You are on page 1of 10

MESIN CARNOT DAN UPAYA MENGURANGI BUANGAN HASIL

PEMBAKARAN KENDARAAN RODA DUA


Fitri Handayani*, Nunung Cahyaningsih
Lab. Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia
fhandayani8@gmail.com, 085713040627
Abstrak
Era globalisasi menuntut mobilitas yang tinggi bagi masyarakat. Sepeda
motor menjadi pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mobilitas
karena ukurannya yang ramping sehingga dapat berjalan di jalanan yang
sempit. Selain itu juga karena harganya yang terjangkau oleh kantung
masyarakat. Meningkatnya penggunaan sepeda motor berbanding lurus
dengan meningkatnya tingkat polusi udara yang ditimbulkan dari sisa
pembakaran yang tidak sempurna oleh sepeda motor. Artikel ini bertujuan
untuk mengetahui proses-proses yang terjadi dalam sepeda motor ketika
melakukan perubahan energi, penyebab timbulnya zat polutan dari sepeda
motor serta cara-cara yang dapat digunakan untuk mengurangi zat polutan
tersebut. Setelah kita mengetahui proses-proses yang terjadi dalam sepeda
motor diharapkan kita dapat menemukan cara untuk mengurangi jumlah zat
polutan yang ditimbulkan oleh sepeda motor. Upaya pengurangan zat polutan
lebih ditekankan pada upaya preventif, yaitu dilakukan terhadap sistem yang
bekerja pada sepeda motor. Cara-cara yang dipilih merupakan cara-cara yeng
berkaitan dengan Prinsip Carnot karena prinsip tersebut diterapkan pada
sepeda motor. Pada dasarnya, zat-zat polutan dapat dikurangi dengan
membuat proses pembakaran menjadi lebih sempurna sehingga mampu
meningkatkan efisiensi sepeda motor.
Kata Kunci: Efisiensi; Prinsip Carnot; Sepeda Motor.
Globalization era lead to high mobilities for the people. Motor bicyle became
peoples choice to get the mobilities because its size and its cost. The rise of
the use of motor bicycle followed by the rise of pollution level. This article is
purposed to know all the processes that happened inside the motor bicycles
system when it changes the energy, the cause of the pollution subtances from
the motor bicyle, and to find all the way to reduce the pollution. After we
know all the processes inside the motor bicyle we can determined tha way to
reduce its pollution as well. Preventive way is the best way to reduce. The
way that choosed is the way that related to Carnot Principle because it
aplicated in motor bicycle system. The pollution subtances can be reduced by
make perfect combustion process that can rise the efficiency.
Keywords: Carnot Principle; Efficiency; Motor Bicycle.

