Вы находитесь на странице: 1из 32

WALK THROUGH SURVEY DI PT.

MARTINA BERTO TBK


TANGGAL 17 SEPTEMBER 2015
Kelompok 3: KESELAMATAN KERJA

Nama Kelompok:
dr. Kezia Marsilina
dr. Krisna Adiyuda
dr. Meita Kusumo Putri
dr. Melisa Mauli Sibarani
dr. Nanda Soraya
dr. S. Ratriazqi Rachmayanti
dr. Sely Fauziah
dr. Teresia Shinta P

BAB I
PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang
memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar
dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak
asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah,
mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Ruang
lingkup dari keselamatan dan kesehatan kerja meliputi pencegahan kecelakaan,
pencegahan kebakaran, pencegahan peledakan, pemasangan jalur evakuasi,
pelaksanaan P3K, manajemen APD, pemantauan lingkungan kerja, pencegahan
penyakit akibat kerja, pemantauan penerangan tempat kerja, pemantauan iklim
kerja, pemasanan ventilasi, pelaksanaan sanitasi industri dan pemeriksaan
kesehatan, pelaksanaan ergonomi, K3 angkat angkut, K3 konstruksi, K3
bongkar muat dan penempatan barang, K3 listrik dan K3 ditempat kerja beresiko
tinggi. Semua lingkup tersebut dibagi menjadi 4 sektor, yaitu keselamatan kerja,
higien industri, ergonomi, dan kesehatan kerja.
Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya
(cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka
panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan
datang. Berbagai macam permasalahan di bidang K3 masih banyak ditemukan
terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Masalah yang masih
ditemukan antara lain kurangnya perhatian dari semua pihak akan pentingnya
keselamatan kerja, masih tingginya angka kecelakaan kerja dan rendahnya
komitmen dari pemilik dan pengelola usaha. Hal ini juga berpengaruh terhadap
kemampuan perusahaan untuk dapat bersaing secara global.
Salah satu kegiatan dalam pelatihan hiperkes yang diselenggarakan oleh
Pusat K3 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI adalah melakukan
kunjungan ke perusahaan PT. Martina Berto, tbk. pada tanggal 17 September
2015, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri kosmetik pria dan
wanita, berlokasi di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Melalui laporan ini kami, dokter
muda Universitas Trisakti menyampaikan hasil inspeksi secara objektif dan

subjektif pada PT. Martina Berto, tbk. beserta hasil analisa data dan pemecahan
masalah yang kami temukan terkait penerapan SMK3 di perusahaan tersebut.
II. Dasar Hukum
1. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
2. UU RI No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
3. UU Uap tahun 1930.
4. Peraturan Uap tahun 1930.
5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per 01/MEN/1980
tentang keselamatan dan kesehatan tenaga kerja pada konstruksi bangunan.
6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per 04/MEN/1980
tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api
ringan.
7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per 01/MEN/1982
tentang bejana tekanan.
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per 04/MEN/1985 tentang pesawat
tenaga dan produksi.
9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per 05/MEN/1985 tentang pesawat
angkat-angkut.
10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per 02/MEN/1989 tentang
pengawasan instalasi penyalur petir.
11. Keputusan menteri tenaga kerja RI No. Kep 186/MEN/1999 tentang
penanggulangan kebakaran di tempat kerja.
12. Keputusan menteri tenaga kerja RI No. Kep 187/MEN/1999 tentang
pengendalian bahan kimia berbahaya.
13. Keputusan menteri tenaga kerja RI No. Kep 75/MEN/2002 tentang
pemberlakuan SNI No SNI 04-0225-2000 mengenai persyaratan umum
instalasi listrik 2000 (PUIL 2000) di tempat kerja.
14. Surat keputusan direktur jenderal pembinaan

dan

pengawasan

ketenagakerjaan nomor 113 ahun 2006 tentang pedoman dna pembinaan


teknis petugas K3 ruang terbatas
15. Surat keputusan direktur jenderal

pembinaan

dan

pengawasan

ketenagakerjaan nomor 45/DJPPK/IX/2008 tentang pedoman keselamatan


dan kesehatan kerja bekerja pada ketinggian dengan menggunakan akses
tali (rope access).
III. Profil Perusahaan
a. Sejarah perusahaan
PT. Martina Berto Tbk merupakan perusahaan yang didirikan pada tahun 1977
oleh Dr HC. Martha Tilaar, (alm) Pranata Bernard, dan Theresa Bu Harsini Setiady.

Perusahaan ini berlokasi di Jalan Pulokambing II no.1, kawasan Industri


Pulogadung. Perusahaan ini bergerak di bidang barang kosmetik, obat tradisional
(jamu) dan pemasaran serta perdagangan kosmetik, perawatan kecantikan dan
barang-barang obat tradisional. Selain itu, perusahaan memiliki dukungan dari
kegiatan bisnis yang dilakukan oleh anak perusahaannya, PT Cedefindo, yang
merupakan kosmetik manufaktur kontrak atau makloon dengan kering, semi-padat,
cairan, dan aerosol.
Pada tahun 1981 perusahaan ini mendirikan pabrik di kawasan industri
Pulogadung dengan partnership Grup Kalbe. Setelah dua tahun kemudian,
mendirikan pabrik keduanya PT. Sari Ayu Indonesia untuk mendukung distribusin
kosmetik. Dari tahun 1988 - 1995 mereka melakukan konsolidasi dari beberapa
bisnis yang diperoleh oleh Martha Tilaar Group menjadi PT. Martina Berto.

Pada tahun 1999 PT. Martino Berto resmi menjadi perusahaan keluarga

Martha Tilaar.
Tahun 2006 - 2008 meluncurkan produk dalam keindahan dan segmen
perawatan pribadi. Jaringan ekspornya semakin meluas ke pasar Eropa

(Yunani dan Ukraina) dan Asia (Jepang, Hongkong, dan Taiwan).


