You are on page 1of 20

MAKALAH

KONSEP BERFIKIR KRITIS


DALAM KEPERAWATAN
D
I
S
U
S
U
N
OLEH

Henny kristiani laia


1.4

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


MUTIARA INDONESIA MEDAN
2012

Kata Pengantar
Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Makalah yang berjudul Konsep
Berpikir
Kritis
Dalam
Keperawatan, disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu
Keperawatan Dasar I yang di bimbing oleh Bpk. REZEKI SINAGA ,SKep.Ns
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan dari segi isi maupun bentuk. Oleh karena itu,
penyusun memohon sumbang saran dan kritik konstruktif dari berbagai
pihak terutama dari dosen pembimbing mata kuliah ilmu Keperawatan
Dasar I untuk kesempurnaan dalam pembuatan makalah yang akan
datang.
Akhirnya penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita, khususnya bagi masyarakat luas.
Medan , 15 November 2012

Ahmad Priyani

Daftar Isi
Halaman
Judul..............................................................................................................
............. 1
Kata
Pengantar......................................................................................................
..................... 2
Daftar
Isi..................................................................................................................
...................... 3
Bab 1
Pendahuluan.................................................................................................
................. 4
1.1. Latar
Belakang......................................................................................................
4
1.2. Rumusan
Masalah................................................................................................ 5
1.3.
Tujuan............................................................................................................
........... 5
1.4.
Manfaat.........................................................................................................
.......... 5
Bab 2
Pembahasan..................................................................................................
.................. 6
2.1. Pengertian Berpikir Kritis dalam
keperawatan.................................... 6
2.2.
Latar
Belakang
Berpikir
Kritis
dalam
Keperawatan.......................... 7
2.3.
Fungsi
dan
Manfaat
Berfikir
Kritis
Dalam
keperawatan.................. 8
2.4.Ciri
Berfikir
Kritis
dalam
keperawatan .................................................. 8
2.5.
Karakteristik
Berpikir
Kritis
dalam
Keperawatan.............................. 8
2.6.
Cara
Berpikir
Kritis
Yang
Baik
dalam
Keperawatan............................ 9
2.7.
Model
dari
Berpikir
Kritis
dalam
Keperawatan.................................... 10
2.8.
Langkah-Langkah
berfikir
Kritis
dalam
Keperawatan...................... 11
2.9
Penerapan
Konsep
Berfikir
Kritis
Dalam
Keperawatan..................... 11
2.10
Aspek-aspek
Berfikir
Kritis
dalam
Keperawatan............................... 14
3

Bab
3
Penutup.........................................................................................................
........... 15
3.1.
Kesimpulan....................................................................................................
... 15
3.2.
Saran.............................................................................................................
... 15
Daftar
Pustaka.........................................................................................................
.......... 16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
Berfikir
merupakan
suatu
proses
yang
berjalan
secara
berkesenambungan mencakup interaksi dari suatu rangkayan pikiran dan
persepsi. Sedangkan berfikir kritis merupakan konsep dasar yang terdiri
dari konsep berfikir yang berhubungan dengan proses belajar dan kritis itu
sendiri berbagai sudut pandang selain itu juga membahas tentang
komponen berfikir kritis dalam keperawatan yang didalamnya dipelajari
defenisi,elemen berfikir kritis,model berfikir kritis,analisa berfikir
kritis,berfikir logis dan kreatif, krakteristik berfikir kritis,pemecahan
masalah dan langkah-langkah pemecahan masalah,proses pengambilan
keputusan,fungsi
berfikir
kritis,model
penggunaan
atribut,proses
intuisi,indikator, dan prinsip utama .
Perawat sebagai bagian dari pemberi layanan kesehatan, yaitu
memberi asuhan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan
akan selalu dituntut untuk berfikir kritis dalam berbagai situasi. penerapan
berfikir kritis dalam proses keperawatan dengan kasus nyata yang akan
memberikan gambaran kepada perawat tentang pemberian asuhan
keperawatan yang komprehensif dan bermutu. Seseorang yang berfikir
dengan cara kreatif akan melihat setiap masalah dengan sudut yang
selalu berbeda meskipun obyeknya sama, sehingga dapat dikatakan,
dengan tersedianya pengetahuan baru, seseorang profesional harus
selalu melakukan sesuatu dan mencari apa yang selalu efektif dan ilmia
dan memberikan hasil yang lebih baik untuk kesejateraan diri maupun
orang lain.
Proses berfikir ini dilakukan sepenjang waktu sejalan dengan
keterlibatan kita dalam pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan
yang kita miliki, kita jadi lebih mampu untuk membentuk asumsi, ide-ide
dan membuat simpulan yang valid. Semua proses tersebut tidak terlepas
dari sebuah proses berfikir dan belajar.
Berpikir bukan suatu proses statis, tetapi selalu berubah secara
konstan dan dinamis dalam setiap hari atau setiap waktu. Tindakan
keperawatan membutuhkan proses berpikir, oleh karena itu sangat
penting bagi perawat untuk mengerti berpikir secara umum. Pemikir kritis
dalam praktik keperawatan adalah seseorang yang mempunyai
keterampilan pengetahuan untuk menganalisis, menerapkan standar,
mencari informasi, menggunakan alasan rasional, memprediksi, dan
melakukan transformasi pengetahuan. Pemikir kritis dalam keperawatan
menghasilkan kebiasaan-kebiasaan baik dalam berpikir, yaitu: yakin,
kontekstual, perspektif, kreatif, fleksibel, integritas intelektual, intuisi,
berpikir terbuka, refleksi, inquisitiviness, dan perseverance

