You are on page 1of 12

2.

Takarazuka Revue

Ini pertunjukan musik all-women dan teater diciptakan pada tahun 1913 dalam bentuk
Takarazuka Music School, tujuannya untuk yang menawarkan alternatif untuk kabuki teater.
Presiden Kereta Api Hankyu , Ichizo Kobayashi, berusaha untuk membawa bisnis yang lebih
ke Takarazuka, kota di ujung jalur kereta.
The Takarazuka Revue Perusahaan adalah satu-satunya teater di dunia di mana semua
pemainnya adalah perempuan. Perempuan bermain bagian laki-laki, yang disebut itokoyaku.
Peran laki-laki dapat digambarkan dengan baik dan dengan begitu banyak kasih
sayang khusus karena mereka digambarkan oleh perempuan, menarik dan menawan penonton
perempuan. Hal ini karena mereka dimainkan oleh orang-orang yang tahu perasaan wanita
dengan baik. Dapat dikatakan bahwa ini adalah apa yang memegang tawanan wanita untuk
dunia yang indah dan anggun lahir di Takarazuka.
Nada Lesbian dan erotisme feminin dikatakan unsur-unsur yang menarik penonton
yang sebagian besar wanita untuk menonton pentas Takarazuka.
Takarazuka Kagekidan (Rombongan Pemain Opera Takarazuka)

Takarazuka Revue atau dalam bahasa Jepang Takarazuka Kagekidan adalah sebuah
grup pertunjukan drama panggung musikal ala broadway legendaris di Jepang yang
kesemua pemainnya, baik untuk peran laki-laki maupun perempuan dimainkan oleh
aktris perempuan. Takarazuka pertama kali didirikan pada tahun oleh seorang
pemimpin perusahaan jawatan kereta api Hankyu-Takarazuka di prefektur Hyogo
bernama Ichiro Kobayashi. Sebenarnya, alasan Kobayashi-san sederhana saja:
supaya makin banyak penumpang yang menggunakan jasa kereta api untuk
mengunjungi daerah tersebut.
Penggunaan aktris yang kesemuanya wanita sendiri sebenarnya bukan merupakan
hal baru di Jepang. Sebelum dilarang pada tahun 1692 dengan alasan menghindari
prostitusi dengan selubung grup pertunjukan, semua peran dalam teater kabuki
selalu dimainkan oleh pemeran perempuan. Para pemeran dengan spesialisasi
tokoh laki-laki disebut sebagai otoko-yaku, dan pemeran karakter perempuan
disebut sebagai musume-yaku. Para aktris otoko-yaku dipilih karena postur, suara,
dan karakter wajah yang maskulin. Beberapa bahkan memiliki tinggi tubuh di atas

rata-rata.

Para aktris berasal dari ribuan pelamar dari seluruh negeri. Kemampuan olah
suara, selain kemampuan berakting dan menari adalah hal wajib yang harus
dimiliki oleh para calon siswa ini. Setelah diaudisi, hanya dipilih sekitar 40 hingga
50 pelamar untuk kemudian ditempa dalam bidang seni peran, seni suara dan seni
gerak di Takarazuka Music School. Takarazuka Music School ini juga memiliki tradisi
yang menyebutkan bahwa siswa tahun pertama diwajibkan membersihkan venue
teater setiap pagi sebelum pertunjukan.
Setelah satu tahun, para siswa ini akhirnya dibagi-bagi kedalam golongan otokoyaku atau musume yaku dalam 5 grup besar, yang masing2 memiliki ciri khas
pertunjukan dan aktris2 utamanya tersendiri. Pada saat inilah para aktris untuk
otoko-yaku biasanya memotong pendek rambutnya, menggunakan baju-baju yang
lebih maskulin, dan bahkan banyak mengambil peranan siswa laki-laki di kelas.
Sementara siswa musume-yaku makin memperdalam seni geraknya dan merawat
tubuh dan wajah mereka dengan sebaik mungkin. Berikut ini adalah kelima grup
tersebut.
Grup Hana (Bunga)

