Вы находитесь на странице: 1из 20

LAPORAN MINGGUAN

PRAKTIKUM ANALISIS PANGAN


FOOD ADDITIVE
(HEMAVITON JRENG, BAKSO AYAM DAN IKAN ASIN)

Oleh :
Nama
NRP
No. Meja
Kelompok
Tanggal Percobaan
Asisten

: Bayu Indragiri
: 073020030
: 6 (Enam)
: I (Satu)
: 23 Mei 2009
: Sindi Riyani

LABORATORIUM ANALISIS PANGAN


JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2009
FOOD ADDITIVE
(HEMAVITON JRENG, BAKSO AYAM, DAN IKAN ASIN)

Bayu Indragiri (073020030)


Abstract
The purpose of food additive analysis is to find out food additive on food until can detected that food
is suitable or not for consumed.
The principle Sulphur Peroxide (SO2) analysis is based on SO 2 in sample which get using acid to
decstruction until SO2 be reacted with I2 change to blue color . The principle cyclamate analysis is based on
extraction and decstruction sample which added with H 2O2, HCl 6N, and BaCl2. The principle sodium
benzoate analysis is based on acid process of sample with HCl 6N, benzoate acid on sample decstructed in
acid condition until produce an emulsion. The principle color analysis is based on mixing of sample and fur
sheep for finding out that synthetic color or not with added HCl 6N and distribution of sample added HCl,
H2SO4, NaOH, and NH4OH. . The principle of boraks analysis is based on reaction boraks with heating and
adding acid to destruction which that filtrate added methanol until happened a change flame color to green.
The principle of formaldehyde analysis is based on added khromatophat acid in destilat which has fenol
compound condensation with formaldehyde until forming violet color.
The result Sulphur Peroxide with sample Hemaviton Jrengis negative (browns color not be lost) that
means Hemaviton Jreng not use SO2. The result cyclamate analysis with sample Hemaviton Jrengis positive
(formed white precipitation) that means Hemaviton Jrenguse cyclamate. The result sodium benzoate analysis
with sampel Hemaviton Jrengis positive (formed red brown color) that means Hemaviton Jrenguse sodium
benzoate. The result color analysis with sampel Hemaviton Jrengis positive use synthetic color which shows
with added HCl (yellow), H2SO4 (yellow), NaOH (not change), and NH4OH (not change) that means
Hemaviton Jreng use Sunset Yellow FDF. The result of boraks analysis with sample Bakso Ayam is no change
flame color to green, that means Bakso Ayamnot using boraks. The result of formaldehyde analysis with
sample Cook is forming violet color, that means Cook is using formaldehyde.
Kata kunci:food additive, pemanasan, ekstraksi, destilas, iodometri, bulu domba.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perhatian masyarakat dan industri
terhadap bahan tambahan pangan berkaitan
dengan kemungkinan bahwa komponen
bermutu rendah dimasukkan dengan curang
ke dalam makanan yang dipasarkan dan
dengan
kemungkinan
bahaya
yang
ditimbulkan oleh senyawa beracun dalam
makanan. Baru-baru ini kita menyadari
bahwa banyak senyawa makanan alam
mungkin beracun. Masalah bahan tambahan
pangan, harus ditinjau hanya sebagai satu
segi saja, yaitu dari keamanan makanan,
dalam masalah yang lebih umum mengenai
senyawa toksik dalam makanan
(deMan, 1997, Hal. 487).
Pengertian bahan tambahan pangan
secara umum adalah bahan yang biasanya
tidak digunakan sebagai makanan dan
biasanya bukan merupakan komponen khas
makanan, mempunyai atau tidak mempunyai
nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan
ke dalam makanan untuk maksud teknologi
pada pembuatan, pengolahan penyiapan,
perlakuan, pengepakan, pengemasan, dan
penyimpanan (Cahyadi, 2006, Hal. 1).

Bahan tambahan pangan dapat dibagi


ke dalam dua golongan utama, bahan
tambahan pangan yang ditambahkan tidak
sengaja dan bahan tambahan pangan yang
ditambahkan dengan sengaja. Undangundang Amerika Serikat yang mengatur
bahan tambahan dalam makanan ialah Food
Additives Amendment to the Federal Food
Drug and Cosmetic Act tahun 1958
(deMan, 1997, Hal. 487).
Tujuan penggunaan bahan tambahan
pangan adalah dapat meningkatkan atau
mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya
simpan, membuat bahan pangan lebih
mudah dihidangkan, serta mempermudah
preparasi bahan pangan.
(Cahyadi, 2006, Hal. 1).

Tujuan Percobaan
Tujuan
dari
percobaan
bahan
tambahan pangan (BTP) atau food additive
adalah untuk mengetahui ada tidaknya bahan
tambahan makanan pada sampel yang
dianalisa sehingga dapat diketahui apakah
makanan tersebut layak atau tidak untuk
dikonsumsi.

Prinsip Percobaan
Prinsip percobaan dari analisis kadar
sulfur peroksida adalah berdasarkan pada
SO2 yang terdapat dalam sampel diperoleh
dengan cara destruksi menggunakan asam
sehingga SO2 dapat bereaksi dengan I2 yang
ditandai dengan perubahan warna biru.
Prinsip percobaan dari analisis
siklamat
adalah
berdasarkan
pada
pengekstraksian dan pendestruksian sampel
yang kemudian ditambahkan dengan H2O2,
HCl 6 N, dan BaCl2.
Prinsip percobaan dari analisis natrium
benzoat
adalah
berdasarkan
pada
pengasaman sampel dengan larutan HCl 6N,
asam benzoat yang terdapat dalam sampel
didestruksi dalam keadaan asam sehingga
dihasilkan suatu emulsi.
Prinsip percobaan dari analisis zat
pewarna
adalah
berdasarkan
pada
pencampuran sampel dengan bulu domba
untuk mengetahui pewarna buatan atau tidak
dengan penambahan HCl 6N, dan
pembagian sampel dengan penambahan
pada masing-masing sampel (HCl, H 2SO4,
NaOH, Na4OH).
Prinsip percobaan analisis boraks
adalah berdasarkan pada sampel yang
diperoleh dengan pemanasan dan destruksi
menggunakan asam (HCl 6N) kemudian
filtratnya ditambah metanol hingga timbul
nyala api warna hijau.
Prinsip percobaan analisis formalin
adalah berdasarkan pada reaksi penambahan
asam kromatofat pada destilat mengikuti
kondensasi
senyawa
fenol
dengan
formaldehida membentuk senyawa ungu.
Reaksi Percobaan
Reaksi percobaan analisis
peroksida adalah,
SO2 + HCl H2S + Cu(COOH)2
SO2 + HCl H2S
CuS + 2CH3COOH

sulfur

Cu(OH)2

Reaksi percobaan analisis siklamat


adalah,
CH2 CH2
CH2

CH2 NH S3H + NaOH

NH SO2 Ona

CH2 CH2

Reaksi percobaan analisis siklamat


adalah,

C6H5COOH + NaOH C6H6COONa +


H 2O
Reaksi percobaan analisis boraks
adalah,
H3BO3 + HCl HBO2 + Cl2
Reaksi percobaan analisis formalin
adalah,
CH2O + HPO3
TINJAUAN PUSTAKA
Bahan Tambahan Makanan
Bahan Tambahan Makanan (BTM)
atau food additives adalah senyawa (atau
campuran berbagai senyawa) yang sengaja
ditambahkan ke dalam makanan dan terlibat
dalam proses pengolahan, pengemasan
dan/atau
penyimpanan,
dan
bukan
merupakan bahan (ingredient) utama. BTM
dan produk-produk degradasinya, biasanya
tetap di dalam makanan, tetapi ada beberapa
yang sengaja dipisahkan selam proses
pengolahan. Sementara itu pada Undangundang RI No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan
khususnya pada Bab II (Kemanan Pangan)
Bagian Kedua disebutkan banwa yang
dimaksud dengan bahan tambahan pangan
adalah bahan yang ditambahkan ke dalam
pangan untuk mempengaruhi sifat atau
bentuk pangan. Penggunaan bahan tambahan
pangan dalam produk pangan yang tidak
mempunyai
resiko
kesehatan
dapat
dibenarkan, karena hal tersebut lazim
digunakan. BTM yang secara tidak sengaja
ditambahkan, atau lebih tepat disebut
sebagai kontaminan, tidak termasuk dalam
konteks BTM yang dibicarakan (Anonim,
2009).
Penambahan BTM secara umum
bertujuan untuk:
1. Meningkatkan nilai gizi makanan,
2. Memperbaiki nilai sensori makanan,
3. Memperpanjang umur simpan (shelf life)
makanan. Bahan-bahan tambahan seperti
vitamin, mineral, atau asam amino biasanya
ditambahkan untuk memperbaiki dan/atau
menaikkan nilai gizi suatu makanan. Banyak
makanan yang diperkaya atau difortifikasi
dengan vitamin untuk mengembalikan
vitamin yang hilang selama pengolahan,
seperti penambahan vitamin B ke tepung
terigu atau penambahan vitamin A ke dalam

