You are on page 1of 7

KEJANG

Definisi
Kejang adalah perubahan aktivitas motorik abnormal yang tanpa atau disertai dengan perubahan
perilaku yang sifatnya sementara yang disebabkan akibat perubahan aktivitas elektrik di otak.
Epilepsi adalah kondisi dimana terjadi kejang berulang karena ada proses yang mendasari.
Sedangkan intractable seizure adalah kejang dimana penggunaan obat - obatan tidak cukup kuat
untuk menangani kejang.

Klasifikasi Kejang
Menurut International League against Epilepsy, kejang dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Kejang parsial
Kejang parsial adalah kejang yang berhubungan dengan keterlibatan satu hemisfer
serebri. Kejang parsial dapat berkembang menjadi kejang umum pada 30% anak yang
mengalami kejang. Pada umumnya kejang ini ditemukan pada anak berusia 3 hingga 13
tahun. Kejang parsial dapat dikelompokkan menjadi :
a. Kejang parsial simpleks
Kejang parsial simpleks adalah bentuk kejang parsial yang tanpa disertai
dengan perubahan status mental. Kejang ini sering ditandai dengan perubahan
aktivitas motorik yang abnormal, sering terlihat pola aktivitas motorik yang tetap
pada wajah dan ekstremitas atas saat episode kejang terjadi. Walaupun kejang
parsial simpleks sering ditandai dengan perubahan abnormal dari aktivitas
motorik, perubahan abnormal dari sensorik, autonom, dan psikis
b. Kejang parsial kompleks
Kejang parsial kompleks ditandai dengan perubahan abnormal dari
persepsi dan sensasi, dan disertai dengan perubahan kesadaran. Pada saat kejang,
pandangan mata anak tampak linglung, mulut anak seperti mengecap ngecap,
jatuhnya air liur keluar dari mulut, dan seringkali disertai mual dan muntah.
c. Kejang parsial dengan kejang umum sekunder

Kejang parsial dapat melibatkan kedua hemisfer serebri dan menimbulkan


gejala seperti kejang umum. Kejang parsial dengan kejang umum sekunder
biasanya menimbulkan gejala seperti kejang tonik klonik. Hal ini sulit dibedakan
dengan kejang tonik klonik.
2. Kejang Umum
Kejang umum adalah kejang yang berhubungan dengan keterlibata kedua
hemisfer serebri. Kejang umum disertai dengan perubahan kesadaran. Kejang umum
dapat dikelompokkan menjadi :
a. Kejang tonik klonik (grand mal seizure)
Kejang tonik klonik adalah bentuk kejang umum yang paling sering terjadi
pada anak. Kebanyakan kejang ini memiliki onset yang tiba tiba, namun
pada beberapa anak kejang ini didahului oleh aura (motorik atau sensorik).
Pada awal fase tonik, anak menjadi pucat, terdapat dilatasi kedua pupil, dan
kontraksi otot otot yang disertai dengan rigiditas otot yang progresif. Sering
juga disertai dengan inkontinensia urin atau inkontinensia tinja. Kemudian
pada fase klonik, terjadi gerakan menghentak secara ritmik dan gerakan fleksi
yang disertai spasme pada ekstremitas. Terjadi perubahan kesadaran pada
anak selama episode kejang berlangsung dan bisa berlanjut hingga beberapa
saat setelah kejang berhenti.
b. Kejang tonik
Bentuk kejang ini sama seperti kejang tonik klonik pada fase tonik. Anak
tiba tiba terdiam dengan seluruh tubuh menjadi kaku akibat rigiditas otot
yang progresif.
c. Kejang mioklonik
Kejang mioklonik ditandai dengan gerakan kepala seperti terjatuh secara
tiba tiba dan disertai dengan fleksi lengan. Kejang tipe ini dapat terjadi
hingga ratusan kali per hari.
d. Kejang atonik
Kejang atonik ditandai dengan kehilangan tonus otot secara tiba tiba.
e. Kejang absens
Kejang absens dapat dibagi menjadi kejang absens simpel (tipikal) atau
disebut juga petit mal dan kejang absens kompleks (atipikal). Kejang absens
tipikal ditandai dengan berhentinya aktivitas motorik anak secara tiba tiba,
kehilangan kesadaran sementara secara singkat, yang disertai dengan tatapan

kosong. Sering tampak kedipan mata berulang saat episode kejang terjadi.
Episode kejang terjadi kurang dari 30 detik. Kejang ini jarang dijumpai pada
anak berusia kurang dari 5 tahun. Kejang absens atipikal ditandai dengan
gerakan seperti hentakan berulang yang bisa ditemukan pada wajah dan
ekstremitas, dan disertai dengan perubahan kesadaran.
f. Kejang tak terklasifikasi
Kejang ini digunakan untuk mengklasifikasikan bentuk kejang yang tidak
dapat dimasukkan dalam bentuk kejang umum maupun kejang parsial. Kejang
ini termasuk kejang yang terjadi pada neonatus dan anak hingga usia 1 tahun.
Etiologi
Penyebab kejang secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu intrakranial dan
ekstrakranial.
1. Intrakranial
Penyebab intrakranial dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu primer dan sekunder.
Penyebab intrakranial primer disebut juga idiopatik. Sedangkan sekunder dapat
disebabkan karena neoplasma intrakranial, kelainan kongenital seperti hidrosefalus,
infeksi seperti meningitis dan ensefalitis, dan trauma kepala.
2. Ekstrakranial
Penyebab ekstrakranial biasa disebabkan karena gangguan metabolisme seperti
hipoglikemia,

hipokalsemia,

hepatik

ensefalopati,

uremia,

hiperproteinemia,

hiperlipidemia, hipotiroid, dan hipoksia. Penyebab ekstrakranial dapat juga disebabkan


oleh metastasis keganasan ke otak.

