You are on page 1of 4

Jenis-Jenis Indek Glikemiks

Menurut Rimbawan dan Siagian 2004 nilai GI dapat diartikan secara intuitif sebagai
persentase pada skala mutlak dan biasanya dikategorikan sebagai berikut :
1. IG rendah, rentang IG < 55
2. IG sedang, rentang IG 55 70. Contoh makanan pada IG sedang diantaranya : beras
merah, nasi putih, es krim, kismis, gula meja, nenas, roti putih, dan lain-lain.
3. IG tinggi, rentang IG > 70. Contoh makanan IG tinggi diantaranya : wortel, semangka,
madu, rice instant, corn flakes, dan lain-lain (Bawal 2010).
Sebuah makanan IG rendah akan melepaskan glukosa lebih lambat dan mantap.
Sebuah makanan IG tinggi menyebabkan kenaikan lebih cepat kadar glukosa darah dan
cocok untuk pemulihan energi setelah latihan ketahanan atau untuk seseorang mengalami
hipoglikemia. Konsumsi pangan dengan nilai IG rendah diyakini memiliki keuntungan
dibandingkan dengan IG tinggi. Penerapan konsep IG berguna bagi orang yang sedang
mengatur kadar gula darah, misalnya orang yang mengalami diabetes. Penderita diabetes
mellitus dapat memilih makanan yang tidak akan menaikkan kadar glukosa darah dengan
cepat (makanan memiliki IG rendah), sehingga kadar glukosa darah dapat dikontrol pada
kadar yang tetap normal (70-110 mg/dl). Hal ini dikarenakan pada penderita diabetes terjadi
kerusakan sel beta pancreas yang jika mengonsumsi makanan tidak diimbangi oleh sekresi
insulin (Lasimo et al 2002 dalam Widowati (2007).
Uji Indeks Glikemik (Miller et. al. 1996; El 1999)
Setiap porsi penyajian produk olahan yang akan ditentukan IG-nya mengandung 50 g
karbohidrat. Produk tersebut diberikan kepada relawan yang telah menjalani puasa penuh
(kecuali air) selama semalam (sekitar pukul 19.00 sampai pukul 07.00 keesokan harinya).
Perlakuan puasa ini bertujuan untuk membiarkan kadar gula darah normal kembali sehingga
pada saat menganalisis tidak ada pengaruh dari karbohidrat lainnya (Marsono 2002).
Sebelum konsumsi sampel, responden diambil darahnya dari ujung jari (finger-prick
capillary blood samples method) dan diukur kadar glukosanya. Hasilnya dinyatakan sebagai
kadar glukosa darah puasa (kadar glukosa menit ke-0). Setelah konsumsi produk sebanyak 50
l sampel darah diambil kembali dari ujung jari setiap 15 menit dengan 4 kali pengulangan

setelah itu dilanjutkan pengambilang 2 kali pengulangan dengan jeda waktu 30 menit untuk
diukur kadar glukosanya (pengukuran kadar glukosa menit ke 15, 30, 45, 60, 90 dan 120).
Sebagai standar, responden diberikan 50 gram glukosa murni (Natalia 2010).
Kadar glukosa darah (pada waktu setiap pengambilan sampel) diplotkan pada dua
sumbu, yaitu sumbu waktu (x) dan sumbu kadar glukosa darah (y). Indeks glikemik
ditentukan dengan membandingkan luas daerah di bawah kurva antara pangan yang diukur
IG-nya dengan pangan acuan (glukosa murni) dikalikan 100 (Miller et al. 2003) (Natalia
2010).
Penerapan Indeks Glikemik
Pengenalan karbohidrat berdasarkan efeknya terhadap kadar gula darah dan respon
insulin dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan jumlah dan jenis pangan sumber
karbohidrat yang tepat untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan. Informasi IG bermanfaat
bagi semua individu. Pangan IG rendah akan dicerna dan diubah menjadi glukosa secara
bertahap dan perlahan-lahan, sehingga puncak kadar gula darah juga akan rendah. Berarti
fluktuasi peningkatan kadar gula relatif pendek. Hal ini sangat penting bagi diabetesi dalam
mengendalikan kadar gula darah. Sebaliknya, bagi olahragawan yang hendak bertanding
perlu pangan IG tinggi agar pangan yang dikonsumsi segera dikonversi menjadi energi. Bagi
individu normal yang masih memerlukan tumbuh-kembang (misal anak-anak) sebaiknya
mengonsumsi pangan IG sedang-tinggi.
Informasi IG pangan dapat membantu penderita DM dalam memilih makanan yang
tidak menaikkan kadar gula darah secara drastis, sehingga kadar gula darah dapat dikontrol
pada tingkat yang aman. Pangan IG rendah membantu orang untuk mengendalikan rasa
lapar, selera makan dan kadar gula darah. Jadi, pangan dengan IG rendah bermanfaat untuk
membantu mengurangi kelebihan berat badan.
Metabolisme Indek Glikemik dalam tubuh
Darah mempertahankan kadar glukosa pada taraf tertentu untuk fungsi otak dan sistim
saraf pusat. Organ-organ ini tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa glukosa. Untuk
menjamin suplai glukosa yang terus-menerus, tubuh menyimpan cadangan glukosa di hati
dan otot dalam bentuk glikogen. Apabila tubuh telah menggunakan cadangan glukosa ini,
maka tubuh akan memecah protein otot untuk mensintesa glukosa. Konsumsi karbohidrat
yang rendah akan membuat kehilangan jaringan otot bukan lemak dan air.