susu. Mineral besi ditambahkan untuk


memperkaya nilai gizi makanan, terutama
karena besi yang berada dalam makanan
umumnya mempunyai ketersediaan hayati
(biovailability) rendah
(Anonim, 2009).
Warna, bau, dan konsistensi/tekstur
suatu bahan pangan dapat berubah atau
berkurang
akibat
pengolahan
dan
penyimpanan. Hal ini dapat diperbaiki
dengan penambahan BTM seperti pewarna,
senyawa pembentuk warna, penegas rasa,
pengental,
penstabil,
dan
lain-lain.
Pembentukan bau yang menyimpang (off
flavor) pada produk-produk berlemak dapat
dicegah dengan penambahan antioksidan.
Tekstur makanan dapat diperbaiki dengan
penambahan mineral, pengemulsi, pengental
dan/atau penstabil seperti monogliserida,
hidrokoloid, dan lain-lain (Anonim, 2009).
Pengolahan pangan belakangan ini
mempunyai
kecenderungan
untuk
memproduksi makanan yang panjang umur
simpannya (awet) dan mudah disajikan
(convenient). Hal tersebut didorong oleh
faktor-faktor seperti sifat bahan pangan
segar yang umumnya mudah rusak
(perishable) dan musiman, serta gaya hidup
yang menginginkan segala sesuatunya serba
mudah dan cepat. Untuk mendapatkan
makanan yang demikian, salah satu usaha
yang
digunakan
adalah
dengan
menambahkan bahan pengawet, baik untuk
mencegah tumbuhnya mikroba maupun
untuk mencegah terjadinya reaksi-reaksi
kimia yang tidak dikehendaki selama
pengolahan dan penyimpanan (Anonim,
2009).
Selain tujuan-tujuan di atas, BTM
sering digunakan untuk meproduksi
makanan untuk kelompok khusus seperti
penderita diabetes, pasien yang baru
mengalami operasi, orang-orang yang
menjalankan diet rendah kalori atau rendah
lemak, dan sebagainya. Berbagai BTM yang
digunakan untuk maksud tersebut di
antaranya pemanis buatan, pengganti lemak
(fat replacer), pengental, dan lain-lain. Dari
keterangan di atas, secara implisit di dapat
pengertian bahwa BTM dan produk-produk
degradasinya harus bersifat tidak berbahaya
pada tingkat pemakaian yang diizinkan.
Selain itu, pemakaian BTM seyogyanya

hanya jika benar-benar dibutuhkan, yaitu


jika benar-benar dirasakan terjadi penurunan
nilai gizi makanan, perubahan sifat sensori
makanan akibat pengolahan atau jika
diperlukan untuk membantu pengolahan
(processing aid) (Anonim, 2009).
Banyak
sekali
produsen
yang
menggunakan BTM dalam pembuatan
produk pangan. Pemakaian BTM umumnya
diatur oleh lembaga-lembaga seperti
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan (Ditjen POM) di Indonesia dan
Food and Drug Administration (FDA) di
USA. Peraturan mengenai pemakaian BTM
berbeda di suatu negara dengan negara
lainnya.
Dalam
peraturan
tersebut
dinyatakan bahwa penggunaan BTM dapat
dibenarkan apabila,
1. Dimaksudkan untuk mencapai masingmasing tujuan penggunaannya dalam
pengolahan produk pangan,
2. Tidak digunakan untuk menyembunyikan
penggunaan bahan yang salah atau tidak
mememnuhi persyaratan,
3. Tidak untuk menyembunyikan cara kerja
yang bertentangan dengan cara produksi
yang baik untuk makanan,
4. Tidak digunakan untuk menyembunyikan
kerusakan pangan (Anonim, 2009).
Jenis, Fungsi dan Mekanisme Kerja
Bahan Tambahan Makanan Peraturan
Menteri
Kesehatan
RI
No.
235/MENKES/PER/VI/1979 tanggal 19 Juni
1979 mengelompokkan BTM berdasarkan
fungsinya, yaitu: (1) antioksidan dan
antioksidan sinergis, (2) anti kempal, (3)
pengasam, penetral dan pendapar, (4) enzim,
(5) pemanis buatan, (6) pemutih dan
pematang, (7) penambah gizi, (8) pengawet,
(9) pengemulsi, pemantap dan pengental,
(10) pengeras, (11) pewarna alami dan
sintetik, (12) penyedap rasa dan aroma, (13)
sekuestran, dan (14) bahan tambahan lain
(Anonim, 2009).
Penggunaan bahan tambahan pangan
sebaiknya dengan dosis di bawah ambang
batas yang telah ditentukan. Jenis BTP ada 2
yaitu GRAS (Generally Recognized as
Safe), zat ini aman dan tidak berefek toksik
misalnya gula (glukosa). Sedangkan jenis
lainnya yaitu ADI (Acceptable Daily Intake),
jenis ini selalu ditetapkan batas penggunaan
hariannya
(daily
intake)
demi

menjaga/melindungi kesehatan konsumen


(Cahyadi, 2006, Hal. 2).
Bahan Pengawet
Pengawet makanan termasuk dalam
kelompok zat tambahan makanan yang
bersifat inert secara farmakologik (efektif
dalam jumlah kecil dan tidak toksis).
Pengawet penggunaannya sangat luas,
hampir seluruh industri mempergunakannya
termasuk industri farmasi, kosmetik, dan
makanan. Karena Indonesia tertinggal dalam
bidang penelitiannya maka diadopsilah
peraturan yang ada di WHO. Khusus untuk
pengawet makanan peraturannya sesuai
dengan
Permenkes
RI
No
722/Menkes/Per/IX/88 (Anonim, 2009).
Industri yang sudah memiliki ISO
9001 tentunya telah menerapkan manajemen
produksi yang baik sehingga banyak yang
sudah mengurangi jumlah penggunaan
pengawet atau tidak menggunakan pengawet
lagi (produk susu, teh dalam botol).
Seringkali ada salah pengertian mengenai
pengawet untuk makanan yang seolah-olah
aman digunakan selama tidak menyebabkan
keracunan atau kematian (toksisitas akut),
tetapi sebenarnya menyebabkan kerusakan
organ tubuh manusia dalam jangka panjang
(toksisitas kronik) (Hardman J.G et all
1996). Bahaya ini dapat terjadi karena
produk makanan tersebut setiap hari
dimakan, berbeda dengan obat-obat per oral
yang digunakan hanya kalau sakit.
Kebutuhan akan pengawet pada industri
kecil (rumah tangga) karena kebersihan
tempat, alat produksi, dan proses produksi
yang tidak memenuhi syarat. Sesuai dengan
persaingan usaha yang terjadi tentunya
semakin banyak produk yang dapat dibuat
akan semakin murah harga produk tersebut
sehingga dapat merebut pasar. Akibat hal ini
maka diperlukanlah zat kimia untuk
membantu kestabilan produk jika target
penjualan tidak tercapai (produk tidak terjual
dalam waktu tertentu) Jika zat kimia tersebut
tidak termasuk dalam kelompok yang
diijinkan penggunaannya sebagai pengawet
oleh pemerintah tentunya ada alasannya,
yang terutama adalah bahaya toksisitas
kronisnya akibat
tidak inert secara
farmakologik
(Harmita, 2009).

Fungsi pengawet sudah sangat jelas


yaitu untuk memperpanjang umur simpan
suatu makanan dan dalam hal ini dengan
jalan menghambat pertumbuhan mikroba.
Oleh karena itu sering disebut dengan
senyawa antimikroba. Mekanisme Kerja.
Berbagai senyawa mempunyai sifat sebagai
anti mikroba, diantaranya sulfit dan sulfur
dioksida, garam nitrit dan nitrat, asam
sorbat, asam propionat, asam asetat dan
asam bensoat (Anonim, 2009).
Sulfur dioksida telah lama digunakan
dalam makanan sebagai pengawet dan
penggunaannya
berkembang
menjadi
berbagai bentuk seperti gas SO2, garam
bisulfit dan sulfit. Penelitian menunjukkan
bahwa sulfur dioksida paling efektif bekerja
pada kondisi pH rendah dan diperkirakan hal
ini disebabkan H2SO3 yang dalam larutan
tidak terdisosiasi. Dalam keadaan tidak
terdisosiasi larutan tersebut lebih mudah
menembus dinding sel mikroba. Selain
bertindak sebagai pengawet, sulfur dioksida
juga dapat mencegah pencoklatan non
enzimatik (reaksi Maillard) yaitu dengan
cara bereaksi dengan gula-gula pereduksi
maupun senyawa tara aldehida. Sulfur
dioksida juga mempunyai efek memucatkan
pigmen melanoidin yang terbentuk dalam
reaksi Maillard sehingga sangat efektif
dalam mencegah reaksi pencoklatan
tersebut. Sulfur dioksida juga sering
ditambahkan ke dalam tepung untuk
memutus ikatan disulfida dan memperbaiki
mutu adonan yang dihasilkan. Sulfur
dioksida dan sulfit dapat dimetabolisme
menjadi sulfat dan diekskresi ke adalam urin
tanpa efek samping lainnya. Sulfur dioksida
atau sulfit biasanya ditambahkan pada
konsentrasi sekitar 500 1000 ppm,
tergantung dari tujuan penambahan dan jenis
makanan (Anonim, 2009).
Garam potassium dan sodium dari
nitrit dan nitrat yang ditambahkan pada
psoses kyuring pada daging juga dapat
menghambat
pertumbuhan
mikroba.
Senyawa yang berperan adalah nitrit dan
pada konsentrasi 150-200 ppm dapat
menghambat pertumbuhan Clostridia di
dalam daging yang dikalengkan. Meskipun
demikian, penggunaan nitrit saat ini
dihindari karena diduga menghasilkan
nitrosamin yang bersifat karsinogenik. Asam

