Вы находитесь на странице: 1из 21

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Dry eye atau keratokonjungtivitis sika merupakan masalah cukup penting
dalam kesehatan masyarakat yang menyebabkan rasa tidak nyaman di mata, lelah
dan gangguan penglihatan yang menganggu aktivitas sehari-hari. Pada
International Dry Eye WorkShop menjelaskan bahwa dry eye merupakan penyakit
multifaktorial karena gangguan produksi air mata dan tidak stabilnya film air mata
atau evaporasi air mata yang berlebihan. Hal ini menimbulkan beberapa gejala
yaitu rasa tidak nyaman di mata, cepat lelah, gangguan penglihatan. Gejala
lainnya seperti rasa terbakar, mucus yang berlebihan di mata, fotosensitivitas, sulit
menggerakan kelopak mata, dan sakit.

Angka kejadian sindroma mata kering ini lebih banyak pada wanita dan
cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan usia. Berdasarkan data
epidemiologi dari beberapa penelitian, didapatkan sekitar 7.8% atau 3.23 juta
wanita di Amerika dan 4.7% atau 1.6 juta laki-laki dengan usia>50 tahun
mengalami dry eye. Dry eye merupakan penyakit paling sering terjadi di daerah
Asia, dimana 20-50% terjadi pada usia tua. 1
Tear film normal diperlukan untuk mempertahankan fungsi permukaan
okuler. Perubahan patologis yang terlihat pada sindrom mata kering (dry eye
disease) mempengaruhi semua komponen tear film. Air mata diperlukan untuk
mempertahankan kesehatan permukaan depan mata.Orang dengan dry eye tidak
menghasilkan air mata yang cukup atau memiliki kualitas air mata yang buruk.
Dry eye merupkan masalah yang sering terjadi, terutama di usia lanjut, makan dari
itu dibutuhkan penanganan yang tepat untuk menurunkan angka morbiditas
karena dry eye dan meningkatkan kualitas hidup. 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

ANATOMI
A. Palpebra
Ketika menutup, palpebra menutupi bagian anterior bola mata agar
mata terlindungi dari cedera dan sinar yang berlebihan. Selain itu juga
berfungsi untuk melembabkan kornea dengan menyebarkan cairan
lakrimalis. Palpebra terdiri atas palpebra superior dan inferior yang
diperkuat oleh jaringan ikat dan didalamnya terdapat kelenjar tarsal yang
mensekresi lipid untuk melumasi palpebra dan mencegah palpebra
superior dan inferior saling menempel ketika menutup. Lipid tersebut juga
berfungsi sebagai barier terhadap cairan air mata agar tidak keluar dari
mata, namun jika produksi air mata berlebihan maka air mata akan jatuh
membasahi pipi. Bagian dalam palpebra dilapisi oleh

konjungtiva

palpebra dibagian dalamnya dan tersambung dengan konjungtiva bulbi


yang melapisi sklera. 2

Gambar 1. Palpebra

B. Konjungtiva
2

Konjungtiva merupakan membran mukosa lembut yang melapisi


bagian dalam palpebra hingga bagian anterior sklera. Konjungtiva yang
melapisi palpebra lebih tebal dan kaya pembuluh darah, namun
konjungtiva yang melapisi sklera lebih tipis. Garis refleksi dari palpebra
ke sklera disebut dengan fornix konjungtiva, dimana bagian fornix
superior menerima pembukaan kelenjar lakrimalis. 2

Gambar 2. Konjungtiva
C. Kornea
Kornea adalah daerah sirkuler pada bagian anterior dari lapisan
fibrous luar bola mata. Kornea dapat membesar untuk merefraksi cahaya
yang masuk ke mata. Kornea transparan, sensitif terhadap sentuhan,
diinervasi oleh nervus ophtalmikus, dan avaskular. Kornea mendapatkan
nutrisi dari kapiler perifer, humor akuos, dan kelenjar lakrimalis. 2