Grup ini seringkali dianggap sebagai gudang hartanya otoko-yaku. Beberapa top
performer paling terkenal Takarazuka pun kebanyakan berawal dari grup yang satu

ini, termasuk Sumire Haruno dari Hana, Jun Shibuki, Jun Sena dan Kiriya Hiromu
dari Tsuki, dan Hikaru Asami dari Yuki. lakon2 yang dimainkan cenderung memiliki
budget produksi yang lebih besar, dengan panggung dan desain kostum yang sangat
mewah.
Grup Tsuki (Bulan)

Grup yang satu ini seringkali dijuluki Departemen Riset Musikal karena para
performernya didominasi oleh orang-orang yang punya kemampuan menyanyi di
atas rata-rata. Beberapa performer termuda juga berasal dari grup ini, seperti
Yuuki Amami yang sudah mencapai puncak karirnya pada tahun keenamnya
bersama Takarazuka. Materi pertunjukan grup Tsuki cenderung berupa drama,
drama musikal bernuansa western, dan menggunakan setting panggung yang
cenderung modern semacam Guys and Dolls atau Me and My Girl.
Grup Yuki (Salju)

Grup yang satu ini dianggap sebagai tonggak pelestari tarian dan opera tradisional
Jepang yang bertugas menjaga tradisi drama pertunjukan bergaya Jepang dalam
perusahaan yang seringkali dianggap memiliki kecenderungan mempertunjukkan
drama bergaya barat ini.
Di Jepang sendiri, grup inilah yang pertama kali mementaskan lakon Elisabeth
yang diangkat dari kisah drama eropa dan memiliki jalan cerita cukup serius.

Namun saat ini gaya pementasan grup Yuki sendiri sudah mulai perlahan-lahan
mendekati gaya pementasan opera dan drama sejenis grup Tsuki dan Hana.
Grup Hoshi (Bintang)

Seperti namanya, bintang-bintang Takarazuka kebanyakan berawal dari grup ini.


Sama seperti grup Hana, grup Hoshi juga memiliki cukup banyak pemain-pemain
otoko-yaku yang sangat kuat. Beberapa tahun terakhir grup ini juga menjadi asal
dari para pemain musume-yaku terkenal Takarazuka, seperti Hana Hizuki, Shizuku
Hazakura, dan Yuki Aono.
Grup Sora (Langit)

Grup paling muda dalam Takarazuka ini lebih eksperimental dalam setiap
penampilannya. Pada awal terbentuknya, beberapa pemeran berbakat dari grup
lain ditarik sebagai anggota dalam grup yang satu ini. Grup ini banyak dipengaruhi
oleh beberapa aktrisnya seperti Asato Shizuki yang menjadi pionir dari para aktris
otoko-yaku terkenal berikutnya dalam grup Sora, serta Youka Wao dan Mari
Hanafusa yang sering disebut sebagai golden combi-nya grup sora (bertahan
sebagai pasangan pemain paling top di Sora selama enam tahun dari total 8 tahun
lamanya mereka tergabung dalam grup ini). Sora adalah grup pertama yang
memainkan lakon Phantom serta menjadi satu-satunya grup yang score musiknya
ditangani langsung oleh komposer Broadway yang bernama Frank Wildhorn. Ratarata tinggi para pemain otoko-yaku grup ini juga yang paling tinggi dibanding grup
lainnya, yakni diatas 170 cm. Salah satunya adalah Hiro Yuumi yang tercatat
sebagai pemain dengan tinggi badan tertinggi di seluruh Takarazuka.

