You are on page 1of 25

METODELOGI PEKERJAAN

Metodelogi berasal dari kata metode yang berarti jalan ke dan biasanya
dirumuskan dengan kemungkinan-kemungkinan sebagai suatu tipe penulisan yang
dipergunakan dalam penelitian dan penilaian atau suatu tehnik yang umum bagi
Ilmu pengetahuan, atau cara untuk melaksanakan suatu prosedur.
Penelitian pada dasarnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan
menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan. Menemukan berarti berusaha untuk
memperoleh sesuatu untuk mengisi kekosongan atau kekurangan. Mengembangkan
berarti memperluas dan menggali lebih dalam sesuatu yang telah ada, dan menguji
kebenaran merupakan perlakuan yang harus dilaksanakan untuk mencari jawaban
yang pasti terhadap sesuatu yang ada dan masih diragukan kebenarannya.

6.1.

METODE SURVEY SOSIAL EKONOMI

Metode survey sosial ekonomi yang akan digunakan adalah sebagai berikut :
6.1.1.

Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis
empiris. Pendekatan yuridis dalam penelitian ini dimaksudkan bahwa penelitian ini
ditinjau dari sudut ilmu Hukum Agraria (literatur) dan peraturan-peraturan tertulis
sebagai data sekunder. Metode yuridis atau dari segi hukum untuk mengetahui
peraturan-peraturan yang berlaku, khususnya peraturan-peraturan yang berkaitan
dengan pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali guna pembangunan
Waduk Lubuk Ambacang.
Sedangkan yang dimaksud dengan pendekatan empiris yaitu penelitian yang
bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang bagaimana hubungan hukum
dengan masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan hukum
dalam masyarakat. Pendekatan ini dilaksanakan dengan mengadakan survey
langsung dari responden dan narasumber di lapangan dengan tujuan untuk
mengumpulkan data yang objektif, yang disebut sebagai data primer.

6.1.2.

Spesifikasi Penelitian

Spesifikasi penelitian yang dipergunakan dalam studi ini adalah deskriptif


analitis. Deskriptif analitis adalah suatu cara atau prosedur memecahkan
1

masalah dengan cara memaparkan keadaan objek yang diteliti (orang, lembaga
masyarakat, perusahaan, instansi dan lain-lain) sebagaimana adanya berdasarkan
fakta-fakta aktual yang ada pada saat ini.
Dengan penelitian yang bersifat deskriptif analitis ini, dapat dianalisis dan disusun
data-data yang terkumpul, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan yang bersifat
umum, serta memberikan suatu gambaran yang jelas mengenai pelaksanaan
pengadaan tanah dan pemukiman kembali guna pembangunan Waduk Lubuk
Ambacang.

6.1.3.

Metode Populasi dan Sampling

6.1.3.1.

Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti,
dalam hal ini konsultan untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Definisi populasi (universe) adalah seluruh obyek atau seluruh individu atau
seluruh gejala atau seluruh kejadian atau seluruh unit yang akan diteliti. Karena
populasi biasanya sangat besar dan sangat luas, maka kerap kali tidak mungkin
untuk meneliti seluruh populasi itu. Sedangkan pengertian lainnya populasi adalah
keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Populasi dapat
dibedakan pula antara populasi sampling dengan populasi sasaran.
Populasi sasaran dalam studi ini adalah OTD (Orang yang Terkena Dampak) atau
para pemilik Tanah, Bangunan, tanaman dan aset lainnya yang yang terkena
dampak. (sensus terhadap 100% OTD)
Populasi sampling selain OTD, juga masyarakat yang ada di sekitar lokasi yang baru
dan masyarakat di lokasi peruntukkan/daerah manfaat waduk. Hal ini dikarenakan
jumlah populasinya besar dan luas, sehingga tidak mungkin untuk meneliti
populasi secara keseluruhan. Untuk itu akan dilakukan dengan pengambilan
sampel.

6.1.3.2.

Sampel

Metode dalam menentukan sampel adalah metode acak / purposive sampling, yaitu
teknik sampling yang tidak mendasarkan diri pada strata atau daerah, tetapi
mendasarkan diri terhadap jumlah dan kesamaan antara subjek populasi yang satu

dengan subjek populasi yang lain yang telah ditentukan. Purposive sampling
dilakukan dengan cara mengambil subjek didasarkan pada tujuan tertentu. Teknik
ini biasanya dipilih karena alasan keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, sehingga
tidak dapat mengambil sampel yang besar jumlahnya dan jauh letaknya. Biasanya
yang dihubungi adalah subjek yang mudah untuk ditemui, sehingga pengumpulan
datanya mudah. Yang penting di sini adalah terpenuhinya kriteria dari sampel yang
dapat mewakili keseluruhan populasi yang telah ditetapkan.

6.1.4.

Metode Pengumpulan Data

6.1.4.1.

Pengumpulan Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan mempelajari literatur dan
peraturan perundangan yang berkaitan dengan objek penelitian. Data sekunder
diperoleh melalui penelitian kepustakaan (secunder research) yang dilakukan guna
mendapatkan landasan teoritis berupa pendapat-pendapat atau tulisan-tulisan para
ahli atau pihak-pihak lain yang berwenang dan juga untuk memperoleh informasi
baik dalam bentuk-bentuk ketentuan formal maupun data melalui naskah resmi
yang ada.
Pengumpulan data sekunder terdiri dari data teknis dan non-teknis. Data teknis
terutama berupa laporan studi terdahulu maupun peta-peta lokasi rencana
genangan, yang bersumber dari pemberi pekerjaan dalam hal ini pihak BWS
Sumatera III. Data non-teknis berupa monografi dan profil tingkat kecamatan dan
desa di lokasi studi, buku statistik kecamatan/kabupaten dalam angka yang
diperoleh dari BPS kabupaten di lokasi studi, peraturan perundang-undangan yang
terkait

dengan

kegiatan

pengadaan

tanah

dan

pemukiman

kembali,

Surat

Keterangan dari Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan yang menentukan
dugaan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) tanah dan bangunan di lokasi studi, Surat
Keputusan Bupati mengenai standar harga/nilai ganti rugi tanah, bangunan dan
tanaman di lokasi studi dan lain-lain.

6.1.4.2.

Pengumpulan Data Primer

Data Primer merupakan data yang diperoleh melalui penelitian lapangan (primer
research) dengan cara wawancara. Wawancara adalah cara untuk memperoleh
informasi

dengan

bertanya

langsung

pada

yang

diwawancarai.

Wawancara

merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi.

