You are on page 1of 6

Nama

: 1. Imroatul Lathifah (4311413015)


2. Lia Inarotut .D (4311413021)

Prodi

: Kimia

Rombel

:1

ARTIKEL ASAP CINCIN GUNUNG SLAMET

Sumber: http://uniqpost.com/123384/penjelasan-soal-cincin-asap-gunung-slamet/
http://kompas.com/ diunduh tanggal 17 september 2014 pukul: 17.00 WIB.

PENYEBAB:
Cincin asap adalah fenomena yang sangat jarang terjadi apalagi di Indonesia.
Sependek yang saya tahu, kejadian yang terdokumentasi ya baru di Gunung Slamet
ini, tulis Marufin. Cincin asap terbentuk dari gas dan uap air yang
termampatkan dan lantas keluar dari lubang letusan dengan tekanan dan

kecepatan yang pas, sehingga tak buyar namun juga tak melayang rendah,
jelasnya. Fenomena ini justru menegaskan bahwa saluran magma Gunung Slamet
memang tetap terbuka. Sehingga magma dan gas yang hendak menyeruak keluar tak
sempat tertahan di leher gunung. Dengan saluran yang terbuka, potensi terjadinya
letusan besar boleh dikata cukup kecil, sambungnya.
Proses terjadinya erupsi pada umumnya hal ini disebabkan oleh tekanan gas
kuat yang berasal dari dalam bumi yang terus-menerus mendorong magma. Magma
yang didorong tadi sedikit demi sedikit bergerak naik karena massanya yang lebih
ringan dibanding batuan padat sekitarnya. Dalam perjalanannya magma yang bersuhu
sekitar 1200 derajat celcius ini melelehkan batuan di sekitarnya dan terjadilah
penumpukan magma. Dari sini, tekanan yang berasal dari dalam bumi menjadi
semakin besar karena magma terhambat oleh lapisan batuan padat (lithosfer) yang
sulit ditembus. Karena tekanan yang sangat besar pada daerah ini, maka disini
tersimpan tenaga yang sangat besar sehingga lapisan batuan yang sedikit lebih rapuh
menjadi retak dan lewat celah retakan inilah magma menjalar keluar. Sambil menjalar,
magma melelehkan saluran retakan sehingga membentuk saluran yang disebut pipa
kepundan.
Ketika lapisan batuan (lithosfer) ini sudah tidak mampu membendung tanaga
dari magma, maka akan terjadi semburan dan ledakan yang sangat kuat sebagai reaksi
dari pelepasan energi (tenaga) dari dalam bumi. Alhasil permukaan bumi akan
tertembus dan terjadilah erupsi.
Sejak Maret 2014, aktivitas Gunung Slamet (3.432 meter) di Jawa Tengah
belum menuju reda. Kesiapsiagaan adalah keharusan, tetapi tak perlu memicu
kepanikan. Slamet tak seeksplosif gunung lain, seperti Galunggung, Merapi, atau
Kelud. Dua abad, letusan Slamet tanpa korban jiwa.
Tanggal 12 Agustus 2014, status Gunung Slamet dinaikkan dari Waspada
menjadi Siaga. Sejak itu, letusan dan lontaran batuan pijarnya terus terjadi. Misalnya,
Jumat (12/9), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat
26 kali sinar api dan lontaran material setinggi 100-500 meter. Terdengar 4 kali
dentuman dan 3 kali gemuruh.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kepala Pusat Data
Informasi dan Humas Sutopo Purwo Nugroho menyatakan telah mengantisipasi

kemungkinan terburuk. Sejumlah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di