Tahun 2010, meluncurkan toko ritel baru. Martha Tilaar Shop (MTS), di luar
Indonesia untuk meraih pangsa pasar Internasional.

b. Visi dan misi perusahaan


Visi
Untuk menjadi salah satu perusahaan terkemuka dunia dalam perawatan
kecantikan dan industri spa dengan nuansa alam dan nilai timur, melalui
teknologi modern, penelitian dan pengembangan untuk mengoptimalkan nilai
tambah kepada konsumen dan stakeholder lainnya.
Misi

Untuk mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan produk-produk


perawatan kecantikan dan spa dengan nuansa alam & timur dan standar
kualitas internasional untuk memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai
segmen pasar dengan portofolio yang sehat mampu mencapai peringkat tiga
besar di setiap segmen di Indonesia.

Untuk menyediakan layanan pelanggan yang sangat baik untuk semua


pelanggan dalam proporsi seimbang, termasuk pelanggan konsumen dan

perdagangan;
Untuk menjaga kondisi keuangan yang sehat dan pertumbuhan yang

berkelanjutan;
Untuk merekrut, melatih, dan mempertahankan tenaga kerja yang kompeten

dan produktif sebagai bagian dari aktiva Perusahaan;


Untuk mempertahankan metode yang efisien dan efektif operasi, sistem, dan

teknologi di seluruh organisasi dan unit bisnis;


Untuk menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten untuk

kepentingan semua stakeholder;


Untuk memberikan return atas investasi yang adil untuk dia pemegang

saham;
Untuk memperluas pasar internasional pada kosmetik dan produk herbal
dengan fokus jangka menengah pada kawasan Asia Pasifik dan fokus jangka
panjang di pasar global dengan produk yang dipilih dan merek.

c. Jumlah pegawai perusahaan


Jumlah pekerja sebanyak 1200 orang pekerja. Jam kerja pegawai dibagi
menjadi 2 shift utama.
d. Sektor usaha
Perusahaan ini bergerak di bidang barang kosmetik, obat tradisional (jamu) dan
pemasaran serta perdagangan kosmetik, perawatan kecantikan dan barang-barang
obat tradisional.
1. Segment A Plus
Dewi Sri Spa Martha Tilaar, PAC Martha Tilaar, Martha Tilaar Solutions, Jamu
Garden Martha Tilaar
2. Segment A
Biokos Martha Tilaar, Rudi Hadisuwarno Martha Tilaar
3. Segment B
Sariayu Tilaar Martha, Martha Tilaar Caring Colours, Belia Martha Tilaar
4. Segment C
Mirabella, Cempaka,Pesona, Martina. Currently, Pesona and Martina
products have been sold in Malaysia through direct selling.
e. Jam kerja
Factory : Jam Kerja : 07.30 14.30 Shift I dan Shift II 15.30 22.00
Office : Jam Kerja : 08.00 - 16.30
f. Asuransi

Karyawan Tetap Provider Asuransi AVIVA sesuai plafon Karyawan


BPJS Kesehatan : Karyawan Kontrak
Dalam menangani kasus emergensi perusahaan bekerjasama dengan RS
Antam, RS Jayakarta dan RS Persahabatan.
g. Sertifikasi perusahaan

Pada tahun 1996 menjadi pabrik kosmetik pertama di Indonesia yang


mendapatkan sertifikat ISO 9001. Tahun 2000 menjadi satusatunya pendiri UN
Global Compact dari Asia, mendapatkan sertifikat ISO 14001 dan sertifikat GMP:
CPKB (Cara Produksi Kosmetika yang Baik) dan CPOTB (Cara Produksi Obat
Tradisional yang Baik).
h. Kelembagaan P2K3
1. P2K3 di PT. Martina Berto Tbk:
Implementasi P2K3:
1) No accidents/ tidak ada kecelakaan
2) No harm to people/ tidak ada yang membahayakan orang
3) No damage to the environment/ tidak ada kerusakan lingkungan

Struktur Organisasi:

Gambar 1. Struktur organisasi P2K3 PT Martina Berto Tbk


Total personnel P2K3 ialah sebanyak 56 orang. Total petugas K3 ialah
sebanyak 20 orang.

IV.

Program Kerja 2015:

Alur Produksi
Rencana produksi bulanan dihitung oleh bagian PPIC. Dari rencana produksi

ini bagian produksi akan menghitung jumlah jam orang yang diperlukan berdasarkan
standar jam orang yang telah ditetapkan oleh bagian IE (Industrial Engineering). Jam
orang adalah jumlah jam produksi dikali dengan jumlah orang yang diperlukan
melaksanakan produksi tersebut. Hal ini berkaitan dengan efisiensi dan produktifitas
perusahaan.
Dalam pelaksanaanya, produksi akan meminta bahan baku ke gudang bahan
baku menggunakan dokumen PWO (Proccess Work Order). Gudang akan
menyiapkan kebutuhan sesuai dengan PWO dan hasil penimbangan akan diperiksa
ulang oleh produksi. Jika semua bahan telah siap, produksi akan mengolah bahan
tersebut sesuai dengan LPP (Lembar Petunjuk Proses). Tiap langkah LPP yang
telah

dilaksanakan

kemudian

diparaf

oleh

operator

dan

pengawas

yang

bersangkutan dan setiap penyimpangan, adjusting, atau segala perbaikan yang tidak
tertera di LPP akan dicatat sebagai pedoman pemeriksaan dan penelusuran jika
terjadi kesalahan. Proses pencucian dan sanitasi mesin produksi dilakukan setiap
pergantian batch ataupun pergantian produk dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Selama proses hingga dihasilkan produk ruahan, dibagian produksi terdapat
tim dari QC untuk melakukan pengawasan mutu pada tiap akhir proses sebelum
pengemasan. QC akan memeriksa kesesuain spesifikasi produk tersebut dengan

standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika telah memenuhi spesifikasi tersebut
dapat diteruskan untuk pengemasan dan jika kurang memenuhi, bagian produksi
akan melakukan adjusting. Segala perbaikan yang dilakukan terhadap produk harus
dicatat LPP dan didokumentasikan. Produk ruahan yang telah dinyatakan lulus oleh
QC kemudian akan dikemas. Permintaan bahan kemas ke gudang menggunakan
dokumen PCO (Packing Order) dan pengemasan dilakukan berdasarkan prosedur
pengemasan dari R&D yang disebut LPK (Lembar Petunjuk Kemas).
Secara umum produksi kosmetik yang dilakukan di PT Martina Berto Tbk. ada
4 macam yaitu produksi liquid, lipstik, make-up base, dan dekoratif. Masing- masing
produksi tersebut memiliki supervisor yang bertanggung jawab secara langsung
pada manager produksi.

