You are on page 1of 8

TEKNIK PREPARASI SALURAN AKAR

Yolanda Kartika Asmarani


NIM. 10611070
1. Teknik Standar
Pemakaian alat ini dimulai dari yang kecil berangsur membesar, preparasi
sampai ke titik acuan. Hanya sedikit saluran akar yang bentuknya konus (kerucut)
sehingga pengisian saluran akar yang bisa dilakukan hanyalah dengan kerucut
tunggal (single-cone). Pada akar yang bengkok, teknik ini juga sukar dilakukan
(Tarigan, 2006).
Preparasi standar diindikasikan bagi obturasi dengan kon perak tetapi juga
dapat digunakan untuk gutaperca, walaupun harus dengan berhati-hati, terutama
pada akar yang bengkok. Hasil akhir yang diinginkan adalah terciptanya preparasi
yang memiliki ukuran, bentuk dan ketirusan yang sama dengan instrumen standar
(Walton dan Torabinejad, 2008).

Gambar 1. Teknik standar (Tarigan, 2006).


Indikasi dari teknik konvensional adalah teknik preparasi saluran akar yang
lurus dan telah tumbuh sempurna. Teknik ini dilakukan dengan ketentuan bahwa
preparasi lebih mengikuti garis lurus dengan menggunakan alat yang kecil lalu
yang besar secara berurutan dengan panjang kerja tetap sama untuk mencegah
terjadinya step atau terdorongnya jaringan nekrotik ke apikal. Preparasi saluran
akar dapat menggunakan file tipe K-flex dengan gerakan diputar dan ditarik
sedangkan reamer hanya dipakai seperempat sampai setengah putaran dalam satu
gerakan preparasi. Pada reamer dan file dibuatkan stopper untuk pembatas sebagai
patokan panjang kerja. Selama preparasi setiap pergantian nomor jarum harus
dilakukan irigasi dengan H2O2 3% dan aquadest steril pada saluran akar yang

bertujuan untuk membersihkan sisa jaringan nekrotik maupun serbuk dentin yang
terasah. Bila terjadi penyumbatan preparasi dapat diulang dengan menggunakan
jarum yang lebih kecil dan dapat diberi larutan untuk mengatasi penyumbatan
berupa larutan largal, EDTA atau glyde. Preparasi saluran akar dianggap selesai
bila bagian dari dentin yang terinfeksi telah terambil dan saluran akar cukup lebar
untuk tahap pengisian saluran akar (Sumadi, 2003).
2. Preparasi Konus
Agar saluran akar dapat diisi dengan teknik kondensasi lateral atau
kondensasi vertikal, preparasi standart diatas harus diperhatikan besar sehingga
saluran akar berbentuk kerucut. Dalam hal ini, dapat digunakan bur Gates
(Tarigan, 2006).
3. Teknik Step-back
Teknik ini merupakan modifikasi dari teknik standar. Dilakukan preparasi
dari apeks ke bagian koronal. Setelah ISO yang dikehendaki telah tercapai pada
preparasi, dilakukan rekapitulasi. Pada teknik ini didapat bentuk pengerucutan
saluran akar yang baik, jarang terjadi perforasi atau terbentuknya step pada
saluran akar. Setelah preparasi kerucut selesai, dapat dilanjutkan preparasi dengan
menggunakan reamer yang dimulai lagi dari nomor kecil ke besar, dilakukan dari
apeks. Hal ini akan mempermudah irigasi (Tarigan, 2006). Prinsip metode Stepback dapat digunakan untuk sebagian besar saluran akar, antara lain saluran akar
lurus, saluran akar bengkok, saluran akar dengan pembengkokan sempit, saluran
akar dengan pembengkokan ganda, saluran akar yang mengalami dilaserasi
(Harty, 1992).

Gambar 2. Teknik Step-back (Tarigan, 2006).

