You are on page 1of 10

ARTIKEL

PANAS NETRALISASI, PANAS PELARUTAN DAN


ENERGI KISI

Oleh :
Nama : Septina Nur Martanti
Nim

: A1C114015

Kelas : Reguler
Angkatan : 2014
Asdos : 1. Rama
2. Resti Utami
3. Wahyu Novaldi. R

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA REGULER


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015

Kalorimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur perubahan


panas. Hal ini karena mengisap panas, sehingga tidak semua panas terukur.
Kalorimeter yang digunakan dalam keadaan sederhana adalah kalorimeter
adiabatik. Di laboratorium alat ini merupakan alat ukur yang teliti, dan secara
sederhana kita mengatakan bahwa bejana panas mengalir ke dalam atau keluar
dari sistem. Pada tekanan tetap hukum pertama untuk suatu transformasi
kalorimeter :
H = Qp = 0
Perubahan panas dalam keadaan ini dapat dinyatakan :
K (T1) + R (T1) K (T2) + R (T2), P = Konstan

Dimana :
K adalah calorimeter
R adalah reaktan, dan
P adalah produk ( hasil reaksi)
Karena sistem terisolasi, temperatur akhir T2 berbeda dengan T1 . kedua
temperatur diukur seteliti mungkin dengan termometer yang peka.
Perubahan dalam keadaan dinyatakan dalam dua step yaitu :
1. R (T1) P (T1) H1
2. K (T1) + R (T1) K (T2) + R (T2) H2
H = 0, maka H1 + H2 = 0 atau H1 = H2
Step kedua adalah sederhana suatu perubahan temperatur dari kalorimeter
dan hasil reaksi :
H2 = [Cp (k) + Cp (p)] Dt
Dan kita peroleh panas pada T1
H1 = - [Cp (k) + Cp (p)] dT
Jika kapasitas panas kalorimeter dan hasil reaksi diketahui, panas reaksi
T1 dan dapat dihitung dari pengukuran temperatu T1 dan T2.

Dalam keadaan encer dari asam kuat dan basa kuat dapat reionisasi
sempurna menjadi ion-ionnya. Begitu juga garamnya yang berasal dari asam kuat
dan basa kuat akan terionisasi sempurna menjadi ion-ionnya dalam larutan. Reaksi
asam kuat dengan basa kuat disebut reaksi.
A. Panas Netralisasi
Panas netralisasi adalah jumlah panas yang dilepaskan ketika 1 mol air
terbentuk akibat reaksi netralisasi asam oleh basa atau sebaliknya. Kalorimeter
merupakan alat yang di gunakan untuk mengukur perubahan panas. Hal ini karena
calorimeter mengisap panas, sehingga tidak semua panas terukur. Kalorimeter
yang di gunakan dalam keadaan sederhana adalah calorimeter adiabatik. Di
laboratorium alat ini merupakan alat ukur yang teliti dan secara sederhana kita
mengatakan bahwa bejana panas mengalir ke dalam atau keluar dari sistem.
Salah satu aplikasi hukum pertama Termodinamika di dalam bidang kimia
adalah termokimia , yaitu ilmu yang mempelajari kalor yang menyertai perubahan
fisik atau reaksi kimia. Untuk menyatakan biasanya dengan kata-kata kalor
ditambah dengan proses yang menyertainya. Misalnya kalor pelarutan , yaitu
kalor yang menyertai proses perubahan fisik zat terlarut ke dalam pelarutnya
(biasanya yang dibahas berupa pelarut cair), kalor pembakaran suatu zat , dan
sebagainya.
Penyerapan atau pelepasan kalor yang menyertai suatu reaksi dapat diukur
secara eksperimen.Dikenal beberapa macam kalor reaksi bergantung pada tipe
reaksinya. Diantaranya adalah kalor netralisasi, kalor pembentukan, kalor
penguraian, dan kalor pembakaran. Pada volume tetap, kalor yang menyertai
proses tersebut merupakan perubahan energi dalam, sedangkan pada tekanan tetap
adalah perubahan entalpi.eksperimen dilaboratorium lebih banyak dilakukan pada
tekanan tetap, sehingga kalor yang dihasilkannya merupakan perubahan
entalpi. Pada tekanan tetap hukum pertama untuk suatu transformasi calorimeter :
H=Q

P=O

Perubahan panas dalam keadaan ini dapat dinyatakan :

K(T1) + R(T1)
K(T2) + R(T2),
Dimana :
K = Kalorimeter
R = Reaktan
P = Produk (hasil reaksi)

