You are on page 1of 2

1.

Arti manusia diciptakan menurut gambaran Allah


Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, maksud manusia diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Kej
1:26-27), adalah sebagai berikut:
KGK 355 Allah menciptakan manusia itu menurut citra-Nya, menurut citra Allah diciptakan-Nya dia:
laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kej 1:27). Manusia menduduki tempat khusus dalam
ciptaan: ia diciptakan menurut citra Allah (I); dalam kodratnya bersatulah dunia rohani dan dunia
jasmani (II); ia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan (III); Allah menjadikan dia sahabat-Nya
(IV).
Menurut gambaran Allah
KGK 356 Dari segala ciptaan yang kelihatan, hanya manusia yang mampu mengenal dan mencintai
Penciptanya (Gaudium et Spes/GS 12,3): ialah yang di dunia merupakan satu-satunya makhluk, yang
Allah kehendaki demi dirinya sendiri (GS 24,3): hanya dialah yang dipanggil, supaya dalam pengertian
dan cinta mengambil bagian dalam kehidupan Allah. Ia diciptakan untuk tujuan ini, dan itulah dasar
utama bagi martabatnya
KGK 357 Karena ia diciptakan menurut citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia
bukan hanya sesuatu, melainkan seorang. Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya,
mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan karena rahmat
ia sudah dipanggil ke dalam perjanjian dengan Penciptanya, untuk memberi kepada-Nya jawaban iman
dan cinta, yang tidak dapat diberikan suatu makhluk lain sebagai penggantinya.
KGK 358 Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk manusia (Bdk. GS 12,1; 24,2; 39,1),
tetapi manusia itu sendiri diciptakan untuk melayani Allah, untuk mencintai-Nya dan untuk
mempersembahkan seluruh ciptaan kepada-Nya:
Makhluk manakah yang diciptakan dengan martabat yang demikian itu? Itulah manusia, sosok yang
agung, yang hidup dan patut dikagumi, yang dalam mata Allah lebih bernilai daripada segala makhluk.
Itulah manusia; untuk dialah langit dan bumi dan lautan dan seluruh ciptaan. Allah sebegitu prihatin
dengan keselamatannya, sehingga Ia tidak menyayangkan Putera-Nya yang tunggal untuk dia. Allah
malahan tidak ragu-ragu, melakukan segala sesuatu, supaya menaikkan manusia kepada diri-Nya dan
memperkenankan ia duduk di sebelah kanan-Nya (Yohanes Krisostomus, Serm. in Gen. 2,1).
KGK 359 Sesungguhnya hanya dalam misteri Sabda yang menjelmalah misteri manusia benarbenar menjadi jelas (GS 22,1).
Rasul Paulus berbicara mengenai dua manusia, yang merupakan asal-usul umat manusia: Adam dan
Kristus Paulus mengatakan: Adam, manusia pertama, menjadi makhluk hidup duniawi. Adam terakhir
menjadi Roh yang menghidupkan. Yang pertama diciptakan oleh Yang terakhir, dan juga mendapat jiwa
dari Dia, supaya ia menjadi hidup Adam terakhir inilah, yang mengukir citra-Nya atas yang pertama
waktu pembentukan. Karena itulah, maka ia menerima sosok tubuhnya dan menerimanya, supaya Ia tidak
kehilangan, apa yang Ia jadikan menurut citra-Nya. Adam pertama, Adam terakhir: Yang pertama
mempunyai awal, yang terakhir tidak mempunyai akhir, karena yang terakhir ini sebenarnya yang
pertama. Dialah yang mengatakan Aku adalah Alfa dan Omega' (Petrus Krisologus, sermo 117).
KGK 360 Umat manusia merupakan satu kesatuan karena asal yang sama. Karena Allah
menjadikan dari satu orang saja semua bangsa dan umat manusia (Kis 17:26) Bdk. Tob 8:6..
Pandangan yang menakjubkan, yang memperlihatkan kepada kita umat manusia dalam kesatuan asal
yang sama dalam Allah dalam kesatuan kodrat, bagi semua disusun sama dari badan jasmani dan jiwa
rohani yang tidak dapat mati dalam kesatuan tujuan yang langsung dan tugasnya di dunia; dalam kesatuan
pemukiman di bumi, dan menurut hukum kodrat semua manusia berhak menggunakan hasil-hasilnya,
supaya dengan demikian bertahan dalam kehidupan dan berkembang; dalam kesatuan tujuan adikodrati:
Allah sendiri, dan semua orang berkewajiban untuk mengusahakannya: dalam kesatuan daya upaya,
untuk mencapai tujuan ini; dalam kesatuan tebusan, yang telah dilaksanakan Kristus untuk semua
orang (Pius XII Ens. Summi Pontificatus) Bdk. NA 1.