Gambar 2. Alur produksi PT Martina Berto Tbk


V.

Landasan Teori
Keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata safety dan biasanya selalu

dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident)


atau nyaris celaka (near-miss). Jadi pada hakekatnya keselamatan sebagai suatu
pendekatan keilmuan maupun sebagai suatu pendekatan praktis mempelajari faktorfaktor

yang

dapat

menyebabkan

terjadinya

kecelakaan

dan

berupaya

mengembangkan berbagai cara dan pendekatan untuk memperkecil resiko


terjadinya kecelakaan.

Menurut Bennett N.B. Silalahi dan Rumondang (1991:22 dan 139) menyatakan
keselamatan merupakan suatu usaha untuk mencegah setiap perbuatan atau
kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan sedangkan kesehatan
kerja yaitu terhindarnya dari penyakit yang mungkin akan timbul setelah memulai
pekerjaannya. Sedangkan pendapat Leon C Meggison yang dikutip oleh Prabu
Mangkunegara (2000:161) bahwa istilah keselamatan mencakup kedua istilah yaitu
resiko keseamatan dan resiko kesehatan. Dalam kepegawaian, kedua istilah
tersebut dibedakan, yaitu Keselamatan kerja menunjukan kondisi yang aman atau
selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian ditempat kerja. Resiko
keselamatan

merupakan

aspek-aspek

dari

lingkungan

kerja

yang

dapat

menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo,


patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan, dan pendengaran. Semua itu sering
dihubungan dengan perlengkapan perusahaan atau lingkungan fisik dan mencakup
tugas-tugas kerja yang membutuhkan pemeliharaan dan latihan.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keselamatan adalah suatu usaha
untuk mencegah terjadinya kecelakaan sehingga manusia dapat merasakan kondisi
yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian terutama untuk
para pekerja konstruksi. Agar kondisi ini tercapai di tempat kerja maka diperlukan
adanya keselamatan kerja. Keselamatan kerja secara filosofi diartikan sebagai suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah
maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta
hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan
dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja.
Keselamatan kerja adalah faktor yang sangat penting agar suatu proyek dapat
berjalan dengan lancar. Dengan situasi yang aman dan selamat, para pekerja akan
bekerja secara maksimal dan semangat.Keselamatan kerja adalah kondisi
keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan di tempat kerja yang
mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan
kondisi pekerja. Menurut Sumamur pada tahun 1993 keselamatan kerja adalah
keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan, dan proses
pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara
melakukan pekerjaan. Kemudian pada tahun 2001 Sumamur memperbaharui
pengertian dari keselamatan kerja yaitu rangkaian usaha untuk menciptakan

10

suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di
perusahaan yang bersangkutan.
Pengertian di atas hampir sama dengan pengertian yang dikemukakan oleh
Mangkunegara (2002), bahwa secara umum keselamatan kerja dapat dikatakan
sebagai ilmu dan penerapannya yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja,
bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungan kerja serta
cara melakukan pekerjaan guna menjamin keselamatan tenaga kerja dan aset
perusahaan agar terhindar dari kecelakaan dan kerugian lainnya. Keselamatan kerja
juga meliputi penyediaan Alat Pelindung Diri (APD), perawatan mesin dan
pengaturan jam kerja yang manusiawi. Slamet (2012) juga mendefinisikan tentang
keselamatan kerja. Keselamatan kerja dapat diartikan sebagai keadaan terhindar
dari bahaya selama melakukan pekerjaan. Dengan kata lain keselamatan kerja
merupakan salah satu faktor yang harus dilakukan selama bekerja, karena tidak
yang menginginkan terjadinya kecelakaan di dunia ini. Keselamatan kerja sangat
bergantung .pada jenis, bentuk, dan lingkungan dimana pekerjaan itu dilaksanakan.
Unsur-unsur penunjang keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
a) Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja
b) Adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja.
c) Teliti dalam bekerja
d) Melaksanakan prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan
kesehatan kerja.
Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja
karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya
fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja
seperti pernyataan Jackson (1999) bahwa keselamatan adalah merujuk pada
perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait
dengan pekerjaan.
Dalam melaksanakan K3, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu:
1. Identifikasi potensi bahaya
Merupakan tahapan yang dapat memberikan informasi secara menyeluruh
dan

mendetail

mengenai

risiko

yang

ditemukan

dengan

menjelaskan

konsekuensi dari yang paling ringan sampai dengan yang paling berat. Pada
tahap ini harus dapat mengidentifikasi hazard yang dapat diramalkan
(foreseeable) yang timbul dari semua kegiatan yang berpotensi membahayakan
kesehatan dan keselamatan terhadap:

11

1. Karyawan
2. Orang lain yg berada ditempat kerja
3. Tamu dan bahkan masyarakat sekitarnya
Pertimbangan yang perlu diambil dalam identifikasi risiko antara lain :
1. Kerugian harta benda (Property Loss)
2. Kerugian masyarakat
3. Kerugian lingkungan
Identifikasi risiko dapat dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut:
1. Apa Yang Terjadi Hal ini dilakukan untuk mendapatkan daftar yang
komprehensif tentang kejadian yang mungkin mempengaruhi tiap-tiap
elemen.
2. Bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi Setelah mengidentifikasi daftar
kejadian sangatlah penting untuk mempertimbangkan penyebab-penyebab
yang mungkin ada/terjadi.
3. Alat dan Tehnik Metode yang dapat digunakan untuk identifikasi risiko
antara lain adalah: a. Inspeksi b. Check list c. Hazops (Hazard and Operability
Studies) d. What if e. FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) f. Audits g.
Critical Incident Analysis h. Fault Tree Analysis i. Event Tree Analysis j. Dll
Dalam memilih metode yang digunakan tergantung pada type dan ukuran
risiko.
2. Penilaian Risiko
Terdapat 3 ( tiga) sasaran yang akan dicapai dalam pelaksanaan penilaian risiko
di tempat kerja yaitu untuk :
a. mengetahui, memahami dan mengukur risiko yang terdapat di tempat
kerja;
b. menilai dan menganalisa pengendalian yang telah dilakukan di tempat
kerja;
c. melakukan penilaian finansial dan bahaya terhadap risiko yang ada.
d.

mengendalikan

risiko

dengan

memperhitungkan

semua

tindakan

penanggulangan yang telah diambil;


3. Pengendalian Risiko
Pengendalian dapat dilakukan dengan hirarki pengendalian risiko sebagai berikut:
1. Eliminasi Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya

12

2. Substitusi
a. Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta
b. Proses menyapu diganti dengan vakum
c. Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen
d. Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan
3. Rekayasa Teknik
a. Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding)
b. Pemasangan general dan local ventilation
c. Pemasangan alat sensor otomatis
4. Pengendalian Administratif
a. Pemisahan lokasi
b. Pergantian shift kerja
c. Pembentukan sistem kerja
d. Pelatihan karyawan
5. Alat Pelindung Diri

BAB II
PELAKSANAAN
I.

Tanggal dan Waktu Pengamatan


Kunjungan perusahaan ke PT Martina Berto Tbk ini dilakukan pada
hari Kamis tanggal 17 September 2015 pukul 14.00-16.30.

II.

Lokasi Pengamatan
PT Martina Berto Plant I, Jalan Pulokambing II no.1, kawasan Industri
Pulogadung.

III.

Dokumen Pengamatan

13

BAB III
HASIL PENGAMATAN
A. MESIN, PESAWAT, DAN ALAT KERJA YANG DIGUNAKAN
Mesin mesin

: Conveyor, videojet, Driling,

Kontruksi

: Bangunan sesuai kontruksi Factory

Perseonnel

: K 3 Kontruksi

Maintenance

: Sesuai prosedur pemeliharaan dan Perwatan

Data
Data umum
Nama dan alamat
Perusahaan
Jenis pesawat Angkat dan

Pesawat Angkat / Lift


Barang dan Alat yang
digunakan
PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur
Lift barang / traksi

Lift Barang / Chain Hoist

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur
Chain Hoist

14

Transport
Daerah
pemasangan/penggunaan
Ijin/pengesahan pemakaian
Jenis pemeriksaan
Pelaksanaan pemeriksaan
dan pengujian
Data teknis
Merk/buatan
No.Serir
Kapasitas angkut
Tahun pembuatan
Kecepatan angkat
Tiggi angkat
Tanggal Pemeriksaan
Data
Data umum
Nama dan alamat
Perusahaan

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur
SI.362/W.26-06/II/K/M/1995
Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur
SI.418/W.2606/VIII/K/M/1994
Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Bonfiglioli / Elektris Italy


ASP.8003962
2.000 kg
1993
11m/dtk
24 Agustus 2015

PT.Karya Meta Taruna


233673007 2 FH
1.000 kg
1993
4m/dtk
6m
24 Agustus 2015

Pesawat Angkat Jenis

Pesawat Angkut / Lift

Traksi / Lift Barang

Barang

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur
Lift barang / traksi

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur
Lift barang / traksi

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

Ijin/pengesahan pemakaian

SI.361/W.2606/VIII/K/M/1996

SI.421/W.2606/VIII/K/M/1994

Jenis pemeriksaan
Pelaksaan pemeriksaan
dan pengujian
Data teknis
Merk/buatan
No.Seri
Kapasitas angkut
Tahun pembuatan
Kecepatan angkat
Tiggi angkat
Tanggal Pemeriksaan

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Bonfiglioli / Elektris Italy

PT.Karya Meta Taruna

ASP.8003961

C.123 No.512374

2.000 kg
1993
11m/dtk
24 Agustus 2015

1.000 kg
1999
12m/dtk
24 Agustus 2015

Jenis pesawat Angkat dan


Transport
Daerah
pemasangan/penggunaan

Data

Pesawat Angkat Jenis

Pesawat Angkut Jenis

Chain Hoist
Data umum
Nama dan alamat
Perusahaan
Jenis pesawat Angkat dan

Forklift

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

Chain Hoist

Forklift

15

Transport
Daerah
pemasangan/penggunaan

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

Ijin/pengesahan pemakaian

SI.260/W.2606/VIII/K/M/1994

SI.03/DTKT/II/K/PL/2002

Jenis pemeriksaan
Pelaksaan pemeriksaan
dan pengujian
Data teknis
Merk/buatan
No.Serir
Kapasitas angkut
Tahun pembuatan
Kecepatan angkat
Tiggi angkat
Tanggal Pemeriksaan

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Hitachi, Jepang
A.233673007

TCM Jepang
N-27 F6 2986

2.000 kg
1999
4m/dtk
6m
24 Agustus 2015

2.500 kg
1996
24 Agustus 2015

Data

Pesawat Angkat Jenis

Ketel UAP

Forklift
Data umum
Nama dan alamat
Perusahaan

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

Jenis pesawat Angkat dan


Transport
Daerah
pemasangan/penggunaan

Forklift

Ketel Uap

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

Ijin/pengesahan pemakaian

SI.417/W.2606/VIII/K/M/1994

4598/2012

Jenis pemeriksaan
Pelaksaan pemeriksaan
dan pengujian
Data teknis
Merk/buatan
No.Serir
Kapasitas angkut
Tahun pembuatan
Kecepatan angkat
Tiggi angkat
Luas pemanasan
Tekanan kerja
Tanggal Pemeriksaan

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

TCM Jepang
N-24L.47558

Miura Co, Ltd Jepang


IDK 6000-4403

2.500 kg
1985
6m
24 Agustus 2015

2.500 kg
2011
7,6 m2
10kg/cm2
24 Agustus 2015

Pengadaan mesin telah sesuai dengan standar perusahaan.


