You are on page 1of 38

DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN

KEMENTERIAN KEUANGAN

PERENCANAAN DAN
PENGANGGARAN SERTA
PENYUSUNAN RKAKL

Singaraja 28

Februari 2015

POKOK BAHASAN
Reorganisasi Ditjen Pendidikan Tinggi
Siklus Penganggaran
Penganggaran Berbasis Kinerja
Tata Cara Penyusunan RKA-K/L
a. Hal-hal Baru dalam Penelaahan
b. Persiapan Penyusunan RKA-K/L
c. Penyusunan RKA-K/L Berdasarkan Pagu Anggaran
d. Penyusunan RKA-K/L Berdasarkan Alokasi Anggaran
Standar Biaya
Arsitektur dan Informasi Kinerja (ADIK) 2016

STRUKTUR ORGANISASI DITJEN DIKTI KEMDIKBUD TAHUN 2014

Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi
Setditjen Dikti

Ditjen Kelembagaan dan


kerjasama

Direktorat Pendidik dan


Tenaga Kependidikan

Direktorat Penelitian dan


Pengabdian kpd
Masyarakat

Direktorat Pembelajaran
dan kemahasiswaan

STRUKTUR KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


PERPRES NOMOR 13 TAHUN 2015

Menteri Riset, Teknologi, dan


Pendidikan Tinggi
Sekretariat Jenderal

Inspektorat Jenderal

Ditjen
Pembelajaran dan
Kemahasiswaan

Ditjen
Kelembagaan
IPTEK dan DIKTI

Ditjen Sumber Daya


IPTEK dan DIKTI

Ditjen Penguatan
Riset dan
Pengembangan

Ditjen Penguatan
Inovasi

A. SIKLUS PENGANGGARAN

Pembicaraan
Pendahuluan
RAPBN (KEM, PPKF
dan RKP)

Arah
Kebijakan &
Prioritas
Pembangunan

Pembahasan
RAPBN, RUU
APBN, Nota
Keuangan , DHP
RKA-K/L dan
DHP RDP-BUN

Penyusunan
resource
envelope &
usulan
kebijakan
APBN

Pelaksanaa
n Trilateral
Meeting

Penyusunan
RAPBN, RUU
APBN, NK, DHP
RKA-K/L dan
DHP RDP-BUN

Penyusunan
KEM, PPKF
dan Pembicaraan
Pendahuluan

Pembahasan
RAPBN, RUU
APBN, Nota
Keu, DHP RKAK/L dan DHP
RDP-BUN

Persetujuan
RUU APBN

1
0

Pengesahan
UU APBN

1
3

1
1

Penetapa
n Alokasi
Anggaran
K/L

Penetapan
Keppres Rincian
ABPP & DHP RDP
BUN

1
2

Penyusunan
Keppres
Rincian
ABPP
Penyusunan
&
Pengesahan
DIPA

1
4
5a

Penyusunan RKAK/L & Reviu RKAK/L oleh APIP

11
a

Penyesuaian RKAK/L dan Reviu RKAK/L oleh APIP

SIKLUS PENGANGGARAN
PAGU INDIKATIF

Presiden tetapkan arah


kebj dan prioritas pem
nasional
K/L mengevaluasi
Baseline/Angka dasar
Bappenas,Kemenkeu
evaluasi Baseline dan
NI
Kemenkeu susun
Kapasitas Fiskal
Kemenkeu dan
Bappenas Susun Pagu
Indikatif

PAGU ANGGARAN

ALOKASI ANGGARAN

Trilateral Meeting
Renja K/L
Pemerintah
Menetapkan RKP
Menkeu
Menetapkan Pagu
Anggaran

K/L menyusun RKA-K/L


Pagu Anggaran
Renja K/L
RKP
SB
K/L bahas RKA-K/L dgn
DPR
Peny NI
Penelaahan RKA-K/L
Kemenkeu himpun RKAL/L (bahan susun NK)
Penyesuaian RKA-K/L
Pemerintah Menetapkan
Alokasi Anggaran

PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA.