Pendahuluan
Dewasa ini mobilitas setiap manusia menjadi semakin tinggi. Meningkatnya
mobilitas manusia ini disebabkan karena pengaruh era globalisasi. Guna mendukung
mobilitas yang tinggi tersebut, manusia membutuhkan sebuah alat transportasi yang cepat
dan tepat. Alat transportasi yang paling banyak digunakan adalah kendaraan roda dua
(sepeda motor). Banyak orang memilih untuk naik sepeda motor karena dianggap lebih
efisien. Efisien dalam arti bahwa sepeda motor dapat melewati jalan kecil karena ukurannya
yang ramping sehingga ketika jalanan sedang macet, kendaraan ini dapat menerobos
diantara barisan mobil. Hal ini tentu sangat menguntungkan dari segi waktu. Selain itu,
harganya juga lebih terjangkau oleh masyarakat.
Sepeda motor sebagai transportasi yang banyak dipilih oleh masyarakat
menyumbang peranan besar terhadap timbulnya pemanasan global. Sumbangan kendaraan
ini adalah gas buangan hasil pembakaran bahan bakar yang mengandung gas hidrokarbon,
CO, CO2, dan nitrogen oksida. Gas-gas hasil pembakaran bahan bakar ini selain
menimbulkan pemanasan global juga dapat menyebabkan penyakit Infeksi Sistem
Pernapasan Akut (ISPA). Hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus bagi kita untuk
mengurangi gas hasil pembakaran bahan bakar pada sepeda motor. Untuk dapat mengurangi
gas hasil pembakaran tersebut kita perlu mengetahui bagaimana prinsip kerja yang terjadi
pada mesin kendaraan roda dua tersebut. Dengan mengetahui prinsip kerjanya, kita tentu
dapat mengetahui faktor yang menyebabkan dihasilkannya gas hasil pembakaran yang
berlebih, sehingga kita dapat menentukkan solusi yang tepat bagi permasalahan ini.
Berdasarkan proses kerja yang dilakukannya sepeda motor dibagi menjadi dua jenis,
yaitu sepeda motor 2 takt dan sepeda motor 4 takt. Sepeda motor 2 takt merupakan sepeda
motor generasi pertama. Sebagai suatu sistem pembakaran mesin pada kedua sepeda motor
tersebut selalu mengeluarkan gas dan partikel hasil pembakaran. Dibutuhkan usaha untuk
mengurangi gas dan partikel tersebut agar masalah lingkungan dan kesehatan yang timbul
dapat berkurang. Jumlah gas dan partikel yang dikeluarkan mesin sepeda motor tersebut
terkait dengan efisiensi sepeda motor. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
berbagai lembaga, sepeda motor 2 takt memiliki hasil gas buangan yang lebih pekat
dibandingkan dengan sepeda motor 4 takt.
Masalah yang berusaha dipecahkan dalam artikel ini ada 3: 1) bagaimana langkah
kerja mesin sepeda motor, 2) Apa penyebab pencemaran udara pada mesin sepeda motor

secara teknis, dan 3) Bagaimana cara mengurangi gas dan partikel hasil proses pembakaran
bahan bakar yang diproduksi mesin sepeda motor. Melalui penjelasan ini diharapkan dapat
menambah pemahaman mengenai aplikasi Hukum Termodinamika II pada mesin kendaraan
roda dua.
Melalui penyusunan artikel ini kita diharapkan dapat: 1) mengetahui cara kerja
mesin sepeda motor 4 tak, 2) Mengetahui penyebab timbulnya zat-zat pencemar udara dari
sepeda motor secara teknis, dan 3) Mengetahui cara-cara untuk mengurangi zat-zat
pencemar udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar sepeda motor.
Pembahasan
Energi merupakan komponen penting bagi kita, lingkungan kita dan seluruh sistem
yang ada didalamnya. Energi membuat sebuah sistem dapat berjalan. Bentuk energi sangat
beragam, diantaranya adalah energi panas, kimia, listrik, kinetik dan mekanik.
Termodinamika merupakan ilmu yang mengkaji segala sesuatu yang berhubungan
dengan energi termasuk bentuk-bentuk energi, perubahan bentuk energi dan hasil dari
perpindahan serta perubahan bentuk energi tersebut. Melalui hasil percobaan yang telah
dilakukan oleh beberapa ahli terbentuklah 2 hukum dasar sebagai prinsip dasar
termodinamika. Hukum tersebut adalah Hukum I dan Hukum II Termodinamika. Hukumhukum ini berkaitan dengan perubahan bentuk energi.
Hukum I Termodinamika merupakan hasil turunan dari Hukum Kekekalan Energi
yang telah diungkapkan sebelum ditemukannya struktur atom. Secara umum hukum I
Termodinamika dinyatakan sebagai berikut: Bila energi diubah dari satu bentuk ke bentuk
lainnya, banyaknya energi yang diubah adalah tetap (Ginting, 1989). Contohnya pada
mesin sepeda motor, terjadi perubahan energi kimia menjadi energi kinetik. Energi kimia
berupa bahan bakar diubah menjadi energi kinetik berupa pergerakan sepeda motor. Hukum
I Termodinamika hanya menyatakan hubungan yang terjadi antara banyaknya energi dan
perubahan yang terjadi. Hukum ini tidak menjelaskan mengenai arah perubahan tersebut
berjalan serta proses yang terjadi apakah reversible ataukah irreversible.
Hukum II Termodinamika selanjutnya menjelaskan mengenai hal-hal yang belum
terpecahkan pada Hukum I Termodinamika. Tidak terdapat bunyi hukum secara umum pada
hukum ini, namun dikenal 2 pernyataan ahli yang sering digunakan yaitu, pernyataan
Clausius dan pernyataan Kelvin-Planck. Pernyataan yang diungkapkan Clausius berbunyi:

