Вы находитесь на странице: 1из 46

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

PEDOMAN MUTU PELAYANAN UNIT KERJA


PUSKESMAS GARUNG
TAHUN 2014

PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO


DINAS KESEHATAN
UPTD PUSKESMAS GARUNG
Jln. Dieng Km 09 Garung Kab. Wonosobo. Telp(0286) 3325805. Kode Pos 56353
0

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

PEDOMAN MUTU PELAYANAN UNIT KERJA


PUSKESMAS GARUNG
TAHUN 2014

PUSKESMAS GARUNG
PedomanMutu
Pelayanan Unit
Puskesmas

Kerja

Garung

Puskesmas

No. Kode

Terbitan

: 01

No. Revisi

: 00

Tgl. Mulai Berlaku : 01-01-2014


Halaman

: 1-41

Ditetapkan Oleh Kepala


Puskesmas Garung

Dr. Isni Nur Harjanto


NIP 19710607 200212 1
003

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................

A. Latar belakang ..................................................................................... .......

B. Tujuan Pedoman ..........................................................................................

C. Ruang Lingkup Pelayanan ...........................................................................

D. Batasan Operasional .....................................................................................

E. Landasan Hukum .........................................................................................

BAB II STANDAR KETENAGAAN ...............................................................

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia ...............................................................

B. Distribusi Ketenagaan ...................................................................................

C. Jadual Kegiatan .............................................................................................

BAB III STANDAR FASILITAS .......................................................................

A. Denah Ruang .................................................................................................

B. Standar Fasilitas ............................................................................................

BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN .....................................................

12

BAB V

LOGISTIK ..........................................................................................

13

BAB VI

KESELAMATAN PASIEN ...............................................................

17

BAB VII KESELAMATAN KERJA .................................................................

20

BAB VIII PENGENDALIAN MUTU .................................................................

22

BAB IX

25

PENUTUP ...........................................................................................

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Puskesmas adalah sarana pelayanan kesehatan dasar yang amat penting di
Indonesia. Puskesmas merupakan unit yang strategis dalam mendukung terwujudnya
perubahan status kesehatan masyarakat menuju peningkatan derajat kesehatan yang
optimal. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal tentu diperlukan upaya
pembangunan sistem pelayanan kesehatan dasar yang mampu memenuhi kebutuhan
mayarakat.
Pelayanan kesehatan bermutu yang berorientasi pada kepuasan pelanggan
atau pasien menjadi strategi utama bagi organisasi kesehatan di Indonesia, agar tetap
eksis ditengah persaingan global yang semakin kuat. Salah satu strategi yang paling
tepat dalam mengantisipasi adanya persaingan terbuka melalui pendekatan mutu
paripurna yang berorientasi pada proses pelayanan bermutu, dan hasil pelayanan
kesehatan yang sesuai dengan keinginan pelanggan atau pasien. Dimensi mutu
tersebut menyangkut mutu bagi pemakai jasa pelayanan kesehatan, maupun
penyelenggara pelayanan kesehatan.
Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator kualitas pelayanan. Dan
banyaknya pengunjung pasien ke Puskesmas tidak lepas dari kebutuhan akan
pelayanan kesehatan dan kepuasan pelanggan yang diperoleh berdasar pengalaman
sebelumnya.
Penilaian keberhasilan Puskesmas dapat dilakukan oleh internal organisasi
Puskesmas yaitu berupa penilaian Kinerja Puskesmas mencakup Managemen Sumber
Daya Tenaga, alat, obat, keuangan dan sistem informasi managemen Puskesmas.

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

B. Tujuan Pedoman
Tersedianya pedoman bagi Kepala Puskesmas, penanggung jawab dan
pelaksana

pelayanan

Puskesmas, dalam melakukan pelayanan

di Puskesmas.

Sehingga pelayanan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana serta memperolah


hasil sesuai dengan yang diharapkan.
C. Definisi
Mutu disebutkan sebagai kepatuhan terhadap standar yang sudah ditetapkan
atau yang memenuhi persyaratan yang diinginkan pelanggan, serta stake holder
dan provider. Mutu juga berarti kesesuaian terhadap persyaratan yang
ditetapkan.
D. Dimensi mutu
Dimensi mutu meliputi :
a. Akses
b. Efektifitas
c. Efisiensi
d. Keselamatan dan Keamanan
e. Kenyamanan
f. Kesinambungan Pelayanan
g. Kopetensi petugas
h. Informasi dan Dokumentasi,
E. Ruang Lingkup Pelayanan
Peningkatan mutu pelayanan merupakan upaya terus menerus untuk
mencapai target baik standar maupun indikator yang lebih baik. Puskesmas adalah
suatu

kesatuan

organisasi

kesehatan

fungsional

yang

merupakan

pusat

pengembangan kesehatan masyarakat, untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan


4

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

dasar, menyeluruh, dan terpadu bagi seluruh masyarakat di wilayah kerjanya dalam
bentuk kegiatan pokok dan membina peran serta masyarakat.
Pengertian dari pelayanan kesehatan dasar, menyeluruh, dan terpadu disini,
adalah upaya pengobatan penyakit (kuratif), upaya pencegahan (preventif), upaya
peningkatan kesehatan (promotif), dan upaya pemulihan kesehatan (rehabilitatif),
yang ditujukan kepada semua penduduk.
Ruang lingkup peningkatan mutu Puskesmas meliputi :
1. Penyelenggaraan Puskesmas
2. Pengorganisasian
3. Sarana Prasarana
4. Sumber Daya Manusia
5. Proses Pelayanan baik UKP maupun UKM
6. Pelaksanaan Audit dan Evaluasi serta Pencegahaan Kejadian Tidak di
inginkan
7. Upaya perbaikan berkesinambunngan.
F. Landasan Hukum
1. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan,
2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan,
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 374/Menkes/SK/V/2009 tentang Sistem
Kesehatan Nasional,
4. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 128/ Menkes/SK/11/2004 tentang
Kebijakan Dasar Puskesmas.
5. Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 75 Tahun 2014

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

BAB II
INDIKATOR, STANDART DAN KRITERIA
Mutu pelayanan sangat terkait dengan ketersediaan INPUT, PROSES YANG
BAIK DAN BENAR, serta OUTPUT sesuai yang diharapkan. Untuk itulah harus
disusun suatu standar input, standar proses dan standar output yang selanjutnya
dilakukan monitoring , audit dan evaluasi terus menerus dalam suatu rangkaian
PDCA. Tersusunnya standar, indikator, prosedur dan daftar tilik harus dijadikan
prioritas, sebagai intrumen untuk meningkatkan mutu pelayanan. Standar
menekankan pada pemenuhan persyaratan. Prosedur merupakan penjabaran dari
standar proses yang menekankan pada tahapan yang benar dan daftar tilik
merupakan perangkat yang digunakan untuk menilai kepatuhan serta pencapaian
kegiatan.
A. INDIKATOR
Indikator adalah suatu ukuran yang menjadi rujukan suatu hasil.
Menyusun indikator menggunakan rumusan sebagai batasan dan sifatnya.
Umumnya indikator harus SMART yang merupakan singkatan dari
Spesific yaitu ukuran yang tidak bias untuk satu fenomena atau kegiatan
Measurable yaitu dapat diukur dengan kuantitas bukan kualitas
Accecible yaitu dapat dicapai
Reasonable yaitu ukuran itu masuk akal untuk dicapai
Time bound yaitu ada batasan waktu untuk pencapaian.
Penetapan indikator dapat diperoleh dari Dimensi Mutu yaitu segi Akses,
Efektifitas, Efisiensi, Kenyamanan, Kepuasan serta keselamatan
pelanggan.