B. BAHAN DAN PROSES KERJA TERKAIT K3
Bahan baku terkait K3 terdapat terdapat 1000 jenis bahan baku yg telah
tersertifikasi oleh dinas kesehatan. Namun rincian bahan baku tersebut tidak

16

dapat diuraikan oleh pihak perusahaan dikarenakan membutuhkan waktu satu


minggu untuk mendapatkan data-data tersebut.

Dari hasil pengamatan sudah sesuai dengan yang dijelaskan dari system kerja
perusahaan tersebut.
C. LANDASAN KERJA, SOP KERJA
Perusahaan dalam mencapai komitmen dan tekat dimaksud, Manajemen
terus menerus meningkatkan kinerja Perusahaan dengan menerapkan sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) berbasis SMK3 sesuai
dengan Kepmenaker 05 tahun 1996 dan Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2012
serta OHSAS 18001 secara konsisten dan berkesinambungan

Landasan
kerja, SOP
kerja

Komitmen Perusahaan

Komitmen Pusat K3

Menjamin keselamatan dan


Kesehatan Kerja (K3) seluruh
karyawan termasuk orang lain
(Kontraktor, Supplier, Pengunjung
dan Tamu) di tempat kerja.

Menyusun dan memelihara


Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (SMK3)
berkelanjutan.

Menjamin pengendalian dampak


lingkungan operasional.
Memenuhi semua perundangan
dan peraturan yang berlaku yang

Membentuk Organisasi / Unit K3


dalam lingkungan Manajemen
Perusahaan.
Mengidentifikasi dan
mengendalikan semua sumber
bahaya dan aspek lingkungan

17

berkaitan dengan K3.

operasi Perusahaan.

Melakukan perbaikan
berkelanjutan guna meningkatkan
K3 Perusahaan.

Memberikan pelatihan-pelatihan
K3 bagi karyawan untuk
meningkatkan Budaya K3
Perusahaan.
Mengajak seluruh Karyawan untuk
berperan serta meningkatkan K3
Perusahaan.
Kebijakan K3 ini akan ditinjau
ulang minimal 1 tahun sekali
mengikuti tinjauan SMK3.

D. INSTALASI LISTRIK
Data Teknis :
1. Jenis/Type
: Electrostatic
2. Luas bangunan
: 15.000 M2
3. Tinggi bangunan
: 16 m
4. Luas Penampang Hantaran
: Coaxcial Cable 50 mm2
5. Tinggi Penerima
: kurang lebih 7 m
6. Jumlah penerima
: 1 buah
7. Jumlah Hantaran Penyalur
: 1 buah
8. Sambungan Ukur/Joint Test
: 1 buah
9. Jumlah Elektroda Tanah
: 1 buah
10. Tahanan sebaran tanah
: < 5 ohm
11. Pelaksana pemasang
:12. Pelaksanaan Pemeriksaan dan Pengujian : 24 Agustus 2015
Pada saat kunjungan terlihat semua mesin dapat menyala dan mempunyai
penerangan yang baik. Tidak terdapat permasalahan dalam hal listrik. Walaupun
begitu, PT. Martina Berto tetap menyediakan Generator Set (Genset)/motor diesel
yang berjumlah dua buah berkapasitas 500 kva. Sehingga dalam segi listrik, PT.
Martina Berto tidak ada permasalahan.
Selain itu, PT. Martina Berto mempunyai prasarana lift pengangkut barang
berjumlah 8 buah yang mampu mengangkut lebih dari 8000 kg barang. Data
tersebut diambil dari sumber informasi terpercaya disana, karena kami tidak sempat
untuk melihat lift tersebut. Selama ini, lift tersebut tidak ada masalah dan dirawat
secara berkala.
Dalam rangka mengantisipasi terjadinya sambaran petir pada musim hujan,
PT. Martina Berto sudah membuat instalasi penyalur petir, sehingga tidak ada
kejadian tersambar petir di PT tersebut. Kami tidak sempat melihat instalasi penyalur

18

petir tersebut, tetapi kami mendapatkan informasi terpercaya dari perwakilan PT.
Martina Berto tersebut.
Dari peninjauan kami ke PT. Martina Berto, kami dapat menyimpulkan bahwa
tidak terdapat permasalahan mengenai Instalasi listrik, instalasi penyalur petir dan lift
barang pada perusahaan tersebut.

E. SARANA PENANGGULANGAN KEBAKARAN


PENGAMATAN

STANDART

Pekerja hampir seluruhnya telah mengetahui Memiliki tim penanggulangan kebakaran


letak dari alat pemadam api ringan (APAR) dan yang terlatih
Hydrant oleh karena telah diletakkan pada posisi
yang mudah dilihat dan dicapai juga berwarna
merah dan kuning.
(APAR) alat pemadam api ringan telah ditempatkan

Memiliki sistem proteksi kebakaran. Dan

pada posisi yang mudah dilihat serta dijangkau

terdapat APAR yang pemasanganya sesuai

menggantung pada tembok dan diatas lantai, hampir

dengan permenakertrans no. Per-

terdapat pada seluruh koridor. Tabung alat berwarna

04/MEN/1980

merah dan kuning, bentuk dari tabung tersebut tidak


berlubang ataupun cacat. Namun adapun yang belum
sesuai dengan peraturan menteri tenaga kerja dan
transmigrasi tersebut, salah satunya adalah tidak
terdapat adanya lemari atau peti untuk penyimpanan
tabung tersebut.