SISTEM PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA.
Pengenalan 2005 s.d 2009;
Pemantapan 2010 s.d 2014; dan
Penyempurnaan mulai 2015 ->

B. PENDEKATAN PENGANGGARAN
PENDEKATAN PENGANGGARAN

1. PENDEKATAN PENGANGGARAN TERPADU ( Unified Budget)

2. PENDEKATAN PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA (PBB)

3. PENDEKATAN KERANGKA PENGELUARAN JANGKA MENENGAH


(MTEF)
8

I. PENDEKATAN
PENGANGGARAN
PENGANGGARAN
TERPADU TERPADU
Penganggaran terpadu merupakan unsur yang paling mendasar bagi penerapan
pendekatan penyusunan anggaran lainnya (PBK & KPJM) pendekatan
anggaran terpadu merupakan kondisi yang harus terwujud lebih dahulu
Penganggaran terpadu dilakukan dengan mengintegrasikan seluruh proses
perencanaan dan penganggaran di lingkungan K/L untuk menghasilkan
dokumen RKA KL, dengan klasifikasi anggaran menurut organisasi, fungsi dan
jenis belanja agar tidak terjadi duplikasi dalam penyediaan dana untuk
K/L, baik yang bersifat investasi maupun untuk biaya operasional

Penerapan penganggaran terpadu diharapkan dapat mewujudkan Satuan Kerja


sebagai satu-satunya entitas akuntansi yang bertanggung jawab terhadap aset
dan kewajiban yang dimiliki, serta adanya akun untuk satu transaksi

II. PENDEKATAN PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA

Kerangka PBK menunjukkan hubungan antara struktur organisasi dengan


kinerja yang akan dicapai memperhatikan keterkaitan antara pendanaan
dan kinerja yang diharapkan serta efisiensi dalam pencapaian kinerja
Kinerja adalah prestasi kerja yang berupa keluaran dari suatu kegiatan atau
hasil dari suatu program yang terukur kuantitas dan kualitasnya
Landasan konseptual dalam penerapan PBK:

Pengalokasian anggaran berorientasi pada kinerja (output dan outcome


oriented)

Pengalokasian anggaran program/kegiatan didasarkan pada tugas-fungsi


unit kerja, sesuai struktur organisasi (money follows function)

Terdapat fleksibilitas pengelolaan anggaran dengan tetap menjaga prinsip


akuntabilitas (let the manager manage)

10

Penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja


Berdasarkan landasan konseptual, tujuan penerapan PBK, dan instrumen yang
digunakan PBK dapat disimpulkan bahwa secara operasional prinsip utama
penerapan PBK adalah adanya keterkaitan yang jelas antara kebijakan yang
terdapat dalam dokumen perencanaan nasional dan alokasi anggaran yang
dikelola K/L sesuai tugas-fungsinya
Diagram 1.1 Hubungan antara Dokumen Perencanaan dan Penganggaran

11

Penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja


Kementerian/
LEMBAGA

LEVEL
NASIONAL

Program

Target Kinerja
Total Rp

PRIORITAS

Outcome

ESELON I

Indikator Kinerja
Nasional

Indikator Kinerja

Target Kinerja

Total Rp

FOKUS
PRIORITAS

Total Rp

ESELON II/SATKER

Indikator Kinerja
Nasional

KEGIATAN
PRIORITAS

KEGIATAN
PRIORITAS

Output dan
Volume
Output

Jml Rp

Indikator
Kinerja

Fungsi dan Sub


Fungsi;
Prioritas atau Non
Prioritas.

KEGIATAN
TUPOKSI

Output dan
Volume
Output

Jml Rp

Indikator
Kinerja

Penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja


Berdasarkan Gambar diatas, penerapan PBK dapat dilihat dalam dalam 2 (dua)
tingkatan, yaitu penerapan PBK Tingkat Nasional dan Penerapan PBK Tingkat K/L.
Penerapan PBK pada tingkat Nasional dilaksanakan melalui langkah sebagai
berikut:
1.

2.

3.

Pemerintah menentukan tujuan (dalam bentuk Prioritas dan Fokus Prioritas


pembangunan nasional beserta target kinerjanya) dalam jangka waktu 1
(satu) tahun anggaran mendatang dalam dokumen RKP. Hasil yang
diharapkan berupa national outcome yang mengarah kepada gambaran
sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar;
Berdasarkan tujuan tersebut Pemerintah merumuskan Kegiatan Prioritas
dan/atau Kegiatan dalam kerangka tugas-fungsi yang diemban suatu K/L,
Indikator Kinerja Kegiatan (IKK), dan output (jenis, volume, dan satuan ukur).
Selanjutnya Pemerintah akan menghitung perkiraan kebutuhan anggarannya
yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara;
Tujuan Pemerintah tersebut akan dilaksanakan oleh masing-masing K/L
(beserta perangkat organisasi di bawah koordinasinya) dalam bentuk
program dan kegiatan sesuai tugas-fungsinya.