sorbat
yang
merupakan
asam
monokarboksilat dan analog-analognya yang
memiliki ikatan rangkap-a (a-unsaturated)
mempunyai sifat anti mikroba yang sangat
kuat. Asam ini digunakan dalam bentuk
garam sodium dan potassiumnya dan
diketahui efektif menghambat pertumbuhan
kapang dan ragi di dalam berbagai makanan,
seperti keju, produk-produk bakeri, sari
buah, anggur dan acar-acaran (pickles).
Asam sorbat sangat efektif menekan
pertumbuhan
kapang
dan
tidak
mempengaruhi citarasa makanan pada
tingkat penambahan yang diperbolehkan
(sampai 0,3% berat). Aktivitas sorbat
meningkat dengan meningkatnya keasaman
bahan, atau menurunnya pH makanan.
Secara umum asam askorbat efektif sampai
pH 6,5. Aktivitas asam sorbat dan analoganalog asam lemaknya diperkirakan karena
mikroba tidak dapat dimetabolisme sistem
dien dengan ikatan rangkap 1. Diperkirakan
asam sorbat mengganggu aktivitas enzim
dehidrogenase
yang
biasanya
mendehidrogenasi asam lemak pada awal
aktivitasnya. Asam propionat dan asam
asetat juga berperan sebagai antimikroba
terutama kapang dan beberapa bakteri. Asam
propionat biasanya digunakan dalam bentuk
garam natrium dan kalsium. Senyawa ini
secara alami terdapat di dalam keju Swiss
(sampai 1% berat). Asam propionat banyak
digunakan dalam produk-produk bakery
karena selain menghambat kapang juga
menghambat
pertumbuhan
Bacillus
mesentricus yang menyebabkan kerusakan
ropy bread. Seperti halnya antimikroba yang
merupakan asam karboksilat lainnya, asam
propionat dalam bentuk tidak terdisosiasi
bersifat lebih poten. Toksisitas asam
propionat bagi kapang dan sebagian bakteri
diakibatkan oleh ketidakmampuan mikrobamikroba tersebut dalam memetabolisme
rangkaian 3-karbon (Anonim, 2009).
Penggunaan asam asetat dalam
pengawetan pangan sudah sejak lama,
seperti pada pengacaran (pembuatan
pickles). Selain cuka (4% asam asetat) dan
asam asetat, bentuk-bentuk lain yang
digunakan dalam makanan adalah sodium,
kalsium, dan potassium asetat. Bentuk
garam-gram tersebut digunakan dalam roti
dan produk-produk bakery lainnya yanitu

untuk mencegah pembentukan ropy bread.


Asam asetat digunakan dalam mengacar
sayur maupun daging dan ikan. Selain
sebagai anti mikroba, asam asetat juga
berkontribusi terhadap citarasa makanan
seperti pada produk mayones, acar, saus
tomat, dan lain-lain. Aktivitas antimikroba
asam asetat meningkat dengan menurunnya
pH. Asam benzoat seringkali digunakan
sebagai anti mikroba dalam makanan seperti
sari buah, minuman ringan, sauerkraut, dan
lain-lain. Garam sodium dari asam bensoat
lebih sering digunakan karena bersifat labih
larut dalam air daripada sifat bentuk
asamnya. Asam bensoat sangat poten
terhadap ragi dan bakteri dan paling tidak
efektif dalam menghambat pertumbuhan
kapang. Asam bensoat sering dikombinasi
dengan asam sorbat, dan ditambahkan dalam
jumlah sekitar 0,05- 0,1% berat (Anonim,
2009).
Sifat-sifat bahan pengawet dapat
meliputi sifat kimia dan fisik. Sifat kimia
antara lain struktur kimia atau rumus
molekul dan harga pKa yang spesifik untuk
setiap jenis bahan pengawet. Sedangkan
sifat fisik antara lain pelarutan, baik dalam
air, alkohol maupun minyak, bentuk bahan
pengawet. Besarnya pelarutan sangat
dipengaruhi oleh suhu, misalnya natrium
bisulfit pada suhu 250C kelarutannya 28,5
g/100 ml air dan menjadi kurang lebih dua
kalinya (50 g/100 ml air) pada suhu 100 0C
(Cahyadi, 2006, Hal. 16).
Pemanis
Zat pemanis sintetik merupakan zat
yang dapat menimbulkan rasa manis atau
dapat membantu mempertajam terhadap rasa
manis tersebut, sedangkan kalori yang
dihasilkannya jauh lebih rendah daripada
gula (Winarno, 1997, Hal.).
Perkembangan industri pangan dan
minuman akan kebutuhan pemanis dari
tahun ke tahun semakin meningkat. Industri
pangan dan minuman lebih menyukai
menggunakan pemanis sintetis karena selain
harganya relatif murah, tingkat kemanisan
pemanis sintetis jauh lebih tinggi dari
pemanis alami. Hal tersebut mengakibatkan
terus meningkatnya penggunaan pemanis
sintetis terutama sakarin dan siklamat
(Cahyadi, 2006, Hal. 67).

Pemanis merupakan komponen bahan


pangan yang umum, oleh karena itu agak
aneh kalau dimasukkan ke dalam daftar
bahan tambahan makanan. Oleh karena itu
pemanis yang termasuk BTM adalah
pemanis pengganti gula (sukrosa). Pemanis,
baik yang alami maupun yang sintetis,
merupakan senyawa yang memberikan
persepsi rasa manis tetapi tidak (atau hanya
sedikit) mempunyai nilai gizi (non-nutritive
sweeteners). Mekanisme Kerja Suatu
senyawa untuk dapat digunakan sebagai
pemanis, kecuali berasa manis, harus
memenuhi beberapa kriteria tertentu, seperti
1. Larut dan stabil dalam kisaran pH yang
luas,
2. Stabil pada kisaran suhu yang luas,
3. Mempunyai rasa manis dan tidak
mempunyai side atau after-taste,
4. Murah, setidak-tidaknya tidak melebihi
harga gula. Senyawa yang mempunyai rasa
manis
strukturnya
sangat
beragam.
Meskipun demikian, senyawa-senyawa
tersebut mempunyai feature yang mirip,
yaitu memiliki sistem donor/akseptor proton
(sistem AHs/Bs) yang cocok dengan sistem
reseptor (AHrBr) pada indera perasa
manusia
(Anonim, 2009).
Sakarin, yang merupakan pemanis
tertua, termasuk pemanis yang sangat
penting perannya dan biasanya dijual dalam
bentuk garam Na atau Ca. Tingkat
kemanisan sakarin adalah 300 kali lebih
manis daripada gula. Karena tidak
mempunyai nilai kalori, sakarin sangat
populer digunakan
sebagai
pemanis
makanan diet, baik bagi penderita diabetes
maupun untuk pasien lain dengan diet
rendah kalori. Pada konsentrasi yang tinggi,
sakarin mempunyai after-taste yang pahit.
Meskipun hasil pengujian pada hewan
percobaan menunjukkan kecenderungan
bahwa
sakarin
menimbulkan
efek
karsinogenik, tetapi hal ini belum dapat
dibuktikan pada manusia. Oleh karena itu,
sakarin sampai saat ini masih diijinkan
penggunaannya di hampir semua negara
(Anonim, 2009).
Ada beberapa ciri dari produk yang
menggunakan pemanis buatan,yaitu :
1. Makanan/minuman yang diberi pemanis
buatan mempunyai rasa pahit ikutan (after
taste), terutama sakarin.

2. Minuman yang diberi pemanis buatan


lebih encer dibandingkan dengan minuman
yang menggunakan gula (Indriasari, 2009).
Setelah sakarin, siklamat merupakan
pemanis non-nutritif lainnya yang tidak
kalah populer. Tingkat kemanisan siklamat
adalah 30 kali lebih manis daripada gula dan
siklamat tidak memberikan after-taste seperti
halnya sakarin. Meskipun demikian, rasa
manis yang dihasilkan oleh siklamat tidak
terlalu baik (smooth) jika dibandingkan
dengan sakarin. Siklamat diperjual belikan
dalam bentuk garam Na atau Ca-nya.
Siklamat dilarang penggunaannya di
Amerika serikat, Kanada, dan Inggris sejak
tahun 1970-an karena produk degradasinya
(sikloheksil amina) bersifat karsinogenik.
Meskipun demikian, penelitian yang
mendasari pelarangan penggunaan siklamat
banyak mendapat kritik karena siklamat
digunakan pada tingkat yang sangat tinggi
dan tidak mungkin terjadi dalam praktek
sehari-hari. Oleh karena itu, FAO/WHO
masih memasukkan siklamat sebagai BTM
yang diperbolehkan (Anonim, 2009).
Aspartam atau metil ester dari Laspartil-L-fenilalanin merupakan pemanis
baru yang penggunaannya diijinkan pad
tahun 1980-an untuk produk-produk
minuman ringan dan campuran kering (dry
mixtures). Aspartam merupakan pemanis
yang mempunyai nilai kalori karena pada
dasarnya aspartam merupakan dipeptida.
Meskipun demikian, kemanisannya yang
tinggi (200 kali kemanisan sukrosa) maka
hanya ditambahkan dalam jumlah yang
sangat kecil sehingga nilai kalorinya dapat
diabaikan. Aspartam sangat disukai karena
rasa manis yang dihasilkannya sangat mirip
dengan gula. Karena mwerupakan dipeptida,
aspartam mudah terhidrolisis, mudah
mengalami reaksi kimia yantg biasa terjadi
pada komponen pangan lainnya dan
mungkin terdegradasi oleh mikroba. Hal
tersebut tentunya merupakan limitasi
penggunaan aspartam pada produk-produk
pangan dengan kadar air yang tinggi. Jika
mengalami hidrolisis, aspartam akan
kehilangan rasa manisnya. Di dalam
makanan, aspartam dapat mengalami
kondensasi intramolekuler menghasilkan
diketo piperazin. Reaksi ini terjadi terutama
pada kondisi pH netral sampai basa karena

