Вы находитесь на странице: 1из 23

Pengkajian fisik

Pengkajian keperawatan terutama merupakan evaluasi fungsional. Tehnik inspeksi


dan palpasi dilakukan untuk mengevaluasi integritas tulang , postur , fungsi sendi,
kekuatan otot, cara berjalan, dan kemampuan pasien melakukan aktifitas kehidupan
sehari-hari.
Dasar pengkajian adalah perbandingan simetrisitas bagian tubuh. Kedalaman
pengkajian bergantung pada keluhan fisik pasien dan riwayat kesehatan dan semua
petunjuk fisik yang ditemukan pemeriksa yang memerlukan eksplorasi lebih jauh.

Mengkaji Skelet Tubuh


Skelet tubuh dikaji mengenai adanya deformiatas dan kesejajaran. Pertumbuhan
tulang yang abnormal akibat tumor tulang dapat dijumpai. Pemendekan ekstremitas,
amputasi, dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis harus dicatat.
Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi
biasanya menunjukkan patah tulang. Bisa teraba krepitus (suara berderik)pada titik
gerakan abnormal. Gerakkan tulang abnormal. gerakan fragmen harus diminimalkan
untuk mencegah cedera lebih lanjut.

Mengkaji Tulang Belakang


Karvatura normal tulang belakang biasanya konveks pada bagian dada dan konkaf
sepanjang leher dan pinggang. Deformitas tulang belakang yang sering terjadi yang
perlu diperhatikan meliputi scoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang )
Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada ) Lordosis (membebek.
Lordosis biasa dijumpai saat kehamilan karena penderita berusaha menyesuaikan
posturnya akibat perubahan pusat gaya besarnya.
Pad saat inspeksi tulang belakang, buka baju pasien untuk menampakkan seluruh
punggung,bokong dan tungkai. pemeriksa memeriksa kurvatura tulang belakang dn
simetris batang tubuh dari pandngan anterior, posterior dan lateral. Berdiri
dibelakang pasien.

Mengkaji sistem persendian


o Sistem persendian dievaluasi dengan memeriksa luas gerakan, deformitas,
stabilitas, dan adnya benjolan. Luas gerakan dievaluasi baik secara aktif (sendi

digerakkan oleh otot disekitar sendi) maupun pasif (sendi digerakkan oleh
pemeriksa).
o Pengukuran yang tepat terhadap luas gerakan dapat dilakukan dengan goniemeter
(suatu busur derajat yang dirancang khusus untuk mengevaluasi gerakan sendi).
o Luas gerakan yang terbatas bisa disebabkan karena deformiatas skeletal, patologi
sendi, atau kontraktur otot dan tendo disekitarnya.
o Jika gerakan sendi mengalami gangguan atau sendi terasa nyeri, maka harus
diperiksa adanya kelebihan cairan dalam kapsulnya (efusi), pembengkakan, dan
peningkatan suhu yang mencerminkan adanya inflamasi aktif. Kita mencurigai
adanya efusi bila sendi tampak membengkak ukurannya dan tonjolan tulangnya
menjadi samar. Tempat yang paling sering terjadi efusi adalah di lutut. Bila hanya
ada sedikit cairan di rongga sendi di bawah tempurung lutut, dapat diketahui dengan
manuver berikut: aspek lateral dan medial lutut dalam keadaan ekstensi diurut
dengan kuat kearah bawah. Gerakan tersebut akan menggerakkan setiap cairan ke
bawah. Begitu ada teakanan dari sisi lateral dan medial, pemeriksa akan melihat di
sisi lain adanya benjolan di bawah tempurung lutut. Bila terdapat cairan dalam
jumlah banyak, tempurung lutut akan terangkat ke atas dari femur disaat ekstensi
lutut. Bila dicurigai adanya inflamasi atau cairan dalam sendi, perlu dilakukan
konsultasi dengan dokter.
o Deformitas sendi bisa disebabkan kontraktur (pemendekan struktur sekitar sendi),
dislokasi (lepasnya permukaan sendi)), subluksasi (lepasnya sebagia permukaan
sendi), atau disrupsi struktur sekitar sendi. Kelemahan atau putusnya struktur
penyangga sendi dapat mengakibatkan sendi terlalu lemah untuk berfungsi seperti
yang diharaapakan, sehingga memerlukan alat penyokong disternal (mis. Brace).
o Palpasi sendi sementara sendi digerakan secara pasif akan memberikan informasi
mengenai integritas sendi. Normalnya sendi bergerak secara halus. Suara
gemeletuk dapat menunjukkan adanya ligamen yang tergelincir diantara tonjolan
tulang. Permukaan yang kurang rata, seperti pada keadaan arthritis, mengakibatkan
adanya krepitus karena permukaan yang tidak rata tersebut saling bergeseran satu
sama lain.
o Jaringan sekitar sendi diperiksa adanya benjolan. Reumatoid arthritis, gout, dan
osteoartritis menimbulkan benjolan yang khas. Benjolan dibawah kulit pada