Lakon Pertunjukan Takarazuka bervariasi mulai dari cerita tradisional Jepang


hingga cerita khas panggung Broadway. Secara garis besar Lakon pertunjukan
Takarazuka dapat dibagi dalam adaptasi cerita dari Jepang, adaptasi lakon dan
cerita dari asia, lakon pertunjukan orisinil dan adaptasi sejarah serta kolaborasi.
Adaptasi cerita dari Jepang sendiri diantaranya berasal dari manga karya Ryoko
Ikeda seperti Rose of Versailles dan Jendela Orpheus, atau cerita adaptasi
novel karya Edogawa Ranpo tentang detektif Kogoro Akechi dengan judul Black
Lizard atau kurotokage. Lakon terbaru mereka salah satunya bahkan merupakan
adaptasi dari salah satu game Capcom terkenal, Phoenix Wright.
Gaya pertunjukan Takarazuka sendiri sudah sangat terkenal di Jepang. Beberapa
manga pun sempat menyebut nama teater yang satu ini, seperti misalnya salah
satu episode Ouran Koukou Host Club dimana Haruhi dipaksa oleh para anggota
host club untuk menggunakan kostum dengan gaya Takarazuka maupun kemunculan
OSIS sekolah putri sebelah yang jelas-jelas terinspirasi oleh pembagian peran
otoko-yaku dan musume-yaku Takarazuka. Para aktrisnya bahkan memiliki fans
group sendiri, terutama para pemeran otoko-yaku nya yang memang cukup
tampan.
Setelah tujuh tahun sejak pertama kali bergabung, para aktrisnya diberi hak untuk
bernegosiasi tentang kontrak mereka dengan Takarazuka (selama 7 tahun
sebelumnya mereka dianggap sebagai pegawai Takarazuka). Rata-rata mereka akan
mundur dari Takarazuka setelah berusia 25 tahun ke atas, dan beberapa bahkan
melanjutkan karir mereka sebagai bintang dorama, film maupun iklan di televisi.
Salah duanya antara lain Kuroki Hitomi (musume-yaku) yang berperan sebagai
kepala pramugari di Good Luck!! serta Miki Maya (otoko-yaku) yang berperan
sebagai pemilik bar S&M di My Madonna dan kepala sekolah di Ohitorisama.

Takarazuka Revue
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

"Parisette" 1930

Takarazuka Grand Theater (Prefektur Hyogo)


Takarazuka Revue ( Takarazuka Kagekidan?, Kelompok Teater Musikal
Tarakazuka) adalah pertunjukan teater musikal di Jepang yang secara keseluruhan dimainkan
aktris wanita yang belum menikah. Teater mulai dipentaskan di kota Takarazuka sejak tahun
1914 dan sekarang berada di bawah pengelolaan perusahaan kereta api Hankyu Hanshin
Holdings.
Pementasan dilakukan di gedung Takarazuka Grand Hall dan Takarazuka Bow Hall di kota
Takarazuka, Prefektur Hyogo. Di Tokyo, pementasan dilakukan di gedung teater Takarazuka
di distrik Chiyoda-ku. Pementasan juga dibawa berkeliling ke gedung-gedung teater di
beberapa kota di Jepang, termasuk di antaranya Osaka, Nagoya, dan Fukuoka.
Pertunjukan Takarazuka merupakan perpaduan sandiwara dengan tari dan nyanyi. Cerita
merupakan adaptasi novel, opera musikal, atau film dari Barat yang dipentaskan dengan
kostum indah dan set panggung yang mewah. Pementasan di gedung utama Takarazuka dan
di Tokyo Takarazuka diiringi musik hidup yang dibawakan Orkestra Teater Musikal
Takarazuka.
Sejarah

Pementasan pertama "Donburako", 1914


Bentuk awal teater musikal Takarazuka adalah kelompok paduan suara Takarazuka
(Takarazuka-shkatai) yang dibentuk tahun 1913. Pada waktu itu, pendiri perusahaan kereta
api Hankyu bernama Kobayashi Ichiz ingin mementaskan pertunjukan musikal gaya Barat
dengan aktris yang hanya terdiri dari wanita muda yang belum menikah.
Pada tahun 1914, kelompok paduan suara Takarazuka diubah menjadi kelompok sandiwara
yang seluruh anggotanya terdiri dari wanita muda. Pementasan perdana berjudul Donburako

