You are on page 1of 17

Sistem Hukum Sebagai Bagian dari

Sistem Norma
MAY 18
Posted by oneofmyway

SISTEM HUKUM SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM NORMA


1.

1.

Pengertian dan Pemahaman Tentang Norma

Kehidupan manusia merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijalani oleh setiap
manusia berdasarkan aturan kehidupan yang lazim disebut norma. Norma adalah istilah yang
sering digunakan untuk menyebut segala sesuatu yang bersifat mengatur kehidupan manusia.
Bekerjanya sistem norma bagi manusia adalah bagaikan pakaian hidup yang membuat manusia
merasa aman dan nyaman dalam menjalani tugas hidupnya.
Sistem norma yang berlaku bagi manusia sekurang-kurangnya terdiri atas 4 (empat) unsur norma,
yakni norma moral, norma agama, norma etika atau norma sopan santun serta norma hukum.
Keempat norma kehidupan tersebut berjalan secara sistemik, simultan, dan komplomenter bagi
manusia, artinya saling bertautan dan saling melengkapi, antara yang satu dengan yang lain.

Norma moral adalah sistem aturan yang berlaku bagi manusia yang bersumber dari setiap hati
manusia atau yang sering disebut juga dengan hati nurani yang bekerja atas dasar kesadaran
setiap manusia terhadap sekelilingnya. Artinya, setiap manusia dikaruniai Tuhan Yang Maha Esa
sebuah organ yang mampu menjadi neraca pertimbangan yang setiap saat memberi pertimbangan
atas apa yang diperbuatnya. Jika seorang manusia berbuat salah, akan timbul rasa bersalah dan
penyesalan yang mendalam. Semakin sehat hati manusia akan semakin efektif kehidupannya
karena senantiasa memperoleh atau mendapatkan pertimbangan hati nurani yang sehat pula. Oleh
karenanya sistem norma bekerja secara otonom, artinya sistem norma bekerja mandiri pada setiap
diri manusia.

Norma agama adalah sistem aturan yang diperoleh manusia berdasarkan ajaran agama yang
dianutnya. Sumber agama berasal dari ajaran Tuhan yang diperoleh atau yang diturunkan dan
disebarluaskan melalui para nabi dan rasulnya. Alat pengontrol sistem norma agama adalah janji
serta sanksi Tuhan Yang Maha Esa berupa pahala bagi manusia yang melaksanakan ajarannya dan
dosa bagi manusia yang ingkar terhadap ajaran agamanya. Seperti halnya norma moral, maka

norma agama juga bersifat otonom yang bekerja secara mandiri pada setiap manusia sebagai
pemeluk agama. Efektif atau tidaknya pelaksanaan norma agama bagi manusia sangat tergantung
pada individu.

