You are on page 1of 11

Nama

Nim
Kelas
Tugas

: Muhammad Fakhriannur
: 135120607111011
: A-4 Ilmu Pemerintahan
: Lembaga Kepresidenan
Perbedaan Sistem Pemerintahan Era SBY dengan JOKOWI
Pertama yang tidak lepas dengan terpilihnya Presiden Indonesia itu terjadi

karena ada Pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk
memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD, dan DPD. Setelah
amandemen ke-IV UUD 1945 pada 2002, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
(Pilpres), yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung
oleh rakyat sehingga Pilpres pun dimasukan ke dalam rezim pemilihan umum.
Pilpres sebagai bagian dari pemilihan umum diadakan pertama kali pada pemilu
2004. pada 2007, berdasarkan UU No.22 Tahun 2007, pemilihan Kepala Daerah
dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) juga dimasukan sebagai bagian dari rezim
pemilihan umum. Ditengah masyarakat, istilah pemilu lebih sering merujuk
kepada pemilu legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden yang diadakan
lima tahun sekali.
Pemilihan umum telah dianggap menjadi ukuran demokrasi yang ada di
Negara kita Indonesia, karena rakyat dapat berpartisipasi langsung menentukan
sikapnya terhadap pemerintahan dan negaranya siapa yang cocok untuk
menangani negara Indonesia. Pemilihan umum adalah suatu hal yang penting
dalam kehidupan kenegaraan. Pemilu adalah pengejewantahan sistem demokrasi,
melalui pemilihan umum rakyat memilih wakilnya untuk duduk dalam parlemen,
dan dalam struktur pemerintahan. Ada negara yang menyelenggarakan pemilihan
umum hanya apabila memilih wakil rakyat duduk dalam parlemen, akan tetapi
adapula negara yang juga menyelenggarakan pemilihan umum untuk memilih
para pejabat tinggi negara.
Umumnya yang berperan dalam pemilu dan menjadi peserta pemilu
adalah partai-partai politik. Partai politik yang menyalurkan aspirasi rakyat dan
mengajukan calon-calon untuk dipilih oleh rakyat melalui pemilihan itu. Dalam
ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilihan umum, akan tetapi
umumnya berkisar pada dua prinsip pokok, yaitu: singel member constituency
(satu daerah pemilihan memilih satu wakil, biasanya disebut sistem distrik). Multy

member constituenty (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil; biasanya


dinamakan proporsional representation atau sistem perwakilan berimbang).
Pertama yang saya ingin bahas terkait dengan sistem pemerintahan di Era
Susilo Bambang Yudhoyono dan di Era Joko Widodo yaitu setiap pejabat publik
punya gaya yang berbeda-beda dalam berkomunikasi dan memberikan motivasi
dan tanggung jawab kepada masyarakatnya, baik dalam segi isi pesan yang
disampaikan melalui menteri Presiden, maupun dari Presiden langsung dalam
menyampaikannya.
Dalam sistem pemerintahan pada saat ini tentu ada kelebihan dan
kekurangannya. Jika kita bandingkan dengan sistem pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono dengan Joko Widodo tentu kita dapat menilainya sendiri.
Dari kedua tokoh tersebut tentunya ada kekurangan dan kelebihan dari masingmasing tokoh tergantung pada kebijakan-kebijakan yang di lakukan efektif atau
tidak efektif ataupun bisa juga loyal ke semua masyarakatnya.
Perbedaan Sistem Pemeritahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jokowi
1. Keduanya sama-sama orang Jawa yang menjadi pemimpin dan sangat
diharapkan banyak orang, apalagi keduanya didukung kekuatan media sehingga
yang tadinya underdoq menjadi updog Ketika SBY maju pertama kali, dia kurang
diperhitungkan. Tetapi ketika dia dicitrakan jenderal pemberani dengan melawan
kesemena-menaan, sosok tertindas dan diperlakukan tidak adil oleh Presiden
Megawati, langsung posisi tawarnya sebagai calon presiden naik. Begitu pula
Jokowipun datang sebagai politikus baru tingkat nasional tetapi blow up media
mampu menaikkan citra mas Jokowi. Jokowi lahir dari pencitraan positif, lahir
dari citra sukses memimpin rakyatnya yang pada akhirnya dipilih oleh rakyatnya
sebesar 99%. Meskipun sama-sama lahir dari bantuan media tetapi ada sedikit
perbedaan Jokowi tampil sebagai pribadi yang dicintai rakyatnya bukan karena
kasihan atau iba akibat diperlakukan tidak adil.
2. SBY dan Jokowi merupakan sosok yang mampu menguasai media
walau dengan cara yang berbeda. Lihat SBY ketika berbicara, sangat runtut,
perlahan, dan fokus disertai gestur-gestur tertentu untuk meperkuat. Jokowipun
walau kelihatan ndeso, tetapi juga terampil dalam menghadapi media. Supel, apa