sekitar Gunung Slamet, seperti Brebes dan Purbalingga, juga bersiap mengevakuasi
warga. Tempat evakuasi disiapkan.
Munculnya awan berbentuk cincin di atas puncak Gunung Slamet pun
mengundang aneka tafsir. Seperti biasa, media bersemangat mengunggahnya sehingga
menambah panik.
Namun, Kepala Badan Geologi Surono tenang menyikapi aktivitas Slamet. Ia
yakin Gunung Slamet takkan meletus sehebat Merapi ataupun Kelud. Slamet
dipercaya takkan mengeluarkan awan panas sejauh belasan kilometer seperti Merapi.
Mungkin media dan praktisi yang berharap letusan Gunung Slamet heboh tidak suka
pernyataan saya bahwa gunung ini tak mengkhawatirkan. Termasuk isu asap gambar
cincin atau bebek itu. Sampai mbebeki (kapan pun) juga saya tetap meyakini; Slamet
gunungnya, selamat masyarakatnya, ujarnya.
Magma basaltik
Sifat magma Gunung Slamet itu basaltik atau encer, kata Surono. Karena
itu, ketika meletus, magmanya relatif gampang keluar. Kalau Merapi itu magmanya
andesitik (kental). Untuk mendorong magma Merapi ke permukaan, perlu tenaga
besar. Kalau encer, miskin gas dan tak eksplosif karena ditekan sedikit keluar. Energi
letusan kecil.
Karakter magma Slamet ini memang unik karena beda dengan kebanyakan
gunung api di Jawa yang punya magma andesit sehingga letusannya eksplosif.
Gunung api dengan magma basaltik umumnya dijumpai di gunung-gunung di
Sulawesi, seperti Soputan dan Lokon. Saya tidak tahu kenapa Gunung Slamet beda
sendiri, kata Surono.
Dengan ketinggian 3.432 meter, Slamet merupakan gunung api tertinggi
nomor dua di Pulau Jawa setelah Semeru (3.676 m) di Jawa Timur. Postur Slamet pun
gagah, menyerupai kerucut sempurna. Tak heran, di masa lalu, gunung ini dinamakan
Gunung Agung, sebagaimana disebut dalam catatan Bujangga Manik, bangsawan
Sunda yang menziarahi gunung-gunung di Pulau Jawa sekitar akhir abad ke-15.

Nama Slamet disematkan masyarakat setelah pengaruh Islam. Kata Slamet


dari bahasa Arab as-salamat, yang artinya keselamatan atau bisa juga dimaknai
kesejahteraan (J Noorduyn, 1982, dalam Bujangga Maniks Journeys Through Java).
Geolog senior pada Museum Geologi Bandung, Indyo Pratomo, mengatakan,
karakter Slamet memang beda. Gunung Slamet tumbuh di atas batuan vulkanik juga,
bukan batuan sedimen sebagaimana Merapi atau Kelud. Ini menyebabkan magma
Slamet basaltik, tuturnya.
Keenceran magma Slamet menyebabkan sekitarnya banyak goa dari lava (lava
tube), seperti di lereng timur yang dikenal sebagai Goa Lawa. Goa ini sebenarnya
lorong lava yang terbentuk dari aliran lava basal encer. Saat permukaan lava
membeku, bagian dalam masih cair dan tetap mengalir meninggalkan bagian beku
dalam bentuk lorong. Goa yang terbentuk dari leleran lava sangat jarang di Indonesia.
Zona bahaya
Sifat magma Slamet yang basaltik ini juga terlihat dari tipe letusannya yang
strombolian (efusif) dan vulcanian (eksplosif lemah). Letusan strombolian ini
dicirikan letusan abu, dengan atau tanpa leleran atau kubah lava. Sementara istilah
letusan tipe vulcanian (vulkano) dikenalkan Giuseppe Mercalli, saksi mata erupsi
Gunung Vulcano, Italia, 1888-1890. Erupsi ini dicirikan tiang asap letusan yang pekat,
berisi campuran material vulkanik berukuran abu dan gas, disertai lontaran material
berukuran abu hingga bongkah dan suara dentuman.
Material lontaran itu umumnya berasal dari sumbat lava dan material dari
sekitar kawah dan kepundan gunung api ini. Tipe letusan ini dicirikan suara
dentuman, sebagai hasil pelepasan gas. Letusan tipe vulkano relatif berbahaya dalam
radius hingga 3 km dari pusat erupsi karena biasanya melontarkan material pijar
berukuran hingga bongkah (volcanic bomb).
Dengan karakter ini, Gunung Slamet dikategorikan gunung api dengan letusan
relatif kurang berbahaya bagi kawasan pertanian dan permukiman yang ada di
lerengnya. Apalagi, jarak hunian warga dengan puncak gunung relatif jauh.