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

Dari aspek Input indikator bisa berupa INDIKATOR PERSYARATAN


MINIMAL,, aspek output berupa INDIKATOR PENAMPILAN atau
CAPAIAN MINIMAL.
B. STANDAR
Standar adalah pernyataan yang dapat diterima untuk suatu ukuran
terhadap bahan, proses dan suatu produk barang atau jasa.
Secara umum standar dibedakan atas 3 standar yaitu :
a. Standar Input meliputi 5 M (man, money, material, machine, methode )
b. Standar Proses, tahapan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
c. Standar Output yaitu penetapan hasil atau keluaran yang dikriteriakan
dapat diterima sebagai hasil yang menjadi tujuan produk.
C. KRITERIA
Kriteria adalah spesifik dari suatu indikator, atau variabel yang ditentukan
sebagai spesifik yang diindikatorkan. Misalkan suatu indikator waktu
tunggu pasien kriterianya adalah waktu pasien menunggu antri
pendaftaran sampai diperiksa. Standarnya 5 menit.

BAB III
PENYELENGGARAAN
A. Penyelenggaraan

Penyelenggaraan Puskesmas merupakan kewajiban pemerintah dalam sistem


kesehatan nasional, yang berkaitan dengan tata ruang geografi dan demografi
dalam wilayah hukum kecamatan, yang mencakup ketersediaan sarana fisik
gedung yang memenuhi standar dan kemudahan akses bagi masyarakat sehingga
7

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

menghasilkan fungsional yang maksimal, untuk tercapainya visi pembangunan


kesehatan melalui puskesmas, yakni terwujudnya Kecamatan Sehat Menuju
Indonesia Sehat. Puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan upaya
kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Yang dimaksud dengan
Pelayanan kesehatan perseorangan adalah pelayanan yang ditujukan untuk
menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga.
Sedangkan Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit suatu kelompok dan
masyarakat.
B. Organisasi
Organisasi Puskesmas harus memenuhi kebutuhan sebuah unit pelayanan
kesehatan dasar di puskesmas yang melaksanakan baik upaya kesehatan
perorangan maupun upaya kesehatan masyarakat. Unit kerja ini merupakan
organisasi yang dipimpin oleh seorang kepala Puskesmas dan unit struktur
ketatausahaan serta unit unit fungsional pelayanan UKP dam UKM serta
jejaring pelayanan kesehatan di tingkat desa dan pelayanan pelayanan
penunjang.

C. VISI MISI
VISI
Visi Puskesmas Garung adalah :
Mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan menuju
kecamatan Garung yang lebih maju dan sejahtera.
MISI
Untuk mencapai masyarakat Kecamatan Garung sehat yang mandiri dan
berkeadilan, maka ditetapkan 4 ( empat ) misi sebagai berikut :
8

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui


pemberdayaan masyarakat.
2. Melakukan Pelayanan Kesehatan Masyarakat yang
paripurna, merata dan bermutu.
3. Merumuskan kebijakan dan memantapkan manajemen
untuk meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan di
puskesmas
4. Meningkatkan

mutu

pelayanan

kesehatan

,dan

memenfaatkan tekhnologi kesehatan yang tepat guna

D. KEBIJAKAN MUTU
PUSKESMAS GARUNG BERTEKAD :
1. Meningkatkan mutu pelayanan dengan Menerapkan sistem menegemen
mutu di semua tingkatan penyelenggaraan kegiatan puskesmas.
2.

Memberi pelayanan yang merata dan sebaik mungkin untuk mencapai


kepuasan

dan keselamatan untuk pasien serta pegawai

dan terus

melakukan upaya perbaikan untuk mencapai hasil yang lebih optimal


3. Mencapai Kecamatan Garung yang sehat dengan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat Garung yang optimal

E. PENETAPAN INDIKATOR
1) INDIKATOR KINERJA UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
(UKM) 2015
9

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2)
U
Kesehatan
Masyarakat
KIA KB

Indikator Kinerja Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)


Puskesmas Garung Kabupaten Wonosobo
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

GIZI

Penanganan
Penyakit
Menular

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

KES LING

Pengendalian
Penyakit Tidak
Menular

2014

1.
2.
3.
4.
1.

Tahun
2015

Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000KH


Cakupan Kunjungan ibu hamil K1
Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4
Cakupan Komplikasi Kebidanan Yang Ditangani
Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Yang
Memiliki Kompetensi Kebidanan
Cakupan Pelayanan Nifas
Cakupan Peserta KB Aktif
Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 KH
Cakupan Kunjungan Bayi
Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang ditangani
Angka Kematian Balita (AKABA) per 1.000 KH

0
95%
90%

Persentase Balita Gizi Buruk


Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan
Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita
Balita yang ditimbang BB
Balita 6-59 bln mendapat Vit. A
Bayi 0-6 bln mendapat ASI Eklusif
Ibu Hamil mendapat FE 90 Tab
Rumah tangga yang menggunakan garam beryodium
Cakupan Pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24
bulan keluarga miskin

0,20%
100 %

Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit


Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA
(+)
Angka kesembuhan penyakit TB Paru
RFT Rate
Cakupan balita dengan pneumonia yang ditangani
Cakupan penderita diare yang ditangani
Angka Kesakitan (IR) DBD per 100.000 penduduk
Angka Kematian DBD (CFR)
Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
Cakupan penemuan (AFP) rate per 100.000 penduduk < 15 tahun
Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan
penyelidikan epidemiologi < 24 jam
Cakupan TTU
Cakupan Akses air bersih
Cakupan Jamban
Cakupan TPM
Cakupan Rumah Sehat
Cakupan Penanganan diabetes mellitus

10

100%

99%
99%
85,%
15,0
91%
80%
11,85

85%
85%
100%
89%
95%
97%
100 %

70 %
85 %
90 %
100 %
100 %

12
0
100%
>2
100 %
73,5%

95%
52%
65%
66,5%

Membuat dan
melaksanakan

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

Promosi
kesehatan dan
pemberdayaan

Pelayanan
Kesehatan

2014

2.

Cakupan penanganan hipertensi

1.

Cakupan Posyandu Purnama dan Mandiri

Membuat dan
melaksanakan
62 %

2.
3.
4.
1.
2.

Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat


Cakupan Rumah Tangga Sehat
Cakupan Kelurahan Siaga Aktif
Cakupan pelayanan kesehatan dasar pasien masyarakat miskin
Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin

100%
70%
100%
100%
100%

2. INDIKATOR KINERJA PELAYANAN UPAYA KESEHATAN PERORANGAN


(UKP) DAN ADMINISTRASI MANAJEMEN TAHUN 2015
No
1

Jenis
Pelayanan
Pelayanan

Indikator
Jenis
Input

Uraian
1. Pemberi Pelayanan di Poliklinik
11

Standar
100 % dokter

Target 2015
75%

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

Rawat Jalan
(poliklinik)

2. Pemberi pelayanan di KIA


Proses

Persalinan

Pelayanan
Laboratorium
Sederhana

Pelayanan

1. Jam buka pelayanan sesuai dengan


ketentuan

100 % bidan
terlatih
08.00 s/d 13.00

100 %

Output

1. Peresepan obat sesuai


formularium Nasional

100 %

Outcome

1. Kepuasan pasien

75 %

Input

1. Pemberi pelayanan persalinan


normal

Proses

1. Kepatuhan hand hygiene

Output

1. Kematian ibu karena persalinan

Outcome

2. Kepuasan pasien

Input

1. Kelengkapan Peralatan

Proses

1. Waktu tunggu hasil pelayanan


laboratorium
2. Tidak adanya kejadian tertukar
specimen
3. Pemeriksaan Kimia darah
terlayani
4. Pemeriksaan Darah lengkap
terlayani