Tidak mungkin suatu sistem bekerja dalam satu siklus dengan hanya melulu perpindahan
panas dari benda yang dingin ke benda yang lebih panas. Singkatnya, panas tidak mengalir
dengan sendirinya dari benda yang dingin ke benda yang lebih panas. Dalam pernyataan
tersebut tersurat bahwa terdapat faktor-faktor lain dari dalam sistem yang mempengaruhi
perpindahan panas.
Ginting (1989: 182-183) dalam bukunya menuliskan pernyataan Kelvin-Planck
dengan bunyi: Tidak mungkin suatu sistem bekerja dalam satu siklus untuk merubah panas
dengan hanya satu reservoir dan menghasilkan sejumlah kerja positif yang ekuivalen.
Pernyataan tersebut mengungkapkan bahwa tidak semua panas dapat diubah menjadi kerja
secara terus menerus. Sebagian panas tersebut harus dikeluarkan ke reservoir lain yang
memiliki temperatur yang lebih rendah. Sehingga tidak mungkin terdapat mesin termal yang
mempunyai efisiensi termis 100%.
Hukum II Termodinamika dapat digunakan menentukan kemampuan maksimal
secara teori dari sebuah sistem yaitu dengan membandingkan kemampuan sebenarnya
terhadap kemampuan teoritis. Kemampuan maksimal sebuah sistem dilihat dari prosesproses yang terjadi pada sistem tersebut. Terdapat 2 proses yang mungkin terjadi pada
sistem yaitu proses reversible dan proses irreversible.
Proses reversible adalah proses yang sistem dan lingkungannya dapat kembali
seperti keadaan semula setelah menjalankan suatu proses. Menurut Kelvin-Planck terdapat
panas yang dikeluarkan ke reservoir lain dengan temperatur yang lebih rendah. Dua
reservoir yang memiliki selisih temperatur yang mendekati nol, maka perpindahan panas
akan mendekati reversible. Pada proses ini tidak ada entropi yang diproduksi. Pada siklus
Carnot terjadi proses reversible.
Proses irreversible adalah proses yang sistem dan lingkungannya tidak dapat
kembali seperti keadaan semula setelah menjalankan suatu proses. Pada proses ini
diproduksi entropi. Pencampuran dua gas dan perpindahan panas dari benda dengan
temperatur tinggi menuju benda dengan temperatur yang lebih rendah merupakan contoh
proses irreversible (Reynolds dan Perkins: 1994).
Siklus Carnot
Siklus ini diungkapkan oleh Nicholas Leonard Sadi Carnot. Proses yang terjadi
pada siklus Carnot adalah proses reversible. Sebagai sebuah siklus, tahapan yang terjadi

pada siklus Carnot terdiri dari 4 tahap; 2 tahap isotermis dan 2 tahap adiabatis. Seperti
pernyataan yang telah diungkapkan oleh Kelvin-Planck bahwa dalam suatu sistem bahwa
terdapat panas yang harus dikeluarkan atau dibuang dari sistem. Hal ini menyebabkan tidak
ada mesin termal yang memiliki efisiensi sebesar 100%. Mesin termal adalah alat yang
bekerja pada siklus Carnot sehingga seringkali disebut Mesin Carnot. Mesin Carnot
diaplikasikan penggunaanya pada mesin sepeda motor.
Pada siklus Carnot terjadi 2 proses adiabatik dan 2 proses isotermis.

Gambar 1. Siklus Carnot.


