You are on page 1of 23

IMPLEMENTASI KURIKULUM BAHASA ARAB DI MADRASAH

ALIYAH PROGRAM UMUM


Moh. Anshori
anshormoh@yahoo.co.id
Abstrak
Di antara aspek terpenting dalam penentuan kualitas pendidikan
adalah kualitas kurikulum yang didesain. Sejauh mana kurikulum disusun
sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang harus dijadikan sebagai dasar di
dalam perumusannya, sejauh itu pula kualitas yang akan muncul. Namun
demikian, aspek lain yang tak kalah penting adalah implementasi kurikulum
itu sendiri dalam tataran aplikasi praksis. Implementasi kurikulum
merupakan ujung tombak bagi terwujudnya tujuan yang telah digariskan
dalam kurikulum untuk dibentuk. Sehingga sebaik apapun kurikulum
didesain, ketika dalam implementasinya tidak menyiratkan secara jelas dan
tegas point-point yang ada dalam desain kurikulum, maka tidak akan
membuahkan hasil yang maksimal.
Kurikulum mata pelajaran Bahasa Arab madrasah aliyah program
umum (IPA dan IPS) memiliki karakteristik tersendiri yang harus dapat
terintegrasikan secara holistik dalam implementasinya. Namun pada
prakteknya ternyata idealisme akademis tersebut seringkali hanya teori
atau bahkan impian semata. Buktinya adalah masih langkanya keluaran
madrasah aliyah program umum yang memiliki kapasitas kebahasaan arab
standar dengan 4 aspek kemampuan bahasa arab yang meliputi istima,
kalam, qiraah dan kitabah.
Kata Kunci: implementasi, desain kurikulum, dan madrasah aliyah
program umum
A. PEMBAHASAN
1. Pengertian
Miller and Siller1 mendefinisikan kata implementasi dengan tiga
pendekatan, yaitu; pertama, implementasi didefiniskan sebagai kegiatan.
Kedua, sebagai suatu usaha meningkatkan proses interaksi antara
pengembang dan guru. Ketiga, implementasi merupakan sesuatu yang
terpisah dari komponen kurikulum. Sedangkan Susilo2 menjelaskan bahwa
implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan atau
213

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik


berupa perubahan pengetahuan, ketrampilan maupun nilai dan sikap.3
Beberapa definisi di atas menegaskan bahwa implementasi
kurikulum dimaknai sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan
kebijakan kurikulum dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta
didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungan.4 Juga dapat diartikan sebagai aktualisasi
kurikulum operasional dalam bentuk pembelajaran, melibatkan siswa-guru
dan dalam konteks persekolahan.5
Implementasi kurikulum merupakan ujung tombak bagi terwujudnya
tujuan yang telah digariskan dalam kurikulum untuk dibentuk.6 Sehingga
sebaik apapun kurikulum didesain, ketika dalam implementasinya tidak
menyiratkan secara jelas dan tegas point-point yang ada dalam desain
kurikulum, maka tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Kurikulum
mata pelajaran Bahasa Arab madrasah aliyah program umum (IPA dan IPS)
memiliki karakteristik tersendiri yang harus dapat terintegrasikan secara
holistik dalam implementasinya. Namun pada prakteknya ternyata idealisme
akademis tersebut seringkali hanya teori atau bahkan impian semata.7
Buktinya adalah masih langkanya keluaran madrasah aliyah program umum
yang memiliki kapasitas kebahasaan arab standar dengan 4 aspek
kemampuan bahasa arab yang meliputi istima, kalam, qiraah dan kitabah.8
2.

Paparan dan Analisa


Secara mendasar ada beberapa hal yang harus dipedomani dalam
implementasi kurikulum, yaitu terkait erat dengan komponen-komponen
kurikulum. Implementasi kurikulum pada dasarnya adalah aktifitas
mengimplementasikan komponen-komponennya. Sebagaimana diketahui
bahwa komponen-komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, strategi,
pembelajaran, organisasi kurikulum dan evaluasi.
Untuk mengetahui lebih lanjut bentuk implementasi kurikulum
bahasa arab madrasah aliyah program umum (IPA dan IPS), dibawah ini
dipaparkan ketentuan-ketentuan pokok yang menjadi dasar pijakan dalam
implementasi kurikulum bahasa arab di madrasah aliyah program umum;
Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran Bahasa Arab Madrasah
Aliyah Program Umum (IPA dan IPS)9
a) Menyimak
Memahami wacana lisan berbentuk paparan atau dialog tentang
perkenalan, kehidupan keluarga, hobi, pekerjaan, remaja, kesehatan, fasilitas
214