dilakukan di aula gedung pemandian air panas Takarazuka Shin-Onsen. Pertunjukan


Takarazuka berhasil menjadi populer hingga dapat memiliki gedung sendiri pada tahun 1924.
Kelompok paduan suara Takarazuka-shkatai berganti nama menjadi Takarazuka Kagekidan
(teater musikal Takarazuka) sejak tahun 1940. Publik mengenal kelompok teater ini dengan
merek dagang "Takarazuka Revue" (Takarazuka Kageki), sedangkan nama resmi kelompok
teater ini (Takarazuka Kagekidan) hanya digunakan pihak pengelola.
Pertunjukan utama dilakukan di gedung utama Takarazuka Grand Hall di kota Takarazuka,
dan Tokyo Takarazuka Theater yang terletak di distrik Chiyoda-ku, Tokyo. Sejak tahun 1978,
pementasan juga dilakukan di gedung Takarazuka Bow Hall yang berada satu atap dengan
gedung utama tapi hanya dapat menampung sekitar 500 penonton.
Sistem pementasan

Poster pertunjukan Phantom produksi rombongan Cosmos


Kelompok
Teater Takarazuka terdiri 6 kelompok dan 5 di antaranya disebut troupe: Flower Troupe
(Hana-gumi), Moon Troupe (Tsuki-gumi), Snow Troupe (Yuki-gumi), Star Troupe (Hoshigumi), Cosmos Troupe (Sora-gumi). Kelompok ke-6 disebut Senka (Superior members) dan
beranggotakan aktris senior yang bisa diutus untuk memperkuat pementasan kelima
rombongan yang ada.
Kelima kelompok masing-masing memproduksi pertunjukan sendiri dengan cerita yang
berbeda-beda dan jadwal pementasan sendiri. Setiap rombongan memiliki penulis naskah
tetap yang selalu menulis naskah baru dengan cerita yang disesuaikan dengan bintang top
rombongan tersebut. Dalam setahun, setiap rombongan mementaskan 12 cerita di
Takarazuka Grand Hall dan sebuah cerita di Tokyo Takarazuka Hall.
Aktris Takarazuka disebut Takarajennu (Takarazienne). Peran wanita disebut musumeyaku,
sedangkan peran pria yang disebut otokoyaku biasanya dipilih dari aktris wanita yang
berbadan tinggi. Bintang paling top di Takarazuka adalah aktris yang memainkan peran pria.
Jadwal

Jadwal pementasan diumumkan sekitar enam bulan sekali. Pementasan utama dilakukan di
kota Takarazuka dan Tokyo, ditambah tur keliling Jepang dan pementasan tambahan di
gedung Theater Drama City dan Umeda Arts Theater (Osaka), Hakataza Theater (Fukuoka),
Chunichi Theatre (Nagoya), dan Nissay Theatre (Tokyo).
Takarazuka Grand Hall yang terletak di kota Takarazuka merupakan pusat pementasan yang
dipakai pentas secara bergiliran oleh kelima rombongan sandiwara. Sejak tahun 2000, giliran
pertama dimulai Flower Troupe dan diteruskan secara berturut-turut oleh Star Troupe, Snow
Troupe, Cosmos Troupe, hingga Moon Troupe yang mendapat giliran paling akhir.
Ketika rombongan A sedang berpentas di gedung utama Takarazuka, keempat rombongan
lainnya berpentas di kota-kota lain di Jepang atau di gedung Takarazuka Bow Hall.
Pementasan utama di kota Takarazuka dan Tokyo berlangsung antara 3045 hari. Ketika
rombongan A selesai berpentas di gedung utama, giliran pemakaian gedung diserahkan
kepada rombongan B, sedangkan rombongan A pindah berpentas di gedung Takarazuka
Tokyo, dan begitu selanjutnya secara rotasi.
Sekolah musik Takarazuka
Seluruh aktris Takarazuka memulai kariernya dengan mengikuti pendidikan di Sekolah
Musik Takarazuka selama 2 tahun. Kurikulum tahun pertama berisi berbagai pendidikan
musik dan tari, seperti: piano, shamisen, balet, dansa modern, hingga tari tradisional dan
upacara minum teh. Pada tahun kedua, siswi mengikuti penjurusan sebagai peran pria
(otokoyaku) atau peran wanita (musumeyaku). Setelah tamat, seluruh lulusan tetap bergelar
seito (siswi) bagian penelitian.
Tradisi gelar "siswi" untuk semua anggota Takarazuka digunakan untuk menampik
pandangan miring masyarakat Jepang bahwa anggota kelompok sandiwara "seperti geisha
atau maiko." Semua anggota Takarazuka sejak diterima di akademi musik hingga
mengundurkan diri dari dunia panggung selalu disebut sebagai "siswi". Pendiri akademi yang
bernama Kobayashi Ichizo ingin menegaskan bahwa sekolahnya adalah sekolah tinggi
pendidikan musik yang hanya menerima siswi anak perempuan dari keluarga terhormat.
Cerita

