You are on page 1of 18

1.

Resistansi listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu komponen
elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya. Hambatan listrik
yang mempunyai satuan Ohm dapat dirumuskan sebagai berikut:

atau

di mana V adalah tegangan dan I adalah arus listrik.


Induktansi adalah sifat dari rangkaian elektronika yang menyebabkan timbulnya
potensial listrik secara proporsional terhadap arus yang mengalir pada rangkaian tersebut,
sifat ini disebut sebagai induktansi sendiri. Sedang apabila potensial listrik dalam suatu
rangkaian ditimbulkan oleh perubahan arus dari rangkaian lain disebut sebagai
induktansi bersama.

Definisi kuantitatif dari induktansi sendiri (simbol: L) adalah :


dimana v
adalah GGL yang ditimbulkan dalam volt dan i adalah arus listrik dalam ampere. Bentuk
paling sederhana dari rumus tersebut terjadi ketika arus konstan sehingga tidak ada GGL
yang dihasilkan atau ketika arus berubah secara konstan (linier) sehingga GGL yang
dihasilkan konstan (tidak berubah-ubah).
Induktansi muncul karena adanya medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik
(dijelaskan oleh Hukum Ampere). Supaya suatu rangkaian elektronika mempunyai nilai
induktansi, sebuah komponen bernama induktor digunakan di dalam rangkaian tersebut,
induktor umumnya berupa kumparan kabel/tembaga untuk memusatkan medan magnet
dan memanfaatkan GGL yang dihasilkannya.
Kapasitansi atau kapasitans adalah ukuran jumlah muatan listrik yang disimpan (atau
dipisahkan) untuk sebuah potensial listrik yang telah ditentukan. Bentuk paling umum dari
piranti penyimpanan muatan adalah sebuah kapasitor dua lempeng/pelat/keping. Jika muatan di
lempeng/pelat/keping adalah +Q dan Q, dan V adalah tegangan listrik antar
lempeng/pelat/keping, maka rumus kapasitans adalah:

C adalah kapasitansi yang diukur dalam Farad


Q adalah muatan yang diukur dalam coulomb
V adalah voltase yang diukur dalam volt
Unit SI dari kapasitansi adalah farad; 1 farad = 1 coulomb per volt

Hukum Ohm

, , dan

sebagai komponen parameter dalam Hukum Ohm.

Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir melalui sebuah
penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan kepadanya.[1][2]
Sebuah benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya tidak
bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan kepadanya.[1] Walaupun
pernyataan ini tidak selalu berlaku untuk semua jenis penghantar, namun istilah "hukum" tetap
digunakan dengan alasan sejarah.[1]
Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan:[3][4]

Dimana :

adalah arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam satuan Ampere.

adalah tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar dalam satuan volt.

adalah nilai hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam
satuan ohm.

Hukum ini dicetuskan oleh George Simon Ohm, seorang fisikawan dari Jerman pada tahun 1825
dan dipublikasikan pada sebuah paper yang berjudul The Galvanic Circuit Investigated
Mathematically pada tahun 1827. [5]

Hukum II Kirchhoff
Hukum II Kirchhoff

Hukum II Kirchhoff berbunyi : Di dalam sebuah rangkaian tertutup, jumlah aljabar gaya gerak
listrik () dengan penurunan tegangan (I.R) sama dengan nol. Maksud dari jumlah penurunan
potensial sama dengan nol adalah tidak ada energi listrik yang hilang dalam rangkaian tersebut,
atau dalam arti semua energi listrik bisa digunakan atau diserap.

Hukum II Kirchhoff dirumuskan sebagai


E +IR = 0
Keterangan :
E = jumlah ggl sumber arus (V)
IR = jumlah penurunan tegangan. (V)
I = arus listrik (A)
R = hambatan (W)

Hukum Kirchoff I
Hukum Kirchoff I berbunyi jumlah aljabar dari arus yang menuju/ masuk
dengan arus yang meninggalkan/keluar pada satu titik sambungan/cabang
sama dengan nol
Hal ini dapat digambarkan melalui Gambar 6 berikut ini.
Hukum tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
i=0
i1 + i2 + i3 - i4 - i5 = 0
dimana:

Arus yang masuk (i1, i2, i3) diberi tanda positif.