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertian dari berpikir kritis dalam keperawatan?
2. Apa yang melatar belakangi berpikir kritis dalam keperawatan?
3. Apa karakteristik dari berpikir kritis?
4. Bagaimana cara berpikir kritis yang baik?
5. Apa sajalah model dari berpikir kritis?

1.3 TUJUAN
Untuk lebih memahami makna dan maksud dari berpikir kritis dalam
keperawatan, serta untuk mengetahui penerapan dan model berpikir kritis
dalam keperwatan,sehingga kita mampu menyelesaikan suatu masalah
serta dapat mengambil suatu keputusan.
1.4 MANFAAT
Dengan kita memahami konsep dan tujuan dalam penerapan
berpikir kritis keperawatan, kita dapat berpikir kritis sehingga mampu
mengambil suatu keputusan dengan tepat dan pasti

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN BERFIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN
Beberapa tahun yang lalu keperawatan memutuskan bahwa berpikir
kritis dalam keperawatan penting untuk disosialisasikan. Meskipun ada
Literatur yang menjelaskan tentang berpikir kritis tetapi spesifikasi
berpikir kritis dalam keperawatan sangat terbatas. Tahun 1997 & 1998
penelitian menegaskan secara lengkap tentang berpikir kritis dalam
keperawatan. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
Berpikir kritis dalam keperawatan merupakan komponen dasar dalam
mempertanggungjawabkan profesi dan kualitas perawatan. Pemikir kritis
keperawatan
menunjukkan
kebiasaan
mereka
dalam
berpikir,
kepercayaan diri, kreativitas, fleksibiltas, pemeriksaan penyebab
(anamnesa), integritas intelektual, intuisi, pola piker terbuka,
pemeliharaan dan refleksi. Pemikir kritis keperawatan mempraktekkan
keterampilan kognitif meliputi analisa, menerapkan standar, prioritas,
penggalian data, rasional tindakan, prediksi, dan sesuai dengan ilmu
pengetahuan.
Berpikir kritis merupakan jaminan yang terbaik bagi perawat
mencapai sukses dalam berbagai aktifitas dan merupakan suatu
penerapan profesionalisme serta pengetahuan tekhnis atau keterampilan
tekhnis dalam memberikan asuhan keperawatan.
Proses
berpikir
kritis
meliputi
memahami,
mengevaluasi,
mempertanyakan maupun menjawab, membangun pertanyaan yang
merupakan pemicu proses berkelanjutan untuk mencari jawaban dngan
kemungkinan ada jawaban atau tidak terdapat jawaban.
Menurut para ahli (Pery dan Potter,2005), berpikir kritis adalah
suatu proses dimana seseorang atau individu dituntut untuk
menginterfensikan atau mengefaluasi informasi untuk membuat sebuah
penilain atau keputusan berdasarkan kemampuan,menerapkan ilmu
pengetahuan dan pengalaman.
Menurut Bandman (1988), berpikir kritis adalah pengujian secara
rasional
terhadap
ide-ide,
kesimpulan,
pendapat,
prinsip,
pemikiran,masalah, kepercayaan, dan tindakan.
Menutut Strader (1992), berpikir kritis adalah suatu proses
pengujian yang menitikberatkan pendapat atau fakta yang mutahir dan
menginterfensikan serta mengefaluasikan pendapat-pendapat tersebut
untuk mendapatkan suatu kesimpulan tentang adanya perspektif
pandangan baru.
Menurut Potter dan Perry,(fundamental of nursing vol 1 hlmn
131) .Berpikir kritis adalah suatu proses yang menantang seorang individu
untuk menginterpretasidan mengevaluasi informasi untuk membuat
penilaian, kemampuan
untuk
berpikir
secara
kritis,menerapkan
pengetahuan dan pemahaman, pemecahan masalah, dan membuat
keputusan adalahinti dari praktik keperawatan.