100%
100%

Setiap hari kerja


Jumat : 08.00
11.00

2. Kepatuhan hand hygiene

Laboratorium

2014

Empat tangan
100%

100%
100%
82%
100%
100%

0%

0%

80 %

85%

80 %

80%

120 menit

100%

100 %

100%

100 %

100%

100 %

100%

100 %

100%

Output

1. Tidak adanya kesalahan


pemberian hasil pemeriksaan
laboratorium

Outcome

1. Kepuasan pelanggan

80 %

80

Input

1. Pengelola pelayanan farmasi

Sesuai standar

100%

12

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

Farmasi/obat

2. Fasilitas dan peralatan pelayanan

2014

Sesuai standar

100%

Tersedia dan
updated paling
lama 3 thn

100%

farmasi
3. Ketersediaan formularium

Proses

Pelayanan
gizi

7
Pelayanan
rekam medik

1. Waktu tunggu pelayanan obat jadi

30 menit

30 menit

2. Waktu tunggu pelayanan obat


racikan

60 menit

60 menit

Output

1. Tidak adanya kejadian salah


pemberian obat

100 %

100%

Outcome

1. Kepuasan pelanggan

80 %

80%

Input

1. Pemberi pelayanan gizi


2. Ketersediaan pelayanan konsultasi
gizi

Sesuai standart

100%

Tersedia

100%

80 %

80%

10 menit

100%

100 %

100%

100 %

100%

80 %

80%

Outcome

1. Kepuasan pelanggan

Proses

1. Waktu penyediaan dokumen


rekam medis rawat jalan

Output

1. Kelengkapan pengisian rekam


medik 24 jam setelah selesai
pelayanan

2. Kelengkapan Informed Concent


setelah mendapatkan informasi
yang jelas

Pengelolaan
limbah

Outcome

1. Kepuasan pelanggan

Input

1. Adanya penanggung jawab


pengelola limbah Puskesmas

Proses

Ada

Ada

2. Ketersediaan fasilitas dan


peralatan pengelolaan limbah
Puskesmas: padat, cair

Sesuai peraturan
perundangan

100%

1. Pengelolaan limbah cair

Sesuai peraturan

100%

13

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

perundangan

Output

2. Pengelolaan limbah padat

Sesuai peraturan
perundangan

1. Baku mutu limbah cair

a.BOD < 30 mg/l

100%

100%
b.COD < 80 mg/l
100%
c.TSS < 30 mg/l
100%
d.PH 6-9
9

Administrasi
dan
manajemen

Input

2. Pola Ketenagaan terpenuhi

Proses

10

Pelayanan
Mobil
Puskesas
Keliling
Sebagai

1. Adanya dokumen mutu yang


terkendali

Ada
100%

100%
100%

3. Adanya daftar urutan kepangkatan


karyawan

Ada

Ada

1. Ada Audit

Ada

Ada

2. Semua penanggung jawab dan


pelaksana upaya melakukan self
assesmen

100%

100%

3. Ketepatan waktu pengusulan


kenaikan pangkat

100 %

100%

4. Ketepatan waktu pengurusan gaji


berkala

100%

5. Ketepatan waktu penyusunan


laporan keuangan

100 %

100%

Output

1. Kelengkapan pelaporan
akuntabilitas kinerja

100 %

100%

Input

1. Ketersediaan pelayanan mobil


Puskesmas keliling

24 jam

100%

Proses

1. Standart K3 terpenuhi

100 %

100%

2. Semua alat transportasi berfungsi

100 %

100%

14

100%

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

ambulans

3. Waktu tanggap pelayanan ambulan


kepada masyarakat yang
membutuhkan

11

Pemeliharaan
Sarana

Pencegahan
dan
pengendalian
infeksi

< 30 mt

100%

Output

1. Tidak terjadinya kecelakaan


ambulans

100 %

100%

Outcome

1. Kepuasan pelanggan

80 %

80%

Input

1. Adanya Penanggung Jawab sarana


pelayanan

SK Kapus

100%

Output

1. Alat ukur dan alat laboratorium

100 %

100%

yang dikalibrasi tepat waktu


12

2014

Input

1. Ketersediaan APD

60 %

60%

Proses

1. Penggunaan APD saat


melaksanakan tugas

100 %

100%

F. PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN


G. Pimpinan Puskesmas menetapkan sasaran mutu

pada semua unit

(UKM,UKM dan Manajemen). Dalam mencapai Sasaran Mutu tersebut


seluruh kegiatan Puskesmas Garung dibuat dalam bentuk rencana kerja
yang berupa Rencana Kerja, Waktu Pelaksanaan, dan Anggarannya, yang
ditetapkan secara tahunan yang bersifat dinamis dan senantiasa
dikembangkan untuk mempercepat pencapaian sasaran mutu
H. Rencana Kerja tersebut dilaksanakan dengan Kerangka Acuan yang jelas,

dimonitor, dianalisa dan dilakukan tindakan penyesuaian yang diperlukan


15

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

untuk menjamin bahwa kinerja proses sesuai dengan Rencana yang telah
ditetapkan.
I. Dalam hal terjadi perubahan terhadap sistem manajemen mutu yang telah
ditetapkan maka integritas sistem manajemen mutu dalam pencapaian
Kebijakan dan Sasaran Mutu harus makin efektif.
J.

Produk Pelayanan
Upaya Kesehatan Wajib
Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan
komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit
tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan
wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah
Indonesia.
1. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah:
a. Upaya Promosi Kesehatan
b. Upaya Kesehatan Lingkungan
c. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
d. Upaya Perbaikan Gizi
e. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
f. Upaya Pengobatan.

2. Upaya Kesehatan Pengembangan


Upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang ditetapkan
berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta
yang

disesuaikan

dengan kemampuan

puskesmas.

Upaya

kesehatan

pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok puskesmas yang


telah ada, yakni :
a. Upaya Kesehatan Sekolah
16

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

b. Upaya Kesehatan Olah Raga


c. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
d. Upaya Kesehatan Kerja
e. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
f. Upaya Kesehatan Jiwa
g. Upaya Kesehatan Mata
h. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
i. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
1. Pendaftaran Pasien
Pendaftaran pasien adalah pelayanan rutin untuk menertibkan urutan
pelayanan dan memudahkan mendapatkan informasi rekam medis bagi seluruh
fasilitas pelayanan yang tersedia di Puskesmas. Yang dimulai dari persiapan,
kedatangan pasien sampai dengan pengiriman kartu rekam medis ke masing2
unit pemeriksaan, kemudian mengembalikan lagi kartu rekam medis kedalam
tempat semula.

2. Upaya Pengobatan
Layanan klinis adalah pelayanan klinis yang dilakukan untuk pasien
dengan melibatkan seluruh tim kesehatan sesuai dengan masalah kesehatan klien.
Dimulai dari anamnesa sampai dengan tindakan dan pengobatan yang sesuai
dengan diagnosanya.
Upaya Pengobatan, meliputi kegiatan di :
a. Pelayanan Umum,
17

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

b. Pelayanan Gigi,
c. Pelayanan KIA,
d. Pelayanan MTBS, dan
e. Pelayanan KB.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laborat adalah salah satu sarana kesehatan yang melakukan
kegiatan pemeriksaan guna menunjang diagnose suatu penyakit, berdasarkan
rujukan dari unit pemeriksaan .yang dimulai dari kedatangan pasien atas rujukan
dari init pelayanan sampai dengan diperoleh hasil laboratorium pasien.
4. Kefarmasian
Kefarmasian adalah proses kegiatan yang dilakukan dalam rangka
memenuhi kebutuhan obat yang meliputi aspek teknis dan non teknis mulai dari
perencanaan, permintaan, penerimaan, penyimpanan, distribusi, pelayanan,
pengendalian obat, pencatatan dan pelaporan.