Arus yang keluar (i4 dan i5) diberi tanda negatif

Sistem 3 Fasa
20:37 HaGe 13Komentar
Pada sistem tenaga listrik 3 fase, idealnya daya listrik yang dibangkitkan, disalurkan dan diserap
oleh beban semuanya seimbang, P pembangkitan = P pemakain, dan juga pada tegangan yang
seimbang. Pada tegangan yang seimbang terdiri dari tegangan 1 fase yang mempunyai
magnitude dan frekuensi yang sama tetapi antara 1 fase dengan yang lainnya mempunyai beda
fase sebesar 120listrik, sedangkan secara fisik mempunyai perbedaan sebesar 60, dan dapat
dihubungkan secara bintang (Y, wye) atau segitiga (delta, , D).

Gambar 1. sistem 3 fase.


Gambar 1 menunjukkan fasor diagram dari tegangan fase. Bila fasor-fasor tegangan tersebut
berputar dengan kecepatan sudut dan dengan arah berlawanan jarum jam (arah positif), maka
nilai maksimum positif dari fase terjadi berturut-turut untuk fase V1, V2 dan V3. sistem 3 fase
ini dikenal sebagai sistem yang mempunyai urutan fasa a b c . sistem tegangan 3 fase
dibangkitkan oleh generator sinkron 3 fase.
Hubungan Bintang (Y, wye)
Pada hubungan bintang (Y, wye), ujung-ujung tiap fase dihubungkan menjadi satu dan menjadi
titik netral atau titik bintang. Tegangan antara dua terminal dari tiga terminal a b c

mempunyai besar magnitude dan beda fasa yang berbeda dengan tegangan tiap terminal
terhadapa titik netral. Tegangan Va, Vb dan Vc disebut tegangan fase atau Vf.

Gambar 2. Hubungan Bintang (Y, wye).


Dengan adanya saluran / titik netral maka besaran tegangan fase dihitung terhadap saluran / titik
netralnya, juga membentuk sistem tegangan 3 fase yang seimbang dengan magnitudenya (akar 3
dikali magnitude dari tegangan fase).
Vline = akar 3 Vfase = 1,73Vfase
Sedangkan untuk arus yang mengalir pada semua fase mempunyai nilai yang sama,
ILine = Ifase
Ia = Ib = Ic
Hubungan Segitiga
Pada hubungan segitiga (delta, , D) ketiga fase saling dihubungkan sehingga membentuk
hubungan segitiga 3 fase.

Gambar 3. Hubungan Segitiga (delta, , D).


Dengan tidak adanya titik netral, maka besarnya tegangan saluran dihitung antar fase, karena
tegangan saluran dan tegangan fasa mempunyai besar magnitude yang sama, maka:
Vline = Vfase
Tetapi arus saluran dan arus fasa tidak sama dan hubungan antara kedua arus tersebut dapat
diperoleh dengan menggunakan hukum kirchoff, sehingga:
Iline = akar 3 Ifase = 1,73Ifase
Daya pada Sistem 3 Fase
1. Daya sistem 3 fase Pada Beban yang Seimbang
Jumlah daya yang diberikan oleh suatu generator 3 fase atau daya yang diserap oleh beban 3
fase, diperoleh dengan menjumlahkan daya dari tiap-tiap fase. Pada sistem yang seimbang, daya
total tersebut sama dengan tiga kali daya fase, karena daya pada tiap-tiap fasenya sama.

Gambar 4. Hubungan Bintang dan Segitiga yang seimbang.