P= konstan

Karena sistem terisolasi , temperature akhir T2 berbeda dengan temperatur


T1. Kedua temperatur diukur seteliti mungkin dengan thermometer yang peka.
Perubahan kenyataan di nyatakan dalam dalam dua step, yaitu :
1.
R(T1 ) P(T1) H1
2.
K (T1) + R(T1) K(T2) + R(T2) H2
H = 0, maka H1 + H2 = 0 H1 = H2
Langkah kedua adalah sederhana suatu perubah temperatur dari kalorimeter dan
hasil reaksi :
H2 = [Cp(K) + Cp(P) dT
Dan kita peroleh pada T1
H1 = -[Cp(K) +Cp(P) dT
Jika kapasitas panas kalorimeter dan hasil reaksi di ketahui, panas reaksi T1 dapat
dihitung dari pengukuran temperatur T1 dan T2.
Dalam larutan encer dari asam kuat dan basa kuat dapat terionisasi
sempurna menjadi ion-ionya. Begitu juga garam yang berasal dari asam kuat dan
basa kuat akan terionisasi sempurna menjadi ion-ionya dalam larutan. Reaksi
asam kuat dengan basa kuat disebut reaksi. Netralisasi yang dapat ditulis sebagai
berikut :
H- + OH- H2O
Panas yang terjadi tidak tergantung sifat dari anion asamnya dan kation
basanya. Jika asam atau basanya tidak terionisasi sempurna, sebagai contoh : asam
asetat terionisasi sebagian dalam larutan dan ternetralisasi oleh natrium hidroksida
yang reaksinya sebagai berikut :
CH3COOH + OH

CH3COO- + H2O

Mekanismenya berlangsung dua tingkat reaksi yaitu :


CH3COOH CH3OO- + HH- + OH- H2O
Panas netralisasi pada reaksi ini merupakan panas penggabungan ion H dan ion OH- melepaskan energi yang harus digunakan pada disosiasi molekul
asam asetat yang tidak terionisasi dapat di tentukan dengan kalorimeter.
Termokimia membahas tentang perubahan energi yang menyertai suatu
reaksi kimia yang dimanifestasikan sebagai kalor reaksi. Perubahan yang terjadi
dapat berupa pelepasan enrgi (reaksi eksoterm) atau penyerapan kalor (endoterm).
Kalor reaksi dapat digolongkan dalam kategori yang lebih khusus (1) Kalor
Pembentukan (2) Kalor Pembakaran (3) Kalor Pelarutan (4) dan Kalor Netralisai.
Perubahan enrgi yang terjadi bersifat kekal, artinya tidak ada energi yang
hilang selama reaksi berlangsung, melainkan berubah bentuk dari bentuk energi
yang satu ke bentuk energi yang lain. Adanya kekekalan energy ini ditunjukan
oleh selisih penyerapan dan pelepasan energy, yang disebut sebagai energy
internal. Sebagai gambaran, jika pada suatu system enrgai diberikan sejmlah
energy dalam bentuk kalor (q), maka system akan melakukan kerja (W) sebesar
W= p x DV. setelah melakukan kerja system masih menyimpan sejumlah energi
yang disebut sebagai energy internal.
B. Panas Pelarutan
Perubahan entalpi yang menyertai pelarutan suatu senyawa disebut panas
pelarutan. Panas pelarutan ini dapat meliputi panas hidrasi yang menyertai
pencemaran secara kimia. Energi ionisasi bila senyawa yang dilarutkan
mengalami peristiwa ionisasi. Pada umumnya panas pelarut untuk garam garam
netral dan tidak mengalami disosiasi adalah positif, sehingga reaksinya isotermis
atau larutan akan menjadi dingin dan proses pelarutan berlangsung secara
adaibatis. Panas hidrasi, khususnya dalam sistem berair, biasanya negatif dan
relatif besar. Perubahan entalpi pada pelarutan suatu senyawa tergantung pada

jumlah, sifat zat terlarut dan pelarutnya temperatur dan konsentrasi awal dan akhir
dari larutannya.
Jadi panas pelarutan standar didefinisikan sebagai perubahan entalpi yang
terjadi pada suatu sistem apabila 1 mol zat terlarut dilarutkan dalam n1 mol pelarut
pada temperatur 250C dan tekanan atmosfir.
Kalor pelarutan adalah entalpi dari suatu larutan yang mengandung 1 mol
zat terlarut, relatif terhadap zat terlarut atau pelarutan murni pada suhu dan
tekanan sama. Entalpi suatu larutan pada suhu T relatif larutan dan zat terlarut dan
terlarutan murni pada suhu T0 dinyatakan sebagai :
H = n1H1 + n2H2 + n2Hs2
Dimana :
H = entalpi dari n1+n2 mol pelarut dari komponen 1 dan 2 pada suhu T relatif
terhadap suhu T0.
H1 dan H2 = entalpi molal dari komponen 1 dan 2 murni pada suhu relative
terhadap temperatur T0.
HS2

= Panas pelarutan intergral dari komponen 2 pada suhu T.


