You are on page 1of 18

PENGGUNAAN TUMBUHAN AKALIPA MERAH SEBAGAI

PEREDUKSI PENCEMARAN UDARA YANG DI SEBABKAN OLEH


POLUTAN Nox
Siska Shelvia Deviani
Jurusan Kimia-FMIPA-UNNES
*email: siskashelvia31@gmail.com
Abstrak
Kualitas udara sangat dipengaruhi oleh besar dan jenis sumber pencemar yang
ada seperti dari kegiatan industri, kegiatan transportasi dan lain-lain. Pencemar
udara yang terjadi sangat ditentukan oleh kualitas bahan bakar yang digunakan,
teknologi serta pengawasan yang dilakukan. Lebih dari 70% pencemaran udara
di kota-kora besar disebabkan oleh kendaraan bermotor, sedangkan 30% sumber
pencemaran berasal dari kegiatan industri, rumah tangga dan lain-lain. Pada
study kasus di dalam reaktor tanaman terdapat reduksi udara ambien Nox.
Polutan udara influent Nox sebesar 0,053 ppm, polutan udara effluent Nox
sebesar 0,033 ppm, sehingga terdapat reduksi polutan Nox sebesar 0,02 ppm oleh
akalipa merah.
Kata Kunci : Tanaman, Pereduksi, pemcemaran udara, Nox, Akalipa Merah
Abstract
Air quality in influenced by the amount and type of pollutant sources such as from
industrial activities, transportation activities and others. Air pollutants that occur
largely determined by the quality of fuel used, technology and surveillance
carried out. More than 70% air pollution in large cities caused by motor vehicles
(mobile sources), while 30% of the source of pollution comes from industrial
activities, households, and others. The case study in the reactor plants also
contained the reduction of Nox. Air pollutans of Nox influent 0,053 ppm, effluent
Nox 0,033 ppm, so that there is a reduction of 0,02 ppm Nox pollutants by
akalipa.
Kata Kunci : Plants, Reducer, air pollution, Nox, red akalipa

PENDAHULUAN
Kota Semarang dan Kota Surabaya sebagai pusat pemerintahan,
perindustrian dan perdagangan merupakan kota dengan aktivitas masyarakat yang
tinggi. Dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat, maka
penggunaan kendaraan bermotor untuk memperlancar aktivitas pun tidak dapat
dihindarkan. Berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jawa
Tengah yang penulis peroleh, menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor di

Kota Semarang pada tahun 2009 mencapai 8.593.911 unit, yang terdiri atas
7.421.603 kendaraan roda dua dan 1.172.308 kendaraan roda empat. Data Oktober
2010, jumlah tersebut bertambah menjadi 9.405.924 unit kendaraan, dengan
rincian 8.156.429 kendaraan roda dua dan 1.249.495 kendaraan roda empat.

Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan, polusi udara dari kendaraan


bermotor bensin (spark ignition engine) menyumbang 70 persen karbon
monoksida (CO), 100 persen plumbum (Pb), 60 persen hidrokarbon (HC), dan 60
persen oksida nitrogen (NOx). Bahkan, beberapa daerah yang tinggi kepadatan
lalu lintasnya menunjukkan bahan pencemar seperti Pb, ozon (O), dan CO telah
melampaui ambang batas yang ditetapkan dalam PP Nomor 41 Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Suparwoko dan Firdaus (2007) dalam
penelitiannya menyampaikan langkah strategis yang dapat dilakukan untuk
memecahkan permasalahan tersebut adalah dengan banyak menciptakan sabuk
hijau di jalur-jalur transportasi padat, khususnya jenis pohon/tumbuhan tertentu
yang memiliki kemampuan untuk menyerap cemaran udara.