Metode/teknik pengumpulan data primer adalah sebagai berikut :


1. Wawancara Terstruktur
Wawancara

terstruktur

adalah

suatu

proses

interaksi

dan

pengambilan langsung data dari masyarakat setempat dengan

komunikasi

menggunakan

daftar pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu, terhadap Kepala Keluarga
yang mewakili unit sosial ekonomi rumah tangga. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan gambaran sosial, ekonomi dan budaya masyarakat secara
menyeluruh.
Pada umumnya dalam kegiatan yang berhubungan dengan persiapan bagi
pengadaan tanah dan pemukiman kembali terdiri dari dua tipe dasar survey:
sensus dan survey sosial-ekonomi (SSE).
a. Sensus
Sensus adalah suatu proses pengumpulan data dengan kuesioner untuk
rumah tangga secara kuantitatif dengan mengambil seluruh responden/OTD
dalam populasi tertentu. Sensus dilakukan dengan wawancara atau interview
langsung dengan penduduk dari pintu ke pintu untuk semua OTD. Sensus
ini berisi data lengkap OTD beserta luas lahan, jenis bangunan dan jumlah
tanaman yang akan terkena dampak pembangunan Waduk Lubuk Ambacang.
Data sensus dapat digunakan untuk mengurangi tuntutan orang yang tidak
berhak seperti yang pindah ke lokasi yang terkena dampak proyek dengan
harapan memperoleh ganti rugi dan/atau direlokasikan.
b. Survey sosial-ekonomi (SSE)
SSE, biasanya hanya mencakup orang-orang yang mempunyai hak legal
untuk mendapat ganti rugi. SSE dilakukan dengan mengambil sampel OTD,
biasanya 20% sampai 25% dari jumlah penduduk yang terkena dampak,
dengan menggunakan kuesioner rumah tangga. Survei sosial ekonomi akan
dilaksanakan di 3 (tiga) lokasi yaitu di lokasi rencana genangan, lokasi
rencana pemukiman kembali dan di lokasi peruntukkan atau penerima
manfaat waduk.
2. Wawancara Mendalam
Wawancara

mendalam

adalah

teknik

pengambilan

data

dari

informan

menggunakan pertanyaan terbuka berdasarkan isu-isu penting. Wawancara


mendalam atau disebut juga wawancara tidak berstruktur yaitu wawancara yang
dilakukan tidak menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun terlebih
4

dahulu,

pewawancara

diserahkan

pada

tidak

memberikan

narasumber

untuk

pengarahan

memberikan

yang

tajam

penjelasan

tetapi

menurut

kemauannya sendiri. Dengan tipe wawancara seperti ini lebih mendekati keadaan
yang sebenarnya karena didasarkan atas spontanitas narasumber sehingga lebih
mudah untuk mengidentifikasi masalah yang diajukan. Wawancara ini

secara

kualitatif dilakukan terhadap tokoh masyarakat, guru, tokoh agama, kepala


desa,

pegawai

kelurahan,

pengusaha,

instansi

terkait

dan

sebagainya

disesuaikan dengan kebutuhan data. Wawancara mendalam akan menggali


berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi dan budaya yang relevan, serta
mempelajari sistem, proses dan mekanisme suatu aktivitas sosial tertentu dan
institusi yang berkembang di wilayah penelitian dan untuk mendapatkan aspirasi
secara umum.

6.1.4.3.

Jenis Data yang Dikumpulkan

Jenis data yang dikumpulkan mengacu pada Kerangka Acuan Kerja dalam
pekerjaan Studi Kelayakan Pembangunan Waduk Lubuk Ambacang. Selengkapnya
dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel
Jenis Data dan Informasi yang Dikumpulkan
No

Kondisi

Jenis Data dan Informasi yang Dikumpulkan

Kawasan
Pedesaan

jumlah dan keadaan desa-desa tertinggal, tata letak kawasan


pedesaan dengan lokasi sawah/lahan, keadaan kecamatan dan
kabupaten setempat, sosial budaya masyarakat setempat yang
berkembang selama ini khususnya kelembagaan tradisi yang
terkait dengan pertanian dan pengelolaan air, serta sosial dan
budaya masyarakat pendatang dan interaksinya.

Kependudukan

jumlah penduduk, kepadatan dan tingkat pertumbuhan


penduduk dilokasi proyek saat ini maupun prediksi setelah
adanya proyek; penyebaran penduduk berdasar jenis kelamin,
umur, pendidikan; jumlah potensi tenaga kerja dikelompokkan
sebagai petani pemilik, penyewa dan penggarap.

Perekonomian
Rumah Tangga

gambaran keadaan ekonomi rumah tangga masyarakat


perdesaan sebelum adanya proyek yang mencakup; macam
pekerjaan yang ada, rata-rata pendapatan keluarga dari
pekerjaan tersebut dan rata-rata pengeluaran setiap keluarga.

Kesehatan
Penduduk

tingkat kesehatan masyarakat yang dapat dicerminkan dari


keadaan rumah yang memenuhi persyaratan kesehatan seperti
keadaan lantai, penerangan, sumber air, fasilitas MCK, dll.

Prasarana dan
Sarana Umum

gambaran PSD umum yang telah dibangun, kemungkinan akan


dibangun seperti irigasi, drainase, jalan, listrik, air bersih, dll

(PSD)

Survey sosial ekonomi yang akan dilaksanakan di lokasi peruntukkan/daerah


manfaat waduk maupun di lokasi rencana pemukiman kembali adalah bagian
penting dalam proses pengumpulan data. Untuk itu perlu memperoleh infomasi
terinci mengenai masyarakat tersebut. Jenis data sosekbud dan lingkungan yang
akan dikumpulkan antara lain :
o

Data Kependudukan

Mata pencaharian dan pendapatan

Kondisi lingkungan

Kondisi sosial budaya masyarakat

Kesehatan masyarakat

Sumber daya milik umum/masyarakat

Pola penggunaan lahan, dan lain-lain

6.1.5. Metode Analisis Data


Data yang diperoleh baik dari lapangan maupun dari dari kepustakaan dianalisis
secara kualitatif yaitu hanya mengambil data yang bersifat khusus dan berkaitan
dengan studi ini. Dengan demikian nantinya akan menghasilkan suatu uraian yang
bersifat deskriptif kualitatif, yaitu dengan melukiskan kenyataan yang berlaku dan
berkaitan dengan aspek-aspek hukum dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan
pemukiman kembali guna pembangunan Waduk Lubuk Ambacang.

6.1.6. Lingkup Kegiatan


Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja, lingkup kegiatan disajikan dalam tabel
berikut ini :
Tabel 6..
Lingkup Kegiatan

No
1

Lingkup Pekerjaan (dalam KAK)


Survey Sosial Ekonomi
a.
Melakukan survei identifikasi
bangunan dan tanaman yang
terdapat di daerah genangan dan
menentukan perkiraan biaya ganti
ruginya.
b.

Survey identifikasi kondisi sosial


ekonomi di daerah peruntukkan

Studi pengadaan tanah


paling sedikit memuat :
a.
lokasi tanah yang diperlukan;

Kegiatan yang Akan Dilaksanakan Konsultan


>

Sensus OTD

>

Survei sosial ekonomi di daerah manfaat


waduk

>
Pembuatan peta lokasi yang terkena dampak

b.

peta dan luasan tanah;

>
Pembuatan peta lokasi rencana genangan
beserta luasannya

c.

status dan kondisi tanah, dan

>
Pembuatan peta batas status lahan dan
kondisi tanah/tata guna lahan

d.

rencana pembiayaan.