Jika sudut antara arus dan tegangan adalah sebesar , maka besarnya daya perfasa adalah

Pfase = Vfase.Ifase.cos
sedangkan besarnya total daya adalah penjumlahan dari besarnya daya tiap fase, dan dapat
dituliskan dengan,
PT = 3.Vf.If.cos
Pada hubungan bintang, karena besarnya tegangan saluran adalah 1,73Vfase maka tegangan
perfasanya menjadi Vline/1,73, dengan nilai arus saluran sama dengan arus fase, IL = If, maka
daya total (PTotal) pada rangkaian hubung bintang (Y) adalah:
PT = 3.VL/1,73.IL.cos = 1,73.VL.IL.cos
Dan pada hubung segitiga, dengan besaran tegangan line yang sama dengan tegangan fasanya,
VL = Vfasa, dan besaran arusnya Iline = 1,73Ifase, sehingga arus perfasanya menjadi IL/1,73,
maka daya total (Ptotal) pada rangkaian segitiga adalah:
PT = 3.IL/1,73.VL.cos = 1,73.VL.IL.cos
Dari persamaan total daya pada kedua jenis hubungan terlihat bahwa besarnya daya pada kedua
jenis hubungan adalah sama, yang membedakan hanya pada tegangan kerja dan arus yang
mengalirinya saja, dan berlaku pada kondisi beban yang seimbang.
2. Daya sistem 3 fase pada beban yang tidak seimbang
Sifat terpenting dari pembebanan yang seimbang adalah jumlah phasor dari ketiga tegangan
adalah sama dengan nol, begitupula dengan jumlah phasor dari arus pada ketiga fase juga sama
dengan nol. Jika impedansi beban dari ketiga fase tidak sama, maka jumlah phasor dan arus
netralnya (In) tidak sama dengan nol dan beban dikatakan tidak seimbang. Ketidakseimbangan
beban ini dapat saja terjadi karena hubung singkat atau hubung terbuka pada beban.
Dalam sistem 3 fase ada 2 jenis ketidakseimbangan, yaitu:
1. Ketidakseimbangan pada beban.
2. ketidakseimbangan pada sumber listrik (sumber daya).
Kombinasi dari kedua ketidakseimbangan sangatlah rumit untuk mencari pemecahan
permasalahannya, oleh karena itu kami hanya akan membahas mengenai ketidakseimbangan
beban dengan sumber listrik yang seimbang.

Gambar 5. Ketidakseimbangan beban pada sistem 3 fase.


Pada saat terjadi gangguan, saluran netral pada hubungan bintang akan teraliri arus listrik.
Ketidakseimbangan beban pada sistem 3 fase dapat diketahui dengan indikasi naiknya arus pada
salahsatu fase dengan tidak wajar, arus pada tiap fase mempunyai perbedaan yang cukup
signifikan, hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan.

Teori Superposisi
9:45 PM Rangkaian Listrik No comments
Teori superposisi ini hanya berlaku untuk rangkaian yang bersifat linier.
Rangkaian linier adalah suatu rangkaian dimana persamaan yang muncul
akan memenuhi jika y = kx, dimana k = konstanta dan x = variabel. Pada
setiap rangkaian linier dengan beberapa buah sumber tegangan/ sumber
arus dapat dihitung dengan cara :
Menjumlah aljabarkan tegangan/ arus yang disebabkan tiap sumber yang
bekerja sendiri-sendiri.

Pengertian dari teori diatas bahwa jika terdapat n buah sumber maka dengan
teori superposisi sama dengan n buah keadaan rangkaian yang dianalisis,
dimana nantinya n buah keadaan tersebut akan dijumlahkan. Ini berarti
bahwa bila terpasang dua atau lebih sumber tegangan/sumber arus, maka
setiap kali hanya satu sumber yang terpasang secara bergantian. Sumber
tegangan dihilangkan dengan cara menghubung singkatkan ujung-ujungnya
(short circuit), sedangkan sumber arus dihilangkan dengan cara membuka
hubungannya (open circuit).