Penerapan PBK Pada Tingkat K/L


Sedangkan penerapan PBK pada tingkat K/L dilakukan melalui langkah sebagai berikut:
1.

Sesuai dengan Renstra K/L, Unit Eselon IA merumuskan Program, Indikator Kinerja
Utama (IKU) Program dan hasil;

2.

Selanjutnya Program dijabarkan dalam Kegiatan, IKK, dan output pada Unit
pengeluaran (spending unit) pada tingkat Satker atau Eselon II di lingkungan Unit
Eselon IA sesuai dengan tugas dan fungsinya;

3.

Kegiatan-kegiatan tersebut, disesuaikan pada kategori Fungsi/Sub Fungsi yang


didukung, Prioritas Nasional/Bidang atau Non Prioritas;

4.

Hasil rumusan Program, IKU Program, hasil, Kegiatan, IKK, dan output dituangkan
dalam dokumen Renja-K/L, RKA-K/L dan DIPA.

UU/PP/PMK YANG PERLU DIPAHAMI


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

UU no 17 Thn 2003 tentang Keuangan Negara


PP 90 2010 tentang Penyusunan RKA-KL
PMK No. 136 Thn 2014 Ttg Tata Cara Penyusunan RKA-K/L
PMK No. 71 Thn 2013 Ttg Pedoman Standar Biaya, Standar
Struktur Biaya, dan Indeksasi dlm Penyusunan RKA-K/L
PMK No. 53 Thn 2014 Ttg Standar Biaya Masukan Tahun
2015
PMK No. 257 tentang Tata Cara Revisi Anggaran TA 2015
PMK ttg Bagan Akun Standar
Permendikbud No 108 Tahun 2013 tentang perubahan
kedua Permendikbud No 58 Tahun 2012 Tentang BOPTN

TATA CARA
PENYUSUNAN RKA-K/L

PERSIAPAN PENYUSUNAN RKA-K/L


1. Satker harus menyiapkan dokumen RKA Satker untuk mencantumkan
sasaran kinerja kegiatan dan alokasi anggarannya pada tingkat
Komponen;
2. Dalam hal pagu anggaran, K/L menyampaikan RKA-K/L yang telah
diteliti oleh Aparat Pengawasan Intern Kementerian Negara/Lembaga
(API K/L) dan Sekjen/Sestama c.q Biro Perencanaan /Unit Perencanaan
K/L kepada Kementerian Keuangan c.q Direktorat Jenderal Anggaran.
3. Dalam hal alokasi anggaran, K/L menyampaikan RKA-K/L yang telah
diteliti oleh Aparat Pengawasan Intern Kementerian Negara/Lembaga
(API K/L) dan Sekjen/Sestama c.q Biro Perencanaan/Unit Perencanaan
Anggaran K/L serta telah dibahas dan disetujui oleh DPR kepada
Kementerian Keuangan c.q Direktorat Jenderal Anggaran.

PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PENYUSUNAN RKA-K/L

Unit Eselon I melakukan:

a. Meneliti dan memastikan pagu anggaran per progam per jenis


belanja berdasarkan Pagu Anggaran K/L;
b. Menetapkan sasaran kinerja untuk masing-masing Satker mengacu
pada Dokumen RKP dan Renja K/L tahun berkenaan:
1) volume output kegiatan dalam kerangka Angka Dasar; dan
2) volume output kegiatan dalam kerangka Inisiatif Baru.
c. Menetapkan alokasi anggaran masing-masing Satker:
1) alokasi anggaran dalam kerangka Angka Dasar; dan
2) alokasi anggaran dalam kerangka Inisiatif Baru.
d. Menyiapkan Daftar Pagu Rincian per Satker yang berfungsi sbg
batas tertinggi pagu satker.
e. Menyusun dokumen pendukung:
Unit Eselon I, dalam rangka persiapan penyusunan RKA-K/L,
menyusun dokumen pendukung khususnya KAK (Term Of Reference)
atau TOR, RAB, dan GBS.

PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PENYUSUNAN RKA-K/L

2. Satker melakukan:
a. Menyiapkan dokumen baik sebagai acuan maupun sebagai dasar pencantuman
sasaran kinerja kegiatan .:
1. Informasi mengenai sasaran kinerja (sampai dengan tingkat output) dan
alokasi anggaran untuk masing-masing kegiatan (termasuk sumber dana)
sesuai kebijakan Unit Eselon I. ;
2. Peraturan perundangan mengenai struktur organisasi K/L dan tugasfungsinya;
3. Dokumen Renja K/L dan RKP tahun berkenaan;
4. Petunjuk penyusunan RKA-K/L;
5. Standar Biaya tahun berkenaan.
b. Meneliti dan memastikan kesesuaian dengan kebijakan unit eselon I
dalam hal :
1) Besaran alokasi anggaran Satker;
2) Besaran Angka Dasar dan/atau Inisiatif Baru.
c. Menyusun KK Satker dan RKA Satker serta menyimpan datanya dalam
Arsip Data Komputer-nya (ADK);

PERSIAPAN PENYUSUNAN RKA-K/L

e. Menyampaikan dokumen pendukung teknis berupa:


1. Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung Negara
atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas Pekerjaan Umum
setempat untuk pekerjaan pembangunan/renovasi bangunan gedung negara yang
berlokasi di dalam negeri dan pekerjaan renovasi bangunan gedung negara yang
berlokasi di luar negeri (kantor perwakilan) yang mengubah struktur bangunan;
atau
2. Data dukung teknis, seperti: peraturan perundangan/keputusan pimpinan K/L
yang mendasari adanya kegiatan/output, surat persetujuan dari Menpan dan RB
untuk alokasi dana satker baru, dan sejenisnya;
3. Data dukung terkait teknis lainnya sehubungan dengan alokasi suatu output.

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

1. Pagu anggaran Satker berdasarkan Daftar Pagu Rincian per Satker


yang berfungsi sebagai batas tertinggi pagu satker;
2. Kegiatan yang akan dilaksanakan beserta Output kegiatan yang
dihasilkan (sesuai karakteristik satker);

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

3. Program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh K/L seluruhnya harus sesuai tugasfungsi K/L, prioritas pembangunan nasional, atau prioritas bidang.
Oleh karena itu peruntukan alokasi anggaran harus memperhatikan urutan tingkat
kepentingan (prioritas) pengalokasian anggaran sebagai berikut:
a. Kebutuhan anggaran untuk biaya operasional organisasi yang sifatnya
mendasar, seperti alokasi untuk gaji, honorarium dan tunjangan, serta
operasional dan pemeliharaan perkantoran;
b. Program dan kegiatan yang mendukung pencapaian prioritas pembangunan
nasional, prioritas pembangunan bidang dan/atau prioritas pembangunan
daerah (dimensi kewilayahan) yang tercantum dalam dokumen RKP;
c. Kebutuhan dana pendamping untuk kegiatan-kegiatan yang anggarannya
bersumber dari pinjaman dan/atau hibah dalam negeri/luar negeri;
d. Kebutuhan anggaran untuk kegiatan lanjutan yang bersifat tahun jamak
(multi years);

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN


6. Rincian biaya dalam rangka pencapaian output kegiatan yang dibatasi
dan tidak diperbolehkan adalah sebagai berikut:
a. Rincian biaya yang dibatasi:
1. Penyelenggaraan rapat, rapat dinas, seminar, pertemuan,
lokakarya, peresmian kantor/proyek dan sejenisnya, dibatasi pada
hal-hal yang sangat penting dan dilakukan sesederhana mungkin.
2. Pemasangan telepon baru, kecuali untuk satker yang belum
mempunyai.
3. Pembangunan gedung baru yang sifatnya tidak langsung
menunjang untuk pelaksanaan tugas dan fungsi satker (antara
lain: mess, wisma, rumah dinas/rumah jabatan, gedung
pertemuan), kecuali untuk gedung yang bersifat pelayanan umum
(seperti rumah sakit, rumah tahanan, pos penjagaan) dan
gedung/bangunan khusus (antara lain: laboratorium, gudang).