adanya, dan tetap mempertahankan khas kendesoannya. Sungguh menarik


sekali.
3. Tidak bisa disangkal jika SBY dan Jokowi memiliki wibawa dan
kharisma tersendiri. Dimanapun mereka berada, mereka pasti selalu dihormati
karena wibawa yang mereka miliki. Hal ini terwujud jelas dari tingkah laku
mereka, seperti cara mereka berjalan atau berbicara. Bahkan Ruhut si Raja
Minyak saja sangat mengidolakan SBY.
4. Sekarang hobinya samablusukan. Entah siapa meniru siapa, walaupun
kadang saya tertawa sendiri ketika Jokowi masuk gorong-gorong, emang mau
diapain gorong-gorong itu. BTW, kita harus apresiasi cara memimpinnya.
5. 100 hari pertama mereka disambut peristiwa dahsyat. SBY ketika
Oktober dilantik, lalu di bulan Desember terjadi tsunami Aceh. Begitu pula
Jokowi, baru aja tiga bulanan menjabat sudah diuji cobaan berat. Banjir Jakarta
yang termasuk banjir terbesar. Bunderan HI ketika tanggal 1 Januari 2013
dipenuhi orang yang berpesta menyambut tahun baru eh di tanggal 17 Januari
2013, berubah menjadi lautan. Padahal bunderan HI jarang kena banjir.
6. Sama-sama berjanji 100 hari melakukan langkah-langkah strategis dan
sama-sama belum berhasil (pendapat pribadi). Banyak pengamat menilai seratus
hari pemerintahan SBY telah gagal. Kritik pedas dilontarkan, karena selama
seratus hari pemernitahannya tidak memberikan fondasi dan terobosa yang jelas
untuk lima tahun kedepan. Untuk Jokowi saya kira tidak bisa dikatakan gagal,
karena memang sebagian sudah dilaksanakan walaupun belum menyeluruh. Janji
pelayanan kesehatan dan pendidikan yang layak, pemakain seragam daerah,
kebijakan Mass Rapid Transit (MRT), mengatasi kemacetan merupakan beberapa
program 100 hari. Apalagi belum sempat bekerja banyak banjir Jakarta membuat
perhatian fokus di banjir. Semoga kedepan semakin membaik.
Sekarang tentang perbedaan SBY dan Jokowi
1. Postur badan pastinya banyak bedanya. Walaupun sama-sama tinggi,
tapi satu endut satunya kurus.