Tanggal terakhir pemeriksaan berkala pada Melaksanakan pemeriksaan dan pengujian


APPAR tercatat tanggal 22 Januari 2015. Yang komponen yang berkaitan dengan
menunjukkan bahwa sudah >6 bulan APPAR penaggulangan kebakaran minimal 6 bulan
tersebut belum diperiksa

1X

19

F. KONSTRUKSI TEMPAT KERJA


Konstruksi
tempat kerja

PENGAMATAN

STANDART

Akses keluar

Akses keluar-masuk ruangan terdiri dari Akses keluar masuk ruangan

masuk

satu lobi utama dan satu pintu keluar.

aman

Kebersihan dan

Kebersihan dan kerapian tata ruang sangat

Kebersihan dan kerapian tata

kerapian tata

bersih dan rapi pada lantai 2 namun pada

ruang tidak berantakan dan

ruang

lantai 1 terdapat banyak jirigen yang berisi

merintangi akses jalan

bahan kosmetik jadi yang diletakkan


menghalangi jalan.

Jaminan

Tidak didapatkan informasi akan adanya

Terdapat jaminan keselamatan

keselamatan

jaminan keselamatan peralatan, bahan, peralatan, bahan, dan benda

peralatan, bahan

dan benda-benda dalam ruangan.

benda dalam ruangan

Tampak tanda-tanda peringatan pada

Sudah Sesuai

dan benda
benda di dalam
ruangan
Tanda peringatan

tempat-tempat tertentu yang merupakan


tempat dengan resiko tinggi

20

G. ALAT PELINDUNG DIRI


APD

PENGAMATAN

STANDART

Topi/

Berbahan kain,

Semua tenaga kerja

Semua pekerja

Penutup

berguna sebagai

menggunakan penutup

mengunakan tutup

Kepala

pengaman rambut

kepala tersebut.

kepala

Berwarna kuning

Pekerja yang di tempat

Pekerja yang di tempat

berbahan keras,

penyimpanan bahan kimia

penyimpanan bahan

berguna sebagai

menggunakan helm

kimia menggunakan

(di
Laboratorium,
Quality
Control, ruang
produksi)
Helm
(di tempat
penyimpanan
bahan kimia
yang sudah
jadi)
Jas

dan penutup kepala


dari bahaya panas,
api dan mesin juga
bahan kimia,
kemudian agar tidak
terjadi kontaminasi

pelindung kepala dari

helm

benturan, terantuk
atau kejatuhan benda.
Berwarna putih

Pekerja sebagian besar

Pekerja seharusnya

Laboratorium berbahan kain,

menggunakan Jas Lab,

menggunakan jas Lab

terdapat kancing di

namun ada beberapa

dan mengancingkan jas

bagian depan,

yang tidak menggunakan

nya, agar seluruh

jas, dan banyak yang

badannya tertutup jas

tidak di kancing.

dan juga agar tidak

(Quality
Control,
Prosessing

Untuk melindungi

Area)

badan dari bahaya

memungkinkan untuk

panas, percikan

terjadinya jas yang

bahan kimia & cairan,

terjerat ke mesin.

agar tidak tergores.


Masker
(Quality
Control,
laboratorium,
Prosessing
Area)

Berwarna Putih

Pekerja menggunakan

Pekerja seharusnya

berbahan kain,

masker, namun untuk

menggunakan masker

dengan tali sebagai

penggunaan masker juga

dengan benar, yaitu

pengait, berfungsi

belum semua benar

menutupi mulut dan

untuk menyaring

karena ada yang hanya

hidung.

cemaran bahan kimia

menutupi mulut.

dan cegah terhirupnya

21

partikel-partikel kecil.

Sarung

Berbahan kain, karet,

Pekerja sebagian besar

Seharusnya pekerja

Tangan

sebatas pergelangan

menggunakan sarung

yang memiliki kontak

tangan, berfungsi

tangan yang dapat

dengan bahan kimia,

untuk melindungi

melindungi dari pajanan

ataupun panas ataupun

tangan dari pajanan

api, namun sebagian

mesin harus

api, dan percikan

besar menggunakan

menggunakan sarung

bahan kimia,

sarung tangan karet

tangan sesuai standar,

benturan, luka.

biasa, sarung tangan juga

termasuk jika ada

hanya sebatas

pekerjaan yang

pergelangan tangan,

membutuhkan sarung

padahal ada proses yang

tangan panjang.

(Quality
Control,
laboratorium,
Prosessing
Area)

memasukan bahan lebih


dari sebatas pergelangan
tangan.
Sepatu
(Quality
Control,
laboratorium,
Prosessing
Area)

Sepatu yang

Semua pekerja sudah

Semua pekerja sudah

digunakan berwarna

menggunakan sepatunya.

menggunakan

merah, berbahan

sepatunya.

kanvas dengan alas


karet. Berguna untuk
melindungi kaki dari
bahan kimia, bahaya
panas, dan benturan
juga luka.

22

H. TANGGAP DARURAT DAN EVAKUASI

Gambar 4. Peta jalur evakuasi


Tanggap
Darurat &

PENGAMATAN

STANDART

Evakuasi
Fire Alarm

Terdapat di semua ruangan, dan juga terdapat di

Sudah Sesuai

luar ruangan, di setiap lorong


Emergency

Terdapat di semua ruangan

Sudah Sesuai

Tangga darurat dan tangga umum, Pintu pintu

Sudah Sesuai

Lamp
Jalur Evakuasi

jalur evakuasi mudah terlihat dan semuanya tidak


ada yang ditemui dalam keadaan terkunci.
Jalur cukup terawat dengan baik, terbuka, tidak
terdapat benda yang membahayakan disekitar area
evakuasi, cukup lebar, dan untuk menuju titik area
evakuasi dapat menggunakan jalur yang sudah
ditandai dengan garis- garis kuning.
Rambu

Rambu rambu yang menunjukan lokasi jalur

Rambu-rambu

Rambu Jalur

evakuasi cukup jelas, berwarna hijau dengan

diperbesar tulisannya,

Evakuasi

kondisi yang cukup baik.

dan letaknya jangan

Hanya saja rambu rambu ini kurang besar,


letaknya terlalu tinggi sehingga dapat tertutup asap
saat terjadi kebakaran.

terlalu tinggi. Tempat


berkumpul
dikosongkan.