Poster pertunjukan The Rose of Versailles produksi rombongan Star dan Snow dengan
bintang tamu dari rombongan Flower dan Moon

Poster pertunjukan Singin' in the Rain produksi rombongan Star


Karya-karya Takarazuka sebagian besar merupakan adaptasi bahasa Jepang dari berbagai
opera musikal Barat, opera klasik, novel, dan film.

Novel:
o

A Tale of Two Cities (Charles Dickens)

Wuthering Heights (Emily Bront)

East of Eden (John Steinbeck)

Gone with the Wind (Margaret Mitchell)

For Whom the Bell Tolls (Ernest Hemingway)

The Age of Innocence (Edith Wharton)

Arch of Triumph (Erich Maria Remarque)

War and Peace dan Anna Karenina (Leo Tolstoy)

Film:
o

Somewhere in Time

Farewell My Concubine dan The Phantom Lover

JFK

Opera musikal:
o

Singin' in the Rain

West Side Story

Phantom

Ernest in Love (adaptasi The Importance of Being Ernest)

Grand Hotel

Aida (dipentaskan sebagai Song of the Kingdom)

Elisabeth

Guys and Dolls

Me and My Girl

Copacobana

Oklahoma!

The Sound of Music

How to Succeed in Business Without Really Trying

Flower Drum Song

Penggemar
Penggemar Takarazuka hampir seluruhnya adalah wanita, dengan sedikit penggemar dari
kalangan pria setengah baya. Penggemar Takarazuka yang sering disebut "Zuka Fan"
menyebut teater ini sebagai "Zuka".
Di masa awal perkembangan siaran televisi, pertunjukan Takarazuka sempat dijauhi
penonton. Teater ini pernah menjadi sasaran kritik media massa, tapi kembali digemari publik
setelah mementaskan versi panggung dari manga The Rose of Versailles karya Ikeda Riyoko
pada tahun 1974.
Penggemar setia Takarazuka biasanya sering diturunkan dari generasi ke generasi. Anak
perempuan belasan tahun yang senang Takarazuka biasanya menerima pengaruh dari ibu,
nenek, atau kakak perempuan yang juga penggemar Takarazuka. Selain itu, penggemar
Takarazuka sering berasal dari kalangan atas yang menggemari balet atau musik Barat.
Teater Takarazuka tidak memiliki klub penggemar resmi, tapi memiliki kelompok pendukung
kegiatan pementasan yang diberi nama Takarazuka Tomo no Kai (perkumpulan sahabat
Takarazuka) dan berbagai klub penggemar tidak resmi untuk setiap bintang top Takarazuka.