gugus amina yang tidak terprotonasi lebih


tersedia untuk reaksi tersebut. Pada pH basa,
gugus amina juga dapat dengan cepat
bereaksi dengan gugus karbonil dari gula
maupun vanilin. Oleh karena itu, setelah
bereaksi dengan gula, aspartam dapat
kehilangan rasa manisnya dan setetalh
bereaksi dengan vanilin, vanila kehilangan
aroma khasnya. Produk-produk yang
dimaniskan dengan aspartam harus diberi
label yang jelas, terutama tentang
kandungan fenilalaninnya yang dipantang
oleh penderita kelainan fenilketonuria
(Anonim, 2009).
Setelah aspartam, pemanis sintetik
yang mendapat persetujuan untuk digunakan
dalam bahan pangan adalah asesulfam K.
Asesulfam K adalah senyawa 6- metil-1,2,3oksatiazin-4(3H)-on-2,2-dioksida
atau
merupakan asam asetoasetat dan asam
sulfamat yang berada dalam bentuk garam
kalsiumnya. Tingkat kemanisan asesulfam
adalah 200 kali lebih manis daripada sukrosa
dan mutu kemanisannya berada di antara
sakarin dan siklamat. Pengujian yang lama
dan teliti telah membuktikan bahwa
asesulfam K tidak berbahaya bagi manusia
dan stabilitasnya selama pengolahan sangat
baik. Asesulfam K dapat disintesis dengan
harga yang relatip murah dan dengan
perolehan yang sangat murni (Anonim,
2009).
Pemanis-pemanis
lainnya
yang
berpotensi untuk dikembangkan dan
diaplikasikan ke dalam makanan di
antaranya
adalah
neohesperidin
dihidrochalkon yang merupakan turunan
dari senyawa flavonon yang terdapat di
dalam jeruk-jerukan. Thaumatin, yang
berasal dari buah-buahan tropis di Afrika
yang juga berpotensi mengingat tingkat
kemanisannya
sangat
tinggi
jika
dibandingkan dengan tingkat kemanisan
sukrosa. Monelin dan mirakulin, yang
merupakan protein yang berasal dari jenis
buah beri juga mempunyai potensi untuk
dikembangkan.
Meskipun
demikian,
senyawasenyawa tersebut masih harus
melalui serangkaian pengujian yang panjang
terutama dalam aspek keamanannya bagi
manusia (Anonim, 2009).

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan


untuk mengetahui hubungan struktur kimia
bahan pemanis dengan rasa manis adalah,
1. Mutu rasa manis,
2. Intensitas rasa manis, dan
3. Kenikmatan rasa manis
(Cahyadi,
2006, Hal. 69).
Pewarna
Penentuan mutu bahan pangan pada
umumnya sangat tergantung pada beberapa
faktor seperti cita rasa, tekstur, dan nilai
gizinya, juga sifat mikrobiologis. Tetapi
sebelum faktor-faktor lain dipertimbangkan,
secara visual faktor warna tampil lebih
dahulu
dan
kadang-kadang
sangat
menentukan
(Cahyadi, 2006, Hal. 53).
Pewarna Alami
Adalah zat warna alami (pigmen) yang
diperoleh dari tumbuhan, hewan, atau dari
sumber-sumber mineral. Zat warna ini telah
digunakan sejak dulu dan umumnya
dianggap lebih aman daripada zat warna
sintetis, seperti annato sebagai sumber
warna kuning alamiah bagi berbagai jenis
makanan begitu juga karoten dan klorofil.
Dalam daftar FDA pewarna alami dan
pewarna identik alami tergolong dalam
uncertified color additives karena tidak
memerlukan sertifikat kemurnian kimiawi
(Anonim, FAO Indonesia, 2009).
Keterbatasan pewarna alami adalah
seringkali memberikan rasa dan flavor khas
yang tidak diinginkan, konsentrasi pigmen
rendah,
stabilitas
pigmen
rendah,
keseragaman warna kurang baik dan
spektrum warna tidak seluas pewarna
sintetik. Pewarna sintetik mempunyai
keuntungan yang nyata dibandingkan
pewarna alami, yaitu mempunyai kekuatan
mewarnai yang lebih kuat, lebih seragam,
lebih stabil dan biasanya lebih murah
(Anonim, FAO Indonesia, 2009).

Pewarna sintetis
Pewarna
sintetis
mempunyai
keuntungan yang nyata dibandingkan
pewarna alami, yaitu mempunyai kekuatan
mewarnai yang lebih kuat, lebih seragam,
lebih stabil, dan biasanya lebih murah.

Berdasarkan rumus kimianya, zat warna


sintetis dalam makanan menurut Joint
FAO/WHO Expert Commitee on Food
Additives (JECFA) dapat digolongkan dalam
beberapa kelas yaitu : azo, triaril metana,
quinolin, xantin dan indigoid
(Anonim, FAO Indonesia, 2009).
Proses pembuatan zat pewarna sintetik
biasanya melalui perlakuan pemberian asam
sulfat atau asam nitrat yang sering kali
terkontaminasi oleh arsen atau logam berat
lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat
pewarna organik sebelum mencapai produk
akhir, harus melalui suatu senyawa antara
yang kadang-kadang berbahaya dan sering
kali tertinggal dalam hasil akhir, atau
terbentuk senyawa-senyawa baru yang
berbahaya. Untuk zat pewarna yang
dianggap
aman,
ditetapkan
bahwa
kandungan arsen tidak boleh lebih dari
0,00014 persen dan timbal tidak boleh lebih
dari 0,001 persen, sedangkan logam berat
lainnnya tidak boleh ada. Kelarutan pewarna
sintetik ada dua macam yaitu dyes dan lakes.
Dyes adalah zat warna yang larut air dan
diperjual belikan dalam bentuk granula,
cairan, campuran warna dan pasta.
Digunakan untuk mewarnai minuman
berkarbonat, minuman ringan, roti, kue-kue
produk susu, pembungkus sosis, dan lainlain. Lakes adalah pigmen yang dibuat
melalui pengendapan dari penyerapan dye
pada bahan dasar, biasa digunakan pada
pelapisan tablet, campuran adonan kue, cake
dan donat
(Anonim, FAO Indonesia, 2009).
Rhodamin B
Rhodamin B adalah salah satu pewarna
sintetik yang tidak boleh dipergunaan untuk
makanan, selain itu pewarna lainnya yang
dilarang adalah Metanil Yellow Rhodamin B
memiliki rumus molekul C28H31N2O3Cl,
dengan berat molekul sebesar 479.000.
Rhodamin B berbentuk kristal hijau atau
serbuk-unggu kemerah-merahan, sangat
mudah larut dalam air yang akan
menghasilkan warna merah kebiru-biruan
dan berflourensi kuat. Selain mudah larut
dalam air juga larut dalam alkohol, HCl dan
NaOH. Rhodamin B ini biasanya dipakai
dalam pewarnaan kertas, di dalam
laboratorium digunakan sebagai pereaksi

untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan


Th. Rhodamin B sampai sekarang masih
banyak digunakan untuk mewarnai berbagai
jenis makanan dan minuman (terutama
untuk golongan ekonomi lemah), seperti
kue-kue basah, saus, sirup,
kerupuk
dan
tahu
(khususnya
Metanil
Yellow),
dan
lain-lain
(Anonim, FAO Indonesia, 2009).
Menurut Dinas Kesehatan Propinsi
Jawa Barat, ciri-ciri makanan yang diberi
Rhodamin B adalah warna makanan merah
terang mencolok. Biasanya makanan yang
diberi pewarna untuk makanan warnanya
tidak begitu merah terang mencolok. Tandatanda dan gejala akut bila terpapar
Rhodamin B :
1. Jika terhirup dapat menimbulkan iritasi
pada saluran pernafasan.
2. Jika terkena kulit dapat menimbulkan
iritasi pada kulit.
3. Jika terkena mata dapat menimbulkan
iritasi pada mata, mata kemerahan, udem
pada kelopak mata.
4. Jika tertelan dapat menimbulkan gejala
keracunan dan air seni
berwarna merah
atau merah muda
(Anonim, FAO
Indonesia, 2009).
Boraks
Asam borat (H3BO3) merupakan
senyawa bor yang dkenal juga dengan nama
borax. Di Jawa Barat dikenal juga dengan
nama bleng, di Jawa Tengah dan Jawa
Timur dikenal dengan nama pijer.
Digunakan/ditambahkan
ke
dalam
pangan/bahan pangan sebagai pengenyal
ataupun sebagai pengawet (Cahyadi, 2006,
Hal. 228).
Bleng adalah campuran garam mineral
konsentrasi tinggi yang dipakai dalam
pembuatan beberapa makanan tradisional,
seperti karak dan gendar. Bleng adalah
bentuk tidak murni dari boraks, sementara
asam borat murni buatan industri farmasi
lebih dikenal dengan nama boraks. Dalam
dunia industri, boraks menjadi bahan solder,
bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptik
kayu, dan pengontrol kecoak (Anonim,
2009).
Dalam bentuk tidak murni, sebenarnya
boraks sudah diproduksi sejak tahun 1700 di
Indonesia, dalam bentuk air bleng. Bleng