umum, pariwisata, kisah-kisah Islam, kebudayaan Islam, budaya Arab, dan


hari-hari besar Islam.
b)
Berbicara
Mengungkapkan secara lisan dalam bentuk paparan atau dialog
tentang perkenalan, kehidupan keluarga, hobi, pekerjaan, remaja, kesehatan,
fasilitas umum, pariwisata, kisah-kisah Islam, kebudayaan Islam, budaya
Arab, dan hari-hari besar Islam.
c) Membaca
Membaca dan memahami makna wacana tertulis paparan atau dialog
tentang perkenalan, kehidupan keluarga, hobi, pekerjaan, remaja, kesehatan,
fasilitas umum, pariwisata, kisah-kisah Islam, hari-hari besar Islam, budaya
Arab, dan hari-hari besar Islam.
d)
Menulis
Mengungkapkan secara tertulis berbentuk paparan atau dialog
tentang perkenalan, kehidupan keluarga, hobi, pekerjaan, remaja, kesehatan,
fasilitas umum, pariwisata, kisah-kisah Islam, hari-hari besar Islam, budaya
Arab, dan hari-hari besar Islam.
Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Arab Madrasah Aliyah Program Umum
(IPA, IPS)10
Mata pelajaran bahasa Arab merupakan suatu mata pelajaran yang
diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan, dan membina
kemampuan serta menumbuhkan sikap positif terhasap bahasa Arab, baik
reseptif maupun produktif. Kemampuan reseptif yaitu kemampuan untuk
memahami pembicaraan orang lain dan memahami bacaan. Kemampuan
produktif yaitu kemampuan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi
baik secara lisan maupun secara tertulis. Kemampuan berbahasa Arab serta
sikap positif terhadap bahasa Arab tersebut sangat penting dalam membantu
memahami sumber ajaran Islam yaitu al-Qur'an dan al- hadis, serta kitabkitab berbahasa Arab yang berkenaan dengan Islam bagi peserta didik.
Untuk itu, bahasa Arab di Madrasah Aliyah dipersiapkan untuk
pencapaian kompetensi dasar berbahasa, yang mencakup empat
keterampilan berbahasa yang diajarkan secara integral, yaitu menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis. Meskipun begitu, pada tingkat pendidikan
dasar (elementary) dititikberatkan pada kecakapan menyimak dan berbicara
sebagai landasan berbahasa. Pada tingkat pendidikan menengah
(intermediate), keempat kecakapan berbahasa diajarkan secara seimbang.
Pada tingkat pendidikan lanjut (advanced), dikonsentrasikan pada kecakapan

215

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

membaca dan menulis, sehingga peserta didik diharapkan mampu


mengakses berbagai referensi berbahasa Arab.
Mata pelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah memiliki tujuan
sebagai berikut:
a) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab, baik
lisan maupun tulis yang mencakup empat kecakapan berbahasa, yakni
menyimak (istima), berbicara (kalam), membaca (qira'ah), dan
menulis (kitabah).
b) Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya bahasa Arab sebagai salah
satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar, khususnya dalam
mengkaji sumber-sumber ajaran Islam.
c) Mengembangkan pemahaman tentang saling keterkaitan antara bahasa
dan budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian,
peserta didik diharapkan memiliki wawasan lintas budaya dan
melibatkan diri dalam keragaman budaya.11
-

Ruang Lingkup Mata Pelajaran Bahasa Arab Madrasah Aliyah Program


Umum12
Mata pelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah terdiri atas bahan
yang berupa wacana lisan dan tulisan berbentuk paparan atau dialog tentang
perkenalan, kehidupan keluarga, hobi, pekerjaan, remaja, kesehatan, fasilitas
umum, pariwisata, kisah-kisah Islam, wawasan Islam, hari-hari besar
Islamdan tokoh-tokoh Islam untuk melatih keempat aspek kemampuan
berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. 13
Standar Kompetensi (SK) dan Standar Kompetensi Dasar (KD) Mata
Pelajaran Bahasa Arab Madarasah Aliyah Program umum (IPA dan
IPS)14
a. Kelas X, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

Menyimak
Memahami informasi lisan
berbentuk paparan atau dialog
tentang perkenalan dan
kehidupan keluarga

Mengidentifikasi bunyi huruf hijaiyah


dan ujaran (kata, frase atau kalimat)
dalam suatu konteks dengan tepat
tentang dan
Menangkap makna dan gagasan atau ide
dari berbagai bentuk wacana lisan
secara tepat tentang dan

216

Berbicara
Mengungkapkan
informasi
secara lisan berbentuk paparan
atau dialog tentang perkenalan
dan kehidupan keluarga

Menyampaikan gagasan atau pendapat


secara lisan dengan lafal yang tepat
tentang dan
Melakukan dialog
sesuai konteks
dengan tepat dan lancar tentang
dan

Membaca
Memahami
wacana
tulis Melafalkan dan membaca nyaring kata,
berbentuk paparan atau dialog kalimat dan wacana tulis dengan benar
tentang
perkenalan
dan tentang perkenalan dan kehidupan
keluarga
kehidupan keluarga
Mengidentifikasi bentuk dan tema
wacana secara tepat tentang perkenalan
dan kehidupan keluarga
Menemukan makna dan gagasan atau
ide wacana tulis secara tepat tentang
perkenalan dan kehidupan keluarga
Menulis
Mengungkapkan
informasi Menulis kata, frasa,dan kalimat dengan
secara
tertulis
berbentuk huruf, ejaan dan tanda baca yang tepat
paparan atau dialog tentang tentang perkenalan dan kehidupan
perkenalan dan kehidupan keluarga
Mengungkapkan gagasan atau pendapat
keluarga
secara tertulis dalam kalimat dengan
menggunakan kata, frasa, dan struktur
yang benar tentang perkenalan dan
kehidupan keluarga
Keterangan
Tema-tema tersebut menggunakan
bentuk kata dan struktur
kalimat

217

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

b. Kelas X, Semester 2
Menyimak
Memahami informasi lisan Mengidentifikasi bunyi, ujaran (kata,
berbentuk paparan atau dialog frasa atau kalimat ) dalam suatu
konteks dengan tepat tentang hobi dan
tentang hobi dan pekerjaan
pekerjaan
Menangkap makna dan gagasan atau
ide dari berbagai bentuk wacana lisan
secara
tepat tentang hobi dan
pekerjaan
Berbicara
Mengungkapkan
informasi Menyampaikan gagasan atau pendapat
secara lisan berbentuk paparan secara lisan dengan lafal yang tepat
atau dialog tentang hobi dan tentang hobi dan pekerjaan
Menyampaikan gagasan atau pendapat
pekerjaan
secara lisan sesuai konteks dengan
lafal yang tepat tentang hobi dan
pekerjaan
Melakukan dialog
sesuai konteks
dengan tepat dan lancar tentang hobi
dan pekerjaan
Membaca
Memahami
wacana tertulis Melafalkan atau membaca nyaring
berbentuk paparan atau dialog kata, kalimat dan wacana tulis secara
tepat dan benar tentang hobi dan
tentang hobi dan pekerjaan
pekerjaan
Mengidentifikasi bentuk dan tema
wacana secara tepat dan benar tentang
hobi dan pekerjaan
Menemukan makna dan gagasan atau
ide wacana tulis secara tepat tentang
hobi dan pekerjaan