Gambar 3.
Penampang Bola Mata

D. Aparatus Lakrimalis
Aparatus lakrimalis bertugas dalam produksi, perpindahan, dan
pengaliran cairan lakrimalis di permukaan bola mata. Aparatus lakrimalis
terdiri dari: 2

Gambar 4. Aparatus Lakirmalis


1) Kelenjar lakrimalis
Berfungsi mensekresi cairan lakrimalis yaitu cairan fisiologis yang
mengandung enzim lisozim yang bersifat bakteriosidal. Cairan ini
melembabkan permukaan konjungtiva, kornea, dan menyediakan nutrisi
dan oksigen bagi kornea. Jika produksinya berlebihan disebut air mata.
Kelenjar lakrimalis berbentuk seperti kacang almond dan memiliki
panjang 2 cm yang terbentang di fosa kelenjar lakrimalis bagian
superolateral orbita. Kelenjar lakrimalis dibagi menjadi bagian superior
(orbital) dan inferior (palpebral) oleh tendon muskulus levator palpebra
2) Duktus lakrimalis
Bertugas sebagai penyalur cairan lakrimalis dari kelenjar lakrimalis ke
kantong konjungtiva
3) Kanalikuli lakrimalis
Mulai dari punctum lakrimalis pada papila lakrimalis dekat sudut
medial mata dan mengalirkan cairan lakrimalis dari lakus lakrimalis
(tempat air mata dikumpulkan) ke kantong lakrimalis
4) Duktus nasolakrimalis
Berfungsi membawa cairan lakrimalis ke meatus nasalis inferior. 2
II. HISTOLOGI
A. Palpebra
Ada 3 tipe kelenjar yang berada di palpebra yaitu kelenjar meibomian,
kelenjar moll, dan kelenjar zeis. Kelenjar meibomian adalah kelanjar

sebasea panjang yang terletak di tarsal plate dan tidak berhubungan


dengan folikel rambut. Kelenjar meibomian memproduksi substansi
sebasea yang membentuk lapisan minyak pada permukaan film air mata
yang membantu mencegah evaporasi dari lapisan air mata. Kelenjar zeis
adalah modifikasi kelenjar sebasea yang lebih kecil dan berhubungan
dengan folikel bulu mata. Kelenjar keringat moll adalah tubulus sinus
yang tidak bercabang yang mensekresi keringat melalui folikel bulu
mata.3,4

Gambar 5. Histologi Palpebra

B. Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa transparan tipis yang
membungkus bagian anterior mata hingga kornea dan bagian permukaan
dalam palpebra. Konjungtiva terdiri dari epitel berlapis silindris dengan
sejumlah sel goblet dan pada lamina propianya terdiri dari jaringan ikat
longgar.3,4

C. Kornea
Kornea merupakan struktur yang avaskular yang terdiri dari 5
lapisan. Bagian permukaan luarnya dilapisi oleh epitel berlapis pipih tak
bertanduk, epitel berada di lamina basalis yang di sokong oleh lapisan
stroma kornea yang disebut dengan Membran Bowman. Bagian penting
dari kornea yaitu substansia propia atau stroma yang terdiri dari bentukan
jaringan kolagen regular yang membentuk lamela tipis. Bagian paling
dalam dari kornea yaitu sel endotel yang pipih yang disokong oleh
membran tebal yang disebut membran descemet. Endotelium kornea
secara aktif memompa cairan dari substansia propia, mencegah cairan
berlebihan yang menyebabkan kornea menjadi buram. Kornea kaya akan
inervasi oleh free nerve ending yang menyebabkan kornea sangat sensitif
terhadap nyeri. 3,4

Gambar 7. Histologi Kornea

D. Aparatus Lakrimalis
Kelenjar lakrimalis responsibel terhadap sekresi air mata yaitu
cairan yang mengandung enzim lisozim antibakteri dan elektrolit yang
mirip dengan konsentrasi plasma. Secara histologi, kelenjar lakrimalis
strukturnya mirip dengan kelenjar ludah yaitu berbentuk lobuler dan
campuran bentukan tubulo-asinar dari unit sekretori. Sel sekretori
memiliki tipe yang serupa dengan sel serous yang terletak di basal nukleus
dan tercat kuat dengan sitoplasma granular. Setiap kelenjar mengalirkan
air mata melalui duktuks ke fornix superior. Air mata mengalir dari
permukaan anterior bola mata ke cavitas nasalis melalui duktus
nasolakrimalis. 3,4