K. Pelayanan Kesehatan Masyarakat


Adalah pelayanan kesehatan yg dilaksanakan diluar gedung berupa
pendekatan promotif, preventif. Kegiatan upaya meliputi :
1. Upaya KIA
Upaya KIA adalah upaya dibidang kesehatan yang menyangkut
pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu meneteki, bayi dan anak
balita serta anak prasekolah.

18

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

Upaya kesehatan ibu ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga


mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas serta mengurangi angka
kematian ibu.
2. Upaya P2P
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular dan tidak menular yaitu
upaya pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan
penular penyakit menular/infeksi. untuk melindungi masyarakat dari tertularnya
penyakit, menurunkan jumlah yang sakit, cacat dan/atau meninggal dunia, serta
untuk mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat penyakit menular.
Prioritas penyakit menular yang akan ditanggulangi adalah Malaria,
demam berdarah dengue, diare, polio, filaria, kusta tuberkulosis paru, HIV/AIDS,
pneumonia, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Prioritas penyakit tidak menular yang ditanggulangi adalah penyakit
jantung dan gangguan sirkulasi, diabetes mellitus, dan kanker.
3. Upaya Kesling
Kesehatan lingkungan yaitu upaya pelayanan kesehatan lingkungan
puskesmas untuk meningkatkan kesehatan lingkungan pemukiman melalui upaya
sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum termasuk
pengendalian

pencemaran

lingkungan

dengan

peningkatan

peran

serta

masyarakat. Untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik,


kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.
4. Upaya Promkes (Promosi Kesehatan)
Promosi kesehatan adalah salah satu program puskesmas yang berfokus
pada pelayanan preventif dan promotif kepada masyarakat. Kegiatannya meliputi
penyuluhan kesehatan dan pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
19

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

Diantara kegiatannya juga meliputi pembinaan desa siaga kesehatan, kerjasama


lintas sektor dan upaya dalam merumuskan kebijakan bersama dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
5. Upaya Perbaikan Gizi
Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat adalah salah satu upaya pokok
Puskesmas

yaitu kegiatan yang meliputi peningkatan pendidikan gizi,

penanggulangan Kurang Energi Protein, Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat


Kekurangan Yaodium (GAKY), Kurang Vitamin A, Keadaan zat gizi lebih,
Peningkatan Survailans Gizi, dan Perberdayaan Usaha Perbaikan Gizi
Keluarga/Masyarakat.
Upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi
perseorangan dan masyarakat.
Kegiatan Upaya dilaksanakan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi (Plan: rencana; Do: Melaksanakan; Chek/Study: Analisa hasil; Action:
Perubahan/perbaikan).

BAB IV
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia kesehatan (SDM Kesehatan) merupakan tatanan yang
menghimpun berbagai upaya perencanaan. pendidikan, dan pelatihan, serta
pendayagunaan tenaga kesehatan secara terpadu dan saling mendukung guna
20

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

mencapai derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya. Yang dimaksud dengan


kualifikasi

SDM,

sama

halnya

dengan

job

spesifikasi,

yaitu

minimal

golongan/jabatan, masa kerja minimal, pendidikan minimal, pengalaman kerja, nilai


performance (kinerjanya), dan standar kompetensi.
Secara umum kebijakan tentang tenaga kesehatan, khususnya yang berkaitan
dengan kualitas atau mutu, antara lain dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah (PP)
No.32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. Dalam PP ini antara lain dinyatakan :
1) Tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dan ketrampilan di bidang
kesehatan yang dinyatakan dengan ijazah dari lembaga pendidikan (Pasal 3);
dan
2) Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk
mematuhi standar profesi tenaga kesehatan (Pasal 21).
Kualitas pelayanan publik sangat ditentukan oleh sistem dan tenaga
pelayanan. Ketenagaan pelayanan seringkali menghadapi kendala dalam hal jumlah,
sebaran, mutu dan kualifikasi Sumber Daya Manusianya.
Untuk Puskesmas Garung, Kualifikasi Sumber Daya Manusia sudah sesuai,
walaupun masih ada beberapa tenaga yg belum melanjutkan ke jenjang yang
diharapkan. Namun masih akan terus diupayakan agar semua tenaga mencapai
kualitas seperti yg diharapkan.
Standar Ketenagaan Puskesmas terlampir, sesuai Permenkes no 75 tahun 2014
B. Jadual Kegiatan Puskesmas Garung
Puskesmas Garung buka pelayanan setiap hari kerja, yaitu Senin sampai Sabtu.
No.

Jenis pelayanan

Waktu

Keterangan
Jadwal pelayanan
rawat jalan khusus hari
Jumat sampai jam
10.30 WIB dan hari
Sabtu sampai jam

1.

Pelayanan Umum dan


Pelayanan Tindakan

07.30 - 11.30 WIB

2.

Pelayanan Gigi

07.30 - 11.30 WIB

3.

Pelayanan MTBS dan

07.30 - 11.30 WIB


21

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

Tumbuh Kembang

2014

11.00 WIB

4.

Pelayanan KIA / KB

07.30 - 11.30 WIB

5.

Pelayanan Konsultasi (Gizi,


Kesehatan Lingkungan,
Berhenti Merokok, Lansia)

07.30 - 11.30 WIB

6.

Pelayanan Laboratorium

07.30 - 11.30 WIB

7.

Pelayanan Obat

07.30 - 11.30 WIB

8.

Pelayanan Persalinan

24 Jam

BAB V
STANDAR SARANA PRASARANA
A. Denah Gedung dan Ruang

22

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

Denah Gedung dan Ruang


23

2014

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

Standar Alat dan Fasilitas

B.

Surat keputusan Menkes Nomor Nomor 128/2004 tentang Kebijakan Dasar


Pusat Kesehatan Masyarakat, menyatakan bahwa Puskesmas adalah unit pelaksana
teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan
pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas memiliki fungsi sebagai
pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan
masyarakat, pusat pelayanan kesehatan strata pertama meliputi pelayanan kesehatan
perorangan (private goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods).
Standar alat dan fasilitas terlampir. Sesuai lampiran SK Permenkes no. 75
2014

BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN
Tata laksana pelayanan merupakan proses dalam sistem menegemen. Dalam upaya
peningkatan mutu maka harus ditetapkan standar proses yang merupakan jawaban
dari dimensi mutu meliputi akses, efisiensi, kenyamanan dan keselamatan pelanggan
baik
1. Pendaftaran Pasien
Pendaftaran pasien adalah pelayanan rutin untuk menertibkan urutan
pelayanan dan memudahkan mendapatkan informasi rekam medis bagi seluruh
fasilitas pelayanan yang tersedia di Puskesmas. Yang dimulai dari persiapan,
kedatangan pasien sampai dengan pengiriman kartu rekam medis ke masing2
unit pemeriksaan, kemudian mengembalikan lagi kartu rekam medis kedalam
tempat semula.

