You are on page 1of 5

Tugas 1 ~ Senin, 14 September 2015

Metode Berpikir Abduksi


Logika dan Bahasa
Dr. Stephanus Djunatan
Disusun oleh:
Stanislaus Ryo Zenna
METODE BERPIKIR ABDUKSI
INFERENCE BY THE BEST EXPLANATION
Tugas utama dari Proses Ilmu Pengetahuan ialah mengumpulkan data, serta mencarikan
dan menemukan penjelasan atau eksplanasi atas data itu (Keraf dan Dua, 2001: 91). Dengan kata
lain, diperlukan suatu pemikiran untuk dapat menjelaskan data yang ditemukan. Inilah yang
terjadi dalam proses berpikir para ilmuwan. Mereka senantiasa berusaha menemukan hipotesa
yang paling mendekati kebenaran untuk menjelaskan fenomena atau data. Proses berpikir yang
senantiasa terbuka untuk mencari dan merumuskan hipotesis itu yang disebut sebagai metode
berpikir abduksi (Keraf dan Dua, 2001: 92).
Charles Sanders Peirce dan Metode Abduksi
Charles Sanders Peirce 1839-1914 adalah seorang filsuf pragmatis Amerika yang
berusaha mengembangkan tiga bentuk dasar metode berpikir ilmiah; yaitu induksi, deduksi,
dan abduksi (Psillos, 2011: 1). Pada artikel ini, secara khusus akan dibahas mengenai metode
berpikir abduksi. Pemikiran Peirce tentang abduksi merupakan suatu proses yang panjang. Ia
mempublikasikan pemikirannya dalam bentuk paper-paper ilmiah berseri yang dikenal luas
sejak tahun1893 (Keraf dan Dua, 2001: 92). Meskipun konsep mengenai abduksi diperkenalkan
pertama kali oleh Aristoteles, Peirce berusaha mengembangkan konsep itu secara eksplisit
menjadi suatu teori inferensi. Ia beranggapan bahwa model-model inferensi tradisional
induksi dan deduksiharus dilengkapi dengan model yang ketiga, yakni abduksi. Ia
menyatakan abduksi sebagai model inferensi yang berbeda secara kualitatif dengan dua model
yang lain.
Peirce menyadari bahwa abduksi lebih dari sekadar suatu bentuk logis. Abduksi
merupakan tahap pertama dari penelitian ilmiah. Minat penelitian ilmuwan berawal dari
keheranannya terhadap peristiwa atau fakta, yang kemudian membangkitkan keraguan,
pertanyaan dalam diri peneliti untuk mencari penjelasan atau hipotesis. Oleh karena itu,
Abduksi sebenarnya merupakan suatu bentuk silogisme yang bertolak dari fakta atau kasus.
Bertolak dari fakta tersebut, suatu hipotesis dirumuskan untuk dapat menjelaskan fakta itu
sendiri. Hipotesis tersebut mengandung makna general atau universal. Jika salah satu fakta
menentang hipotesis tersebut, maka hipotesis lain harus diajukan lagi. (Keraf dan Dua, 2001:
92).
Peirce (1994: CP 5.171 Cross-Ref:) mengatakan,Abduction is the process of forming
an explanatory hypothesis. It is the only logical operation which introduces any new idea.
Maka, abduksi haruslah berfungsi menawarkan suatu hipotesis yang dapat memberikan