III. FISIOLOGI AIR MATA


Film air mata preokular (preocular tear film / PTOF) memiliki 3
lapisan yang terdiri dari lipid, aqueous, dan mukus. Kelenjar meibomian
pilosebasea pada palpebra memproduksi sebagian besar lapisan lipid.
Kelenjar zeis dan moll pada tepi palpebra yang berhubungan dengan bulu
mata juga berkontribusi pada lapisan ini. Lapisan ini ini berfungsi dalam
stabilisasi lapisan dan memperlambat evaporasi. 5,6

Lapisan lipid
Memiliki ketebalan <0,1m. Lipid meibomian bersifat lilin dan kolesterol
ester. Berat molekul tinggi dan kurang polar yang penting untuk formasi,
stabilisasi, dan proteksi PTOF. Perubahan polaritas pada penyakit seperti
blepharitis dapat menyebabkan gangguan permukaan bola mata dan
menunjukkan gejala mata kering. 5,6

Lapisan aquos
90% dari PTOF adalah lapisan aquos. Sebagian besar yang berkontribusi
membentuk lapisan ini adalah kelenjar lakrimalis aksesori yaitu Krause
dan Wolfring. Lapisan aquos mengandung lisozim dan protein meliputi
laktoferrin yang menghambat aktivitas antibakterial. Analisis laboratorium
menunjukkan fungsinya dalam evaluasi diagnostik lapisan aquos . 5,6

Lapisan mukus
Merupakan lapisan terdalam dari PTOF. Lapisan mukus diproduksi oleh
sel goblet konjungtiva, mukus melumasi palpebra dan menyerap bagian
diantara lapisan aquos dan epitel kornea yang bersifat hidrofobik serta
mengumpulkan debris-debris selular dari permukaan okular. 5,6

Gambar 9. Lapisan tear film


Mekanisme pengeluaran air mata
Produksi cairan lakrimalis di stimulasi oleh impuls parasimpatik
nervus fasialis. Cairan lakrimalis mengalir ke arah inferior mengikuti
pengaruh gravitasi. Ketika kornea mengering, kelopak mata akan menutup
sehingga mendorong film cairan ke arah tengah dan melintasi kornea.
Selama perjalanannya, cairan ini akan membawa material asing seperti
debu kemudian di dorong ke arah sudut medial mata dan dikumpulkan di
danau lakrimalis lalu di alirkan menuju puntum lakrimalis dan kanalikuli
lakrimalis menuju kantong lakrimalis. Dari kantong ini, cairan lakrimalis
akan

dialirkan

menuju

meatus

nasalis

inferior

melalu

duktus

nasolakrimalis. Cairan lakrimalis berfungsi dalam membersihkan partikel


dan bahan iritan serta menyediakan nutrisi dan oksigen untuk kornea. 4,5,6

Gambar 10. Sistem Lakrimalis

Fisiologi Berkedip
Rangsangan berkedip di bagi mejadi tiga kategori, yaitu :

Berkedip involunter yaitu berkedip secara spontan, tanpa stimulus dengan

generator kedipan di otak yang belum diketaui secara jelas.


Berkedip volunter yaitu secara sadar membuka dan menutup kelompak

mata.
Refleks berkedip adalah berkedip yang dirangsang bila ada stimulus
eksternal melalui nervus trigeminus dan nervus fasialis.
Berkedip melibatkan dua otot yaitu muskulus levator palpebra superior
dan muskulus orbikularis okuli. Aktivitas berkedip melibatkan nukleus
kaudatus dan girus presentralis media, dan inhibisi berkedip melibatkan
korteks frontal.
Mengedip berperan dalam produksi, distribusi dan drainase air mata.
Setiap berkedip, palpebra menutup miring resleting dan menyebarkan air
mata mulai dari lateral.

