You are on page 1of 12

Laporan Kasus Hipertensi dengan Pendekatan Dokter Keluarga

Puskesmas Kelurahan Grogol I


Julianti Dewisarty Ranyabar/102011167
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana

Pendahuluan
1. Latar belakang
Hipertensi merupakan salah satu penyakit non infeksi yang masih banyak diderita
oleh masyarakat luas. Baik dari social ekonomi tinggi maupun yang rendah. Hipertensi juga
merupakan penyakit keturunan sehingga sulit pula membasminya walaupun telah
diketemukan berbagai obat untuk mengontrol tekanan darah penderita. Selain itu, banyak
komplikasi yang dihasilkan dari suatu keadaan hipertensi, antara lain gangguan penglihatan,
gangguan saraf, gagal jantung, gangguan fungsi ginjal, gangguan serebral (otak), yang
mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan
kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma. Sebelum bertambah parah dan terjadi
komplikasi serius seperti gagal ginjal, serangan jantung, stroke. Mencegah lebih baik dari
pada mengobati. Angka kejadian hipertensi masih memiliki angka morbiditas dan mortalitas
yang tinggi. Berangkat dari latar belakang bahaya dan banyaknya angka kejadian hipertensi
di Indonesia ini,maka diperlukan pengetahuan lebih lanjut mengenai hipertensi dilihat dari
sisi kesehatan masyarakat. Hipertensi memiliki banyak komplikasi apabila tidak tertangani
dengan baik. Yang menjadi permasalahan ialah adakah hubungan dari pola hidup keluarga
dengan kesehatan pasien hipertensi dipantau dari sisi kedokteran keluarga. Dengan
melakukan kegiatan kunjungan langsung kepada pasien puskesmas, diharapkan dapat
menambah wawasan mengenai hipertensi yang ada pada kasus di lapangan. Kasus di
lapangan dapat saja memiliki variasi dan sedikit berbeda dengan teori yang ada, namun
dengan sedikit dasar, penanganan terhadap hipertensi ini tidak lagi asing dan diharapkan
dapat menurunkan prevalensi hipertensi yang semakin meningkat. Dengan mengetahui

kejadian hipertensi di lapangan, diharapkan menambah pengetahuan yang lebih baik


mengenai hipertensi ditinjau dari sisi kemasyarakatannya.
1.2 Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai penyakit Hipertensi,
yang umumnya terjadi pada usia dewasa. Belakangan penderita Hipertensi didalam
masyarakat meningkat karena faktor pola hidup yang makin memburuk, misalnya saja
kurangnya berolahraga, makan makanan atau minum minuman yang tidak sehat (asin dan
berlemak) dan sebagainya.
1.3 Tujuan
Dengan melakukan kegiatan kunjungan langsung kepada pasien puskesmas,
diharapkan dapat menambah wawasan mengenai Hipertensi yang ada pada kasus di lapangan.
Kasus di lapangan dapat saja memiliki variasi dan sedikit berbeda dengan teori yang ada,
namun dengan sedikit dasar, pencegahan dan penanganan terhadap Hipertensiini tidak lagi
asing. Dengan mengetahui kejadian Hipertensi di lapangan, diharapkan menambah
pengetahuan yang lebih baik mengenai Hipertensi ditinjau dari sisi kemasyarakatannya.
1.4 Sasaran
Sasaran yang kita tuju adalah pasien yang merupakan penderita Hipertensi, dan juga
sekelompok masyarakat atau komunitas yang harus kita berikan edukasi guna mencegah
peningkatan penderita penyakit Hipertensi.
1.2 Tujuan
Kunjungan keluarga pasien dengan pedekatan kedokteran keluarga dibuat :
1. Untuk dapat melihat sendiri kondisi dan situasi yang dialami pasien
2. Untuk memberi penyuluhan kesehatan dan kesadaran kepada pasien tentang penyakit
yang diderita.