218

Menulis
Mengungkapkan
informasi
secara tertulis berbentuk paparan
atau dialog tentang hobi dan
pekerjaan

Menulis kata, frasa,dan kalimat


dengan huruf, ejaan dan tanda baca
yang tepat dan benar tentang hobi dan
pekerjaan
Mengungkapkan
gagasan
atau
pendapat secara tertulis dalam kalimat
dengan menggunakan kata, frasa, dan
struktur yang benar tentang hobi dan
pekerjaan
Keterangan
Tema-tema tersebut menggunakan
struktur kalimat
dan

c. Kelas XI, Semester 1


STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

Menyimak
Memahami informasi lisan Mengidentifikasi bunyi, ujaran (kata,
berbentuk paparan atau dialog frasa atau kalimat ) dalam suatu
konteks dengan tepat tentang remaja
tentang remaja dan kesehatan
dan kesehatan
Menangkap makna dan gagasan atau
ide dari berbagai bentuk wacana lisan
secara
tepat tentang remaja dan
kesehatan
Berbicara
Mengungkapkan
informasi Menyampaikan gagasan atau pendapat
secara lisan berbentuk paparan secara lisan tentang remaja dengan
atau dialog tentang remaja dan lafal yang tepat tentang remaja dan
kesehatan
kesehatan
Menyampaikan gagasan atau pendapat
secara lisan dengan lafal yang tepat
tentang remaja dan kesehatan
Melakukan dialog sesuai konteks
dengan tepat dan lancar tentang remaja
dan kesehatan
219

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

Membaca
Memahami
wacana
tulis Melafalkan dan membaca nyaring
berbentuk paparan atau dialog kata, kalimat dan wacana tulis dengan
benar tentang remaja dan kesehatan
tentang remaja dan kesehatan
Mengidentifikasi bentuk dan tema
wacana secara tepat tentang remaja
dan kesehatan
Menemukan makna dan gagasan atau
ide wacana tulis secara tepat tentang
remaja dan kesehatan
Menulis
Mengungkapkan
informasi Menulis kata, frasa,dan kalimat
secara tertulis berbentuk paparan dengan huruf, ejaan dan tanda baca
atau dialog tentang remaja dan yang tepat tentang remaja dan
kesehatan
kesehatan
Mengungkapkan
gagasan
atau
pendapat secara tertulis dalam kalimat
dengan menggunakan kata, frasa, dan
struktur yang benar tentang remaja dan
kesehatan
Keterangan
Tema-tema tersebut menggunakan
struktur kalimat dan

d. Kelas XI, Semester 2


STANDAR KOMPETENSI
Menyimak
Memahami informasi lisan
berbentuk paparan atau dialog
tentang fasilitas umum dan
pariwisata

KOMPETENSI DASAR
Mengidentifikasi bunyi, ujaran (kata,
frasa atau kalimat ) dalam suatu
konteks dengan tepat tentang fasilitas
umum dan pariwisata
Menangkap makna dan gagasan atau
ide dari berbagai bentuk wacana lisan
secara tepat tentang fasilitas umum
dan pariwisata

220

STANDAR KOMPETENSI
Berbicara
Mengungkapkan
informasi
secara lisan berbentuk paparan
atau dialog tentang fasilitas
umum dan pariwisata

Membaca
Memahami
wacana
tulis
berbentuk paparan atau dialog
tentang fasilitas umum dan
pariwisata

Menulis
Mengungkapkan
informasi
secara tertulis berbentuk paparan
atau dialog tentang fasilitas
umum dan pariwisata

KOMPETENSI DASAR
Menyampaikan gagasan atau pendapat
secara lisan sesuai konteks dengan
lafal yang tepat tentang fasilitas umum
dan pariwisata
Melakukan dialog
sesuai konteks
dengan tepat dan lancar tentang
fasilitas umum dan pariwisata
Melafalkan dan membaca nyaring
kata, kalimat dan wacana tulis secara
tepat dan benar tentang fasilitas umum
dan pariwisata
Mengidentifikasi bentuk dan tema
wacana secara tepat dan benar tentang
fasilitas umum dan pariwisata
Menemukan makna dan gagasan atau
ide wacana secara tepat tentang
fasilitas umum dan pariwisata
Menulis kata, frasa,dan kalimat
dengan huruf, ejaan dan tanda baca
yang tepat dan benar tentang fasilitas
umum dan pariwisata
Mengungkapkan
gagasan
atau
pendapat secara tertulis dalam kalimat
dengan menggunakan kata, frasa, dan
struktur yang benar tentang fasilitas
umum dan pariwisata
Keterangan
Tema-tema
tersebut
di
menggunakan struktur kalimat