>
Membuat rencana
pengadaan tanah

biaya

untuk

kegiatan

Studi pemukiman kembali


paling sedikit memuat :
a.

data jumlah penduduk yang akan


dimukimkan kembali;

>

Survei sosial ekonomi di lokasi rencana


genangan

b.

kondisi sosial, ekonomi, dan budaya


penduduk yang akan dimukimkan
kembali;

>

Survei sosial ekonomi di lokasi rencana


genangan

c.

kondisi lokasi rencana pemukiman


kembali penduduk;

>

Survei sosekbud dan lingkungan di lokasi


alternatif pemukiman kembali

d.

>

Survei sosekbud dan lingkungan di lokasi


alternatif pemukiman kembali

e.

kondisi sosial, ekonomi, dan budaya


penduduk sekitar lokasi rencana
pemukiman kembali;
rencana tindak;

>

f.

rencana pembiayaan; dan

>

g.

pemberian ganti rugi berupa uang


dan/atau tanah pengganti.

>

Penyusunan Rencana Tindak / jadwal


pelaksanaan pemukiman kembali termasuk
pembayaran ganti rugi
Penyusunan rencana biaya pemukiman
kembali
Termasuk dalam Penyusunan Rencana
Tindak

6.2.

KEGIATAN LAPANGAN SOSIAL EKONOMI

6.2.1.

Sensus OTD

Definisi Orang Terkena Dampak/OTD menurut acuan yang dipakai dalam studi ini
yaitu Buku Panduan tentang Pemukiman Kembali, Asian Development Bank Tahun
1999 adalah Orang-orang (rumah tangga) yang terkena dampak suatu proyek yang
menyebabkan adanya perubahan penggunaan tanah, air dan sumber daya alam
lainnya.
Sensus terhadap OTD merupakan langkah penting pertama dalam kegiatan survey.
Sensus ini akan mencakup 5 fungsi penting yaitu :
a. Pengumpulan data dasar populasi yang terkena dampak.
b. Pendataan penduduk yang terkena dampak, sesuai lokasinya.
c. Pembuatan daftar dari keuntungan-keuntungan yang dapat dipertanggung
jawabkan sebelum proyek berjalan untuk mengcounter klaim-klaim dalam
kegiatan pemindahan.
d. Menyusun kerangka kerja untuk keperluan survei sosial ekonomi untuk
menentukan tingkat kompensasi yang wajar, dan untuk mendesain, memonitor
dan mengevaluasi pemulihan pendapatan penduduk dan pengembangan
lainnya.
e. Menyusun baseline monitoring dan evaluasi hasil sensus.
Sensus ini merupakan kegiatan menginventarisir aset-aset yang terkena dampak
dari rencana pembangunan Waduk Lubuk Ambacang terhadap

tanah, bangunan

dan tanaman, dan situs maupun aset-aset cagar budaya lainnya termasuk
bangunan-bangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial serta bangunan dan
tegakan yang berada di kawasan hutan.

6.2.2.

Survei Sosial Ekonomi

Survei sosial ekonomi akan dilaksanakan di 3 lokasi, antara lain :


a. Lokasi rencana genangan waduk
Dari Survei sosial ekonomi di lokasi rencana genangan akan diperoleh data
mengenai dampak yang mungkin timbul dari pengadaan lahan terhadap ekonomi
setempat, lembaga-lembaga ekonomi, pola tata guna lahan, sistem sewa dan
sistem bagi hasil, pola pekerjaan, pendapatan dan ketergantungan ekonomi
antara rumah-tangga, tingkat kemiskinan, organisasi sosial setempat, struktur
wewenang, serta kegiatan ekonomi dan pendapatan kaum wanita.
8

Tujuannya antara lain :

Menyiapkan data Orang yang Terkena Dampak (OTD)

Menyiapkan Rencana Pemukiman Kembali

Menilai

pendapatan,

mengidentifikasi

kegiatan

produktif

dan

rencana

pemulihan pendapatan

Menyusun alternatif relokasi

Menyusun tahap persiapan sosial untuk kelompok rentan

b. Lokasi peruntukkan
Survey yang dilakukan pada lokasi peruntukkan/lokasi yang terkena dampak
tidak langsung selain untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi budaya dan
lingkungan juga diperlukan untuk mengetahui persepsi dan harapan masyarakat
terhadap rencana pembangunan waduk Lubuk Ambacang sehingga dapat
menjadi acuan dalam

mendesain program pemanfaatan waduk yang pada

akhirnya masyarakat akan merasakan dampak positif dari pembangunan Waduk


Lubuk Ambacang ini.
c. Lokasi rencana pemukiman kembali
Penduduk setempat ditempat relokasi adalah bagian penting dalam proses
pengumpulan data jika ada usulan relokasi. Untuk itu perlu memperoleh
infomasi terinci mengenai masyarakat tersebut (demografi, besar lahan, pola
pembagian lahan, penggunaan lahan, kegiatan ekonomi- pertanian, bidang
usaha, dan sumber daya milik umum).
Survey di lokasi rencana pemukiman kembali khususnya diperlukan untuk
menaksir dampak yang mungkin timbul akibat merelokasikan OTD kedalam
masyarakat setempat dan juga perlunya mengembangkan program bagi OTD dan
penduduk setempat untuk pembangunan ekonomi dan integrasi sosial.

6.2.3.

Pembuatan Peta-peta

Pembuatan peta-peta ini dilakukan dari hasil kegiatan pengukuran terhadap lahanlahan yang akan terkena dampak rencana pembangunan Waduk Lubuk Ambacang
sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja dalam kegiatan Studi Pengadaan Tanah
dengan kriteria :
Lokasi tanah beserta luasannya,
Status lahan
Kondisi tanah
9

Dari hasil pengamatan peta-peta ini kemudian perencana dapat menyiapkan


berbagai peta tematik

lokasi, peta batas status lahan dan peta tata guna lahan.

Peta tematik tambahan juga diperlukan untuk mengidentifikasi lokasi aset-aset


properti, aset-aset budaya seperti bangunan-bangunan bersejarah, jalan, jaringan
transportasi dan aset-aset penting lainnya.

6.3.

PENGADAAN TANAH

Berdasarkan PERPRES No. 36 Tahun 2005 Jo No. 65 Tahun 2006 Ketentuan Pasal 1
angka 3 berbunyi disebutkan bahwa Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk
mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan
atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang berkaitan
dengan tanah. Pengadaan tanah guna kepentingan umum dilaksanakan oleh Panitia
Pengadaan Tanah.

6.3.1.

Penyusunan Matriks Entitelmen/Hak

Berdasarkan analisis dampak proyek dan kebijaksanaan kelayakan baru, matriks


entitelmen dibuat berdasarkan kategori OTD menurut kerugian dan manfaat dari
hak miliknya.

Matriks entitelmen adalah suatu pedoman penetapan pemenuhan

persyaratan guna mendapat kompensasi dan pembayaran semua jenis kerugian.


Matriks tersebut mengusulkan kelayakan mendapat ganti rugi dan pembayaran bagi
seluruh jenis kerugian (misalnya, lahan, rumah, usaha, sumber pendapatan lain,
kehilangan pendapatan sementara, pemindahan dan biayanya) serta menetapkan
standar ganti rugi.
Jenis kerugian akibat pengadaan tanah secara garis besar dapat dilihat pada tabel
berikut ini :
Tabel 6..
Jenis Kerugian Akibat Pengadaan Tanah
No.