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN


4. Pengadaan kendaraan bermotor, kecuali:
a. Kendaraan fungsional seperti:
- Ambulan untuk rumah sakit;
- Cell wagon untuk rumah tahanan; dan
- Kendaraan roda dua untuk petugas lapangan;
b. Pengadaan kendaraan bermotor untuk Satker baru yang sudah ada ketetapan
MenPan dan RB;
c. Penggantian kendaraan operasional yang benar-benar rusak berat sehingga secara
teknis tidak dapat dimanfaatkan lagi;
d. Penggantian kendaraan yang rusak berat yang secara ekonomis memerlukan biaya
pemeliharaan yang besar untuk selanjutnya harus dihapuskan dari daftar
inventaris dan tidak diperbolehkan dialokasikan biaya pemeliharaannya (didukung
oleh berita acara penghapusan/ pelelangan); dan
e. Kendaraan roda 4 dan atau roda 6 untuk keperluan antar jemput pegawai dapat
dialokasikan secara sangat selektif, memperhatikan azas efisiensi dan kepatutan.
f. Keterangan: Kendaraan yang diadakan dan merupakan penggantian kendaraan
yang dihapuskan harus sama jenis maupun fungsinya dengan kendaraan yang
dihapuskan.

OUTPUT CADANGAN
UNTUK MENAMPUNG HAL-HAL SEBAGAI BERIKUT
a. Alokasi anggaran untuk keluaran yang bukan tusi unit dan belum ada dasar
hukumnya
b. Alokasi anggaran untuk kegiatan yang sama dengan tahun sebelumnya, namun
alokasi anggarannya berlebih.
c. Alokasi anggaran untuk komponen yang tidak berkaitan langsung dengan
pencapaian keluaran/output.
d. Alokasi anggaran untuk komponen yang alokasinya berlebih.
e. Alokasi anggaran yang belum jelas peruntukannya dan/atau kegiatan yang belum
pernah dianggarakan sebelumnya.

CATATAN DALAM DHP RKA-K/L


UNTUK MENAMPUNG HAL-HAL SEBAGAI BERIKUT
a. Belum ada dasar hukum pengalokasiannya
b. Belum ada naskah perjanjian (PHLN/PHDN) dan nomor register
c. Masih terpusat dan belum didistribusikan ke satker2 daerah
d. Masih memerlukan reviu dan persetujuan dari Bappenas.
e. Masih memerlukan reviu dari Bpkp.
f.

Rincian penggunaan anggaran ditolak oleh DPR:

STRUKTUR ANGGARAN
Struktur Anggaran
P R OG R AM

OUT C OME

K E G IAT AN

OUT
P UT
OUT
P UT
OUT
P UT

K E G IAT AN

OUT
P UT
OUT
P UT
OUT
P UT

S UB O UT P UT
K OMP ON E N
K OMP ON E N
K OMP ON E N
S UB
K OMP O
S NE
UB N
K OMP O
S NE
UB N
K OMP O NE N
DE T IL
DE T IL
B E L A NJ A DE T IL
B E L A NJ A
B E L A NJ A

CONTOH PROGRAM, IKU, DAN KEGIATAN RKA-K/L


023.04.08

Program Pendidikan Tinggi


01 APK PT Usia 19 23 Tahun
02 Persentase Prodi Terakreditasi
03 Persentase Dosen Berkualifikasi Minimal S2
04 Persentase Dosen Berkualifikasi S3
05 Jumlah HAKI yang dihasilkan

2011

Penyediaan Layanan Kelembagaan dan Kerjasama

2013

Pengembgan Penelitian dan Pengabdian Kpd Masyarakat

2014

Dukungan Manajemen dan Pelks Tugas Teknis Lainnya

4073

Peny layanan Pembelajaran dan Kompetensi Mahasiswa.

4078

Layanan Tri Dharma Perguruan Tinggi

CONTOH KEGIATAN, OUTPUT, DAN KOMPONEN RKA-K/L


4078

Layanan Tri Dharma Perguruan Tinggi

4078.024

Hasil Penelitian Swadana


011 Seleksi Proposal Penelitian
012 Pelaksanaan Penelitian
013 Seminar Hasil Penelitian
014 Publikasi di Jurnal Nasional
015 Penulisan Buku Ajar

4078.999

Output Cadangan

4078.999.00
1

Output Cadangan Layanan Pembelajaran

4078.011.00
2

Output Cadangan Layanan Organisasi Kemahasiswaan

011 Penyelenggaraan Kegiatan Kemahasiswaan

CONTOH KEGIATAN, OUTPUT, DAN KOMPONEN RKA-K/L


2013.109

Laporan Hasil Penelitian

2013.109.001

Penelitian Dosen

011 Pelatihan pembuatan proposal Penelitian


012 Verifikasi usulan proposal
013 Pelaksanaan Penelitian
014 Monitoring Penelitian
2013.109.002

Hasil Penelitian

011 Seminar Hasil Penelitian


012 Mengikuti Seminar Nasional
013 Mengikuti Seminar/Konferensi Internasional
014 Penyelenggaraan Seminar Nasional
015 Penyelenggaraan Seminar Internasional

