You are on page 1of 3

Apotek rakyat, akses mudah mendapatkan obat

Obat adalah salah satu kebutuhan bagi mereka yang memiliki


penyakit. Bagaimana dengan kondisi peredaran obat di sekitar kita?
Apakah kita yakin obat tersebut adalah obat yang dijamin
keasliannya? Mungkin kita tidak pernah tahu. Hal ini diakibatkan
karena kurangnya perhatian pemerintah dalam memantau peredaran
obat di masyarakat.
Sebenarnya, Badan POM gencar menggelar razia obat palsu.
Tapi razia demi razia tidak membuat jera para pemalsu. Sedangkan
Badan POM belum mampu membongkar otak di balik peredaran obat
palsu. Dari puluhan kasus obat palsu dalam kurun waktu 2003 hingga
2006, hampir semua tersangka berstatus sebagai pengedar dan
penjual.
Pemalsu obat, pada awalnya memasarkan obat palsunya ke
sentra-sentra pasar obat atau toko obat. Salah satunya, Pasar
Pramuka dan Pasar Rawa Bening. Selain obat palsu, di sana juga
banyak toko yang menjual obat keras tanpa hak dan kewenangan. Di
Pasar Pramuka, Jaktim, terdapat lebih dari 200 toko obat.
Keputusan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang
menjadikan toko-toko obat di Pasar Pramuka menjadi Apotek Rakyat
adalah salah satu langkah baru dalam upaya memutus rantai
perdangangan obat palsu.
Agar setiap obat yang beredar di Pasar Pramuka tersebut dapat
terjamin kualitasnya, setiap pedagang diwajibkan untuk mengantongi
sertifikat sebagai bukti obat-obat yang dijual di toko tersebut layak
untuk dikonsumsi. Selain mewajibkan pedagang obat di Pasar
Pramuka untuk mengantongi sertifikat, para pedagang juga diharuskan
memiliki apoteker yang betugas memerikasa resep yang diberikan
dokter. Dalam memberikan pelayanan, seorang apoteker diwajibkan
memeriksa resep dan memeriksa kesesuaian jumlah/dosis obat yang
diberikan kepada pembeli. Tidak ada obat yang diberikan dalam jumlah
besar di apotik Rakyat.

Apotek Rakyat adalah sarana kesehatan tempat


dilaksanakannya pelayanan kefarmasian yaitu penyerahan obat dan
perbekalan kesehatan tetapi tidak boleh melakukan peracikan.
Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan
yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
Masyarakat luas akan semakin mudah memperoleh obat dengan
diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik
Indonesia Nomor 284/Menkes/Per/III/2007 tanggal 8 Maret 2007
tentang Apotek Rakyat. Dalam memberikan pelayanan kefarmasian,
Apotek Rakyat harus mengutamakan obat generik.
Selain itu Apotek Rakyat juga dimaksudkan untuk melindungi
masyarakat dari penggunaan obat-obat palsu, obat kadaluarsa, dan
obat yang tidak jelas asal-usulnya serta mencegah penyalahgunaan
obat. Dengan demikian masyarakat dapat memperoleh obat dengan
mudah, murah dan aman. Di samping itu Pendirian Apotek Rakyat juga
dimaksudkan untuk meningkatkan penertiban peredaran obat-obatan
di sentra-sentra perdagangan yang selama ini telah dilakukan oleh
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM).
Untuk dapat mendirikan Apotek Rakyat, selain harus melengkapi
syarat administrasi, juga harus mengantongi ijin dari Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Untuk memperoleh ijin tidak
dipungut biaya.
Syarat lain Apotek Rakyat adalah adanya sarana dan prasarana
berupa komoditi, lemari obat, lingkungan yang terjaga kebersihannya.
Apotek harus mudah diakses masyarakat serta memiliki bangunan
yang dapat menjamin obat atau perbekalan kesehatan lainnya bebas
dari pencemaran atau rusak akibat debu, kelembaban dan cuaca.
Dalam Permenkes No. 284/Menkes/Per/III/2007 termaktub
standar dan persyaratan Apotek Rakyat. Dalam hal ketenagaan, sama
seperti apotek lainnya, setiap Apotek Rakyat harus memiliki apoteker
sebagai penanggung jawab dan dapat dibantu oleh asisten apoteker.
Melalui Permenkes ini, pedagang eceran obat dapat
mengembangkan diri menjadi Apotek Rakyat setelah memenuhi syarat

tertentu. Sementara itu, pedagang eceran obat yang statusnya sudah


berubah menjadi Apotek Sederhana secara langsung dianggap telah
menjadi Apotek Rakyat. Dinas kesehatan Kabupaten/Kota harus
mengganti Izin Apotek Sederhana selambat-lambatnya dalam jangka
waktu 6 bulan sejak ditetapkannya Permenkes ini (8/3).
Apotek Rakyat dapat merupakan satu atau gabungan dari paling
banyak empat pedagang eceran obat. Gabungan pedagang eceran obat
dibawah satu pengelola harus memiliki ikatan kerjasama berbentuk
badan usaha atau bentuk lainnya serta berada pada lokasi yang
berdampingan.
Disebutkan pula bahwa pengelolaan persediaan obat dan
perbekalan kesehatan semestinya dilakukan sesuai dengan
pengaturan pemerintah terhadap perencanaan, pengadaan dan
penyimpanan yang ditetapkan. Pengeluaran obat perlu memakai
sistem FIFO (First In First Out). Maksudnya obat yang lebih dulu dibeli
atau disimpan pengelola juga harus lebih dahulu dijual atau
dilekuarkan. Aturan lain adalah FEFO (First Expire First Out),
maksudnya obat yang tanggal kadaluarsanya lebih awal harus lebih
dulu dukeluarkan atau dijual.
Dalam memberikan pelayanan, seorang apoteker pada Apotek
Rakyat harus melakukan pemeriksaan resep dan sebelum obat
diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap
kesesuaian antara resep dan obat. Apotek Rakyat dilarang
menyerahkan obat dalam jumlah besar, selain dilarang menjual obatobatan narkotika dan psikotropika.
Pembinaan dan pengawasan terhadap Apotek Rakyat dilakukan
oleh Depkes, Badan POM, Dinkes Kabupaten/kota dengan
mengikutsertakan organisasi profesi. Bila dalam pelaksanaannya
ditemukan bahwa suatuApotek Rakyat melakukan pelanggaran, maka
dapat dikenakan sanksi berupa teguran lisan, tertulis sampai dengan
pencabutan ijin.