2. SBY dalam berkomunikasi pandai dalam pemilihan kata, Jokowi apa


adanya.
3. SBY mampu menyandera dan mengarahkan partainya, Jokowi
sepertinya belum mampu mengarahkan partai pendukungnya.
4. SBY kemana-mana sama si Ibu, Jokowi lebih senang sendiri.1
Tentunya masih banyak persamaan dan perbedaan ini cuma jadi bahan
selingan aja. Yang setuju silahkan yang tidak setuju tidak boleh marah.
Setiap pemimpin memiliki gaya dan aturan yang berbeda. Ada yang fokus
pada sistem dan ada juga yang langsung mencari dan membuktikan kebijakan dan
sistem yang dibuat oleh pemerintah langsung kepada masyarakat atau yang sering
disebut blusukan.
Pada kedua pemimpin negara dan daerah ini juga memiliki perbedaan
dalam cara dan gaya memimpinnya. Presiden SBY dengan gayanya yang khas
dengan mengunjungi masyarakat langsung hingga kepelosok daerah. Ini
dilakukan bukan hanya pada saat dia menjabat presiden, tetapi ketika beliau masih
menjabat menjadi Dandim di TNI juga melakukan hal yang sama dengan
meninjau langsung keadaan masyarakat. Selama masa jabatannya menjadi
presiden, sudah tak terhitung SBY mengunjungi rakyat secara langsung. Apakah
dalam kunjungan atau Safari Ramadhan, kunjungan kerja ke daerah, mengunjungi
korban bencana seperti Aceh, Jogya, di Papua, di Miangas dan hampir seluruh
daerah di tanah air.
Gubernur DKI Jakarta, Jokowi juga melakukan hal yang sama dengan apa
yang dilakukan oleh SBY. Jokowi ketika menjabat sebagai walikota solo juga
sering melakukan blusukan langsung kepada rakyatnya. Sehingga warga solo
sangat berat untuk melepas sosok Jokowi ketika hasil KPU menyatakan bahwa
Jokowi memenangkan perolehan suara dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta.
Pada pemerintahannya yang baru sekarang juga Jokowi sangat intens melakukan
tindakan blusukan ke masyarakat.

1 http://politik.kompasiana.com/2013/01/23/persamaan-dan-perbedaan-sby-denganjokowi-522191.html di askes pada tanggal 27 maret 2015

Perbedaan dari kedua pemerintahan ini adalah SBY melakukan kunjungan


langsung kemasyarakat bukan hanya ketika dia memerintah, tetapi sebelum
menjadi presiden beliau juga telah sering melakukannya. Sedangkan Jokowi
melakukannya ketika dia menjadi pejabat pemerintahan sebagai walikota maupun
Gubernur. Tetapi sudah sepatutnya semua pemimpin daerah maupun pusat
melakukan tindakan seperti ini, agar mereka mengetahui keadaan masyarakat
secara langsung dan melihat langsung apakah kibijakan dan sistem yang dibuat
berjalan dengan lancar dan efektif.Berikut perbedaan sistem pemerintahan antara
SBY dengan JOKOWI.
Sistem Pemerintahan SBY
Kelebihan dan Kekurangan pada masa Pemerintahan SBY
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih dikenal paling sering
melakukan curhatan-curhatan di hadapan publik. Sebut saja saat dirinya diancam
teroris, gaji tidak naik selama sekian tahun dan sebagainya. Dalam pemberantasan
Korupsi di Era SBY Kinerja pemerintah dalam pemberantasan kasus korupsi
masih belum maksimal. Dalam lima tahun terakhir, masih banyak ditemukan
kebijakan yang justru melemahkan upaya pemberantasan korupsi. Dengan kata
lain, prestasi eksekutif di bawah kepemimpinan Susilo Bambang YudhoyonoJusuf Kalla (SBY-JK) dalam memberantas korupsi masih jauh dari ekspektasi
publik.
Tidak sedikit kebijakan pemerintah yang justru menggembosi langkah
pemberantasan korupsi itu sendiri. Lihat saja dari pernyataan yang dikeluarkan
oleh Presiden SBY mengenai kewenangan KPK yang dianggapnya terlalu besar,
upaya BPKP mengaudit KPK, serta rivalitas KPK vs Polri, terang Zainal Arifin
Mochtar, Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) Fakultas Hukum (FH) UGM,
Senin (7/9).
Disebutkan Zainal, selain adanya upaya melemahkan KPK oleh
pemerintah, masih terdapat beberapa catatan atas kebijakan pemerintah dalam
upaya pemberantasan korupsi selama lima tahun terakhir. Pertama, kebijakan
Presiden yang berdampak pada pemberantasan korupsi, antara lain, Inpres No. 5
Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, Keppres No. 11 Tahun