Tugas 1 ~ Senin, 14 September 2015


Metode Berpikir Abduksi
penjelasan (eksplanasi) terhadap fakta-fakta itu. Dalam hal ini, Keraf dan Dua (2001:93)
berusaha menguraikan kembali dua ciri abduksi yang telah diterangkan oleh Peirce. Pertama,
abduksi menawarkan suatu hipotesis yang memberikan eksplanasi yang probable (hipotesis
yang diberikan merupakan satu kemungkinan penjelasan, yang hanya berfungsi sebagai
konjektur atau dugaan). Oleh karena itu, kebenaran hipotesis itu harus dapat dibuktikan melalui
proses verifikasi. Diandaikan bahwa jika penjelasan atas fakta benar, maka fakta-fakta yang
diobservasi akan dapat dijelaskan dengan benar. Kedua, hipotesis dalam proses berpikir abduksi
itu dapat memberikan eksplanasi terhadap fakta-fakta lain yang belum dijelaskan dan bahkan
tidak dapat diobservasi secara langsung. Pandangan anti-positivis Peirce ini mengartikan bahwa
setiap hipotesis memang harus diverifikasi, namun hal itu tidak perlu dibuktikan dengan
observasi langsung (direct obesrvability). Hipotesis itu sudah memiliki adekuasi jika dapat
menjelaskan fakta yang diobservasi dan jika ada kemungkinan untuk diverifikasikan melalui
pengalaman di masa depan. Hipotesis yang telah lulus dari proses verifikasi tidak hanya dapat
menjelaskan fakta yang dapat diamati, tetapi juga fakta yang tidak dapat diamati dalam waktu
dan tempat yang sama.
Peirce dalam paper-papernya beberapa kali meletakkan teori Kopernikus mengenai
heliosentris sebagai contoh teori yang besar, yang memunculkan revolusi ilmiah berdasarkan
pengalaman empiris dan sistem matematika. Teori Kopernikus itu di kemudian hari menjadi
dasar ilmu-ilmu turunan pengukuran matematis lain, seperti Galileo, Kepler, Newton, dan
bahkan teori genetika Mendel yang menjadi pintu gerbang penelitian lanjutan teori genetika
modern (bdk. dengan uraian Peirce dalam CP 1.72; CP 1.80; CP 4.31; CP 5.84, CP 5.85, CP
5.362; CP 7.87 Cross-Ref:). Dalam hal ini Peirce melihat bahwa ada dua segi penting dalam
ilmu pengetahuan: pengalaman dan imajinasi (bdk. Keraf dan Dua, 2001: 94).Baginya,
kemampuan imajinasi manusia merupakan suatu loncatan dari pengalaman dan data kepada
suatu plausibility (kemasuk-akalan atas data atu pengalaman itu); dengan syarat imajinasi itu
senantiasa diarahkan pada pengalaman atau observasi yang mencetuskan loncatan imajinasi.
Korelasi Antara Deduksi, Induksi, dan Abduksi
Untuk mempermudah pemahaman mengenai metode abduksi ini, Peirce (1994: CP 2.623
Cross-Ref:) membuat suatu contoh yang memperbanding antara metode berpikir deduksi,
induksi, dan abduksi. Ia menyebutkan premis-premis dan kesimpulan dari suatu inferensi
dengan menggunakan istilah aturan (rule) sebagai suatu pernyataan abstrak atau pernyataan
umum, kasus (case) sebagai pernyataan khusus yang berhubungan, dan hasil/kesimpulan
(result) sebagai hasil observasi secara empiris. Berikut ini penggambaran Peirce:
Deduksi
Rule.--All the beans from this bag are white.
Case.--These beans are from this bag.
..Result.--These beans are white.
Induksi
Case.--These beans are from this bag.