Untuk mengurangi semakin tingginya bahan pencemar yang dihasilkan kendaraan


bermotor, perlu adanya pohon-pohon yang berfungsi sebagai penyerap bahan
pencemar dan debu di udara yang dihasilkan kendaraan bermotor. Pohon sering
disebut-sebut sebagai paru-paru kota. Sejumlah pohon berdaun lebar diyakini
dapat menyerap bahan-bahan pencemar udara. Sel-sel daun berfungsi menangkap
karbon dioksida dan timbal untuk kemudian diolah dalam sistem fotosintesis.
Proses fotosintesis mampu mengubah karbondioksida (CO2) yang dikeluarkan
dari sistem pernapasan menjadi oksigen yang dibutuhkan paru-paru. Disamping
pohon-pohon yang mampu menyerap polutan, tanaman Pisang hias, Puring,
Akalipa, Batavia dan Bugenvil juga dapat direkomendasikan untuk elemen taman
kota karena toleran dan cukup toleran terhadap polutan (Nugrahani dan
Sukartiningrum 2008).

Latar belakang tersebut di atas perlu kiranya mengetahui peranan tanaman di


jalan-jalan Kota Semarang dan Kota Surabaya dilihat dari kualitas dan

kuantitasnya. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat digunakan juga


sebagai pemantau tentang jenis tanaman serta jumlah tanaman yang sesuai dengan
kondisi lingkungan penelitian. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini
adalah untuk mengetahui peranan tanaman di jalan-jalan Kota Semarang dan Kota
Surabaya dalam menurunkan kadar Nox.

Kotornya udara Semarang dibenarkan Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran


Udara, Limbah Padat dan Bahan Berbahaya serta Beracun, BPLH Jawa Tengah.
Hal tersebut merujuk hasil pengukuran kualitas udara yang dilakukan di kawasan
padat Semarang. Pada kawasan padat di Jalan Kaligawe, sekitar Terminal
Terboyo kadar debu yang diukur menunjukkan 299, 8 per gram nano kubik,
padahal ambang batas normalnya 230. Ambang batas itu sesuai Keputusan
Gubernur no 8 tahun 2001 terkait kualitas udara di Provinsi Jawa Tengah. Itu
artinya kualitas udara di Semarang kotor. Upaya membersihkan kualitas udara di
Semarang harus terus dilakukan, misalnya dengan mewajibkan menanam pohon
dimulai dari lingkungan keluarga. Termasuk program car free day yang
diterapkan setiap sepekan sekali (Riani 2011).

Vegetasi atau komunitas tumbuhan yang tersedia di alam, merupakan solusi yang
paling menjanjikan untuk mengatasi pencemaran udara. Oleh karena itu,
melakukan aksi penghijauan harus segera dilakukan agar pencemaran udara tidak
semakin parah. Semua tumbuhan hijau akan mengubah gas CO2 menjadi O2
melalui proses fontosistesis. Namun selain berhijau daun, pemilihan jenis tanaman
penghijauan seyogyanya juga mempertimbangkan fungsinya sebagai peneduh
yang dapat memperbaiki iklim mikro, dan juga dapat berfungsi sebagai
barrier/penahan terhadap penyebaran pulusi udara dari kendaraan. Tanaman
peneduh merupakan tanaman yang ditanam sebagai tanaman penghijauan.
Adapun tanaman peneduh yang ditanam di pinggir jalan raya selain berfungsi
sebagai penyerap unsur pencemar secara kimiawi, juga berfungsi sebagai peredam
suara baik kualitatif maupun kuantitatif.

Tumbuhan mempunyai kemampuan menjerap dan mengakumulasi zat pencemar.


Tumbuhan melalui daunnya dapat menangkap partikel timbal yang diemisikan
kandaraan bermotor (Hendrasari (2007). Menurut Karliansyah (1999), salah satu
cara pemantauan pencemaran udara adalah dengan menggunakan tumbuhan
sebagai bioindikator. Kemampuan masing-masing tumbuhan untuk menyesuaikan
diri berbeda-beda sehingga menyebabkan adanya tingkat kepekaan, yaitu sangat
peka, peka dan kurang peka. Tingkat kepekaan tumbuhan ini berhubungan dengan
kemampuannya untuk menyerap dan mengakumulasikan logam berat. sehingga
tumbuhan adalah bioindikator pencemaran yang baik. Tumbuhan akumulator
mempunyai kemampuan untuk mengakumulasikan unsur tertentu dalam
konsentrasi yang tinggi tanpa menimbulkan efek toksik pada tumbuhan.