Menurut Kozier dan Rubenfeld, (berpikir kritis dalam keperawatan


hlmn 6) . Berpikir kritis adalah komponen esensial dalam tanggung
gugat professional dan asuhankeperawatan yang bermutu

2.2 . Latar Belakang Berpikir Kritis dalam Keperawatan


Saat perawat bertemu clien, perawat akan selalu menggunakan
pemikiran. Misalnya, menggunakan pemikiran untuk mengumpulkan data
dan membuat kesimpulan. Setelah membu at kesimpulan perawat akan
menerapkan prblemsolving dengan melakukan sesuatu pemecahan
masalah guna memenuhi kebutuhan dasar klein. Penerapan berpikik kritis
dalam proses keperawatan diintregrasikan dalam tahap-tahap proses
keperawatan dan digunakan untuk pengkajian rumusan diaknusis
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.
Berfikir Kritis dalam Tahap Pengkajian dan Diagnosis
Berpikir kritis pada tahap pengkajian adalah proses pemahaman
tentang informasi apa yang dikumpulkan, metode pengumpulan data
yang akan dilakukan, berpikir tentang kesesuaian informasi, dan membuat
suatu kesimpulan tentang respons klien terhadap kondisi sakitnya.
Perumusan masalah keperawatan merupakan kesimpulan dari
hasil pengkajian dan mengandung dua kategori mendasar, yaitu kekuatan
dan perhatian terhadap masalah kesehatan klien. Perhatian terhadap
masalah meliputi kemampuan perawat untuk mengatasi masalah secara
mandiri, an perlunya keterlibatan profesi lain dan bekerja sama secara
interdisiplin, serta perlu/tidaknya perawatan klien yang harus dirujuk ke
tenaga kesehatan lain. Dengan demikian, berpikir kritis pada tahap
pengkajian meliputi kegiatan mengumpulkan data dan validasi.
Perumusan diagnosis keperawatan merupakan tahap
pengambilan keputusan yang paling kritis, karena harus menentukan
masalah dan argumentasi secara rasional. Oleh karena itu, perlu dilatih
sehingga lebih tajam dalam mengidentifikasi masalah.
Berpikir Kritis dalam Tahap Perencanaan
Berpikir
dalam
perencanaan
brarti
menggunakan
pengetahuan untuk mengembangkan hasil untuk diharapkan. Selain itu
juga memerlukan keterampilan guna mensintesis ilmu yang dimiliki untuk
memilih tindakan yang tepat. Perencanaan asuhan keperawatan biasanya
ditulis berisikan di mana dan bagaimana menolong klien berdasarkan
responsnya terhadap kondisi penyakit. Bekerja dengan klien untuk
memecahkan masalah yang dihadapinya adalah hal yang paling prioritas,
begitu juga mengembangkan tujuan perawatan dan bekerja sama dalam
pencapaian tujuannya.
Berpikir Kritis dalam Tahap Implementasi
Berfikir kristis pada tahap implementasi tindakan keperawatan
adalah keterampilan dalam menguji hipotesis, karena tindakan
keperawatn adalah tindakan nyata yang menentukan tingkat keberhasilan
untuk mencapai tujuan. Bekerja melalui aktivitas khusus, yaitu asuhan
8

keperawatan untuk membantu mencapai tujuan dalam perencanaan


keperawatan, akan selalu menggunakan pikiran tentang apa yang harus
dilakukan, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana intervensi
keperawatan itu dilakukan.
Berpikir Kritis dalam Tahap Evaluasi
Berpikir kritis dalam tahap evaluasi adalah mengkaji efektivitas
tindakan di mana perawat harus dapat mengambil keputusan tentang
pemenuhan kebutuhan dasar klien, dan memutuskan apakah tindakan
keperawatan perlu diulang. Berpikir dan kumpulkan informasi tentang
respons klien setelah beberapa tindakan keperawatan dilakukan. Bekerja
sama dengan klien dalam rangka evaluasi tindakan keperawatan adalah
sangat penting. Berpikir kritis dalam tahap evaluasi ini dapat dilakukan
dengan menggunakan model konsep total recall.