Tugas 1 ~ Senin, 14 September 2015


Metode Berpikir Abduksi
Result.--These beans are white.
..Rule.--All the beans from this bag are white
Abduksi
Rule.--All the beans from this bag are white.
Result.--These beans are white.
..Case.--These beans are from this bag.
Dalam perumusan matematis (Psillos, 2011: 8) menjadi:
Deduksi: {All As are B; a is A; therefore, a is B}
Induksi: {a is A; a is B; therefore All As are B}
Abduksi: {a is B; All As are B; therefore a is A}
Dari contoh tersebut dapat dijelaskan keterkaitan dari ketiga metode/model inferensi itu.
Induksi memiliki inferensi yang terdiri dari sebuah aturan, pemberian suatu kasus spesifik yang
bersifat pra-kondisi, dan sebuah kesimpulan. Inferensi ini memunculkan generalisasi:
pernyataan-pernyataan partikular/khusus menjelaskan suatu hukum, aturan, atau bentuk-bentuk
umum. Dalam deduksi, penarikan kesimpulan mengikuti premis-premis yang perlu dan ada
(tidak demikian halnya dalam induksi). Dapat diuraikan dari contoh diatas bahwa hanya kacang
yang berada dalam kantong itu yang berwarna putih (yang berada diluar kantong berwarna lain).
Sedangkan, dalam abduksi terjadi proses menjelaskan suatu kasus berdasarkan aturan dan
hasilnya. Seperti induksi, inferensi ini juga bersifat probabel dan tidak memiliki kepastian. Kacangkacang itu pada kenyataan dapat datang dari sebuah kantong yang berisi kacang-kacang
beranekaragam atau dari sebuah kantong lain yang tidak dijelaskan secara detil (Svennevig, 1997:
2).
Melihat kenyataan ini, Peirce mengembangkan metode abduksi sebagai suatu proses untuk
memperoleh pengetahuan baru. Ia menciptakan suatu bentuk (form) dalam metode abduksi, yakni:
The surprising fact, C, is observed;
But if A were true, C would be a matter of course,
Hence, there is reason to suspect that A is true.
Ia juga menetapkan suatu tingkatan metode berpikir untuk dapat mencapai suatu pengetahuan
ilmiah, sebuah korelasi dari ketiga model inferensi, sebagai berikut.
First stage
: Abduction (adopt a hypothesis on probation)
Second stage
: Deduction (spell out the necessary and probable experimental
consequences)
Third stage
: Induction (assess the plausibility of the hypothesis on the basis of
observed results of predictions)
(Svennevig, 1997: 4)
Syarat-Syarat Pemilihan Hipotesis dalam Metode Abduksi
Perumusan dan pemilihan hipotesis dalam abduksi bukanlah sebuah proses yang dapat
dilakukan begitu saja, tanpa syarat. Maka, muncul persoalan dasar abduksi, yaitu alasan logis mana
sehingga sehingga hipotesis A lebih preferable, lebih pantas diuji dibandingkan dengan hipotesis
B. Syarat-syarat manakah yang harus diperhatikan sehingga suatu hipotesis lebih pantas

Tugas 1 ~ Senin, 14 September 2015


Metode Berpikir Abduksi
diperhatikan dibandingkan dengan hipotesis lainnya (Keraf dan Dua, 2001: 94). Peirce
mengungkapkan sekurang-kurangnya tiga syarat yang harus dipenuhi agar suatu hipotesis layak
diperhatikan dalam abduksi. Pertama, hipotesis itu harus dapat menjelaskan fakta-fakta yang