Dalam seminar internasional The Utilization of Catalytc Converter and Unleaded


Gasoline for Vehicle terungkap bahwa 70% gas beracun yang ada di udara,
terutama kota besar, berasal dari kendaraan bermotor. Lebih dari 20% kendaraan
di Jakarta melepas gas beracun melebihi ambang batas yang dinyatalan aman.
Peningkatan jumlah kendaraan bermotor akan meningkatkan pemakaian bahan
bakar gas, dan hal itu akan membawa risiko pada penambahan gas beracun di
udara terutama CO, HC, SO2. Pencemaran udara yang diakibatkan oleh polusi sisa
pembakaran kendaraan bermotor di Indonesia dari tahun ke tahun memperlihatkan
kecenderungan meningkat, tetapi pencegahan dari pemerintah selama ini dinilai
berbagai kalangan masih amat kurang. Berbeda dengan standar polusi yang di
tetapkan di berbagai negara maju, seperti Uni Eropa, Jepang, dan Amerika
Serikat.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan yaitu analisis tumbuhan sebagai pereduksi pencemaran
udara di Jalan Ahmad Yani Surabaya dan juga di jalan-jalan protokol Kota
Semarang. Di dalam reaktor dan di taman halaman rumah sebagai tempat tanaman
kontrol. Dengan memiliki data sekunder berupa gambaran umum Jalan Ahmad
Yani, data pencemar udara dan tanaman di Jalan Ahmad Yani, serta melakukan
eksperimen reaktor rumah tanaman. Bagi warga Surabaya, Jl. Ahmad Yani sangat

dikenal dengan jalanan yang selalu dilanda kemacetan, mulai pagi sampai sore,
hal ini wajar karena jalan ini adalah jalan protokol yang menghubungkan Kota
Surabaya dengan Sidoarjo. Jl. Ahmad Yani adalah merupakan jalan yang terletak
di Surabaya Selatan, tepatnya di Kecamatan Wonocolo. Dengan panjang jalan
sekitar 10 km, Jl. Ahmad Yani terbagi menjadi 2 arah yaitu ke arah Jalan
Wonokromo dan ke Bundaran Waru. Dengan posisi yang sangat vital dan
strategis, daerah di sekitar Jl. Ahmad Yani menjadi daerah yang padat akan
aktivitas penduduk.

Di Kota Semarang dari seluruh jalan protokol di wilayah Kota Semarang tersebut
dipilih 5 sampel yang ditentukan sebagai stasiun penelitian, yaitu: Setasiun 1 :
Kalibanteng (Bundaran Kalibanteng); Setasiun 2 : Tugu Muda; Setasiun 3 : Jalan
Brigjen Katamso (Depan SMPN 2); Setasiun 4 : Jalan Kaligawe Semarang
(Depan Kantor Suara Merdeka); Setasiun 5 : Jalan Setiyabudi (Sukun). Penetapan
stasiun pengambilan sampel didasarkan kepada kepadatan populasi kendaraan.
Variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah : diambil data jenis pohon
pada masing-masing setasiun penelitian. Di samping itu juga diambil data tentang
kualitas udara yang terdiri dari suhu, kelembaban, pencahayaan, kebisingan,
kecepatan angin, arah angin dominan, kadar NO2 pada masing-masing setasiun
penelitian.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : meteran. Bahan-bahan


yang digunakan adalah: tumbuh-tumbuhan di lingkungan setasiun penelitian.

Langkah-langkah penelitian yang dilakukan di Kota Semarang adalah sebagai


berikut: 1) Melakukan observasi lokasi/setasiun penelitian; 2). Mendata jenis
tanaman yang ada di setasiun penelitian; 3) Pengambilan data kualitas udara di
jalan-jalan protokol Kota Semarang dan di jalan Ahmad Yani Kota Surabaya; 4)
Analisis laboratorium; 5) Pengolahan data penelitian. Data mengenai jenis dan
densitas tanaman peneduh yang ada di jalan protokol Kota Semarang dihitung
dengan metode line intercept. Cara ini terlebih dahulu ditentukan dua titik sebagai
pusat garis transek. Panjang garis transek dapat 10 meter, 25 m, 50 m atau 100 m.