Klasifikasi Hipertensi
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention,

Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan
darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat
I, dan derajat II.1

Klasifikasi Tekanan Darah Menurut


JNC 7
KlasifikasiTekanan Darah
Normal
Prahipertensi
Hipertensi derajat 1
Hipertensi derajat 2

TDS (mmHg)
< 120
120 139
140 159
>160

TDD (mmHg)
< 80
80 89
90 99
>100

Etiologi dan Patofisiologi

Etiologi

Pada 90-95% orang mengalami peningkatan tekanan darah (hipertensi esensial) yang
sebabnya tidak diketahui yang ditingkatkan oleh gaya hidup yang kurang aktif, merokok,
berat badan berlebih, diet tinggi lemak, konsumsi alcohol dan stress. 1Pada 5-10% orang
(hipertensi sekunder) mempunyai penyakit lain yang mendasari menyebabkan tingginya
tekanan darah dan memerlukan pengobatan segera.2
Terdapat faktor-faktor risiko yang berperan dalam hipertensi. Faktor resiko yang dapat diubah
dan tidak dapat diubah.
Faktor Faktor yang dapat diubah termasuk gaya
hidup, antara lain :
-

Merokok
Kurang aktivitas fisik
Kelebihan berat badan
Diet tinggi lemak
Asupan garam berlebih
Konsumsi alcohol berlebih

Faktor Faktor yang tidak dapat diubah, antara lain :


-

Patofisiologi

Pengaturan Tekanan Darah

Riwayat keluarga dengan hipertensi


Usia > 45 tahun pada pria dan >55 tahun
pada wanita
Etnik / suku bangsa

Tekanan darah ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu


-

Curah jantung

Hasil kali antara frekuensi denyut jantung dengan isi sekuncup, sedangkan isi sekuncup
ditentukan oleh aliran balik vena dan kekuatan kontraksi miokard.
-

Resistensi vascular

Resistensi perifer ditentukan oleh tonus otot polos pembuluh darah, elastisitas dinding
pembuluh darah dan viskositas darah.
Semua parameter di atas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sistem saraf simpatis
dan parasimpatis., sistem rennin-angiotensin-aldosteron (SRAA) dan faktor lokal berupa
bahan-bahan vasoaktif yang diproduksi oleh sel endotel pembuluh darah.3
Sistem saraf simpatis bersifat presif yaitu cenderung meningkatkan tekanan darah dengan :
-

Meningkatkan frekuensi denyut jantung,


Memperkuat kontraktilitas miokard
Meningkatkan resistensi pembuluh darah

Sistem saraf parasimpatis bersifat depresif, yaitu menurunkan tekanan darah dengan :
Menurunkan frekuensi denyut jantung.
SRAA juga bersifat presif berdasarkan efek vasokonstriksi angiotensin II dan
perangsangan aldosteron yang menyebabkan retensi air dan natrium di ginjal sehingga
meningkatkan volume darah. Selain itu terdapat sinergisme antara sistem simpatis dan SRAA
yang saling memperkuat efek masing-masing.3
Sel endotel pembuluh darah memproduksi berbagai bahan vasoaktif yang sebagiannya
bersifat vasokonstriktor seperti
-

Endotelin, tromboksan, A2 dan angiotensin II lokal, dan sebagian lagi


bersifat vasodilator seperti endothelium-derived relaxing factor yang
dikenal dengan nitric oxide (NO) dan prostasiklin (PG12).

Selain itu jantung, terutama atrium kanan memproduksi hormone yang disebut atriopeptin
(atrial natriuretic peptide, ANP) yang bersifat diuretic, natriuretik, dan vasodilator yang
cenderung menurunkan tekanan darah.3

Mekanisme hipertensi tidak dapat dijelaskan dengan satu penyebab khusus, melainkan
sebagai akibat interaksi dinamis antara faktor genetik, lingkungan dan faktor lainnya.
Tekanan darah dirumuskan sebagai perkalian antara curah jantung dan atau tekanan perifer
yang akan meningkatkan tekanan darah. Retensi sodium, turunnya filtrasi ginjal,
meningkatnya rangsangan saraf simpatis, meningkatnya aktifitas renin angiotensin alosteron,
perubahan membran sel, hiperinsulinemia, disfungsi endotel merupakan beberapa faktor yang
terlibat dalam mekanisme hipertensi.4,5
Mekanisme patofisiologi hipertensi salah satunya dipengaruhi oleh sistem renin
angiotensin aldosteron, dimana hampir semua golongan obat anti hipertensi bekerja dengan
mempengaruhi sistem tersebut. Renin angiotensin aldosteron adalah sistem endogen komplek
yang berkaitan dengan pengaturan tekanan darah arteri. Aktivasi dan regulasi sistem renin
angiotensin aldosterouran Tekanan Darah diatur terutama oleh ginjal. Sistem renin angiotensi
aldosteron mengatur keseimbangan cairan, natrium dan kalium. Sistem ini secara signifikan
berpengaruh pada aliran pembuluh darah dan aktivasi sistem saraf simpatik serta homeostatik
regulasi tekanan darah (Dipiro, 2005).4
2.3.2 Tanda dan Gejala
Peningkatan tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala
pada hipertensi esensial dan tergantung dari tinggi rendahnya tekanan darah, gejala
yang timbul dapat berbeda-beda.
Kadang-kadang hipertensi esensial berjalan tanpa gejala, dan baru timbul
gejala setelah terjadi komplikasi pada organ target seperti pada ginjal, mata, otak dan
jantung (Julius, 2008). Sebagian besar manifestasi klinis timbul setelah mengalami
hipertensi bertahun-tahun, dan berupa :
-

Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat
peningkatan tekanan darah intrakranium

Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi

Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat

Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus

Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler 1,4

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dikedua lengan.


mencari kerusakan organ sasaran (retinopati, gangguan neurologi, payah jantung
kongestif, diseksiaorta).Palpasi denyut nadi, auskultasi untuk mendengar ada atau
tidak bruit pembuluh darah besar, bising jantung dan ronkiparu.5,6
Pengukuran tekanan darah dilakukan sesuai dengan standar WHO dengan alat
sphygomanometer.

Untuk

menegakan

diagnosis

hipertensi

perlu

dilakukan

pengukuran tekanan darah minimal 2 kali dengan jarak 1 minggu bila tekanan darah
<160/100mmHg.1
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi :

Hematologi lengkap
Gula darah
Profil lemak
Fungsi ginjal : Urea N, kreatinin, asam urat, albumin urin kuantitatif
Gangguan elektrolit : Natrium, kalium
hsCRP
EKG

Diagnosis
Diagnosa Hipertensi
Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit.
Angka 140/90 mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, terapi diagnosis
tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan 1x pengukuran.
Jika pada pengukuran pertama tinggi, maka dapat diukur kembali dan
kemudian diukur sebanyak 2x dengan jarak 1 minggu untuk meyakinkan adanya
hipertensi. Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya tekanan darah tinggi,
tetapi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi.
Setelah diagnosis ditegakkan :
Dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama terutama pembuluh darah, jantung,
otak, ginjal.

Retina

: dapat menunjukan adanya efek dari hipertensi terhadap arteriola

(pembuluh darah kecil). Diperiksan dengan menggunakan oftalmoskop. Dengan


menentukan derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya
-

hipertensi.
Jantung : Pembesaran jantung, bisa ditemukan pada EKG, dan foto thorax
Ginjal
: Adanya sel darah dan albumin dalam urin, bisa menjadi petunjuk ada
kerusakan ginjal

Laporan Kunjungan

I. Identitas Pasien
a. Nama
b. Umur
c. Jenis Kelamin
d. Pekerjaan
e. Pendidikan
f. Alamat

:
:
:
:
:
:

II. Riwayat Biologis Keluarga


a. Keadaan kesehatan sekarang : baik
b. Kebersihan perorangan
: baik
c. Penyakit yang sering diderita : Hipertensi
d. Penyakit keturunan
: Diabetes Melitus
e. Penyakit kronis / menular
: tidak ada
f. Kecacatan anggota keluarga : tidak ada
g. Pola makan
: baik
h. Pola istirahat
: baik
i. Jumlah anggota keluarga
: 5 orang
III.Psikologis Keluarga
A. Kebiasaan buruk
: makan sate kambing, minum kopi susu
B. Pengambilan keputusan
: keluarga
C. Ketergantungan obat
: tidak ada
D. Tempat mencari pelayanan kesehatan: kedokter RS, puskesmas untuk control

IV.

hipertensi
E. Pola rekreasi
Kedaan rumah / lingkungan
a. Jenis bangunan
b. Lantai rumah
c. Luas rumah
d. Penerangan
e. Kebersihan
f. Ventilasi
g. Dapur
h. Jamban keluarga
i. Sumber air minum
j. Sumber pencemaran air
k. Pemanfaatan pekarangan

: tidak ada
: permanen
: keramik
:
: baik
: baik
: baik
: ada
: ada
: ledeng, air pam
: tidak
: ada

l. Sistem pembuangan limbah : ada


m. Tempat pembuangan sampah : ada
n. Sanitasi lingkungan
: baik
V. Spiritual Keluarga
a. Ketaatan beribadah
: baik
b. Keyakinan tentang kesehatan : baik
VI. Keadaan Sosial Keluarga
a. Tingkat pendidikan
b. Hubungan antar anggota kel
c. Hubungan dengan orang lain
d. Keadaan organisasi sosial
e. Keadaan ekonomi

VII.