rheumatoid arthritis lunak dan terdapat didalam dan sepanjang tendon yang
memberikan fungsi ekstensi pada sendi. Biasanya,keterlibatan sendi mempunyai
pola yang simetris. Benjolan pada gout keras dan terletak dalam dan tepat disebelah
kapsul sendi itu sendiri. Kadang mengalami ruptur, mengeluarkan kristal asam urat
putih kepermukaan kulit. Benjolan osteoartritis keras dan tidak nyeri dan merupakan
pertumbuhan tulang baru akibat destruksi permukaan kartilago pada tulang dalam
kapsul sendi. Biasanya ditemukan pada lansia
o Kadang ukuran sendi menonjol akibat atrofi otot di proksimal dan distal sendi. Sering
terlihat pad rheumatoid arthritis sendi lutut, Dimana otot kuadrisep dapat mengalami
atrofi secara dramatis. Biasanya sendi dijaga tidak bergerak untuk menghindari rasa
nyeri, dan otot-otot yang memberikan fungsi sendi akan mengalami artrofi karena
disuse.

Mengkaji Sistem Otot


o sistem otot dikaji dengan memperhatikan kemampuan mengubah posisi, kekuatan
otot dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot.
o Lingkar estremitas harus diukur untuk memantau pertambahan ukuran akibat adanya
edema atau perdarahan kedalam otot; juga dapat dipergunakan untuk mendeteksi
pengurangan ukuran akibat artrofi.

Mengkaji cara berjalan


o Cara berjalan dikaji dengan meminta pasien berjalan dari tempat pemeriksa sampai
beberapa jauh. Pemeriksa memperhatikan cara berjalan mengenai kehalusan dan
iramanya. Setiap adanya gerakan yang tidak teratur dan ireguler(biasanya terlihat
pada pasien lansia)dianggap tak normal. Bila terlihat pincang, kebanyakan
disebabkan oleh nyeri akibat menyangga beban tubuh. Pada kasus seperti ini pasien
biasanya mampu menunjukkan dengan
o Keterbatasan gerak sendi dapat mempengaruhi cara berjalan.Berbagai kondisi
neurologis yang berhubungan dengan cara berjalan abnormal (mis.cara berjalan
spastik hemiparesis-strok,cara berjalan selangkah-selangkah-penyakit lower motor
neuron;cara berjalan bergetar Parkinson).

Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer


o sebagai tambahan pengkajian muskuloskeletal, perawat harus melakukan inspeksi
kulit dan melakukan pengkajian sirkulasi perifer.
o palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari
lainnya dan adanya edema.
o sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut nadi perifer, warna, suhu dan
waktu pengisian kapiler. adanya luka, memar, perubahan warna kulit dan tanda
penurunan sirkulasi perifer atau infeksi dapat mempengaruhi penatalaksanaan
keperawatan.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Khusus
Sinar-x
sinar-x tulang menggambarkan kepadatan tulang ,tekstur,erosi dan perubahan
tulang.sinar-X multipel diperlukan untuk pengkajian paripurna struktur yang sedang
diperiksa. Sinar X kortex tulang menunjukkan adannya pelebaran , penyempitan ,
dan tanda iregularitas. sinar X sendi dapat menunjukkan adannya cairan ,
iregularitas, spur, penyempitan , dan dan perubahan struktur sendi.

Computed tomography (CT sean)


menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan
tumor jaringan lunak atau cedera ligamen atau tendon. Digunakan untuk
mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang di daerah yang sulit dievaluasi
(mis. Asetabulum). Pemeriksaan bisa dilakukan dengan atau tanpa kontras dan
berlangsung sekitar satu jam.

Magnetic resonance imaging (MRI)


adalah teknik pencitraan khusus, noninvasive yang menggunakan medan magnet,
gelombang radio, dan komputer untuk memperlihatkan abnormalitas (mis. Tumor
atau penyempitan jalur jatingan lunak melalui tulang) jaringan lunak seperti otot,
tendon dan tulang rawang. Karena yang digunakan elektro magnet, pasien yang

mengenakan implan logam, braces atau pacemaker tidak bisa menjalani


pemeriksaan ini. Perhiasan harus dilepas pasien yang menderita klaustrofobia
biasannya tak mampu menghadapi ruangan tertutup ruangan MRI tanpa penenang.

Angiografi
o adalah pemeriksaan struktur faskuler. Angiografi adalah pemeriksaan sistim arteri.
Suatu badan kontras radiopaque diinjeksikan dalam arteri tertentu, dan diambil foto
sinar - X serial sistim arteri yang dipasok oleh arteri tersebut
o prosedur ini sangat bermanfaat untuk mengkaji perpusi arteri dan bisa digunakan
untuk tingkat amputasi yang dilakukan.
o Setelah dilakukan prosedur ini, pasien dibiarkan berbaring selama 12 sampai 24 jam
untuk mencegah perdarahan pada tempat penusukan arteri.
o Perawat memantau tanda vital, tempat penusukkan untuk melihat adannya
pembengkakan, perdarahan, dan hematoma : dan ekstremitas bagian distalnya
untuk menilai apakah sirkulasinya adekuat.

Digital subtrstion angiografi (DSA)


mempergunakan teknologi komputer untuk memperlihatkan sistim arterial melalui
kateter vena.

Venogram
Adalah pemeriksaan sistim vena yang sering digunakan untuk mendeteksi trombosis
vena.

Mielografi
penyuntikan bahan kontras kedalam rongga subaratnoid spinalis lumbal , dilakukan
untuk melihat adanya herniasi diskus, stenosis final (penyenpitan kanalis finalis) atau
tempat adanya tumor.

Diskografi
o adalah penyuntikan bahan radiopaque atau udara kedalam rongga sendi untuk
melihat struktur jaringan lunak dan kontur sendi. Sendi diletakkan dalam kisaran
pergerakannya sementara itu diambil Gambar sinar-X serial.

o Artogram sangat berguna untuk mengidentifikasi adanya robekan akut atau kronik
kapsul sendi atau ligamen penjangga lutut, bahu, tumit, panggul dan pergelangan
tangan.
o Setelah dilakukan arttrogram biasanya sendi diimobilisasi selama 12 sampai 24 jam
dan diberi balut tekan elastis. Diberikan usaha untuk meningkatkan rasa nyaman
sesuai kebutuhan.