Air mata yang berlebih memenuhi sakus

konjungtiva kemudian bergerak ke medial untuk memasuki sistem eksresi.


Sewaktu palpebra mulai membuka, aparatus ekskretori sudah terisi air
mata dari kedipan mata sebelumnya. Kontraksi muskulus orbikularis okuli
untuk menutup sempurna palpebra akan menimbulkan tekanan menekan
dan mendorong seluruh air mata melewati kanalikuli, sakus lakrimalis,
duktus nasolakrimalis, dan meatus inferior. Tear film dibentuk kembali
dari kedipan mata setiap 3-6 detik dan untuk rupturnya tear film
membutuhkan waktu sekitar 3-5 menit. 4,5,6

IV.

DRY EYE SYNDROME


Definisi
Dry eye adalah suatu kondisi dimana terdapat insufisiensi air mata
untuk melumasi dan memelihara mata. Dry eye syndrome juga dikenal
sebagai keratoconjugctivitis sicca (KCS) atau keratitis sicca adalah
penyakit multifaktor dari air mata dan permukaan bola mata yang
menyebabkan

ketidaknyamanan,

gangguan

penglihatan,

dan

ketidakstabilan lapisan air mata yang berpotensi merusak permukaan


bola mata. 1
Etiologi
Penyebab mata kering diklasifikasikan

menjadi kelompok

defisiensi aqueous dan kelompok evaporasi. Pemeriksaan menggunakan


tes schirmer di indikasikan untuk defisiensi aqueous dan pemeriksaan
tear break up test di indikasikan untuk kelompok evaporasi. Penyebab
mata kering harus diketahui melalui riwayat pasien, pemeriksaan, dan
evaluasi permukaan bola mata agar dapat diberikan terapi yang sesuai
target. 1,8

Banyak diantara penyebab sindrom mata kering mempengaruhi lebih


dari satu komponen film air mata atau berakibat perubahan permukaan mata
yang secara sekunder menyebabkan film air mata menjadi tidak stabil. Ciri
histopatologik termasuk timbulnya bintik-bintik kering pada kornea dan epitel
konjungtiva, pembentukan filamen, hilangnya sel goblet konjungtiva,

pembesaran abnormal sel epitel non-goblet, peningkatan stratifikasi sel, dan


penambahan keratinasi. 1,8
A Kondisi ditandai hipofungsi kelenjar lakrimal
1 Kongenital
a Dysautonomia familier (sindrom Riley-Day)
b Aplasia kelenjar lakrimal (alakrima kongenital)
c Aplasia nervus trigeminus
d Dysplasia ektodermal
2 Didapat
a Penyakit sistemik
1 Sindrom sjorgen
2 Sklerosis sistemik progresif
3 Sarkoidosis
4 Leukimia, limfoma
5 Amiloidosis
6 Hemokromatosis
b Infeksi
1 Trachoma
2 Parotitis epidemica
c Cedera
1 Pengangkatan kelenjar lakrimal
2 Iradiasi
3 Luka bakar kimiawi
d Medikasi
1 Antihistamin
2 Antimuskarinik: atropin, skopolamin
3 Anestetika umum: halothane, nitrous oxide
4 Beta-adregenik blocker: timolol, practolol
e Neurogenik-neuroparalitik (fasial nerve palsy)
B Kondisi ditandai defisiensi musin
1 Avitaminosis A
2 Sindrom steven-johnson
3 Pemfigoid okuler
4 Konjungtivitis menahun
5 Luka bakar kimiawi
6 Medikasi-antihistamin, agen muskarin, agen Beta-adregenic blocker
C Kondisi ditandai defisiensi lipid:
1 Parut tepian palpebra
2 Blepharitis
D Penyebaran defektif film air mata disebabkan:
1 Kelainan palpebra
a Defek, coloboma
b Ektropion atau entropion

c
d

Keratinasi tepian palpebra


Berkedip berkurang atau tidak ada
1 Gangguan neurologik
2 Hipertiroid
3 Lensa kontak
4 Obat
5 Keratitis herpes simpleks
6 Lepra
e Lagophthalmus
1 Lagophthalmus nocturna
2 Hipertiroidi
3 Lepra
Kelainan konjungtiva
a Pterygium
b Symblepharon dan Proptosis. 1,5,6,8