Rangkaian berikut ini dapat dianalisa dengan mengkondisikan sumber


tegangan aktif/bekerja sehingga sumber arusnya menjadi tidak aktif (diganti
dengan rangkaian open circuit). Oleh sebab itu arus i dalam kondisi sumber
arus OC yang mengalir di R 10 dapat ditentukan.

Kemudian dengan mengkondisikan sumber arus aktif/bekerja maka sumber


tegangan tidak aktif (diganti dengan rangkaian short circuit). Disini arus i
dalam kondisi sumber tegangan SC yang mengalir di R10 dapat ditentukan
juga. Akhirnya dengan penjumlahan aljabar kedua kondisi tersebut maka
arus total akan diperoleh.

Langsung ke: navigasi, cari

Ilustrasi sirkuit ekuivalen Thevenin.


Teorema Thevenin adalah salah satu teorema yang berguna untuk analisis sirkuit listrik.[1]
Teorema Thevenin menunjukkan bahwa keseluruhan jaringan listrik tertentu, kecuali beban,
dapat diganti dengan sirkuit ekuivalen yang hanya mengandung sumber tegangan listrik
independen dengan sebuah resistor yang terhubung secara seri, sedemikian hingga hubungan
antara arus listrik dan tegangan pada beban tidak berubah.[1] Sirkuit baru hasil dari aplikasi
teorema Thevenin disebut dengan sirkuit ekuivalen Thevenin.[1] Teorema ini dinamakan sesuai
dengan penemunya, seorang insinyur berkebangsaan Perancis, M. L. Thvenin.[1]
Ditentukan sebuah jaringan listrik seperti pada gambar dan bagian dalam kotak hitam yang akan
dicari sirkuit ekuivalennya; nilai sumber tegangan
pada sirkuit ekuivalen Thevenin
didapatkan dengan melepaskan resistor beban di antara terminal A dan B lalu dihitung besar
tegangan sirkuit terbuka di antara kedua terminal tersebut.[2] Sedangkan nilai resistor pengganti
dapat dihitung dengan mematikan semua sumber tegangan dan arus lalu dihitung nilai
ekuivalen resistansi di antara terminal A dan B.[2]
Penggunaan utama dari teorema Thevenin adalah menyederhanakan sebagian besar dari sirkuit
dengan sirkuit ekuivalen yang sederhana.[3]

Teorema norton merupakan salah satu hukum listrik yang menganalisa suatu
rangkaian elektronika arus searah pada rangkaian tertutup dan dianalisa
berdasarkan konsep pembagi arus (curent divider). Pada hukum norton atau
lebih dikenal sebagai teorema norton, suatu rangkaian elektronika arus
searah dengan sumber tegangan dan resistansi pada rangkaian loop tertutup
dapat dianalisa dengan membuat rangkaian sumber arus yang setara
dengan rangkaian tersebut. Rangkaian penggati ini dikenal dengan nama
rangkaian setara Norton kemudian sumber arus pengganti disebut sebagai
sumber arus Norton. Teorema ini merupakan suatu pendekatan analisa
rangkaian arus searah yang secara singkat dapat dikatakan sebagai berikut.
Jika suatu kumpulan rangkaian sumber tegangan dan resistor dihubungkan
dengan dua terminal keluaran, maka rangkaian tersebut dapat digantikan
dengan sebuah rangkaian paralel dari sebuah sumber arus rangkaian
hubung singkat IN dan sebuah konduktansi GN Gambar Proses