221

atas

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

e. Kelas XII, Semester 1


STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

Menyimak
Memahami
informasi
lisan Mengidentifikasi bunyi, ujaran (kata,
berbentuk paparan atau dialog frasa atau kalimat ) dalam suatu
tentang Kebudayaan dan tokoh- konteks dengan tepat tentang
kebudayaan dan tokoh-tokoh Islam
tokoh Islam
Menangkap makna dan gagasan atau
ide dari berbagai bentuk wacana lisan
secara tepat tentang kebudayaan dan
tokoh-tokoh Islam
Berbicara
gagasan
atau
Mengungkapkan informasi secara Menyampaikan
lisan berbentuk paparan atau pendapat secara lisan sesuai konteks
dialog tentang Kebudayaan dan dengan lafal yang tepat tentang
kebudayaan dan tokoh-tokoh Islam
tokoh-tokoh Islam
Melakukan dialog sesuai konteks
dengan tepat dan lancar tentang
kebudayaan dan tokoh-tokoh Islam
Membaca
Memahami
wacana
tulis Melafalkan dan membaca nyaring
berbentuk paparan atau dialog kata, kalimat, dan wacana tulis
tentang Kebudayaan dan tokoh- dengan benar tentang Kebudayaan
dan tokoh-tokoh Islam
tokoh Islam
Mengidentifikasi bentuk dan tema
wacana secara tepat dan benar
tentang Kebudayaan dan tokoh-tokoh
Islam
Menemukan makna dan gagasan atau
ide wacana tulis secara tepat tentang
Kebudayaan dan tokoh-tokoh Islam

222

STANDAR KOMPETENSI
Menulis
Mengungkapkan informasi secara
tertulis berbentuk paparan atau
dialog tentang Kebudayaan dan
tokoh-tokoh Islam

KOMPETENSI DASAR
Menulis kata, frasa,dan kalimat
dengan huruf, ejaan dan tanda baca
yang tepat dan benar tentang
Kebudayaan dan tokoh-tokoh Islam
Mengungkapkan
gagasan
atau
pendapat secara tertulis dalam
kalimat dengan menggunakan kata,
frasa, dan struktur yang benar tentang
kebudayaan dan tokoh-tokoh Islam
Keterangan
Tema-tema tersebut menggunakan
struktur kalimat
dan

f. Kelas XII, Semester 2


STANDAR KOMPETENSI
Menyimak
Memahami
informasi
lisan
berbentuk paparan atau dialog
tentang hari-hari besar Islam dan
kisah-kisah Islami

KOMPETENSI DASAR
Mengidentifikasi bunyi, ujaran (kata,
frasa atau kalimat ) dalam suatu
konteks dengan tepat tentang harihari besar Islam dan kisah-kisah
Islami
Menangkap makna dan gagasan atau
ide dari berbagai bentuk wacana
lisan tentang wawasan Islam secara
tepat tentang hari-hari besar Islam
dan kisah-kisah Islami

223

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

STANDAR KOMPETENSI
Berbicara
Mengungkapkan informasi secara
lisan berbentuk paparan atau
dialog tentang hari-hari besar
Islam dan kisah-kisah Islami

Membaca
Memahami wacana tulis
berbentuk paparan atau dialog
tentang hari-hari besar Islam dan
kisah-kisah Islami

KOMPETENSI DASAR
Menyampaikan
gagasan
atau
pendapat secara lisan sesuai konteks
dengan lafal yang tepat tentang harihari besar Islam dan kisah-kisah
Islami
Melakukan dialog sesuai konteks
dengan tepat dan lancar tentang
hari-hari besar Islam dan kisah-kisah
Islami

Melafalkan dan membaca nyaring


kata, kalimat dan wacana tulis
dengan tepat dan benar tentang harihari besar Islam dan kisah-kisah
Islami
2 Mengidentifikasi bentuk dan tema
wacana secara tepat dan benar
tentang hari-hari besar Islam dan
kisah-kisah Islami
3 Menemukan makna dan gagasan atau
ide wacana tulis dengan tepat tentang
hari-hari besar Islam dan kisah-kisah
Islami

224

STANDAR KOMPETENSI
Menulis
Mengungkapkan informasi secara
tertulis berbentuk paparan atau
dialog tentang hari-hari besar
Islam dan kisah-kisah Islami

KOMPETENSI DASAR
Menulis kata, frasa,dan kalimat
dengan huruf, ejaan dan tanda baca
yang tepat dan benar tentang harihari besar Islam dan kisah-kisah
Islami
Mengungkapkan
gagasan
atau
pendapat secara tertulis dalam
kalimat dengan menggunakan kata,
frasa, dan struktur yang benar tentang
hari-hari besar Islam dan kisah-kisah
Islami
Keterangan
Tema-tema menggunakan struktur
kalimat
dan

a)

Implementasi Tujuan
Mengacu pada paparan di atas, bahwa tujuan pendidikan bahasa arab
di madrasah aliyah program umum (IPA, IPS) terformulasikan dalam bentuk
standar kompetensi lulusan, standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Kompetensi yang diupayakan untuk diperoleh adalah kemampuan berbahasa
arab secara menyeluruh, meliputi 4 kompetensi berbahasa, yaitu istima,
kalam, qiraah dan kitabah. Namun demikian, sangat disangsikan
penguasaan 4 kompetensi tersebut dengan jumlah alokasi waktu hanya 2
jam per minggunya. Karena ketika mengacu pada pendapat Ali al-Hadidi
yang membuat jenjang pengajaran bahasa Arab ke dalam empat tingkat,
masing-masing tingkatnya dibutuhkan 250 jam @ 60 menit.15. Al-Hadidi
membuat rincian sebagai berikut:
No. Tingkat
Belajar
Belajar
di Jumlah
Reguler
Lab/Latihan
250. Jam
50 Jam
200 Jam
Dasar
1.
250. Jam
50 Jam
Menengah 200 Jam
2.
250. Jam
50 Jam
200 Jam
Lanjutan
3.
250. Jam
50 Jam
200 Jam
Akhir
4.
Jumlah
800 Jam
200 Jam
1000 Jam
225