Norma etika atau norma sopan santun adalah sistem aturan hidup manusia yang bersumber dari
kesepakatan-kesepakatan yang diciptakan oleh dan dalam suatu komunitas masyarakat pada suatu
wilayah tertentu. Ukuran norma etika pada dasarnya berupa kepatutan, kepantasan dan
kelayakan yang tumbuh di masyarakat atau komunitas manusia tersebut. Apabila terjadi
pelanggaran atas etika, maka masyarakatlah yang akan memberikan reaksi berupa tindakan secara
hukuman. Reaksi masyarakat terhadap pelanggaran etika yang berlaku di setiap wilayah atau
komunitas sangat beraneka ragam dan sangat tergantung pada kebiasaan yang berlaku atau pada
yang telah dibuat sebelumnya.
Pada masyarakat yang masih memiliki adat istiadat yang kental, hukuman pembuangan atau
pengucilan bisa diberikan kepada pelanggar norma etika setempat. Adapun pada masyarakat
moderen, hukuman terhadap para pelanggar etika pada komunitas tertentu biasanya berupa
pemecatan dari keanggotaan. Susunan masyarakat yang sangat beragam menyebabkan etika-pun
bisa beragam, walaupun banyak pula norma etika yang memiliki nilai universal yang diadopsi oleh
setiap komunitas. Norma etika yang berlaku pada setiap struktur masyarakat menjadi alat
pengontrol perilaku para anggotanya, yang pada umumnya menitikberatkan kedudukan manusia
dalam posisi yang terhormat. Oleh karenanya etika selalu berkaitan langsung dengan kehormatan
manusia dalam lingkungannya. Etika dalam kehidupan manusia bekerja secara heteronom, artinya
efektif atau tidaknya sangat tergantung pada hubungan manusia dengan sesamanya. Pada saat ini
etika diadaptasi oleh lingkungan masyarakat yang memiliki struktur sosial atau komunitas profesi
tertentu, misalnya masyarakat kedokteran dengan kode etik kedokteran, masyarakat atau
komunitas wartawan dengan kode etik jurnalistik, komunitas pengacara dengan kode etik
pengacara, para insinyur mempunyai kode etik insinyur dan lain sejenisnya.
Norma hukum adalah sistem aturan yang diciptakan oleh lembaga kenegaraan yang ditunjuk
melalui mekanisme tertentu.. Artinya, hukum diciptakan dan diberlakukan oleh institusi yang
memang memiliki kompetensi atau kewenangan dalam membentuk dan memberlakukan hukum,
yaitu badan legislatif. Dengan demikian, hukum di Indonesia dibentuk lembaga-lembaga seperti
MPR, DPR dan pemerintah sesuai dengan kapasitas dan jangkauan yang ingin dicapai olrh hukum
tersebut. Contoh, UUD dan Ketetapan MPR adalah produk hukum yang diciptakan oleh
MPR. Undang-undang merupakan produk hukum ciptaan DPR Sn Pemerintah. Peraturan Pemerintah
adalah produk hukum yang diciptakan oleh pemerintah yang memiliki fungsi menjalankan
perintah undang-undang. Norma hukum memuat sanksi yang tegas dan akan segera dijatuhkan
apabila dilanggar.

Sanksi atau ancaman hukuman yang dijatuhkan bisa berupa paksaan badan atau penjara yang
bervariasi sejak dari hukuman kurungan, penjara sampai dengan hukuman mati, atau berupa
denda dan sitaan atas benda yang berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan. Oleh karenanya
norma hukum, seperti halnya norma etika bekerja secara heteronom karena pelaksanaan dan
penegakannya dilakukan oleh interaksi antar manusia yang ada pada suatu negara, interaksi antara
masyarakat dengan penguasa negara, baik dalam kapasitas sebagai penegak hukum atau sebagai
penyelenggara negara yang lain.

2. Hukum Indonesia Sebagai Sistem Norma Yang Berlaku di Indonesia


Istilah hukum Indonesia sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjuk pada
sistem norma yang berlaku dan diberlakukan di Indonesia. Hukum Indonesia adalah hukum, sistem
norma atau sistem aturan yang berlaku di Indonesia. Dengan kata lain yang juga populer
digunakan, hukum Indonesia adalah hukum positif Indonesia, semua hukum yang dipositifkan atau
yang sedang berlaku di Indonesia. Membicarakan sistem hukum Indonesia berarti membahas
hukum secara sistematik yang berlaku di Indonesia. Secara sistematik berarti hukum dilihat
sebagai suatu kesatuan, yang unsur-unsur, sub-sistem atau elemen-elemennya saling berkaitan,
saling pengaruh mempengaruhi, serta saling memperkuat atau memperlemah antara satu dengan
yang lainnya tidak dapat dipisahkan.
Sebagai suatu sistem, hukum Indonesia terdiri atas sub-sistem atau elemen-elemen hukum yang
beraneka, antara lain hukum tata negara, hukum perdata, hukum acara perdata, hukum dagang
atau hukum bisnis, hukum pidana yang terdiri dari hukum pidana umum, hukum pidana tentara,
hukum pidana ekonomi serta hukum acara pidana serta hukum internasional.
Ternyata banyak sekali dimensi aturan hidup yang berlaku di Indonesia. Pembagian tersebut belum
mencakup semua dimensi hukum yang ada dan berlaku, karena masih banyak lagi elemen hukum
yang belum tercantumkan.

3. Sumber Hukum Indonesia


Sumber hukum Indonesia adalah segala sesuatu yang memiliki sifat normatif yang dapat dijadikan
tempat berpijak bagi tempat memperoleh informasi tentang sistem hukum yang berlaku di
Indonesia. Sumber hukum Indonesia adalah :
1.

a.