Tentang Jepang (4): Takarazuka, Teater


Perempuan
HL | 31 May 2010 | 14:00 Dibaca: 481

Komentar: 17

Takarazuka () terbentuk dari dua huruf kanji, takara () dan tsuka ( - karena
digabung lafalnya berubah menjadi zuka). Takara berarti harta karun, dan tsuka berarti
timbunan / kuburan. Jadi secara harafiah Takarazuka kurang lebih bermakna timbunan
harta karun.
Kota Takarazuka merupakan bagian dari Hyogo Prefecture yang termasuk wilayah Kansai,
Jepang Barat. Sejarah Takarazuka sebetulnya berawal pada tahun 825, namun baru
diresmikan sebagai sebuah kota mandiri pada tahun 1950-an.
Sesuai namanya, Takarazuka memang layak disebut timbunan harta karun. Salah satunya
yang sangat menarik adalah atraksi hiburan unik, yang selama puluhan tahun tidak hanya
digemari Jepang namun juga tersohor di berbagai belahan dunia.
Atraksi unik ini adalah Takarazuka Revue, (Jepang : Takarazuka Kagekidan -
), kelompok teater musikal legendaris yang semua anggotanya adalah perempuan.
Takarazuka Revue lahir pada tahun 1914, dimana untuk pertama kali publik Jepang
diperkenalkan dengan konsep Revue, gaya teatrikal yang menggabungkan unsur musik dan
tarian seperti yang sangat populer di panggung Broadway.
Keunikan utama Takarazuka Revue terletak pada para pemain yang semuanya terdiri dari
kaum hawa. Seluruh peran yang dipentaskan di panggung dibawakan oleh pemain
perempuan. Karena itu, setiap pemain yang direkrut sudah punya porsi masing-masing,
apakah memiliki spesialisasi peran otokoyaku (berperan sebagai laki-laki), atau
musumeyaku (berperan sebagai perempuan).
Para pemain otokoyaku harus merelakan rambutnya dipotong pendek, serta belajar berbicara,
berjalan dan menggunakan bahasa tubuh lainnya seperti laki-laki. Mereka terlihat sangat
macho saat berakting di panggung, betul-betul hampir tidak bisa dibedakan dari laki-laki
beneran.
Untuk bergabung menjadi anggota Takarazuka Revue ini tidak mudah. Setiap tahun ribuan
perempuan muda dari berbagai pelosok Jepang mendaftar untuk mengikuti audisi, tapi hanya
sekitar 40-50 orang yang beruntung diterima untuk digodok dalam pelajaran menari,
menyanyi, dan berakting, di kawah candradimuka, Takarazuka Music School yang terkenal
menerapkan disiplin ketat.
Salah satu tokoh yang pernah mencicipi hari-hari di panggung gemerlap Takarazuka Revue
ini adalah Miyuki Hatoyama, istri Yukio Hatoyama, Perdana Menteri Jepang saat ini.
Para pemain dibagi menjadi 5 kelompok - Bunga (Hana), Bulan (Tsuki), Salju (Yuki), Bintang
(Hoshi), dan Langit (Sora), dengan ciri dan fungsi masing-masing. Ada yang merupakan
gudang penyanyi-penyanyi terbaik dengan kemampuan musikalitas yang tinggi, ada yang

khusus memerankan otokoyaku, ada pula yang merupakan spesialis peran-peran tradisional
Jepang.
Kisah-kisah yang dipentaskan sangat beragam, baik yang berasal dari legenda tradisional
Jepang maupun diadaptasi dari cerita-cerita terkenal milik para penulis Barat dari berbagai
periode seperti Charles Dickens, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, maupun Shakespeare
(daftar cerita yang diadaptasi bisa dilihat di sini).
Dalam sekali pementasan, penonton akan disuguhi dua cerita, biasanya kombinasi dari drama
Jepang dan cerita Barat modern. Saat pertama kali menonton beberapa tahun lalu, saya
beruntung bisa menyaksikan keduanya sekaligus - setting musim semi di Jepang yang penuh
taburan bunga sakura, plus drama ala Barat. Tapi waktu nonton lagi, cerita yang dipentaskan
keduanya ber-setting modern, tanpa sentuhan Jepang.
Pentas Takarazuka Revue adalah panggung pertunjukan kolosal. Ketrampilan para pemain
dalam menampilkan tarian dan nyanyian, dipadukan dengan kostum-kostum mewah dan
anggun, didukung tata panggung canggih dalam bentuk multi-stages yang setiap saat bisa
berganti dalam sekejap, sungguh melahirkan tontonan yang memukau.
Tidak heran, menurut data wikipedia, setiap tahun sekitar 2,5 juta orang datang untuk
menyaksikan aksi panggung mereka. Takarazuka Revue pun telah melebarkan sayapnya
dengan membuka cabang di ibukota Tokyo.
Selain di Jepang, mereka pun telah melanglang buana menghibur publik di manca negara,
dimulai dengan lawatan pertama ke Eropa tahun 1938, dilanjutkan antara lain ke Amerika
Serikat, Kanada, dan Cina.