Indikasi teknik ini biasanya saluran akar yang tumbuh lengkap, bengkok,
dan sempit pada 1/3 apikal. Preparasi dengan teknik step-back dapat memberikan
kemudahan dalam preparasi saluran akar serta mendapatkan hasil yang baik. Pada
saat preparasi saluran akar dapat dilakukan gerakan pull and push motion dengan
menggunakan file tipe K-flex atau NiTi file yang lebih fleksibel atau lentur. Tahap
pertama dalam mempreparasi saluran akar dengan menggunakan jarum dari yang
terkecil no. 15 sampai ke no. 25 sesuai panjang kerja pada daerah sepertiga apikal,
lalu dilanjutkan pada daerah dua pertiga koronal dengan diameter alat semakin
besar serta panjang kerja semakin pendek. Setiap pergantian jarum perlu
dilakukan pengontrolan panjang kerja dengan file no. 25 sebagai Master Apical
File (MAF) dengan panjang kerja dikurangi 1 mm untuk jarum no. 30, 2 mm
untuk jarum no. 35 dan seterusnya serta untuk mencegah terjadinya penyumbatan
saluran akar karena serbuk dentin yang terasah (Sumadi, 2003).
4. Teknik Balance-force
Indikasi dari teknik ini dimana saluran akar bengkok dan sudah tumbuh
sempurna. Pada teknik ini preparasi dapat menggunakan file tipe R-Flex atau NiTi
Flex no. 10 dengan gerakan steam wending , yaitu file diputar searah jarum jam
kemudian diikuti gerakan setengah putaran berlawanan arah jarum jam. Dilakukan
dari arah servikal sampai ke apikal dengan menggunakan file dengan penampang
berbentuk segitiga dengan ujung file ditumpulkan dan dibuat parabolik tanpa
cutting edge sehingga tidak terjadi transportasi. Selanjutnya saluran akar
dilebarkan dengan file no. 25 secara berurutan sampai dengan file no. 35 sesuai
panjang kerja. Pada 2/3 koronal dilakukan preparasi dengan Gates Glidden Drill
(GGD) dan setiap pergantian jarum dapat dilakukan irigasi untuk mencegah
terjadinya perforasi dan pecahnya dinding saluran akar (Grossman, et.al, 1995).
5. Teknik Step-down
Teknik ini dilakukan pada daerah saluran akar dekat mahkota sebelum
preparasi pada sepertiga apikal dilakukan. Teknik ini dilakukan untuk
mempreparasi saluran akar gigi molar yang bengkok. Alat yang digunakan pada
teknik preparasi Step-down selain file adalag bur Gates-Glidden. Preparasi dapat
dibagi menadi 3 proses yaitu akses koronal, akses radikular dan akses apikal
dimana akses koronal dan radikular digunakan untuk memperoleh arah masuk

yang lurus ke sepertiga apikal. Akses koronal dibuat dengan menggunakan bur
bulat. Akses radikular dibuat menggunakan file headstoem dan bur GGD nomor 2
dan 3. Akses apikal dibersihkan dengan menggunakan file-K no.15 atau no.20 dan
untuk menghilangkan step digunakan file-K no.25 yang merupakan file apeks
utama (Kartini, 2000).

Gambar 3. Preparasi Step-down (Kartini, 2000).


6. Teknik Crown-down Pressureless
Mula-mula file yang halus dimasukkan ke kanal sampai seperti saluran akar
dan bagian servikal diperlebar. Kemudian file ISO-35, panjang 16 mm
dimasukkan ke dalam kanal. Pada kedalaman maksimal, dilakukan 2 kali putaran
tanpa menekan apeks. Ulangi lagi dengan file halus yang masuk sampai ke apeks
sehingga panjang kerja dapat dicapai. Ganti dengan ISO-40 dari koronal tanpa
tekanan sampai masuk kedalaman maksimal. Teknik tersebut dilakukan berulang
sampai besar preparasi apeks yang diinginkan (Tarigan, 2006).
Teknik ini hampir sama dengan teknik step-back, yaitu saluran akar tumbuh
lengkap dan bengkok. Preparasi pada teknik ini dapat menggunakan instrument
nikel-titanium yang bermanfaat pada saluran akar yang kecil dan bengkok pada
gigi molar rahang atas dan rahang bawah sehingga kemungkinan terjadinya
ekstruksi dentin kejaringan periapikal dapat dikurangi. Selain itu teknik tersebut
juga akan mencegah terjadinya kesulitan berkaitan dengan biokompabilitas
penutupan pada apikal yang mengalami penyempitan (Sumadi, 2003).

Gambar 4. Teknik Crown-down Pressureless (Kartini, 2000).


7. Teknik Double-flare
Teknik ini merupakan kombinasi antara teknik step-down dan step-back.
Dimulai dengan alat yang besar, saluran akar dipreparasi dengan ISO yang makin
membesar dari arah koronal ke apikal, sampai dapat digunakan alat halus dengan
panjang panjang kerja. Sebagian preparasi ini dapat dilakukan dengan bur Gates.
Setelah bagian apikal dengan ISO yang diinginkan dapat dicapai, kontinuitas
saluran akar diperbaiki lagi dengan teknik step-back (Tarigan, 2006).

Gambar 5. Teknik Preparasi Double-flare (Tarigan, 2006).


8. Preparasi Antikurvatura
Pelebaran saluran akar diarahkan ke bagian luar kurvatura sehingga bagian
dalam kurvatura akan terselamatkan (Tarigan, 2006).

Gambar 6. Preparasi antikurvatura (Tarigan, 2006).