1.

Kategori

Lahan

Jenis Kerugian

Lahan pertanian
Lahan rumah
Pekarangan
Akses ke lokasi kerja (mis. hutan)

10

No.

2.

Kategori

Jenis Kerugian

Bangunan

3.

Pendapatan
pencaharian

dan

mata

4.

Lokasi sarana umum dan


cagar budaya

5.

Lingkungan

Hak guna tradisional


Lahan masyarakat atau padang rumput
Rumah atau tempat kediaman
Bangunan fisik lain
Bangunan yang digunakan untuk kegiatan
komersial/industri
Pemindahan dari lahan komersial yang
disewa atau ditempati
Pendapatan dari tanaman
Pendapatan dari sewa atau bagi hasil
Pendapatan dari upah/gaji
Akses ke kesempatan kerja
Pendapatan dari bisnis yang terkena
dampak
Pendapatan dari pohon atau tanaman
yang berumur panjang
Pendapatan dari produk hutan
Pendapatan dari kolam ikan
Pendapatan dari padang rumput
Penghidupan dari salah satu sumbersumber pendapatan tersebut
Sekolah, pusat kegiatan masyarakat,
pasar, pusat kesehatan
Tempat suci, simbol atau tempat keramat
lainnya
Tempat ibadat
Kuburan dan kawasan penguburan
Hak mendapat makanan, obat dan
sumberdaya alam
Hak kekayaan intelektual
Kerugian akibat dampak lingkungan yang
dapat timbul dari pengadaan lahan atau
dari proyek itu sendiri

Sumber : Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali, Asian Development Bank, Tahun 1999

Matriks entitelmen ini menyajikan jenis kerugian dan definisi orang yang layak
memperoleh ganti rugi dalam bentuk tabel. Matriks tersebut mencakup kolom yang
mengemukakan ganti rugi dan langkah rehabilitasi bagi setiap jenis kerugian.
Matriks entitelmen yang lebih kompleks, memberi informasi tentang kebijaksanaan
ganti rugi dan rehabilitasi untuk setiap kasus. Secara garis besar matriks
entitelmen suatu kebijaksanaan ganti rugi dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 6..
Matriks Hak Untuk suatu Kebijaksanaan Ganti Rugi

11

No.

Jenis
Kehilangan

Penerapan

Orang Yg berhak

Petani
yang
mengerjakan lahan

1.

Kehilangan
lahan usaha

Lahan
yg
terdapat
tanaman di
daerah
genangan

2.

Kehilangan
lahan
Perumahan/
pemukiman

Lahan
perumahan
di
daerah
yang akan
dibebaskan

3.

Kehilangan
bangunan

Bangunanbangunan di
lokasi lahan
yang akan
dibebaskan

4.

Kehilangan
tanaman

Tanaman
pada lokasi
genangan
dan
bangunan
fasilitasnya

Penduduk legal
dengan
srt
keterangan dari
yang
berwenang
Penduduk ilegal
yang
menempati
lahan

Pemilik
bangunan

sah

Petani/pemilik
yang
mengerjakan
lahan

Kebijaksanaan
Kompensasi

Menyediakan
lahan
yang
setara
dan
dekat dengan
lokasi
lahan
semula
Kalau
lahan
tidak tersedia,
menggunakan
intensifikasi dan
diversifikasi
pada lahan yg
tersedia
Jika sisa lahan
cukup
menampung
OTD,
lahan
pengganti akan
diberikan dalam
kawasan
tersebut
Jika sisa lahan
kurang,
satu
kapling rumah
sebagai
alternatif atau
setara dengan
lahan
yang
lama,
akan
ditawarkan
dalam wilayah
studi.
Ganti
rugi
dalam
bentuk
bahan. Pemilik
akan
membangun
bangunannya
dengan bantuan
teknis
Tunjangan yang
setara
untuk
pendapatan
yang hilang
Pengangkutan
bahan
bangunan untuk
keluarga yang
direlokasikan
Ganti rugi yang
setara
untuk
tanaman
didasarkan
pada
produkstivitas
lahan pada saat
dibebaskan

Pelaksanaan

Daftar
lahan
yg
terdapat
tanaman
yang ada pada setiap
kawasan yg terkena
dampak
Bantuan pada petani
untuk
mengembangkan
tanaman baru dan
meningkatkan
produksi
Untuk
menghindari
masalah prosedural
karena tidak ada ijin
tertulis
atau
srt
keterangan,
ijin
dikeluarkan sebelum
ganti rugi dimulai
Luas minimum tanah
dimana OTD diijinkan
mengurus
kembali
harus diatur dengan
yang berwenang di
kabupaten atau pada
kawasan tersebut.
Nilai tempat baru
harus sama, tidak
kurang
dari
nilai
properti/kekayaan
OTD semula
Macam-macam
bahan
bangunan
akan
disediakan
dalam untuk OTD
Selama survei, harga
dan jenis
bahan
bangunan
yang
dibutuhkan
akan
dievaluasi

Harga
produk
pertanian di pasar
lokal harus diketahui
untuk komparasi
OTD akan diberi tahu
beberapa
bulan
sebelum
pemindahan.
Tanaman
yang
tumbuh
setelah
pengumuman ini tidak
dibayar ganti rugi
Jadwal kegiatan akan

12

No.

Jenis
Kehilangan

Penerapan

5.

Kehilangan
fasilitas
umum

Bangunanbangunan di
lokasi lahan
yang akan
dibebaskan,
seperti
bangunan
balai desa,
pasar, dan
lainnya

6.

Kehilangan
fasilitas
sosial

Bangunanbangunan di
lokasi lahan
yang akan
dibebaskan,
seperti
bangunan
sekolah,
mesjid,
puskesmas,
dan lainnya

Kebijaksanaan
Kompensasi

Orang Yg berhak

Pemilik
bangunan

sah

Ganti
rugi
dalam
bentuk
bahan. Pemilik
akan
dibangunkan
kembali
bangunan
fasilitas umum

Pemilik
bangunan

sah

Ganti
rugi
dalam
bentuk
bahan. Pemilik
akan
dibangunkan
kembali
bangunan
fasilitas sosial

Pelaksanaan
memperhatikan
musim tanam untuk
menghindari kegiatan
selama musim panen
Pemilik
sah
bangunan

Pemilik
bangunan

sah

Ket. : OTD = Orang Terkena Dampak


Sumber : Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali, Asian Development Bank, Tahun 1999

6.3.2.

