Вы находитесь на странице: 1из 46

Kejadian aneh

Aku memandang keluar jendela sambil bertopang dagu. Benar-benar, deh. Aku pasti akan
sangat menyesal terlibat dalam suatu hal yang menurutku membosankan dan membuat jenuh ini
Phhhf.. kenapa pelajaran ini lama sekali? gerutuku kesal
Nah, Children, pelajaran cukup sampai disini saja. Karena sekarang waktunya istirahat,
kalian boleh keluar ucap Bu Vionne menyudahi pelajaran
Nama guru itu aneh, ya? Padahal nama aslinya adalah Viona. Tapi dia ingin dipanggil
Vionne. Nama yang sangat asing dan yang sudah pasti, aneh.
Aku segara membereskan semua barang-barang yang aku keluarkan. Kemudian menutup
kembali tasku. Akhirnya selesai juga pelajaran matematika ini. Aku memang anak yang
tergolong tidak suka dengan matematika, bahkan bisa dibilang benci. Aku melirik sahabatku
yang tengah sibuk.
Ugh.. Hinata! Beresin bukunya cepat sedikit! seruku pada Hinata sambil berjalan
mondar-mandir karena ingin buang air kecil
Nah, kita kenalan dulu. Namaku Alessa Lucia Alshabella. Kalian cukup memanggilku
dengan nama Alessa. Jangan berkomentar mengenai namaku, oke? Karena aku juga tidak bisa
menilai namaku. Entah bagus atau tidak. Tapi, karena itu pemberian orang tuaku, aku yakin pasti
bagus. Kalian mau tahu kenapa aku menahan kencing sejak tadi? Aku itu orang yang sangat
penakut dan mudah percaya dengan hal-hal yang berbau mistis dan... Ya pokoknya yang sejenis
itu. Kencing sendiri saja tidak berani. Dan kalau bisa, aku tidak pernah ke toilet selama sehari
penuh. Tapi entah kenapa, aku pasti selalu ingin buang air kecil saat istirahat pertama.
Sahabatku bernama Hinata Miyoko. Dari namanya, kalian bisa menebaknya kan, kalau
dia itu keturunan apa, berasal dari mana, dan semacamnya? Yap. Dia anak keturunan jepang, dan
dulunya tinggal di Tokyo. Matanya sedikit sipit, tingginya sama denganku, kulitnya putih seperti
salju. Hinata memiliki sifat yang sangat berlainan denganku. Dia itu tidak mudah marah alias
penyabar. Dan juga pemberani. Suaranya sangat lembut dan kalem. Sedangkan aku? Oh, Aku
sangat mudah marah, dan sangat penakut. Suaraku? Jangan tanyakan soal suaraku. Menurutku,
suaraku agak terdengar seperti seorang anak laki-laki. Hanya ada satu kesamaan dalam sifat

kami. Pengertian. Ya, bagaimana bisa kami bersahabat selama tiga tahun kalau tidak saling
pengertian?
Sabar, Alessa.. barang-barang yang aku keluarkan banyak sekali. Kamu bisa melihatnya,
kan? Aku harus menatanya kembali di dalam tasku sahut Hinata dengan suara lembutnya.
Penyebab Hinata sangat lama tidak lain adalah aku. Aku tidak membawa pensil, pulpen,
penghapus, atau alat tulis lainnya satu pun. Semua itu tertinggal di rumahku karena aku habis
memakainya semalam dan lupa menaruhnya kembali di tas. Terpaksa Hinata meminjamkan
beberapa alat tulisnya padaku. Dan tak lupa buku cetak. Lagi-lagi aku lupa membawanya.
Alhasil, hari ini aku meminjam semua barang Hinata kecuali buku tulis. Huft.. Aku jadi merasa
tidak enak dengannya.
Hinata melempar senyumannya Ayo, Alessa. Aku akan menemanimu. Tapi, aku tunggu
diluar saja ya? tanya Hinata sambil menggandengku. Kami memang selalu bergandengan
tangan ketika berjalan bersama. Aku membekap mulutku dengan tanganku yang tidak digandeng
Hinata dan langsung tertawa geli mendengar kata-kata Hinata barusan
Kamu tuh, kayak baru jadi sahabatku aja. Masa iya, kamu mau ikut masuk juga? Udah,
ah, lets go kataku menyudahi percakapan yang konyol ini.
Aku langsung berjalan dengan cepat menuju toilet yang berada di ujung sekolah. Lebih
tepatnya samping kelas 6C. kelas-kelas di sekolah ini memang hanya terbagi menjadi tiga. A
sampai C saja.
Hinata berusaha menjajari langkahku yang cepat
Tunggu sebentar ya? ujarku sambil menutup pintu toilet. Hinata mengangguk dan
menungguku di depan pintu toilet seperti biasanya
Gelap.. terang.. gelap.. terang.. gelap.. terang..
Tiba-tiba lampu toilet mati hidup dengan sendirinya. Karena aku tipe anak yang sangat
penakut, tentu saja perasaan takut itu langsung menyelimuti diriku.
Hinata! Jangan dihidup matikan begitu lampunya! Aku takut! teriakku sambil
memandang seluruh bagian dalam toilet dengan cemas. Tapi tidak ada respon sama sekali dari

luar. Ketika aku selesai, aku langsung membuka pintu. Dan apa yang aku lihat? Tidak ada satu
orang pun yang aku temui disini
Hinata! Kamu jangan usil ya! Aku tahu kamu pasti sembunyi. Cepat keluaar! seruku
sambil menengok kesana kemari. Mataku jeli melihat bagian luar toilet. Harap-harap aku bisa
melihat Hinata yang sedang bersembunyi. Tapi... Hinata tidak ada dan tidak juga keluar
Kenapa tidak ada orang ya? Uh, lebih baik aku kembali ke kelas batinku
Hosh.. hosh.. langkahku berhenti tepat di depan pintu kelas. Nafasku tersengal-sengal
karena habis berlari. Setelah nafasku mulai kembali beraturan, aku melihat ke sekeliling kelas.
Ternyata Hinata sedang duduk dibangkunya. Ugh, sekarang dia mulai usil padaku. Meninggalkanku saat di dalam toilet. Tidak biasanya dia seperti itu.
Ehm.. aku berdehem sambil duduk di kursi. Hinata menundukkan kepalanya. Aku tidak
tahu apa penyebabnya. Mungkin dia merasa menyesal karena telah meninggalkanku tadi? Idih,
Ge-er banget sih. Tapi kan, mungkin saja. Hihihi
Aku menyilangkan kedua tanganku Kamu usil juga ya. Menghidup matikan lampu
toilet, kemudian meninggalkanku seorang diri. Andai saja aku bukan anak yang penakut cetusku
tanpa memandang Hinata. Tapi aku masih bisa melihat wajahnya kalau aku melirik. Hinata
langsung mengangkat kepalanya
Menghidup matikan lampu? Aku tidak melakukan hal itu kilah Hinata cepat Soal yang
aku meninggalkanmu itu.. aku minta maaf. Tadi Vanessa bilang kepadaku kalau bel masuk sudah
berbunyi. Makanya aku langsung berlari ke kelas. Ternyata masih waktunya istirahat
Kalian mau tahu siapa Vanessa itu? Dia adalah anak yang paling usil dan suka berulah.
Setiap hari suka mengangguku. Bukan cuma aku. Seluruh warga kelas ini tidak pernah luput dari
kenakalannya. Setiap hari, Vanessa selalu meminta tumbal untuk dijadikan sasaran kejailannya.
Jika dia meminta sesuatu, pasti harus dituruti.
Aku memandang Hinata sambil bertopang dagu Memangnya, kalau bukan kamu, siapa
lagi? Setahuku hanya ada kamu tadi balasku. Mulai serius mendengarkan penjelasan Hinata
Aku berani bersumpah. Bukan aku pelakunya ucap Hinata dengan yakin Aku kan, sa-

habatmu. Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu pada sahabatku sendiri
Aku tertegun sejenak. Pikiranku dipenuhi dengan hal yang aneh-aneh. Hantu? Itulah yang
ada dipikiranku sekarang.
Apakah hantu pelakunya? tanyaku dengan tatapan yang kubuat seserius mungkin. Eh,
bukan kubuat. Setiap ada kata hantu, ekspresi wajahku akan langsung berubah menjadi serius
memang.
Hinata membekap mulutnya. Kebiasaan deh, kalau aku berkata tentang hantu, dia pasti
akan langsung tertawa.
Alessa.. itu nggak mungkin. Mungkin tadi mati lampu, kemudian hidup lagi. Terus
berulang-ulang seperti itu. Atau ada yang sengaja melakukan itu padamu jelas Hinata Sudah
deh, sekarang kamu yang konyol
Hinata ini aneh banget, sih. Masa mati lampu sampai berulang kali seperti itu? Benarbenar tidak masuk akal batinku
Hantu itu bisa saja muncul. Kamu itu terlalu pemberani, jadinya tidak percaya kataku
membela diri
Bel tanda masuk kelas berbunyi
Anak-anak, hari ini ibu ada urusan sebentar. Jadi kalian hanya menggambar saja.
Gambarnya bebas ya cetus Bu Kanita tiba-tiba tanpa mengucapkan salam. Beliau adalah guru
seni rupaku. Setelah Bu Kanita memerintahkan tugas menggambar itu, beliau langsung keluar.
Cuek sekali Bu Kanita pikirku agak kesal
Tidak mungkin ada yang sengaja melakukan itu aku mulai membahas soal yang tadi
lagi. Sebenarnya ini hanya untuk basa-basi agar aku diperbolehkan meminjam beberapa alat
tulisnya Hinata lagi. Hahaha
Nih ucap Hinata sambil menaruh beberapa alat tulis di atas buku gambarku. Dia
mengerti juga rupanya
Hehehe.. sorry, dear kataku sambil cengar-cengir