Faktor Resiko 7

Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala tergantung dari keparahan sindroma mata kering
atau keratitis sicca, sebagian besar penderita mengeluhkan keadaan sebagai
berikut

1,7,8

Sensasi benda asing, mata kering, dan berpasir


hyperemia
mucoid discharge
iritasi mata
pengeluaran air mata yang berlebihan
photophobia
penglihatan kabur
Keluhan tersebut sering memberat pada lingkungan berasap atau

lingkungan kering, ruangan panas, dan aktifitas lama di depan komputer


atau membaca lama.
Pada kebanyakan pasien, ciri paling luar biasa pada pemeriksaan
mata adaah tampilan yang nyata-nyata normal. Ciri yang paling khas pada
pemeriksaan slitlamp adalah terputus atau tiadanya meniskus air mata di
tepian palpebra inferior. Benang-benang mukuskental kekuning-kuningan
kadang-kadang terlihat dalam fornix conjungtivae inferior. Pada
konjungtiva bulbi tidak tampak kilauan yang normal dan mungkin
menebal, beredema dan hiperemik.
Epitel kornea terlihat bertitik halus pada fissura interpalpebra. Selsel epitel konjungtiva dan kornea yang rusak terpulas dengan bengal rose
1% dan defek pada epitel kornea terpulas dengan fluorescein. Pada tahap
lnjut keratokonjungtivitis sicca tampak filamen-filamen dimana satu ujung
setiap filamen melekat pada epitel kornea dan ujung lain bergerak bebas.
Pada pasien dengan sindrom sjorgen, kerokan dari konjungtiva
menunjukkan peningkatan jumlah sel goblet. Pembesaran kelenjar lakrimal
kadang-kadang terjadi pada sindrom sjorgen. Diagnosis dan penderajatan

keadaan mata kering dapat diperoleh dengan teliti memakai cara


diagnostik berikut: 1,7,8

Tes Schirmer
Tes ini dilakukan dengan mengeringkan film air mata dan
memasukkan strip Schirmer (kertas saring Whatman No. 41) kedalam
konjungtiva inferior pada batas sepertiga tengah dan temporal dari
palpebra inferior. Bagian basah yang terpapar diukur 5 menit setelah
dimasukkan. Panjang bagian basah kurang dari 10 mm tanpa anestesi
dianggap abnormal. 1,7,8
Bila dilakukan tanpa anestesi, tes ini mengukur fungsi kelenjar
lakrimal utama, yang aktivitas sekresinya dirangsang oleh iritasi kertas
saring itu. Tes Schirmer yang dilakukan setelah anestesi topikal (tetracaine
0.5%) mengukur fungsi kelenjar lakrimal tambahan (pensekresi basa).
Kurang dari 5 mm dalam 5 menit adalah abnormal. Tes Schirmer adalah
tes saringan bagi penilaian produksi air mata. Dijumpai hasil false positive
dan false negative. Hasil rendah kadang-kadang dijumpai pada orang
normal, dan tes normal dijumpai pada mata kering terutama yang sekunder
terhadap defisiensi musin.

Gambar 4. Test Fluoresin

Tear film break-up time


Tear film break-up time dapat diukur dengan meletakkan secarik
keras berflourescein pada konjungtiva bulbi dan meminta pasien
berkedip. Film air mata kemudian diperiksa dengan bantuan saringan
cobalt pada slitlamp, sementara pasien diminta agar tidak berkedip.
Waktu sampai munculnya titik-titik kering yang pertama dalam lapisan
flourescein kornea adalah tear film break-up time. Biasanya waktu ini

