You are on page 1of 13

MAKALAH

TEORI KOGNITIF

NAMA

: SYAMSINAR. M

NIM

: 14.1302.354

UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR


MAKASSAR
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
karunianya, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
pembaca pada umumnya. Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini jauh dari
sempurna maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang
sifatnya membangun, yang dapat membuat makalah ini menjadi sempurna dimasa
yang akan datang.

Jeneponto,

September 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar..i
Daftar Isi..ii
Bab I Pendahuluan..1
A.Latar belakang.....1
B.Rumusan masalah.1
Bab II Pembahasan.2
A.Teori belajar kognitif ..2
B.Teori-teori belajar berbasis kognitivisme.....4
Bab III Penutup..10
A.Kesimpulan.10
B.Saran...10
Daftar Pustaka.11

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan maksud memperoleh pengetahuan serta untuk
meningkatkan keterampilan yang dimiliki seseorang, kegiatan belajar dapat
dilakukan dimana saja misalnya di perpustakaan, museum, sekolah maupun
tempat

rekreasi.

Menurut

Wertheimer

proses

belajar

tidaklah

tepat

mempergunakan metode menghafal, tetapi lebih baik bila murid belajar dengan
pengertian atau pemahaman. Kegiatan belajar harus berlandaskan pada teoriteori dan prinsip- prinsip belajar agar biasa mencapai tujuan dari kegiatan belajar
tersebut. Teori belajar membahas dan menjelaskan bagaimana individu belajar
dengan maksud memperoleh pengetahauan, keterampilan, sikap dan nilai dari
suatu proses pembelajaran. Teori-teori belajar dapat digunakan sebagai landasan
untuk menciptakan suatu proses atau kegiatan pembelajaran yang ingin dicapai
oleh seorang guru khususnya dan oleh masyarakat luas pada umumnya, salah
satunya teori belajar kognitif yang akan dibahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1.Apa yang dimaksud teori belajar kognitif?
2.Apa saja teori-teori belajar berbasis kognitivisme?
C. Tujuan Penulisan Makalah
1.Memahami pengertian teori belajar kognitif.
2.Memahami teori-teori belajar berbasis kognivisme.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Belajar Kognitif
Menurut Wundt kognitif adalah suatu proses aktif dan kreatif yang
bertujian membangun struktur melalui pengalaman-pengalaman. Wundt percaya
bahwa

pikiran adalah hasil kreasi para siswa yang aktif dan kreatif yang

kemudian disimpan di dalam memori (Divesta, 1987). Teori belajar kognitif


menekankan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi serta
pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.
Teori ini lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar. Model
belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai
model perceptual.
Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu
dapat terlihat sebagai tingkah laku yang tampak. Teori ini berpandangan bahwa
belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi,
pengolahan informasi, emosi dan aspek kejiwaan lainnya. belajar merupakan
aktifitas yang melibatkan proses berpikiryang sangat kompleks (Budiningsih,
2005 : 34). Menurut pendekatan kognitif, dalam kaitan teori pemrosesan
informasi, unsur terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang
dimiliki setiap individu sesuai dengan situasi belajarnya. Apa yang telah
diketahui siswa akan menentukan apa yang akan diperhatikannya, dipersepsi
olehnya, dipelajari, diingat atau bahkan dilupakan. Perspktif kognitif membagi
jenis pengetahuan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

1. Pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan yang dapat dinyatakan dalam


bentuk kata atau disebut pula pengetahuan yang konseptual. Pengetahuan
yang deklaratif rentangnya luas, dapat tentang fakta, konsep, generalisasi,
pengalaman pribadi atau tentang hukum dan aturan.
2. Pegetahuan procedural, yaitu pengetahuan tentang tahap-tahap atau prosesproses yang harus dilakukan, atau pengetahuan tentang bagaimana
melakukan
(how to do). Pengetahuan ini dicirikan oleh adanya praktik atau
implementasi dari suatu konsep.
3. Pengetahuan kondisional, yaitu pengetahuan tentang kapan dan mengapa
(when and why) suatu pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural
digunakan.

Pengetahuan

ini

terkait

dengan

bagaimana

mengimplementasikan

baik pengetahuan deklaratif, maupun procedural.

Pengetahuan ini amat

penting karena menentukan kapan penggunaan

konsep dan prosedur yang tepat dalam pemecahan masalah.