biasanya dihasilkan dari ladang garam atau


kawah lumpur (seperti di Bledug Kuwu,
Jawa Tengah). Boraks maupun bleng tidak
aman untuk dikonsumsi sebagai makanan,
tetapi ironisnya penggunaan boraks sebagai
komponen dalam makanan sudah meluas di
Indonesia. Mengkonsumsi makanan yang
mengandung boraks memang tidak serta
berakibat buruk terhadap kesehatan tetapi
boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit
karena diserap dalam tubuh konsumen
secara kumulatif. Seringnya mengonsumsi
makanan berboraks akan menyebabkan
gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal.
Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan
demam, anuria (tidak terbentuknya urin),
koma, merangsang sistem saraf pusat,
menimbulkan depresi, apatis, sianosis,
tekanan darah turun, kerusakan ginjal,
pingsan, hingga kematian (Anonim, 2009).
Dari berbagai penelitian yang telah
dilakukan diperoleh data bahwa senyawa
asam borat ini didapati pada lontong agar
teksturnya menjadi bagus dan kebanyakan
pada bakso. Komposisi dan bentuk asam
borat mengandung 99,0% dan 100,5%
H3BO3. Mempunyai bobot molekul 61,83
dengan B= 17,50%; H= 4,88%; O= 77,62%
berbentuk serbuk hablur kristal transparan
atau granul putih tak berwarna dan tak
berbau serta agak manis
(Cahyadi, 2006, Hal. 228).
Boraks berasal dari bahasa Arab yaitu
Bouraq. Merupakan kristal lunak lunak yang
mengandung unsur boron, berwarna dan
mudah larut dalam air. Boraks merupakan
garam Natrium Na2B4O7 10H2O yang
banyak digunakan dalam berbagai industri
non pangan khususnya industri kertas, gelas,
pengawet kayu, dan keramik. Gelas pyrex
yang terkenal dibuat dengan campuran
boraks. Boraks sejak lama telah digunakan
masyarakat untuk pembuatan gendar nasi,
kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang
secara tradisional di Jawa disebut Karak
atau Lempeng. Disamping itu boraks
digunakan untuk industri makanan seperti
dalam pembuatan mie basah, lontong,
ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan
kecap. Mengkonsumsi boraks dalam
makanan tidak secara langsung berakibat
buruk, namun sifatnya terakumulasi
(tertimbun) sedikit-demi sedikit dalam organ

hati, otak dan testis. Boraks tidak hanya


diserap melalui pencernaan namun juga
dapat diserap melalui kulit. Boraks yang
terserap dalam tubuh dalam jumlah kecil
akan dikelurkan melalui air kemih dan tinja,
serta sangat sedikit melalui keringat. Boraks
bukan hanya menganggu enzim-enzim
metabolisme tetapi juga menganggu alat
reproduksi pria. Boraks yang dikonsumsi
cukup tinggi dapat menyebabkan gejala
pusing, muntah, mencret, kejang perut,
kerusakan ginjal, hilang nafsu makan
(Anonim, 2009).
Pemakaian boraks untuk memperbaiki
mutu bakso sebagai pengawet telah diteliti
pada tahun 1993. Di DKI Jakarta ditemukan
26% bakso mengandung boraks baik di
swalayan, pasar tradisional dan pedagang
makanan jajanan. Pada pedagang bakso
dorongan ditemukan 7 dari 13 pedagang
menggunakan boraks dengan kandungan
boraks antara 0,01 0,6 % (Anonim, 2009).
Formalin
Formaldehid
merupakan
bahan
tambahan kimia yang efisien, tetapi dilarang
ditambahkan pada bahan pangan (makanan),
tetapi ada kemungkinan formaldehid
digunakan dalam pengawetan susu, tahu,
mie, ikan asin, ikan basah, dan produk
pangan lainnya. Larutan formaldehid atau
larutan formalin mempunyai nama dagang
formalin, formol, atau mikrobisida dengan
rumus molekul CH2O mengandung kira-kira
37% gas formaldehid dalam air. Biasanya
ditambahkan 10-15% metanol untuk
menghindari polimerisasi. Larutan ini sangat
kuat dan dikenal dengan formalin 100% atau
formalin 40%, yang mengandung 40 gram
formaldehid dalam 100 ml pelarut
(Cahyadi, 2006, Hal. 230).
Apabila formalin tercampur dalam
makanan dengan dosis rendah maka akan
menyebabkan keracunan. Namun apabila
termakan dalam dosis tinggi akan sangat
membahayakan, karena hanya dalam
beberapa jam saja akan menyebabkan
seseorang yang memakannya menjadi
kejang-kejang, kencing darah, muntah darah
bahkan dapat berujung kematian. Formalin
ini sangat mudah diserap melalui saluran
pernafasan dan pencernaan. Penggunaan
formalin dalam jangka panjang dapat

berakibat buruk pada organ tubuh, seperti


kerusakan hati dan ginjal (Anonim, 2009).
Dari sisi regulasi, penggunaan
formalin sebagai bahan pengawet makanan
sebenarnya telah dilarang sejak tahun 1982.
Tata cara perniagaannya bahkan telah diatur
dengan
Surat
Keputusan
Menteri
Perindustrian dan Perdagangan Nomor
54/MPP/KEP/7/2000. Impor zat formalin
hanya bisa dilakukan oleh para importir
produsen yang diakui Dirjen Perdagangan
Luar Negeri. Selain itu ijin mengimpor itu
pun peruntukannya hanya untuk kebutuhan
sendiri. Namun, yang menjadi masalah
adalah rendahnya pengawasan penggunaan
formalin, dan realisasi sangsi hukum
terhadap produsen yang menggunakan
formalin untuk makanan
(Anonim,
2009).
Formaldehida (juga disebut metanal),
merupakan aldehida, bentuknya gas, yang
rumus kimianya H2CO. Formaldehida
awalnya disintesa oleh kimiawan Rusia
Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi
diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867.
Formaldehida
bisa
dihasilkan
dari
membakar bahan yang mengandung karbon.
Dikandung dalam asap dari kebakaran
hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau.
Dalam atmosfer bumi, formaldehida
dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan
oksigen terhadap metana dan hidrokarbon
lain yang ada di atmosfer. Formaldehida
dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan
sebagai metabolit kebanyakan organisme,
termasuk manusia. Meskipun dalam udara
bebas formaldehida berada dalam wujud
gas, tapi bisa larut dalam air (biasanya dijual
dalam kadar larutan 37% menggunakan
merk dagang formalin atau formol). Dalam
air, formaldehida mengalami polimerisasi,
sedikit sekali yang ada dalam bentuk
monomer H2CO. Umumnya, larutan ini
mengandung beberapa persen metanol untuk
membatasi polimerisasinya. Formalin adalah
larutan formaldehida dalam air, dengan
kadar antara 10%-40%
(Anonim,
2009).
Meskipun formaldehida menampilkan
sifat kimiawi seperti pada umumnya
aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada
aldehida lainnya. Formaldehida merupakan
elektrofil, bisa dipakai dalam reaksi

substitusi aromatik elektrofilik dan sanyawa


aromatik serta bisa mengalami reaksi adisi
elektrofilik dan alkena. Karena keadaannya
katalis basa, formaldehida bisa mengalami
reaksi Cannizaro menghasilkan asam format
dan metanol. Formaldehida bisa membentuk
trimer siklik, 1,3,5-trioksan atau polimer
linier polioksimetilen. Formasi zat ini
menjadikan tingkah laku gas formaldehida
berbeda dari hukum gas ideal, terutama
dalam tekanan tinggi atau udara dingin.
Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen
atmosfer menjadi asam format, karena itu
larutan formaldehida harus ditutup serta
diisolasi supaya tidak kemasukan udara
(Anonim, 2009).
Secara industri, formaldehida dibuat
dari oksidasi katalitik metanol. Katalis yang
paling sering dipakai adalah logam perak
atau campuran oksida besi dan molibdenum
serta vanadium. Dalam sistem oksida besi
yang lebih sering dipakai (proses Formox),
reaksi metanol dan oksigen terjadi pada 250
C dan menghasilkan formaldehida,
berdasarkan persamaan kimia
2CH3OH + O2 2H2CO + 2H2O.
Katalis yang menggunakan perak
biasanya dijalankan dalam hawa yang lebih
panas, kira-kira 650 C. dalam keadaan
begini, akan ada dua reaksi kimia sekaligus
yang menghasilkan formaldehida: satu
seperti yang di atas, sedangkan satu lagi
adalah reaksi dehidrogenasi
CH3OH H2CO + H2.
Bila formaldehida ini dioksidasi kembali,
akan menghasilkan asam format yang sering
ada dalam larutan formaldehida dalam kadar
ppm. Di dalam skala yang lebih kecil,
formalin bisa juga dihasilkan dari konversi
etanol, yang secara komersial tidak
menguntungkan (Anonim, 2009).
Formaldehida dapat digunakan untuk
membasmi sebagian besar bakteri, sehingga
sering digunakan sebagai disinfektan dan
juga sebagai bahan pengawet. Sebagai
disinfektan, Formalin dimanfaatkan untuk
pembersih : lantai, kapal, gudang dan
pakaian. Formaldehida juga dipakai sebagai
pengawet dalam vaksinasi. Dalam bidang
medis, larutan formaldehida dipakai untuk
mengeringkan kulit, misalnya mengangkat
kutil. Larutan dari formaldehida sering
dipakai dalam membalsem untuk mematikan