PEMERIKSAAN LAIN
Atrosentesis (aspirisasi sendi)
o dilakukan untuk memperoleh cairan sinofial untuk keperluan pemeriksaan atau untuk
menghilangkan nyeri akibat efusi .
o Normalnya cairan sinofial jernih, pucat berwarna seperti jerami dan volumenya
sedikit.
o Pemeriksaan cairan sinopial sangat berguna untuk mendiagnosisi rheumatoid arttritis
dan arttrofi implamasi (perdarahan didalam rongga sendi), yang mengarahkan ke
trauma atau kecendrungan perdarahan.

Atroskopi
o merupakan prosedur endoskopis yang memungkinkan pandangan langsung kedalam
sendi.
o prosedur ini dilakukan dalam kamar operasi dalam kondisi steril. Jarum bore besar
dimasukkan dan sendi diregankan dengan salin.
o Secara umum, sendi tetap diekstensikan dan dielevasi untuk menggurangi
pembengkakan.
o Pasien dianjurkan untuk membatasi aktifitas setelah prosedur. Fungsi neurofaskular
dipantau.
o Analgesik dapat diberikan untuk memantau rasa tidak nyaman. Komplikasi jarang
tetapi dapat mencakup infeksi, hemartrosis, trombovlebitis, kaku sendi dan
penyembuhan luka yang lama.

Termografi
mengukur derajat pancaran panas dari permukaan kulit . kondisi implamasi seperti
arthritis dan infeksi , begitu pula neoplasma, harus dievaluasi . pemeriksaan serial

dapat dilakukan untuk mendokumentasi episode imflamasi dan respon pasien


terhadap terapi pengobatan anti implamasi .

Elektromiografi
o memberi informasi mengenai potensial listrik otot dan saraf yang mempersarafi
o tujuannya adalah untuk menentukan setiap abnormalitas fungsi unik motor end.
o Kompres hangat dapat mengurangi rasa tak nyaman setelah tindsakan ini.

Absorpsiometri foton tunggal dan ganda


adalah uji noninvasive untuk menentukan kandungan mineral tulang pada
pergelangan tangan atau tulang belakang.

Biopsi
o Dapat dilakukan untuk menentukan struktur dan komposisi tulang, otot dan sinovium
untuk membantu menentukan penyakit tertentu.
o Tempat biopsy harus dipantau mengenai adanya edema, perdarahan , nyeri. Untuk
mengontrol edema dan perdarahan diberikan es dan analgetika untuk mengurangi
rasa tak nyaman.

Pemindai tulang (skintigrafi tulang)


pemindai dilakukan 4 sampai 6 jam setelah isotop di injeksikan. Derajat ambilan
nukrida berhubungan langsung dengan metabolisme tulang. Peningkata ambilan
isotop tampak penyakit primer tulang (osteosarkoma) penyakit tulang metastatik,
penyakit imflamasi skelet (osteomilitis) dan beberapa jenis patah tulang pasien
dianjurkan meminum air banyak-banyak . pemeriksaan radionuklida berikutnya tak
boleh dilakukan dalam 1 atau 2 hari setelahnya.

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah dan urin, hormon paratiroid (PTH), dan vitamin D ,kadar enzim
serum kreatinin kinase (CK) dan serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT,
aspartate aminotransprase)

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
DAN PENDEKATAN DIAGNOSTIK

Pengkajian keperawatan memungkinkan perawat mengidentifikasi masalah


kesehatan yang dapat diperbaiki dengan intervensi keperawatan. Diagnosa
keperawatan actual dan potensial yang sering dijumpai pada pasien dengan
kelainan muskuloskeletal meliputi berikut ini :
1. kerusakan mobilitas fisik
2. nyeri
3. resiko terhadap kerusakan integritas kulit
4. resiko terhadap sindrom disuse
5. resiko terhadap disfungsi neurovaskular perifer
6. gangguan perfusi jaringan perifer
7. kurang perawatan diri
8. kurang pengetahuan mengenai proses penyakit dan program pengobatannya
9. risiko terhadap cedera
10. intoleran aktifitas
11. keletihan
12. perubahan penampilan perang
13. gangguan harga diri
14. gangguan citra diri
15. koping individual tak efektif
16. ketidakberdayaan
17. perubahan proses keluarga
18. resiko terhadap infeksi
19. konstipasi
20. gangguan pola tidur
21. kurang aktifitas pengalih
22. perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
dengan kolaborasi bersama pasien, tujuan kesehatan dan strategi keperawtan
dirumuskan untuk memecahkan diagnosa keperawatan yang telah terindentifikasi