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

Dengan alokasi waktu seperti di atas, Al-Hadidi memprediksikan


bahwa siswa untuk Tingkat Menengah saja sudah menguasai sekitar 2000
kosakata dengan kemampuan membaca koran, mendengarkan siaran radio
atau televisi, dan menulis surat yang berbahasa Arab, serta mampu
berkomunikasi dengan penutur Arab.16 Sementara pada Tingkat Akhir siswa
mampu mengikuti perkuliahan di lembaga-lembaga pendidikan atau
perguruan tinggi di negara-negara Arab dengan modal 4000 kosakata.17
Namun dalam implementasinya pembelajaran Bahasa Arab di
madrasah aliyah, khususnya di program IPA dan IPS permasalahan yang
terus berjalan sampai saat ini adalah masalah alokasi waktu yang tersedia
dalam kurikulum yang sangat tidak memadai untuk memberikan dasar
kemampuan bahasa Arab, yakni hanya 2 jam pelajaran dalam seminggu.
Tabel berikut ini menunjukkan perbandingan waktu pembelajaran Bahasa
Arab Madrasah Aliyah yang sangat minim, tidak proporsional dan seimbang,
juga ketika dibandingkan dengan Bahasa Inggris.18
Program MA Program MA Program MA
Program
Umum
Bahasa
Keagamaan
Kelas
X
XI XII X
XI XII X
XI
XII
Semester 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2
Alokasi
Waktu B.
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 4 4 4 4
Arab
(jam)
Alokasi
Waktu B.
4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4
Inggris
(jam)
Padahal, sesungguhnya masih ada celah untuk sedikit mereduksi
kekurangan alokasi waktu tersebut, yaitu dengan memanfaatkan alokasi
waktu kurlok (kurikulum lokal) yang biasanya diisi dengan selera masingmasing kepala madrasah/sekolah, kita isi dengan mata pelajaran bahasa
Arab, mulai dari tingkat dasar (ibtidai) sampai dengan tingkat menengah
(tsanawi).
Disamping kelemahan diatas, masih juga terdapat kegamangan
meskipun beberapa aspek sudah tercover- bahwa tujuan pembelajaran
bahasa arab yang dilakukan secara operasoional dapat memenuhi spesifikasi
dari tujuan yang ingin dicapai, yakni:
226

a.

Menggambarkan hal-hal yang dapat dilakukan oleh peserta didik,


what will the student be able to do as result of the teaching that he was
unable to do before.
b. Menunjukkan perilaku yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik.
c. Menggambarkan kondisi-kondisi lingkungan yang menunjang perilaku
peserta didik.
Terlepas dari rangkaian tujuan yang telah ditetapkan sebagaimana
dipaparkan diatas, bahwa, kurikulum sangat terkait erat dengan filsafat yang
melandasinya. Jika kurikulum dikembangkan dengan menggunakan dasar
filsafat klasik (perenialisme, esensialisme, eksistensialisme) sebagai pijakan
utamanya, maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan kepada
pencapaian penguasaan materi dan cenderung menekankan pada upaya
pengembangan aspek intelektual atau aspek kognitif. Apabila kurikulum
yang dikembangkan menggunakan filsafat progesivisme, maka tujuan
pendidikan lebih diarahkan pada proses pengembangan dan aktualisasi diri
dan lebih berorientasi pada upaya pengembangan afektif. Pengembangan
kurikulum dengan menggunakan filsafat konstruktivisme sebagai dasar
pijakannya, maka tujuan pendidikan banyak diarahkan pada upaya
pemecahan ma salah sosial yang krusial dan kemampuan bekerja sama.
Sementara kurikulum yang dikembangkan dengan menggunakan dasar
filsafat teknologi pendidikan dan pendidikan teknologis, maka tujuan
pendikan lebih diarahkan pada pencapain kompetensi.
Kurikulum bahasa arab madrasah aliyah program umum tidak hanya
berpijak dan berdasar pada satu filsafat, teori pendidikan atau model
kurikulum tertentu secara konsisten dan konsekwen. Nampak bahwa yang
digunakan sebagai landasan pijak adalah model eklektik, dengan mengambil
hal-hal yang terbaik dan memungkinkan dari seluruh aliran filsafat yang ada,
sehingga dalam menentukan tujuannya nampak lebih fleksibel.
b) Implementasi Materi19
Pada prinsipnya penentuan materi pembelajaran juga tidak lepas dari
filsafat dan teori pendidikan yang dipakai. Pengembangan kurikulum yang
didasari filsafat klasik penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang
utama. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme
lebih memperhatikan kebutuhan, minat dan kehidupan peserta didik.Materi
pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme, materi akan
dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang
diangkat dari masalah sosial yang krusial dan diramu sedemikian rupa untuk
mendukung penguasaan suatu kompetensi.
227