Konsumsi karbohidrat yang rendah tidak banyak membantu dalam upaya menurunkan
berat badan karena simpanan lemak dalam tubuh tidak bisa dipecah menjadi glukosa. Anjuran
dewasa ini menyatakan bahwa kita harus memenuhi kebutuhan energi kita sebanyak 50-60%
dari karbohidrat. Secara tradisional karbohidrat diklasifikasikan menurut struktur kimianya
(sederhana dan kompleks). Bentuk sederhana dan kompleks karbohidrat tidak menjelaskan
secara memadai mengenai bagaimana sebenarnya mereka berbuat di dalam tubuh kita.
Sampai pada saat ini secara luas diyakini bahwa karbohidrat kompleks beras dan kentang
dicerna dan diserap dengan lambat sehinggga menyebabkan hanya sedikit peningkatan kadar
gula darah. Gula sederhana, disisi lain, dianggap dicerna dan diserap dengan cepat yang
menyebabkan peningkatan kadar gula darah yang cepat dan besar.
Anggapan ini adalah salah. Kejutan pertama adalah banyak pangan berkarbohidrat
(roti, kentang, dan berbagal jenis beras) dicerna dan diserap sangat cepat, bukan lambat
seperti diyakini sebelumnya. Kedua, ditemukan bahwa dalam jumlah yang moderat (sedang)
pangan-pangan yang bergula tinggi (permen atau es krim) tidak meningkatkan kadar gula
darah secara dramatis.
Karbohidrat dalam pangan yang dipecah dengan cepat selama pencernaan memiliki
IG yang tinggi. Respon gula darah terhadap jenis pangan (karbohidrat) ini cepat dan tinggi.
Dengan kata lain, glukosa (gula) dalam aliran darah meningkat dengan cepat. Sebaliknya,
karbohidrat yang dipecah dengan lambat melepaskan glukosa ke dalam darah dengan lambat
memiliki IG yang rendah. Substansi yang menghasilkan peningkatan kadar gula darah yang
paling tinggi adalah glukosa murni. Semua jenis pangan lain memiliki efek yang lebih kecil
ketika dimasukkan dalam jumlah (karbohidrat) yang sama. IG glukosa murni ditetapkan 100
dan setiap jenis pangan yang lain diurutkan pada suatu skala 0 s/d 100 menurut efek
aktualnya pada kadar gula darah.
Hartatik, W., D. Styorini, L.R. Widowati, dan S. Widati. 2007. Laporan Akhir Penelitian
Teknologi Pengelolaan Hara pada Budidaya Pertanian Organik. Laporan Bagian Proyek
Penelitian Sumber Daya Tanah dan Proyek Pengkajian Teknologi Pertanian Partisipatif
(Tidak dipublikasikan).
Lingga, P dan Marsono. 2002. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta. Hal 8687.
Natalia, Lia. 2010. Analisis faktor persepsi yang mempengaruhi minat konsumen untuk
berbelanja pada giant hypermarket bekasi. Jurnal skripsi manajemen

Miller., et al. (2003). The Importance of Meeting Calcium Needs With Food. Journal of The
American College of Nutrition, 20 (2) : 168S 185S. Diakses 20 Juli 2013, dari
http://www.jacn.org/content/20/2/168S.full.pdf+html
Rimbawan dan Siagian, A. (2004). Indeks Glikemik Pangan. Penebar Swadaya. Jakarta, hal : 53