Terbentuknya Rangkaian Setara Norton Teorema norton,hukum


norton,rangkaian setara Norton,Proses Terbentuknya Rangkaian Setara
Norton,proses menentukan rangkaian setara norton,teori norton,rumus
norton,analisa norton,penggunaan teorema norton,sumber arus
norton,konduktasi norton,rumus arus norton,formula norton,arus pengganti
norton,rangkaian pengganti norton,cara membuat rangkaian setara
norton,cara menghitung arus norton,cara menentukan konduktansi
norton,teori dasar norton,bunyi teorema norton,pernyataan
norton,kesimpulan norton Pada gambar rangkaian diatas merupakan proses
menentukan rangkaian setara norton, rangkaian setara Norton digambarkan
dengan kombinasi paralel antara sebuah sumber arus IN dan sebuah
konduktan GN (lihat gambar d diatas). Jika rangkaian ini akan dibebani
dengan sebuah beban konduktan GL , maka ada dua harga ekstrem yaitu GL
= dan GL = 0. Harga GL = (atau RL = 0) berada pada kondisi hubung
singkat dan arus hubung singkat IS/C sama dengan IN. Sedangkan harga GL
= 0 (atau RL = ) berada pada kondisi rangkaian terbuka, dimana terlihat
bahwa V0/C merupakan tegangan rangkaian terbuka. Dengan demikian
untuk rangkaian setara Norton berlaku : I_{N}=I_{S/C} dan
G_{N}=\frac{I_{N}}{V_{0/C}}

Pengertian arus listrik AC dan DC beserta contoh penggunaannya


Listrik merupakan energi yang dapat disalurkan melalui penghantar berupa
kabel, adanya arus listrik dikarenakan muatan listrik mengalir dari saluran
positif ke saluran negatif. Dalam kehidupan manusia listrik memiliki peran
yang sangat penting. Selain digunakan sebagai penerangan listrik juga
digunakan sebagai sumber energi untuk tenaga dan hiburan, contohnya saja
pemanfaatan energi listrik dalam bidang tenaga adalah motor listrik.
Keberadaan listrik yang sangat penting dan fital akhirnya saat ini listrik
dikuasai oleh negara melalui perusahaan yang bernama PLN.
Listrik sendiri dibagi menjadi dua jenis yaitu arus listrik AC dan DC. Dalam
artikel singkat ini kita akan membahas mengenai apa yang dimaksud dengan
arus listrik AC dan DC beserta contoh pemanfaatan keduanya. Untuk
memudahkan pembaca artikel ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian,
yang pertama saya akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan arus listrik
AC dan contoh penggunaannya, kemudian yang kedua saya akan membahas
pengertian listrik DC dan contoh penggunaannya.

Pengertian Arus Listrik AC


Arus listrik AC (alternating current), merupakan listrik yang besarnya dan
arah arusnya selalu berubah-ubah dan bolak-balik. Arus listrik AC akan
membentuk suatu gelombang yang dinamakan dengan gelombang sinus
atau lebih lengkapnya sinusoida. Di Indonesia sendiri listrik bolak-balik (AC)
dipelihara dan berada dibawah naungan PLN, Indonesia menerapkan listrik
bolak-balik dengan frekuensi 50Hz. Tegangan standar yang diterapkan di
Indonesia untuk listrik bolak-balik 1 (satu) fasa adalah 220 volt. Tegangan
dan frekuensi ini terdapat pada rumah anda, kecuali jika anda tidak
berlangganan listrik PLN.
Contoh pemanfaatan listrik AC
Pemanfaatan listrik AC sebenarnya sangatlah banyak. Untuk mempermudah
sebenarnya anda dapat melihat barang-barang yang ada dirumah anda,
perhatikanlah bahwa semua barang yang menggunakan listrik PLN berarti
telah memanfaatkan listrik AC. Sebagai pengaman listrik AC yang ada
dirumah anda, biasanya pihak PLN menggunakan pembatas sekaligus
pengaman yaitu MCB (miniature circuit breaker). Meskipun demikian tak
semua barang yang anda lihat menggunakan listrik AC, ada sebagian barang
yang menggunakan listrik PLN namun barang tersebut sebenarnya
menggunakan listrik DC, contohnya saja Laptop. Laptop menggunakan listrik
DC, listrik tersebut diperoleh dari adaptor yang terdapat pada laptop (atau
terdapat pada charger) tersebut. Jadi saat anda mengisi ulang baterai laptop
dengan listrik PLN (AC) maka adaptor didalam laptop akan merubah listrik AC
menjadi DC, sehingga sesuai kebutuhan dari laptop anda. Contoh
pemanfaatan energi listrik AC yang lain adalah: Untuk mesin cuci,
penerangan (lampu), pompa air AC, pendingin ruangan, kompor listrik, dan
masih banyak lagi.
Pengertian arus listrik DC
Arus listrik DC (Direct current) merupakan arus listrik searah. Pada awalnya
aliran arus pada listrik DC dikatakan mengalir dari ujung positif menuju ujung
negatif. Semakin kesini pengamatan-pengamatan yang dilakukan oleh para
ahli menunjukkan bahwa pada arus searah merupakan arus yang alirannya
dari negatif (elektron) menuju kutub positif. Nah aliran-aliran ini
menyebabkan timbulnya lubang-lubang bermuatan positif yang terlihat
mengalir dari positif ke negatif.
Contoh pemanfaatan listrik DC
Listrik DC (direct current) biasanya digunakan oleh perangkat lektronika.