Dalam penelitian ini digunakan garis transek sepanjang 100 m. Pada garis transek
itu kemudian dibuat segmen-segmen yang panjangnya 10 m. Pengamatan
terhadap tanaman dilakukan pada segmen-segmen tersebut. Selanjutnya mencatat
jenis dan mengukur diameter serta tinggi semua spesies tanaman pada segmensegmen tersebut.

Sedangkan langkah-langkah yang dilakukan di Kota Surabaya adalah dengan


menggunakan 15 buah tanaman Akalipa Merah (Acalypa wilkesiana) yang
digunakan untuk pemantauan NO2 digunakan dalam studi kasus ini. Dalam reaktor
terdapat 5 buah tanaman Akalipa Merah (Acalypa wilkesiana). Di dalam jalur
tengah trotoar Ahmad Yani terdapat 5 buah Akalipa Merah (Acalypa wilkesiana),
dan sebagai tanaman kontrol yaitu 5 buah tanaman Akalipa Merah (Acalypa
wilkesiana. Variabel-variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, panjang daun,
jumlah daun, keliling batang.

Terdapat 3 kelompok perlakuan, yaitu kelompok 1 (diberi pemaparan gas selama


0 jam, tanaman yang digunakan merupakan tanaman kontrol), kelompok 2 (diberi
pemaparan gas selama 7 jam, tanaman yang digunakan adalah tanaman yang
berada dalam reaktor yang dihubungkan dengan asap sepeda motor selama 7
jam/hari) dan kelompok 3 (diberi pemaparan gas selama 24 jam, tanaman yang
digunakan adalah tanaman yang berada di Jalan Ahmad Yani).

Sebagai media tanam dari tumbuhan pereduksi diberikan tanah, pupuk kandang,
pasir dan sekam dengan perbandingan 2:1:1:1 yang telah diaduk merata. Tanaman
Akalipa Merah (Acalypa wilkesiana) diperoleh dari Dinas Kebersihan dan
Pertamanan Kota Surabaya yang masih berumur 1 bulan. Tanaman tersebut
dipilih dengan kriteria tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun, dan juga
keliling batang yang relatif sama, sehingga sebelum perlakuan pemaparan
dianggap semua ukuran dari parameter tersebut dianggap sama untuk masingmasing jenis tanaman. Adapan pelaksanaan perlakuannya adalah sebagai berikut:
a.

Dalam satu media tanam (polibag) ditanam satu tanaman.

b.

Pemberian label (nomer urut) pada setiap polibag sesuai dengan kelompok
perlakuan

c.

Pemberian tanda dengan melingkarkan karet gelang pada tangkai daun


yang akan diamati. Pemasangan karet gelang diusahakan tidak terlalu erat
sehingga tidak mengganggu pertumbuhan daun.

d.

Penyiraman tanaman dilakukan setiap hari pada waktu sore hari dengan
volume 250 ml/hari.

e.

Penyiangan terhadap gulma dilakukan apabila terdapat dalam polibag.


Bentuk rumah tanaman adalah prisma segi empat dengan tinggi 75 cm,

panjang 150 cm dan lebar 150 cm. Spesifikasi dari rumah tanaman adalah sebagai
berikut :
a) Rangka reaktor menggunakan kayu yang sudah dipotong sedemikian rupa.
b) Seluruh dinding terbuat dari plastik transparan, dengan bagian tengah atas
dilobangi untuk jalan masuk pipa dari knalpot sepeda motor.
c) Pipa gas menggunakan pipa PVC dengan ukuran diameter 1.5 cm.
d) Pada bagian bawah dinding plastik diberikan ruang ventilasi dengan tinggi
5 cm.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Penelitian yang telah dilakukan tentang kualitas dan kuantitas tanaman yang
ada di jalan protokol Kota Semarang dan di Kota Surabaya, diperoleh hasil
sebagai berikut:
Tabel 1. Jenis dan jumlah tanaman peneduh di lima jalan protokol Kota Semarang