24

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

2. Upaya Pengobatan
Layanan klinis adalah pelayanan klinis yang dilakukan untuk pasien
dengan melibatkan seluruh tim kesehatan sesuai dengan masalah kesehatan klien.
Dimulai dari anamnesa sampai dengan tindakan dan pengobatan yang sesuai
dengan diagnosanya.
Upaya Pengobatan, meliputi kegiatan di :
f. Pelayanan Umum,
g. Pelayanan Gigi,
h. Pelayanan KIA,
i. Pelayanan MTBS, dan
j. Pelayanan KB.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laborat adalah salah satu sarana kesehatan yang melakukan
kegiatan pemeriksaan guna menunjang diagnose suatu penyakit, berdasarkan
rujukan dari unit pemeriksaan .yang dimulai dari kedatangan pasien atas rujukan
dari init pelayanan sampai dengan diperoleh hasil laboratorium pasien.
4. Kefarmasian
Kefarmasian adalah proses kegiatan yang dilakukan dalam rangka
memenuhi kebutuhan obat yang meliputi aspek teknis dan non teknis mulai dari
perencanaan, permintaan, penerimaan, penyimpanan, distribusi, pelayanan,
pengendalian obat, pencatatan dan pelaporan.

25

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

L. Pelayanan Kesehatan Masyarakat


Adalah pelayanan kesehatan yg dilaksanakan diluar gedung berupa
pendekatan promotif, preventif. Kegiatan upaya meliputi :
6. Upaya KIA
Upaya KIA adalah upaya dibidang kesehatan yang menyangkut
pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu meneteki, bayi dan anak
balita serta anak prasekolah.
Upaya kesehatan ibu ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga
mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas serta mengurangi angka
kematian ibu.
7. Upaya P2P
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular dan tidak menular yaitu
upaya pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan
penular penyakit menular/infeksi. untuk melindungi masyarakat dari tertularnya
penyakit, menurunkan jumlah yang sakit, cacat dan/atau meninggal dunia, serta
untuk mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat penyakit menular.
Prioritas penyakit menular yang akan ditanggulangi adalah Malaria,
demam berdarah dengue, diare, polio, filaria, kusta tuberkulosis paru, HIV/AIDS,
pneumonia, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Prioritas penyakit tidak menular yang ditanggulangi adalah penyakit
jantung dan gangguan sirkulasi, diabetes mellitus, dan kanker.
8. Upaya Kesling
Kesehatan lingkungan yaitu upaya pelayanan kesehatan lingkungan
puskesmas untuk meningkatkan kesehatan lingkungan pemukiman melalui upaya
sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum termasuk
pengendalian

pencemaran

lingkungan

dengan

peningkatan

peran

serta

masyarakat. Untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik,

26

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.
9. Upaya Promkes (Promosi Kesehatan)
Promosi kesehatan adalah salah satu program puskesmas yang berfokus
pada pelayanan preventif dan promotif kepada masyarakat. Kegiatannya meliputi
penyuluhan kesehatan dan pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Diantara kegiatannya juga meliputi pembinaan desa siaga kesehatan, kerjasama
lintas sektor dan upaya dalam merumuskan kebijakan bersama dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
10. Upaya Perbaikan Gizi
Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat adalah salah satu upaya pokok
Puskesmas

yaitu kegiatan yang meliputi peningkatan pendidikan gizi,

penanggulangan Kurang Energi Protein, Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat


Kekurangan Yaodium (GAKY), Kurang Vitamin A, Keadaan zat gizi lebih,
Peningkatan Survailans Gizi, dan Perberdayaan Usaha Perbaikan Gizi
Keluarga/Masyarakat.
Upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi
perseorangan dan masyarakat.
Kegiatan Upaya dilaksanakan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi (Plan: rencana; Do: Melaksanakan; Chek/Study: Analisa hasil; Action:
Perubahan/perbaikan).
Tata laksana pelayanan di Puskesmas Garung diawali di loket pendaftaran,
dimana pasien mengambil nomor urut pendaftaran.
Bagi pasien lama (pasien yang sudah pernah berobat ke Puskesmas),
pendaftaran dilakukan dengan menunjukkan Kartu berobat Puskesmas
Garung.
27

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

Bagi pasien baru (pasien yang belum pernah berobat ke Puskesmas)


pendaftaran dilakukan dengan menunjukkan kartu Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) atau kartu identitas lainnya (KTP/SIM).
Bagi pasien dengan kasus kegawatdaruratan langsung dibawa ke ruang
tindakan untuk mendapatkan penanganan. Salah satu anggota keluarga atau
yang mengantarkan pasien dapat mengurus pendaftaran.
Bagi pasien JKN harus menunjukkan kartu JKN sebagai bukti kepesertaan.
Petugas pendaftaran mengambil Rekam medis berdasarkan identitas pasien.
Bagi pasien umum (tidak memiliki kartu JKN) setelah mendapatkan Rekam medis,
pasien diminta untuk membayar retribusi. Kemudian pasien diminta menunggu di
depan ruang pelayanan yang dituju (BP Umum, BP Gigi, KIA/KB, MTBS, Imunisasi,
Klinik IMS, Pemeriksaan IVA). Bagi pasien umum dengan tindakan, maka wajib
membayar retribusi tindakan sesuai Perda.
Pemeriksaan kesehatan pasien dilakukan di unit pelayanan masing-masing.
Bila dari pemeriksaan awal diperlukan pemeriksaan penunjang diagnostik,
maka pasien diberikan rujukan internal ke Laboratorium. Setelah dilakukan
pemeriksaan penunjang, pasien kembali ke unit pelayanan sebelumnya untuk
mendapatkan resep sesuai dengan diagnosis penyakit.
Bila diperlukan konsultasi ke unit pelayanan terkait, maka pasien diberikan
rujukan internal ke unit pelayanan terkait ( missal: pasien dari BP Gigi dengan
Hipertensi, maka dikonsultasikan ke BP Umum).
Bila dari pemeriksaan awal diperlukan untuk pemeriksaan lanjutan ke Rumah
Sakit, maka pasien diberikan rujukan eksternal ke Rumah Sakit yang dituju.
Bila pasien tidak mendapatkan rujukan internal maupun eksternal, maka
pasien mendapatkan resep untuk mengambil obat di ruang obat.

28

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

BAB V
LOGISTIK
Manajemen Logistik alat kesehatan adalah suatu pengetahuanatau seni serta
proses mengenai perencanaan, penentuan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan,
pemeliharaan serta penghapusan material atau alat-alat kesehatan. Tujuan dari
manajemen logistik adalah tersedianya bahan setiap saat dibutuhkan, baik mengenai
jenis, jumlah maupun kualitas yang dibutuhkan secara efisien. Dengan demikian
manajemen logistik dapat dipahami sebagai proses penggerakkan dan pemberdayaan
semua sumber daya yang dimiliki dan atau potensial untuk dimanfaatkan,untuk
operasional, secara efektif dan efisien. Oleh karena itu untuk menilai apakah
pengelolaan logistik sudah memadai adalah dengan menilai apakah sering terjadi
keterlambatan dan atau bahan yang dibutuhkan tidak tersedia, berapa kali
frekuensinya, berapa banyak persediaan yang menganggur (idle stock) dan berapa
lama hal itu terjadi. Berapa banyak bahan yang kadaluarsa atau rusak atau tidak dapat
dipakai lagi.
Manajemen logistik sebagai suatu fungsi mempunyai kegiatan-kegiatan :
A. Perencanaan Kebutuhan
Fungsi perencanaan ini pada dasarnya adalah menghitung berapa besar
kebutuhan bahan logistik yang diperlukan untuk periode waktu tertentu, biasanya
untuk satu tahun. Ada dua cara pendekatan yang digunakan dalam perencanaan
kebutuhan obat, yaitu :
1. Dengan mengetahui atau menghitung kebutuhan yang telah dengan nyata
dipergunakan dalam periode waktu yang lalu :
a. Jumlah sisa/persediaan pada awal periode
b. jumlah pembelian pada periode waktu
c. jumlah bahan logistik yang terpakai selama periode

29

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

d. membuat analisis efisiensi penggunaan bahan logistik, dikaitkan dengan

kinerja yang dicapai


e. membuat analisis kelancaran penyediaan bahan logistik, misalnya
frekuensi barang yang diminta habis atau tidak ada persediaan,jumlah
barang yang menumpuk, serta penyebab terjadinya keadaan tersebut.
2. Dengan melihat program kerja yang akan datang:
a.

membuat analisa kebutuhan untuk dapat menunjang pelaksana kegiatan


pada periode waktu yang akan datang, yang berorientasi kepada program
pelayanan, pola penyakit, target kinerja pelayanan

b.

memperhatikan kebijakan pimpinan mengenai standarisai bahan, ataupun


kebijakan dalam pengadaan. (Untuk obat misalnya ada Formularium,
untuk pengadaan di Puskesmas)

c.

menyesuaikan perhitungan dengan memperhatikan persediaan awal, baik


meliputi jenis, jumlah maupun spesifikasi logistic

d.

memperhatikan kemampuan gudang tempat penyimpanan barang.