Meskipun ada sebagian beban selain perangkat elektronika yang


menggunakan arus DC (contohnya; Motor listrik DC) namun kebanyakan arus
DC digunakan untuk keperluan beban elektronika. Beberapa beban
elektronika yang menggunakan arus listrik DC diantaranya: Lampu LED
(Light Emiting Diode), Komputer, Laptop, TV, Radio, dan masih banyak lagi.
Selain itu listrik DC juga sering disimpan dalam suatu baterai, contohnya saja
baterai yang digunakan untuk menghidupkan jam dinding, mainan mobilmobilan dan masih banyak lagi. Intinya kebanyakan perangkat yang
menggunakan listrik DC merupakan beban perangkat elektronika.
Atom adalah suatu satuan dasar materi, yang terdiri atas inti atom serta awan elektron bermuatan
negatif yang mengelilinginya. Inti atom terdiri atas proton yang bermuatan positif, dan neutron
yang bermuatan netral (kecuali pada inti atom Hidrogen-1, yang tidak memiliki neutron).
Elektron-elektron pada sebuah atom terikat pada inti atom oleh gaya elektromagnetik.
Sekumpulan atom demikian pula dapat berikatan satu sama lainnya, dan membentuk sebuah
molekul. Atom yang mengandung jumlah proton dan elektron yang sama bersifat netral,
sedangkan yang mengandung jumlah proton dan elektron yang berbeda bersifat positif atau
negatif dan disebut sebagai ion. Atom dikelompokkan berdasarkan jumlah proton dan neutron
yang terdapat pada inti atom tersebut. Jumlah proton pada atom menentukan unsur kimia atom
tersebut, dan jumlah neutron menentukan isotop unsur tersebut.
Istilah atom berasal dari Bahasa Yunani (/tomos, -), yang berarti tidak dapat
dipotong ataupun sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Konsep atom sebagai komponen
yang tak dapat dibagi-bagi lagi pertama kali diajukan oleh para filsuf India dan Yunani. Pada
abad ke-17 dan ke-18, para kimiawan meletakkan dasar-dasar pemikiran ini dengan
menunjukkan bahwa zat-zat tertentu tidak dapat dibagi-bagi lebih jauh lagi menggunakan
metode-metode kimia. Selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, para fisikawan berhasil
menemukan struktur dan komponen-komponen subatom di dalam atom, membuktikan bahwa
'atom' tidaklah tak dapat dibagi-bagi lagi. Prinsip-prinsip mekanika kuantum yang digunakan
para fisikawan kemudian berhasil memodelkan atom.[1]
Dalam pengamatan sehari-hari, secara relatif atom dianggap sebuah objek yang sangat kecil yang
memiliki massa yang secara proporsional kecil pula. Atom hanya dapat dipantau dengan
menggunakan peralatan khusus seperti mikroskop gaya atom. Lebih dari 99,9% massa atom
berpusat pada inti atom,[catatan 1] dengan proton dan neutron yang bermassa hampir sama. Setiap
unsur paling tidak memiliki satu isotop dengan inti yang tidak stabil, yang dapat mengalami
peluruhan radioaktif. Hal ini dapat mengakibatkan transmutasi, yang mengubah jumlah proton
dan neutron pada inti.[2] Elektron yang terikat pada atom mengandung sejumlah aras energi,
ataupun orbital, yang stabil dan dapat mengalami transisi di antara aras tersebut dengan
menyerap ataupun memancarkan foton yang sesuai dengan perbedaan energi antara aras.