23

Peta jalur evakuasi juga jelas terdapat di setiap


ruangan.
Tempat berkumpul Titik Point terdapat 3 tempat
didekat parkiran namun tidak kosong melainkan
digunakan sebagai lahan parkir oleh beberapa
pekerja.
APAR ( Alat

Terdapat di setiap lorong, dalam keadaan baik,

Belum Sesuai. Harus

Pemadam Api

terdapat cara penggunaan, namun maintenance

dilakukan pengecekan

Ringan)

nya tidak dilaksanakan sesuai aturan, dimana

rutin setiap 6 bulan

pengecekan terakhir dilakukan pada tanggal 6

sekali.

Januari 2015, yang seharusnya dilakukan


pengecekan ulang setiap 6 bulan sekali.

Setiap bagian / divisi di PT. Martina Berto memiliki tim yang bertanggung
jawab dalam keadaan darurat. Tim ini dilengkapi dengan HT, peralatan P3K,
absensi pekerja, dan

bertugas untuk menyisir bagian / divisi masing

masing untuk keluar dari gedung serta mengevakuasi dokumen dokumen


penting saat terjadi keadaan darurat dan memastikan tidak adanya pekerja
yang tertinggal. Tim ini juga yang bertugas untuk segera melakukan absen di
titik area evakuasi yang terdapat di luar gedung. Seluruh Tim tanggap
darurat rutin diberi pelatihan K3 dan pelatihan keadaan darurat sekali dalam
setahun, sedangkan pekerja lainnya, dilakukan pelatihan keadaan darurat
secara bergiliran setiap tahunnya.

24

I. KEJADIAN KECELAKAAN KERJA


PENGAMATAN

STANDART

Angka kejadian

Menurut PT. Martina Berto

Seharusnya pihak pimpinan

kecelakaan kerja

Tbk angka kejadian

PT Martina Berto

kecelakaan kerja adalah

melakukan tahapan-

nihil sepanjang tahun 2015.

tahapan untuk mencegah

Menurut mereka, pegawai

terjadinya kecelakaan kerja,

perusahaan taat terhadap

yaitu melakukan promosi

peraturan yang berkaitan

kesehatan, tidak lupa

dengan keselamatan kerja

dengan dilakukan juga

sebagai salah satu

evaluasi untuk melihat

contohnya yaitu

apakah promosi kesehatan

penggunaan alat pelindung

sudah berhasil. Dan apabila

diri.

memang sedang dilakukan

(saat ditanyakan ke
pihak PT. Martina Berto)

Kami tidak mendapat data


yang menggambarkan
tingkat angka kejadian

audit yang sebenarnya


sebaiknya di utarakan
angka kejadiannya.

kecelakaan di perusahaan
tersebut.
Angka kejadian

Sudah dipasang spanduk

Pihak pimpinan PT Martina

kecelakaan kerja

dan poster tentang

Berto sebaiknya melakukan

keselamatan kerja dan

kerja, yaitu melakukan

peraturan tentang

promosi kesehatan, seperti

penggunaan alat pelindung

misalnya apa itu apd, dan

diri di setiap bidang

untuk apa

perusahaan.

menggunakannya dan

(setelah dilakukan
kunjungan perusahaan)

Masih banyak pegawai


yang belum tepat
menggunakannya maupun
tidak menggunakannya,
sehingga memungkinan
resiko terjadinya
kecelakaan kerja di
perusahaan tersebut.

bagaimana caranya, dan


saat sampai ke tahapan
evaluasi, benar-benar
dievaluasi apakah ada
perubahan perilaku dari
pegawainya untuk
mencegah kecelakaan
kerja, seperti misalnya
penggunaan apd yg baik

25

dan benar.

J. PERSONIL KESELAMATAN KERJA


Pada perusahaan ini personil keselamatan kerja dibuat dalam bentuk
panitia yang disebut dengan P2K3, yaitu Panitia Pembina Keselamatan dan
Kesehatan Kerja. Panitia ini memiliki spesifisikasi seperti berikut ini:
o Total P2k3

: 56 Orang

o Petugas P3K

: 20 Orang

o Pelatihan

Tanggap

Darurat

untuk

DAMKAR

(Pemadam

Kebakaran)
Emergency Respond Kecelakaan Kerja
o Sertifikasi P3K

: PMI dan Disnakertrans

o Proses Kerjanya

: Standby di masing masing Bagian di setiap lantai

o Bekerja sesuai kejadian darurat


o PJK3

: Sesuai kualifikasinya masing :

AK3 Umum

AK 3 Kimia, DAMKAR

26

BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
No
Unit Kerja
1 Konstruksi
tempat kerja

Permasalahan
Dari segi
keselamatan
konstruksi semuanya
sudah baik, namun
masih belum
terdapat adanya
informasi mengenai
keselamatan
peralatan, bahan,
dan benda-benda
dalam ruangan.

Dasar hukum
Undang-undang
dasar no 1 tahun
1970, undang-undang
no 18 tahun 1999
tentang jasa
konstruksi.

Permenakertrans No
4/MEN/tahun 1980

Sarana
penanggulangan
kebakaran

Tidak semua pekerja


dari PT. Martina
Berto tbk. tersebut
mengetahui cara
penggunaan alat-alat
penanggulangan
kebakaran, serta
pengecekan APAR
yang tidak dilakukan
secara rutin.