lebih dari 15 detik, namun akan berkurang nyata oleh anestetika lokal,
memanipulasi mata, atau dengan menahan palpebra agar tetap terbuka.
Waktu ini lebih pendek pada mata dengan defisiensi air pada air mata
dan selalu lebih pendek dari normalnya pada mata dengan defisiensi
musin.
Bila tear film break up time kurang dibanding kecepatan
berkedipnya mata, mata tidak terlindung dan akan mengakibatkan
terlihatnya gejala mata kering pada mata. Berkedip akan meratakan film
air mata pada permukaan mata. Bila mata dibuka lama tanpa mengedip
maka film air mata mulai pecah atau terbuka. Pada keadaan ini mata
akan merasa pedas dan mata dipaksa berkedip. Pada mata kering air
mata tidak stabil sehingga mudah pecah dalam waktu yang lebih
pendek. Dapat dikatakan bila break up time pendek mungkin sekali
menderita mata kering. Bercak kering merupakan bagian dari
penguapan normal dan penyebaran air mata. Pada mata normal bercak
kering terbentuk antara kedipan kira-kira 12 detik. Waktu antara
berkedip lengkap sampai timbulnya bercak kering sesudah mata di buka
minimal terjadi sesudah 15-20 detik, tidak perna kurang dari 10 detik.

Gambar. Indeks Perlindungan Okular

Tes Ferning Mata

Sebuah tes sederhana dan murah untuk meneliti mukus konjungtiva


dilakukan dengan mengeringkan kerokan konjungtiva di atas kaca
obyek bersih. Arborisasi (ferning) mikroskopik terlihat pada mata
normal. Pada pasien konjungtivitis yang meninggalkan parut
(pemphigoid mata, sindrom stevens johnson, parut konjungtiva difus),

arborisasi berkurang atau hilang


Sitologi Impresi
Sitologi impresi adalah cara menghitung densitas sel goblet pada
permukaan konjungtiva. Pada orang normal, populasi sel goblet paling
tinggi di kuadran infra-nasal. Hilangnya sel goblet ditemukan pada
kasus keratokonjungtivitis sicc, trachoma, pemphigoid mata cicatrix,

sindrom stevens johnson, dan avitaminosis A. 1,7,8


Pemulasan Flourescein
Menyentuh konjungtiva dengan secarik

kertas

kering

berflourescein adalah indikator baik untuk derajat basahnya mata, dan


meniskus air mata mudah terlihat. Flourescein akan memulas daerahdaerah tererosi dan terluka selain defek mikroskopik pada epitel

kornea. 1,7,8
Pemulasan Bengal Rose
Bengal rose lebih sensitif dari flourescein. Pewarna ini akan
memulas semua sel epitel yang mengering dari kornea konjungtiva.

Gambar . Pewarnaan Bengal rose

Penguji Kadar Lisozim Air Mata


Penurunan konsentrasi lisozim air mata umumnya terjadi pad awal
perjalanan sindrom Sjorgen dan berguna untuk mendiagnosis penyakit
ini. Air mata ditampung pada kertas Schirmer dan diuji kadarnya. Cara

paling umum adalah pengujian secara spektrofotometri. 1,7,8


Osmolalitas Air Mata

Hiperosmollitas air mata telah dilaporkan pada keratokonjungtivitis


sicca dan pemakaian kontak lens dan diduga sebagai akibat
berkurangnya sensitivitas kornea. Laporan-laporan menyebutkan
bahwa

hiperosmolalitas

adalah

tes

paling

spesifik

bagi

keratokonjungtivitis sicca. Keadaan ini bahkan dapat ditemukan pada


pasien dengan Schirmer normal dan pemulasan bengal rose normal

Lactoferrin
Lactoferrin dalam cairan air mata akan rendah pada pasien dengan
hiposekresi kelenjar lakrimal. Sample air mata diamnil dengan
lempung kertas filter. Pada pasien normal didapatkan kosentrasi 1.42
g/L. terdapat hubungan erat Antara laktoferin rata-rata dan assay
lisozim. Nilai normal laktoferin terendah adalah 0.78 g/L. LTT
merupakan spesifitas sangat tinggi, sensitivitas baik bila dilakukan
bersamaan dengan test air mata kualitatif. Dan korelasi baik dengan