2.3 FUNGSI DAN MANFAAT BERFIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN


Berikut ini merupakan fungsi atau manfaat berpikir kritis dalam
keperawatan adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan proses berpikir kritis dalam aktifitas keperawatan seharihari.
2. Membedakan sejumlah penggunaan dan isu-isu dalam keperawatan.
3. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah keperawatan.
4. Menganalisis pengertian hubungan dari masing-masing indikasi,
penyebab dan tujuan, serta tingkat hubungan.
5. Menganalisis argumen dan isu-isu dalam kesimpulan dan tindakan yang
dilakukan.
6. Menguji asumsi-asumsi yang berkembang dalam keperawatan.
7.Melaporkan data dan petunjuk-petunjuk yang akurat dalam
keperawatan.
8. Membuat dan mengecek dasar analisis dan validasi data keperawatan.
9. Merumuskan
dan
menjelaskan
keyakinan
tentang
aktifitas
keperawatan.
10. Memberikan alasan-alasan yang relevan terhadap keyakinan dan
kesimpulan yang dilakukan.
11. Merumuskan dan menjelaskan nilai-nilai keputusan dalam
keperawatan.
12. Mencari alasan-alasan kriteria, prinsip-prinsip dan aktifitas nilai-nilai
keputusan.
13. Mengevaluasi penampilan kinerja perawat dan kesimpulan asuhan
keperawatan.
2.4 CIRI PRILAKU BERFIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN
1. Menanggapi atau memberikan komentar terhadap sesuatu dengan
penuh pertimbangan
2. bersedia memperbaiki kesalahan atau kekeliruan
9

3. dapat menelaah dan menganalisa sesuatu yang datang kepadanya


secara sistematis
4. berani menyampaikan kebenaran meskipun berat
5. bersikap cermat, jujur, dan ikhlas
6. kebencian terhadap suatu kaum, tidak mendorongnya untuk tidak
berbuat jujur atau tidak berlaku adil
7. adil dalam memberikan kesaksian tanpa melihat siapa orangnya
walaupun akan merugikan diri sendiri , sahabat dan kerabat
8. keadilan ditegakkan dalam segala hal.

2.5. KARAKTERISTIK BERFIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN


Berikut ini adalah karakteristik dari proses berpikir kritis dan
penjabarannya.
1. Konseptualisasi
Konseptualisasi artinya proses intelektual membentuk suatu konsep.
Dan konseptualisasi merupakan pemikiran abstrak yang digeneralisasi
secara otomatis menjadi simbol-simbol dan disimpan di dalam otak.
2. Rasional dan Beralasan (reasonable)
Artinya argumen yang diberikan selalu berdasarkan analisis dan
mempunyai dasar kuat dari fakta atau fenomena nyata.
3. Reflektif
Artinya bahwa seorang pemikir kritis tidak menggunakan asumsi
atau persepsi dalam berpikir atau mengambil keputusan, tetapi akan
menyediakan waktu untuk mengumpulkan data dan menganalisisnya
berdasarkan disiplin ilmu, fakta, dan kejadian.
4. Bagian dari suatu sikap
Yaitu bagian dari suatu sikap yang harus diambil. Pemikir kritis akan
selalu menguji apakah sesuatu yang dihadapi itu lebih baik atau lebih
buruk dibanding yang lain, dengan menjawab pertanyaan mengapa bisa
begitu dan bagaimana seharusnya.
5. Kemandirian Berpikir
Seorang pemikir kritis selalu berpikir dalam dirinya, tidak pasif
menerima pemikiran dan keyakinan orang lain, menganalisis semua isu,
memutuskan secara benar, dan dapat dipercaya.
6. Berpikir Kritis Adalah Berpikir Kreatif
Maksudnya yaitu selalu menggunakan ketrampilan intelektualnya
untuk mencipta berdasarkan suatu pemikiran yang baru dan dihasilkan
dari sintesis beberapa konsep.
7. Berpikir Adil dan Terbuka
Yaitu mencoba untuk berubah, dari pemikiran yang salah dan
kurang menguntungkan menjadi benar dan lebih baik. Perubahan
dilakukan dengan penuh kesabaran dan kemauan, kemudian hasilnya
disosialisasikan beserta argumentasi mengapa memilih dan memutuskan
seperti itu.

10

8. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Keyakinan


Berpikir kritis digunakan untuk mengevaluasi suatu argumentasi
dan kesimpulan, mencipta sesuatu pemikiran baru dan alternatif solusi
tindakan yang akan diambil.
2.6. CARA BERFIKIR KRITIS YANG BAIK DALAM KEPERAWATAN
a. Mengenali Masalah ( Defining and dlarifying problem)
1. Mengidentifikasi isu-isu atau permasalahan pokok.
2. Membandingkan kesamaan dan perbedaan-perbedaan.
3. Memilih informasi yang relevan.
4. Merumuskan /memformulasikan masalah.
b. Menilai informasi yang relevan
1. Menyeleksi fakta, opini, hasil nalar/judgment.
2. Mengecek konsistensi.
3. Mengidentifikasi asumsi.
4. Mengenali kemungkinan faktor stereotip.
5. Mengenali kemungkinan emosi, propaganda, salah penafsiran kalimat.
6. Mengenali kemungkinan perbedaan informasi orientasi nilai dan
ideologi.
c. Pemecahan Masalah / Penarikan kesimpulan
1. Mengenali data-data yang diperlukan dan cukup tidaknya data.
2. Meramalkan
konsekuensi
yang
mungkin
terjadi
keputusan/pemecahan masalah/kesimpulan yang diambil.