Elektron pada atom menentukan sifat-sifat kimiawi sebuah unsur, dan memengaruhi sifat-sifat
magnetis atom tersebut.
Definisi elektron adalah partikel yang bermuatan negative. elektron terletak dalam atom (terikat
pada inti atom) dan menyebabkan sifat kimia. Di dalam logam, elektron berifat ebas (tidak
terikat atom)sehingga dapat menghantarkan arus listrik. Dalam semikonduktor, aliran elektron
dapat diatur sehingga dapat dibuat diode, transistor dan lain-lain.
Nama electron diusulkan oleh G.J Stoney. Penemuan electron dimulai dari percobaan yang
dilakukan oleh J.J Thomso (1897) dengan tabung sinar katode. Percobaan ini berhasil mengukur
perbandingan antara muatan listrik dengan massa sinar katode itu. Menurut Thomson, sinar
katode ini merupakan bagian dari atom yang disebut electron.

Dimulai dengan pengertian Arus Listrik,Secara teori Arus Listrik dapat di definiskan
sejumlah muatan listrik yang mengalir dalam suatu rangkaian listrik.
Rumus :
I = Q/T
I = Arus Listrik
Q = Banyaknya Muatan Listrik
T= Waktu
Satuan Arus Listrik adalah Ampere (A)
Lalu pengertian dari Tegangan adalah Beda potensial diantara dua titik dalam suatu
rangkaian listrik.
Rumus :
V= I .R
V = Tegangan
I = Arus Listrik
R = Hambatan
Satuan Tegangan adalah Volt (V)
Terdapat 2 Jenis Tegangan,

Tegangan AC (Alternating Current)


Tegangan DC (Direct Current).
Sedangkan pengertian dari Hambatan yaitu pembanding antara tegangan dengan arus
yang mengalir dalam suatu rangkaian listrik.
Rumus :
R= V/I
R = Hambatan
V = Tegangan
I = Arus Listrik
Satuan Hambatan adalah Ohm (R)
Analogi dari Arus Listrik, Tegangan, Hambatan bisa kita bayangkan sebuah pipa yang
digunakan untuk mengalirkan Air sekaligus terpasang kran Air dalam rangkaian pipa
tersebut,
Asumsi pipa adalah sebuah rangkaian listrik, asumsi air itu adalah sejumlah muatan
listrik, tegangan energi yang mengalirkan air dan kran air sebagai hambatan.
---------------------------------------------------------------------------|kran air|------------------Tegangan ---> +-+-+-+-+(muatan listrik)-+-+-+-+-+-+
-+ -+ -+ -+
<--- Pipa
---->
---------------------------------------------------------------------------------------------------------Analogi Arus Listrik, Tegangan, Hambatan.

Adapun alat ukur yang digunakan untu mengukur Arus Listrik, Tegangan, Hambatan
umumnya tersedia dalam satu paket alat ukur yang bernama AVO Meter.

Baterai dan Aki (Akumulator)


Baterai dan Aki adalah salah satu sumber tenaga yang dipergunakan untuk
menghidupkan alat-alat elektronik , maupun kendaraan .
Mengapa Jika ingin menghidupkan Jam Dinding diperlukan baterai ? bukan Aki ?
Jawabannya : kalau baterai tidak dapat dipergunakan lagi ( sekali pakai ) dan bersifat
AC ( satu arah ), sedangan aki dapat digunakan kembali ( apabila telah di isi) dan
bersifat DC ( dua arah ). Jawaban sederhana ini , berlaku untuk semua pertanyaan
yang sama tentang Aki dan Baterai dikarenakan , beberapa peralatan ada yang

memerlukan Baterai , Aki , maupun keduanya .