Dalam konteks kognivisme yang dianggap pengembanagan teori
pemrosesan informasi yang justru Robert M. Gagne, yang kemudian
dikembangkan oleh Geoerge Miller. Menurut Gangne, dalam pembelajaran
terjadi proses peerimaan informasi yang selanjutnya diolah sehingga
menghasilkan keluaran berupa hasil belajar.
Dalam pengolahan informasi terjadi interaksi antara kondisi-kondisi
internal dengan kondisi eksternal individu. Kondisi internal adalah kondisi
dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil pembelajaran yang
optimal serta

proses kognitif yang terjadi dalam diri individu. Sedangkan

kondisi eksternal adalah rangsanag dari luar yang mempengaruhi individu dalam
proses pembelajaran.
Model pengolahan informasi merupakan model dalam teori belajar yang
menjelaskan kerja motorik manusia yang meliputi Tiga macam system
penyimpanan ingatan, yaitu :
1. Memori sensori, suatu sistem mengingat stimuli secara cepat.
2. Memori kerja, yaitu memori jangka pendek.
3. Memori jangka panjang. Berfungsi menyimpan informasi yang sangat besar
dalam waktu yang lama.
B. Teori-Teori Belajar Berbasis Kognitivisme
1. Teori Kogitif Gestalt Pokok pandangan gestalt bahwa objek atau peristiwa
tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasi.
Pandangan gestalt lebih menekankan kepada perilaku molar. Implementasi
teori Gestalt dalam pembelajaran, antara lain :
(1) Pengalaman tilikan (insight), kemampuan tilikan adalah kemapuan
mengenali keterkaitan unsur-unsur dalam suatu peristiwa.
(2) Pembelajaran bermakana (meaningful learning), kebermakaa unsureunsur yang terkait dalam proses pembelajaran akan semakin efektif
sesuatu yang dipelajari, hal ini akan sangat penting dalam pemecahan
masalah.
(3) Perilaku bertujuan (purposive behavior), maknanya perilaku terarah pada
tujuan. Proses pembelajaran akan sangat efektif jika peserta didik
mengenal tujuan yang ingin dicapai dari suatu proses pembelajaran
tersebut.
(4) Prinsip ruang hidup (life space), bahwa perilaku individu memiliki
keterkaitan dengan lingkungan di mana ia berada. Materi pembelajaran
hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan
ditempat siswa tinggal dan hidup. Konsep ini dikembangkan oleh Lewin.

(5) Transfer dalam belajar, transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik
telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu maslah dan
menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam pemecahan
masalah
2. Teori belajar medan kognitif dari kurt lewin
Kurt lewin mengembangkan teori belajar medan kognitif (cognitive
feld menitikberatkan perhatian pada kepribadian dan psikologi sosial, karena
pada hakikatnya masing-masing individu berada didalam suatu medan
kekuatan, yang bersifat psikologis, yang disebut life space. Life space
mencakup

perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi, misalnya

orang yang dijumpai, fungsi kejiwaan yang dimiliki dan objek material yang
dihadapi. Jadi, tingkah laku merupakan hasil inteaksi antar kekuatan, baik
yang berasal dari dalam diri individu, seperti tujuan, kebutuhan, tekanan
kejiwaan, maupun yang berasal dari luar diri individu, seperti tantangan dan
permasalahan yang dihadapi. Dalam pencapaian tujuan seorang individu
selalu ada hambatan atau tantangan yang harus dihadapi. Sehingga motivasi
internal akan muncul karena untuk mencapai suatu tujuan dengan
menghadapi hambatan diperlukan motivasi dalam diri, dengan demikian
peran motivasi jauh lebih penting daripada hadiah.
3. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget
Teori perkembangan kognitif disebut pula teori perkembangan
intelektual atau teori perkembangan mental. Menurut Piaget, perkembangan
kognitif adalah suatu proses genetik yaitu suatu proses yang didasarkan atas
mekanisme biologis

perkembangan sistem saraf. Piaget cenderung

menganut teori psikogenesis, artinya pengetahuan sebagai hasil belajar

berasal dari dalam individu. Proses berpikir anak merupakan suatu aktivitas
gradual, tahap demi tahap dari fungsi intelektual, dari konkret menuju
abstrak.
Menurut Piaget Secara garis besar skema yang digunakan anak untuk
memahami dunianya dibagi dalam empat periode utama atau tahapantahapan sebagai berikut :
1. Tahap sensori motor ( sejak lahir sampai sekitar 2 tahun)
2. Tahap pra-operasional ( sekitar usia 2 7 tahun)
3. Tahap operasional konkret ( sekitar 7- 11 tahun)
4. Tahap operasional formal ( usia 11 tahun dan seterusnya)
Perkembangan skema adalah universal dalam urutannya, artinya
semua pembelajar di seluruh dunia memang harus melewati tahap sensori
motor sampai kepada tahap operasional formal. Menurut Piaget (Semiawan,
2002 : 51-52) semua perkembangan skema bersifat universal bagi seluruh
umat manusia, sehingga implikasinya bagi pendidikan adalah kita tidak dapat
mengajarkan sesuatu pada seseorang bila belum ada kesiapan yang merujuk
kepada kematangannya.
Piaget mengembangkan konsep adaptasi dengan dua varian yaitu
asimilasi dan akomodasi. Adaptasi yaitu struktur fungsional, sebuah istilah
yang digunakan Piaget untuk menunjukkan pentingnya pola hubungan
individu dengan lingkungannya dalam proses pengembangan kognitif.
Akomodasi yaitu menciptakan langkah baru atau memperbaharui atau
menggabungkan isitlah/konsep lama menghadapi tantangan baru. Jadi,
asimilasi terjadi perubahan pada objeknya, sedangkan pada akomodasi
perubahan pada subjeknya, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan objek
yang ada diluar dirinya.