B. Penganggaran
Fungsi berikutnya adalah menghitung kebutuhan diatas dengan harga satuan
(dapat berdasarkan harga pembeli waktu yang lalu atau menurut informasi yang
terbaru), sehingga akan diketahui kebutuhan anggaran untuk pengadaaan bahan
logistik tersebut.
C. Pengadaan
Fungsi berikutnya adalah pengadaan, yaitu semua kegiatan yang dilakukan
untuk mengadakan bahan logistik yang telah direncanakan, baik melalui prosedur :
1. Pembelian
2. Produksi sendiri, maupun dengan
3. Sumbangan dari pihak lain yang tidak mengikat
Untuk pengadaan obat di Puskesmas dilakukan oleh Gudang Farmasi
Kabupaten berdasarkan usulan kebutuhan obat dari Puskesmas.
30

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

D. Penyimpanan
Fungsi penyimpanan ini sebenarnya termasuk juga fungsi penerimaan
barang, yang sebenarnya juga mempunyai peran strategi. Secara garis besar yang
harus dicek kebenarannya adalah :
1. Kesesuaian dengan jenis, jumlah dan spesifikasi bahan serta waktu
penyerahan barang terhadap surat pesan (SP), surat perintah kerja
(SPK)atau purchase order (PO).
2. Kondisi fisik bahan, apakah tidak ada perubahan warna, kemasan, bau,
noda dan sebagainya yang menindikasikan tingkat kualitas bahan.
3. Kesesuian waktu penerimaan bahan terhadap batas waktu SP/PO
Barang yang diterima tersebut kemudian dibuatkan berita acara penerimaan
(BAP) barang. Berdasarkan sifat dan kepentingan barang/bahan logistik ada
beberapajenis barang logistik, yang biasanya tidak langsung disimpan digudang, akan
tetapi diterimakan langsung kepada pengguna. Yang penting adalah bahwa
mekanisme ini harus diatur sedemikian rupa sehingga tercipta internal check (saling
uji secara otomatis) yang memadai, yang ditetapkan oleh yang berwenang
(Pimpinan).
Fungsi penyimpanan ini sangat menentukan kelancaran distribusi.Beberapa
keuntungan melakukan fungsi penyimpanan ini adalah :
1. Untuk mengantisipasi keadaan yang fluktuatif, karena sering terjadi
kesulitan memperkirakan kebutuhan secara akurat
2. Untuk menghindari kekosongan bahan (out of stock)
3. Untuk menghemat biaya, serta mengantisipasi fluktuasi kenaikan harga
bahan
4. Untuk menjaga agar kualitas bahan dalam keadaan siap dipakai
5. Untuk mempercepat pendistribusian
Ada beberapa teori tentang pengendalian persediaan logistik, namun dalam
penerapannya harus hati-hati. Misalnya saja untuk menerapkan teori pengendalian
persediaan ada beberapa syarat, antara lain :
31

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

1. Kebutuhan bahan dapat diperkirakan dan dihitung dengan pasti.


2. Kesinambungan pemasok dapat dijamin
3. System informasi logistik yang terintegrasi dalam system informasi
4.
5.
6.
7.
8.

manajemen , memadai
Pengawasan internal (internal auditor) berjalan dengan baik dan konsekuen
Membudayakan pelaksanaan kerja yang tertib dan sehat
Reward dan punishment system yang konsisten dan konsekuen
Tersedia gudang dan pengelolaan yang memadai
Anggaran yang cukup.
Metode yang sering digunakan dalam pengendalian persediaan di Puskesmas

adalah dengan memperhatikan sifat barang/obat, apakah termasuk barang vital,


esensial atau normal (VEN system), digabungkan dengan apakah barang tersebut
termasuk fast atau slow moving. Kombinasi kedua metode ini selama periode tertentu
kemudian dihitung kebutuhan atau penggunaannya akan diketahui rata-rata
penggunaan perbulan, dan juga fluktuasi permintaannya. Dari perhitungan itu secara
empiris, dapat ditentukan berapa besar jumlah :
1. Persediaan minimal/jenis barang per bulan
2. Persediaan maksimal/jenis barang per bulan
3. Persediaan pengaman (iron stock/idle stock)
Untuk menghitung ini, yang perlu diperhatikan adalah berapa lama (durasi)
waktu penyediaan sejak pesanan diterima rekanan/supplier sampai barang diterima
oleh Puskesmas (ini disebut Lead Time) dan berapa kebutuhan barang selama periode
tersebut.
Dalam penyimpanan dikenal ada system FIFO (first in first out). Khusus di
puskesmas seharusnya FIFO juga dibaca sebagai first expired first out (FEFO),
manan yang mempunyai mempunyai masa kadaluarsa pendek/singkat harus
dikeluarkan terlebih dahulu, tidak tergantung kapan diterimanya digudang.
E. Pendistribusian
32

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

Efisiensi pelaksanaan fungsi pendistribusian ini juga secara tidak langsung


akan mempengaruhi kecermatan dan kecepatan penyediaan oleh karena itu harus
ditetapkan prosedur yang baku pendistribusian bahan logistik, meliputi :
1. Siapa yang berwenang dan bertanggungjawab mengenai kebenaran dan
kewajaran permintaan bahan, baik mengenai jumlah, spesifikasi maupun
penyerahannya. Hal ini sangat penting agar tidak terjadi pemborosan atau
pengeluaran yang tidak perlu.
2. Siapa yang berwenang dan bertanggungjawab menyetujui permintaan dan
pengeluaran barang dari gudang.
F. Penghapusan
Penghapusan adalah proses penghapusan tanggungjawab bendahara barang
atas bahan atau barang tertentu sekaligus mengeluarkan dari catatan/pembukuan yang
berlaku, penghapusan barang diperlukan karena :
1. Bahan/barang rusak tidak dapat dipakai kembali
2. Bahan/barang tidak dapat didaur ulang atau tidak ekonomis untuk didaur
ulang.
3. Bahan/barang sudah melewati masa kadaluarsa (expired date)
4. Bahan/barang hilang karena pencurian atau sebab lain
Penghapusan barang dapat dilakukan dengan :
1. Pemusnahan, yaitu dibakar atau dipendam/ditanam
2. Dijual/dilelang. Untuk instansi pemerintah, hasil penjualan dan pelelangan
harus disetor ke kas Negara.
Setelah penghapusan dilaksanakan, maka dibuat berita acara Penghapusan,
yang tembusannya dikirim ke instansi yang berkompeten.