Penjelasan proses yang terjadi pada Siklus Carnot adalah sebagai berikut:
1. Proses a-b, ekspansi isotermal (gas menyerap panas dari reservoir dan menggerakan
piston/torak).
2. Proses b-c, ekspansi adiabatik (tidak ada panas yang diserap maupun dikeluarkan.
Dalam proses ini temperatur gas turun dan melakukan usaha).
3. Proses c-d, kompresi isotermal (gas melepas kalor dari reservoir dan mendapat
usaha dari luar).
4. Proses d-a, kompresi adiabatis (tidak ada kalor yang diserap maupun dikeluarkan.
Dalam proses ini temperatur gas turun dan mendapat usaha)
Sepeda Motor 4 Takt
Siklus Carnot kemudian diaplikasikan pada mesin sepeda motor. Berdasarkan
langkah kerja yang dilakukan, ada dua jenis sepeda motor yaitu sepeda motor 2 takt dan
sepeda motor 4 takt. Namun sepeda motor 2 takt sudah tidak banyak digunakan lagi karena
emisi yang dikeluarkan begitu pekat. Pekatnya emisi yang dikeluarkan oleh sepeda motor 2
takt disebabkan oleh pembakaran yang tidak sempurna.

Sepeda motor 4 takt mengeluarkan emisi yang lebih sedikit daripada sepeda motor 2
takt. Hal ini sebagai akibat dari langkah pembakaran yang ditempuh oleh sepeda motor 4
tak dilakukan sebanyak 4 langkah. Proses pambakaran pun menjadi lebih sempurna.
Kelemahan yang dimiliki oleh sepeda motor 4 takt adalah kecepatan yang dihasilkan tidak
setinggi sepeda motor 2 takt.
Mesin pada sepeda motor ini menggunakan mesin 4 takt. Mesin ini melakukan 4
langkah kerja dalam satu siklus pembakaran. Empat langkah tersebut meliputi langkah
pemasukkan (isap), kompresi, ekspansi, dan langkah buang. Secara keseluruhan langkahlangkah tersebut memerlukan dua putaran poros engkol (crankshaft) per satu siklus.

Gambar 2. Langkah kerja mesin 4 takt.


Penjelasan gambar tersebut adalah sebagai berikut:
a. Langkah Pemasukan/Isap.
Katup isap (KI) terbuka dan piston bergerak dari batas atas, titik saat kondisi
tersebut disebut TMA (Titik Mati Atas). Dari atas kemudian menuju TMB (Titik
Mati Bawah). Setelah katup terbuka kemudian campuran udara dan bahan bakar
mesuk dan mengisi silinder.
b. Langkah Kompresi.
Katup masuk tertutup dan piston bergerak menekan campuran udara dan bahan
bakar yang menimbulkan tekanan. Ketika piston mendekat pada TMA, akan
timbul percikan api listrik yang dihasilkan oleh busi dengan dua ujung
elektrodenya. Percikan api listrik tersebut membuat campuran udara dan bahan
bakar terbakar sehingga mulai terjadi proses pembakaran.
c. Langkah Ekspansi.

Campuran udara dan bahan bakar yang telah terbakar secara berurutan
menimbulkan tekanan yang semakin lama semakin maksimal. Tekanan
maksimal ini berikutnya menekan piston ke bawah baik tekanan maupun suhu
dari gas pembakaran mulai berkurang. Gaya gerak yang yang timbul dari
gerakan pada piston ini diteruskan pada poros engkol melalui tangkai piston dan
engko dan dengan demikian poros engkol dipaksa berputar mengatasi tahanan
geseran.
d. Langkah Buang.
Katup buang (KB) terbuka dan gas sisa pembakaran ditekan keluar oleh piston
yang bergerak ke atas dan dengan demikian selanjutnya dimulai lagi langkah
pemasukan untuk siklus yang selanjutnya. Daya yang dihasilkan motor
pembakaran ini tergantung dari isi silinder antara TMA dan TMB. Hali ini
dikarenakan jumlah panas yang dihasilkan dari proses pembakaran campuran
udara dan bahan bakar mengalir dari silinder tersebut pada tiap siklusnya
(Soenarta & Furuhama: 1995)
Proses pembakaran bensin sebagai bahan bakar sepeda motor tidak pernah
berlangsung sempurna sebagaimana telah diungkapkan oleh Kevin-Planck. Selalu ada
energi yang terbuang dalam proses perubahan energi kimia menjadi energi kinetik pada
sepeda motor. Salah satu bentuknya dapat berupa zat-zat sisa pembakaran. Zat-zat sisa
pembakaran ini yang menjadi polutan di udara. Hidrokarbon, karbonmonoksida,
karbondioksida, dan nitrogen oksida merupakan zat-zat yang termasuk zat sisa pembakaran.
Jumlah zat-zat sisa pembakaran ini terkait dengan efisiensi mesin. Efisiensi perubahan
energi pada mesin termal diartikan sebagai perbandingan antara energi yang dikeluarkan
terhadap energi yang dipasok (Kamil dan Ir. Pawito: 1983)
Efisiensi dirumuskan dengan:
=