Baterai
Baterai tersusun atas batang karbon sebagai electrode positif atau kutub positif ,
pembungkus batang karbon yang terbuat dari seng sebagai electrode negative atau
kutub negative, larutan ammonium klorida sebagai larutan elektrolit, dan
campuran mangan dioksida dengan karbon sebagai depolarisator, yaitu pelindung
larutan elektrolit . Elemen kering pertama kali oleh Leclance. Oleh karena itu, elemen
Leclace.

Prinsip Baterai, ketika baterai dipakai , terjadi reaksi antara elektrode positif dan
elektrode negatif.
Di elektrode negatif terjadi pelepasan elektron oleh seng. Akibatnya, terbentuk ion seng
yang bermuatan positif.
Elektron yang dilepaskan tersebut ditangkap oleh elektrode positif dalam hal ini,
dilakukan oleh mangan dioksida dan larutan amonium klorida . Peristiwa tersebut terjadi
terus menerus. Akibatnya, pada suatu saat perbedaan potensial kedua elektrode sama
dengan nol. Paad keadaan inilah baterai dikatakan mati.
Selama baterai digunakan, seng bereaksi dengan amonium klorida sehingga terbentuk
seng klorida dan gas hidrogen. Itulah sebabnya , jumlah amonium klorida berangsurangsur berkurang.

Aki ( Akumulator)
Aki tersusun atas pelat timbal sebagai elektrode negatif dan pelat timbal dioksida
sebagai elektrode positif, dan larutan elektrolit asam sulfat.
Di antara kedua elektrode , dibatasi dengan bahan isolator. Hal itu dimaksudkan, agar
aki tidak bersentuhan (kalau, terjadi sentuhan menyebabkan korsleting).

Prinsip kerja aki, pada saat aki dipakai , kedua elektrodenya perlahan-lahan aka
menjadi timbal sulfat. Hal itu disebabkan, kedual elektrode beraksi dengan larutan asam
sulfat. Pada reaksi tersebut, elektrode timbal melepaskan banyak elektron.
Akibatnya, terjadi aliran arus listrik dari pelat timbal dioksidanya. Setelah beberapa lama
dipakai, akhirnya kedua elektrode tertutup oleh timbal sulfat . Akibatnya diantara
keduanya tidak ada lagi beda potensial. Keadaan tersebut disebut , akinya soak / mati.

Pertanyaan :
1. Jelaskan prinsip kerja baterai
Jawab :
Prinsip Baterai, ketika baterai dipakai , terjadi reaksi antara elektrode positif dan
elektrode negatif. Di elektrode negatif terjadi pelepasan elektron oleh seng. Akibatnya,
terbentuk ion seng yang bermuatan positif. Elektron yang dilepaskan tersebut ditangkap
oleh elektrode positif dalam hal ini, dilakukan oleh mangan dioksida dan larutan
amonium klorida . Peristiwa tersebut terjadi terus menerus. Akibatnya, pada suatu saat
perbedaan potensial kedua elektrode sama dengan nol. Paad keadaan inilah baterai

dikatakan mati. Selama baterai digunakan, seng bereaksi dengan amonium klorida
sehingga terbentuk seng klorida dan gas hidrogen. Itulah sebabnya , jumlah amonium
klorida berangsur-angsur berkurang.
2. Perbedaan prinsip kerja Baterai dan Aki ?
Jawab :
Perbedaanya ialah , kalau baterai tidak dapat dipergunakan lagi ( sekali pakai ) dan
bersifat AC ( satu arah ), sedangan aki dapat digunakan kembali ( apabila telah di isi)
dan bersifat DC ( dua arah ).