Rekomendasi terbaru PVMBG, 12 September 2014, mengimbau masyarakat


tak berada pada radius 4 km dari puncak Slamet. Warga juga tak boleh beraktivitas di
daerah aliran sungai yang berhulu di Slamet.
Apakah letusan Slamet akan terus seperti ini? Jika dibandingkan letusan
sebelumnya, periode letusan Slamet kali ini memang relatif lebih panjang. Surono
mengakui, karakter gunung api bisa saja berubah, termasuk Gunung Slamet.
Waspada dan menyiapkan kemungkinan terburuk memang perlu. Namun,
dengan mengetahui karakter dan sejarah Gunung Slamet, kesiapsiagaan itu bisa
dibangun tanpa harus memicu kepanikan.
EFEK YANG DITIMBULKAN :
a)
b)
c)
d)

Kesehatan
Kesuburan tanah
Tanaman dan Peternakan
Pesawat mengalami kerusakan pada mesin di udara.
AKIBAT YANG DITIMBULKAN :

Arus Lava
Lava adalah bantuan cair yang mengalir keluar dari gunung berapi atau guung berapi
ventilasi. Karena lava sangat panas antara 1000 1200 0C (1800 3600 0F) mereka

dapat menyebabkan luka bakar parah.


Piroklastika Kepadatan Arus
Kepadatan arus piroklastik merupakan fenomena letusan eksplosif. Mereka adalah
campuran bubuk batu, abu, dan gas panas, dan dapat bergerak dengan kecepatan

ratusan mil per jam.


Piroklastika Jatuh
Piroklastika jatuh, juga dikenal sebagai kejatuhan vulkanik, terjadi ketika tephra -rock
terfragmentasi ukuran mulai dari mm sampai puluhan cm (fraksi inci sampai kaki) adalah dikeluarkan dari lubang selama letusan gunung api dan jatuh ke tanah agak
jauh dari lubang. Falls biasanya berhubungan dengan kolom erupsi Plinian, awan abu
atau bulu vulkanik.

Lahar
Lahar adalah jenis tertentu semburan lumpur terdiri dari puing puing vulkanik.
Mereka dapat terbentuk dalam berbagai situasi : ketika lereng runtuh mengumpulkan

air kecil dalam pejalanan mereka turun gunung berapi, melalui mencair cepat salju
dan es selama letusan, dari hujan deras pada puing puing vulkanik lepas, ketika
gunung berapi meletus melalui danau kawah, atau ketika sebuah danau kawah
mengalir karena limpahan atau runtuh dinding. Aliran lahar seperti cairan, tetapi
karena mengandung bahan tersuspensi, mereka biasa memiliki konsistensi yang mirip
dengan beton basah. Mereka mengalir menurun dan akan mengikuti depresi dan

lembah, tetapi mereka dapat menyebar jika mereka mencapai daerah datar.
Gas
Gas vulkanik mungkin bagian palin mencolok dari letusan gunung berapi, tetapi
mereka dapat menjadi menjadi salah satu efek letusan paling mematikan. n. Sebagian
besar gas yang dirilis pada letusan adalah uap air ( H2O) yang tidak berbahaya, tapi
juga menghasilkan karbon dioksida (CO2), Sulfur Dioksida (SO2), Hidrogen Sulfida
(H2S), Gas Fluor (F2), Hidrogen fluorida (HF), dan gas lainnya. Semua gas ini bisa

berbahaya bahkan mematikan dalam kondisi yang tepat.


Logam Berat
Logam berat adalah bahan-bahan alami yang berasal dan termasuk bahan penyusun
lapisan tanah bumi. Logam berat tidak dapat diurai atau dimusnahkan. Logam berat
dapat masuk ke dalam tubuh mahluk hidup melalui makanan, air minum, dan udara.
Logam berat berbahaya karena cenderung terakumulasi di dalam tubuh mahluk hidup.