tes imunologik dan biopsy untuk syogren sindrom. 1,7,8


Patogenesis
Permukaan bola mata dan kelenjar lakrimalis merupakan unit yang
terintegrasi. Penyakit atau disfungsi

dari unit fungsional dapat

menyebabkan ketidakstabilan dan kekurangan film air mata yang


mengakibatkan gejala iritasi bola mata dan memungkinkan kerusakan
epitel permukaan bola mata. Disfungsi dari unit ini dapat disebabkan oleh
faktor usia, penurunan faktor suportif (seperti hormon androgen), penyakit
inflamasi sistemik (seperti Sindrom Sjogren atau rheumatoid arthritis),
gangguan pada permukaan bola mata (seperti kerratitis herpes simplek)
atau pembedahan yang mengenai nervus trigeminus, dan penyakit sistemik
atau pengobatan yang mengganggu nervus kolinergik yang menstimulasi
sekresi air mata. 1,7,8

Klasifikasi 1,8

Tatalaksana

Penanganan dry eye secara bertahap, dapat berupa 1,8,9:

Higienitas

mengkompres menggunakan air hangat selama 2 menit, 2-4 kali sehari.


Penggantian dan stimulasi air mata. Cairan hipotonik direkomendasikan

palpebra

untuk

menstabilkan

dan sangat membantu untuk kasus yang ringan

film

air

mata

dengan

Infeksi yang mengenai

tepi palpebra dapat memperburuk kondisi

defisiensi air mata yang sudah ada, dan blepharitis anterior ataupun
superior harus diterapi dengan higienitas palpebra yang adekuat,

antiinflamasi, dan/atau antibiotik


Oklusi puncta
Dilakukan jika diakibatkan evaporasi air mata yang berlebihan
Therapeutic contact lens therapy (TSCL)
Hydrophilic bandage lenses biasanya disediakan untuk menampung air
mata jika digunakan dengan kombinasi air mata artifisial yang banyak.

Lensa terbaru yaitu gas-permeable scleral contact lenses sangat efektif


Lateral tarsorrhaphy
Dapat menurunkan evaporasi air mata
Komplikasi
Pada awal perjalanan keratokonjungtivitis sicca, penglihata sedikit terganggu.

Dengan memburuknya keadaan, ketidaknyamanan sangat menggangu. Pada


kasus lanjut, dapat timbul ulkus kornea, penipisan kornea, dan perforasi.
Kadang-kadang terjadi infeksi bakteri sekunder, dan berakibat parut dan
vaskularisasi pada kornea, yang sangat menurunkan penglihatan. Terapi dini
dapat mencegah komplikasi-komplikasi ini. 8
Prognosis
Prognosis dry eye tergantung pada komplikasi yang ditimbulkan, namun
ecara umum, prognosis untuk ketajaman visual pada pasien dengan sindrom
mata kering adalah baik. 8

DAFTAR PUSTAKA

Ueda K, et all. Effectiveness and relevant factors of 2% rebamipide ophtalmic


suspension treatment in dry eye. BMC Ophtalmology. 2015 :01-02

Snell Richard. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswi Kedokteran, Alih Bahasa


Liliana Sugiarto Edisi 6. EGC, Jakarta. 2006

Tambahjong J. Atlas Histologi Alih Bahasa Edisi 9. EGC, Jakarta.

Guyton A, J.E Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. EGC, Jakarta.
2007

Vaughan D, et all. Oftalmologi Umum Edisi 14. Widya Medika, Jakarta. 200

Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia, Jakarta. 2010.

Coleman, Anne L. Dry


Ophthalmology. 2013

Padhatare S, et all. A comprehensive Reviewon Dry Eye Disease: Diagnosis,


Medical Management and Future Challenges. Hindawi Publishing
Corporation. 2015 : 01-13

Foster , C Stephen. Dry Eye and Tearing Treatment. West Michigan Eye and
Laser. 2014: 02-05

Eye

Syndrome.

American

Academy

of