Pancasila

Sudah menjadi ketentuan ketatanegaraan sebagai suatu kesepakatan serta doktrin kenegaraan,
bahwa Pancasila adalah pandangan hidup, ideologi bangsa Indonesia serta sumber segala sumber
hukum Indonesia. Artinya, bahwa Pancasila adalah pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita
moral yang meliputi suasana kejiwaan dan watak dari rakyat negara yang bersangkutan serta
menjadi tempat berpijak atau bersandar bagi setiap persoalan hukum yang ada atau yang muncul
di Indonesia, tempat menguji keabsahan baik dari sisi filosofis maupun yuridis.
Sumber dari tertib hukum RI adalah pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta citacita moral yang meliputi suasana kejiwaan serta watak dari bangsa Indonesia, adalah cita-cita
mengenai kemerdekaan individu kemerdekaan bangsa, perikemanusiaan, keadilan sosial,
perdamaian nasional, cita-cita politik mengenai sifat bentuk dan tujuan negara, cita-cita moral
mengenai kehidupan kemasyarakatan dan keagamaan sebagai pengejawantahan dari budi nurani
manusia.
Dalam konteks Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum, kita uji dengan teori pakar hukum
kenegaraan Hans Kensel tentang hierarki norma yang berlaku di suatu negara, yang lazim
dianalogikan dengan teori tangga :
KD
UUD
UU
Peraturan
Ketetapan
Berdasarkan pendapatnya Hans Kelsen, maka kedudukan Pancasila berada pada tangga tertinggi.
Hal ini berarti bahwa Pancasila harus diletakkan sebagai kaidah dasar atau sumber segala sumber
hukum yang menjadi dasar bagi berlakunya UUD 45. Sebagai contoh, pasal 33 ayat 3 tentang
bumu, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya yang harus dikelola oleh negara demi
kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Pasal tersebut kemudian dijadikan dasar bagi berlakunya
pasal 19 ayat 1 UUPA (UU No. 5 / 1960) yang memberikan wewenang bagi pemerintah, dalam hal
ini Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk melaksanakan pendaftaran tanah. Undang-undang
tersebut menjadi dasar bagi diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1961 pasal 13 ayat
4 tentang tata cara pelaksanaan pendaftaran tanah. Pada akhirnya PP tersebut menjadi dasar bagi
BPN untuk menerbitkan sertifikat tanah bagi setiap warga negara yang meminta atau mengajukan
permohonan atasnya.

b. Undang-Undang Dasar 1945


UUD 1945 merupakan perwujudan dari tujuan Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945
yang terdiri atas Pembukaan dan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945.

Pembukaan UUD 1945

Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945


1.
2.

3.
4.

5.

Pembukaan UUD 1945 merupakan penuangan jiwa Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945,
yakni Pancasila, sesuai dengan penjelasan resminya, yang mengandung pokok-pokok pikiran :
Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan
berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam pembukaan ini diterima aliran (paham) pengertian negara persatuan, negara yang
melindungi dan meliputi segenap bangsa seluruhnya. Jadi negara mengatasi segala paham
golongan, mengatasi segala paham perseorangan negara, menurut pengertian pembukaan itu,
menghendaki persatuan, meliputi segenap bangsa Indonesia seluruhnya. Inilah dasar negara yang
tidak boleh dilupakan.
Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Negara yang berkedaulatan rakyat, berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan
perwakilan. Oleh karena itu sistem negara yang terbentuk dalam UUD harus berdasarkan atas
kedaulatan rakyat dan berdasar atas permusyawaratan perwakilan.
Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.

2. Penyusunan UUD 1945 sesungguhnya dilandasi oleh jiwa Piagam Jakarta


22 Juni 1945. Piagam Jakarta tersebut didasari oleh pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945
yang dikenal sebagai Pidato Lahirnya Pancasila.

3. Pembukaan UUD 1945 sebagai pernyataan kemerdekaan yang terperinci,


yang mengandung cita-cita luhur dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus

1945 yang memuat Pancasila sebagai dasar negara, merupakan satu rangkaian dengan proklamasi.
Oleh karena itu, tidak dapat diubah oleh siapapun juga, karena mengubah Pembukaan UUD 1945
dan Pancasila berarti mengubah Negara Indonesia.