No

Nama Tanaman

Jumlah pada Setasiun


1

Akasia

Andong

Angsana

70

46

59

Asam Jawa

Asam Landi

Beringin

20

Bunga Mentega

Bougenvil

Cemara

13

23

12

10

Cempaka

11

Filicum

12

Glodogan

52

38

21

13

Johar

14

Kamboja

15

Kelapa

16

Kembang Dadap

17

Kembang Merak

18

Kersen

19

Mahoni

27

20

Mangga

21

Nangka

22

Pakis

23

Palem Botol

11

24

Palem Raja

30

12

25

Palem Rumpun

19

26

Petai Cina

17

27

Pinus

28

Trembesi

29

Waru

Keterangan: Setasiun 1 : Kalibanteng (Bundaran Kalibanteng)


Setasiun 2 : Tugu Muda
Setasiun 3 : Jalan Brigjen Katamso (Depan SMPN 2)
Setasiun 4 : Jalan Kaligawe Semarang (Depan Kantor Suara Merdeka)
Setasiun 5 : Jalan Setiyabudi (Sukun)
Tabel 2. Jumlah serapan NO2 tanaman Semak di jalan protokol Kota Surabaya

Kualitas

Baku

Udara

Mutu

(ppm)

(ppm)

No

Stasiun
1

187,2

54,8

215,1

189,4

183,2

NO2
1

316

Tabel 3. Jenis dan jumlah serapan NO2 tanaman Semak di jalan protokol Kota
Surabaya
No

Nama Latin

Nama Lokal

Serapan NO2 (g/g)

Jacobina carnea

Lolipop merah

100,02

.
1.

*
2.

Malphigia sp.

Kihujan

93,28

3.

Acalypha

Akalipa merah

64,8

wilkesiana

Pachystachys lutea

Lolipop

4.

61,7

kuning
5.

Mussaendah

Nusa indah

erythrophylla

merah *

Notophanax

Daun

scultellarium

mangkokan

Bougainvillea

Bougenvil

glabra

merah *

8.

Gardenia augusta

Kaca piring

45,29

9.

Coleus blumei

Miana

41,7

10.

Cordilyne

Hanjuang

36,34

terminalis

merah *

Rhododendron

Azalea

35,95

Lantana ungu

35,14

6.

7.

11.

53,53

46,07

45,44

indicum
12.

Lantana camara

13.

Acalypha

Akalipa hijau

31,24

wilkesiana

putih *

14.

Scindapsus aureus

Sirih belanda

25,63

15.

Alpinia purpurata

Lengkuas

24,55

merah
16.

Ixora javanica

Ixora daun

23,86

besar
17.

Notophanax

Kedondong

20,95

sarcofagus

laut

18.

Crinum asiaticum

Bakung *

20,03

19.

Nerium oleander

Bunga

20,03

mentega
20.

Chrysalidocarpus

Palm kuning *

19,48

lutescens
21.

Canna indica

Kana

18,91

22.

Iresine herbstii

Bayam merah

18,86

23.

Caladium

Keladi putih

18,5

hortulanum
24.

Dracaena fragrans

Drasena

17,74

25.

Allamanda

Alamanda

17,63

cathartica
Sumber : Nasrullah, dkk (2000)
* = Tanaman yang ditanam oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota
Surabaya

Tabel 4. Jenis dan jumlah serapan NO2 tanaman pohon di jalan protokol Kota
Surabaya
No

Nama Latin

1.

Erythrina variegata Dadap kuning *

68,31

2.

Caliandra

41,01

surinamensis

Nama Lokal

Kaliandra *

Serapan NO2 (g/g)

3.

Samanea saman

Ki hujan *

35,37

4.

Psidium guajava

Jambu biji

30,8

5.

Bambusa vulgaris

Bambu jepang

25,33

6.

Eucaliptus alba

Kayu putih

23,65

7.

Cassia biflora

Kasia golden

22,85

8.

Cassia sp.

Ayoga

21,91

9.

Lansium

Duku

20,28

Kayu manis hijau

13,06

Rambutan

12,44

Akasia *

12,39

Kelengkeng

12,35

domesticum
10.

Cinnamomum
zeylanicum

11.

Nephelium
lappaceum

12.

Acacia
auriculiformis

13.

Nephelium
longanum

14.

Laucaena glauca

Lamtoro *

12,2

15.

Cassia siamea

Johar *

8,82

16.

Ficus elastica

Beringin karet *

8,86

17.