TINJAUAN PROSES KEPERAWATAN


Pengkajian
Pengkajian perawatan pasien disfungsi muskuloskeletal meliputi evaluasi dampak
masalah muskuloskeletal gangguan tersebut terhadap pasien.

Perawat terpusat pada pasien gangguan muskulosketelal untuk menjaga kesehatan


umumnya, menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-harinya (AKS), dan menangani
modalitas pengobatannya.
Sistemik harus dipastikan, didorong masukan gizi yang optimal, dan masalah yang
berhubungan dengan imobilitas harus dicegah.

Wawancara awal
o Wawancara awal, perawat berusaha memperoleh gambaran umum status kesehatan
pasien. Perawa memperoleh data subyektif dari pasien mengenai awitan masalah
dan bagaimana penagnan yang sudah dilakukan.
o Persepsi dan harapan pasien sehubungan dengan masalah pendataan dapat
mempengaruhi kesehatan.
o Tanyakan masalah kesehatan lain yang juga dirasakan (mis. Stress, penyaakit
jantung, infeksi saluran nafas atas). Ini diperhatikan ketika menyusun rencana
perawatan.
o Alergi harus dicatat dan diterangkan dengan istilah yang timbul pada pasien.
o Pemakaian tembakau dan obat lain harus dikaji untuk mengevaluasi bahan-bahan
tersebut terhadap perawatan pasien.
o Mengenali kemampuan pasien untuk belajar, dan pekerjaan terkini diperlukan untuk
perencanaan pemulangan dan untuk rehabilitasi.
o Sebagai bahan wawancara awal, data disusun ketika perawat berinteraksi dengan
pasien. Data tersebut memungkinkan menyesuaikan terhadap rencana perawatan
individu sesuai kebutuhan.

Pengkajian Fisik
o Inspeksi umum tubuh akan memperlihatkan ukuran, setiap tanda deformitas, asimetri,
pembengkakan, edema, memar, atau luka di kulit.
o Dengan mengobservasi postur, gerakan, dan cara berjalan pasien akan diperoleh
data menegnai perubahan mobilitas pasien dan adanya rasa nyeri dan
ketidaknyamanan atau gerakan involunter (fasikulasi atau kedutan).

Data Pengkajian Subyektif

Selama wawancara dan pengkajian fisik, pasien mungkin melaporkan adanya nyeri,
nyeri tekan, dan pengenderaan yang tak normal. Informasi ini harus dikaji dan di
dokumentasikan.

Nyeri
Nyeri tulang dapat dijelaskan secara khas sebagai nyeri dalam, tumpul yang bersifat
membosankan, sementara nyeri otot dijelaskan sebagai pegal atau nyeri dan sering
digambarkan sebagai kram otot. Nyeri faktur tajam dan menusuk dan dapat
dihilangkan dengan imobilitasi. Nyeri tajam juga bisa ditimbulkan oleh infeksi tulang
akibat spasme otot atau penekanan pada saraf sensoris.

Perubahan penginderaan
Gangguan sensoris sering berhubungan dengan masalah muskuloskeletal. Pasien
mungkin menyatakan menggalami parestesia (perasaan terbakar atau kesemutan)
dan kebas. Perasaan tersebut mungkin akibat penekanan pada serabut saraf
ataupun gangguan peredaran darah. Pembengkakan jaringan lunak atau trauma
langsung terhadap struktur tersebut dapat menggangu fungsinya. Kehilangan fungsi
dapat terjadi akibat gangguan struktur saraf dan peredaran darah yang terletak
sepanjang sistem muskuloskeletal.

