcrete
Shotcrete atau gunite pertama kali ditemukan oleh Carl Ethan Akeley
(1864-1926) pada tahun 1910. Arsitek Amerika ini telah terinspirasi untuk
mewujudkan reproduksi yang nyata dari dinosaurus untuk sebuah taman
wisata. Mengingat ukuran struktur yang cukup besar, ia mempunyai ide
untuk

mengembangkan

"cement gun" mesin

yang memungkinkan

penyemprotan dari cementitious mortar, ide awal ini menyebabkan


munculnya istilah shotcrete.
Sistem penyemprotan shotcrete ada 2 yaitu wet mix dan dry mix.
Pada awalnya alat shotcrete adalah sistem dry mix, seiring dengan
perkembangannya muncul sistem wet mix. Shotcrete terutama digunakan
dalam proyek konstruksi bawah tanah sebagai perkuatan struktural awal
ataupun permanen untuk bangunan struktur seperti jalan bawah tanah,
terowongan kereta api, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), tambang
bawah tanah, kereta bawah tanah, dll. Namun shotcrete juga dapat
digunakan untuk stabilisasi lereng mencegah supaya tidak longsor , kolam

42

renang, saluran air, perbaikan beton, inner lining arsitektur dan struktur.
Kira-kira

90%

dari

shotcrete

diterapkan di dalam

proyek-proyek

konstruksi bawah tanah.


Komponen campuran shotcrete terdiri atas semen, pasir, agregat, air,
dan tambahan admixtures. Perbedaan shotcrete dengan beton normal dapat
dilihat dari 3 hal, yaitu :
a. Ukuran agregat maksimum yang digunakan.
b. Proses pelaksanaan nya.
c. Campuran dari shotcrete bisa kering atau basah.
Dalam pelaksanaannya, shotcrete harus memerlukan hal-hal sebagai
berikut :
a. Material beton.
b. Wire mesh.
c. Accelerator Admixture.
d. Superplasticizer Admixture.
e. Silica Fume/ Microsilica .
f. Steel Fiber (Optional).
g. Pipa PVC untuk drain.

13. Filling
Filling adalah proses pengisan material pada bekas lubang bukaan.
Fungsi dari filling yaitu
a. Untuk menjaga wall rock agar tidak runtuh.

43

b. Tetapi bila ore body tidak sedemikan homogendan juga tidak begitu
kuat maka temporary timber kita pakai di dalam tambang sampai
satu jalur lapisan dimana bagian tersebut selesai di tambang.
c. Berhubung biaya filling cukup mahal, maka bijih harus yang lebih
high grade dibandingkan dengan penambangan.

14. Penjadwalan Produksi


Penjadwalan alat atau produksi adalah melakukan simulasi
penambangan berdasarkan rencana waktu dan parameter alat .Data yang
dibutuhkan seperti : Model dan kualitas, topo dan desain pit, OPD, reserve
database, kalender, parameter alat (PA, UA & Productivity)
Penjadwalan alat yaitu pengaturan tentang :
a. Macam alat yang akan dipakai
b. Jumlah setiap jenis alat yang akan dipakai
c. Dan beberapa jam setiap harinya alat tersebut diterapkan pada
pekerjaan pemindahan tanah mekanis
Suatu penjadwalan produksi tambang menyatakan, dalam periode waktu
(misalnya tahun), ton nikel, kualitas dan pemindahan material total yang
akan dihasilkan oleh tambang tersebut.

15. Perhitungan produktivitas alat


Menurut Yanto Indonesianto (2005), produktivitas alat gali muat
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

44

Kb Ff Sf Eff 3600
Ct

Keterangan:
Q = Produktivitas alat muat, bcm/jam atau ton/jam untuk batubara
Kb = Kapasitas bucket specs alat
Ff = Fill factor (faktor koreksi pengisian bucket)
Sf = Swell factor
Eff = Effisiensi kerja alat
Ct = Waktu edar alat muat/excavator, detik
Sedangkan produktivitas alat angkut dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut:

n Kb Ff Sf Eff 60
Ct

Keterangan:
Q = Produktivitas alat angkut, bcm/jam atau ton/jam
n

= Frekuensi pengisian truck

Kb = Kapasitas bucket specs alat


Ff = Fill factor (faktor koreksi pengisian bucket)
Sf = Swell factor
Eff = Effisiensi kerja alat
Ct = Waktu edar alat angkut/dump truck,

45

a. Kebutuhan alat

b. Match Factor
Match Factor merupakan angka yang menentukan keserasian
antara alat muat dan alat angkut.

MF =

Na x Ctm
Nm x Cta

Keterangan :
Na

= jumlah alat angkut

Nm = jumlah alat muat


Cta = waktu edar (cycle time) alat angkut
Ctm = waktu edar (cycle time) alat muat

MF < 1maka Nm > Na ( alat angkut perlu ditambahi )


MF = 1 maka Serasi
MF > 1 maka Na > Nm ( alat angkut perlu dikurangi )
Untuk menghitung match factor diperlukan data-data cycle time
alat muat dan alat angkut.
c. Parameter efektifitas penggunaan alat tambang mekanis.
1) Mechanical Availability (MA) atau Availability Index Percent.