2005 tentang Pembentukan Timtas Tipikor, dan PP No. 37 Tahun 2006 tentang
Kenaikan Tunjangan Anggota DPRD.
Inpres No. 5 Tahun 2004 dan Keppres No. 11 Tahun 2005, lanjutnya,
merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas pemberantasan korupsi. Namun
dalam pelaksanaan, keduanya tidak berjalan efektif dan masih meninggalkan
banyak catatan. Sementara itu, PP No. 37 Tahun 2006 justru merupakan blunder
kebijakan yang ditempuh pemerintah. Dengan keluarnya PP tersebut, potensi
terjadinya gejala korupsi, khususnya bagi anggota DPRD, menjadi semakin besar,
tambahnya.
Kedua, peran pemerintah dalam pembentukan undang-undang anti
korupsi. Dalam penyusunan RUU Pengadilan Tipikor, pemerintah terbukti
lamban. Selain itu, juga pada UU No. 3 Tahun 2009 tentang MA. Komitmen
pemerintah dalam hal ini patut dipertanyakan sebab isu paling krusial tentang
perpanjangan usia hakim agung justru diusulkan oleh pemerintah.
Terakhir, penyelesaian adat atas dugaan kasus korupsi. Setidak-tidaknya
terdapat dua kasus yang disoroti, yakni kasus Amien Rais vs Presiden SBY dan
Yusril Ihza Mahendra vs Taufiequrrahman Ruki. Dalam konteks ini, Presiden
terlihat mengintervensi proses hukum yang semestinya dapat dijalankan sesuai
dengan prosedur.
Lanjut, belakangan curhat juga mulai dilakukan Gubernur DKI Joko
Widodo (Jokowi). Namun, jika dilihat-lihat curhat keduanya berbeda, terutama
soal isi pesan.2
Berikut beda curhat SBY
1. SBY curhat disebut seperti kerbau
Presiden SBY pernah panas dengan aksi demonstrasi 28 Januari 2010 di
Jakarta. Pasalnya, dalam unjuk rasa 100 pemerintahan SBY itu ada seekor kerbau
yang digiring dan dinamai sebagai 'SiBuYa', berikut dengan gambar sketsa
Presiden SBY.

2 http://www.merdeka.com/politik/empat-beda-curhat-sby-dan-jokowi/jokowi-takmasalah-tak-digaji.html di askes pada tanggal 25 maret 2015

Tersinggung, SBY menyampaikan keluh kesahnya saat pertemuan dengan


menteri dan gubernur se-Indonesia di Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Bar, 2
Februari 2010.
"Di sana ada yang teriak-teriak SBY maling, Boediono maling, menterimenteri maling. Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang,
SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita
bahas," kata SBY dengan raut muka sangat serius ketika itu.
SBY mengimbau agar demokrasi yang merupakan bagian dari reformasi
dilakukan dengan bermartabat.
2. SBY curhat 7 tahun gaji tak naik
Tak hanya soal 'kerbau', Presiden SBY juga pernah curhat soal gajinya
yang tidak naik selama tujuh tahun terakhir. Curhat itu disampaikan SBY pada
Rapim TNI dan Polri di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat, 21
Januari 2011.
"Sampaikan ke seluruh jajaran TNI/Polri, ini tahun ke-6 atau ke-7 gaji
Presiden belum naik," kata SBY disambut tawa para perwira TNI-Polri yang
hadir. Rupanya SBY curhat soal gajinya untuk memulai pernyataan bahwa
pemerintah memperhatikan kesejahteraan para prajurit.
"Soal kesejahteraan prajurit dan anggota Polri, ini bukan retorika dan janjijanji kosong, bukan kebohongan. Tiap tahun kita naikkan gaji dan lain-lain.
Renumerasi sudah diberikan untuk meningkatkan kerja dan prestasi," imbuh SBY.
Namun, namanya komunikasi publik. Isu curhat tak naik gaji itu pun
bergulir. Banyak pengamat justru menilai dengan curhat seperti itu, SBY
sebenarnya ingin naik gaji.
3. Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (RUU
Pengadilan TIPIKOR), Belum Rampung.
4. Kekuatan Militer (TNI) yang semakin RAPUH (baik dr sarana dan prasarana
maupun kesejahteraan prajurit).
5. Masalah LUMPUR LAPINDO di Sidoarjo - Jawa Timur, BELUM SELESAI.
6. Pungli yang masih MERAJALELA.