Cyrtostachys lakka

Palem merah

7,79

18.

Cupressus papuana

Cemara papua

7,8

19.

Cyanometra

Nam-nam

7,31

Bungur *

6,13

Bambu kuning

5,11

Glodogan tiang

3,61

cauliflora
20.

Lagerstromia
loudonii

21.

Phyllostachys
sulphurea

22.

Polyaltia longifolia

Sumber : Nasrullah, dkk (2000)


* = Tanaman yang ditanam oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan
Kota Surabaya

Tabel 5. Jenis dan jumlah serapan NO2 tanaman penutup tanah di jalan protokol
Kota Surabaya
No

Nama Latin

Nama Lokal

Serapan NO2 (g/g)

1.

Alternanthera

Kriminil merah

24,06

Rumput manila

22,58

ficoides
2.

Zoysia matrella

*
3.

Rhoeo discolor

Adam dan hawa

4.

Cynodon dactylon Rumput

18,81
13,94

kawat/golf
5.

Axonopus

Rumput paetan

13,31

Kriminil putih

9,96

Taiwan beauty

9,72

Chlorophytum

Clorophytum

9,5

8.

comosum

hijau

9.

Philea cardierei

Mutiara

7,13

10.

Chlorophytum

Clorophytum

4,56

bachestii

putih

Ophiopogon

Lili paris putih

compressus
6.

Alternanthera
amoena

7.

Cuphea
mycrohylla

11.

2,38

jaburan

Sumber : Nasrullah, dkk (2000)


* = Tanaman yang ditanam oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota
Surabaya

Kualitas udara di suatu wilayah menetukan banyak sedikitnya jumlah zat


pencemar yang akan terserap oleh tumbuhan dalam wilayah tersebut. Hasil
penelitian diperoleh hasil pengamatan kualitas udara di setiap setasiun penelitian
disajikan pada Tabel 1 sampai tabel 5.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas udara di Kota Semarang dan Kota
Surabaya sudah cukup mengkhawatirkan.

Hasil tersebut perlu kiranya

mengupayakan pengurangan atau meminimalis kandungan bahan pencemar udara


yang ada di jalan-jalan protokol Kota Semarang dan Kota Surabaya. Salah satu
solusi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penghijauan di ruas-ruas
jalan protokol tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Kusminingrum dan
Gunawan (2008) dan Menteri Kehutanan (2004) yang menyampaikan, salah satu
strategi yang dapat diterapkan dalam upaya pengendalian pencemaran di ruas
jalan yaitu dengan penataan dan penerapan teknologi pereduksi polusi udara
dengan penataan land scape di ruas jalan dengan tanaman pereduksi polusi udara.
Untuk memperbaiki kondisi turus (kanan-kiri) jalan perlu upaya penanaman
dengan jenis tanaman yang mempunyai fungsi antara lain: penahan polusi,
peneduh jalan, perbaikan iklim mikro dan penahan longsor jalan. Sukawi
Walikota Semarang pada tahun 2008 dalam makalahnya mengatakan, tanaman
dapat berfungsi sebagai pengontrol iklim. Pengontrolan iklim ini, iklim mikro
yang diciptakan oleh tanaman mempunyai fungsi dan dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain: panas/radiasi matahari, kontrol suhu, kontrol angin, kontrol
kelembaban, dan kontrol presipitasi.

Berdasarkan peraturan menteri pekerjaan umum nomor: 05/PRT/M/2008 tentang


Pedoman penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan
telah ditetapkan beberapa kriteria vegetasi untuk tanaman peneduh jalan sebagai
berikut:

Aspek silvikultur meliputi: berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit,
memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar, perbandingan bagian

pucuk dan akar seimbang, batang tegak dan keras pada bagian pangkal, tajuk
simetris dan padat dan sistim perakaran padat.