Kultur Keluarga
A. Adat yang berpengaruh
B. Lain-lain

: sedang
: baik
: baik
: baik
: sedang

:
: tidak ada

VIII. Keluhan utama :


Pasien datang kepuskesmas hanya untuk kontrol hipertensi, tidak ada keluhan.
IX.

Keluhan tambahan :
Pasien sering merasakan sakit pada pingang, lutut dan sering merasakan kesemutan

dikaki.
X.
Riwayat penyakit sekarang
XI.
Riwayat Penyakita Dahulu
Pasien pernah operasi katarak pada mata kiri
XII. Pemeriksaan fisik: Tekanan darah 140/90
XIII. Diagnosis penyakit: Hipertensi
XIV. Diagnosis keluarga: Sehat
XV. Anjuran penatalaksanaan penyakit
a. Promotif
:
Edukasi bagi penderita dan keluarga mengenai :
1. Olah raga teratur
2. Kurangi makan garam atau daging kambing
3. Rutin periksa tekanan darah
4. Hindari stress
5. Hindari makanan mengandung kolesterol dan lemak tinggi
6. Kurangi mengkonsumsi kopi susu
b. Preventif
:
1. Pola makan sehat
2. Mengurangi garam
3. Memelihara berat badan ideal
4. Aktif secara fisik
5. Batasi penggunaan maupun minum alkohol

6. Berhenti merokok
c. Kuratif
KASUS : Puskesmas memberikan Catopril mengendalikan tekanan darah.
Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :
1. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh
2. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh.
3. Ciptakan keadaan rileks
4. Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit
sebanyak 3-4 kali seminggu.
5. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol
Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)
Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar saat ini, antara lain :

Diuretik

Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing)
sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi
lebih ringan. Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid.

Penghambat Simpatetik
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang
bekerja pada saat kita beraktivitas ). Contoh obatnya adalah : Metildopa, Klonidin dan
Reserpin.

Betabloker

Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa
jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui
mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial.
Contoh obatnya adalah : Metoprolol, Propranolol dan Atenolol. Pada penderita
diabetes melitus harus hati-hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi
dimana kadar gula dalam darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat
bahaya bagi penderitanya). Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme
(penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati.

Vasodilator
Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos
(otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Prasosin,
Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini
adalah : sakit kepala dan pusing.

Penghambat ensim konversi Angiotensin


Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat
yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah).
Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril. Efek samping yang
mungkin timbul adalah : batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.

Antagonis kalsium
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat
kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah : Nifedipin,
Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul adalah : sembelit,
pusing, sakit kepala dan muntah.

Penghambat Reseptor Angiotensin II


Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada
reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang

termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang mungkin
timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas dan mual.
Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko
terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.

d. Rehabilitatif :
Hindari faktor penyebab
XVI. Prognosis :
Penyakit
Keluarga
Masyarakat

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

Kesimpulan
Kunjungan ke rumah penduduk yang dilakukan pada hari Selasa, 07 July 2014, dengan
pasien ny Erna. Diagnosis kerja ialah hipertensi. Pasien telah mendapatkan pengobatan yang
teratur dari upaya kesehatan Puskesmas. Karena itu, perlu juga peninjauan pasien dari sisi
keluarga dan lingkungan sekitar dalam menentukan prognosis pasien ini.

Lampiran

Daftar Pustaka
1. Yogiantoro, Mohammad. Hipertensi Esensial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Edisi V Jilid III. Jakarta : Interna Publishing, 2009.
2. Perhimpunan Hipertensi Indonesia. Konsesus Penatalaksanaan Hipertensi Dengan
Modifikasi Gaya Hidup. Jakarta : InaSH, 2011.
3. Nafrialdi. Antihipertensi dalam Buku Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI, 2008
4. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Teknis Penemuan dan Penatalaksanaan Penyakit
Hipertensi. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I. , 2006.
5. Perhimpunan Hipertensi Indonesia. Ringkasan Eksklusif Penaggulangan Hipertensi.
Jakarta : InaSH, 2007.
6. Prodia. Pemeriksaan laboratorium untuk penyandang hipertensi. Diunduh dari
http://prodia.co.id/tips-kesehatan/pemeriksaan-laboratorium-untuk-penyandanghipertensi . Depok, 29 Mei 2013.