bakteri serta untuk sementara mengawetkan


bangkai. Dalam industri, formaldehida
kebanyakan dipakai dalam produksi polimer
dan rupa-rupa bahan kimia. Kalau
digabungkan dengan fenol, urea, atau
melamin, formaldehida menghasilkan resin
termoset yang keras. Resin ini dipakai untuk
lem permanen, misalnya yang dipakai untuk
kayulapis/tripleks atau karpet. Juga dalam
bentuk busa-nya sebagai insulasi. Produksi
resin formaldehida menghabiskan lebih dari
setengahnya dari produksi formaldehida
(Anonim, 2009).
Untuk mensintesa bahan-bahan kimia,
formaldehida misalnya dipakai untuk
produksi alkohol polifungsional seperti
pentaeritritol, yang dipakai untuk membuat
cat bahan peledak. Turunan formaldehida
yang lain adalah metilen difenil diisosianat,
komponen penting dalam cat dan busa
poliuretan, serta heksametilen tetramina,
yang dipakai dalam resin fenol-formaldehida
untuk membuat RDX (bahan peledak).
Sebagai formalin, larutan senyawa kimia ini
sering digunakan sebagai insektisida, serta
bahan baku pabrik-pabrik resin plastik dan
bahan peledak. Kegunaan lain :
1. Pengawet mayat.
2. Pembasmi lalat dan serangga pengganggu
lainnya.
3. Bahan pembuatan sutra sintetis, zat
pewarna, cermin, kaca.
4. Pengeras lapisan gelatin dan kertas dalam
dunia Fotografi.
5. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk
urea.
6. Bahan untuk pembuatan produk parfum.
7. Bahan pengawet produk kosmetika dan
pengeras kuku.
8. Pencegah korosi untuk sumur minyak
9. Dalam konsentrat yang sangat kecil
(kurang dari 1%), Formalin digunakan
sebagai pengawet untuk berbagai barang
konsumen seperti pembersih barang rumah
tangga, cairan pencuci piring, pelembut
kulit, perawatan sepatu, shampoo mobil,
lilin, dan pembersih karpet (Anonim, 2009).
Karena resin formaldehida dipakai
dalam bahan konstruksi seperti kayu
lapis/tripleks, karpet, dan busa semprot dan
isolasi, serta karena resin ini melepaskan
formaldehida pelan-pelan, formaldehida
merupakan salah satu polutan dalam ruangan

yang sering ditemukan. Apabila kadar di


udara lebih dari 0.1 mg/kg, formaldehida
yang terhisap bisa menyebabkan iritasi
kepala dan membran mukosa, yang
menyebabkan keluar air mata, pusing,
teggorokan serasa terbakar, serta kegerahan.
Kalau terpapar formaldehida dalam jumlah
banyak,
misalnya
terminum,
bisa
menyebabkan kematian. Dalam tubuh
manusia, formaldehida dikonversi jadi asam
format yang meningkatkan keasaman darah,
tarikan nafas menjadi pendek dan sering,
hipotermia, juga koma, atau sampai kepada
kematiannya. Di dalam tubuh, formaldehida
bisa menimbulkan terikatnya DNA oleh
protein, sehingga mengganggu ekspresi
genetik yang normal. Binatang percobaan
yang menghisap formaldehida terus-terusan
terserang kanker dalam hidung dan
tenggorokannya, sama juga dengan yang
dialami oleh para pegawai pemotongan
papan artikel. Tapi, ada studi yang
menunjukkan apabila formaldehida dalam
kadar yang lebih sedikit, seperti yang
digunakan
dalam
bangunan,
tidak
menimbulkan
pengaruh
karsinogenik
terhadap makhluk hidup yang terpapar zat
tersebut (Anonim, 2009).
Ciri makanan berformalin:
1. Mi basah:
a. Bau sedikit menyengat.
b. Awet, tahan dua hari dalam suhu kamar
(25 Celsius).Pada suhu 10 derajat C atau
dalam lemari es bisa tahan lebih 15 hari.
c. Mi tampak mengkilat (seperti berminyak),
liat (tidak mudah putus), dan tidak lengket.
2. Tahu:
a. Bentuknya sangat bagus.
b. Kenyal
c. Tidak mudah hancur dan awet (sampai
tiga hari pada suhu kamar 25 derajat
Celcius). Pada suhu lemari es 10 derajat
Celcius tahan lebih dari 15 hari.
d. Bau agak menyengat.
e. Aroma kedelai sudah tak nyata lagi.
3. Ikan:
a. Warna putih bersih.
b. Kenyal.
c. Insangnya berwarna merah tua dan bukan
merah
segar.
d. Awet (pada suhu kamar) sampai beberapa
hari dan tidak mudah busuk.

e. Tidak terasa bau amis ikan, melainkan ada


bau menyengat.
4. Bakso:
a. Kenyal.
b. Awet, setidaknya pada suhu kamar bisa
tahan sampai lima hari.
5. Ikan asin:
a. Ikan berwarna bersih cerah.
b. Tidak berbau khas ikan.
c. Awet sampai lebih dari 1 bulan pada suhu
kamar (25 derajat C).
d. Liat (tidak mudah hancur).
6. Ikan Asin potong:
a. Berwarna putih bersih.
b. Tidak mudah busuk atau awet dalam
beberapa hari.
BAHAN, ALAT, DAN METODE
PERCOBAAN
Bahan yang Digunakan
Bahan
yang
digunakan
dalam
identifikasi
sulfur
peroksida
adalah
Hemaviton Jreng, aquadest, dan larutan I2.
Bahan yang digunakan dalam analisis
siklamat adalah Hemaviton Jreng, aquadest,
larutan NaOH 10%, larutan BaCl2, larutan
HCl 6N, dan NaNO3.
Bahan yang digunakan dalam analisis
natrium benzoat adalah Hemaviton Jreng,
aquadest, larutan HCl 6N, petroleum eter,
dan larutan FeCl3.
Bahan yang digunakan dalam analisis
zat pewarna adalah Hemaviton Jreng,
aquadest, larutan HCl 6N, bulu domba,
larutan HCl pekat, H2SO4 pekat, NH4OH
10N, dan larutan NaOH 10N.
Bahan
yang
digunakan
dalam
percobaan analisis boraks adalah Bakso
Ayam, aquadest, HCl 6N, dan metanol.
Bahan
yang
digunakan
dalam
percobaan analisis formalin adalah Ikan
Asin, aquadest, dan asam kromatofat.
Alat yang Digunakan
Alat
yang
digunakan
dalam
identifikasi sulfur peroksida adalah neraca
digital, gelas kimia, erlenmeyer, corong,
kertas saring, dan pipet tetes.

Alat yang digunakan dalam analisis


siklamat adalah neraca digital, erlenmeyer,
gelas kimia, dan pipet tetes.
Alat yang digunakan dalam analisis
natrium benzoat adalah neraca digital,
erlenmeyer, corong pisah, gelas kimia, pipet
tetes, gelas ukur, pipet volume, bunsen, dan
cawan porselen (waterbath).
Alat yang digunakan dalam analisis
zat pewarna adalah neraca digital,
erlenmeyer, gelas ukur, gelas kimia, pipet
tetes, bunsen, dan plat tetes.
Alat yang digunakan dalam percobaan
analisis boraks adalah neraca digital, gelas
kimia,
erlenmeyer,
bunsen,
cawan
porselen/waterbath, pipet volume, korek api,
dan tang krus.
Alat yang digunakan dalam percobaan
analisis formalin adalah neraca digital, gelas
kimia, erlenmeyer, alat destilasi, tabung
reaksi, bunsen, tang krus, dan pipet volume.
Metode Percobaan
Metode Percobaan Analisis Sulfur
Peroksida (SO2)
2 g sampel Hemaviton Jreng
ditimbang dan dilarutkan ke dalam 15 ml
aquadest kemudian diaduk. Larutan disaring
dan fiiltrat dibagi dua (yang satu untuk
identifikasi siklamat dan yang satunya untuk
identifikasi SO2). Kemudian ditambahkan 5
tetes I2 dan perubahan warna diamati setelah
10 menit. Apabila positif, warna coklat
hilang dan dilanjutkan ke analisis
kuantitatifnya. Apabila negatif, warna coklat
tidak hilang.

2 gr sampel Okky Jelly Apel


+ 15 ml aquadest
aduk

Saring
filtart dibagi dua (untuk identifikasi
siklamat & untuk identifikasi So2)

5 tetes I2
biarkan 10 menit

(+) Coklat hilang


(-) Coklat tidak hilang

Gambar 1. Metode Percobaan Identifikasi


SO2
5 gr sampel Okky Jelly Apel
+ 75 ml aquadest bebas Co2

+ 10 ml H2SO4 6N
+ 1 ml amilum 1%

I2

TAT : Biru

Perhitungan :
N I2 =
mg As2O3
V I2 x BE As 2O3
% So2 = (VN) I 2 x 32 x 1000
Ws

Gambar 2. Metode Percobaan Penentuan


Kadar SO2
5 g sampel Hemaviton Jreng
dilarutkan ke dalam 75 ml aquadest bebas
CO2, ditambahkan 10 ml H2SO4 6N dan 1
ml amilum 1%, kemudian dititrasi dengan I 2
sampai TAT biru.

Metode Percobaan Analisis Siklamat


Sampel yang telah dibagi dua dengan
identifikasi SO2 dimasukkan ke dalam
erlenmeyer ditambah 0,5 ml NaOH 10%,
diaduk, ditambahkan dengan 2 ml BaCl2, 5
ml HCl 6 N dan 0,2 gr NaNO3. Perubahan
diamati, jika terbentuk endapan putih maka
hasilnya positif.