Hinata tersenyum Aku kan sahabatmu ujarnya. Hinata memang terlalu baik denganku.
Sedangakan aku hanya menyusahkannya setiap hari
Hinata, kalau kamu merasa aku menyusahkanmu, atau membuatmu kesal. Kamu bilang
saja. Aku tidak marah kok ucapku
Tidak kok. Aku tidak merasa disusahkan. Alessa, sejak kapan sih, kamu jadi seperti ini?
tanya Hinata sambil mencubit pipiku gemas Bersikap seperti biasa saja, Alessa katanya
Terima kasih ya, Hinata. Beruntung aku memiliki sahabat sepertimu sahutku Lanjutkan cerita tadi ya? Memangnya siapa yang tega berbuat usil begitu padaku?
Hinata terdiam Entahlah, tapi sepertinya, Vanessa jawabnya
Mungkin saja. Dia kan sering berbuat usil. Dasar Vanessa Flavia! gerutuku kesal. Aku
segera memanggil Vanessa yang tampak sibuk karena sedang menggambar
Vanessa! panggilku. Dia langsung menoleh. Dan tanpa diperintah pun, dia langsung
berjalan kearah mejaku
Ada apa? tanyanya dengan nada yang ketus
Kamu tadi yang telah memati hidupkan lampu toilet kan? tuduhku
Vanessa menunjukkan ekspresi kaget Tidak kok. Jangan sembarang bicara ya! Walaupun
aku itu anak yang usil, tapi aku tidak melakukan itu. Memangnya kenapa kamu menuduhku?
Kamu punya bukti? balasnya sambil menyilangkan kedua tangannya
Tadi kamu menyuruhku untuk masuk ke kelas karena kamu bilang waktu istirahat telah
habis. Setelah aku kembali ke kelas, ternyata belum. Pasti kamu yang melakukan itu pada Alessa
saat aku kembali ke kelas ujar Hinata ikut menuduh Vanessa
Saat aku bilang begitu aku juga ikut masuk ke kelas! Lagipula, buat apa aku menganggu
si Alessa penakut itu! ucapnya dengan gaya yang menyebalkan banget. Kenapa dia jadi
memanggilku penakut?
Aku ingin menggambar sesuatu yang istimewa dulu. Kalian hanya membuang-buang

waktuku saja ucap Vanessa berlalu dari pandanganku


Ya sudah, deh Tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti pasti dia mengaku sendiri kataku
sambil mulai menggambar. Aku memutuskan untuk menggambar hantu-hantu di film casper saja.
Karena pikiranku hanya ada hantu dan hantu
Aku akan menggambar tokoh di Anime yang memakai kimono ujar Hinata. Hinata itu
sangat pandai menggambar. Gambarnnya sangat mirip dengan aslinya. Apalagi jika disuruh
menggambar tokoh anime. Tidak usah ditanya
Aku tidak menyahut kata-katanya barusan. Aku sedang fokus pada gambaranku yang pas
pas an itu. Satu jam pun berlalu
Fiuh, selesai juga akhirnya cetusku lega. Aku melirik gambarannya Hinata. Bagus
sekali. Seorang anak perempuan berambut pink panjang memakai kimono sambil tersenyum. Senyumannya manis sekali. Matanya juga ikut tersenyum. Atau biasa disebut eye smile
Woow, Hinata. Ckckck aku geleng-geleng kepala Gambaranmu bagus sekali pujiku berdecak kagum. Hinata gantian melirik gambaranku. Dahinya berkerut
Gambar apa itu Alessa? tanyanya Hinata. Haah? Hinata tidak mengetahui itu
gambarapa? Huh, pasti gambaranku terlalu jelek sampai Hinata tidak bisa menebaknya
Oh.. mmm.. gambar hantu di film casper jawabku pelan. Pasti Hinata akan tertawa
lagimendengar jawabanku. Ternyata dia malah semakin mengerutkan dahinya
Sangat tidak mirip. Gambaranmu mengerikan sekali. Lihat, wajahnya seperti setan-setan
yang ada di televisi katanya sambil menunjuk gambaranku Wajah hantu-hantu di film casper
kan, tidak terlalu mengerikan seperti gambaranmu itu
Aku tertawa renyah Benarkah? Itu bagus, dong balasku dengan percaya diri Aku kan
memang ingin menggambar hantu yang mengerikan
Apa yang ada dipikiranmu itu hanya hantu? tanya Hinata heran Ya sudah. Tadi Miss
Viona bilangnya juga bebas. Jadi menggambar hantu juga pasti boleh
Aku hanya tersenyum Kemudian aku meminta Hinata mengajarkan cara menggambar.
Aku kan, ingin bisa juga.

Aneh sekali Lucetta


Lucetta! Buka pintunya! teriakku di depan pintu rumah. Lucetta adalah saudara
sepupuku. Dia kelas enam juga. Hanya saja tidak satu sekolah denganku. Orang tuanya
menitipkannya pada mama karena orang tuanya harus pergi ke Singapura untuk sementara waktu
Baru pulang ya? cetus seseorang didalam sambil membuka pintu
Ya, iyalah, baru pulang sahutku sambil melepas sepatu
Aku menaruh sepatuku di rak sepatu samping pintu masuk rumah. Kemudian naik ke atas
untuk berganti baju.
Tahu nggak, tadi di sekolah ada kejadian yang aneh banget tahu ujarku sambil melepas
seragam yang kukenakan
Oh, ya? Apa? tanya Lucetta
Saat aku pergi ke toilet, tiba-tiba lampu toilet itu hidup mati dengan sendirinya. Kamu
tahu sendiri kan, kalau aku itu anak yang sangat penakut? Kalau aku tahu siapa pelakunya, akan
aku tonjok mukanya! seruku kesal. Aku merebahkan diriku di kasur setelah selesai berganti
baju. Lelah juga saat ini
Ooh.. gi.. gitu.. balas Lucetta terbata. Nada yang aneh tiba-tiba keluar dari mulutnya.
Seperti nada seseorang menyembunyikan sesuatu
Kenapa? tanyaku curiga
Ng.. nggak apa-apa, kok. Hehehe.. iya, nggak apa-apa sahut Lucetta. Menurutku dia
sangat aneh hari ini. Biasanya dia selalu terus terang, dan tidak pernah merahasiakan apapun
dariku. Contohnya, saat aku memakai baju yang menurutku keren banget dan berompi. Dengan
enaknya Lucetta bilang Ih, nggak cocok banget. Suwer deh itu bukan kata-kata Lucetta yang
dilontarkan karena merasa iri denganku. Tapi memang itu yang dirasakannya. Makanya, aku
sering merasa kalau dia itu orang yang suka menghina. Nyebelin banget deh, pokoknya..
Oh, yaudah kataku tidak membahasnya lagi. Tapi dalam hati, aku tetap saja merasa
aneh dengan Lucetta Aku tidur siang dulu ya

Oh, yaudah, kalau kamu mau tidur siang ucap Lucetta spontan. Ih, ada apa sih, sebenarnya dengan anak ini?
***
Alessa, ayo bangun. Sudah jam lima sore ucap Lucetta sambil menutup jendela kamarku dan
mematikan AC. Aku tidak memperdulikan kata-katanya. Rasanya, tidur siangku belum cukup
Kalau tante Sophia tahu kamu belum bangun, kamu pasti dimarahin, lho katanya lagi.
Tante Sophia adalah mamaku. Perkataan Lucetta pasti salah 100%. Mama itu tidak pernah
memarahiku jika aku malas bangun. Mungkin mama hanya bilang Kalau kamu tidak bangun,
kamu bisa dimarah papa, lho Papa memang suka memarahiku jika aku bandel
Uuuh, iya, iya, aku bangun balasku sambil mulai berdiri dengan malas. Aku meraih
handuk merahku dan segera masuk ke kamar mandi dengan keadaan setengah sadar
Aku menghidupkan shower. Ketika air membasahi tubuhku, aku langsung menggigil.
Dingin sekali.
Halo?
Terdengar suara Vanessa dari telepon. Hah? Apa itu suara Vanessa? Siapa yang teleponan dengan Vanessa sore-sore begini? Lucetta? Sepertinya itu tidak mungkin. Lucetta kan, tidak
mengenal Vanessa.
Aku mematikan shower. Berusaha untuk memperjelas apa yang sebenarnya sedang
Vanessa dan orang yang teleponan dengannya bicarakan. Tapi semuanya sunyi. Sepertinya orang
itu sudah keluar dari kamarku.
Aku kembali menghidupkan shower. Hatiku bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang
sedang terjadi? Tanyaku dalam hati
Kupercepat mandiku agar aku bisa segera keluar. Setelah selesai mandi, benar saja, tidak
ada orang di kamarku. Aku segera memakai baju dan turun ke bawah mencari Lucetta.
Ma, tahu Lucetta nggak ma? tanyaku kepada mama di dapur

Lucetta? Dia baru saja keluar rumah jawab mama


Terima kasih ya, ma balasku langsung bergegas pergi
Aku mencari-cari Lucetta di luar rumah. Bahkan, aku juga menanyakan kemana Lucetta
pada tetangga-tetanggaku. Saat ini, aku memang tinggal di perumahan.
Alessa! panggil seseorang yang suaranya sangat aku kenal. Lucetta. Dia sedang duduk
di ayunan yang terletak di taman perumahan
Eh, ngapain kamu disini? Menyendiri ya? godaku sambil tersenyum usil Lho, Kamu
bawa handphone? tanyaku heran Menyendiri macam apa itu?
Oh? iya.. Aku bawa handphone. Buat.. ya pokoknya kamu tahu sendiri lah, buat apa
handphone itu balas Lucetta. Aku semakin curiga dengannya. Siapa tahu dia teleponan dengan
Vanessa di taman ini. Tapi, apa penyebabnya?
Mmm, tadi saat mandi aku mendengar suara Vanessa, lho. Suaranya terdengar samarsamar sih. Tapi aku yakin kalau itu suara Vanessa ucapku sambil duduk di ayunan samping
Lucetta
Apa? Itu tidak mungkin! bantah Lucetta dengan spontan. Dia segera menutup mulutnya
karena kaget dengan ucapannya sendiri
Lho, memangnya kamu kenal Vanessa? Aku kan, tidak pernah menceritakan tentang
Vanessa kepadamu. Dan.. kamu punya nomor handphone nya Vanessa, ya? Sepertinya kamu
menyembunyikan sesuatu kataku sambil menatap Lucetta dengan tatapan penuh selidik. Dari
raut wajahnya, aku sangat yakin kalau Lucetta menyembunyikan sesuatu dariku
Tidak kok. Sungguh, aku tidak menyembunyikan sesuatu. Percayalah padaku! bentak
Lucetta meyakinkan Kita kembali ke rumah saja. Hari sudah mulai malam lanjutnya langsung
pergi meninggalkanku
Kenapa sih, Lucetta itu? Hanya seperti itu saja dia membentakku. Aku semakin curiga
dengannya gumamku
***