46

Mechanical
menunjukan

Availability

tingkat

memperhitungkan

suatu

kehilangan

(MA)
alat

adalah

dapat

waktu

angka

bekerja

karena

yang
dengan

alasan-alasan

mekanis seperti perawatan atau reparasi mesin, penggantian suku


cadang (spare part) dan lain-lain. Kesiapan mekanis merupakan
suatu cara untuk mengetahui kondisi mekanis yang sesungguhnya
dari alat yang sedang dipergunakan
Persamaan untuk Mechanical Availability adalah sebagai
berikut (Yanto.Indonesianto, 2005) :

Keterangan :
W = Jumlah jam kerja alat (hours worked)
R = Jumlah jam untuk perbaikan (repair hours) karena
kerusakan alat di luar jam

service yang telah ditentukan

Dengan angka kesiapan mekanis dapat diperkirakan


kemampuan (performance) dari alat untuk masa mendatang.Bila
kesiapan mekanis suatu alat rendah, maka sebaiknya alat tersebut
digunakan untuk pekerjaan ringan atau sebagai cadangan apabila
alat yang lain rusak.
W (hours worked) didefinisikan sebagai waktu yang
dibebankan untuk seorang operator pada suatu alat yang ada
dalam kondisi yang dapat dioperasikan. Waktu ini biasanya

47

diambil maksimum 8 jam per shift dan meliputi setiap delay


time yang ada, termasuk dalam delay time adalah waktuwaktu untuk pulang pergi ke front kerja, pindah tempat dan
pengisian bahan bakar.
R (repair time) didefinisikan sebagai waktu untuk perbaikan
dan waktu menunggu suku cadang serta waktu perawatan.

2) Physical Availability (PA)


Physical Availability (PA) adalah angka yang menunjukan
kesiapan

kerja

dari

suatu

alat

dapat

bekerja

dengan

memeperhitungkan kehilangan waktu karena antrian, kerusakan


jalan dan lain-lain.
Dengan angka kesiapan fisik dapat diketahui kemampuan
alat tersebut dalam sejumlah waktu tertentu.Walaupun suatu alat
telah siap sedia secara mekanis untuk bekerja, tetapi karena
adanya hal-hal tertentu alat tersebut tidak dapat bekerja secara
optimal. Kesiapan fisik merupakan suku catatan mengenai
keadaan fisik dari alat yang sedang digunakan dengan persamaan
sebagai berikut (Indonesianto, 2005):

Keterangan :
S = stand by hours merupakan jumlah jam suatu alat yang
tidak dapat dipergunakan padahal alat tersebut tidak rusak

48

dan dalam keadaan siap beroperasi. Contoh : waktu


tunggu order, hujan, perawatan front, sistem
W + R + S = schedule hours merupakan jumlah seluruh
jam jalan dimana alat dijadwalkan untuk beroperasi
Physical availability percent (PA) pada umumnya selalu
lebih besar daripada Mechanical Availability (MA).Tingkat
efeisiensi dari operasi naik jika harga PA mendekati MA.

3) Use of Availability (UA)


Menunjukan persentase waktu kerja efektif yang digunakan
oleh suatu alat untuk operasi pada saat alat itu siap beroperasi.
Persamaannya adalah (Indonesianto, 2005):

4) Effective Utilization (EU)


Menunjukan persentase dari seluruh waktu kerja yang
tersedia dapat dimanfaatkan secara produktif. Persamaannya
adalah (Indonesianto, 2005):

Keterangan :
T = (W + R + S) = Total hour availability atau jumlah jam
kerja yang tersedia
S + R = Lost Time ( S = Standby Time; R = Repair Time

49

.
F. KERANGKA PIKIR PENELITIAN
INPUT
PRIMER
cycle time LHD
cycle time MT
SEKUNDER
Topografi Daerah
Patahan
Blok model/ Krigging Cikoneng
Outline Kemajuan Tambang Akhir bulan April 2015
Data RKAP 2015
Data Aviability Alat Jan-April 2015
Laporan Volume Filling
Spesifikasi Alat
Data Kemajuan Lubang Bukaan
Rekomendasi Sill Pillar dari Geotek
Peta

PROSES
- Menghitung Kemampuan Alat Angkut dan gali muat
Berdasarkan Kondisi Aktual
- Penentuan Panjang Lubang Bukaan perbulan
Berdasarkan Cycle Time Peledakan
- Mendesain Sill Drift dan Flat Back Masing-masing Lokasi
Produksi
- Membuat Schedule Produksi dengan perolehan tonnase
sesuai RKAP 2015
- Pembuatan desain Kemajuan Tambang Per bulan sampai
dengan Akhir Tahun 2016
- Membuat Schedule Filling sampai dengan akhir tahun
2016

