You are on page 1of 4

1

KHILAFAH

Entry Point

Khawarij, bentuk jama’ dari kharij (orang-orang keluar), adalah orang-


orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib. Ada juga yang mengatakan
bahwa nama khawarij itu didasarkan atas surah an-Nisaa’ ayat 100 yang
pengertiannya “keluar dari rumah untuk menuju jalan Allah”. Kaum khawarij
memandang diri mereka sebagai orang-orang yang keluar dari rumah semata-mata
untuk berjuang di jalan Allah swt.
Khawarij adalah aliran teologi pertama yang muncul dalam dunia Islam.
Aliran ini mulai muncul pada abad kesatu Hijriyah (abad ke-8 M) pada masa
pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Kemunculannya dilatarbelakangi oleh adanya
pertikaian politik antara Ali dan Mu’awiyah bin Sufyan, yang pada waktu itu
menjabat sebagai Gubernur Syam (sekarang Suriah). Mu’awiyah menolak
memberikan baiat kepada Ali yang terpilih menjadi Khalifah sehingga Ali
mengerahkan bala tentaranya untuk menggempur Mu’awiyah. Mu’awiyah juga
mengumpulkan pasukannya untuk menggempur Ali.
Pada mulanya Ali tidak mau menerima tawaran damai Mu’awiyah
tersebut. Tetapi karena didesak oleh sebagian pengikutnya, terutama para Qurra’
dan huffadz, diputuskanlah untuk mengadakan arbitrasi (tahkim). Keputusan Ali
untuk menerima arbitrasi sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan
tentang Khalifah dengan mu’awiyah ternyata tidak didukung oleh semua
pengikutnya.
Ada lagi doktrin khawarij yang prinsipil yaitu tentang Khilafah
(keKhalifahan). Mereka berpendirian bahwa Khalifah seharusnya dipilih secara
bebas oleh seluruh umat Islam. Yang berhak menjadi Khalifah bukan hanya
terbatas dari suku Quraisy, bukan pula hanya orang Arab, melainkan semua orang
Islam boleh menjadi Khalifah selama ia memiliki kapasitas untuk memangku
jabatan ini.
Mengenai jumlah sekte khawarij, para ulama berbeda pendapat abu musa
al-Asy’ari menyebut lebih dari dua puluh sekte.
Di antara aliran-aliran dalam khawarij, adalah sebagai berikut :
1. al Muhakkimah dipandang asebagi golongan khawarij asli karena terdiri
dari pengikut-pengikut Ali yang kemudian membangkang. Mereka
menolak arbitrasi atau tahkim karena dianggap bertentangan dengan
perintah Allah dalam surat al-Hujurat ayat 9 yang menyuruh memerangi
kelompok pembangkang sampai mereka kembali ke jalan Allah swt.
2. al-Azariqah, sekte ini lahir sekitar tahun 60 H (akhir abad ke-7 M) di
daerah perbatasan antara Irak dan Iran. Nama al-Azariqah dinisbahkan
kepada pemimpin mereka yaitu Nafi’ bin Azrak al-Hanafi al-Hanzali.
Menurut paham mereka pengikut al Azariqah yang tidak sudi berhijrah
ke dalam wilayah mereka, danggap musrik. Menurut mereka semua
orang Islam yang musrik boleh ditawan atau dibunuh, termasuk anak
dan isteri mereka. Berdasarkan prinsip ini pengikut al-Azariqah banyak
melakukan pembunuhan terhadap sesama umat Islam yang berada di
luar daerah mereka. Dan memandang daerah mereka sebagai dar al-
Islam, diluar daerah itu dianggap bertentangan dengan keyakinan. Dll
2