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

Mengacu pada dasar diatas, perbedaan dasar filsafat yang dijadikan


sebagai pijakan akan menjadi perbedaan dalam penentuan isi materi
pembelajaran. Dalam konteks ini materi bahas arab madrasah aliyah
program umum cenderung fleksibel dan akomodatif, karena itu dasar pijakan
yang dipakai adalah model eklektif.
Sementara itu dalam kaitannya dengan penentuan materi
pembelajaran bahasa arab dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan,
pendidik memiliki wewenang dalam menentukan materi pembelajaran,
sesuai dengan standar kompetensi dsan kompetensi dasar yang hendak
dicapai dari setiap pembelajaran. Namun dalam aplikasinya, materi
pembelajaran bahasa arab Madrasah Aliyah program IPA dan IPS
sebagaimana dapat dinyatakan dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi
Dasar diatas, masih dihadapkan pada lemahnya mengaktualisasikan prinsipprinsip yang harus dipedomani dalam menentukan materi20, yaitu:
Sahih (valid)
Tingkat kepentingan
Kebermaknaan
Layak dipelajari
Menarik minat
Bersifat umum dan universal
Demikian juga halnya dengan sekuens susunan materi pembelajaran
yang masih lemah dalam aplikasinya. Sekuens materi seyogyanya disusun
sedemikian rupa secara proporsional, utuh dan korelatif unsur-unsur
berikut21:
1. Sekuens kronologis; susunan materi pembelajaran yang mengandung
urutan waktu.
2. Sekuens kausal; susunan materi pembelajaran yang mengandung
hubungan sebab-akibat.
3. Sekuens struktural; susunan materi pembelajaran yang mengandung
struktur materi.
4. Sekuens logis dan psikologis; sekuensi logis merupakan susunan materi
pembelajaran dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang
sederhana menuju kepada yang kompleks. Sedangkan sekuens
psikologis sebaliknya dari keseluruhan menuju bagian-bagian, dan dari
yang kompleks menuju yang sederhana. Menurut sekuens logis materi
pembelajaran disusun dari nyata ke abstrak, dari benda ke teori, dari
fungsi ke struktur, dari masalah bagaimana ke masalah mengapa.

228

5.

Sekuens spiral ; susunan materi pembelajaran yang dipusatkan pada


topik atau bahan tertentu yang populer dan sederhana, kemudian
dikembangkan, diperdalam dan diperluas dengan bahan yang lebih
kompleks.
6. Sekuens rangkaian ke belakang; dalam sekuens ini mengajar dimulai
dengan langkah akhir dan mundur kebelakang. Contoh pemecahan
masalah yang bersifat ilmiah, meliputi 5 langkah sebagai berikut : (a)
pembatasan masalah; (b) penyusunan hipotesis; (c) pengumpulan data;
(d) pengujian hipotesis; dan (e) interpretasi hasil tes.
7. Dalam mengajarnya, guru memulai dengan langkah (a) sampai (d), dan
peserta didik diminta untuk membuat interprestasi hasilnya (e). Pada
kasempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari
langkah (a) sampai (c) dan peserta didik diminta untuk mengadakan
pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya.
8. Sekuens berdasarkan hierarki belajar; prosedur pembelajaran dimulai
menganalisis tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kemudian dicari suatu
hierarki urutan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan atau
kompetensi tersebut. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku
apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik, berturut-berturut
sampai dengan perilaku terakhir.
c) Implementasi Strategi Pembelajaran22
Dalam paparan sebelumnya telah dijelaskan bahwa filsafat dan teori
pendidikan yang melandasi pengembangan kurikulum akan memunculkan
penentuan tujuan dan materi pembelajaran yang tersendiri. Hal ini juga
memiliki konsekwensi dalam penentuan strategi pembelajaran yang hendak
dikembangkan. Jika tujuan pembelajarannya adalah untuk penguasaan aspek
intelektual sebagaimana yang dikembangkan dalam kalangan penganut
filsafat klasik- maka strategi pembelajaran yang dikembangkan akan lebih
berpusat pada guru. Guru merupakan tokoh sentral di dalam proses
pembelajaran dan dipandang sebagai pusat informasi dan pengetahuan.
Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek yang pasif
menerima sejumlah informasi dari guru. Metode dan teknik yang akan
digunakan dalam pembelajaran umumnya bersifat penyajian secara masal,
seperti ceramah atau seminar. Selain itu pembelajaran cenderung bersifat
tekstual. Sayangnya, model seperti inilah yang seringkali dijumapai dan
dilihat dalam pembelajaran bahasa arab di madrasah aliyah, khususnya
program umum.

229

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

Seharusnya strategi pembelajaran bahasa arab yang diterapkan di


madrasah aliyah minimal menganut pandangan kelompok progesivisme.
Karena menurut pandangan kelompok ini, yang seharusnya aktif dalam
proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Peserta didik secara
aktif menentukan materi dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat dan
kebutuhannya, sekaligus menentukan bagaimana cara-cara yang paling
sesuai untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan belajarnya.
Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari
kelompok konstruktivisme yang menekankan pentingnya proses
pembelajaran melalui dinamika kelompok. Pembelajaran cenderung bersifat
kontekstual.23 Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi
dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual, langsung,
dan memanfaatkan dinamikan kelompok. Peran pendidik sebagai fasilitator,
motivator dan guider. Sebagai fasilitator, pendidik berusaha menciptakan
dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya.
Dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat melakukan perbuatan belajar.
Sebagai guider, pendidik melakukan pembimbingan para peserta didiknya
secara personal.24
d) Implementasi Organisasi Kurikulum
Terdapat beberapa model pengorganisasian kurikulum, yaitu:
Mata pelajaran terpisah
Mata pelajaran berkorelasi
Bidang Studi
Program yang berpusat pada anak/ peserta didik
Inti Masalah
Eklektik
Dari beberapa model pengorganisasian kurikulum diatas,
nampaknya kurikulum bahasa arab madrasah aliyah program umum masih
menganut model yang pertama, yaitu mata pelajaran terpisah. Sehingga
kemudian dampak yang ditimbulkan adalah rangkaian pemahaman yang
parsial, tidak utuh, dan tidak berkorelasi secara integral.
Padahal, kalau mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan, tampaknya lebih menggunakan pengorganisasian yang bersifat
eklektik, yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran, yaitu : (1)
kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; (2) kelompok mata
pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; (3) kelompok mata pelajaran
ilmu pengetahuan dan teknologi; (4) kelompok mata pelajaran estetika; dan
(5) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan. Kelompok230

kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam


sejumlah mata pelajaran tertentu, yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis
sekolah. Di samping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata
pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat
peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri.
e) Implementasi Evaluasi
Evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat
pencapaian dan ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin
diwujudkan melalui kurikulum yang dimaksud. Evaluasi kurikulum juga
dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan
ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya
terbatas pada efektivitas saja, akan tetapi juga mencakup relevansi, efisiensi,
kalaikan program. Evaluasi kurikulum juga bervariasi, bergantung pada
dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. Salah satu dimensi yang
sering mendapat sorotan adalah dimensi kaualitas dan kuantitas. Instrumen
yang digunakan untuk mengevaluasi berbeda antara dimensi kuantitatif dan
kaulitatif. Instrumen yang digunakann untuk mengevaluasi dimensi
kuantitatif, seperti tes standar, tes prestasi belajar, tes diagnostik, dll.
Sedangkan untuk dimensi kaualitatif dapat menggunakan questionnare,
inventori, interview, dan sebagainya.25
Di samping itu, terdapat beberapa model evaluasi kurikulum,
diantaranya adalah Model CIPP (Context, Input, Process dan Product)26
yang bertitik tolak pada pandangan bahwa keberhasilan progran pendidikan
dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti : karakteristik peserta didik dan
lingkungan, tujuan program dan peralatan yang digunakan, prosedur dan
mekanisme pelaksanaan program itu sendiri. Evaluasi model ini bermaksud
membandingkan kinerja (performance) dari berbagai dimensi program
dengan sejumlah kriteria tertentu, untuk akhirnya sampai pada deskripsi dan
judgment mengenai kekuatan dan kelemahan program yang dievaluasi,yaitu
pada aspek-aspek berikut:
1. Context; yaitu situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenisjenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam
program yang bersangkutan.
2. Input; bahan, peralatan, fasilitas yang disiapkan untuk keperluan
pendidikan, seperti : dokumen kurikulum, dan materi pembelajaran
yang dikembangkan, staf pengajar, sarana dan pra sarana, media
pendidikan yang digunakan dan sebagainya.

231

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

3.

Process; pelaksanaan nyata dari program pendidikan tersebut, meliputi :


pelaksanaan proses belajar mengajar, pelaksanaan evaluasi yang
dilakukan oleh para pengajar, penglolaan program, dan lain-lain.
4. Product; keseluruhan hasil yang dicapai oleh program pendidikan,
mencakup : jangka pendek dan jangka lebih panjang.
Namun, seringkali dalam evaluasi kurikulum bahasa arab masih
dilakukan secara serampangan, tidak mendalam dan belum mampu menguak
aspek-aspek substantif dan integral (menyangkut CIPP) yang seharusnya
menjadi bagian terpenting dalam aktifitas evaluasi. Dampaknya yang timbul
adalah sebagaimana yang bisa disaksikan sampai detik ini adalah masih
lambatnya dan bahkan sulitnya peningkatan kualitas pembelajaran sebagai
sebuah proses dan produksi output yang mempunyai kapasitas kemampuan
berbahasa arab yang ideal.
B.

PENUTUP
Implementasi kurikulum bahasa arab madrasah aliyah program
umum (IPA dan IPS) masih menyisakan banyak masalah, baik terkait
dengan komponen-komponen kurikulum itu sendiri, mapun terkait dengan
unsur-unsur lain yang terkait didalamnya, yakni pendidik, peserta didik,
proses dan kebijakan yang digariskan. Sehingga, untuk perbaikan kualitas
output sesuai dengan yang diharapakan secara langsung maupun tidak
langsung berarti pembenahan secara menyeluruh dan integral terhadap
semua komponen kurikulum dan semua aspek yang terkait dengannya.

Endnoote:
1) Miller,J.P and Seller,W., Curriculum..., hal. 246-247.
2)Susilo, Mohammad Joko, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Manajemen
Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2007), hal. 174
3)Dalam
Oxford Advance Learner Dictionary dikemukakan bahwa
implementasi adalah put something into effect. Dalam definisi Fullan,
implementation as the process of putting into practice an idea, program, or set of
activities new to the people attemping or expected to change. Lihat Fullan, M., The
Meaning of Educational Change (Toronto: Ontorio Institute for Studies in
Education Press, 1982), hal. 54.
4)Mulyasa, E., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan
Praktis (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 5
5)Bahkan Fullan & Park secara detail menjelaskan implementasi kurikulum
sebagai sebuah dampak perubahan yang multidimensi dan komplek yang
menyangkut; materials, teaching approach, and beliefs. Fullan & Park juga

232

mengidentifikasikan kualitas perubahan terkait dengan implementasi kurikulum.