Dasar Penakut!
Aku melangkah ke kelas dengan bertanya-tanya tentang kejadian kemarin sore. Aku
harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi! Tekadku dalam hati
Halo, Alessa sapa Hinata sambil tersenyum manis. Aku membalasnya dengan
senyuman yang menurutku lebih manis dari senyuman yang diberikan Hinata padaku
Halo juga, Hinata sahutku masih tersenyum. Jika aku menceritakan apa yang aku alami
kemarin, kira-kira, boleh tidak ya? Sepertinya boleh. Aku kan, sering menceritakan semua
kejadian yang aku alami kepada Hinata. Dan Hinata selalu membalasnya dengan kata-kata yang
positif, atau menyemangati. Walaupun terkadang tidak masuk akal, sih. Siapa tahu aku bisa
mendapat solusinya jika aku sudah memberitahunya
Hinata, aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Tapi, ini rahasia, ya kataku Oke?
aku menaikkan alis. Hinata tertawa sambil membekap mulutnya. Ih, kenapa sih, dia tertawa?
Aku kan, tidak sedang menceritakan sesuatu tentang hantu atau sesuatu yang lucu
Alessa, kamu selalu saja bilang seperti itu jika mau menceritakan sesuatu padaku. Aku
kan, bukan orang yang suka menyebar-nyebarkan hal seperti itu kepada orang lain. Jadi,
berhentilah berbicara ini rahasia ya padaku balas Hinata
Oke, dari pada aku harus mendengarkan suara tawamu, kita langsung to the point ya
kataku dengan nada sedikit ketus Saat mandi sore, aku mendengar suara Vanessa dari telepon.
Tapi aku mendengarnya hanya samar-samar saja karena ada suara shower yang lebih keras.
Setelah aku matikan showernya, tidak ada suara apapun. Mungkin si penelepon sudah keluar
kamar dari kamarku aku berhenti bercerita karena ingin melihat bagaimana reaksi Hinata
Mungkin mama kamu yang menghubungi Vanessa, atau Vanessa yang menghubungi
nomormu balas Hinata
Mamaku? Tidak mungkin. Mamaku sedang di dapur. Dan ketika aku memeriksa handphone ku, tidak ada nama Vanessa di daftar panggilan keluar. Kalau menurutku, sih, Lucetta
yang melakukannya. Dan juga dia pakai handphone nya sendiri kataku menduga-duga
Menurutku Lucetta tidak akan melakukan itu. Lagipula, dia kan tidak satu sekolah deng-

an kita. Satu lagi. Dia terlalu kalem untuk berhubungan dengan Vanessa ujar Hinata Pasti
kamu salah dengar
Aku merengut mendengar jawaban Hinata. Biasanya dia membalasnya dengan kata-kata
yang lebih baik dari yang ini.
Ugh! Tidak, Hinata! Aku yakin sekali kalau itu suara Vanessa. Suara cempreng bernada
tinggi dan selalu ketus
Hinata bertopang dagu Kalau memang begitu, biarkan saja. Biar waktu yang menjawabnya. Masalah ini kan, tidak ada sangkut pautnya denganmu ucapnya. Aku mengangguk saja
***
Teet! Bel tanda istirahat berbunyi
Cepat sedikit, Hinata! seruku pada Hinata yang sedang membereskan barang-barangnya yang banyak. Tapi kali ini, bukan aku penyebabnya, lho. Hihihi..
Hinata tersenyum kearahku Ayo, pergi ajaknya
Kemana tujuanku saat ini? Tentu saja toilet. Entah kenapa aku selalu ingin buang air kecil
saat istirahat.
Princess penakut mau ke toilet ya? Bersama satu pengawal yang siap menunggunya.
Hahaha! celetuk Vanessa di depanku. Huh, dia mulai berulah lagi rupanya. Aku yang sedang
menggandeng Hinata menarik tangannya dan langsung beranjak pergi
PRINCESS PENAKUT! ALESSA PENAKUT! DASAR PENAKUUT! teriak Vanessa
keras mengiringi kepergianku
Sampai di depan pintu toilet, aku berhenti sambil mengepalkan tangan. Aku mendengus
kesal.
Ada apa sih, dengan Vanessa itu? Se..
Hinata menutup mulutku Sudah, jangan hiraukan dia. Percuma saja. Memang ada manfaatnya kamu mengomel-ngomel sendiri? Cepatlah katanya

Aku balik tersenyum Baiklah kataku


Aku menutup pintu toilet dan menghidupkan keran. Ketika aku selesai, aku langsung
membuka pintu dan keluar
Ayo, ke kantin ajakku pada Hinata. Hinata hanya mengangguk dan berjalan disampingku seperti biasanya
***
Tet! Tet! Tet! Bel tanda pulang sekolah berbunyi
Yeah! Waktunya pulang! kataku langsung menyambar tasku. Bu Vionne mengakhiri
pelajaran dan menyuruh kami untuk pulang
Hinata, menurutmu, aku itu orang yang sangat penakut ya? tanyaku sambil berjalan
keluar sekolah. Bola mata Hinata berputar kearah ke atas
Tidak juga, kok. Aku yakin sebenarnya kamu itu bukan orang yang penakut. Mungkin
karena kamu sering menonton film horror bersama saudaramu, Lucetta jawab Hinata. Aku
memang suka menonton film horror bersama Lucetta saat malam hari. Sebenarnya aku takut.
Sangat takut. Tapi rasa penasaranku itu yang membuatku ingin menontonnya. Kalian mau tahu
kenapa Hinata bisa tahu? Hinata kan pernah menginap dirumahku walaupun hanya dua kali saja
sepanjang aku bersahabat dengannya.
Princess penakut! Alessa penakut! Dasar penakut! Kata-kata Vanessa tadi kembali
terngiang-ngiang di pikiranku. Yang Vanessa katakan itu sebenarnya benar juga. Phhhf.. sepertinya aku harus mengubah sifatku yang satu ini, nih.
Alessaaa Hinata memanggil-manggilku dari tadi. Aku yang sedang melamun segera
tersadar
Eh.. oh.. aku gelagapan Ada apa?
Besok kamu ada acara tidak? tanya Hinata
Tidak jawabku singkat Memangnya kenapa?

Mmm..
Oh, iya. Bagaimana kalau kamu menginap di rumahku semalam saja? tawarku tiba-tiba
Besok kan, hari minggu. Sekalian menyelidiki Lucetta. Mau?
Tadinya aku juga mau bilang seperti itu padamu. Hihihi Hinata nyengir padaku
Baiklah, jam dua siang aku akan segera ke rumahmu
Oke! sahutku gembira Apa kamu suka menonton film horror? tanyaku
Aku sering menontonnya. Tapi aku tidak merasa takut sedikit pun. Lagipula, itu kan
hanya film. Tidak sungguhan jawab Hinata. Dia selalu saja menjawab seperti itu. Kalau aku
ingin mengajaknya menginap, aku pasti selalu bertanya Apa kamu suka menonton film horror?
dan Hinata selalu menjawab Aku tidak merasa takut sedikit pun
Aku menyunggingkan senyum Baiklah, aku pulang dulu ya! Bye.. ujarku sambil melambaikan tangan
Aku juga sudah di jemput. Bye juga Alessa balas Hinata sambil membalas lambaian
tanganku
***

Apa yang sebenarnya terjadi?


Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar jelas olehku yang sedang main PS dikamar. Aku segera
turun dan membuka pintu.
Hai, Alessa sapa Hinata
Wah, kamu sudah datang rupanya. Ayo masuk sambutku hangat. Hinata mengikutiku
yang sedang berjalan di depannya. Dia kan, anak yang cukup pemalu. Hehehe.. tapi ini bukan
pertama kalinya dia menginap di rumahku, kok. Sudah kuberi tahu tadi
Siapa itu, Alessa? tanya Lucetta tanpa memandangku dan Hinata
Aku mencibir Lihat dulu, dong balasku
Akhirnya Lucetta menoleh kearah kami. Matanya langsung terbelalak melihat siapa yang
datang.
Kamu.. Hinata, kan? tanya Lucetta sambil mendekati Hinata. Tatapannya aneh sekali.
Hinata mengerutkan dahi di tatap seperti itu
Lama tidak bertemu, ya. Oh iya, kamu mau menginap ya? tebak Lucetta dengan semangat Sepertinya kamu membawa barang yang cukup banyak di tas mu
Iya, aku mau menginap satu hari saja jawab Hinata
Sudahlah aku maju ke tengah-tengah mereka Hinata, kamu bisa main PS, kan? tanyaku
Hinata tertawa pendek Bisa doong sahutnya
Bagaimana kalau kamu ikut bermain juga? Lebih banyak, lebih asyik kan? saranku
Boleh balas Hinata sambil mengangguk. Kami main PS bergantian sampai sore sekali.
Kenapa bergantian? Main PS itu kan hanya bisa dua orang. Lagipula, Papa dan mama kan belum
pulang. Jadi kita bertiga tidak akan dimarahi, dong. Hahaha..

***
Malamnya..
Alessa, apa kamu mau tidur di sofa? tanya Hinata sambil terkikik geli mellihatku berselimut
Tidaak. Itu ka..
Itu adalah kebiasaannya jika sedang menonton film horror sela Lucetta cepat Apa
kalian semua siap? tanyanya
Siaap! balasku dan Hinata
Lucetta langsung menyetel CD nya. Dimenit pertama, ada judul dari film itu. Sillent Hill.
Film horror Amerika yang sepertinya mengerikan sekali.
Aku menonton film Sillent Hill itu dengan saksama. Banyak sekali adegan yang sangat
menyeramkan. Aku sering menutup wajahku dengan selimut ketika adegan-adegan yang menyeramkan itu muncul. Terkecuali Hinata dan Lucetta. Mereka kan, tidak penakut sepertiku.
Aku pernah melihat ringkasan dari film ini di google. Silent Hill adalah film yang
menceritakan tentang anak angkat yang ternyata reinkarnasi dari sisi baik Alessa (Anak yang
mati dibakar dan mengutuk tempat bernama Silent Hill itu menjadi kota hantu) dan selalu meracau ingin pergi ke Silent Hill. Setidaknya begitulah yang kuingat.
Lihat itu, Alessa. Nama gadis yang tampangnya mengerikan itu persis sepertimu. Pantas
saja kamu penakut sindir Lucetta padaku yang sedang memegang selimut dengan erat
Memangnya, apa hubungannya? tanyaku bingung
Berhentilah menyindir Alessa, Lucetta ucap Hinata dingin. Phhhff.. Aku sedikit terbantu oleh Hinata ketika Lucetta menyindirku
Film yang berdurasi sekitar satu jam lebih itu selesai juga akhirnya. Wajah gadis seram di
film tadi masih tergambar jelas di bayanganku. Setelah menonton film hantu, rasa takutku
semakin bertambah. Selalu saja seperti itu. Tidur sendiri tidak berani, ke toilet sendiri tidak bera-

ni. Apa-apa tidak berani. Aku sangat iri kepada Hinata dan Lucetta yang pemberani.
Ternyata sudah jam sembilan malam. Ayo tidur ajak Lucetta sambil mematikan TV.
Kami bertiga masuk ke kamarku. Lucetta tidur di springbednya. Aku dan Hinata tidur di
springbedku. Sebenarnya springbedku adalah springbed bertingkat. Tapi aku meminta Hinata
agar tidak tidur dibawah. Hinata sih, hanya mengangguk saja. Lagipula, aku tidurnya kan, tidak
nakal
***
Tadi malam itu menyenangkan sekali, Alessa ucap Hinata yang sedang menunggu Lucetta
mandi. Kalau aku sih, sudah mandi dari tadi
Bagimu. Bagiku menyeramkan sekali sahutku sambil menyisir rambutku. Aku memakaikan jepit rambut kupu-kupu di rambutku yang panjang bergelombang ini
Eh, Alessa. Bagaimana kalau kita cek handphone nya Lucetta saja? Siapa tahu kita mendapatkan petunjuk usul Hinata
Mataku berbinar Wah, kamu benar. Dia kan, sedang mandi sahutku pelan
Aku membuka handphone Lucetta Untung saja, tidak diberi pola, sandi, atau pin batinku
lega
Pertama, aku mencari kontak Vanessa. Setelah dicari-cari ternyata tidak ada. Tetapi aku
menemukan sesuatu. Ada kontak yang diberi nama oleh Lucetta Teman menyebalkan. Aku
buka kontak itu dan aku cocokkan nomornya dengan nomor Vanessa. Hasilnya sama! Tidak ada
satu digit angka pun yang berbeda. Setelah itu, aku lihat daftar panggilan. Ternyata kosong.
Mungkin sudah dihapus oleh Lucetta. Dan yang terakhir, aku mengecek kotak masuk pesan.
Lagi-lagi kosong. Mungkin Lucetta takut segala rahasianya dengan Vanessa akan terbongkar.
Makanya dia sudah menghapus semuanya.
Kenapa semuanya kosong? kataku pelan kepada Hinata