Hubungan antara Pembukaan dengan Batang Tubuh UUD 1945

Pembukaan UUD 1945 mempunyai fungsi atau hubungan langsung dengan Batang Tubuh UUD 1945,
oleh karena Pembukaan UUD 1945 mengandung pokok-pokok pikiran yang kemudian dijabarkan
secara operasional dalam pasal-pasal yang tercantum dam UUD 1945.
Apabila dalam pembukaan tercantum pokok-pokok pikiran yang secara substansial kemudian
terangkum dalam Pancasila, yakni Persatuan Indonesia, Keadilan Sosial, Kedaulatan Rakyat
Berdasarkan atas Kerakyatan dan Permusyawaratan Perwakilan, Ketuhanan Yang Maha Esa menurut
dasar Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang tidak lain adalah filisofis dan ideologis negara
kita, maka pasal-pasal yang terurai dalam UUD 1945 merupakan sumber kekuatan hukum untuk
mempertahankan dasar filosofis dan ideologis tersebut.

Batang Tubuh UUD 1945

UUD 1945 yang terdiri atas 37 pasal, ditambah dengan 4 Psal peralihan dan 2 pasal tambahan,
berisi materi yang pada dasarnya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :
a. Pasal-pasal yang berisi materi pengaturan sistem pemerintahan negara :
tentang kedudukan, tugas, wewenang dan hubungan antar lembaga-lembaga negara (lembaga
tertinggi dan lembaga-lembaga tinggi negara) ;
b. Pasal-pasal yang berisi materi hubungan negara dengan warga negara dan
penduduknya, yang telah dipertegas oleh Pembukaan UUD 1945 serta berisi konsepsi negara di
berbagai bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, agama, sesuai dengan
arah atau tujuan negara Indonesia yang dicita-citakan.
Dari Penjelasan dan Batang Tubuh UUD 1945 tersebut, ada masalah penting dalam kehidupan
bernegara, yaitu :

Sistem Pemerintahan dan Kenegaraan


Berdasarkan butir pikiran yang terkandung dalam pasal yang ada dalam UUD 1945, ada 7 (tujuh)
dasar utama sistem penyelenggaraan pemerintahan dan penyelenggaraan kehidupan kenegaraan
kita yaitu :
Pertama, Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum. Negara Indonesia berdasarkan atas
hukum, tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka. Asas ini mengandung makna yang amat dalam
bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, karena itu berarti bahwa negara (termasuk di
dalamnya pemerintah, lembaga-lembaga negara dan lembaga pemerintah serta aparatur negara)
dalam melaksanakan tugasnya senantiasa harus mendasarkan diri pada hukum dan keadilan. Dasar
atau asas kehidupan bernegara tersebut memberikan bahwa hukum berhadapan dengan
kekuasaan. Artinya, hukum harus senantiasa dikedepankan atau lebih diutamakan dari dimensi lain
(terutama dimensi politik) manakala menghadapi kekuasaan.
Kedua, penyelenggaraan pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi. Asas atau prinsip ini
mengandung makna bahwa dalam kehidupan bernegara, harus selalu didasarkan tindakan secara
konstitusional. Artinya, harus selalu berpijak pada UUD 1945. Dengan asas tersebut, maka tidak
diakui tumbuh dan berkembangnya paham absolutisme dalam kekuasaan, karena kekuasaan yang
ada di Indonesia adalah kekuasaan yang dibatasi oleh UUD dan secara hirarki juga berlaku segenap
peraturan perundangan dalam kehidupan bernegara.
Ketiga, kekuasaan negara tertinggi berada pada Majelis Permusyawaratan Rakyat. Kedaulatan
rakyat Indonesia sebagai kedaulatan tertinggi dalam suatu negara dipegang oleh lembaga tertinggi
negara : MPR RI.
Majelis inilah yang dipercayai oleh seluruh rakyat Indonesia untuk menetapkan UUD dan GBHN.
Dalam penjelasan UUD 1945 MPR adalah pemegang kekuasaan negara yang tertinggi, sedangkan
presiden harus menjalankan GBHN yang telah ditetapkan oleh majelis. Presiden yang telah dingkat
oleh MPR harus tunduk pada MPR. Dalam sejarah ketatanegaraan, pernah kedudukan presiden
adalah sebagai mandataris majelis, dan oleh karenanya presiden harus tunduk pada majelis.
Posisinya adalah di bawah bukan sejajar. Kini posisi tersebut tidak lagi mengarah pada
mandatorial.
Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi negara, MPR memiliki tugas wewenang yang amat
menentukan jalannya roda bernegara dan berpemerintahan, yaitu berupa :

menetapkan dan menyempurnakan UUD ;

menetapkan GBHN.