Lihat Fullan,M., Park, P., Curriculum Implementation (Toronto: Ontorio Ministry of
Education, 1981), hal. 24-26.
6)Miller,J.P and Seller,W., Curriculum Perspective and Practice (New York &
London: Longman Inc., 1985), hal. 13-14
7)Bandingkan antara rumusan yang digariskan dalam Permenag No. 2 tahun
2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama
Islam dan Bahasa Arab di Madrasah dengan realita pembelajaran Bahasa Arab pada
madrasah aliyah khususnya program umum yang masih banyak terjadi kesenjangan.
8)Padahal dalam Standar Kompetensi Lulusan mata pelajaran Bahasa Arab di
Madrasah Aliyah Program umum ditegaskan bahwa kemampuan yang ditekankan
mencakup 4 kemampuan berbahasa, yakni menyimak (istima), berbicara (kalam),
membaca (qiraah), dan menulis (kitabah). Lihat Permenag No. 2 tahun 2008.
9)Departemen Agama Republik Indonesia, Peraturan Menteri Agama No.2
tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama
Islam dan Bahasa Arab di Madrasah.
10)Ibid
11)Ibid
12)Ibid
13)Bandingkan dengan tawaran materi yang diintrodusir oleh Krashen dan
Terrell yang menggunakan tiga tahap sebagai dasar bagi para pembelajar yang
mencakup pengenalan diri (personalization), penggunaan topik, dan situasi yang
dikenal. Lihat Krashen, S.D. and Tracy D. Terrell,The Natural Approach: Language
Acquisition in the Classroom. (New York: Pergamon Press,1983), hal.73.
14)Departemen Agama Republik Indonesia, Peraturan Menteri Agama No.2
tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama
Islam dan Bahasa Arab di Madrasah.
15)Al al-Hadd, Musykilat Talm al-Lughah al-Arabiyyah li Ghair al-Arab,
(Kairo: Dr al-Katib al-Arab), 1966, h. 125.
16)Dalam pengajaran Bahasa Arab di Madrasah disebutkan sejumlah 1500
kosakata lebih dalam berbagai bentuk kata dan pola kalimat yang diprogramkan
meliputi tema tentang kegiatan sehari-hari dan kajian keislaman. Rasionalisasi
penguasaan 1500 kosakata tersebutadalah 300 kata pada jenjang Ibtidaiyah dan700
kata pada jenjang Tsanawiyah, serta750 kosakata pada jenjang Aliyah Lihat
Departemen Agama RI..Kurikulum 2005: Standar Kompetensi Madrasah
Tsanawiyah (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. 2005),
hal.145.
17)Bandingkan dengan klasifikasi yang dibuat oleh Rusydi Ahmad Thuaimah
yang membagi tingkatan pembelajaran Bahasa Arab menjadi 3, yaitu tingkatan
ibtida, mutawassith dan mutaqaddim dengan dengan interval masing-masing
tingkatan dalam penguasaan mufradat masing-masing tingkatan 750-1000, 10001500, 1500-2000. Rusydi Akhmad Thuaimah, Talim al-Arabiyyah Li Ghoiri alNathiqina Biha (Rabath; Isisco, 1989), hal. 49
18)Lihat Peraturan Menteri Agama No 2 tahun 2008 tentang Strandar
Kompetensi Lulusan dan standar isi pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di
Madrasah, Bab V Tabel Struktur Kurikulum Madrasah.
19)Saylor mengintrodusir beberapa elemen yang masuk dalam ruang lingkup
materi, yakni facts, observations, data, perceptions, sensibilities, designs, and
solution drawn from what the mind of men have comprehended from experience and

233

al-Ittijh

Vol. 02 No. 02 (Juli-Desember 2010)

those constructs of mind that recognize and rearrange these products of experience
into lore, concepts, generalizations, principles, plans, and solutions.Lihat
Saylor,J.G., Alexander ,W., & Lewis, A., Curriculum Planning for Better Teaching
and Learning (New York:Holt, Rinehart and Wiston, 1981), haL.160
19)Seperti dinyatakan oleh Rusydi Ahmad Thuaimah, Talim al-Arabiyyah Li
Ghoiri al-Nathiqina Biha (Rabath; Isisco, 1989), hal.65-69
20)Nana Syaodih Sukmadinata dalam bukunya: Pengembangan Kurikum;
Teori dan Praktek.( Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya. 1997)
21)Dalam bentuk lain Rusydi Ahmad Thuaimah menjelaskan berbagai model
pembelajaran bahasa arab, diantaranya Thariqah al-Nahw wa al-Tarjamah, AlThariqah al-Mubasyarah, Thariqah al-Samiyyah al-Syafahiyyah, Thariqah alQiraah, Al-Thariqah al-Marifiyyah. Lihat Thuaimah, Rusydi Ahmad, Talim alArabiyyah, hal.127-144
22)Pembelajaran kontekstual dicirikan oleh upaya pengaitan antara materi
dengan konteks kehidupan sehari-hari. Lihat Johnson, Elaine.. Contextual
Teachingand Learning: What it is and Why It s Hereto Stay. 2005.
http//www.horizonshelpr.org/contextual/hlm/ diakses tanggal 5 Mei 2010.
23)Karena pada dasarnya mahir berbahasa Arab, tidak serta merta menjamin
bisa mengajar bahasa Arab, karena dalam pengajaran bahasa Arab terdapat beberapa
hal yang harus diperhatikan, minimal disamping menguasai materi kebahasaan yang
akan diajarkan, juga harus memahami bagaimana jiwa dan mentalitas anak yang
akan menerima materi kebahasaan itu, demikian pula mengetahui metode serta
media yang sesuai yang digunakan dalam menyampaikan materi. Lihat Nabh
Ibrahm Isml, al-Usus al-Nafsiyyah li Talm al-Lughah al-Arabiyyah Li Ghair
al-Nthiqn bih, (Kairo, Maktabah Anglo, 1982), hal.22.
24)Miller,J.P and Seller,W., Curriculum Perspective and Practice (New York
& London: Longman Inc., 1985), hal. 296-307
25)Model CIPP diintrodusir oleh Stufflebeam et. All. Secara detail Miller dan
Seller membreakdown model CIPP. Lihat Miller,J.P and Seller,W., Curriculum
Perspective and Practice, hal. 309-320.

Moh. Anshori, S.Ag., M.Fil.I., dosen Bahasa Arab pada Fakultas Dakwah
IAIN Sunan Ampel Surabaya, sedang mengikuti program Doktoral
(S3) Bahasa Arab di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang.

234

235