diobservasi (bdk Peirce, 1994: CP 5.60, CP 5.197, CP 6.525 Cross-Ref:). Hipotesis yang
dipilih adalah yang dapat diverifikasi secara eksperimental. Kedua, hipotesis tersebut harus
memperhatikan aspek ekonomis (bdk. Peirce, 1994: CP 6.529 Cross-Ref:). Artinya,
observasi atas hipotesis itu harus memperhatikan kodrat manusia yang tunduk pada batas-batas
finansial dan waktu. Setiap Ilmuwan harus mampu mengevaluasi setiap hipotesis yang ada dan
hanya memilih hipotesis-hipotesis yang membuka jalan lebih besar bagi pengetahuan, bahkan
atas pertimbangan ekonomi waktu, uang, dan tenaga. Hipotesis yang baik itu berdampak positif
bagi ilmu dan bernilai (bersifat terbuka dan mendalam). Ketiga, Hipotesis itu harus dapat
menjadi subjek pengujian eksperimental (bdk. Peirce, 1994: CP 7.220 Cross-Ref:).
Hipotesisi yang baik adalah hipotesis yang memiliki karakter idealistik (Keraf dan Dua, 2001:
95), artinya ia tidak hanya dapat diuji, tetapi juga dapat dibuktikan kebenarannya dengan
pelbagai macam alat pembuktian. Diharapkan hipotesis itu dapat mendorong perkembangan
ilmu pengetahuan itu sendiri secara dinamis.
Melalui pernyataan Peirce (1994: CP 5.604 Cross-Ref:), It is to be expected
that he should have a natural light, or light of nature, or instinctive insight, or genius, tending
to make him guess those laws aright, or nearly aright, dapat diketahui bahwa Peirce
menekankan pengetahuan haruslah berdasarkan pengalaman dan pemilihan hipotesis
eksplanatoris berangkat dari insting akal budi manusia. Insting ini hanyalah suatu alat bantu
ilmu pengetahuan ketika satu hipotesis harus dipilih di antara banyak hipotesis, sehingga tetap
memerlukan kontrol dan kritik walaupun ia lebih meyakinkan dibandingkan semua bentuk
penalaran (Keraf dan Dua, 2001: 95-96).
Nilai Teoritis dari Metode Abduksi
Berikut ini adalah nilai-nilai ilmiah-teoretis dari abduksi dan hipotesis eksplanatoris yang
mengadalkan insting (dikutip secara penuh dari Keraf dan Dua, 2001: 96).
Pertama, harus dikatakan bahwa abduksi menghasilkan suatu proposisi yang mengandung
konsep universal (generalitas). Sudah dikatakan sebelumnya bahwa abduktif adalah suatu
proses penyimpulan dari suatu kasus tertentu. Kesimpulan dari proses itu adalah suatu proposisi
yang menempatkan suatu kasus khusus tertentu dalam suatu kelas atau kelompok. Maka dengan
cara ini, suatu hipotesis mempertegas bahwa suatu kasus individual ditempatkan dalam suatu
kelas yang lebih umum.
Kedua, abduktif merupakan suatu proses yang tidak dapat dipatok dengan satu jenis
penalaran formal (reason) saja. Hipotesis abduktif dibentuk oleh imajinasi, bukan oleh
penalaran kritis. Lebih lagi, seorang ilmuan akan menggunakan instingnya untuk membuat
suatu pilihan yang ekonomis dan berguna ketika menghadapi begitu banyak penjelasan yang

Tugas 1 ~ Senin, 14 September 2015


Metode Berpikir Abduksi
harus diuji. Hipotesis abduktif, karena itu, tidak muncul dari suatu proses logis yang ketat, tetapi
dari suatu kilatan insight, pengertian, atau ide, di bawah imajinasi, dan di luar kemampuan
penalaran kritis.
Ketiga, proses abduksi menegaskan bahwa ilmu pengetahuan selalu berusaha untuk
menangkap orisinalitas realitas. Karena hipotesis abduktif merupakan hasil dari kilatan ide
imajinasi ilmiah, hipotesis itu bagi ilmuwan dan bagi banyak orang merupakan sesuatu yang
baru. Peirce sangat yakin bahwa abduksi merupakan satu-satunya bentuk penalaran yang bisa
menghasilkan ide bagi ilmu pengetahuan. Abduksi berhenti dengan menawarkan suatu
hipotesis yang harus diuji, bukan sesuatu yang sudah diketahui kebenarannya. Abduction
merely conjectures in an original way what the explanation for the phenomena might be.
Keempat, adalah interpretatif. Abduktif yang berhasil mengandaikan keterlibatan yang
menyeluruh dan imajinasi yang bebas. Oleh karena itu, ilmuwan yang berpengalaman biasanya
lebih berhasil dari yang tidak berpengalaman. Ini berarti bahwa abduktif merupakan suatu fase
interpretasi. Interpretasi dalam arti bahwa proposisi hipotesis yang berhasil dirumuskan itu
tidak lain dari cara pandang ilmuwan terhadap fakta atau pengalaman.

Sumber Bacaan
Deely, John (Ed.). 1994. The Collected Papers of Charles Sanders Peirce. USA: Groups of the
Peirce database.
Keraf, A. Sonny dan Mikhael Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis.
Yogyakarta: Kanisius
Psillos, Stathis. 2011. An Explorer Upon UntroddenGround: Peirce On Abduction. Dalam
Gabbay, Dov M. (Ed.). 2011. Handbook of the History of Logic. Volume 10: Inductive
Logic. Hlm. 117-151. Elsevier BV.
Svennevig, Jan. 1997. Abduction As A Methodological Approach to the Study of Spoken
Interaction. Inggris: University of Oslo Press.