Sifat biologi meliputi: tumbuh baik pada tanah padat, sistem perakaran masuk
kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan, fase anakan tumbuh
cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa, ukuran dewasa sesuai ruang yang
tersedia, batang dan sistem percabangan kuat, batang tegak kuat, tidak mudah
patah dan tidak berbanir, perawakan dan bentuk tajuk cukup indah, tajuk cukup
rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap, ukuran dan bentuk tajuk seimbang
dengan tinggi pohon, daun sebaiknya berukuran sempit (nanofill), tidak
menggugurkan daun, daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang, saat
berbunga/berbuah tidak mengotori jalan, buah berukuran kecil dan tidak bisa
dimakan oleh manusia secara langsung, sebaiknya tidak berduri atau beracun,
mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain, tahan
terhadap hama penyakit, tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan
industry, mampu menyerap cemaran udara, sedapat mungkin mempunyai nilai
ekonomi dan berumur panjang.

Hasil penelitian terhadap jenis dan densitas tanaman yang ada di jalan protokol
Kota Semarang, dapat diketahui jenis tanaman yang ditanam di 5 jalan protokol
Kota Semarang berjumlah 29 jenis. Pada Wilayah Kalibanteng terdapat 15 jenis
tanaman peneduh dengan tanaman Angsana sebagai tanaman dominan, yaitu
29,5% dari seluruh jenis tanaman lainnya. Jalan Pemuda terdapat 12 jenis
tanaman peneduh dengan tanaman terbanyak adalah Angsana, yaitu 29,4% dari
jumlah tanaman keseluruhan. Pada Jl. Brigjen Katamso terdapat 10 jenis tanaman
peneduh dengan Angsana sebagai tanaman terbanyak yaitu 67%. Sedangkan pada
Jalan Kaligawe terdapat 5 jenis dan didominasi oleh jenis tanaman Glodokan
yaitu 39,6% dan Jl. Setiyabudi memiliki 12 jenis tanaman peneduh dengan
dominasi tanaman adalah jenis Cemara dan Palem raja dengan nilai masingmasing 20,3%.

Untuk penelitian yang di Kota Surabaya di dalam reaktor tanaman terdapat


reduksi udara ambien NOx. Polutan udara influent NOx sebesar 0,053 ppm,
polutan udara effluent NOx sebesar 0,033 ppm, sehingga terdapat reduksi polutan
NOx sebesar 0,02 ppm oleh Akalipa merah.

Pertumbuhan Akalipa merah yang terpapar selama 24 jam di Jl. Ahmad Yani
sedikit lebih tinggi daripada tanaman kontrol. Hal ini dimungkinkan oleh
melimpahnya karbon dioksida yang bersumber dari kendaraan bermotor yang
diserap oleh tanaman untuk proses fotosintesis. Pertumbuhan Akalipa merah yang
terpapar 7 jam/hari di dalam reaktor tingkat pertumbuhannya lebih rendah
dibandingkan dengan tanaman kontrol dikarenakan asap motor sendiri tidak hanya
mengandung polutan SO2 saja melainkan juga polutan lainnya seperti CO, CO2 ,
Debu, Hidrokarbon, dan Pb. Dimungkinkan Akalipa merah pada paparan polutan
7 jam/hari mengalami tingkat pertumbuhan yang lebih rendah daripada tanaman
kontrol disebabkan oleh pengaruh dari polutan-polutan lainnya yang dalam studi
kasus ini tidak dimasukkan dalam ruang lingkup alias diabaikan. Selain itu, posisi
tanaman

terpapar

jam/hari

yang

berada

di

dalam

reaktor

mengurangi/menghalangi intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman, sehingga


proses fotosintesis terhambat yang berdampak langsung pada pertumbuhan
tanaman.

Hasil penelitian seperti tersebut di atas dapat diketahui bahwa jenis maupun
jumlah tanaman yang ada pada masing-masing setasiun penelitian tidak
berpengaruh positif terhadap kadar bahan pencemar udara yang ada. Hal ini
dikarenakan jenis dan jumlah tanaman pada masing-masing jalan protokol tidak
sesuai dengan tanaman peneduh yang mempunyai fungsi sebagai penyerap
polutan udara. Untuk itu perlu kiranya adanya penataan kembali terhadap jenisjenis tanaman peneduh yang ditanam di ruas jalan-jalan protokol Semarang dan
Surabaya. Sehingga fungsi tanaman sebagai peneduh dan penyerap bahan-bahan
pencemar benar-benar dapat maksimal seperti yang diharapkan.