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran


adalah sebagai berikut :
1. Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik bila dapat menghadapi lingkungan
dengan baik.
3. Bahan yang harus dipejarai anak hendaknya dirasakan sebagai bahan
baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar

anak

belajar

sesuai

dengan

tahap

perkembangannya.
5. Didalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling
berbicara dan diskusi dengan teman-temannya.
Konsep Piaget langkah-langkah pembelajaran meliputi aktivitas
sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Menentukan tujuan pembelajaran


Memilih materi pembelajaran
Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara aktif
Menentukan kegiatan belajar yang sesuai dengan topik-topik
Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang

kreativitas dan cara berpikir siswa


6. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
4. Teori Discovery Learning dari Jerome S. Bruner
Dasar teori Bruner adalah ungkapan Piaget yang menyatakan bahwa
anak harus berperan secara aktif saat belajar di kelas. Konsepnya dalah
belajar dengan menemukan, siswa mengorganisasikan bahan pelajaran yang
dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat
kemajuan berpikir anak.
Menurut Bruner seiring dengan terjadinya pertumbuhan kognitif para
pembelajar harus melalui tiga tahapan perkembangan intelektual itu menurut
Bruner meliputi :

1. Enaktif, seseorang belajar tentang dunia melalui respon atau aksi


terhadap suatu objek.
2. Ikonik, pembelajarn terjadi melalui penggunaan model dan gambargambar dan visualisasi verbal.
3. Simbolik, siswa mampu menggambarkan kapasitas berpikir dalam
istilah yang abstrak. Tujuan pokok pendidikan menurut Bruner adalah
guru harus memandu para siswa sehingga mereka dapat membangun
basis pengetahuannya sendiri dan bukan karena diajari melalui
memorisasi hafalan.
Teori pembelajaran dari Jerome Bruner adalah teori pembelajaran
konsep atau pembelajaran kategori atau dikenal sebagai pemerolehan
konsep. Jadi, pembelajaran konsep adalah strategi yang mempersyaratkan
seorang

pembelajar untuk membandingkan dan mengontraskan seorang

pembelajar untuk membandingkan dan mengontraskan kelompok-kelompok


atau kategori-kategori yang mengandung cirri-ciri konsep yang relevan
dengan kelompok atau kategori yang tidak mengandung cirri-ciri konsep
yang relevan.
Langkah-langkah pembelajaran menurut Bruner sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menentukan tujuan pembelajaran


Melakukan identifikasi karakteristik siswa
Memilih materi pelajaran
Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara induktif
Mengembangkan bahan-bahan belajar
Mengatur topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang

konkret ke abstrak, dari tahap enaktif, ikonik, ke simbolik


7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori belajar kognitif lebih menekankan bahwa perilaku seseorang
ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan
dengan tujuan belajarnya. Teori ini lebih mementingkan proses belajar dari
pada hasil belajar.
Tokoh dalam teori belajar kognitivisme dari Gestalt yang memandang bahwa
objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang
terorganisasi, teori belajar medan kognitif dari Kurt Lewin yang memandang
bahwa setiap individu berada didalam suatu medan kekuatan yang bersifat
psikologis, teori belajar perkembangan Jean Piaget yang memandang bahwa
perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses
yang didasarkan atas mekanisme bilogis, perkembangan sistem saraf, teori
belajar discovery learning dari Jerome S. Bruner yang memandang bahwa anak
haus berperan secara aktif saat belajar dikelas. Konsepnya adalah belajar
dengan

menemukan

siswa

mengorganisasikan

bahan

pelajaran

yang

dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan
berpikir anak.

B. Saran
Teori belajar kognitif hendaknya digunakan sebagai landasan atau dasar
yang harus dipahami oleh guru ataupun calon guru pada khususnya dan pada
masyarakat pada umumnya agar apa yang di di pelajari dapat digunakan dalam
kegiatan belajar dan pembelajaran

DAFTAR PUSTAKA

o Djaali, 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.


o Hariyanto, Suyono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit
Remaja Rosdakarya