Pada saat ini kedudukan MPR tidak lagi pada posisi sebagai lembaga tertinggi, melainkan hanya
sebagai lembaga tinggi negara dan pada saat sekarang, lembaga ini berada pada posisi
transisional, karena pada tahun 2004 sistem perwakilan di Indonesia akan berubah menjadi sistem
bicameral (dua kamar), yaitu DPR dan DPD.
Keempat, presiden adalah penyelenggara pemerintahan negara yang tertinggi di bawah majelis.
Pernyataan tersebut tertera dalam Penjelasan UUD 1945. Tepatnya, penjelasan tersebut adalah
sebagai berikut : Di bawah Majelis Permusyawaratan Rakyat, presiden adalah penyelenggara
pemerintahan negara yang tertinggi.
Dalam menjalankan pemerintahan negara, kekuasaan dan tanggung jawab adalah di
tanganpresiden.
Kelima, presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
Menteri Negara adalah pembantu presiden. Dalam sistem pemerintahan kita, presiden tidak
bertanggung jawab kepada DPR. Presiden bekerja dengan DPR, dalam menciptakan undang-undang
dan menetqpkan APBN. Dalam hal menghadapi dua tugas tersebut, presiden senantiasa harus
meminta persetujuan DPR. Presiden tidak dapat membubarkan DPR seperti halnya pada sistem
parlementer. Sebaliknya, DPR juga tidak dapat menjatuhkan presiden.
Keenam, menteri negara tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
Dinyatakan dalam penjelasan UUD 1945, bahwa Presiden mengangkat dan memberhentikan
Menteri-menteri Negara. Menteri-menteri negara tersebut tidak bertanggung jawab kepada DPR.
Kedudukannya tidak tergantung kepada dewan, tetapi tergantung kepada presiden. Ini merupakan
refleksi ketatanegaraan bahwa RI menganut sistem presidensiel.
Ketujuh, kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas.
Sebagaimana dalam penjelasan UUD 1945, meskipun kepala negara tidak bertanggung jawab
kepada DPR, presiden bukanlah dictator, artinya presiden memiliki kekuasaan yang terbatas,
dengan pembatasan-pembatasan sebagaimana tertera dalam UUD dan peraturan perundangan
lainnya.
Dalam tataran praktis, wacana tentang pembatasan-pembatasan tentang lembaga kepresidenan
pada saat akhir-akhir ini semakin mengemuka. Hal ini disebabkan oleh karena tata aturan (berupa
undang-undang) kepresidenan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan belum juga
terbentuk. Padahal hukum tentang kepresidenan telah begitu mendesak.

Hukum sebagai Sistem Norma


ANALISIS PERBANDINGAN
NORMA AGAMA, NORMA KESUSILAAN, NORMA KESOPANAN,
DAN NORMA HUKUM

Oleh : Richo Handoko P


Menurut Kelsen Norma adalah pernyataan yang menekankan aspek
seharusnya atau das solen, dengan menyertakan beberapa peraturan
tentang apa yang harus dilakukan. Membendakan antara apa yang ada (das
sein) dan apa yang seharusnya.
Secara harfiah, norma berarti aturan, kaidah, patokan, dan ukuran hukum.
Maka secara umum, Norma merupakan aturan, pedoman atau petunjuk bagi
seseorang untuk berbuat dan bertingkah laku sebagaimana mestinya,
sebagaimana seharusnya terhadap sesama manusia dalam lingkungan suatu
masyarakat tertentu.
Aturan-aturan tersebutlah yang menjadi acuan seseorang individu, untuk
mengarahkan bagaimana dia bertingkah laku dan bersikap. Tetapi, kemudian
bagaimana mungkin untuk mengukur tindakan-tindakan atau tingkah laku
tersebut sehingga bisa dikatakan sebuah norma itu telah sesuai dengan apa
yang seharusnya? Dengan demikian, disinilah norma terbagi bagi dan
berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Antara lain adalah Norma agama,
norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum, berikut :

A. NORMA AGAMA
Norma agama adalah ketentuan-ketentuan atau petunjuk hidup yang berasal
dari Tuhan yang disampaikan melalui utusan-Nya (Rasul / Nabi) yang berisi
perintah, larangan dan anjuran-anjuran.