Kenapa kontak Vanessa diberi nama teman menyebalkan disini? tanya Hinata
Bunyi shower di kamar mandi berhenti. Lucetta pasti sudah selesai mandi. Aku
segera
mengembalikan handphone nya di tempat semula.
Hinata, sekarang giliranmu ucap Lucetta sambil mengeringkan rambutnya yang basah
dengan handuknya
Iya sahut Hinata
Lucetta menyisir rambutnya yang panjang dan lurus. Sesekali dia melirikku dari cermin
karena dari tadi aku memperhatikannya.
Kenapa kamu menatapku seperti itu? tanya Lucetta masih menyisir rambutnya
Sepertinya kamu punya hubungan dengan Vanessa, ya kataku dengan nada yang kubuat
seserius mungkin Kenapa kamu tidak bilang padaku? Dan apa susahnya sih, menceritakannya?
Kenapa kamu masih terus membahas Vanessa? Memangnya, Vanessa itu siapa sih?
Lucetta malah balik bertanya. Lama kelamaan hatiku menjadi kesal kalau terus begini
Aku tahu, kamu memiliki nomor handphone nya Vanessa. Ayo, mengaku saja. Kamu itu
bagaikan bersembunyi di balik telunjuk tahu nggak? ucapku kesal. Bersembunyi di balik telunjuk itu artinya menyembunyikan sesuatu, tapi sesuatu itu sudah diketahui oleh orang lain
Lucetta terdiam. Aku semakin tidak sabar melihat reaksinya nanti.
Mungkin kamu salah. Aku mengenalnya saja tidak. Mana mungkin bisa mempunyai
nomor handphone nya balas Lucetta. Hatiku ciut mendengar jawabannyaa barusan
Tapi..
Kamu bisa diam tidak sih?! jerit Lucetta marah. Aku sangat terkejut. Ini adalah tandatanda orang menyembunyikan sesuatu. Kalau ada orang yang terus berkata tentang rahasia itu,

atau berusaha membuka rahasia itu, pasti akan langsung marah. Sepertinya aku terlalu memojokkannya
Aku mau pergi katanya langsung pergi meninggalkanku seperti saat di taman kemarin
Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi? Batinku bingung
The secret
Nah, Ibu mau kalian mangumpulkan buku gambar kalian. Kalian sudah menggambar
bebas kan, kemarin? tanya Bu Kanita
Sudah! balas seisi kelas. Semuanya langsung mengumpulkan buku gambar masingmasing kepada Bu kanita.
Alessa panggil Bu Kanita. Eh, kenapa aku yang dipanggil pertama? Sepertinya belum
semua gambar dinilai. Kenapa aku sudah dipanggil ya? Hmm.. pasti ada sesuatu yang salah
Apa ini gambar hantu? tanya Bu Kanita sambil menunjuk gambaranku. Aku mengangguk
Mungkin rata-rata anak menggambar pemandangan, kartun, atau yang lainnya yang
sering mereka lihat. Kenapa kamu menggambar hantu? tanya Bu Kanita lagi. Bukannya Bu
Kanita kemarin bilang boleh menggambar apa saja? Kenapa sekarang aku yang dipersalahkan?
Itu kan gambar kartun juga Bu. hanya saja kartun yang berbentuk hantu. Lagipula, Ibu
kemarin bilangnya juga bebas menggambar apa saja sahutku pelan
Bu Kanita memperhatikan gambarku dengan tatapan aneh sambil bertopang dagu Ya
sudah kalau begitu. Kamu boleh kembali kata Bu kanita
Bu Kanita bilang apa? tanya Hinata ketika aku duduk di kursiku
Bukan sesuatu yang penting jawabku Sudahlah, jangan dibahas
Ooh, baiklah
***

Teet! Bel sekolah tanda istirahat berbunyi. Bu Kanita langsung mengakhiri pelajaran dan langsung meninggalkan ruang kelas.
Hinata, ayo ke kantin ajakku sambil memberi isyarat untuk pergi
Hinata tertawa Aku kira kamu mau ke toilet lagi katanya
Tidak, lah. Ayo, kita ke kantin. Se-ka-rang! aku kembali mengulang ajakanku sambil
berjalan pergi. Hinata langsung menyusulku yang sudah berjalan lebih dulu. Saat aku menuju
kantin, aku berpapasan dengan Vanessa. Huh, mungkin dia akan berulah lagi di depanku
Mata Vanessa memandangku dengan tajam. Pandangannya sinis sekali. Dia sama mengerikannya seperti nenek-nenek dalam film horror yang setiap malam aku tonton.
Aku berhenti Kenapa kamu melihatku seperti itu, hah? tanyaku ketus. Vanessa yang
sudah berjalan melewatiku berbalik kearahku. Aku pun berbalik kearahnya
Vanessa menjulurkan lidahnya sambil menunjukkan wajah jelek yang jelek sekali. Bagiku sekarang dia sedang menjelma menjadi nenek-nenek yang super mengerikan dan sangat jelek.
Vanessa langsung pergi meninggalkanku. Hanya seperti itu saja? Ugh, dia mempermainkanku rupanya. Menyebalkan sekali!
Sudah Alessa. Jangan dipedulikan ucap Hinata sambil menarik tanganku agar kembali
berjalan menuju kantin Awas saja kamu Vanessa! Kataku dalam hati
***
Alessa, apa hari ini Lucetta berangkat sekolah? tanya Hinata sambil berjalan kearah kelas. Aku
mengangguk dan kembali meminum milkshake cokelat yang aku beli di kantin
Pantas saja! seru Hinata spontan. Aku tersedak dan terbatuk berulang kali
Aku menepuk-nepuk dada Apanya yang pantas saja? tanyaku
Tadi pagi aku melihat Lucetta sedang mengobrol dengan Vanessa! ucap Hinata sambil
memandangku serius. Aku terdiam. Sepertinya itu tidak mungkin batinku

Dia sedang sakit. Mana mungkin dia bisa kesini balasku. Tapi, kalau dia naik taksi kan,
bisa saja
Aku melihatnya dengan sangat jelas saat berangkat sekolah dengan mataku sendiri! Saat
aku turun dari mobilku, aku melihat Lucetta dan Vanessa sedang membicarakan sesuatu dari
semak-semak yang cukup jauh dari sekolah kita. Tapi aku masih bisa melihatnya. Sangat jelas!
ujar Hinata dengan sangat yakin. Aku mengerutkan dahi. Kejadian hari ini dan kemarin-kemarin
itu benar-benar membuatku pusing tujuh keliling!
Sepertinya mereka punya rahasia kataku. Paling males deh, kalau ada orang yang
main secret secret-an
Hinata memain-mainkan jarinya Sekarang, kita mau bagaimana lagi? tanyanya
Kita pinjam saja handphone nya Vanessa usulku Semoga saja masih terdapat petunjuk
yang berguna
Baiklah, saat pulang sekolah nanti, kita akan meminjam handphone nya sahut Hinata
setuju
***
Vanessaa! seruku dan Hinata. Aku merangkul pundak Vanessa. Vanessa langsung mengerutkan dahinya dengan sikap kami
Ada apa? tanya Vanessa
Bolehkah aku meminjam handphone mu? Handphone ku tertinggal di rumah. Hanya
untuk SMS meminta jemputan saja. Kalau tidak, aku pasti akan dijemput sore-sore jawabku
beralasan. Sebenarnya aku berbohong. Mana mungkin aku meninggalkan handphone ku. Aku
kan, game lovers. Kapanpun aku selalu bermain game. Bahkan, saat dikantin pun aku bermain
game. Makanya, handphone tidak pernah luput dari pikiranku
Nih balas Vanessa sambil menyerahkan handphone nya. Tumben sekali dia baik

Aku menerima handphone Vanessa dengan mata berbinar dan hati gembira. Hinata mengajakku sedikit menjauh dari Vanessa. Aku pun menjauh beberapa langkah. Badanku berbalik
kearah belakang. Segera kukeluarkan handphone ku. Aku langsung menuju kontak. Kuketik di
layar handphone ku dan Vanessa Lucetta Felice. Kontak Lucetta pun muncul di layar
handphone ku. Begitu juga di handphone nya Vanessa. Tidak salah lagi gumamku yakin
Segera kukembalikan handphone Vanessa. Tetapi Hinata mencegahku
Kita periksa yang lainnya dulu ucap Hinata pelan
Pertama, menuju daftar panggilan. Mataku langsung terbelalak. Banyak sekali panggilan
masuk dan keluar dengan nama Lucetta. Setelah itu, aku memeriksa pesan. Yang ini pun sama.
Banyak pesan-pesan dari Lucetta. Aku membacanya. Kapan lagi aku bisa mendapatkan
kesempatan seperti ini.
Lucetta Felice

aku tidak mau melaksanakan perintahmu. Walaupun kita ini dulunya


sahabat. Tetapi Alessa itu saudaraku. Aku tidak akan tega berbuat begitu
padanya
-

Kamu sekarang menyebalkan. Ayolah. Kamu hanya perlu mengerjainya setiap hari. Itu tidaklah rumit.