33

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
Keselamatan pasien (patient safety) adalah reduksi dan meminimalkan
tindakan yang tidak aman dalam sistem pelayanan kesehatan sebisa mungkin melalui
pratik yang terbaik untuk mencapai luaran klinis yang optimum. (The Canadian
Patient Safety Dictionary, October 2003). Keselamatan pasien menghindarkan pasien
dari cedera/cedera potensial dalam pelayanan yang bertujuan untuk membantu pasien.
Tujuan Patient Safety terciptanya budaya keselamatan pasien di Puskesmas.,
meningkatnya akuntabilitas (tanggung jawab) Puskesmas terhadap pasien dan
masyarakat,menurunnya

KTD

(kejadian

34

tidak

diharapkan)

di

Puskesmas,

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

terlaksananya program - program pencegahan, sehingga tidak terjadi pengulangan


KTD (kejadian tidak diharapkan).
Sistem Patient Safety

Assesment Resiko

Identifikasi dan Pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien

Pelaporan dan analisa insiden

Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya

Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko

Solusi: Mencegah terjadinya CEDERA akibat kesalahan suatu tindakan atau tidak
melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan.
Adverse Event /KTD (Kejadian Tidak Diharapkan)
Suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada
pasien karena suatu tindakan (commission) atau karena tidak bertindak (ommission)
ketimbang daripada underlying dessease atau kondisi pasien (KPP-RS). KTD yang
tidak dapat dicegah (unprevetable adverse event) yaitu suatu KTD akibat komplikasi
yang tidak dapat dicegah dengan pengetahuan yang mutakhir.
Near miss/ KNC (Kejadian Nyaris Cedera)
Suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau
tidak

mengambil

tindakan

yang

seharusnya

diambil (ommission), yang

dpt

mencederai pasien tetapi cedera serius tidak terjadi karena keberuntungan*), karena
pencegahan**), atau karena peringanan***).
Misal :
*) Pasien menerima obat yang sebenarnya kontra indikasi tetapi tdk timbul reakasi.
35

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

**) Obat dengan lethal overdosis akan diberikan tetapi diketahui staf lain
dan membatalkannya sebelum obat dikonsumsi pasien.
***) Obat dengan lethal overdosis diberikan tetapi diketahui secara dini dan
diberikan antidotum-nya
Tujuh standar keselamatan pasien
1.

Hak pasien:Pasien dan keluarga mempunyai hak untuk mendapat informasi ttg
rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan KTD,

2.

Mendidik pasien dan keluarga:Puskesmas harus mendidik pasien dan


keluarganya tentang kewajiban dan tangung jawab pasien dalam asuhan
pasien,

3.

Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan:Puskesmas menjamin


keseinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar
unit pelayanan,

4.

Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi


dan program peningkatan keselamatan pasien:Puskesmas harus mendisain
proses baru atau memperbaiki prosed yang ada, memonitor dan mengevaluasi
kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif KTD, dan
melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien,

5.

Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien:Pimpinan


mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan pasien secara
terintegrasi melalui penerapan tujuh langkah menuju KPRS. Pimpinan
menjamim berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi risiko
keselatan pasien dan program menekan atau mengurangi KTD. Pimpinan
mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan
individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan
pasien. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk
36

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

mengukur,

mengkaji

dan

meningkatkan

kinerja

2014

Puskesmas

serta

meningkatkan keselamatan pasien. Pimpinan mengukur dan mengkaji


efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan kinerja Puskesmas dan
keselamatan pasien,
6.

Mendidik staf tentang keselamatan pasien Puskesmas memiliki proses


pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan
jabatan dengan keselamatan pasien secara jelasPuskesmas menyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan dan ememlihara
kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan
pasien,

7.

Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan


pasien:Puskesmas merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi
keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan
eksternal. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.

Tujuh langkah menuju kesematan pasien


1.

Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien:Ciptakan kepemimpinan


dan budaya yang terbuka dan adil,

2.

Pimpin dan dukung staf anda:Bangun komitmen dan fokus yang kuat dan
jelas tentang keselamatan pasien,

3.

Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko:Kembangkan sistem dan proses


pengelolaan risiko serta lakukan identifikasi dan kajian hal yang potensial
bermasalah,

4.

Kembangkan sistem pelaporan:Pastikan staf agar dengan mudah dapat


melaporkan kejadian/insiden, serta Puskesmas mengatur pelaoran kepada
KKPRS,

5.

Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien:Kembangkan cara-cara


komunikasi yang terbuka dengan pasien,
37

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

6.

2014

Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien: dorong staf


untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan
mengapa kejadian itu timbul,

7.

Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien:Gunakan


infromasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk melakukan perubahan
sistem pelayanan.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Dalam undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, Pasal 23
dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus dilaksanakan
di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya
kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan sedikitnya 10 orang.
Jika memperhatikan dari isi pasal diatas, maka jelaslah bahwa Puskesmas termasuk
dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat
menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang
bekerja di Puskesmas, tetapi juga terhadap pasien maupun pengunjung Puskesmas.
Potensi bahaya di Puskesmas, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada
potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di Puskesmas,
38

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan


instalasi listrik, dan sumber-sumber cidera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang
berbahaya, gangguan psikososial dan ergonomi. Semua potensi bahaya tersebut di
atas, jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para karyawan diPuskesmas, para
pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan Puskesmas.
Dalam pekerjaan sehari-hari petugas keshatan selalu dihadapkan pada
bahaya-bahaya tertentu, misalnya bahaya infeksius, reagensia yang toksik , peralatan
listrik maupun peralatan kesehatan. Secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam
Puskesmas atau instansi kesehatan dapat digolongkan dalam :
1.

Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah terbakar atau
meledak (obat obatan);

2.

Bahan beracun, korosif dan kaustik;

3.

Bahaya radiasi;

4.

Luka bakar;

5.

Syok akibat aliran listrik;

6.

Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam;

7.

Bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit. Pada umumnya bahaya tersebut
dapat dihindari dengan usaha-usaha pengamanan, antara lain dengan
penjelasan, peraturan serta penerapan disiplin kerja. Pada kesempatan ini akan
dikemukakan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di Puskesmas /
instansi kesehatan.
Dari berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu upaya untuk

mengendalikan, meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya, oleh karena itu


K3 Puskesmas perlu dikelola dengan baik. Agar penyelenggaraan K3 Puskesmas
lebih efektif, efisien dan terpadu, diperlukan sebuah pedoman manajemen K3 di
Puskesmas, baik bagi pengelola maupun karyawan Puskesmas.
Manajemen adalah pencapaian tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya,
dengan mempergunakan bantuan orang lain. Hal tersebut diharapkan dapat
39

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

mengurangi dampak kelalaian atau kesalahan ( malpraktek) serta mengurangi


penyebaran langsung dampak dari kesalahan kerja. Proses manajemen keselamatan
dan kesehatan kerja laboratorium seperti proses manajemen umumnya adalah
penerapan berbagai fungsi manajemen, yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan
dan pengawasan. Fungsi perencanaan meliputi perkiraan / peramalan, dilanjutkan
dengan penetapan tujuan dan sasaran yang akan dicapai, menganalisa data, fakta dan
informasi, merumuskan masalah serta menyusun program. Fungsi berikutnya adalah
fungsi pelaksanaan yang mencakup pengorganisasian penempatan staf, pendanaan
serta implemen- tasi program. Fungsi terakhir ialah fungsi pengawasan yang meliputi
penataan dan evaluasi hasil kegiatan serta pengendalian.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu (quality control) dalam manajemen mutu merupakan
suatu sistem kegiatan teknis yang bersifat rutin yang dirancang untuk mengukur dan
menilai mutu produk atau jasa yang diberikan kepada pelanggan. Pengendalian mutu
pada pelayanan kesehatan diperlukan agar produk layanan kesehatan terjaga
kualitasnya sehingga memuaskan masyarakat sebagai pelanggan. Penjaminan mutu
pelayanan kesehatan dapat diselenggarakan melalui pelbagai model manajemen
kendali mutu. Salah satu model manajemen yang dapat digunakan adalah model
PDCA (Plan, Do, Check, Action) yang akan menghasilkan pengembangan
berkelanjutan (continuous improvement) atau kaizen mutu pelayanan kesehatan.