1.

Sumber

Ketentuan norma agama bersumber dari wahyu, informasi-informasi yang


berasal dari tuhan. Bersifat universal, artinya tidak dibatasi oleh tempat,
waktu, zaman karena berlaku untuk semua umatnya, dan normanya tidak
berubah-ubah oleh zaman karena kebenarannya adalah mutlak.
2.

Siapa yang membuat

Yang membuatnya adalah Tuhan.


3.

Penerapan (Siapa yang melaksanakan)

Tetapi dalam penerapannya norma agama bersifat tertutup, terbatas pada


umat / pengikut tertentu yang meyakini ajarannya.
4.

Penegakan

Penegakannya secara syariah, Misal syariah islam. Ditegakkan oleh tempat


tertentu yang berlaku norma agama seperti di aceh, ada polisi syariah yang
menegakkan norma agama tersebut diwilayah yang memberlakukannya.
5.

Cakupan Pemberlakuan

Cakupan pemberlakuannya adalah pada umat penganut


6.

Sifat Pembukuan

Ketentuan-ketentuan tuhan sifatnya dibukukan, Seperti Al-quran, injil, taurat,


dan zabur. Namun dibukukan tersebut bukan berarti terkodifikasi, karena
secara arti kodifikasi berarti ketentuan-ketentuan hukum yang dibukukan,
disusun secara sistematis, dan secara umum isinya relative lengkap
Sedangkan kitab, walaupun dibukukan tetapi kitab tidak hanya berisikan
ketentuan hukum, tetapi juga ketentuan-ketentuan lain, tidak disusun secara
sistematis dan isinya relative umum agar bisa ditafsirkan menurut
perkembangan masyarakat.

B. NORMA KESUSILAAN

Norma Kesusilaan adalah ketentuan hidup yang berasal dari hati nurani
manusia itu sendiri, nilai nilai kepatutan, kata hati. Unsurnya adalah Norma
Moralitas, artinya kesadaran tertinggi dalam hati nurani. Norma kesusilaan
sangat berhubungan dengan norma agama, karena agama mengjarkan
kebaikan hati nurani terhadap umatnya sehingga nilai moral, hati nurani
seseorang terbentuk dari seberapa besar ia mematuhi norma agama sebagai
yang diyakininya.
1.

Sumber

Bersumber pada hati nurani seseorang, yang dari nurani tersebut timbullah
kewajiban moral.
2.

Siapa yang membuat

Norma kesusilaan yang membuat adalah invidu atau masyarakat itu sendiri.
Dalam artian, lingkungan masyarakat yang didalamnya tertanam nilai-nilai
moral yang berdasarkan hati nurani. Jadi ukurannya adalah kebaikan moral
yang benar, karena pada dasarnya di dalam diri kita terdapat hati nurani yang
sama, mengajarkan kebikan dan kebenaran.
3.

Penerapan (Siapa yang melaksanakan)

Penerapannya dilaksanakan oleh individu atau masyarakat itu sendiri.


4.

Penegakan

Siapa yang menegakkan? Individu itu sendiri, karena hati nurani tidak
terbentuk dari orang lain, tetapi terbentuk dari dalam diri kita sendiri.
5.

Sifat pembukuan

Norma kesusilaan tidak dibukukan, tetapi seiring dengan hukum yang


berkembang didalam masyarakat, dalam masyarakat tertentu mulai
membukukan / membuat aturan tentang norma moralitas.

C. NORMA KESOPANAN

Norma kesopanan adalah ketentuan atau kaidah, tata karma yang didasari
nilai-nilai kepatutan, pandangan relative suatu masyarakat yang dipengaruhi
terhadap lingkungan sikap resistensi (penolakan) atau penerimaan. Bersifat
persuasif, ajakan untuk bersopan santun diajarkan dengan ajakan tanpa
memiliki paksaan dan kekerasan.
1.

Sumber

Bersumber pada kebiasaan yang diterapkan dalam kelompok masyarakat


tertentu. Bersifat relative local, karena pandangan nilai kesopanan antar
masyarakat tidak sama, kesopanan di suatu daerah belum tentu sopan
didalam kelompok masyarakat yang lain. Dan dikatakan sumber materil,
karena kebiasaan hanya digunakan sebagai bahan pertimbangan penegak
hukum dalam memutuskan suatu perkara.
2.