Penyusunan Rencana Pembiayaan

Penyusunan rencana biaya dalam kegiatan pengadaan tanah ini berdasarkan


asumsi perhitungan perkiraan biaya yang dibuat dari hasil kajian data-data
sekunder maupun informasi yang diperoleh dari instansi yang terkait.
Biaya-biaya dalam kegiatan pengadaan tanah antara lain untuk :
a. Pengukuran dan pemetaan tanah;
b. Pemberian ganti rugi kepada pemilik;
c. Panitia Pengadaan Tanah;
d. Lembaga Penilai Harga Tanah/Tim Penilai Harga Tanah;
e. Pengurusan hak atas tanah sampai dengan penerbitan sertipikat;
f. Penitipan ganti rugi apabila diperlukan;
g. Pemisahan dari sisa bagian tanah pemilik;

13

h. Pembinaan,

koordinasi,

konsultasi,

evaluasi,

supervisi,

dan

penyelesaian

masalah; dan lain-lain


Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 dalam Pasal 7A disebutkan
bahwa Biaya Panitia Pengadaan Tanah diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan
setelah berkonsultasi dengan Kepala Badan Pertanahan Nasional.
Dalam penyelesaian pengadaan tanah, bentuk ganti rugi tanah, bangunan dan
tanaman berpedoman kepada PERPRES No. 36 Tahun 2005 Jo No. 65 Tahun 2006.
Ada 5 opsi yang dapat ditawarkan kepada masyarakat sesuai dengan Pasal 13 yang
berisi :
Bentuk ganti rugi dapat berupa :
a.

Uang; dan/atau

b.

Tanah pengganti; dan/atau

c.

Pemukiman kembali; dan/atau

d.

Gabungan dari dua atau lebih bentuk ganti kerugian sebagaimana dimaksud

dalam huruf a, huruf b, dan huruf c;


e.

Bentuk lain yang disetujui oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan perkiraan biaya ganti rugi adalah


sebagai berikut:
1. Ganti rugi tanah berdasarkan hasil penelitian yang berpedoman kepada SKBupati tentang harga dasar tanah, NJOP, dan perkiraan harga pasar tanah di
lokasi setempat.
2. Ganti rugi bangunan akan mengacu kepada harga dasar yang ditetapkan Perda
Pemerintah setempat atau SK Bupati dan perkiraan harga pasar untuk
membangun rumah.
3. Ganti rugi bagi tanaman didasarkan pada standar penetapan harga sesuai
dengan peraturan Pemerintah Daerah / SK Bupati
Pertimbangan ganti rugi lainnya :
1. Lahan pertanian berdasarkan potensi produksinya,
2. Lahan tempat tinggal berdasarkan harga pasar setempat,

14

3. Rumah dan bangunan lain berdasarkan harga pasar aktual material bangunan
dan tenaga kerja,
4. Tanaman berdasarkan tanaman bahan pangan dan tanaman bernilai ekonomis,
5. Asset produktif lainnya seperti toko dan aset komersial berdasarkan harga di
lokasi sejenis.
Prinsip ganti rugi yang berlaku adalah bahwa mata pencaharian OTD dapat
dipertahankan bahkan lebih baik atau setidaknya sama dengan kondisi sebelum
proyek.

6.4.

PEMUKIMAN KEMBALI

6.4.1.

Penyusunan Rencana Biaya Pemukiman Kembali

Jenis komponen-komponen pada program pemukiman kembali yang harus dibiayai


tergantung pada bentuk pemukiman kembali yang ditawarkan dan disepakati
bersama oleh masyarakat yang dipindahkan misalnya dalam bentuk penyediaan
rumah susun, rumah tidak bersusun, kapling siap bangun (kasiba) atau bentuk
lainnya.
Secara umum substansial kegiatan pada program pemukiman kembali, termasuk
pengadaan tanah yang perlu dibiayai adalah sebagai berikut :

Semua biaya persiapan pemukiman kembali dan kompensasi.

Biaya-biaya relokasi dan pemindahan.

Estimasi biaya untuk pemulihan pendapatan.

Semua biaya administrasi mengenai pemukiman kembali.

Secara lengkap kategori dan jenis biaya pemukiman kembali dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 6
Penyusunan Perkiraan Biaya dan Anggaran Pemukiman Kembali
No.

Kategori
Persiapan

1.

pemukiman

kembali dan proses ganti


rugi tanah, bangunan dan

Jenis Biaya
Biaya-biaya sensus dan survei OTD
serta inventarisasi kekayaan
Biaya
penyebaran
informasi
dan
konsultasi

15

No.

Kategori
tanaman

2.

Relokasi dan pemindahan

3.

Rencana
Pendapatan

4.

Biaya Administratif

Sumber :

6.4.2.

Pemulihan

Jenis Biaya
Ganti rugi untuk kekayaan yang hilang
(lahan, bangunan dll.)
Biaya lahan pengganti
Biaya persiapan sawah pengganti
Pembekalan
Biaya pemindahan dan mengangkut
barang-barang
Biaya rumah pengganti
Biaya
pembangunan
tempat
dan
prasarana serta pelayanan sosial
Tunjangan biaya hidup selama masa
transisi
Biaya
pengganti
untuk
waktu
pengembangan usaha pengganti dan
waktu mulai usaha
Perkiraan
biaya
untuk
rencana
pemulihan pendapatan (spt. Pelatihan,
usaha
kecil,
perusahaan
milik
masyarakat)
Biaya jasa tambahan (pengembangan,
kesehatan dan pendidikan)
Paket peningkatan lingkungan (hutan,
konservasi lahan, padang rumput dll.)
Pendampingan
Sarana fisik (ruang kantor, perumahan
staf dll.)
Angkutan/kendaraan,
bahan-bahan
perlengkapan
Staf operasi (manajer, teknis dan staf
pendukung
Pelatihan dan Pemantuan
Bantuan Teknis
Evaluasi oleh lembaga independen

Buku Panduan Tentang Pemukiman Kembali, Asian Development Bank,


Tahun 1999

Penyusunan Rencana Tindak

Rencana tindak merupakan jadwal pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan atau


tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam rencana pemukiman kembali.
Waktu dan tenaga yang diperlukan untuk mempersiapkan rencana pemukiman
kembali tergantung dari skala dan besarnya masalah Pemukiman Kembali.
Persiapan dalam kegiatan-kegiatan tersebut akan memerlukan waktu 2-4 minggu
guna mendapat masukan dari konsultan lokal bagi proyek sederhana yang

16

melibatkan sejumlah kecil OTD, sedangkan untuk suatu rencana yang melibatkan
jumlah lebih banyak orang yang akan dipindahkan pada suatu proyek yang rumit,
kegiatan persiapan memerlukan waktu kira-kira 15 bulan untuk memperoleh
masukan dari staf dan konsultan, di samping masukan dari instansi pelaksana yang
dapat memakan waktu sampai 2 tahun.
Walaupun komponen-komponen pemukiman kembali mungkin berbeda pada
berbagai proyek-proyek tertentu, kegiatan ini biasanya memerlukan tiga sampai lima
tahun dan sering melampaui siklus proyek investasi utama. Oleh karena itu waktu
harus dialokasi setepat mungkin berdasarkan lingkup dan skala pekerjaan
pemukiman kembali, untuk menentukan jadwal kegiatan-kegiatan yang penting.
Biasanya, ganti rugi, pemulihan pendapatan dan pekerjaan relokasi harus sudah
diselesaikan sebelum pembongkaran dan pembangunan konstruksi dimulai.
Isi dan tingkat rincian rencana kegiatan pemukiman kembali bervariasi menurut
keadaan, khususnya terhadap besaran pemukiman kembali. Kegiatan-kegiatan
pokok dalam pemukiman kembali antara lain :
1.