dari

2.7 MODEL BERFIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN


Costa, dkk (1985) mengidentifikasi model berfikir kritis : The Six
Rs
1.
Remembering : menggunakan
mendekati pikiran saat ini

pengalaman

masa

lalu

untuk

2.
Repeating : Semakin sering menggunakan cara berpikir kritis dalam
menghadapu setiap persoalan kehidupan sehingga memudahkan
mengambil keputusan
3.
Reasoning : berpikir kritis yaitu pengambilan keputusan atas dasar
pertimbangan yang akurat serta penentuan pilihan atas alternative yang
ditetapkan
4.
Reorganizing : Mengorganisasi kembali terhadap apa yang
sementara menjadi focus perhatian untuk mengidentifikasi secara tepat
terhadap fenomena yang menjadi perhatian utama
5.
Relating : menghubungkan
fenomena yang dipikirkan

dan
11

menemukan

relasi

diantara

6.
Reflecting : menunda dalam pengambilan keputusan dengan tujuan
menganalisa kembali secara hati-hati akan apa yang telah
dipertimbangkan
Lima Model berpikir kritis
Meskipun The Six Rs sangat berguna namun tidak semuanya cocok
dengan dalam keperawatan. Kemudian Perkumpulan Keperawatan
mencoba mengembangkan gambaran berpikir dan mengklasifikasikan
menjadi 5 model disebut T.H.I.N.K. yaitu:
Total Recall, Habits, Inquiry, New Ideas and Creativity, Knowing How You
Think.
Sebelum mempelajari lebih jauh tentang Model T.H.I.N.K., kita perlu
untuk mempelajari asumsi yang menggarisbawahi pendekatan lima model
tersebut.
Asumsi pertama adalah berpikir, merasa, dan keahlian mengerjakan
seluruh komponen esensial dalam keperawatan dengan bekerja sama dan
saling berhubungan. Berpikir tanpa mengerjakan adalah suatu kesiasiaan. Mengerjakan sesuatu tanpa berpikir adalah membahayakan. Dan
berpikir atau mengerjakan sesuatu tanpa perasaan adalah sesuatu yang
tidak mungkin. Perasaan, diketahui sebagai status afektive yang
mempengaruhi berpikir dan mengerjakan dan harus dipertimbangkan saat
belajar berpikir dan menyimpulkan sesuatu. Pengakuan atas 3 hal
(Thinking, Feeling, and Doing) mengawali langkah praktek professional ke
depan.
Asumsi yang kedua mengakui bahwa berpikir, merasakan, dan
mengerjakan tidak bisa dipisahkan dari kenyataan praktek keperawatan.
Hal ini dapat dipelajari dengan mendiskusikan secara terpisah mengenai
ketiga hal tersebut. Meliputi belajar mengidentifikasi, menilai dan
mempercepat kekuatan perkembangan dalam berpikir, merasa dan
mengerjakan sesuai praktek keperawatan.
Asumsi yang ketiga bahwa perawat dan perawat pelajar bukan
papan kosong, mereka dalam dunia keperawatan dengan berbagai
macam keahlian berpikir. Model yang membuat berpikir kritis dalam
keperawatan meningkat. Oleh karena itu bukan merupakan suatu
kesungguhan yang asing jika mereka menggunakan model sama yang
digunakan setiap hari.
Asumsi yang keempat yang mempertinggi berpikir adalah sengaja
berbuat sesuai dengan pikiran dan yang sudah dipelajari.
Asumsi yang kelima bahwa pelajar dan perawat menemukan
kesulitan untuk mengambarkan keahlian mereka berpikir. Sebagian orang
jarang bertanya bagaimana pelajar dan perawat berpikir, selalu yang
ditanyakan adalah apa yang kamu pikirkan.
Asumsi yang keenam bahwa berpikir kritis dalam keperawatan
merupakan gabungan dari beberapa aktivitas berpikir yang bersatu dalam
konteks situasi dimana berpikir dituangkan.
Menurut Kozier dan Rubenfeld, model berpikir kritis terdiri dari
5 jenis, yaitu :
12