Diagnosa keperawatan
Berdasarkan data pengkajian keperawatan , diagnosa keperawatan utama untuk
pasien dengan disfungsi muskuloskeletal dapat meliputi berikut
1. ansietas yang berhubungan dengan perubahan integritas tubuh
2. kurang pengetahuan tentang program pengobatan
3. nyeri yang berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal
4. perubahan perfusi jaringan perifer yang berhubungan dengan respons fisiologis
terhadap cedera, pembengkakan, atau peningkatan tekanan didalam ruangan
tertutup (mis. Kompartemen otot, balutan yang menekan atau gips).

Tujuan

Sasaran utama pasien dengan gangguan muskuloskeletal dapat meliputi peredaran


ansietas, pemahaman terhadap protocol penangan, hilangnya nyeri, terpeliharanya
perfusi jaringan yang adekuat, dan perbaikan mobilitasi fisik.

Intervensi keperawatan
Meredakan ansietas
Masalah muskuloskeletal bisa diakibatkan oleh cedera traumatis akut atau bisa juga
bersifat jangka panjang berulang dan menetap kebanyakan pasien dengan masalah
muskuloskeletal akut merasa ansietas dan menggalami nyeri. Mereka menggalami
ketakutan dan antisipasi sebelum dimulainya penanganan definitive. Orang yang
mengalami kecacatan jangka panjang biasanya menjalani pembedahan rekontruksi
berulang. Mereka sudah terbiasa dengan rutinitas rumah sakit dan sangat
memperhatikan hasil terbaik suatu prosedur. Kesabaran dan harapan mereka sangat
terbatas.

Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan dirumah.


Pasien yang sudah diajarkan mengenai gangguan muskuloskeletal akan mengalami
peningkatan pemahaman alternatif penanganan. Termasuk sensasi selama dan
setelah penanganan, bila mungkin informasi kusus mengenai antisipasi peralatan
(mis. Gips,traksi) alat bantu (trapeze, walker, tongkat)
Latihan (penyusunan kuadrisep, nafas dalam) medikasi (analgetik, antibiotika) harus
didiskusikan dengan pasien pada saat pasien telah mampu menjalangkan aktifitas
penyembuhan, seperti berjalan dengan tongkat.
Sebelum dipulangkan pasien harus telah mendapatkan penjelasan rinci untuk
melanjutkan perawatan dirumah. Pasien harus mampu mengenali setiap gejala dan
tanda mengcurigakan yang perlu dilakukan pada dokter. Bila mereka menjumpai
kesulitan, mereka harus tahu kemana dan bagaimana cara meminta peretolongan.

Meredakan nyeri
Berikan opioid dan obat pereda nyeri lainnya sesuai resep, dengan
memperhitungkan usia dan ukuran tubuh pasien begitu pula jenis dan tempat
masala muskuloskeletal.
Nyeri dapat timbul baik secara primer akibat masalah muskuloskeletal maupun
masalah penyertanya (tekanan pada tonjolan tulang, spasme otot, pembengkakan).

Tekanan yang berkepanjangan diatas tonjolan tulang (tumit, kaput fibula, tuberositas
tibiae) dapat menyebabkan nyeri rasa terbakar perlu dilakukan penghilangan
tekanan untuk mengurangi rasa nyeri dan mencegah kerusakan jaringan lunak lebih
jauh.
Teknik relaksasi, traksi, dan obat dapat digunakan untuk menghilangkan nyeri
Biasanya pembengkakan dapat dikontrol dengan syndrom kompartemen dapat
dicegah dengan meninggikan bagian yang cedera dan meletakkan es dibagian yang
cedera selama 20 sampai 30 menit.