SIMPULAN

a. Kualitas maupun kuantitas tanaman yang ada pada jalan-jalan protokol


lokasi penelitian tidak berpengaruh positif terhadap kadar bahan pencemar
udara yang ada. Hal ini dikarenakan jenis dan jumlah tanaman pada
masing-masing jalan protokol tidak sesuai dengan tanaman peneduh yang
mempunyai fungsi sebagai penjerap dan penyerap polutan udara.
b. Usaha-usaha yang dilakukan dalam mereduksi pencemaran udara dengan
menggunakan

tumbuhan

yaitu

dengan

cara

melakukan

program

penanaman sejuta pohon atau tanaman pembersih udara baik tanaman


yang termasuk kelompok pohon maupun kelompok Semak.
c. Proses penyerapan polutan terhadap tanaman yaitu gas di udara akan
didifusikan ke dalam daun melalui stomata pada proses fotosintesis atau
terdeposisi oleh air hujan kemudian didifusikan oleh akar tanaman.
Kemudian polutan terlarut dalam air permukaan sel-sel daun. Pada studi
kasus di dalam reaktor juga terdapat reduksi udara ambien NOx. Polutan
udara influent NOx sebesar 0,053 ppm, polutan udara effluent NOx
sebesar 0,033 ppm, sehingga terdapat reduksi polutan NOx sebesar 0,02
ppm oleh Akalipa merah.

DAFTAR PUSTAKA

Antari AARJ dan Sundra IK. 2002. Kandungan Timah Hitam (Plumbum) Pada
Tanaman

Peneduh

Jalan

di

Kota

Denpasar.

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/4.pdf. 15 Maret 2012.


Direktorat Jendral Penata Ruang Departemen Pekerjaan Umum. 2008. Pedoman
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan
Perkotaan. On line at http://www.scribd.com/doc/ 54505551/permen052008-RTH. [diakses tanggal 22 Mei 2011].
Hendrasarie N. 2007. Kajian Efektivitas Tanaman dalam Menjerap
Kandungan Pb Udara. Jurnal Rekayasa Perencanaan 3 (2): 2007

Karliansyah NW.1999. Klorofil Daun Angsana Dan Mahoni Sebagai


Bioindikator Pencemaran Udara, Jurnal Lingkungan Dan Pembangunan
19 (4): 290-305.
Kusminingrum N dan Gunawan. 2008. Polusi Udara Akibat Aktivitas
Kendaraan Bermotor di Jalan Perkotaan Pulau Jawa dan Bali. Jurnal
Jalan-Jembatan 25 (3): 314-326.
Menteri Kehutanan. 2004. P.03/Menhut-V/2004, Tentang Pedoman Penanaman
Turus Jalan Nasional Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan.
Kemenhut, Jakarta.
Nana Kariada Tri Martuti. 2013. Peranan Tanaman Terhadap Pencemaran
Udara Di Jalan Protokol Kota Semarang. Jurnal Biosantifika 5 (1)
(2013)
Nasrullah, N., Heny, S., Soertini, G., Marietje W., dan Andi, G. 2000.
15

Penggunaan Gas NO2 berlabel N dalam Mengukur Absorbsi Polutan


NO2 oleh Tanaman. Jakarta : Badan Tenaga Atom Nasional, Pusat
Aplikasi Isotop dan Radiasi.
Nugrahani P dan Sukartiningrum. 2008. Indeks Toleransi Polusi Udara (APTI)
Tanaman taman Median Jalan Kota Surabaya. Jurnal Pertanian Mapeta
10 (2): 86-92.
Riani D. 2010. Kotornya Udara Semarang. Suara Merdeka, 16 Januari 2011.
Santoso, S.N. 2013. Penggunaan Tumbuhan sebagai Pereduksi Pencemaran
Udara Plant Application As Reducer Air Polution. Surabaya: Jurusan
Teknik Lingkungan ITS.
Suparwoko dan Firdaus. 2007. Profil Pencemaran Udara Kawasan Perkotaan
Yogyakarta: Studi Kasus di Kawasan Malioboro, Kridosono, dan UGM
Yogyakarta. Jurnal LOGIKA, 4 (2): 54-63.