9. Preparasi Sirkumferensial
Teknik ini dilakukan dengan tekanan yang sama pada seluruh dinding
saluran akar. Preparasi ini hanya dapat dilakukan pada akar yang lurus (Tarigan,
2006).
Daftar Pustaka
Grossman, Louis I., Oliet, & Del Rio CE. 1995. Endodontics Practice 11th Ed: lea
and Febijer.
Kartini, D. 2000. Preparasi Saluran Akar dengan Beberapa Sistem Manual dan
Sistem Masinal. [Skripsi]. Medan: Fakultas Kedokteran Gigi Sumatera
Utara.
Sumadi. 2003. Perawatan Pulpa Gigi. Jakarta: EGC.
Tarigan, Rasinta. 2006. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti). Jakarta: EGC. Hal:
114-118
Walton R, Torabinejad M. 2008. Prinsip & Praktik: Ilmu Endodonsia Edisi 3.
Jakarta: EGC. Hal: 236.

PENENTUAN MASTER APICAL FILE (MAF)


Yolanda Kartika Asmarani
NIM. 10611070
Kirgi apeks master (KAM) atau master apical file (MAF) adalah kirgi
terbesar yang bisa agak sesak pada ujung panjang kerjanya. KAM ditentukan
dengan menempatkan kirgi secara pasif dan bertahap dengan ukuran sepanjang
panjang kerja hingga akhirnya diperoleh kirgi terbesar sepanjang panjang kerja

yang ujungnya terasa sedikit sesak. Penentuan ini dilakukan setelah akses lurus
diperoleh. Akses lurus akan memungkinkan kirgi dapat dimasukkan tanpa tertahan
dari kamar pulpa sampai ke daerah mulai melengkungnya saluran akar, sehingga
menghilangkan gangguan sejak serviks sampai ke konstriksi apeks (Walton dan
Torabinejad, 2008).
Daftar Pustaka
Walton R, Torabinejad M. 2008. Prinsip & Praktik: Ilmu Endodonsia Edisi 3.
Jakarta: EGC. Hal: 236.

TEKNIK PENGISIAN SALURAN AKAR


Yolanda Kartika Asmarani
NIM. 10611070
1. Teknik single cone
Teknik ini dilakukan dengan memasuk kan kon gutta point tunggal ke dalam
saluran akar dengan ukuran sesuai dengan diameter preparasinya. Untuk
menambah adaptasi gutta point dan kerapatannya terhadap dinding saluran akar
ditambahkan semen saluran akar (sealer)
2. Teknik kondensasi
Teknik ini dilakukan dengan memasukkan guttap point ke dalam saluran
akar, kemudian dilakukan kondensasi atau penekanan kearah lateral maupun
kearah vertikal. Indikasi teknik ini jika bentuk saluran akarnya oval atau tidak
teratur.
a. Teknik kondensasi lateral
Saluran akar diulasi semen dan guttap point utama (#25) dimasukkan
sesuai dengan panjang preparasi, kemudian ditekan dengan spreader ke arah

lateral. Dengan cara yang sama dimasukkan guttap point tambahan (lebih
kecil dari spreader) hingga seluruh saluran akar terisi sempurna.
b. Teknik kondensasi vertikal
Saluran akar diulasi semen dan guttap point utama dimasukkan sesuai
dengan panjang preparasi, kemudian guttap point dipanaskan ditekan
dengan plugger ke arah vertikal ke bawah. Dengan cara yang sama Guttap
percha tambahan (dibuat seperti bola) dimasukkan dan ditekan hingga
seluruh saluran akar terisi sempurna.
3. Teknik kloropercha / eucapercha
Teknik ini dilakukan dengan melunakkan ujung guttap point utama dengan
kloroform atau eucalyptol dan dimasukkan ke dalam saluran akar hingga guttap
point akan berubah bentuk sesuai dengan saluran akarnya terutama daerah apikal.
Kon dikeluarkan lagi untuk menguapkan bahan pelarutnya. Setelah saluran akar
diulasi semen guttap point dimasukkan ke dalam saluran aka r dan ditekan hingga
seluruh saluran akar terisi sempurna.
4. Teknik Termokompaksi
Teknik ini dilakukan dengan menggunakan alat McSpadden Compactor atau
Engine Plugger yaitu alat yang mirip file tipe H (Hedstrom). Akibat putaran dan
gesekan dengan dinding saluran akar mampu melunakkan guttap point dan
mendorong ke arah apikal
5. Teknik termoplastis
Teknik ini dilakukan dengan menggunakan alat Ultrafil atau Obtura, yaitu
alat yang bentuknya mirip pistol dan mampu melunakkan guttap point serta
mendorong ke dalam sakuran akar ke arah apikal.
Daftar Pustaka
Grossman, l.i., Oliet, s. & Del rio, c. e. 1988. Endodontic Practice. 11 th ed. Lea
and febiger.
Harty, F. 1995. Endodonti Klinis. Cetakan ke 3. Jakarta: Hipokrates
Ingle, J & Bakland, L. 1994. Endodontics. 4th ed. Philadelphia. Lea and febiger.
Walton, R & Torabinejad, M. 1998. Prinsip & Praktek Ilmu Endodonsi. Cetakan
ke I. Jakarta: EGC