KGK 361 Hukum solidaritas dan cinta ini (ibid.) menegaskan bagi kita,bahwa kendati keanekaragaman pribadi, kebudayaan dan bangsa, semua manusia adalah benar-benar saudara dan saudari.
KGK 362 Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus
rohani. Teks Kitab Suci mengungkapkan itu dalam bahasa kiasan, apabila ia mengatakan: Allah
membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah
manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kej 2:7). Manusia seutuhnya dikehendaki Allah.
KGK 380 Engkau menjadikan manusia menurut gambaran-Mu, Engkau menyerahkan kepadanya
tugas menguasai alam raya; agar dengan demikian dapat mengabdi kepada-Mu, satu-satunya Pencipta
(MR, Doa Syukur Agung IV 118).
KGK 1702 Citra Allah hadir dalam setiap manusia. Ia menjadi tampak dalam persekutuan
manusia yang menyerupai kesatuan Pribadi-pribadi ilahi.
Jadi Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah, yang artinya
adalah: 1) manusia dapat mengenal dan mengasihi Penciptanya; 2) manusia adalah seorang pribadi, bukan
hanya sesuatu, 3) manusia diciptakan untuk menguasai alam dan melayani Tuhan yang telah
menciptakan segala sesuatu untuknya, 4) misteri tentang manusia hanya dapat dipahami dengan mengacu
kepada misteri Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, 5) umat manusia merupakan satu kesatuan,
karena mempunyai asal yang sama yaitu Allah, 6) maka semua manusia adalah saudara dan saudari di
dalam Tuhan; 7) manusia merupakan mahluk rohani, walaupun ia mempunyai tubuh jasmani.
http://www.katolisitas.org/6504/arti-manusia-diciptakan-menurut-gambaran-allah
Nilai-Nilai Dasar
March 31, 2013 Hidup dan Pandangan Hidup Gereja, Katolik, Kristen, Martabat Manusia, Nilai Dasar
Nilai-nilai dasar yang menghormati martabat manusia, seperti penghargaan terhadap daya cipta manusia,
kesamaan setiap orang di hadapan Allah dan perhatian untuk kepentingan bersama, sering dipakai baik
sebagai tolok ukur moral, maupun untuk pertimbangan pribadi. Kemerdekaan, kesamaan, dan
persaudaraan menjadi kesepakatan dasar untuk menata hidup bersama dalam banyak negara. Karena
merupakan landasan bagi hidup bersama, nilai-nilai itu disebut nilai-nilai dasar. Iman Kristen dapat
menerangi, menjernihkan, dan mendukung nilai-nilai dasar.
Dari imannya Gereja menimba keyakinan, bahwa martabat pribadi itu suci, sebab rahmat Allah, yang
ingin menyelamatkan semua orang, telah menyentuh sedalam-dalamnya hidup setiap insan. Dengan
memaklumkan karya Allah Penyelamat, Gereja memaklumkan juga hormat bagi martabat manusia.
Kalimat itu merupakan asas awal setiap rentetan hak asasi. Dengan mengajarkan dan membela kebebasan
moral dan kebebasan sosial-politik setiap manusia, Gereja memaklumkan pokok iman: Kebebasan sejati
merupakan tanda mulia gambar Allah dalam diri manusia supaya ia dengan sukarela mencari
Penciptanya, dan dengan mengabdi kepada-Nya secara bebas mencapai kesempurnaan penuh yang
membahagiakan (GS 17). Demikian pula adalah keyakinan iman, bahwa manusia berhak berserikat
dalam kemerdekaan, sebab Allah berkenan menguduskan dan menyelamatkan manusia bukannya satu
per satu, tanpa hubungan satu dengan lainnya, melainkan dengan membentuk mereka menjadi umat, yang
mengakui-Nya dalam kebenaran dan mengabdi kepada-Nya dengan suci (LG 9).
Dengan mengajarkan solidaritas dan dengan membela semua usaha guna membangun paguyuban tanpa
paksaan dan tanpa diskriminasi, Gereja mengungkapkan pengharapan iman, bahwa umat manusia dapat
diubah menjadi keluarga Allah (bdk. GS.40). Di dunia modern menjadi makin jelas bahwa solidaritas
manusiawi yang luas hanya dapat dibangun, kalau secara khusus diperjuangkan kepentingan mereka yang
sampai sekarang tersisihkan (bdk. SRS 42; CA 11). Demikian pula pembangunan sejati merupakan
perkembangan diri manusia. Perkembangan itu hanya maju kalau daya cipta manusia dipercaya dan diberi
ruang (bdk. SRS 31; CA 46), Dengan mengajarkan asas-asas demokrasi ini, Gereja sekaligus
memaklumkan keyakinan imannya.
http://pendalamanimankatolik.com/tag/nilai-dasar/