1. T -> total recall (TR), berarti mengingat beberapa fakta atau


mengingat tempat dan bagaimana cara untuk menemukannya ketika
dibutuhkan.Fakta keperawatan berasal dari banyak sumber, isi pelajaran
yang diajarkan di kelas, informasidalam buku, hal-hal yang dikatakan
pasien atau orang terdekat pasien kepada perawat, data pasien
yang dikumpulkan melalui indra dengan menggunakan alat dan
lainnya. Ingatan total jugamerupakan kemampuan untuk mengakses
pengetahuan, pengetahuan yang dipelajari dan disimpandalam ingatan.
2. H -> habit,berarti pendekatan berpikir yang sering kali diulang,
sehngga menjadi sifatalami kedua. Kebiasaan menghasilkan cara-cara
yang dapat diterima dalam melakukan segala hal,yang berhasil,
menghemat waktu, atau diperlukan. Orang sering kali
menggambarkan apa yangmereka lakukan atas dasar kebiasaan
tindakan yang saya lakukan tanpa berpikir. Tindakan
kebiasaan tersebut sebenarnya bukan dilakukan tanpa berpikir ; hanya
saja, proses berppikir telah begitu mendarah daging sehingga tampaknya,
atau sebenarnya mungkin, dilakukan dibawah sadar.
3. I -> inquiry (penyelidikan), bearti memeriksa issue secara mendetail
dan mempertanyaakan isu yang mungkin
tampak dengan jelas.Penyelidikan berarti tidak menilai sesuatu
berdasarkan bentuk luarnya, mencari factor-faktor
yangkurang jelas, meragukan semua kesan pertama dan memeriksa
segala sesuatu, walaupun haltersebut tampak tidak bermakna.
Penyelidikan adalah jenis berpikir yang sangat penting
untuk mencapai kesimpulan. Kesimpulan dapat dicapai tanpa m
enggunakan penyelidikan, tapikesimpulan menjadi lebih baik,
jika menggunakan penyelidikan.
4. N
->New ideas and creativity, merupakan model berpikir yang sangat khusu
s.Pemikiran pribadi ini, melebihi pemikiran yang biasanya guna
membentuk kembali norma.
Modelini, memungkinkan untuk memiliki ide melebihi ide-ide dalam buku
ajar. Berpikir kreatif berlawanan dari model kebiasaan (habit). Ide
baru dan kreativitas, sangat penting dalamkeperawatan karena
merupakan akar dari asuhan yang diindividualisasi atau asuhan yang
sesuaidengan spesifikasi klien. Banyak hal yang dipelajari perawat yang h
arus digabungkan,disesuaikan, dan dikerjakan ulang untuk menyesuaikan
dengan situasi klien yang unik .
5. K -> knowing how you thing (mengetahui bagaimana anda berpikir),
berarti berpikir tentang pemikiran seseorang. Membuat seseorang
berpikir, mungkin lebih baik tidak dilakukan jika
orang tersebut tidak mengetahui darimana ia harus memulai. Salah satu c
ara untuk mengidentifikasi dan memulai mengeksplorasi bagaimana anda
berpikir adalah denganmenggunakan refleksi diri. Perawat yang
reflektif mempertimbangkan segala sesuatu dalam pikiran mereka dan
13

berupaya keras untuk meningkatkan bagaimana mereka berpikir dan apa


yang akan diputuskan..
2.8 LANGKAH-LANGKAH BERFIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN
Langkah-langkah dalam berpikir kritis
1. Mengenali masalah (defining and clarifying problem) meliputi
mengidentifikasi isu-isu atau permasalahan pokok, membandingkan
kesamaan dan perbedaan-perbedaan, memilih informasi yang relevan,
merumuskan masalah.
2. Menilai informasi yang relevan yang meliputi menyeleksi fakta maupun
opini, mengecek konsistensi, mengidentifikasi asumsi, mengenali
kemungkinan emosi maupun salah penafsiran kalimat, mengenali
kemungkina perbedaan orientasi nilai dan ideologi.
3. Pemecahan masalah atau penarikan kesimpulan yang meliputi
mengenali data-data yang diperlukan dan meramalkan konsekuensi yang
mungkin terjadi dari keputusan/pemecahan masalah/kesimpulan yang
diambil
2.9 PENERAPAN KONSEP BERPIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN
Ada empat hal pokok dalam penerapan berfikir kritis dalam keperawatan,
yaitu :
1. Penggunaan bahasa dalam keperawatan
Perawat menggunakan bahasa secara verbal maupun nonverbal dalam
mengekspresikan idea, pikiran, informasi, fakta, perasan, keyakinan, dan
sikapnya terhadap klien, sesama perawat, profesi lain ataupun secara
nonverbal pada saat melakukan pendokumentasian keperawatan. Dalam
hal ini berfikir kritis adalah kemampuan menggunakan bahasa secara
reflektif
Lima macam penggunaan bahasa dalam konteks berfikir kritis :
1. Memberikan informasi yang dapat diklarifikasi (informative use of
language)
2. Mengekspresikan perasaan dan sikap (expressive use of language)
3. Melaksanakan perencanan keperawatan atau ide-ide dalam tindakan
keperawatan (directive use of language)
4. Mengajukan
pertanyaan
dalam
rangka
mencari
informasi,
mengekspresikan keraguan dan keheranan (interrogative use of
language)
5. Mengekspresikan pengandaian (conditional use of language)
2.