Pada percobaan ini pelarut yang digunakan sangat terbatas, dan mencari

panas pelarutan dua senyawa yaitu tembaga (II) sulfat 5H2O dan temabaga (II)
sulafat anhidrat. Dengan menggunakan hukum Hess dapat dihitung panas reaksi :
CuSO4 (s) + aq CuSO4.5H2O
Menurut hukum Hess bahwa perubahan entalpi suatu reaksi kimia tidak
tergantung kepada jalannya reaksi tetapi hanya tergantung kepada keadaan awal
dan akhir dari suatu reaksi.
Sebagai contoh penggunaan hukum Hess :
CuSO4 (s) + aq CuSO4 (aq)
CuSO4.5H2O (s) + aq CuSO4 (aq) + 5H2O(aq)

H0= a Kj
H0= b Kj

Sehingga :
CuSO4.5H2O (s) + aq CuSO4 (aq) + 5H2O(aq)
(a-b) Kj

H0=

C. Energi Kisi
Energi Kisi (U) merupakan energi yang dilepaskan oleh ion-ion dalam

keadaan gas untuk bergabung menghasilkan satu mol senyawa ionik kristalin.
Mn+(g) + nX(g) MXn(s)

U= (-)

Harga Energi Kisi dapat diperkirakan dengan menggunakan :


Born-Haber Cycle.
Pasti udah pada kenal siklus ini. Dulu waktu SMA juga dipelajari dikit di
thermokimia.
[photo]

Hoa

= Entalphi atomisasi logam

= Energi Disosiasi

IE

= Energi Ionisasi

HoEA = Afinitas Elektron

Hof

= Entalphi pembentukan standar

= Energi Kisi

Maka:
Hof (MXn,s)= Hoa(M,s) + D(X2,g) +IE(M,g) + HoEA(X,g)+U(MXn,s)
U(MXn,s) Hof (MXn,s) Hoa(M,s) D(X2,g) IE(M,g)
HoEA(X,g)
Exp:
Tentukan energi kisi dari CaF2. Jika diketahui,

Hoa (Ca,s) = 158 kJ mol-1

D (F2,g) = 2Hoa (F,g) = 178 kJ mol-1

IE1 (Ca,g) = 590 kJ mol-1 ; IE2 (Ca,g) = 1145 kJ mol-1

HoEA (F,g) = -328 kJ mol-1

Hof (CaF2,s)= -1228 kJ mol-1

Ans:

U Hof (CaF2,s) Hoa (Ca,s) D (F2,g) IE (Ca,g) 2HoEA (F,g)


U -1228 178 158 590 1145 + 2(328)
U 2643 kJ mol-1
Persamaan Born-Lande
[photo]
Dimana:

U = Energi Kisi

= Bilangan Avogadro (6.022 x 1023 mol-1)

= Konstanta Mandelung

= Muatan ion

= muatan elektron (1.602 x 10-12 C)

= 3.142

= permitivitas vakum (8.854 x 10-12 F m-1)

ro

=jarak antar inti pada ion yang berikatan (m)

= exponent Bohr,

Yang baru kenal persamaan diatas, pasti rada bingung. Itu rumus apaan ya???
Hehe. Saya juga bingung dulu, waktu dapet materi ini pertama kali dari seorang
senior.
Untuk Exponent Bohr dan Konstanta Mandelung, silahkan liat table dibawah ini:
a. Exponent Bohr
Jadi, nilai exponent bohr (n) dari suatu anion atau kation dari unsur-unsurnya
yang ber-isoelektron dengan salah satu unsur-unsur gas mulia adalah SAMA.Nah
misalnya:
Nilai n dari CaO, maka diurai aja senyawa disamping jadi ion-ionnya. Otomatis
jadi Ca2+ dan O2-, Nah,
Ca2+ isoelektron dengan Ar sehingga = 9
O2- isoelektron dengan Ne sehingga = 7
untuk nilai n, tinggal dirata-rata aja:

b. Konstanta Mandelung
Konstanta ini ada hubungannya dengan struktur kisi kristal yang punya ciri
khas sendiri kedekatan ion yang ada dalam kisi kristalnya.
Contoh Soal

: Perkirakanlah Energi Kisi dari NaF yang kisi-nya menyerupai

NaCl!,
diketahui:

L = 6.022 x 1023 mol-1

A =1.7476,

e =1.602 x 10-19 C,

o= 8.854 x10-12 Fm-1 ,

r = 231 pm = 231. 10-12 m

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, (1999). Kimia Fisika Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
cheetah, 2013. Energi Kisi Lattice. Retrived from: https://iftitahforcheetah.
wordpress.com/2011/12/01/energi-kisi-lattice-energy/(diakses
2015).

06

Oktober

Bird, (1993). Kimia Fisik. Erlangga. Jakarta.


Jobsheet. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Fisika.Politeknik Negeri Sriwijaya.
Palembang - See more at: http://ekaandrians.blogspot.co.id/2013/05/panas
netralisasi.html#sthash.ksXTJaqK.dpuf.
Oxtobi, D.W. (1998). Kimia Modern. Erlangga. Jakarta.
Petrucci. (1987). Kimia Dasar Prinsip Terapan Modern Jilid 2 Edisi Keempat.
Erlangga. Jakarta.
Tim Penyusun Kimia

Fisik I.

1. Universitas Tadulako. Palu.

(2013). Penuntun

Praktikum

Kimia

Fisik