Lucetta Felice
Baiklah, kalau itu mau mu. Tapi hanya sebulan saja
-

Aku akan terus mengawasimu

Lucetta Felice
Terserah. Yang penting kesepakatan dan perjanjian kita sudah selesai. Dan
aku tidak lagi mempunyai hubungan dengamu

Aku berhenti membaca pesan-pesan itu dan tertegun. Walaupun aku baru membacanya
sedikit, tetapi aku bisa mengetahui sedikit pokok dari semua ini. Segera aku kembalikan
handphone Vanessa karena aku sudah meminjamnya terlalu lama.
Van, kamu itu punya nope nya Lucetta ya? tanyaku sambil meyerahkan handphone
Vanessa
Tidak balas Vanessa santai Memangnya, siapa Lucetta itu? tanyanya pura-pura tidak
tahu. Vanessa dan Lucetta berbicara di depanku dengan pura-pura tidak mengenal satu sama lain.
Ugh, mereka terlalu berbakat menyembunyikan sesuatu. Mereka terlalu pintar bersandiwara
Aku menaruh sebelah tanganku di dada Vanessa. Dia mengernyit
Ih, apaan sih?! bentaknya sambil mengusir tanganku
Aku tersenyum Jantungmu berdetak kencang. Keringatmu pun bercucuran. Aku tahu
kamu sedang cemas karena aku terus memojokmu seperti itu. Katakan saja, kamu pasti punya
hubungan dengan Lucetta
Nah, itu dia mobilku. Aku mau pulang ucap Vanessa sambil berlari ke mobilnya. Huh,
dia tidak memperdulikanku rupanya. Tapi tak apa. Hatiku sangat senang. Karena sudah mendapatkan sedikit petunjuk
Memangnya Lucetta punya hutang apa sih, dengan Vanessa? Kenapa dia memperlakukan Lucetta seperti barang? tanya Hinata heran
Seperti.. sesuatu di masa lalu mungkin jawabku asal-asalan
***

Menyebalkan sekali!
Perutku berbunyi karena saking laparnya. Aku bergegas turun dan pergi ke ruang makan.
Mama sedang menyiapkan makanan bersama Lucetta.
Lho, Alessa, dari mana saja kamu? tanya mama
Biasa. Habis malas-malasan sela Lucetta dingin. Mulutnya mencibir kearahku. Tapi
aku tidak memperdulikannya
Dari kamar ma. Kenapa memangnya? tanyaku. Mama tidak memberikan respon apapun. Sepertinya beliau sangat sibuk
Aku melirik Lucetta dengan tatapan penuh selidik. Nanti malam aku akan bertanya
padanya. Aku sudah memiliki cukup bukti. Dia tidak akan bisa mengelak lagi tekadku dalam hati
Nah, ayo, kita makan malam ajak mama Pa, ayo makan malam dulu! seru mama
kepada papa yang sedang menonton TV
Selamat makan! seruku langsung melahap makananku dengan cepat walaupun papa
belum bergabung. Mama geleng-geleng kepala melihat tingkahku
Pelan-pelan, Alessa kata mama

Uhuk! Uhuk! aku tersedak. Mama langsung memberiku segelas air putih dan
menyuruhku untuk meminumnya. Setelah aku merasa lebih baik, ketaruh gelas itu kembali di
meja makan
Aduh..
TAR!
Gelas berisi air yang tadi aku minum tiba-tiba pecah. Suasana menjadi hening. Mama
memandangku dengan tatapan marah
Makanya, hati-hati! seru mama. Padahal tadi Lucetta menyenggol gelas itu sampai
terjatuh. Tapi anehnya, Lucetta tidak meminta maaf padaku dan tatapannya sama seperti yang
lain. Heran. Sepertinya mama juga tidak tahu kalau Lucetta membuat gelas itu terjatuh.
Setelah makan malamku habis, aku langsung dan membersihkan bagian-bagian gelas
yang pecah itu. Lucetta memandangku dengan tatapan puas. Ada apa sih, dengan Lucetta?
Aku langsung kembali ke kamar tanpa minum lagi. Lucetta sudah kembali ke kamarku
duluan.
Aku merebahkan diriku di springbedku yang nyaman. Badanku berguling-guling kesanakemari. Rasanya nyaman sekali. Tapi, ketika sebuah pikiran yang sangat membuatku bertanyatanya selama ini kembali muncul, aku langsung melompat dari tempat tidur. Aku mendekati
Lucetta yang sedang asyik dengan handphone nya. Dia sedang duduk di karpet beludru merah
milikku dengan santainya.
Kenapa? Kamu mau menyalahkanku ya? tuduh Lucetta
Aku menggeleng Tidak, kok. Kamu mungkin tidak sengaja melakukannya sahutku.
Padahal aku yakin sekali kalau Lucetta sengaja melakukannya supaya aku kena marah
Aku tidak akan melaksanakan perintahmu, walaupun dulunya kita ini sahabat. Tetapi,
Alessa itu saudaraku. Aku tidak akan tega berbuat seperti itu padanya.. aku mengucapkan
kalimat SMS Lucetta dan Vanessa yang aku baca tadi. Setiap huruf masih teringat jelas di otakku
Mata Lucetta terbelalak mendengar semua omonganku

Bagaimana kamu bisa tahu semua itu?! tanya Lucetta tidak percaya
Aku menyilangkan tangan Aku akan memberitahumu asalkan kamu mau menjawab
semua pertanyaanku. Ini janji
B.. baiklah
Tadi aku meminjam handphone Vanessa dan membaca semua SMS kalian jawabku
singkat Oke, sekarang, giliran aku yang bertanya. Sebenarnya kamu punya masalah apa dengan
Vanessa?
Aku tidak akan memberitahumu balas Lucetta. Aku terkaget mendengar jawabannya
Hei! Kamu tidak menepati janjimu! seruku kesal
Aku terus menyuruh Lucetta agar membuka rahasianya. Tetapi dia tetap tidak mau mengatakannya. Akhirnya kami bertengkar. Mama masuk ke kamarku karena mendengar kegaduhan. Lucetta langsung berlari kebelakang tubuh mama seperti ingin berlindung.
Kenapa ini? tanya mama. Lucetta menjelaskan semuanya. Dia bilang aku yang mulai
duluan. Dia bilang aku yang bersalah. Padahal dia yang bersalah. Dia yang tidak menepati janji!
Lucetta menyimpangkan semuanya dari kebenaran. Akibatnya, mama memarahiku habis-habisan
dan langsung membawa Lucetta pergi dari kamarku. Ugh! Menyebalkan sekali!
Aku menangis tersedu. Wajahku kututupi dengan bantal agar isakku tidak terdengar.
Sebenarrnya, apa salahku? Lucetta lah penyebab semua ini.
***
Tolong maafkan aku ucap seseorang dengan lembut
Lucetta? seruku Ini.. ini dimana? tanyaku ketakutan. Aku sedang berada di tempat
yang semuanya putih. Wajah Lucetta pun seperti malaikat
Terus ungkaplah semua ini Alessa. Aku sebenarnya juga malas melakukannya ucap
Lucetta lagi. Aku semakin tidak mengerti dengan kata-katanya

Hei! Tolong jawablah! Ini dimana? Dan menungkapkan apa? tanyaku gemetaran.
Jangan-jangan, aku sedang berada di alam hantu? Oh! Ada apa sebenarnya ini?
Tiba-tiba Lucetta menghilang. Aku terkejut dan langsung menangis
***
Aduh aku meringis kesakitan karena jatuh dari tempat tidur. Aku memegang kedua mataku.
Sepertinya bengkak, dan.. Basah? Aku baru ingat kalau aku habis menangis dan kembali menangis di alam hantu
Mimpi tadi aneh sekali batinku
***

Ada hantu!
Wow, milkshake ini enak sekali pujiku sambil kembali meminum milkshake yang
mungkin akan menjadi rasa favoritku. Aku sekarang sedang berada di kantin
Perkataanmu aneh, seperti baru mencicipi bagaimana rasa milkshake itu sahut Hinata
Selama ini kan, aku hanya meminum milkshake cokelat saja karena aku memang hanya
menyukai rasa cokelat. Tapi ternyata rasa leci juga enak! balasku
Hinata bangkit Aku mau beli makanan lagi. Sebentar ya ucapnya. Aku mengangguk
Setelah Hinata meninggalkanku, aku melihat sendokku bergerak-gerak sendiri. Aku
langsung berpikir yang aneh-aneh. Tentu saja mengenai hantu. Sendok bisa bergerak sendiri
tanpa disentuh itu sangat aneh, bukan?
Aku berjalan menjauh dari mejaku B.. bagai..mana..b.. bisa? kataku tidak percaya. Aku
langsung berlari keluar menuju kelas. Hinata yang melihatku ingin mengejarku. Tapi tangannya
memegang baki yang berisi kentang goreng. Kalau berlari, bisa-bisa semua itu tumpah.

Alessa! teriak Hinata memanggilku. Jarakku sudah jauh dari Hinata, jadi aku tetap
melanjutkan langkahku menuju kelas
Sampai di depan kelas, aku berhenti. Kelas kosong karena sekarang memang waktunya
istirahat. Tapi, tidak apa lah. Aku sangat lelah saat ini.
Pikiranku kembali tertuju pada sendok tadi. Ugh, aku tidak boleh memikirkan hal itu sekarang. Aku kan, sedang sendirian di kelas.
Alessa.. terdengar sebuah suara memanggilku. Seperti suara Miss. Kunti dalam film
horror. Aku menoleh kesana-kemari. Tidak ada siapapun
AAA! jeritku keras langsung meninggalkan kelas. Saat aku melewati koridor sekolah,
semua anak tampak terheran-heran melihatku yang berlari seperti dikejar setan
Aku berhenti di taman. Taman pun sepi seperti kelas tadi. Hanya ada beberapa anak disini
Hosh.. ada.. hosh-hosh.. apa ini? tanyaku pada diriku sendiri
Alessa.. suara tadi kembali terdengar jelas olehku. Bulu kudukku langsung berdiri. Aku
langsung berlari lagi menuju kantin
Hinata.. hosh-hosh..
Lho, Alessa, kenapa kamu lari-lari begitu? tanya hinata sambil memakan kentang
gorengnya. Ternyata dari tadi dia tidak menyusulku
Ada hantu.. sahutku pelan. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Suara
tawa. Pasti Hinata akan segera tertawa mendengar omonganku barusan. Dan benar saja. Hinata
langsung tertawa terbahak-bahak seperti biasanya.
Hinata, aku serius! Kali ini aku yakin kalau ada hantu di sekolah ini! kataku membela
diri
Hahaha O..Oke, coba kamu ceritakan kisahmu bertemu hantu. Hahaha! Hinata masih
tidak bisa menahan tawanya. Aku terdiam kesal

Cepat, ceritakan. Aku.. aku akan mendengarkannya. Hahaha! lanjut Hinata masih
tertawa. Tawa hebohnya itu tidak bisa berhenti. Bahkan dia tertawa sambil memukul-mukulku
dengan keras
Aku mencubit pipinya Diam atau aku tidak akan bercerita! seruku. Hinata jelas saja
langsung terdiam melihat aku sudah sangat kesal
Pertama, aku melihat sendokku bergerak-gerak sendiri. Kedua, aku mendengar ada
seseorang memanggil namaku. Padahal tidak ada siapa pun. Ketiga, aku mendengar suara orang
itu lagi kembali memanggil namaku. Aarghh!
Mungkin ada seseorang yang melakukan itu dengan sengaja. Suaranya dibuat sangat
misterius agar dia mengira kamu akan percaya kalau itu suara hantu. Kalau masalah sendok, aku
tidak tahu sahut Hinata
Tanganku mengepal kesal dan mataku menatap Hinata dengan tatapan tajam. Hinata
terdiam karena aku menatapnya seperti itu. Dia pasti tahu, kalau aku sudah sangat marah sekarang karena semua ulahnya.
Dengar ya, aku yakin sekali kalau di kelas itu tidak ada orang! Bisakah kamu mempercayaiku, HAH?! bentakku dengan nada tinggi
Kontan, kantin pun menjadi sunyi karena bentakanku kepada Hinata. Mata Hinata pun
tampak berkaca-kaca. Aku segera tersadar. Apa yang telah aku lakukan? kataku dalam hati
Aku meninggalkan kantin dan berlari lagi sambil menangis. Aku berlari kearah toilet.
Aku bisa menangis sepuasnya disini karena tidak ada orang.
Hinata.. maafkan aku kataku lirih
Kamu itu memang tidak berguna, Alessa. Kamu itu hanya anak penakut yang setiap hari
hanya menyusahkan sahabatmu.. terdengar sebuah suara yang suaranya mirip sekali dengan
suara seseorang yang tadi memanggil-manggil namaku
Aku berhenti menangis Siapa.. siapa kamu?! seruku ketakutan
Suara itu tidak menjawab. Kakiku gemetaran luar biasa. Rasa-rasanya, aku ingin pingsan