7. Perhatian pemerintah akan nasib TKI dan perlindungan Hukum bagi mereka di
Luar Negeri.
8. Permasalahan HAM yg belum tuntas.
9. SBY kerap mempraktikkan konsep neoliberal yang bersikap kooperatif dengan
pihak kreditor dan lebih ramah pada investor asing. SBY juga suka menumpuk
utang negara, memberi konsesi-konsesi tambang mineral dan migas pada investor
asing, serta tunduk pada Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa untuk membuka
pasar domestik.
"Bahkan SBY lebih suka mengurus partai dari pada rakyatnya yang terus
menjadi korban dari agenda-agenda neoliberalnya," kata Dani di Jakarta, Senin
(8/4/2013).
10. Kepastian hukum belum sepenuhnya terwujud,
11. Masih maraknya korupsi,
12. Birokrasi yang dianggap belum mencerminkan good governance,
13. Kerusakan lingkungan hidup, infrastruktur yang masih kurang memadai,
14. Serta biaya politik yang masih tinggi, terutama dalam pilkada.
15. Presiden SBY juga mencatat gangguan terhadap kerukunan dan toleransi serta
sejumlah aksi kekerasan yang mengganggu keamanan dan ketertiban publik masih
kerap dijumpai.
Klaim keberhasilan SBY dalam berbagai iklan kampanye :
Klaim 1 : Harga BBM diturunkan hingga 3 kali (2008-2009), pertama kali
sepanjang sejarah.
Artinya dalam sejarah harga BBM, untuk pertama kali sepanjang sejarah
Indonesia, pemerintah menjual BBM dengan termahal yakni Rp 6000 per liter.
Selanjutnya tidak hanya itu, pada Desember 2008, untuk pertama kalinya
sepanjang sejarah Indonesia, harga premium yang ditetapkan pemerintah lebih
tinggi daripada harga premium di Amerika Serikat. Pada minggu I dan II, harga
BBM Indonesia adalah Rp 5500 padahal di AS dibawah Rp 5335 per liter. Dan
pada minggu III dan IV, harga BBM Indonesia Rp 5000 padahal di AS dibawah
Rp 4892 per liter.

Klaim 2 : Perekonomian terus tumbuh di atas 6% pertahun, tertinggi setelah orde


baru.
Artinya pertumbuhan diatas 6% hanya terjadi pada tahun 2007 dan 2008,
sedangkan pada tahun 2005 (5.6%), 2006 (5.5%), dan 2008 dibawah 5%. Jadi,
pernyataan perekonomian terus tumbuh diatas 6% merupakan suatu kebohongan
publik. Padahal dalam kampanye pilpres 2004, SBY memiliki janji angin surga
yang dituangkan dalam RPJM bahwa pertumbuhan ekonomi dari tahun 20052009 adalah 5.5%, 6.1%, 6.7%, 7.2% dan 7.6%. Merujuk pada janji yang tersebut,
maka fakta pertumbuhan yang rata-rata dibawah 6% selama 5 tahun merupakan
kegagalan janji angin surga. Pertumbuhan rata-rata dibawah 6% per tahun jauh
dari kegagalan menahan inflasi yang mencapai rata-rata 10.3% per tahun.3
Sistem Pemerintahn Jokowi
Dalam mengatasi kemacetan Kinerja pemerintah dalam pemberantasan
kasus korupsi masih belum maksimal. Dalam lima tahun terakhir, masih banyak
ditemukan kebijakan yang justru melemahkan upaya pemberantasan korupsi.
Dengan kata lain, prestasi eksekutif di bawah kepemimpinan Susilo Bambang
Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) dalam memberantas korupsi masih jauh dari
ekspektasi publik.
Tidak sedikit kebijakan pemerintah yang justru menggembosi langkah
pemberantasan korupsi itu sendiri. Lihat saja dari pernyataan yang dikeluarkan
oleh Presiden SBY mengenai kewenangan KPK yang dianggapnya terlalu besar,
upaya BPKP mengaudit KPK, serta rivalitas KPK vs Polri, terang Zainal Arifin
Mochtar, Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) Fakultas Hukum (FH) UGM,
Senin (7/9).
Disebutkan Zainal, selain adanya upaya melemahkan KPK oleh
pemerintah, masih terdapat beberapa catatan atas kebijakan pemerintah dalam
upaya pemberantasan korupsi selama lima tahun terakhir. Pertama, kebijakan
Presiden yang berdampak pada pemberantasan korupsi, antara lain, Inpres No. 5
Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, Keppres No. 11 Tahun
3 http://news.liputan6.com/read/556076/perbedaan-jokowi-sby-soal-utang di askes pada
tanggal 25 maret 2015