+ filtrat sampel Okky Jelly Apel


+ 0,5 ml NaOH 10%, aduk
+ 2 ml BaCl2
+ 5 ml Hcl 6N
+ 0,2 gr NaNO3

Amati, (+) jika terbentuk endapan putih


Gambar 3. Metode Percobaan Analisis
Siklamat
Metode Percobaan Analisis Natrium
Benzoat
2 gr sampel Hemaviton Jrengditimbang
dan dilarutkan dengan aquadest ditambah
HCl 6N (sampai asam) dalam erlenmeyer.
Kemudian diekstraksi 5 kali dengan
menggunakan pelarut petroleum eter
sebanyak 5 ml, lapisan atas yang terpisah
dipipet. Lapisan yang telah dipipet, diuapkan
di
waterbath
sampai
kering,
lalu
ditambahkan dengan HCl 6N (sampai asam),
aquadest 10 tetes dan 25 tetes FeCl 3.
Perubahannya diamati, jika warna merah
coklat maka hasilnya positif.

2 gr sampel Okky Jelly Apel


+ Hcl 6N (sampai asam)

Ekstrak 5x + 5 ml petroleum eter


Lapisan atas dipipet

dalam erlenmeyer. Bulu domba dimasukkan


ke larutan tersebut, dipanaskan selama 10
menit. Setelah itu, bulu domba dicuci
dengan aquadest jika warna hilang berarti
pewarna alami. Jika tidak, bulu domba
dibagi empat, diletakkan pada plat tetes,
setiap bagian diteteskan masing-masing
dengan HCl pekat, H2SO4 pekat, NaOH
10N, dan NH4OH 10N.
Metode Percobaan Analisis Boraks

Uapkan di waterbath sampai


kering

+ 5 gram sampel Dim Sum


+ aquadest
+ Hcl 6N (sampai asam)

+ Hcl 6N (sampai asam)


+ aquadest
+ 25 tetes FeCl3
Cawan porselen
Amati, (+) warna merah coklat

Gambar 4. Metode Percobaan Analisis


Natrium Benzoat

Kisatkan
dinginkan

Metode Percobaan Analisis Zat Pewarna


+ 5 gr sampel Okky Jelly Apel
+ 50 ml aquadest
+ 5 ml Hcl 6N (sampai asam)

Bulu domba
panaskan 10 menit

Bulu domba cuci dg aquadest


jika warna hilang (pewarna alami)
Jika tidak hilang, bulu domba dibagi empat
Hcl (p)
H2SO4 (p)
NH4OH 10N
NaOH 10N
Amati warna yg terbentuk
bandungkan dg tabel

Gambar 5. Metode Percobaan Analisis Zat


Pewarna
5 gr sampel Hemaviton Jreng
ditimbang dan dilarutkan dengan 50 ml
aquadest dan 5 ml HCl 6N (sampai asam) di

+ Hcl 6N (sampai asam)


+ 5 ml metanol

Bakar dengan korek


Amati, (+) warna api hijau
Gambar 6. Metode Percobaan Analisis
Boraks
Sebanyak 5 g sampel Bakso Ayam
ditimbang dan dilarutkan dengan aquadest,
ditambahkan HCl 6N (sampai asam),
dikocok dan dikisatkan dengan waterbath.
Kemudian ditambahkan HCl 6N (sampai
asam) dan 5 ml methanol kemudian dibakar
dengan korek. Perubahan diamati, hasil (+)
timbul warna api hijau setelah dibakar.

Metode Percobaan Analisis Formalin


+ 100 gram sampel Ikan Cucut
+ aquadest
+ 1 ml HPO3

Destilat

+ 1 ml destilat
+ 5 ml asam mkromatofat
homogenkan

Panaskan 30 menit
(+) terbentuk warna ungu

Gambar 7. Metode Percobaan Analisis


Formalin
100 gr sampel Ikan Asin ditimbang,
dihaluskan, dan dilarutkan dengan 100 ml
aquadest serta 1 ml HPO3 ke larutan
tersebut. Disiapkan seperangkat alat destilasi
makro dengan menggunakan kondensor,
bola kaca pengaman, adapter panjang pada
ujung kondensor. Erlenmeyer diletakkan
hingga ada destilatnya sebanyak 10 ml, lalu
dipindahkan ke tabung reaksi sebanyak 1 ml
destilat dan ditambahkan 5 ml asam
kromatofat, dihomogenkan. Tabung reaksi
dipanaskan selama 30 menit, perubahan
diamati, jika terbentuk warna ungu (+)

positif menandakan sampel Ikan Asin


tersebut mengandung formalin.
HASIL PENGAMATAN DAN
PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan percobaan analisis
food additive dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Analisis Food
Additive
Metode
Sampel
Hasil Analisis
(-) Warna
coklat tidak
hilang, berarti
SO2
sampel tidak
mengandung
Hemaviton
SO2
Jreng
(-) Terbentuk
endapan putih,
Siklamat
berarti sampel
mengandung
siklamat
(+) Terbentuk
merah coklat,
Natrium
berarti sampel
Benzoat
mengandung
Natrium
Benzoat
HCl
(kemerahan)
Hemaviton
H2SO4 (coklat)
Jreng
NaOH (tidak
berubah)
Zat
NH4OH
Pewarna
(Kecoklatan),
berarti sampel
mengandung
pewarna Sunset
Yellow FDF
(-) Tidak
terbentuk
warna api
Analisis
Bakso
hijau, berarti
Boraks
Ayam
sampel tidak
mengandung
boraks.
(+) Karena
terbentuk
Analisis
Ikan Asin senyawa ungu,
Formalin
berarti sampel
mengandung

formalin.

(Sumber : Meja 6, Kelompok I)


Pembahasan
Berdasarkan percobaan analisis food
additive yang telah dilakukan maka didapat
hasil bahwa pada identifikasi SO2 dengan
sampel Hemaviton Jreng hasilnya negatif.
Analisis siklamat pada sampel Hemaviton
Jreng hasilnya adalah positif. Analisis
natrium benzoat pada sampel Hemaviton
Jreng hasilnya negatif. Analisis zat pewarna
pada sampel Hemaviton Jreng hasilnya
positif menggunakan Sunset Yellow FDF.
Analisis boraks dengan sampel Bakso Ayam
memberikan hasil negatif yang ditandai
dengan tidak terbentuknya api warna hijau,
berarti
sampel
Bakso
Ayamtidak
mengandung boraks. Pada analisis formalin
dengan sampel Ikan Asin memberikan hasil
negatif yang ditandai dengan terbentuknya
senyawa ungu yang berarti sampel Ikan Asin
tidak mengandung formalin.
Dalam penetapan kadar SO2 dilakukan
pada
suasana
asam
yaitu
dengan
penambahan HCl dan H2SO4 disebabkan
karena bentuk efektif dari belerang dioksida
ialah asam sulfit yang tak terdisosiasi dan
terutama terbentuk pada pH dibawah 3.
Molekul sulfit lebih mudah menembus
dinding sel mikroba, bereaksi dengan
asetaldehida membentuk senyawa yang tak
dapat difermentasi oleh enzim mikroba,
mereduksi ikatan disulfida enzim, dan
bereaksi
dengan
keton
membentuk
hidroksisulfonat yang dapat menghambat
mekanisme pernapasan
(Winarno, 1997, Hal. 225).
Kandungan SO2 pada sampel ada atau
tidaknya dapat dilihat dari hilangnya warna
coklat. Hal ini disebabkan karena selain
sebagai pengawet, sulfit dapat bereaksi
dengan gugus karbonil yaitu dengan
penambahan CaCl2. kemudian bereaksi,
Hasil reaksi itu akan mengikat melanoidin
sehingga mencegah timbulnya warna coklat
(Winarno, 1997, Hal. 225).
Hemaviton Jreng merupakan sampel
yang digunakan pada penetapan pemanis

sintetik. Pada percobaan ini larutan


diasamkan dengan HCl, ditambahkan
dengan larutan BaCl2, dan digunakan larutan
NaNO3 yang bertujuan untuk menjernihkan
larutan tersebut.
Di Indonesia penggunaan siklamat
masih diijinkan, tetapi sebenarnya hasil
metabolisme siklamat yaitu sikloheksamina
merupakan
senyawa
karsinogenik,
pembuangan sikloheksamina melalui urin
dapat merangsang tumbuhnya tumor
kandung
kemih
pada
tikus
(Winarno, 1997, Hal. 218).
Karena tidak mempertimbangkan
toksisitas sinergis, maka level yang aman
untuk penggunaan pemanis buatan hanya 45
persen nilai ADI. Siklamat pada manusia
mempunyai nilai ADI maksimun 11 mg/kg
berat badan (BB). Jadi kalau pada anak
ditemukan siklamat 240 persen ADI, berarti
kandungan pemanis buatan itu sudah
mencapai 240 persen/0,45 = 533,3 persen.
Jika dikonversikan, berarti kandungan
siklamat sebesar 5,333 x 11 mg/kg = 58,63
mg/kg BB
(Indriasari, 2009).
Pemanis buatan banyak menimbulkan
bahaya bagi kesehatan manusia. Siklamat
dan sakarin dapat menyebabkan kanker
kandung kemih dan migrain. Siklamat
memunculkan banyak gangguan bagi
kesehatan, di antaranya tremor, migrain dan
sakit kepala, kehilangan daya ingat,
bingung, insomnia, iritasi, asma, hipertensi,
diare, sakit perut, alergi, impotensi dan
gangguan seksual, kebotakan, dan kanker
otak (Indriasari, 2009).
Bahan
yang
digunakan
dalam
penentuan zat warna atau spot test adalah
bulu domba. Karena bahan tersebut
memiliki
bahan
yang
lebih
kuat
dibandingkan dengan bahan-bahan lainnya.
Terutama pada saat pemanasan, maka serat
domba tidak akan hilang atau rusak. Selain
itu warna putih yang tedapat pada bulu
domba berfungsi sebagai penyerap zat warna
dari sampel akan terserap semua apabila
warna bulu tersebut putih dan tidak rusak
karena bulu domba mengandung keratin.
Selain bulu domba juga dapat menggunakan
kuku untuk identifikasi warna.
Pada percobaaan analisis zat warna
dengan sampel Hemaviton Jreng diketahui
bahwa sampel tersebut menggunakan Sunset