Persiapan kerangka kelembagaan,

2.

Proses Konsultasi dan Partisipasi,

3.

Pemilihan lokasi dan Studi kelayakan,

4.

Pembuatan Desain (susunan dan rancangan) lokasi,

5.

Pembangunan/konstruksi fisik pemukiman kembali,

6.

Relokasi OTD ke lokasi pemukiman kembali,

7.

Program pemulihan pendapatan,

8.

Pemantauan dan evaluasi.

6.4.2.1.

Kerangka Kelembagaan

Kerangka Kelembagaan merupakan suatu lembaga yang dibentuk yang diberi


tanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan proses ganti-rugi,
pemulihan pendapatan dan program rehabilitasi yang harus diidentifikasi seawal
mungkin dalam persiapan pemukiman kembali.
Kelembagaan untuk pelaksanaan program pemukiman kembali dilakukan dengan
mengefektifkan keberadaan lembaga/dinas/instansi yang telah ada di daerah, yang
tugas dan fungsinya mempunyai keterkaitan dengan pengadaan atau pembangunan
perumahan dan pemukiman (yang merupakan substansi dari program pemukiman
kembali), baik instansi yang bersifat struktural maupun fungsional, baik di dalam
jajaran maupun di luar jajaran pemerintah daerah, yang salah satu tugasnya adalah
17

mendorong kemampuan dan ketrampilan warga masyarakat khususnya yang


berpenghasilan rendah, untuk memiliki dan atau menghuni rumah layak dalam
lingkungan yang sehat dan teratur, serta Panitia Pengadaan Tanah bagi pelaksanaan
pembangunan

untuk

kepentingan

umum.

Pada

dasarnya

panitia

tersebut

mempunyai tugas untuk membebaskan lahan yang diantaranya melalui proses


musyawarah guna menentukan bentuk dan besaran ganti rugi atas tanah dan
bangunan.
Berdasarkan prosedur dan proses yang harus dilakukan, pengembangan system
koordinasi dan kelembagaan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu pertama
koordinasi lembaga dalam kerangka penyiapan perlu tidaknya rencana pemukiman
kembali dan kedua koordinasi lembaga dalam kerangka pelaksanaan pemukiman
kembali, yang merupakan tim Pelaksana Pemukiman Kembali.

6.4.2.2.

Proses Konsultasi dan Partisipasi

Konsultasi/musyawarah dengan OTD merupakan titik permulaan untuk seluruh


kegiatan pemukiman kembali. OTD mungkin merasa cemas dan kuatir kehilangan
sumber penghidupan dan lingkungan masyarakatnya atau khawatir salah dalam
melakukan negosiasi dalam memperoleh ganti rugi. Partisipasi dalam perencanaan
dan pengelolaan pemukiman kembali membantu mengurangi kecemasan mereka.
Mereka perlu diberi kesempatan berpartisipasi dalam pembuatan keputusankeputusan pokok yang akan mempengaruhi kehidupan mereka.
Langkah

pertama

menyusun

rencana

konsultasi

dan

partisipasi

adalah

mengidentifikasi stekholder primer dan sekunder. Stekholder adalah mereka yang


terlibat langsung dalam proyek dan dalam proses konsultasi atau musyawarah.
Stekholder primer meliputi orang-orang yang terkena dampak proyek, yang
mendapat manfaat proyek, penduduk setempat yang tinggal di dan dekat lokasi
pemukiman kembali, dan instansi pelaksana. Stekholder sekunder adalah seorang
atau

kelompok

lain

yang

berminat

terhadap

proyek,

seperti

penyusun

kebijaksanaan, pemerintah daerah atau pusat, kelompok pembela, wakil rakyat yang
terpilih dan LSM.
Konsultasi dan komunikasi dengan stekholder selama tahap persiapan proyek
merupakan bagian yang tidak terpisah dengan proses pengumpulan data yang
relevan untuk penilaian dampak, dan memudahkan untuk menyusun alternatif
yang cocok untuk orang-orang terkena dampak. Orang yang terkena dampak dan

18

kelompok yang mendapat manfaat dapat berperan dan memberi kontribusi atau
dukungan pada rancangan, perencanaan dan pelaksanaan proyek.
Cara-cara penting untuk mendorong adanya proses konsultasi dan partisipasi dalam
pengelolaan pemukiman kembali adalah sebagai berikut :
Penyebaran informasi, misalnya menggunakan mass media, poster atau
selebaran
Rapat umum
Kelompok-kelompok fokus yang melibatkan para stakeholder seperti tokoh
bisnis, tokoh desa, kaum wanita, kaum miskin, dan OTD lainnya
Pembentukan dan pengembangan kelompok, yang menyediakan forum untuk
membantu OTD pada proses perencanaan dan pelaksanaan
Wawancara dengan OTD di tingkat rumah tangga mencari kesepakatan
entitelmen.
Pembentukan berbagai panitia dari kelompok-kelompok stekholder untuk tujuan
perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan.
Pengembangan mekanisme untuk penyelesaian pengaduan, dan mengumumkan
mekanisme ini secara luas.
memperkenalkan tahap persiapan sosial.

6.4.2.3.

Pemilihan Lokasi dan Studi Kelayakan

Lokasi dan kualitas tempat relokasi baru adalah faktor penting dalam perencanaan
pemukiman kembali, karena sangat menentukan hal-hal berikut ini : kemudahan
menuju lahan usaha, jaringan sosial, pekerjaan, bidang usaha, kredit dan peluang
pasar dimana setiap lokasi mempunyai keterbatasan dan peluang masing-masing.
Memilih lokasi yang sama baik dengan tempatnya yang lama dari segi sosekbud dan
lingkungan akan lebih memungkinkan relokasi dan pemulihan pendapatan akan
berhasil. Jadi pemilihan lokasi harus dipertimbangkan sebagai bagian dari Studi
Kelayakan.
Pemilihan lokasi harus memperhitungkan dampak terhadap masyarakat setempat.
Permasalahan seperti kualitas lahan, daya tampung lokasi, kekayaan milik umum,
sumber daya, prasarana sosial dan komposisi penduduk (stratifikasi sosial, sukubangsa, jenis kelamin, etnik minoritas) perlu dipertimbangkan selama studi
kelayakan. Idealnya tempat relokasi baru sebaiknya secara geografis dekat dengan
tempat lama untuk mempertahankan jaringan sosial dan ikatan masyarakat yang
sudah baik.
19

Melakukan studi kelayakan lokasi altematif diperlukan dalam mempertimbangkan


potensi kawasan dari segi persamaan ekologi, harga lahan, pekerjaan kemungkinan
untuk memperoleh kredit, pemasaran dan peluang ekonomi lainnya untuk mata
pencaharian OTD dan masyarakat setempat.

6.4.2.4.