2005 tentang Pembentukan Timtas Tipikor, dan PP No. 37 Tahun 2006 tentang
Kenaikan Tunjangan Anggota DPRD.
Inpres No. 5 Tahun 2004 dan Keppres No. 11 Tahun 2005, lanjutnya,
merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas pemberantasan korupsi. Namun
dalam pelaksanaan, keduanya tidak berjalan efektif dan masih meninggalkan
banyak catatan. Sementara itu, PP No. 37 Tahun 2006 justru merupakan blunder
kebijakan yang ditempuh pemerintah. Dengan keluarnya PP tersebut, potensi
terjadinya gejala korupsi, khususnya bagi anggota DPRD, menjadi semakin besar,
tambahnya.
Kedua, peran pemerintah dalam pembentukan undang-undang anti
korupsi. Dalam penyusunan RUU Pengadilan Tipikor, pemerintah terbukti
lamban. Selain itu, juga pada UU No. 3 Tahun 2009 tentang MA. Komitmen
pemerintah dalam hal ini patut dipertanyakan sebab isu paling krusial tentang
perpanjangan usia hakim agung justru diusulkan oleh pemerintah.
Terakhir, penyelesaian adat atas dugaan kasus korupsi. Setidak-tidaknya
terdapat dua kasus yang disoroti, yakni kasus Amien Rais vs Presiden SBY dan
Yusril Ihza Mahendra vs Taufiequrrahman Ruki. Dalam konteks ini, Presiden
terlihat mengintervensi proses hukum yang semestinya dapat dijalankan sesuai
dengan prosedur.
1. Jokowi curhat disebut bodoh
Kemarin, di hadapan ribuan civitas akademika Universitas Pelita Harapan
(UPH) Jokowi curhat soal penampilan fisiknya yang kerap di-bully di media
online. Menurut Jokowi, banyak orang yang menyebut dirinya berwajah ndeso
(kampungan) dan bodoh.
"Kalau pemimpin enggak tahan banting berat juga. Saya jadi gubernur ini
sudah banyak yang ngomongin di online, di manapun banyak. Gubernur ini
bodoh. Wajahnya ndeso. Gubernur ini kurus kering, kurang sehat, kata Jokowi
kemarin dalam kuliah umum soal kepemimpinan yang visioner.
Meski disebut ndeso dan bodoh, Jokowi mengaku santai. Sebagai seorang
pemimpin, dia harus punya ketahanan diri jika diejek. Tidak hanya itu, Jokowi
juga akan mencari tahu apakah ejekan itu bersumber dari kekeliruannya
sebagai pemimpin.

"Ya enggak apa-apa. Sampaikan saja memang apa adanya seperti itu.
Harus punya ketahanan diri kalau diejek. Kalau kita keliru ya pasti di Twitter,
FB, online, semua mem-bully kita dan itu biasa," jelasnya.
2. Aksi turun lapangannya (blusukan).
3. Sidak-sidaknya ke kantor camat dan lurah.
4. Perintah penggunaan pakaian Betawi untuk seragam PNS.
5. Rencana-rencana besar yang utopis seperti deep tunnel, mono rail, dan
sejenisnya.
6. Bagi-bagi kartu pintar dan kartu sehat.