=1

Pada sepeda motor, pembakaran yang tidak sempurna umumya disebabkan oleh
1. Campuran bahan bakar dan udara yang gemuk dan bekerja pada daya yang rendah
juga karena mendekati daya maksimum.
2. Mesin tidak dapat menghisap campuran udara dan bahan bakar dalam jumlah
banyak karena perbandingan ekspansinya kecil. Perbandingan ekspansi mempunyai
arti sama dengan perbandingan kompresi.
3. katup masuk yang tempat masuknya udara dan bahan bakar dan lubang buang
tempat keluarnya hasil proses pembakaran tidak dilengkapi dengan katup. Sehingga
gas murni yang belum terbakar pun ikut terbawa melewati lubang. Produksi gas
buangan sisa pembakaran yang berlebih juga disebabkan oleh oli yang turut
terbakar.
4. Terjadinya proses pembilasan pada proses pembakaran bahan bakar.
5. Rendahnya kualitas bahan bakar yang digunakan. Jika bahan bakar yang digunakan
memiliki nilai oktan rendah, maka akan terjadi knocking.
6. Adanya sisa karbon yang berada di ruang pembakaran. Karbon sulit mengalirkan
panas, sehingga banyak karbon yang tertinggal. Hal ini membuat suhu pada ruang
pembakaran menjadi tinggi. Campuran yang masuk ke ruang pembakaran pun
menjadi bersuhu tinggi.
Hasil dari proses pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna menghasilkan
karbonmonoksida yang berbahaya bagi sistem peredaran darah manusia dan partikel lain
yang juga berbahaya bagi tubuh manusia. Karbonmonoksida, karbondioksida, nitrogen
oksida dan partikel lain diproduksi akibat proses pembakaran bahan bakar yang tidak
sempurna. Zat-zat tersebut dikeluarkan dalam bentuk gas dari knalpot sepeda motor.
Untuk mencegah masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh zat sisa hasil
pembakaran, kita dapat melakukan langkah represif atau langkah penanggulangan. Langkah
represif yang dapat kita lakukan diantaranya:
1. Melakukan penanaman sejumlah tanaman penyerap karbon dan hidrokarbon
disekitar jalan raya, sehingga ketika sepeda motor mengeluarkan zat-zat sisa
pembakarannya, zat-zat tersebut dapat terserap. Penanaman ini diharapkan dapat
mengurangi zat polutan dari kendaraan roda dua.
2. Menggunakan masker ketika berada disekitar jalan raya, sehingga dapat megurangi
zat-zat polutan yang masuk ke dalam sistem pernapasan kita.

3. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan umum yang


disediakan oleh pemerintah.
Selain langkah represif diperlukan juga langkah preventif untuk mengurangi hasil
buangan pembakaran pada kendaraan bermotor. Langkah preventif yang dapat dilakukan
adalah melakukan inovasi terhadap sistem yang berjalan pada mesin kendaraan bermotor.
Inovasi yang dilakukan terkait dengan efisiensi mesin.
Jumlah emisi yang dikeluarkan oleh sepeda motor terkait dengan efisiensi mesin.
Efisiensi mesin adalah besarnya kemampuan sebuah mesin dalam mengubah energi yang
masuk dalam bentuk bahan bakar menjadi energi bentuk lain yang akan dikeluarkan dalam
bentuk tenaga gerak. Semakin besar nilai efisiensi mesin semakin besar pula kemampuan
sebuah mesin dalam mengubah energi yang masuk. Sehingga gas buangan sisa pembakaran
yang dihasilkan menjadi rendah dan pencemaran lingkungan juga menjadi rendah. Mesin
bensin modern beroperasi pada rata-rata sekitar 20 sampai 30 persen efisiensi. Sisa 70
sampai 80 persen energi dari bensin dikeluarkan dari mesin baik sebagai panas, energi suara
mekanik, atau gesekan.
Langkah yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
1. Menangkap kembali energi yang terbuang
Selalu ada energi yang terbuang dari setiap siklus yang terjadi. Energi yang terbuang
dapat berupa panas, suara dan gesekan. Sebanyak 40 persen energi bahan bakar
terbuang menjadi panas sebagai hasil sampingan pembakaran dalam mesin. Panas
yang dihasilkan bisa mencapai lebih dari 700 derajat Celsius. Panas ini dapat
ditangkap dengan sebuah alat yang terbuat dari bahan logam langka dan logam
campuran super kuat. Dengan mekanisme tertentu, perangkat ini bisa menghasilkan
listrik hingga ratusan watt.
2. Meningkatkan Rasio Kompresi Mesin
Rasio kompresi adalah perbandingan antara volume langkah piston dengan volume
ruang bakar saat piston pada posisi TMA.
3. Menggunakan Bahan Bakar dengan Nilai Oktan Tinggi.
Menurut Brusstar dalam Agrariksa, bensin dengan oktan lebih tinggi akan
memungkinkan mesin untuk beroperasi dengan rasio kompresi yang lebih tinggi
maka ketika mesin bekerja terjadi efisiensi.
4. Melakukan pencampuran bahan bakar dengan ethanol

Penambahan etanol ke dalam bahan bakar sepeda motor dapat menciptakan


pembakaran yang lebih sempurna sehingga zat-zat sisa pembakaran menjadi lebih
sedikit (Agrariksa: 2013).
Kita telah mengetahui proses dan sistem yang ada pada sepeda motor. Pengetahuan
ini dapat menjadi acuan kita dalam menyikapi permasalahan lingkungan yang ditimbulkan
oleh sepeda motor itu sendiri. Sehingga bahaya yang ditimbulkan dari emisi yang
dikeluarkan sepeda motor dapat dikurangi.
Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa sepeda
motor 4 takt mengalami 4 langkah kerja yang meliputi langkah hisap (pemasukan),
kompresi, ekspansi, dan langkah buang. Proses perubahan energi pada sepeda motor selalu
mengeluarkan emisi berupa zat hidrokarbo, karbonmonoksida, karbondioksida, dan nitrogen
oksida. Zat-zat tersebut timbul karena proses pembakaran yang tidak sempurna. Perlu
dilakukan upaya pencegahan untuk mengurangi produksi zat-zat tersebut karena zat-zat
tersebut berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. Mengurangi zat-zat yang ditimbulkan
berhubungan dengan meningkatkan efisiensi sepeda motor. Efisiensi sepeda motor dapat
ditingkatkan dengan meningkatkan rasio kompresi mesin, menggunakan bahan bakar
dengan nilai oktan tinggi, menambahkan methanol pada bahan bakar, dan menangkap
kembali energi panas yang dikeluarkan.
Daftar Pustaka
Agrariksa, Fintas Afan dan Bambang Susilo dan Wahyunanto Agung Nugroho. 2013. Uji
Performansi Motor Bakar Bensin (On Chassis) menggunakan Campuran Premium
dan Etanol. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 1(3): 194-203.
Ginting, Raja Ulungen.1989. Dasar-Dasar Termodinamika Teknik. Jakarta: Depdikbud
Dirjen Dikti LPLPTK
Kamil, Sulaiman dan Pawito. 1982. Termodinamika dan Perpindahan Panas. Jakarta:
Depdikbud Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
Soenarta, Nakoela dan Shochi Furuhama. 1995. Motor Serba Guna. Jakarta: Pradnya
Paramita.
Reynolds, C. William dan Henry C. Perkins. 1994. Termodinamika Teknik. Terjemahan
oleh Filipo Harahap. Bandung: Gelora Aksara Pratama.