Pembuatan Desain (susunan dan rancangan) lokasi

Desain lokasi, tata ruang dan fasilitas umum atau fisik yang diperlukan (misalnya :
jalan akses, drainase, jaringan air bersih, sekolahan, pusat rekreasi/tempat
pertemuan,

klinik

kesehatan,

tempat

beribadah),

perlu

disiapkan

dengan

berkonsultasi dengan penduduk yang dipindahkan dan penduduk tuan rumah.


Susunan dan rancangan kawasan relokasi harus sesuai dengan spesifikasi dan
kebiasaan budaya. Mengidentifikasi lokasi sekarang terhadap berbagai prasarana
fisik dan sosial di masyarakat yang terkena dampak: bagaimana anggota keluarga,
kerabat, terkait satu sama lain di kawasan sekarang, serta berapa, sering dan siapa
(jenis kelamin/umur) yang menggunakan berbagai sarana dan prasarana sosial.
Penting memahami pola pemukiman dan rancangan yang ada supaya dapat
menaksir kebutuhan di kawasan pemukiman yang baru. Masukan masyarakat
harus menjadi bagian integral proses rancangan.
Untuk

memperoleh

suatu

rancangan

pemukiman

kembali

yang

dapat

dikembangkan secara optimal berdasarkan aspek-aspek serta kriteria penyusunan


tata ruang, maka dilakukan analisa tata ruang. Analisa ini merupakan dasar dalam
penyusunan

desain tata ruang yang mengatur peruntukan lahan berdasarkan

kerangka optimasi penggunaan lahan.


Analisa tata ruang terhadap calon lokasi dilakukan untuk menilai berbagai aspek
ruang yang merupakan potensi maupun kendala bagi kelayakan pemukiman
kembali. Beberapa aspek tata ruang yang dianalisa antara lain :

aksesibilitas

lokasi, kondisi fisik lahan, status lahan dan kondisi sumber daya air.

6.4.2.5.

Pembangunan/konstruksi fisik pemukiman kembali

Pembangunan Lokasi Pemukiman Kembali menyangkut pembangunan rumah dan


penyediaan lapangan kerja. Pembangunan tersebut harus berdasarkan kondisi
lingkungan pemukiman penduduk di tempat tinggal mereka sebelumnya yaitu
menyangkut

luas

rumah,

luas

pekarangan

dan

bentuk

rumah

serta

mempertimbangkan kebutuhan di tempat pemukiman yang baru. Dalam proses


20

pemukiman

kembali

tersebut

harus

dapat

mengijinkan

penduduk

untuk

membangun rumah mereka sendiri, selain penyediaan rumah oleh pemerintah atau
pemrakarsa proyek. Seluruh sarana dan prasarana fisik dan sosial harus sudah siap
sebelum pemukim diminta untuk pindah ke lokasi pemukiman kembali. Organisasi
OTD dan perkumpulan masyarakat harus diajak bermusyawarah dan berpartisipasi
dalam pembangunan lokasi pemukiman kembali. Masukan dari masyarakat harus
merupakan bagian integral dari pembangunan infrastruktur untuk umum/sosial di
lokasi.
Pembangunan/konstruksi fisik pemukiman kembali antara lain :
1. Pembukaan Lahan
Pekerjaan pembukaan lahan ini akan menciptakan kondisi fisik awal yang akan
mempengaruhi perkembangan lingkungan pemukiman selanjutnya, khususnya
berkaitan erat dengan kegiatan pertanian para pemukim (OTD). Untuk lebih
menjamin keberhasilan pengembangan calon pemukiman kembali, maka dalam
penyiapan lahan diperlukan arahan yang bersifat teknis. Metode pembukaan
lahan disini adalah metode yang dapat tetap menjaga tingkat produktivitas
tanah, yaitu mempertahankan agar lapisan atas tanah (top soil) tidak rusak.
2. Persiapan Bangunan
Penyiapan

bangunan

merupakan

salah

satu

proses

dalam

program

penyelenggaraan pemukiman kembali. Kegiatan ini dilakukan setelah proses


pembukaan lahan selesai. Komponen kegiatan yang termasuk dalam penyiapan
bangunan adalah jenis dan jumlah bangunan, termasuk bangunan fasilitas
umum dan social.
Semua

ketentuan

yang

berkaitan

dengan

penyediaan

dan

pemanfaatan

perumahan sederhana mengacu pada Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.


20/KPTS/1986 tentang Pedoman Teknik Pembangunan Perumahan Sederhana
Tidak Bersusun dimana penduduk

(OTD) diberikan satuan unit rumah

sederhana di lingkungan perumahan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah


atau pihak yang membebaskan lahan. Ukuran minimal untuk rumah sederhana
atau RSS yang disediakan adalah 36 m2.
Alternatif lainnya adalah penduduk (OTD) diberikan satuan kapling siap bangun
(kasiba) di lingkungan siap bangun yang disediakan oleh Pemerintah Daerah
atau pihak yang membebaskan lahan dengan ukuran minimal 90 m 2. Pada
kapling-kapling tersebut penduduk diberi kebebasan untuk membangun fisik
rumah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ketentuan yang berkaitan
21

dengan penyediaan dan pemanfaatan kapling siap bangun mengacu pada


Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 01/KPTS/1989 tentang Pedoman Teknik
Pembangunan Kapling Siap Bangun.
3. Rencana Teknis Jalan
Rencana jalan dimaksudkan untuk memperoleh aksesibilitas dan prospek
pengembangan yang baik bagi calon pemukiman kembali yang direncanakan
dengan mempertimbangkan pedoman teknis dan norma-norma perencanaan
serta masukan dari pihak-pihak yang terkait.

Perencanaan teknis jalan

penghubung poros/jalan desa dibuat dengan memperhatikan trase jalan yang


akan digunakan sehingga merupakan suatu jaringan dengan jalan yang ada di
sekitar lokasi. Kontruksi pembangunan jalan dan bangunan pelengkap meliputi
kontruksi perkerasan jalan, gorong-gorong dan jembatan.

6.4.2.6.

Relokasi OTD

Relokasi OTD, barangkali merupakan hal yang paling sulit dari keseluruhan tugas
yang menyangkut pemukiman kembali karena harus membangun kembali kondisi
kehidupan masyarakat yang terkena rencana pembangunan waduk.
Relokasi mandiri dapat terjadi kalau OTD berinisiatif, baik perseorangan atau
kelompok melakukan relokasi ke tempat pilihan mereka sendiri (berbeda dengan
kawasan pemukiman kembali) berdasarkan pertimbangan faktor ekonomi (misalnya,
ketersediaan pekerjaan atau lahan lebih murah) atau faktor sosial (misalnya,
kekeluargaan).
Dalam hal ini, beberapa OTD dapat pindah dengan memperoleh seluruh ganti rugi
yang merupakan haknya, yang mana hal ini biasanya lebih bermanfaat, karena
banyak keputusan mengenai materiil, hubungan sosial dan kesejahteraan ekonomi
dibuat oleh pemukim itu sendiri. Mereka hanya membutuhkan dukungan sosial
atau pekerjaan yang sifatnya terbatas dari proyek untuk mendapatkan kembali
tingkat kehidupan sebagaimana sebelum proyek.
Relokasi ke kawasan yang sudah ditentukan oleh Instansi Pelaksana (IP) yang
terkait, jauh dari perkampungan asli OTD dapat menyebabkan tekanan, khususnya
jika lokasi itu berbeda keadaan lingkungannya, pola kehidupan ekonomi dan mata
pencaharian, atau parameter sosial dan budayanya. Relokasi ke kawasan yang jauh,
atau kawasan yang berbeda karakteristik lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi
harus sedapat mungkin dihindari.