Hahaha.. terdengar sebuah tawa kecil. Tawa itu sangat aku kenal. Ya. Aku sangat
mengenali suara tawa itu. Tapi mataku terasa berkunang-kunang. Tanpa tersadar, aku pingsan
***
Alessa, ayo bangun ucap seseorang dengan lirih sambil mengguncang-guncang tubuhku. Aku
membuka mata dengan pelan. Tanpa bertanya, aku sudah tahu ini dimana. Sekarang aku pasti sedang di UKS
Hinata.. balasku lemas. Entah kenapa, kepalaku menjadi pusing lagi
Hinata memandangku dengan cemas Kamu kenapa, Alessa?
Aku berusaha mengingat-ingat kejadian tadi. Tampaknya, Hinata benar. Sepertinya ada
yang berusaha membuatku ketakutan. Aku yakin kalau suara tadi bukanlah suara hantu. Melainkan suara seseorang.
Hinata maafkan aku ya, karena telah membentakmu kataku dengan lirih. Satu tetes air
mata bergulir ke pipiku
Tidak apa-apa, Alessa. Itu semua juga salahku. Aku bersikap egois. Tidak mau mendengarkanmu. Aku minta maaf balas Hinata
Iya, aku sudah memaafkanmu kok sahutku tulus Sepertinya, aku sudah tahu siapa
sutradara dari drama mengerikan ini
Hinata terdiam. Dahinya berkerut Siapa? tanyanya
Vanessa Flavia
***
Hinata membantuku berjalan kembali ke kelas. Saat aku sampai di depan pintu, aku menyuruh
Hinata melepas tangannya dari pundakku. Ternyata, sudah ada Bu Vionne di kelas.
Alessa, kamu sudah kembali? Kalau kamu masih merasa tidak enak badan, sebaiknya di
UKS saja. Tidak usah dipaksakan kata Bu Vionne

Aku tersenyum Tidak apa-apa kok, Bu. Saya sudah merasa baikan sahutku
Aku duduk di bangkuku dan mengeluarkan buku untuk pelajaran ini. Sepanjang pelajaran, aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Mataku terus memandangi Vanessa yang dari tadi
terus tersenyum tanpa henti. Entah apa alasannya.
Hinata, apa Vanessa mendapatkan suatu kejutan? tanyaku
Entahlah. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya sangat senang balas Hinata
tanpa memandangku. Hinata itu anak yang pintar dan tidak pernah tidak memperhatikan penjelasan guru. Jadi, wajar saja kalau dia bersikap seperti itu
Aku tahu batinku. Ya, aku tahu. Vanessa pasti senang karena telah berhasil mengerjaiku.
Mengerjaiku sampai aku pingsan. Dan juga ada drama-drama mengerikan lain yang selama ini
menimpaku
Kenapa aku menduga-duga bahwa Vanessa lah yang bersalah? Kalian masih ingat kan,
suara tawa tadi? Itu adalah suara Vanessa. Aku yakin sekali. Suaranya. Tawanya. Cekikikannya.
Tidak ada yang berbeda darinya. Aku sudah menduga semua ini dari dulu. Pasti dia dalang dari
semua ini.
Huft.. aku mulai bosan dengan pelajaran ini. Ngapain, ya? Aku lebih tertarik untuk
memecahkan masalah rumit yang sedang menimpaku saat ini dari pada harus duduk selama satu
jam mendengarkan semua penjelasan Bu Vionne. Dalam hati, sebenarnya aku menyesal sekali
kembali ke kelas.
Hinata.. hinata bisikku pelan. Hinata tidak menjawabnya. Kebiasaan deh, kalau sedang
serius suka menghiraukan sahabat sendiri
Tiba-tiba, aku mendapatkan ide. Berbalas surat saja dengan Vanessa? Toh, dia juga sepertinya tidak menyimak pelajaran dan malah cengar-cengir tanpa sebab. Aku segera menyobek
kertas buku tulisku di bagian paling belakang. Kemudian menulis pesan yang aku inginkan.
Sepertinya kamu sangat senang ya, setelah berhasil mengerjaiku

Ku remas kertas itu menjadi bentuk bola. Kemudian aku lempar ke meja Vanessa.
Vanessa membuka kertas itu. Dan membalaskan sesuatu
Apa peduliku?
Aku jengkel sekali. Dia itu sangat menyebalkan dan tidak tahu diri. Jika aku lanjutkan
semua ini. Bisa-bisa aku bertengkar dengan Vanessa dan aku malah dihukum Bu Vionne. Jadi,
aku tidak membalas pesannya.
Ada apa, Alessa? tanya Hinata sambil menoleh kearahku
Aku menggeleng Tidak apa-apa
Ada seseorang yang merubah Lucetta. Ada seseorang yang membuat Lucetta berbeda.
Sekarang dia selalu dingin kepadaku. Aku tidak mengerti. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku
tidak punya kesalahan apapun padanya. Malah, dia yang setiap hari mencari masalah padaku.
Sebenarnya, apa yang terjadi?
***

I know now
Aku membuka mata. Saat itu juga, sinar matahari langsung menerpa mataku. Aku
mengerjap. Tapi akhirnya aku menutup mataku karena saking silaunya.
Kulirik jam dindingku. Pukul tujuh lewat sepuluh?! Yang benar saja! Aku sudah
SANGAT telat pergi ke sekolah kalau seperti ini. Tanpa basa-basi, aku langsung melompat dan
mengambil handuk. Aku mandi dengan cepat. Kemudian memakai seragam dan segera turun.
Aku tidak ingin sarapan. Bisa-bisa, tambah telat kalau begitu.
Kamu mau kemana, Alessa? tanya mama
Lho? Ya mau sekolah dong ma jawabku sambil memakai sepatu

Mama cekikikan melihatku Sekolah di hari minggu? Sekolah apa? tanya mama lagi.
Eh, hari minggu?
Hahaha! tiba-tiba, terdengar sebuah tawa yang cukup mengagetkanku. Lucetta tertawa
terbahak-bahak melihatku lupa hari. Wajahku merah menahan malu
Alessa, sana, sarapan sendiri. Tadi kita semua sudah sarapan. Kamu sih, bangunnya kesiangan ucap mama sambil beranjak pergi. Kulihat, mama memang berpakaian seperti akan
jalan-jalan hari ini
Ih, ma, aku itu bukan anak yang susah dibangunin. Pasti tadi mama tidak membangunkanku kataku
Tadi Lucetta sudah membangunkanmu. Tapi katanya, kamu malah masih ingin tidur
ujar mama Sudah, cepat ganti ganti baju dan sarapan. Kita akan pergi ke chandra
Lucetta yang membangunkanku? Pantas saja aku tidak terbangun. Pasti dia tidak membangunkanku agar aku bangun kesiangan dan diomeli oleh mama. Dasar tukang cari gara-gara.
Lucetta! Kamu tuh, kenapa sih, kok suka menggangguku? seruku. Lucetta malah memasang sikap menyebalkan dan menatapku dengan tatapan sinis. Dulu, Lucetta itu anak yang
kalem dan pendiam. Duh, ini pasti karena rencananya dengan Vanessa
Kamu sudah tahu jawabannya, kan? sahut Lucetta balik bertanya dan langsung meninggalkanku begitu saja
Huh! benar-benar. Aku sudah tidak tahan lagi dengan rahasianya selama ini. Rasanya
Lucetta itu ingin aku.. Ugh, pokoknya ingin aku cakar-cakar mukanya atas segala perbuatannya
padaku.
Alessa.. cepat! seru mama. Aku segera tersadar. Lagi-lagi, Lucetta cekikikan lagi melihatku. Tapi, biar saja
Aku berganti baju. Kalau pakai seragam, sangat aneh bukan? Hari minggu pakai seragam
sekolah. Orang-orang mungkin akan berpikir kalau aku tidak ganti baju selama sehari. Hihihi..
***

Alessa, Lucetta. Ayo turun ajak mama ketika sampai di Ramayana yang berada di kotaku
Aku menghela nafas Kita itu mau ngapain sih, ma? tanyaku malas
Mau ngapain? Ya mau belanja dong sahut mama gemas. Saat ini, aku memang sama
sekali tidak memiliki minat untuk belanja
Mmm.. ma, aku tunggu diluar aja ya? tanyaku
Nggak boleh. Pokoknya harus masuk kata mama Kalau kamu nggak mau belanja, ke
bagian time zone aja. Yang penting jangan diluar. Kalau sudah selesai, langsung pergi ke bawah
ya
Aduh, lagi-lagi time zone. Kuakui, aku sangat tidak suka memainkan permainan yang ada
di time zone itu.
Mmm.. yaudah deh ma sahutku ragu-ragu
Mama segera masuk. Aku mengikutinya dari belakang. Setelah mama menjauh, barulah
aku berhenti.
Rasanya sekarang aku seperti orang linglung saja. Sendirian. Lho, mana si trouble yang
suka menganggu kehidupanku akhir-akhir ini?
Aku keliling mencari Lucetta. Di bagian yang menjual pakaian, sepatu, alat rumah
tangga, makanan, pokoknya semuanya kukunjungi.
Aku berlari ke tempat terakhir. Bagian time zone. Kalau Lucetta tidak ada, kemungkinan
dia sedang berada di luar. Langkahku terhenti ketika melihat seseorang yang tadi kucari.
Itu dia Lucetta! seruku segera berlari mendekati Lucetta. Tapi.. eh, sedang bersama
siapa dia? Dan sepertinya asyik sekali. Kesana ah..
Ssstt.. Alessa! panggil seseorang dengan pelan. Aku segera menoleh ke sumber suara.
Wah, ada Hinata!
Hai, Hinata! teriakku sambil berlari kearahnya

Ssstt! Diaam! kata Hinata dengan suara lembut. Aku mengerutkan dahi. Ada apa sih,
dengan sahabatku ini? Dia bertingkah seperti mata-mata saja
Ada apa? tanyaku penasaran. Jari Hinata menunjuk Lucetta dan satu orang lagi yang
sedang mengobrol dengan Lucetta. Aku tidak bisa mengenalinya. Karena dia memakai penutup
mulut bewarna biru
Itu Lucetta kan? Memangnya kenapa? tanyaku polos tanpa perasaan curiga
Hinata menarik tanganku menjauh Itu Lucetta dan Vanessa! pekik Hinata. Mataku
terbelalak Benarkah?! tanyaku
Hinata mengangguk dengan tampang yang yakin super duper yakin. Aku jadi geli melihat
nya. Bahkan hidungnya membesar dan giginya sempat terlihat karena bibirnya sedikit terbuka.
Kita harus mengendap-ngendap untuk mendekati Lucetta dan Vanessa. Obrolan mereka
juga sangat keras dan heboh, kita mungkin bisa mendengarnya dari jarak yang sedikit jauh
kataku
Awalnya aku juga mau begitu. Tapi kamunya berisik sih balas Hinata. Aku hanya
nyengir saja
Bagian time zone ini luas sekali. Pengunjungnya rata-rata anak-anak dan remaja. Pengun
jung orang tua sih, ada. Mungkin mereka hanya sekedar menemani anak mereka atau sesekali
ikut bermain juga. Kalau Lucetta tidak kesini sih, mungkin aku tidak akan disini sekarang ini.
Jarakku sudah dekat dengan Lucetta. Tapi aku tetap tidak bisa mendengar suaranya.
Soalnya berisik sekali. Setiap hari minggu, Ramayana memang selalu ramai pengunjung.
Aduh Hinata, apa yang mereka bicarakan? tanyaku
Hinata menggeleng Entah balasnya singkat
Aku melihat mereka berdua berjalan menuju eskalator yang bergerak turun Hinata,
sepertinya mereka berdua mau turun deh kataku sambil menepuk-nepuk bahu Hinata.