Kejang Intrakranial

PENYAKIT PENYAKIT DENGAN DISERTAI GEJALA KEJANG


NO.
1.

PENYAKIT
Epilepsi

GEJALA KLINIS
Kejang berulang
Kejang Parsial Simpleks,
tanpa

disertai

perubahan

status

mental,

perubahan

abnormal

pada

sensorik,

autonom,

psikis.
Kejang

kongenital, gangguan

motorik,

neurologik fokal atau difus,

dan

kompleks,

parsial

simpleks

namun

disertai

penurunan

kesadaan
Kejang absens, tanpa aura,
berlangsung singkat dan tiba-

tiba, disertai amnesia.


Kejang atonik, kehilangan

tonus otot secara tiba-tiba.


Kejang mioklonik, terjadi

2.

Meningitis

infeksi telinga atau sinus.


Sebab- sebab terjadinya
serangan epilepsi harus dapat

memiliki gejala sama dengan


kejang

dengan epilepsi seperti


trauma kepala, gangguan

parsial

PEMERIKSAAN FISIK
gangguan yang berhubungan

ditepis melalui pemeriksaan


fisik dengan menggunakan
umur dan riwayat penyakit
-

sebagai pegangan.
Untuk penderita anak-anak,
pemeriksa harus
memperhatikan adanya
keterlambatan
perkembangan,

kontraksi bilateral simetris

organomegali, perbedaan

yang terjadi secara singkat

ukuran antara anggota tubuh

dan cepat. Bisa tunggal atau

dapat menunjukan awal

berulang
Kejang Tonik

ganguan pertumbuhan otak

kesadaran

menghilang

dengan cepat dan total


Panas mendadak
Letargi
Muntah
Kejang
Anoreksia
Dehidrasi

Klonik

unilateral.

Pemeriksaan
meningeal seperti :
- Kaku Kuduk
- Kernig Sign
- Brudzinki I

rangsangan

3.

Ensefalitis

Suhu tubuh naik mendadak


Hiperpireksia
Kesadaran Menurun
Nyeri Kepala
Muntah
Kejang Parsial atau bisa

terdapat Kejang Umum


Nisgatmus, Anisokor

- Brudzinki II
Penurunan Kesadaran
Hemiparesis
Ataksia
Kaku Kuduk
Papil Edema

Kejang Ekstrakranial

No
1

Penyakit
Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile
Seizure)

Gejala Klinis
Demam, suhu > 38oC
Kejang berlangsung singkat, < 15 menit
Kejang umum tonik dan atau klonik
Umumnya berhenti sendiri
tanpa
gerakan fokal atau berulang dalam 24
jam

Kejang Demam Komplikata (Complex Febrile


Seizure)

Tetanus

Demam, , suhu > 38oC


Kejang lama, > 15 menit
Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau

kejang umum didahului kejang parsial


Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24

jam
Kejang bertambah berat selama 3 hari

pertama, dan menetap selama5 -7hari.


Setelah 10 hari kejang mulai berkurang

frekwensinya
Setelah2 minggukejang mulai hilang.
Biasanya didahului dengan ketegangaan

otot terutama pada rahang dari leher.


Kemudian timbul kesukaran membuka
mulut ( trismus,lockjaw) karena spasme

Otot masetter.
Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk

( opistotonus , nuchalrigidity ) Risus


sardonicus karena spasmeotot muka
dengan gambaran alis tertarik keatas,
sudut mulut tertarik keluar dan kebawah,
bibir tertekan kuat .
Gambaran Umum yang khas berupa

badan kaku dengan opistotonus, tungkai


dengan Eksistensi, lengan kaku dengan
mengepal, biasanyakesadaran tetap baik.
Karena kontraksiotot yang sangat kuat,

dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi


urin, bahkandapatterjadi fraktur collumna
4

vertebralis (pada anak)


sakit kepala yang hebat
nausea dan muntah.
Tanda gangguan serebral seperti

Hipertensi ensefalopati

kejang ataupun koma (dapat terjadi


apabila tekanan darah tidak segera

diturunkan).
Timbul apabila tekanan diastolik

melebihi 140 mmHg.


Hipertensi berat yang diikuti tandatanda payah jantung, pendarahan
otak, pendarahan pasca operasi
merupakan keadaan kedaruratan
hipertensi

Ketidakseimbangan elektrolit

Kelelahan

Kram otot dan kejang

Mual

Pusing

Pingsan

Lekas marah

Muntah

Mulut kering

Denyut jantung lambat

Kejang

Palpitasi

Tekanan darah rendah

Kurangnya koordinasi

Sembelit

Kekakuan sendi