OUTPUT
- Kilogram Au dan AG yang sesuai dengan RKAP 2015
- Kebutuhan Alat angkut dan Gali Muat untuk rencana
kedepan
- Kemajuan tambang sampai Akhir Tahun 2016
- Lokasi produksi perbulan
- Estimasi Waktu Filling
- Lokasi dan Volume Filling Perlokasi

50

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis

penelitian

ini

termasuk

kedalam

jenis

penelitian

kuantatif.Penelitian ini lebih terarah ke penelitian terapan (Applied


Research), yaitu salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk
memberikan solusi atas permasalahan tertentu secara praktis.
Dalam pelaksanaan penelitian ini didapatkan data primer melalui
pengamatan secara langsung ke lapangan maupun data sekunder yang
didapat dari perusahaan. Tahapan pekerjaan penelitian sebagai berikut:
a. Studi literatur
Mempelajari teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang
akan dibahas di lapangan melalui buku-buku, seperti Diktat
perencanaan tambang oleh Prof. Dr. Irwandy Arif, M.Sc dan Ir. Gatut
Adisoma, Phd, Dikta pemindahan tanah mekanis oleh Andi Tenrisukki
Tenriajeng, serta mempelajari penelitian yang pernah dilakukan
sebelumnya berupa skripsi dan laporan perusahaan.
b. Penelitian langsung dilapangan
Penelitian langsung dilapangan meliputi orientasi lapangan
bersama karyawan perusahaan untuk langkah awal penelitian,
penentuan titik pengamatan dan observasi terhadap permasalahan
dilakukan dengan cara mengamati secara langsung ke lokasi
penambangan emas.

51

c. Pengambilan data
Pengambilan data setelah studi literature dan penelitian langsung
di lapangan selesai dilaksanakan.Data yang diambil berupa data primer
dan sekunder. Data primer adalah data yang diambil langsung dari
pengamatan dilapangan seperti pengambilan data cycle time dari alat.
sedang kan data sekunder adalah data yang diambil dari literature atau
laporan perusahaan, seperti laporan kondisi aviability alat, data peta
situasi kemajuan tambang.
d. Pengolahan data
Pengolahan data yang dilakukan dengan melakukan perhitungan
secara teoritis.Selanjutnya direalisasikan dalam bentuk rencana
tambang jangka pendek dan pertimbangan kajian teknis dan ekonomis
yang dibutuhkan.
e. Analisis pengolahan data
Hasil pengolahan data tersebut dilakukan analisis untuk
perancangan tambang yang sesuai dengan kriteria kelayakan suatu
tambang dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah dikaji dalam
bidang teknis dan ekonomis.
f. Kesimpulan
Kesimpulan akan diperoleh setelah dilakukan korelasi antara hasil
pengamatan di lapangan, pengolahan data dan analisis permasalahan
yang diteliti untuk memberikan alternative desain perencanaan jangka

52

menengah yang akan digunakan dari tahun 2015 sampai dengan tahun
2016.

2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 28April 2015 sampai dengan
tanggal 21 Mei 2015.Waktu penelitian selama kurang lebih dua bulan
dilakukan untuk pengambilan data primer dan sekunder untuk selanjutnya
diolah dan dianalisis.

3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT.Cibaliung Sumber Daya yang berlokasi
di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten

53

B. Diagram Alir Penelitian

Studi Literatur

Penelitian langsung di
Lapangan

Pengambilan Data

Primer
- Cycle Time Alat

Pengolahan Data
- Kemajuan Lubang
bukaan per bulan
- Desain Kemajuan
Tambang per bulan
- Kebutuhan Alat
Angkut dan Muat
- Filling Lubang
Bekas Tambang

Kesimpulan dan Saran

Sekunder
- Data Avaibility Alat
- Peta Topografi dan
Batas IUP
- Peta Situasi Kemajuan
Tambang
- Klasifikasi Massa
Batuan dari Satker.
Geotek
- Cycle Blasting
- Data Volume Filling
- Data Curring Time
Concrete dan Filling
- Dimensi Lubang
Bukaan
- Rencana Kerja tahun
2015

54

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Data-data laporan dan Arsip.PT. Cibaliung Sumber Daya


Arif, Irwandy & Adisoma, Gatut S.(2005). Perencanaan Tambang. Bandung :
Institut Teknologi Bandung.
Bristol, Rowdy & Jackson, Phil. (2006).Underground Mine Design.Perth : Surpac
Minex Group
Hustrulid, W.A. (1982). Underground Mining Methods Handbook. New York :
The American Institute of Mining, Metallurgical, and Petroleum
Engineers, Inc
Yanto Indonesianto, (1998), Persiapan Pembukaan Tambang Bawah Tanah,
Yogyakarta, Teknik Pertambangan UPN Veteran;Mahameru.
Partanto Prodjosumarto, (1996). Pemindahan Tanah Mekanis. Bandung ; Institut
Teknologi Bandung
http://masdorysaputro.blogspot.com/2015/01/menghitung-ketersediaan-alat-ditambang.html.
http://masdorysaputro.blogspot.com/2015/01/menghitung-produktivitas-alatangkut-di.html.