Alat pelindung
diri

Dari perusahaan
tersebut belum
ditemukan dokumen
tertulis (tertulis dalam
SOP) standar APD
yang digunakan
untuk masing-masing
pekerjaan., belum
ada penjelasan
(briefing) mengenai
APD

Tanggap darurat
dan jalur
evakuasi

Secara umum untuk


jalur dan rambu
evakuasi di PT.
Martina berto sudah

Saran
Ditambahkan
adanya informasi
keselamatan
peralatan, bahan,
dan benda-benda
dalama ruangan.

Dilakukannya
sosialisasi dari
perusahaan
terhadap para
perkerja tentang
penaggulangan
kebakaran dan cara
penggunaan alat
pemadam api ringan
(APAR) dan
Hydrant.
Dilakukan
pengecekan APAR
secara rutin setiap 6
bulan sekali.
Peraturan menteri
Perusahaan
tenaga kerja dan
bersedia
transmigrasi RI nomor menyediakan APD
PER.08/MEN/VII/2010 yang sesuai dengan
tentang Alat
standard dan
Pelindung Diri
hazard yang ada di
lingkungan tempat
kerja. Selain itu
lebih baik lagi
apabila sebelum
memulai pekerjaan
diberikan suatu
briefing singkat
mengenai
pentingnya APD dan
cara penggunaan
APD yang baik dan
benar.
Undang-undang no
Posisi rambu-rambu
18 tahun 1999
diletakan secara
tentang jasa
teratur agar tetap
konstruksi
terlihat pada saat

27

Personil
keselamatan
kerja

cukup baik. Hanya


saja, akan lebih baik
jika rambu yang
tersedia tidak hanya
diletakkan diatas
pintu atau tempat
yang tinggi karena
kemungkinan akan
tertutup asap jika
terjadi kebakaran.
Pada tempat
berkumpul masih
terdapat kendaraan.
Personil
Keselamatan kerja
pada persuhaan ini
sudah tergolong baik,
namun belum ada
data mengenai
latihan yang
diadakan oleh
personil keselamatan
kerja.

Undang-undang
dasar no 1 tahun
1970
Undang-undang No
28 tahun 2002
tentang bangunan
gedung.

terjadi kebakaran.
Selain itu lebih baik
menggunakan kata
kata KELUAR
daripada EXIT .
Tempat berkumpul
dikosongkan agar
bisa digunakan saat
terjadi keadaan
darurat.

peraturan
perundangan UU No.
1 tahun 1970 (Pasal
10 ayat 1, 2) yang
mewajibkan
perusahaan untuk
membentuk P2K

Masukan untuk
perusahaan yang
terkait dengan
masalah personil
keselamatan kerja
ini, yaitu diharapkan
bagian personil ini
lebih sering
mengadakan
evaluasi (sidingsidang) yang terkait
dengan masalah
keselamatan kerja
atau program
keselamatan kerja
dan juga lebih
meningkatkan
upaya-upaya
promosi tentang
keselamatan kerja
pada tenaga-tenaga
kerja di perusahaan
tersebut.

28

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Secara umum penatalaksanaan sistem K3 di PT. Martina Berto Tbk dari
penilaian keselamatan kerja sudah berjalan cukup baik, namun masih ada beberapa
hal yang masih harus diperbaiki lagi. Antara lain:
1. Belum tersedia SOP yang memadai untuk mencegah kecelakaan kerja dari
masing-masing kegiatan kerja.
2. Tidak dilakukan briefing rutin sebelum melakukan kerja yang mengingatkan
tentang pentingnya perhatian dan kehati-hatian setiap pekerja agar terhindar dari
kecelakaan kerja (safety induction).
3. Dari segi keselamatan konstruksi semuanya sudah cukup baik, namun akan lebih
baiknya apabila ditambahkan adanya informasi keselamatan peralatan, bahan,
dan benda-benda dalama ruangan.
4. Tidak semua pekerja dari PT. Martina Berto tbk. tersebut mengetahui cara
penggunaan alat-alat penanggulangan kebakaran.
B. SARAN
1.
Menyediakan SOP yang memadai untuk mencegah kecelakaan kerja dari
masing-masing
kegiatan kerja.
2. Melakukan briefing rutin sebelum melakukan kerja yang mengingatkan tentang
pentingnya perhatian dan kehati-hatian setiap pekerja agar terhindar dari
kecelakaan kerja (safety induction).
3. Ditambahkan adanya informasi keselamatan peralatan, bahan, dan bendabenda dalama ruangan.
4. Jadwal rutin pelatihan penggunaan APAR, pengecekan APAR, dan evakuasi.

BAB VI
PENUTUP
Dari pemaparan makalah di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa
kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu unsur yang penting dalam

29

ketenagakerjaan, dimana diperlukan suatu usaha dan upaya untuk menciptakan


perlindungan dan keamanan dari resiko kecelakaan dan bahaya baik fisik, mental
maupun emosional terhadap pekerja, perusahaan, masyarakat dan lingkungan.
Oleh karena itulah sangat banyak berbagai peraturan perundang-undangan
yang dibuat untuk mengatur masalah kesehatan dan keselamatan kerja. Meskipun
banyak ketentuan yang mengatur mengenai kesehatan dan keselamatan kerja,
tetapi masih banyak faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan
keselamatan kerja yang disebut sebagai bahaya kerja dan bahaya nyata. Masih
banyak pula perusahaan yang tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan
kerja sehingga banyak terjadi kecelakaan kerja.
Oleh karena itu, perlu ditingkatkan sistem manajemen kesehatan dan
keselamatan kerja yang dalam hal ini tentu melibatkan peran bagi semua pihak.
Tidak hanya bagi para pekerja, tetapi juga pengusaha itu sendiri, masyarakat dan
lingkungan sehingga dapat tercapai peningkatan mutu kehidupan dan produktivitas
nasional.

30

LAMPIRAN

31

32