Argumentasi dalam keperawatan

Badman (1988) mengemukakan beberapa pengertian argumentasi terkait


dengan konsep berfikir dalam keperawatan adalah sebagai berikut :
14

1. Berhubungan dengan situasi perdebatan atau pertengkaran (dalam


bahasa sehari-hari)
2. Debat tentang suatu isu
3. Upaya untuk mempengaruhi individu atau kelompok untuk berbuat
suatu dalam rangka merubah perilaku sehat
4. Berhubungan dengan bentuk penjelasan yang rasional dimana
memerlukan serangkaian alas an perlunya suatu keyakinan dan
pengambilan keputusan atau tindakan.
3.

Pengambilan keputusan

Dalam praktek keperawatan sehari-hari, perawat selalu dihadapkan pada


situasi dimana harus mengambil keputusan dengan tepat. Hal ini dapat
terjadi dalam interaksi teman sejawat profesi lain dan terutama dalam
penyelesaian masalah manajemen di ruangan.

4.

Penerapan dalam proses keperawatan

a.

Pada tahap pengkajian

Perawat
dituntut
untuk
dapat
mengumpulkan
data
dan
memvalidasinya dengan hasil observasi. Perawat harus melaksanakan
observasi yang dapat dipercaya dan membedakannya dari data yang
tidak sesuai. Hal ini merupakan keterampilan dasar berfikir kritis. Lebih
jauh perawat diharapakan dapat mengelola dan mengkategorikan data
yang sesuai dan diperlukan. Untuk memiliki keterampilan ini, perawat
harus memiliki kemampuan dalam mensintesa dan menggunakan ilmuilmu seperti biomedik, ilmu dasar keperawatan, ilmu perilaku, dan ilmu
sosial
b.

Perumusan diagnose keperawatan

Tahap ini adalah tahap pengambilan keputusan yang paling kritikal.


Dimana perawat dapat menentukan masalah yang benar-benar dirasakan
klien, berikut argumentasinya secara rasional. Semakin perawat terlatih
untuk berfikir kritis, maka ia akan semakin tajam dalam menentukan
masalah atau diagnose keperawatan klien, baik diagnose keperawatan
yang sifatnya possible, resiko, ataupun actual. Berfikir kritis memerlukan
konseptualisasi dan ketrampilan ini sangat penting dalam perumusan
diagnose, karena taksonomi diagnose keperawatan pada dasarnya adalah
suatu konsep (NANDA, 1998).
c.

Perencanaan keperawatan

Pada saat merumuskan rencana keperawatan, perawat menggunakan


pengetahuan dan alas an untuk mengembangkan hasil yang diharapkan
untuk mengevaluasi asuhan keperawatan yang diberikan. Hal ini
merupakan keterampilan lain dalam berfikir kritis, pemecahan masalah
atau pengambilan keputusan. Untuk hal ini dibutuhkan kemampuan
perawat dalam mensintesa ilmu-ilmu yang dimiliki baik psikologi, fisiologi,
15

dan sosiologi, untuk dapat memilih tindakan keperawatan yang tepat


berikut alasannya. Kemudian diperlukan pula keterampilan dalam
membuat hipotesa bahwa tindakan keperawatan yang dipilih akan
memecahkan masalah klien dan dapat mencapai tujuan asuhan
keperawatan
d.

Pelaksanaan keperawatan

Pada tahap ini perawat menerapkan ilmu yang dimiliki terhadap situasi
nyata yang dialami klien. Dalam metode berfikir ilmiah, pelaksanaan
tindakan keperawatan adalah keterampilan dalam menguji hipotesa. Oleh
karena itu pelaksanaan tindakan keperawatan merupakan suatu tindakan
nyata yang dapat menentukan apakah perawat dapat berhasil mencapai
tujuan atau tidak.

e.