Ayo kita ikuti dia balas Hinata. Akhirnya, kami mengikuti Lucetta dan Vanessa dengan
gaya detektif. Orang-orang di Ramayana itu sampai mengerutkan dahi melihatku. Aku sih, membalasnya dengan senyuman saja
Lucetta dan Vanessa turun ke lantai yang paling bawah. Aku terus mengikuti mereka.
Kemudian mereka berdua berhenti di tempat parkir.
Kalau mereka mengobrol disini, aku masih bisa mendengarnya. Disini kan, sepi batinku
Sudah sebulan kan? Berarti aku sudah terbebas dari perjanjianmu itu? tanya Lucetta
Iya Lucettaa balas Vanessa gemas sambil mencubit pipi Lucetta. Kalau dilihat dari
kedekatan mereka berdua, Lucetta dan Vanessa tampaknya memang pernah bersahabat
Mulai saat ini, aku tidak akan pernah mengganggu Alessa lagi. Gara-gara aku, dia jadi
sering dimarah oleh tante Sophia kata Lucetta dengan nada sedih
Biarkan saja. Dia itu anak penakut yang sangat menyebalkan sahut Vanessa ketus
Lucetta menundukkan kepala Aku kan sudah diberi tempat tinggal oleh mamanya.
Kalau aku berbuat tidak pantas kepada Alessa, bukankah itu tidak tahu berterima kasih
namanya? tanyanya
Itu urusanmu kata Vanessa. Aku kesal sekali dengannya. Huh, lihat saja. Aku akan
memberikan balasan yang setimpal untuknya
Tuh kan, Alessa. Lucetta itu anak yang baik dan kalem ujar Hinata tiba-tiba
Aku tahu itu sahutku
Mereka berdua terus membincangkan soal masalah tadi. Dan Vanessa terus saja menjelek
jelekanku.
Hei, Vanessa! jeritku emosi
Lucetta dan Vanessa sepertinya sangat terkejut saat tahu aku tiba-tiba muncul
Apa yang kamu lakukan? bisik Hinata sambil memegangi tanganku

Sudah, tidak apa-apa kataku balas berbisik


Sejak kapan kamu ada disitu? seru Vanessa bertanya. Aku menaikan alis kananku dan
menyilangkan tangan di depan dada dengan gaya yang menurutku sok banget. Hihihi..
Oh.. sudah cukup lama. Memangnya kenapa? balasku santai
Lucetta dan Vanessa saling bertukar pandang.
A.. apa m.. mau mu, Alessa? tanya Lucetta terbata
Aku benar-benar ingin tertawa melihat tingkah dua anak ini. Tapi aku tahan sebisaku.
Aku menyunggingkan senyuman usil.
Mau ku? Sepertinya mau ku sudah terkabul menit ini juga sahutku
Lagi-lagi Lucetta dan Vanessa saling bertukar pandang.
Lucetta mendekatiku. Dia memegang kedua tanganku Maafkan aku, Alessa. Maafkan
aku katanya dengan menunduk. Wajahnya memancarkan sinar penyesalan yang amat sangat
Tidak apa-apa Lucetta. Aku tahu, sebenarnya kamu tidak salah kok balasku dengan
lembut. Lembut sih menurutku. Tapi kalau menurut orang lain, mungkin suaraku masih terdengar seperti laki-laki
Aku dan Lucetta berpelukan Saat Vanessa sudah pergi, kamu harus menceritakan semuanya padaku. Kalau tidak, awas saja! ancamku berbisik
Mmm, B.. baik
Sepertinya urusan kita sudah selesai, ya. Baik, aku pulang dulu cetus Vanessa tiba-tiba.
Aku ingin mencegahnya, tapi dengan cepat Hinata menarik tanganku
Sudah, jangan dikejar ucap Hinata
Sekarang, beri tahu aku, apa yang sebenarnya terjadi kataku dengan serius
Jangan bilang ke siapa-siapa ya? balas lucetta. Aku dan Hinata mengangguk

Sebenarnya ini hanya perjanjian biasa. Dulu itu Vanessa satu sekolah denganku di
Singapura, kami juga bersahabat. Aku dan dia berjanji mau melakukan apapun yang saling kita
perintahkan walaupun sudah tidak satu sekolah. Dan kira-kira sebulan yang lalu, Vanessa bilang
aku harus mengerjaimu, pokoknya agar kamu merasa terganggu. Karena ini perjanjian, mau tidak
mau aku harus melakukannya Lucetta berhenti bicara, ingin melihat bagaimana reaksiku
Aku tertawa Lho, kamu kan tinggal bilang aja sama Vanessa kalau kamu sudah mengerjaiku, padahal kamu tidak melakukannya
Setiap hari Vanessa selalu bertanya padaku, sudah mengerjaimu atau belum. Kamu kan
orangnya suka menceritakan apa saja dengan Hinata, jadi Vanessa bisa tahu lewat obrolan kalian.
Kalau Alessa tidak heboh keesokan harinya, kemungkinan besar kemarin tenang-tenang saja.
Tidak ada kata jahil kelakuanku Lucetta menyambung perkataanya Kalau sudah begitu, aku
pasti kena marah. Tapi dalam hatiku, sebenarnya aku malas melakukannya
Lalu, kenapa kamu memberi nama kontak nomor Vanessa dengan nama teman menyebalkan? tanyaku
Sudah kubilang, aku malas melakukannya. Aku malas terus-terusan mengerjaimu.
Lama-kelamaan, aku mulai sebal dengan Vanessa. Karena itu, aku memberi dia nama teman
menyebalkan. Bukannya itu malah lebih cocok? Lucetta tertawa
Ooh, begitu. Saat aku berangkat sekolah, aku melihat kamu dan Vanessa sedang
membicarakan sesuatu yang serius di dekat sekolahku. Tapi herannya, kenapa kamu masih pakai
baju tidur? tanya Hinata
Itu benar. Aku memang pakai baju tidur di hari itu karena sedang sakit. Dan satu lagi,
aku juga belum mandi saat itu. Hehehe.. jawab Lucetta sambil cengar-cengir
Alessa! Lucetta! Disitu rupanya kalian seru seseorang tiba-tiba
Eh, mama. Ada apa, ma? tanyaku sambil menoleh kearah mama
Kok ada apa? Mama kan bilangnya tunggu diluar, tapi bukan di tempat parkir. Udah,
ayo pulang suruh mama. beliau menaruh belanjaannya di bagasi. Kemudian masuk ke mobil.

Hinata, kita pulang dulu ya pamitku dan Lucetta bersamaan


Iya sahut Hinata sambil tersenyum
Hari ini aku sudah tahu semua rahasia Vanessa dan Lucetta. Hari-hariku mungkin akan
berjalan normal kembali setelah sebulan lamanya aku mendapatkan sesuatu yang tidak pantas
dari Lucetta.
***

Berulah lagi
GOOD MORNING MY FRIENDS! jeritku keras di ambang pintu. Suasana kelas pun
menjadi sunyi. Seluruh teman-temanku memandangku dengan tatapan heran dan bingung
Lalalala.. aku bersenandung sambil berjalan kearah bangku-ku. Entah kenapa, aku
senang sekali. Mungkin karena aku sudah tahu apa penyebab keanehan Lucetta kemarin. Beserta
rahasia Vanessa juga pastinya
Sepertinya, kamu senang sekali. Ada apa? tanya Luna, ketua kelas di kelasku

Habis kesambar petir mungkin celetuk seseorang tiba-tiba. Hatiku langsung menjadi
panas. Si Trouble Vanessa, kenapa dia itu tidak bisa sehari saja, tidak mengganggu kehidupanku.
Huh!
Kalau bicara itu dijaga! seruku
Lho, yang aku katakan itu benar kan? tanya Vanessa dengan santainya. Aku berusaha
menenangkan diriku agar amarahku tidak menjadi-jadi
Kuhiraukan suara Vanessa yang masih terus-terusan mengejekku tanpa henti. Untung
saja, Miss Amira segera masuk ke kelas dan memulai pelajaran.
***
Teeet! Bel sekolah tanda istirahat berbunyi.
Hinata, ke kantin yuk kataku sambil menggeret tangan Hinata yang sedang membereskan buku-bukunya
Eh.. eh.. iya bentar. Sabar dulu dong sahut Hinata
Ugh, kamu lama sekali. Aku duluan ya? kataku sambil beranjak pergi
BRUK!
Aku terjatuh saat keluar dari pintu kelas. Saat itu juga, suara tawa Vanessa terdengar
keras di telingaku. Aku berusaha bangkit. Tapi, kakiku rasanya sakit sekali.
Alessa! seru Hinata kaget. Dia berusaha membantuku berdiri
Kamu tidak apa-apa? tanya Hinata khawatir. Teman-temanku pun banyak yang
menghampiriku karena masih sedikit yang keluar kelas
Kamu kenapa, Alessa? tanya Kayla
Bagaimana kamu bisa jatuh? timpal Alex
Teman-temanku menanyakan semua pertanyaan yang ingin mereka tanyakan padaku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Hei, Alessa itu habis jatuh karena Vanessa si trouble itu. Jadi kalian jangan bertanya apaapa dulu padanya kata Hinata
Alessa, sepertinya kakimu terluka. Mau aku antar ke UKS? tanya Hinata berbisik. Aku
menggeleng
Tidak apa-apa. Hanya seperti itu saja, kok. Sekarang kita ke kantin dulu. Oke? sahutku
sambil tersenyum
Oh, baiklah kalau begitu balas Hinata
Sampai di depan Vanessa, aku berkata dengan pelan Aku akan membalasnya..
Vanessa hanya tersenyum sok. Huh, lebih baik, aku injak saja kakiknya. Tapi, dia malah
dengan cepat mengindari kakiku. Dan sekarang dia malah tertawa terbahak-bahak melihatku
gagal mengerjainya.
Aku tetap berjalan kearah kantin. Sampai di kantin, aku langsung membeli dua milkshake
sekaligus. Rasa cokelat dan leci. Hmm.. yummy.
Hinata membeli kentang goreng. Aku memutuskan untuk tidak membeli makanan. Kami
duduk di kursi nomor delapan.
Hmm.. milkshake ini enak sekali, Hinata! pujiku sambil kembali meminum milkshake
itu dengan cepat
Kamu sudah pernah mengatakan itu padaku dulu, Alessa sahut Hinata
Tiba-tiba, sendok yang memang sudah disediakan oleh sekolah bergerak-gerak sendiri.
Kejadian ini sama seperti yang dulu. Aku terbelalak dan ingin segera menjauh dari meja itu.
Hinata mencegahku.
Kamu mau kemana, Alessa? tanya Hinata
Sendoknya.. bergerak sendiri.. balasku terbata karena ketakutan
Hei, jangan takut. Lihat, sendok itu bergerak karena ada magnet yang berusaha menariknya. Dan yang melakukan itu semua adalah Vanessa. Lihat itu ucap Hinata dengan entengnya