Khilafah/Khalifah adalah Lembaga Pemerintahan dalam Islam. Arti


katanya ialah perwakilan, penggantian atau jabatan Khalifah. Istilah ini berasal
dari kata khalif, yang muncul dalam sejarah pemerintahan Islam sebagai institusi
politik Islam, yang bersinonim dengan Imamah yang berarti pemerintahan.
Menurut Ibnu Khaldun, Khilafah adalah tanggung jawab umum yang
sesuai dengan tujuan syara’ (hukum Islam) yang bertujuan untuk mewujudkan
kemaslahatan dunia dan akhirat bagi umat. Selanjutnya Ibnu Khaldun mengatakan
bahwa Khilafah juga merupakan sinonim istilah Imamah, yakni kepemimpinan
menyeluruh yang berkaitan dengan urusan agama dan urusan dunia sebagai
pengganti fungsi Rasulullah saw.
Sejarah timbulnya istilah Khalifah dan institusi Khilafah bermula sejak
terpilihnya Abu Bakar shiddiq sebagai pemimpin umat Islam dan menggantikan
Rasullullah sawsehari setelah Nabi wafat. Kemudian berturut-turut terpilih Umar
bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.
Dalam hal ini ada dua macam masalah pokok, yaitu :
1. Prosedur pengangkatan mereka sebagai pengganti Nabi saw dalam
memimpin umat Islam, sementara baik al Qur’an atau Nabi sendiri tidak
pernah memberi penjelasan terhadap ini.
2. Wewenang dan kekuasaan yang diatributkan kepada para pengganti
Nabi saw tersebut.
Gelar Khalifah pertama kali digunakan oleh Abu Bakar, ketika ada
sahabat yang menyebutnya khalifatullah, ia menolaknya. Ia mengatakan saya
bukan khalifatullah tetapi Khalifah rasulullah saw”. kemudian Umar digelari
khalifatu khalifati Rasul Allah. Tetapi ia tidak suka menerima gelar ini. Ia
menyebut dirinya Amirul Mukminin. Usman dan Ali juga digelari Khalifah
Rasulullah.
Para ulama berbeda pendapat atas dasar pembentukan Khilafah. Ada
yang mengatakan karena wahyu dan ijma’. Dan ada pula yang mewajibkan karena
pertimbangan akal. Abu Hasan al-Asy’ari berpendapat bahwa Khilafah itu wajib
karena wahyu dan ijma’ para sahabat Nabi saw membentuk pemerintahan segera
setelah Nabi wafat. Menurut mawardi wajib secara ijma’ dalam arti fardhu
kifayah. Ghazali berpendapat bahwa mendirikan Khilafah adalah wajib syar’i,
yang didasarkan pada ijma’ dan kategori wajibnya adalah fardhu kifayah,
sedangkan menurut Mu’tazilah wajib karena pertimbangan akal.
Aliran aliran politik dalam Islam juga tidak sepakat tentang siapa yang
berhak menjadi Khalifah. Menurut Syi’ah, harus dari kerabat Nabi, menurut
Sunni, dari keturunan Qurasy. Adapun menurut aliran khawarij dan Mu’tazilah,
siapa saja boleh menjadi Khalifah.

Imamah artinya “kepemimpinan” seorang diangkat menjadi pemimpin


disebut imam. Pengertian ini sesuai dengan pengertian iamam dalam surat al-
Baqarah : 124. dalam terminologi Ahli Sunnah wal Jama’ah (sunni), pengertian
Imam berbeda dari pengertian Syi’ah. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah,
iamam bukanlah jabatan atau warisan dan bukan pula masalah prinsip atau rukun
agama. Imam menurut ahlu sunnah wal Jama’ah, tidak lain hanyalah seorang
muslim yang taat dan memiliki ilmu pengetahuan yang dalam tentang agama.
3