Evaluasi keperawatan

Pada tahap ini perawat mengkaji sejauh mana efektifitas tindakan yang
telah dilakukan sehingga dapat mencapai tujuan, yaitu terpenuhinya
kebutuhan dasar kien. Pada proses evaluasi, standar dan prosedur berfikir
kritis sangat memegang peranan penting karena pada fase ini perawat
harus dapat mengambil keputusan apakah semua kebutuhan dasar klien
terpenuhi, apakah diperlukan tindakan modifikasi untuk memecahkan
masalah klien, atau bahkan harus mengulang penilaian terhadap tahap
perumusan diagnose keperawatan yang telah ditetapkan sebelumnya
2.10 ASPEK-ASPEK BERPIKIR KRITIS
Kegiatan berpikir kritis dapat dilakukan dengan melihat penampilan dari
beberapa perilaku selama proses berpikir kritis itu berlangsung. Perilaku
berpikir kritis seseorang dapat dilihat dari beberapa aspek:
1. relevance
relevansi ( keterkaitan ) dari pernyataan yang dikemukan.
2. Importance
Penting tidaknya isu atau pokok-pokok pikiran yang dikemukaan.
3. Novelty
Kebaruan dari isi pikiran, baik dalam membawa ide-ide atau
informasi baru maupun dalam sikap menerima adanya ide-ide orang lain.
4. Outside material
Menggunakan pengalamanya
diterimanya dari perkuliahan
5. Ambiguity clarified
16

sendiri

atau

bahan-bahan

yang

Mencari penjelasan atau informasi lebih lanjut jika dirasakan ada ketidak
jelasan
6. Linking ideas
Senantiasa menghubungkan fakta, ide atau pandangan serta
mencari data baru dari informasi yang berhasil dikumpulkan.
7. justification
memberi bukti-bukti, contoh, atau justifikasi terhadap suatu solusi
atau kesimpulan yang diambilnya. Termasuk didalamnya senantiasa
memberikan penjelasan mengenai keuntungan dan kerungian dari suatu
situasi atau solusi

17

BAB III
PENUTUP
3.1

SIMPULAN
Berpikir kritis merupakan proses berfikir dalam menyelesaikan
masalah melalui pertimbangan dengan merumuskan kesimpulan dan
berbagai kemungkinan, sehingga keputusan yang diambil bersifat efektif.
Untuk berpikir kritis dalam keperawatan melalui beberapa model dan
penerapan, seperti penggunaan bahasa keperawatan, penerapan proses
keperawatan serta pengkajian,sehingga berpikir kritis dalam keperawatan
merupakan komponen dasar dalam mempertanggungjawabkan profesi
dan kualitas perawat.
3.2
SARAN
Mahasiswa keperawatan harus belajar berpikir kritis dari saat ini, agar
ketika terjun kemasyarakat mereka mampu mengambil suatu keputusan
dan menylesaikan suatu masalah.
Kami mengharapkan agar mahasiswa mengerti tentang berpikir kritis
terutama dalam keperawatan, dan dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.

18

DAFTAR PUSTAKA
Deswani. 2009. Proses Keperawatan dan Berpikir Kritis. Jakarta: Salemba
Medika.
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam. 2009. Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan
Praktik. Jakarta: Salemba Medika.
Rubenfeld, M, Gaie. 2006. Berpikir Kritis dalam Keperawatan. Jakarta: EGC.
Rubenfeld, M, Gaie. 2010. Berpikir Kritis untuk Perawat: Strategis Berbasis
Kompetensi. Jakarta:EGC
Rubenfeld & Scheffer. 1999. Critical Thinking in Nursing. Philadelphia :
Lippincot.. Critical Thinking in Nursing. Philadelphia : Lippincot.Rubenfeld
& Scheffer. 1999. Critical Thinking in Nursing. Philadelphia :
Lippincot.ubenfeld & Scheffer. 1999. Critical Thinking in Nursing.
Philadelphia : Lippincot. Rubenfeld & Scheffer. 1999. Critical Thinking in
Nursing. Philadelphia : Lippincot.

19

CONTOH KASUS ASPEK LEGAL DALAM KEPERAWATAN


Disebuah desa terpencil tidak ada tenaga kesehatan yang bertugas
didesa tersebut, walaupun ada didesa sebelahnya,, dan saat anda praktek
lapangan didesa tersebut, ada kejadian yang tidak diduga-duga oleh
anda, ada warga yang terkena sebilah parang dibagian perutnya , hingga
merobek sedikit kulitnya, darah terus keluar ,jika tidak dijahit luka
tersebut maka darah akan keluar dan jika tidak diselamatkan pasti warga
tersebut akan meninggal dunia.
Dari kasus diatas apa yang anda lakukan ??????
a. selamatkan warga tersebut semampunya ???
b. apa anda bawa warga tersebut ke petugas kesehatan yang ada
didesa sebelah ??

jawab
jika saya mengalami kejadian tersebut saya akan menyelamatkan
semampunya , dengan cara memerhentikan pendarahan semampu
saya,,lalu saya bawa ke petugas kesehatan secepat mungkin....

20