40

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

Yoseph

M.

Juran

terkenal

dengan

konsep

"Trilogy"

2014

mutu

dan

mengidentifikasikannya dalam tiga kegiatan:


1.

Perencanaan mutu meliputi: siapa pelanggan, apa kebutuhannya, meningkatkan


produk sesuai kebutuhan, dan merencanakan proses untuk suatu produksi,

2.

Pengendalian mutu: mengevaluasi kinerja untuk mengidentifikasi perbedaan


antara kinerja aktual dan tujuan,

3.

Peningkatan mutu: membentuk infrastruktur dan team untuk melaksanakan


peningkatan mutu.
Setiap kegiatan dijabarkan dalam langkah-Iangkah yang semuanya mengacu

pada upaya peningkatan mutu.


Peluang untuk memecahkan masalah harus digunakan pada saat yang tepat
oleh mereka yang bertanggungjawab melalui langkah-langkah sebagai berikut:
Langkah 1 : Mengidentifikasi, memilih, dan mendefinisikan masalah. Kenali hal-hal
yang berpotensi menjadi masalah dan kaji situasi dimana staf mungkin
dapat mempebaikinya.
Tentukan kriteria untuk memilih masalah yang paling penting.
Definisikan

secara

operasional

masalah

yang

dipilih,

misalnya,bagaimana staf mengetahui bahwa hal yang diidentifikasi


merupakan masalah?Bagaimana staf mengetahui bahwa masalah sudah
terpecahkan, dengan cara menentukan kriteria keberhasilan pemecahan
masalah.
Langkah 2 : Pelajari dengan seksama proses yang terjadi dari segala aspek.
Tentukan di mana dan kapan masalah muncul. Pahami proses terjadinya
masalah.
Langkah 3 : Tentukan sebab masalah yang pokok

41

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

Tentukan faktor-faktor yang menimbulkan masalah dan keterkaitannya


dengan masalah. Gunakan metode untuk mengetes hipotesis tentang
sebab-sebab yang mungkin menimbulkan masalah tersebut. Kumpulkan
data untuk mengetes hipotesis dan untuk menentukan faktor penyebab
yang paling dominan.
Langkah 4 : Identifikasi semua solusi yang mungkin. Berfikirlah secara kreatif untuk
menangani sebab-sebab masalah yang mungkin dapat diatasi.
Langkah 5 : Pilih solusi yang dapat dilaksanakan.
Analisalah cara-cara pemecahan masalah yang mungkin dilaksanakan,
dikaji dari aspek kriteria keberhasilan memecahkan masalah, biaya yang
diperlukan, kemungkinan solusi dapat dilaksanakannya, atau kriteria
lainnya.
Langkah 6 : Melaksanakan pemecahan masalah yang berkualitas dengan PDCA
Ada empat langkah menuju pelaksanaan solusi yang efektif, yaitu:
a. Merencanakan (PLANN) : Sebelum dilaksanakan solusi, perlu ditentukan
tujuan dan apa kriteria keberhasilan. Pimpinan harus memutuskan siapa, apa,
dimana, dan bagaimana solusi akan dilaksanakan. Pada tahap ini, diperlukan
penjelasan tentang berbagai asumsi, dan dipikirkan tentang kemungkinan
adanya penolakan dari pihak yang dijadikan sasaran. Di sini harus sudah
diputuskan tentang data yang harus dikumulkan untuk memantau keberhasilan
pelaksanaan solusi masalah.
b. Pelaksanaan (DO) : Melaksanakan solusi sering melibatkan pelatihan,
termasuk proses pengumpulan data/informasi untuk memantau perubahan
yang terjadi, dan mengamati tingkat kemudahan atau kesulitan pelaksanaan
solusi. Amati bagamana solusi tersebut dilaksanakan. Buat catatan tentang
segala sesuatu yang dianggap menyimpang dari kesepakatan. Setiap masalah

42

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

atau kesalahan yang muncul dalamproses ini harus diartikan sebagai


kesempatan untuk membuat perbaikan.
c. Cek (CHECK) : Amati efek pelaksanaan solusi dan simpulkan pelajaran apa
yang diperoleh dari tindakan yang sudah dilakukan.
d. Bertindak (ACTION) : Ambil langkah-langkah praktis sesuai dengan
pelajaran yang diperoleh dari tindakan yang sudah diambil : Lanjutkan
proses solusi, atau hentikan, atau ulang kembali tindakan dari awal dengan
tujuan melakukan modifikasi.
Di Puskesmas Garung kegiatan akreditasi dimulai dari penyusunan dokumen
berupa Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Kebijakan, implemenasi dokumen
sampai dilaksanakan audit internal, audit eksternal, tinjauan manajemen dan self
assessment untuk pengendalian mutu pelayanan. Adapun jadwal terlampir :

JADWAL KEGIATAN PUSKESMAS GARUNG


NO.

KEGIATAN

WAKTU

1.

Audit Internal I

Maret April 2014

2.

Pembahasan hasil Audit


Internal

Mei 2014

3.

RTL dari Audit Internal

Mei Juli 2014

4.

Cek dokumen yang kurang

Mei Juli 2014

5.

Tinjauan Manajemen

6.

Self Assesment

Agustus 2014
September 2014
43

KETERANGAN
Dilaksanakan
bergantian
Seluruh karyawan
puskesmas
Seluruh karyawan
puskesmas
Semua Tim Akreditasi
Seluruh karyawan
puskesmas
Semua Tim Akreditasi

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

7.

2014

Audit Eksternal

BAB IX
PENUTUP
Pelayanan kesehatan bermutu berorientasi pada kepuasan pelanggan atau
pasien. Dimensi mutu tersebut menyangkut mutu bagi pemakai jasa pelayanan
kesehatan,maupun penyelenggara pelayanan kesehatan.
Kepuasan pasien merupakan salah satu indiktor kualitas pelayanan. Dan
banyaknya kunjungan pasien ke Puskesmas tidak lepas dari kebutuhan akan pelayanan
kesehatan.

44

Pedoman Mutu Pelayanan Unit Kerja Puskesmas Garung

2014

Kualitas pelayanan publik sangat ditentukan oleh sistem dan tenaga


pelayanan. Namun ketenagaan pelayanan seringkali menghadapi kendala dalam hal
jumlah, sebaran, mutu dan kualifikasi, sistem pengembangan karir, dan kesejahteraan
tenaga pelaksana pelayanan. Permasalahan yang muncul menimbulkan persepsi
rendahnya kualitas pelayanan, yang berawal dari kesenjangan antara aturan dan
standar yang ada dengan pelaksanaan pelayanan yg tidak bisa menyesuaikan.
Masyarakat menghendaki pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu,
managemen resiko dan keselamatan pasien perlu diterapkan dalam pengelolaan
Puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Pedoman ini menyampaikan hasil kajian ketenagaan

sarana dan

pengendalian mutu pelayanan puskesmas, agar Puskesmas dapat menjalankan


fungsinya secara optimal perlu dikelola dengan baik, baik kinerja pelayanan proses
pelayanan maupun sumberdaya yg digunakan.

45