22

Pendampingan dan pembekalan terhadap masyarakat/OTD merupakan salah satu


hal yang sangat penting untuk dilaksanakan, karena kepindahan penduduk ke
tempat yang baru memerlukan proses penyesuaian dengan tempat mereka yang
baru. Perpindahan seseorang ke tempat yang baru tidaklah secara otomatis akan
merubah lapangan kerja seseorang.
Relokasi OTD dilaksanakan setelah prasarana dan sarana di lokasi pemukiman
kembali selesai dibangun dan dinyatakan layak huni oleh direksi pengawas proyek
dan tokoh masyarakat setempat. OTD akan diberitahu mengenai kesiapan lokasi
pemukiman kembali paling sedikit satu bulan sebelum pemindahan dan diberi
kesempatan untuk meninjau lokasi tersebut.

6.4.2.7.

Program Pemulihan Pendapatan

Pemulihan pendapatan adalah usaha menormalkan kembali sumber pendapatan


dan taraf kehidupan para OTD kepada suatu tingkatan kesejahteraan seperti
sebelum adanya kegiatan Proyek. Pemulihan pendapatan merupakan komponen
penting dalam program pemukiman kembali dimana OTD telah kehilangan sumber
penghasilan pokok, bidang usaha, pekerjaan atau sumber pendapatan lainnya dan
juga kehilangan rumah.
Program pemukiman kembali yang
memulihkan

pendapatan

dan

bertujuan mencegah terjadinya kemiskinan,

membangun

kembali

masyarakat

biasanya

dikelompokkan ke dalam dua tipe utama :


1.

Program pemukiman kembali berdasarkan lahan. Disediakan lahan yang


cukup luas untuk membangun persawahan dan usaha kecil.

2.

Program pemukiman kembali berdasarkan non lahan, mencakup kegiatan


seperti pelatihan kerja lapangan, pekerjaan, usaha kecil dan pengembangan
perusahaan untuk penciptaan lapangan kerja.

Program pemukiman kembali dapat terdiri dari unsur-unsur kedua tipe tersebut.
Langkah-langkah pokok yang akan dilakukan dalam pemulihan pendapatan adalah
sebagai berikut :

Melakukan analisa kegiatan ekonomi seluruh penduduk terkena


dampak (menurut jenis kelamin, umur, pendidikan, ketrampilan, pendapatan,
besarnya keluarga, preferensi, pilihan) untuk menilai kebutuhan mereka.

23

Mengidentifikasi berbagai program pemulihan pendapatan (perorangan

dan kelompok) melalui konsultasi dengan pengusaha serta analisis kelayakan


pasar dan keuangan.
Menguji program pelatihan dan pengembangan pendapatan dengan

penduduk terkena dampak terpilih atas dasar percobaan.

Merumuskan kerangka pengawasan kelembagaan dan anggaran.

Memacu pemasaran produk di dalam dan di luar tempat relokasi.

Mengevaluasi program dan memberi bantuan teknis tambahan jika


diperlukan.

Program pengembangan pendapatan yang baik memerlukan dukungan dan fasilitas


antara tiga sampai lima tahun sebelum dapat berfungsi. Pimpinan proyek mungkin
harus

melaksanakan strategi jangka pendek dan panjang untuk memulihkan

pebdapatan OTD. Strategi pemulihan pendapatan jangka pendek merupakan


bantuan segera pada waktu relokasi dan meliputi :
Ganti rugi lahan, bangunan dan semua kekayaan lain yang terkena
dampak dibayar penuh sebelum relokasi,
Bantuan pembangunan rumah dan biaya tunjangan relokasi
dibayar secara penuh selama masa sulit sampai kondisi normal kembali,
Dibebaskan dari biaya transportasi atau pembongkaran dan
pemukiman kembali untuk relokasi,
Subsidi sarana produksi pertanian dan peternakan untuk dua atau
tiga tahun pertama atau tingkat pendapatan pulih kembali,
Kerja sementara atau jangka pendek dalam kegiatan pembangunan
konstruksi di tempat pemukiman kembali atau konstruksi proyek,
Bantuan khusus, bila perlu untuk kelompok rentan seperti kaum
wanita, kelompok suku terasing, kelompok usia lanjut dan orang-orang cacat.
Strategi pemulihan pendapatan jangka panjang mencakup kegiatan ekonomi
berdasarkan lahan dan non lahan yang akan memberi sumber pendapatan yang
berkesinambungan dan berjangka waktu lama serta untuk menciptakan pemulihan
atau peningkatan taraf hidup OTD. Strategi ini dapat terdiri dari kedua program
tersebut yang mendapat bantuan proyek (misalnya, pembelian lahan pengganti,
pekerjaan, pelatihan, dan berbagai masukan untuk pemulihan pendapatan) dan
menjalin keterkaitan dengan program-program pembangunan ekonomi setempat
atau nasional.

24

6.4.2.8.
Pengertian

Pemantauan dan Evaluasi

Pemantauan/monitoring

adalah

suatu

kegiatan

observasi

yang

berlangsung terus menerus untuk memastikan dan mengendalikan keserasian


pelaksanaan program dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Sedangkan
Evaluasi adalah suatu teknik penilaian kualitas program yang dilakukan secara
berkala melalui metode yang tepat.
Pemantauan pemukiman kembali berarti pengumpulan, analisis, pelaporan dan
penggunaan informasi tentang kemajuan pemukiman kembali berdasarkan rencana.
Pemantauan bertumpu pada sasaran fisik dan keuangan dan penyerahan entitelmen
(bantuan yang layak diterima OTD berdasarkan jenis kerugian yang dialami OTD).
Pemantauan biasanya dilakukan sendiri oleh Instansi Pelaksana, dengan bantuan
ahli Pemantauan yang berasal dari luar instansi.
Evaluasi pemukiman kembali berlangsung selama dan setelah pelaksanaan. Hal ini
dilakukan

untuk

menilai

tingkat

pencapaian

tujuan

pemukiman

kembali,

khususnya apakah mata pencaharian atau taraf hidup telah pulih atau meningkat.
Evaluasi dibedakan dengan Pemantauan, karena evaluasi lingkupnya lebih luas,
waktunya tidak terlalu sering dan adanya keterlibatan ahli yang independen.
Sistem Pemantauan dan evaluasi terdiri dari :
Kegiatan Pemantauan dan evaluasi saat pembebasan lahan
Kegiatan Pemantauan dan evaluasi saat persiapan pemindahan penduduk
Kegiatan Pemantauan dan evaluasi saat pemindahan penduduk
Kegiatan Pemantauan dan evaluasi setelah pemindahan penduduk

25