Siapa yang membuat

Yang membuat ketentuan kesopanan ini adalah masyarakat itu sendiri, karena
merekalah yang menentukan sikap terhadap sesuatu yang dianggap benar
atau salah, yang menyatakan sikap resistensi atau penerimaan.
3.

Cakupan Pemberlakuan

Pemberlakuannya bersifat kolektif, artinya adanya kesepakatan bersama yang


menyatakan sikap penerimaan atau tidak menolak atas keberadaan kebiasaan
tersebut.
4.

Sifat Pembukuan

5. Norma kesopanan tidak dibukukan, tetapi seiring dengan hukum yang


berkembang didalam masyarakat, dalam masyarakat tertentu mulai
membukukan / membuat aturan tentang norma moralitas.

D. NORMA HUKUM
Norma hukum adalah Sebagai norma yang terakhir, norma hukum
merupakan norma yang sangat mengikat, mempunyai daya paksa yang kuat,
bertujuan untuk melindungi kepentingan-kepentingan manusia yang belum

pendapat perlindungan dari norma agama,norma susila dan norma


kesopanan.
1.

Sumber

Dalam norma hukum terdapat dua sumber hukum, yakni sumber hukum
formil dan sumber materil.
Sumber hukum formil secara tegas diatus dalam Pasal 7 Undang-Undang No
10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, adalah
:
Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut:

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;


Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;

Peraturan Pemerintah;

Peraturan Presiden;

Peraturan Daerah.

Sumber Hukum Materil,

Undang-undang
Kebiasaan

Yurispudensi

Traktat

Doktrin

2.

Siapa yang membuat

Di norma hukum, kebijakan yang dibuat bisa dari eksekutif, yudikatif,


legislative. Namun secara structural kekuasaan tertinggi dalam membuat
undang-undang adalah legislative, dalam hal ini adalah DPR / senator /
kongres.
3.

Penegakan

Penegakan hukumnya jelas dilakukan oleh polisi sebagai penyelidik, jaksa


sebagai penuntut umum, dan hakim sebagai yang mengadili suatu perkara.
4.

Cakupan Pemberlakuan

Cakupan pemberlakuan norma hukum bersifat unifikasi, artinya dilakukan


secara seragam didalam system hukum suatu Negara, menjadi satu hukum
yang berlaku bagi rakyat yang ada di seluruh wilayah negara, dan hukum tadi
menjadi bagian dari sistem hukum nasional.
5.

Sifat Pembukuan

Sifat pembukuannya adalah terkodifikasi, artinya ketentuan-ketentuan


hukum yang dibuat legislative tersebut dibuat secara tertulis dan dibukukan,
disusun secara sistematis, dan secara khusus mengatur tentang objek-objek
tertentu, sehingga ketentuan yang dibuat secara isinya relative lengkap.

Related

Agama dan Hukum ModernIn "1. Hukum"


Ubi Societa Ibi IusIn "1. Hukum"
Lex Dura Sed Tamen ScriptaIn "1. Hukum"
PUBLISHED IN:

1. HUKUM

1.2 KARYA ILMIAH


ON MARCH 5, 2011 AT 02:22 LEAVE A COMMENT

The U R I to TrackBack this entry is:https://richohandoko.wordpress.com/2011/03/05/hukum-sebagai-sistemnorma/trackback/

SISTEM HUKUM SEBAGAI


BAGIAN DARI SISTEM
NORMA
Rabu, 10 Desember 2014
SISTEM HUKUM SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM NORMA