Yellow FDF. Zat pewarna ini termasuk


triphenylmethane dye, merupakan tepung
berwarna ungu perunggu. Bila dilarutkan
dalam air menghasilkan warna hijau
kebiruan, larut dalam glikol dan gliserol,
agak larut dalam alkohol 95%. Zat pewarna
ini tahan terhadap asam asetat, tetapi agak
luntur oleh cahaya. Agak tahan terhadap HCl
10%, tetapi, menjadi berrwarna kehijauan,
sedangkan dalam HCl 30% menjadi hijau
kekuningan. Agak tahan terhadap NaOH
10% dalam NaOH 30% akan membentuk
merah anggur. Tehadap alkali lain warna
menjadi merah pada suhu tinggi. Lebih
tahan terhadap reduktor dibandingkan
dengan golongan azo dyes dan zat warna ini
tidak terpengaruh oleh gula invert,
sedangkan amaranth akan kehilangan
warnanya. Zat warna ini tidak terpengaruh
oleh Ca maupun Al (Winarno, 1997, Hal.
191).
Zat pewarna juga digunakan sebagai
zat diagnostic, desinfektan dan, zat dalam
proses pengobatan. Zat warna merah, seperti
garam aluminium atau kalsium dari zat
warna larut air, sering kali ditambahkan pada
aluminium hidroksida, dan sering digunakan
sebagai pewarna pada tablet dan gelatin
pada kapsul. Stabilitas warna dari zat
pewarna dipengaruhi oleh cahaya, pH,
oksidator, reduktor, dan surfaktan (Anonim,
2009).
Berdasarkan SNI tahun 1990, batas
maksimum penggunaan Sunset Yellow FDF
pada es krim dan sejenisnya 100 mg/kg
produk akhir (total campuran pewarna 300
mg/kg), pada kapri kalengan (100 mg/kg.
Tunggal atau campuran dengan pewarna
lain), pada ercis kalengan (200 mg/kg,
tunggal atau campuran dengan pewarna
lain), pada acar ketimun dalam botol (300
mg/kg, tunggal atau campuran dengan
pewarna lain), pada jem dan jeli saus apel
kalengan (200 mg/kg, tunggal atau
campuran dengan pewarna lain), dan pada
makanan lain (100 mg/kg, tunggal atau
campuran dengan pewarna lain).
Natrium benzoat berupa granul atau
serbuk hablur berwarna putih, tidak berbau
dan stabil di udara. Mudah larut dalam air,
agak sukar larut dalam etanol dan lebih
mudah larut dalam etanol 90%. Kelarutan
dalam air pada suhu 25oC sebesar 660 gr/L

dengan bentuk yang aktif sebagai pengawet


sebesar 84,7% pada range pH 4,8.
Asam benzoat merupakan bahan
pengawet yang luas penggunaannya dan
sering digunakan pada bahan makanan yang
asam. Bahan ini digunakan untuk mencegah
pertumbuhan khamir dan bakteri. Benzoat
efektif pada pH 2,5-4,0. Karena kelarutan
garamnya lebih besar, maka biasa digunakan
dalam bentuk garam Na-benzoat. Sedangkan
dalam bahan, garam benzoat terurai menjadi
bentuk efektif yaitu bentuk asam
benzoat yang tidak terdisosiasi. Penggunaan
asam benzoat dibatasi dalam hampir semua
produk buah-buahan dan sering digunakan
bersama-sama dengan belerang dioksida.
Asam benzoat lebih efektif terhadap khamir
dan bakteri daripada kapang dan pada
konsentrasi diatas 25 mg/l asam
yang
tidak terurai akan
menghambat
pertumbuhan
kapang
(Winarno, 1997, Hal. 224).
Di dalam tubuh, asam benzoat
akan dimetabolisme di dalam liver.
Pada organ ini, asam benzoat bereaksi
dengan asam amino glisin, membentuk
asam hipurat. Selanjutnya, produk asam
hipurat ini dikeluarkan lewat urine.
Mekanisme ini bisa mengeluarkan 66 95% benzoat dari dalam tubuh. Sisa
benzoat yang masih tertinggal akan
dimetabolisme dengan bantuan asam
glukoronat.
Lewat
dua
jalur
metabolisme ini, benzoat dikeluarkan
dari dalam tubuh. Sepanjang tidak ada
gangguan liver, benzoat tidak akan
terakumulasi (Solekhudin, 2007).
Meski kandungan bahan pengawet
rata-rata tidak terlalu besar, akan tetapi jika
dikonsumsi terus menerus dan berakumulasi,
akan menimbulkan efek terhadap kesehatan.
Bahan pengawet pada dasarnya merupakan
bahan yang ditambahkan pada makanan
untuk menghambat terjadinya kerusakan
atau pembusukan makanan dan minuman.
Penggunaan pengawet terutama dilakukan
oleh perusahaan yang memproduksi
minuman mudah rusak. Dengan pemberian
pengawet tersebut, produk minuman
diharapkan
dapat terpelihara
kesegarannya. Selama ini, ada tiga
kelompok produk yang beredar di pasaran.
Pertama, produk yang tidak menggunakan

bahan pengawet. Kedua, produk yang


menggunakan
bahan
pengawet
dan
mencantumkan pada label makanan. Ketiga,
menggunakan bahan pengawet tapi tak
mencantumkan pada kemasan. Padahal,
adanya label yang mencantumkan komposisi
kandungan bahan pada produk tadi, amatlah
penting. Maka dari itu, pemerintah melalui
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan Depkes, harus bertindak tegas
dengan mencabut izin produk minuman
yang tidak sesuai ketentuan (Anonim, 2009).
Berbagai jenis penyakit bisa timbul
akibat akumulasi dari bahan tersebut dalam
tubuh. Seperti, kanker dan menyebabkan
systemic lupus erythematosus (SLE), dan
sebagainya.
Dengan
begitu,
dia
mengharapkan agar masyarakat lebih kritis
dan berhati-hati dalam membeli produk
minuman atau makanan kemasan antara lain
dengan meneliti lebih dahulu komposisi
kandungan bahan pada label kemasan
(Anonim, 2009).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan percobaan analisis food
additive yang telah dilakukan maka didapat
hasil bahwa pada identifikasi SO2 dengan
sampel Hemaviton Jreng hasilnya negatif.
Analisis siklamat pada sampel Hemaviton
Jreng hasilnya adalah positif. Analisis
natrium benzoat pada sampel Hemaviton
Jreng hasilnya negatif. Analisis zat pewarna
pada sampel Hemaviton Jreng hasilnya
positif menggunakan Sunset Yellow FDF.
Identifikasi boraks pada sampel Bakso Ayam
hasilnya negatif. Identifikasi formalin pada
sampel Ikan Asin hasilnya negatif.
Saran
Dalam melakukan penelitian, praktikan
harus hati-hati dalam menimbang. Juga
prosedur penelitiannya harus diperhatikan
dengan baik. Sebelum melakukan penelitian,
hendaknya alat-alat yang akan digunakan
dicuci terlebih dahulu, agar mendapatkan
hasil yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (2007), Pengetahuan Keamanan


Pangan:
Tentang
Pewarna,
www.google.com, Akses: 27/05/08,
Bandung.
Anonim, (2009), Bahan Tambahan
Makanan, www.google.com, Akses :
27/05/08, Bandung.
Anonim, (2009), Banyak Minuman
Kemasan Tak Cantumkan Bahan
Pengawet,
www.republika.co.id,
Akses : 27/05/08, Bandung.
Anonim, (2009), Kajian Keamanan Bahan
Tambahan Pangan Pemanis Buatan,
www.google.com, Akses : 27/05/08,
Bandung.
Anonim,
(2009),
Bleng,
http://id.wikipedia.org/wiki/Bleng,Aks
es: 27/05/08, Bandung.
Anonim, (2009), Borax, www.google.com,
Akses : 27/05/08, Bandung.
Anonim,
(2009),
Formalin,
http://id.wikipedia.org/wiki/Formalin,
Akses: 27/05/08, Bandung
Anonim, (2009), Formalin dan Boraks,
http://id.wikipedia.org/wiki/Bloraksda
nFormalin,
Akses
:
27/05/08,
Bandung.
Anonim,
(2009),
Formalin...hati-hati
lho....,http://tafakur2005.blogsome.co
m/2006/01/01/formalin-hati-hati
lho/trackback/, Akses : 27/05/08,
Bandung.
Cahyadi, Wisnu., (2006), Analisis & Aspek
Kesehatan : Bahan Tambahan
Pangan, PT Bumi Akasara, Jakarta.
deMan. John M., (1997), Kimia Makanan,
ITB, Bandung.
Harmita, (2009), Amankah Pengawet
Makanan
Bagi
Manusia?,
www.google.com, Akses : 27/05/08,
Bandung.
Indriasari, Lusiana., (2009), Si Manis yang
Perlu
Diwaspadai,
www.kompas.com, Akses: 27/05/08,
Bandung.

Solekhudin, (2007), Tidak


Semua
Pengawet
Berbahaya,
www.kompas.com, Akses : 27/05/08,
Bandung.
Winarno F.G., (1997), Kimia Pangan dan
Gizi, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.

Оценить