Para fuqaha’ berbeda pendapat tentang syarat manjadi imam pada sholat
dalam hal mengutamakan antara orang yang lebih baik bacaan al-Qur’annya dan
ada yang lebih baik pemahaman fiqihnya. Menurut Iman Abu Hanifah dan Imam
Ahmad bin Hanbal, diutamakan orang yang lebih baik bacaannya. Sedangkan
Imam Syafi’i berpendapat bahwa orang yang lebih dalam pengetahuannya tentang
fikih lebih diutamakan sebagai Imam.
Seorang imam dalam sholat berjama’ah harus berada di depan makmum.
Wanita, menurut Jumhur Ulama’, tidak boleh diangkat menjadi imam shalat bagi
kaum laki-laki sebagaimana hal itu dilarang dalam hadis, “ janganlah sekali-kali
seorang perempuan mengimami laki-laki……”(HR.Ibn Majah) akan tetapi
perempuan boleh mengimami perempuan dalam sholat.
Anak-anak sebagai imam sholat, yang dimaksud anak-anak disini adalah
yang belum akil balig atau belum dibebani kewajiban sholat, tetapi sudah
mumayyiz. Anak-anak yang telah mumayyiz dan memiliki bacaan fasih, menurut
sebagian ulama fikih termasuk Imam Abu Daud dan Ahmad bin Hanbal, boleh
diangkat menjadi imam.
Menurut Ibnu Abbas, anak-anak yang belum akil balig tidak boleh
diangkat menjadi imam dalam sholat berdasarkan hadis : “Janganlah anak-anak
menjadi imam, sehingga sampai usia dikenal hukum had” (HR. al Asram). Yang
dimaksud usia yang dikenal hukum had dalam hadits itu adalah yang sudah akil
balig atau sudah dikenal hukuman atas tindakannya. Menurutnya juga bahwa
orang yang tidak wajib shalat tidak boleh dijadikan imam bagi orang yang wajib
sholat.
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, rangkaian antara kata ahlu sunnah dan
jama’ah sudah pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad saw, di dalam salah satu
sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Hakim, Ibnu
Hibban. Keempat perawi tersebut memandang sabda Nabi ini shahih. Hadits
tentang perpecahan umat ini diriwayatkan dalam redaksi yang berbeda-beda. Ada
yang berbunyi : “Kulluhum finnari illa wahidah.” Adapula yang dengan redaksi
:”kulluhum fil jannati illa wahidah”, yang jelas golongan yang selamat adalah
ahlu sunnah wal jama’ah. Pada zaman Nabi ungkapan ahlu sunnah wal
jama’ahbelum dikenal sebagaimana suatu aliran atau firqah umat Islam baik aliran
ilmu kalam atau ilmu yang lain beberapa waktu sesudah itu lapadz ahlu sunnah
(tanpa jama’ah) dengan arti ahlu hadis dipergunakan untuk ulama-ulama yang
apabila mereka menamakan sesuatu yang baru, dicari hukumnya di dalam al-
Qur’an dan hadis. Jika tidak menemukan ketentuan hukumnya, mereka diam saja
tidak mau melampaui nash. Sikap mereka ini merupakan kebalikan dari
pendahuluan ahlu ra’yi.
Syi’ah, secara harfiah berarti pengikut, partai kelompok, rekanan,
pendukung. Secara teknis, istilah ini merajuk pada orang-orang muslim yang
mengambil aturan agama dan inspirasi spiritualnya setelah Nabi Muhammad, dari
keturunan beliau, ahl al-bait. Titik tolak yang membedakan Islam Syi’ah dengan
sunni, didasarkan pada dua faktor penting : satu bersifat sosial budaya dan yang
alain diturunkan dari konsep al-Qur’an tentang sifat keagungan dan kesalehan
Nabi.
Untuk memahami faktor sosial budaya, kita harus memperhatikan sifat
dan komposisi komunitas muslim di Madinah di bawah kepemimpinan Nabi
Muhammad. Komunitas ini tidak bersifat homogen dengan latar belakang
4

sosiokultural dan tradisinya dan tidak pula homogen dalam lembaga sosial
politiknya. Oleh karena itu persoalan penggantian Nabi menjadi terkait dengan
visi kepemimpinan yang dimiliki oleh komunitas muslim dengan
berbagaipendekatan-pendekatan dan tingkat penekanan yang berbeda-bedapada
aspek politis dan keagamaannya. Bagi sebagian komunitas muslim,
kepemimpinan itu lebih bersifat politis dari pada keagamaan, bagi sebagian yang
lain, ia lebih bersifat keagamaan daripada politis.
Disamping tradisi-tradisi sosial budaya ini, faktor lain yang diturunkan
dari konsep al-Qur’an tentang kedudukan agung keluarga Nabi memainkan
peranan yang sangat signifikan dalam menentukan proses pergantian itu.
Ada beberapa periode pada masa Islam Syi’ah, antara lain :
a. Khulafa Al Rasyidin
b. Umayyah
c. Abbasiyah
d. Buwaihiyah