You are on page 1of 5

A.

Kelapa (Cocos nucifera L)


Tanaman kelapa (Cocos nucifera L) merupakan komoditas perkebunan
yang hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan (Palungkun,
2004). Menurut Suhardiyono (1993), pohon kelapa mempunyai tinggi rata-rata
1,2 dan 3 meter dan sejak ditanam sampai berbuah hingga siap dipetik pohon
kelapa membutuhkan waktu 12 bulan. Dalam tata nama atau sistematika
(taksonomi) tanaman kelapa (Cocos nucifera) dimasukkan ke dalam klasifikasi
sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae (Tumbuh-tumbuhan)

Divisio

: Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)

Sub-Divisio : Angiospermae (Berbiji tertutup)


Kelas

: Monocotyledonae (biji berkeping satu)

Ordo

: Palmales

Familia

: Palmae

Genus

: Cocos

Spesies

: Cocos nucifera L

Menurut Palungkun (1993), Buah kelapa terdiri dari bagian-bagian seperti:


1. Epicarp (kulit luar), yaitu kulit bagian luar yang berwarna hijau, kuning, atau
jingga permukaannya licin, agak keras dan tebalnya 0,14 mm.
2. Mesocarp (sabut), yaitu kulit bagian tengah yang disebut serabut terdiri dari
bagian berserat tebalnya 3 5 mm.
3. Endocarp (tempurung), yaitu bagian tempurung yang keras sekali tebalnya 3
5 mm, bagian dalam melekat pada kulit luar biji.
4. Testa ( Kulit Daging Buah), yaitu bagian dari warna kuning sampai coklat.
5. Endosperm (Daging Buah), yaitu bagian yang berwarna putih dan lunak,
sering disebut daging kelapa yang tebalnya 8-10 mm.
6. Air Kelapa, yaitu bagian yang berasa manis, mengandung mineral 4%, gula
2%, dan air.
7. Lembaga, yaitu bakal tanaman setelah buah tua.
Menurut Palungkung (2004), komposisi buah kelapa adalah sebagai
berikut:

Tabel 1. Komposisi Buah Kelapa


Komponen
Serabut
Tempurung
Daging Buah
Air Buah

Jumlah Berat (%)


25-32
12-13,1
28-34,9
19,2-25

B. Pembuatan Minyak Kelapa


Ada beberapa cara pembuatan minyak kelapa murni (VCO) yaitu:
1. Cara Tradisional
Cara ini sudah lama dipraktikkan oleh ibu-ibu di pedesaan. Umumnya,
VCO yang dihasilkan digunakan untuk minyak goreng. VCO yang
dihasilkan dengan cara tradisional berwarna agak kekuningan dan memiliki
daya simpan yang tidak lama. Kandungan antioksidan dan asam lemak
rantai sedang juga sudah banyak yang hilang. Cara pembuatannya yaitu
dengan menggunakan metode pemanasan pada suhu 110-110C (Rindengan,
2004).
2. Cara Pemanasan Bertahap
Minyak yang dihasilkan berwarna bening seperti kristal dan memiliki daya
simpan yang lebih lama berkisar 10-12 tahun. Kandungan asam lemak tidak
banyak yang berubah dan kandungan antioksidannya pun masih lengkap
dalam jumlah yang seimbang. Cara pembuatan dengan metode ini hampir
sama cara tradisional, yang berbeda terletak pada suhu pemanasan. Dimana,
pada pemanasan bertahap suhu yang digunakan tidak boleh kurang maupun
melebihi suhu 60-75 C (Julius Pontoh, 2008).
3. Cara Enzimatis
Cara ini merupakan cara pembuatan VCO tanpa proses pemanasan.
Minyak yang dihasilkan berwarna bening seperti kristal. Kandungan asam
lemak rantai sedang dan antioksidannya tidak banyak berubah sehingga
tidak mudah tengik. Enzim yang dibutuhkan adalah enzim protease, enzim
papain (daun papaya), enzim bromelin (buah nanas), dan enzim protease dari
kepiting sungai (Setiaji, B dan Surip, P, 2006).
4. Cara Pengasaman

Pengasaman merupakan salah satu upaya pembuatan VCO dengan cara


membuat suasana emulsi (santan) dalam keadaan asam. Asam memiliki
kemampuan untuk memutus ikatan lemak protein dengan cara mengikat
senyawa yang berikatan dengan lemak. Namun asam yang dicampurkan
kedalam santan hanya bisa bekerja dengan maksimal bila kondisi pH
(derajat keasamannya) sesuai. Pada proses pembuatan VCO, pH yang paling
optimal yaitu 4,3. Pengukuran pH tersebut dilakukan dengan pH meter atau
kertas lakmus (Darmoyuwono, 2006).
5. Cara Sentrifugasi
Sentrifugasi merupakan salah satu pembuatan VCO dengan cara mekanik.
Pembuatan VCO dengan sentrifugasi juga dikelompokan menjadi tiga,
yaitu : pembuatan santan, pembuatan VCO serta penyaringan. Pada cara ini
krim dimasukan dalam tabung ke dalam sentrifuse. Pemutusan ikatan lemak
protein pada santan dilakukan dengan pemutaran (pemusingan), yaitu
dengan gaya sentrifugal karena berat jenis minyak dan air berbeda maka
setelah dilakukan sentrifugasi keduanya akan terpisah dengan sendirinya.
Berat jenis minyak lebih ringan dibanding air sehingga minyak akan
terkumpul pada lapisan atas (Julius Pontoh, 2008).
6. Cara Fermentasi
Pembuatan minyak secara fermentasi pada prinsipnya adalah pengrusakan
protein yang menyelubungi globula lemak menggunakan menggunakan
enzim enzim proteolitik. Enzim yang dimaksud adalah enzim yang
dihasilkan oleh mikroorganisme atau tanaman sebagai inokulum. Pada
pembuatan minyak kelapa dengan fermentasi, krim yang didapatkan
dicampurkan dengan laru atau ragi tempe yang mengandung Rhizopus
Oligosporus. Mikroba ini mempunyai kemampuan menghasilkan enzim
protease dan lipase yang dapat menghidrolisis minyak dengan didukung oleh
kadar air yang tinggi (Sukmadi dan Nugroho, 2002).
DAFTAR PUSTAKA
Darmoyuwono, W. (2006). Gaya hidup Sehat Dengan Virgin Coconut Oil. Jakarta:
PT. Indeks.

Palungkun, Rony. 1993. Aneka Produk Olahan Kelapa. Jakarta: Penebar


Swadaya.
Palungkun, Rony. 2004. Aneka Produk Olahan Kelapa. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Pontoh, J. 2008. Kualitas Virgin Coonut Oil dari Beberapa Metode Pembuatan.
Madado: UNSRAT.
Rindengan, B., dan Hengky, N. 2004. Pembuatan dan Pemanfaatan Minyak
Kelapa Murni. Jakarta: Penebar Swadaya.
Setiaji, B dan Surip Prayugo. 2006. Membuat VCO Berkualitas Tinggi. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Suhardiyono, L. 1993. Tanaman Kelapa Budidaya dan Pemanfaatannya.
Yogyakarta: Kanisius.
Sukmadi, B. dan Nugroho, N.B. 2002. Kajian Penggunaan Inokulum pada
Produksi Minyak Kelapa Secara Fermentasi. Jurnal Biosains dan
Bioteknologi Indonesia 2 : 12-17