CONTOH KEGIATAN, OUTPUT, SUB OUTPUT, DAN KOMPONEN RKA-K/L


4078

Layanan Tri Dharma Perguruan Tinggi

4078.001

Mahasiswa Baru S1
011 Persiapan Penerimaan Mahasiswa Baru
012 Melaksanakan Promosi
013 Registrasi Mahasiswa Baru
014 Prosesi Penerimaan Mahasiswa Baru

4078.011

Prodi Memenuhi Standar Mutu Pendidikan Akademik

4078.011.00
1

Akreditasi Prodi

4078.011.00
2

Pengembangan Kurikulum

4078.011.00
1

Sertifikasi ISO

STANDAR BIAYA

Standar Biaya adalah satuan biaya yang ditetapkan oleh Menteri


Keuangan selaku pengelola fiskal (chief financial officer) baik berupa
standar biaya masukan maupun standar biaya keluaran, sebagai acuan
perhitungan kebutuhan anggaran dalam penyusunan RKA-K/ L.
Standar Biaya Masukan adalah satuan biaya yang ditetapkan untuk
menyusun biaya komponen keluaran (output).
Standar Biaya Keluaran adalah besaran biaya yang ditetapkan untuk
menghasilkan keluaran (output)/sub keluaran (sub output).

Pengaturan Standar Biaya


PENGATURAN
STANDAR BIAYA

Regelling

(PMK No.71/PMK.02/2013 jo.


PMK No. 51/PMK.02 /2014)
Bersifat jangka panjang
Pengaturan penerapan
standar biaya
1. Panduan penerapan SBM
2. Panduan penerapan SBK,
3. Panduan penerapan Standar
Struktur Biaya & Indeksasi)

Beschikking
Bersifat tahunan
Penetapan satuan2 biaya
baik SBM maupun SBK
termasuk struktur biaya
1. PMK SBM (PMK No. 53/PMK.02
/2014) & Surat Menkeu ttg SBM
2. PMK SBK
3. PMK/Surat Menkeu ttg Standar
Struktur Biaya & Indeksasi

Catatan: PMK No. 51/PMK.02 /2014) merevisi ketentuan mengenai kebijakan


honor tim dan standar struktur biaya dalam pelaksanaan anggaran

Fungsi Standar Biaya (1/2)


A. SBM

Satuan biaya untuk menghasilkan biaya komponen keluaran (output)


1) Penyusunan RKA-K/L batas tertinggi
2) Pelaksanaan
a) Batas tertinggi Lampiran I PMK SBM
b) Estimasi Lampiran II PMK SBM, dapat dilampaui dengan
pertimbangan tertentu (harga pasar, Proses pengadaan,
Ketersediaan alokasi anggaran, Prinsip ekonomis, efisiensi dan
efektifitas )

Alat reviu angka dasar (baseline)


Sebagai salah satu alat untuk mereviu angka dasar atas komponen
masukan (input) dari keluaran (output) berlanjut yang dilakukan
dengan penyesuaian SBM pada komponen keluaran (output) prakiraan
maju tahun sebelumnya dengan SBM tahun yang direncanakan

5. Fungsi Standar Biaya (2/2)


B. SBK

Dalam perencanaan:
Sebagai batas tertinggi yang berarti besarannya tidak dapat dilampaui;
Referensi penyusunan prakiraan maju;
Bahan penghitungan pagu indikatif Kementerian Negara/Lembaga;
dan/atau
Referensi penyusunan Standar Biaya Keluaran untuk output/sub output
sejenis pada Kementerian Negara/Lembaga yang berbeda

Dalam Pelaksanaan, sebagai Estimasi yang dapat dilampaui dengan


pertimbangan tertentu (apabila diperlukan revisi dilakukan dengan
mengacu pada ketentuan yang berlaku).

PMK Nomor : 71 /PMK.02/2013 Tentang Pedoman Standar Biaya, Standar


Struktur Biaya, dan Indeksasi dalam penyusunan RKA-K/L , Fsl 8 ayat (2)

Dalam Rangka Penyusunan RKA-K/L PA/KPA dapat


menggunakan Standar Biaya Lainnya berdasarkan :
a. Harga Pasar
b. Satuan harga yang ditetapkan oleh Menteri /Pimpinan
Lembaga/Instansi teknis yang berwenang

TERIMA KASIH