Norma iyalah istilah yang sering digunakan menyebut segala sesuatu yang
bersifat mengatur kehidupan manusia. Bekerjanya sistim norma bagi manusia
bagaikan pakaian hidup yang membuat manusia merasa aman dan nyaman dalam
menjalani tugas hidupnya.
Sistem norma yang berlaku bagi manusia sekurang-kuranya terdiri 4 unsur norma
yakni
1.
Norma moral
2.
Norma Agama
3.
Noema etika atau norma sopan santun
4.
Norma hukum
Ke empat norma tersebut berjalan secara sistematik, simultan dan
komplementar bagi manusia artinya saling bertautan saling melenkapi, antara satu
dengan yang lainya.
1.
Norma moral
Norma moral adalah aturan yang berlaku bagi manuusia yang bersumber dari
hati manusia atau yang sering di sebuat dengan hati nurani yang bekerja yang
bekerja atas kesadaran setiap manusia dengan
sekelilingnya (consciousnes). Artinya setiap manusia di karuniai tuhan yang Maha
Esa sebuah organ yang mampu menjadi neraca pertimbangan bagi setiap
perbuatanya, misalkan seseorang yang berbuat salah ia akan merasa akan timbul
rasa bersalah (guality feeling) dan penyesalam yang mendalam terhadap
perbuatanya. Semakin sehat hati manusia maka semakin efektif kehidanya karena
senantiasa memperoleh atau mendapatkan pertimbangan hati nurani. Oleh karena
itu sistem norma bekerja secarah otonom, artinya sistem norma bekerja mandiri
pada setiap diri manusia.
2.
Norma agama
Norma agama adalah aturan yang di peroleh manusia berdasarkan ajaran
agama yang dianutnya. Sumber agama berrasal dari ajaran tuhan yang di
sebarluaskan melalui para Nabi dan Rasul Nya. Alat pengontrol sistem norma
agama adalah janji serta sangsi tuhan yang Maha Esa berupa pahala bagi manusia

yang melaksanakan ajaranya dan dosa bagi manusia yang ingkar terhadap ajaran
agamanya. Seperti halnya norma moral, norma agama juga bersifat atonom yang
berkerja secara mandiri pada setiap manusia sebagai pemeluk agama. Efektit atau
tidaknya norma agama bagi manusia sangat tergantung pada individu.
3.
Norma etika atau sopan santun
Norma etika atau norma sopan santun adalah sistem atau aturan hidup manusia
yang bersumber dari kesepakatan-kesepakantan (konsesnsi) yang di ciptakan oleh
suatu komonitas masayarakat pada suatu wilaya tertentu. Ukuran norma etika pada
dasarnya berupa kepatutan, kepantasan dan kepatutan yang tumbuh atau
berkembang dalam masyarakat atau komunitas tersebut. Apa bila terjadi
pelangaran terhadap etika, maka masyarakatlah yang memberikan reaksi berupa
tindakan secara hukuman. Reaksi masyarakat terhadap pelangaran etika yang
berlaku di suatu masuyarakat sangatlah beraneka ragam dan sangat tergantung
pada kebiasaan yang berlaku atau pada yang di buat sebelumnya.
Pada masyarakat yang masi memiliki adat istiadat yang kental hukuman
pembuangan atau pengucilan bisa di berikan kepada pelanggaran norma etika
setempat. Adapun pada masyarakat modern hukuman bagi pelangaran norma etika
pada suatu komunitas biasanya berupa pemecatan dari keangotaan.
4.
Norma hukum
Norma hukum adalah sistem aturan yang di ciptakan oleh lembaga kenegaraan
yang di tunjuk melalui mekanisme tertentu. Artinya, hukum di ciptakan dan di
berlakukan oleh institusi yang memang memiliki kopentensi atau berwenang
membuat dan memberlakukan hukum, yaitu badan legislatif. Dengan demikian
hukum di indonesia di bentuk oleh lembaga-lembaga seprti MPR, DPR dan
Pemerintah sesuai dengan kapasitas atau jangawan yang ingin di capai oleh hukum.
Norma hukum memiliki sangsi yang tegas dan segera di jatuhkan apabila dilanggar.
Sangsi atau ancaman hukuman yang dijatuhkan berbeda-beda bisa paksaan
badan atau penjara yang bervariasi sejak dari hukuman kurungan, hukuman
penjara hingga hukuman mati, atau berupa denda dan sitaan atas benda yang
berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan. Oleh karenanya norma hukum sama
halnya dengan norma etika bekerja secara heteronom karena pelaksanaan dan
penegakanya di lakukan oleh interaksi antar manusia yang ada pada pada suatu
negara, interaksi antar masyarakat dengan penguasa negara, baik dalam dalam
kapasitas sebagai penegak hukum atau sebagai penyelengara negara lain.
Diposkan oleh udin rumlus di 10.54 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Beranda
Langganan: Entri (Atom)

Mengenai Saya

udin rumlus
Lihat profil lengkapku
Arsip Blog

2014 (1)
Desember (1)
SISTEMHUKUM SEBAGAI