You are on page 1of 1

KEKAYAAN AL-QUR'AN YANG LUAR BIASA

Syamsul Bahri
Al-Qur'an menggambarkan sumber utama bagi semua penelitian tentang agama Islam.
Selain itu di setiap abad dan setiap penjuru dunia. Al-ur'an dapat dijadikan sumber bagi
masyarakat yang maju dan bebas yang membuat seluruh kemampuan dan potensi manusia yang
terpendam menjadi berkembang dalam segala dimensinya; Al-Qur'an menetapkan jalan menuju
masyarakat dan pemerintah ilahiah dan ideal.
Lebih dari empat belas abad telah berlalu sejak turunnya Al-Qur'an. Selama peride ini
manusia telah banyak mengalami perubahan, dan setelah berulang kali melewati tahap-tahap dan
perkembangan ia meraih pengetahuan yang lebih komprehensif tentang misteri alam semesta.
Meskipun demikian dmikian, Al-Qur'an selalu mempertahankan kehadirannya yang agung dan
terhormat dalam panggung sejarah manusia.
Ketiaka pertama kali datang, di masa landasan pemikiran manusia belum berkembang
sepenuhnya, Al-Qur'an menjadi bukti utama kerasullan Nabi Muhammad saw. Di zaman
sekarang, ketika dalam khazanah Al-Qur'an manusia menemukan semakin banyak pertanda yang
sangat berarti yang sesuai dengan perkembangan persepsi, pengetahuan dan peradabannya
sendiri, Al-Qur'an masih bertahan sebagai mukjizat sejarah yang permanen dan sebagai bukti
yang universal yang hidup dan membuktikan kejujuran Rasul yang terakhir. Bertambah luasnya
pengetahuan manusia dan terbukanya cakrawala berpikir telah memberi kita kesempatan untuk
semakin mendapatkan kemaslahatan Al-Qur'an dengan sepenuhnya, lebih besar dari generasi yang
lalu.
Bila Al-Qur'an dapat membuktikan sendiri kebenarannya hanya dalam jangka waktu
tertentu dan dalam lingkungan terbatas, maka Al-Qur'an tidak akan dapat secara mukjizat maju
bersama dengan waktu. Vitalitas dan keaslian Al-Qur'an selalu menjadi sumber petunjuk jiwa dan
perintah dalam menghadapi perubahan zaman sepanjang waktu.
Adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa Al-Qur'an merupakan buku yang
terlalu tinggi bila dikatakan hasil gagasan-gagasan sekelompok sarjana. Bahkan semakin tidak
mungkin bila dihsilkan oleh seorang individu atau pinjaman-pinjaman dari sumber-sumber lain
oleh seseorang, terutama seorang yang buta aksara dan belum pernah belajar dan tumbuh
dikalangan terbelakang di Jazirah Arab waktu itu., lingkungan yang benar-benar asing dari ilmu
pengetahuan dan filsafat.
Bilamana kita jumpai kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur'an, peristiwa-peristiwa yang
diriwayatkannya, kita terbawa ke dalam hubungan langsung dengan realitas, dengan cara yang tak
tertandingi. Setiap keterangan yang ada langsung dan tak langsung, memberi tahu kita setiap
hakiakt kebenaran. Jadi, sangatlah tidak mungkin bila cerita-cerita Al-Qur'an dipinjam dari Taurat
dan Injil. Al-Qur'an selalu menyajikan kisah para nabi dengan keterangan yang baik dengan
mengubah dan memodifikasinya sehingga membersihkan dari noda dan unsur-unsur yang tidak
berharga dan bertentangan dengan agam tauhid yang sejati, penalaran dan pemikiran agama yang
sehat. Suatu tiruan hanya akan menghasilkan imitasi, dan hanya negatif melulu.
Sisi mukjizat Al-Qur'an yang lainnya yang berpengaruh besar adalah perubahan
revolusioner yang ditimbulkannya dalam peradaban manusia.
Suatu hal yang meminta perhatian serius dalam studi Islam adalah kenyataan bahwa Islam
tidak mendapatkan bantuan apa pun dari faktor-faktor lain di luar dirinya ketika Islam mulai
menciptakan inti masyarakat universal dari umat manusia yang tersebar dan terpecah belah yang
kurang ilmu pengetahuan dan pikiran bebas dan bahkan tidak berusaha mempersatukan unsurunsur sukunya, dan terlebih-lebih ketika Islam mulai membangun peradaban yang sangat luas dan
berwatak spiritual. Semua unsur untuk mengubah dunia, untuk mengajukan suatu hukum
internasional dengan semboyan persatuan ras, bangsa dan lingkungan sosial, untuk menciptakan
gerakan kebebasan berpikir dan memuliakan ilmu pengetahuan berasal dari bacaan Al-Qur'an
yang sama, dari kebudayaan yang dadatang dari Al-Qur'an dan dari tatanan Islam. Islam tidak
pernah mengandalkan suatu pemerintahan atau kekuatan yang ada di luar masyarakat yang
diciptkannya sendiri.
Bahkan para agresor yang menyerang Negara-negara Islam dan mengalahkan kaum
muslimin karena keunggulan militernya, pada akhirnya kehilangan kekuasaannya ketika mereka
menghadapi kekuatan spiritual Islam, dan mereka menerima agama yang telah mereka taklukkan.
Sejarah bangsa-bangsa tidak mencatat contoh lain tentang agresor yang menang yang menerima
agama orang yang telah dikalahkannya. Wallahu a'lam bisshowab.