seolah-olah dia yang melakukan semua ini. Dia menunjuk Vanessa yang sedang memegang
magnet yang lumayan besar ditangannya
Jadi, selama ini, Vanessa pelakunya? tanyaku
Seperti itulah jawab Hinata Jangan membalas kelakuannya disini. Nanti kamu bisa
jadi pusat perhatian. Tahan amarahmu dan makanlah dengan tenang lanjutnya
Lagi-lagi Vanessa cekikikan melihatku. Sebenarnya, ini juga salahku karena terlalu
penakut.
Hinata, kamu benar lagi. Ternyata semua ini bukan hantu yang melakukannya kataku
dengan menunduk
Kenapa kamu membahas itu lagi? Aku kan, sudah memaafkanmu sejak dulu. Jadi,
jangan dibahas, apalagi dipikirkan ujar Hinata
Aku kembali meminum milkshake ku. Ketika bel masuk kelas berbunyi, aku dan Hinata
kembali ke kelas lagi. Dan..
Eh, ada apa itu? Kok ramai sekali? tanyaku heran
Entah. Ayo, kita lihat ajak Hinata langsung
Ada apa, ya? tanyaku kepada semua orang
Aku melihat Kayla sedang menangis dengan hidung yang berdarah. Aku terkejut Ada
apa ini? tanyaku
Vanessa yang menyebabkan semua ini. Dia sengaja membuat Kayla terjatuh jawab
Luna
Dia menaruh kakiknya saat Kayla sedang berjalan. Karena Kayla tidak melihatnya, dia
terjatuh. Dan hidungnya membentur lantai jelas Anna
Sebaiknya kita bawa Kayla ke UKS dulu. Dan melaporkan hal ini pada guru-guru
tentang kelakuan Vanessa ucap Hinata

Benar. Aku juga sangat muak dengannya timpalku


Setelah Kayla dibawa ke UKS dan diobati, kami semua sepakat melaporkan Vanessa pada
guru-guru. Kalau sudah begitu, dia pasti tidak akan berulah lagi.
***
Pelajaran kedua adalah Matematika. Bu Vionne memasuki kelas dengan terburu-buru dan raut
wajah yang tidak seperti biasanya. Kalian mau tahu? Pelajaran Bu Vionne ada lima kali dalam
seminggu!
Vanessa Flavia! Cepat kemari! seru Bu Vionne
Kuperhatikan, seisi kelas tampak memasang wajah senang. Wah, kira-kira, Vanessa akan
diberi hukuman apa, ya?
Apa benar, kamu sudah Bu Vionne mengomel-ngomel pada Vanessa. Vanessa hanya
menjawab iya dan iya
Sebagai wali kelas, ibu malu sekali. Karena ada yang berbuat tidak pantas seperti itu
kepada teman sendiri. Kalau kamu masih melakukannya, kamu akan dikeluarkan dari sekolah
ini. Mengerti? seru Bu Vionne dengan nada tinggi
M.. mengerti B.. Bu balas Vanessa dengan terbata-bata. Matanya mulai berkaca-kaca
Huh! Biarkan saja. Itu adalah hukuman yang pantas diterimanya
Kembali ke tempat dudukmu ucap Bu Vionne dingin kepada Vanessa Nah, sekarang,
buka buku matematika kalian halaman 89
Peace
Senyuman yang lebar mengembang di bibirku. Akhirnya semua masalah yang setiap hari
menimpaku berakhir juga. Aku memeluk gulingku. Semua bagian tubuhku terasa pegal-pegal.
Alessa, kamu sudah makan siang? tanya seseorang dengan lembut. Itu adalah suara
yang aku rindukan selama ini. Suara lembut Lucetta

Aku tadi sudah meminum enam milkshake di sekolah. Aku masih kenyang balasku
tetap memeluk guling itu
Lucetta tertawa Enam milkshake? Kamu doyan atau laper? tanyanya
Dua-duanya boleh. Udah, aku mau tidur kataku
Nanti malam, kamu mau nonton film horror lagi nggak? Aku punya CD film horror
terbaru. Kayaknya serem banget deh ucap Lucetta
Mmm.. aku pengin ngajak Hinata juga. Kalau temanku cuma kamu, kayaknya aku bakal
ketakutan deh sahutku Sekarang kan, hari selasa, jadi, kita nontonnya pas malam minggu aja,
ya? Nanti Hinata aku tawarin biar menginap disini lagi
Ya sudah kalau begitu
***
Esok harinya di sekolah
Hinata, kamu mau nggak, nginap di rumahku lagi? Pas malam minggu. Soalnya..
Soalnya kamu takut karena Lucetta mau nyetel CD film horror lagi? Hinata menyela
ucapanku. Aku hanya nyengir saja
Boleh Hinata mengangguk Aku datangnya pas sabtu, jam dua siang. Seperti biasanya
katanya
Sip! balasku sambil mengacungkan jempol Gimana kalau kita tawarin Vanessa juga?
Siapa tahu dia mau
Vanessa? tanya Hinata sepertinya sedikit terkejut
Iya, Vanessa. Dia kan, sudah berubah sekarang ini. Lagipula, dia kan mantan sahabatnya
Lucetta juga jawabku Gimana?
Mmm.. yaudah, deh, terserah kamu balas Hinata

Aku menghampiri Vanessa yang sedang mencoret-coret sesuatu di kertasnya sendirian.


Sepertinya, dia sangat kesepian.
Hai, Van sapaku ramah
Apa? Kamu puas udah laporin aku ke guru-guru? kata Vanessa dengan ketus
Ya, mau kayak mana lagi? Lagian, kamu nyebelin banget sih. Itu juga bukan Cuma
kemauanku aja. Tapi seluruh anggota kelas minta kayak gitu jawabku jujur
Terus, sekarang kamu mau apa? tanya Vanessa
Rencananya itu, malam minggu, Hinata mau menginap di rumahku. Kita bertiga mau
nonton film horror bareng-bareng. Kamu mau ikutan nggak? tawarku
Hah? Vanessa memasang tampang sombongnya. Sempat-sempatnya dia melakukan
semua itu disaat seperti ini. Ngapain aku harus menginap dirumahmu? Aku juga anti banget
sama yang namanya film horror. Apalagi sama anak penakut kaya kamu!
Ugh! Aku kira dia sudah bertobat atas semua kesalahannya. Tapi ternyata, pikiranku salah
100%.
Oh, yaudah balasku langsung pergi meninggalkan Vanessa dan kembali menuju bangku-ku
Tuh, kan, ngapain harus ngajak Vanessa? Dia itu nggak bakal bisa diomongin dan bakal
nyusahin kamu terus kata Hinata jengkel Kan udah ada aku. Jangan ngajak Vanessa juga dong
Aku terkikik geli Iya, my best friend kataku sambil mencubit pipi Hinata
***
Wah, mama, tumben buat jus jeruk. Buat siapa aja ma? tanyaku
Ya buat mama, kamu, Lucetta sama temanmu yang satunya itu, Hinata jawab mama
Aku tertawa Mama mau ikutan nonton film horror juga ma? tanyaku lagi

Enggak balas mama Ini, jus jeruknya. Nonton sambil minum jus jeruk itu lebih enak.
Mama mau ke kamar dulu. Kalau udah selesai, dimatikan lagi ya, TV nya pesan mama
Aku mengangguk Iya, ma kataku sambil berjalan kearah ruang TV dan membawa baki
yang diatasnya ada tiga cangkir besar berisi jus jeruk
Alessa, filmnya udah mau dimulai, nih. Cepat ucap Lucetta
Iyaa sahutku gemas Ini, ada jus jeruk. Diminum ya ujarku sambil menaruh nampan
berat itu di meja
Siap ya? Satu.. dua.. tiga
Film pun dimulai. Judulnya adalah. Filmnya mengerikan atau tidak aku belum tahu. Kan,
baru ditampilkan judulnya saja. Hehehe
Setelah setengah jam, aku sudah mengerti tentang film ini.

Terkadang, aku suka menutup wajahku dengan selimut agar aku tidak melihat adegan
yang menurutku mengerikan. Lucetta dan Hinata selalu terawa melihatku yang begitu penakut.
Alessa.. Alessa.. ini cuma film. Jangan takut begitu ucap Hinata
Tapi tetap saja kan, aku takut sahutku masih menutup mataku
Alessa, kamu itu kan nggak bisa melihat sesuatu yang gaib-gaib. Kenapa sih, kamu takut
sekali dengan film ini? atau bahkan semua film. Itu semua hanya karangan manusia biasa ujar
Hinata dengan nada gemas
Lucetta mempause film itu Diminum dulu jus jeruknya. Haus banget nih katanya Hei,
Alessa, Filmnya sudah aku pause. Jangan gunakan selimut itu sebagai pelindungmu terus
Ih iya, iya, aku faham balasku kesal. Setelah meminum jus jeruk yang tadi mama
buatkan, aku menonton film itu lagi. Saat Lucetta dan Hinata sedang serius-seriusnya menonton,
aku malah memandang mereka berdua

Ada apa? tanya Lucetta dan Hinata bersamaan. Sepertinya mereka merasa risi dipandangi seperti itu
Apa kita akan bersahabat selamanya? tanyaku
Itu pasti jawab Hinata Kamu kan, sahabat terbaikku, Alessa
Aku juga akan meminta mama supaya bisa satu sekolah denganmu saat SMP nanti. Kita
pasti bisa bersahabat selamanya sambung Lucetta
Aku tersenyum Aku senang bisa bersahabat dengan kalian kataku
Kami juga kata Lucetta dan Hinata bersamaan sambil memelukku
The most beautiful day for the three of us
***