Memperbaiki perfusi jaringan


Pembengkakan biasanya menyertai cedera muskuloskeletal. Pasokan darah dapat
dikaji dengan mengukur pengisian kapiler pada dasar kuku. bla terjadi penurunan
perfusi jaringan, kulit akan terasa dingin pada palpasi dan akan tampak kotor, pucat
atau biru. Fungsi sensoris dan motoris dapat berubah atau menurun. Bila
pembengkakan terjadi diruang tertutup (gips, balutan konstriktif) dapat terjadi
sindromkompartemen.

Memperbaiki mobilitas
Imobilisasi yang diperlukan pada beberapa modalitas penaganan tidak boleh
menyebabkan kerusakan.
gerakkan otot dan sendi yang tidak di imobilisasi dapat membantu mepertahankan
kekuatan dan fungsinya. Latihan isometric ekstremitas yang diimobilisai dapat
membantu menjaga kekuatan otot. Penekanan diberikan pada apa yang bisa
dikerjakan pasien dengan keterbatasan akibat modalitas pengobatan.
A. DATA SUBJEKTIF
1. Keluhan Utama
1.1. Persendian
1.1.1. Nyeri
Nyeri adalah masalah yang paling umum dari gangguan muskuloskeletal. Penting untuk
mengetahui lokasi dari nyeri, kualitas maupun tingkat keparahannya dan waktu terjadinya
nyeri. Disamping itu perlu diperoleh informasi mengenai kondisi yang memperberat maupun
yang meringankan keluhan. Termasuk juga apakah ada keluhan lain yang menyertai nyeri
seperti demam dan sakit tenggorokan.
2. Kekakuan
Pada penyakit rheumatoid arthritis, kekakuan pada persendian biasanya terjadi pada pagi hari
dan setelah periode istirahat.
1.1.3. Pembengkakan, panas dan kemerahan pada sendi
Keluhan ini dikaji untuk mengetahui apakah terdapat inflamasi akut
1.1.4. Keterbatasan gerak

Penurunan rentang gerak biasanya muncul pada masalah persendian


1.2.Otot
1. Nyeri
Nyeri pada otot biasanya dirasakan seperti KRAM atau kejang pada otot
.2.2. Kelemahan Otot
Perlu diketahui lama terjadinya keluhan, lokasi apakah terdapat distropi pada otot tersebut.
Kelemahan Otot dapat diindikasikan sebagai adanya gangguan muskuloskeletal atau
neurology.
1.3. Tulang
1.3.1. Nyeri
Pada fraktur karakteristik nyeri tajam dan keluhan semakin parah jika ada pergerakan.
Meskipun demikian keluhan nyeri pada tulang biasanya tumpul dan dalam yang juga
mengakibatkan gangguan pergerakan.
1.3.2. Deformitas
Keluhan ini dapat terjadi karena trauma dan juga mempengaruhi rentang gerak. Ini perlu
dikaji dengan lebih teliti dan data yang terkait dengan waktu terjadinya trauma serta
penanganan yang dilakukan perlu diidentifikasi secara cermat.
1.4. Pengkajian Fungsional
Pengkajian ini terkait dengan kemampuan pasien dalam melakukana aktivitas sehari-hari
( ADL). Yang meliputi personal hygiene, eliminasi berpakaian dan berhias, makan
kemampuan mobilisasi serta kemampuan berkomunikasi.
2. Riwayat Kesehatan dan Pengobatan
2.1.Tanyakan pada klien mengenai masalah kesehatan yang pernah dialaminya, khususnya
yang terkait dengan ganguan muskuloskeletal. Informasi ini akan memberi data dasar pada
saat pemeriksaan fisik. Misalnya cedera yang pernah dialami klien mungkin akan
mempengaruhi nilai rentang gerak pada persendian dan ekstremitas pada saat dilakukan
pemeriksaan fisik. Demikian juga nyeri persendian yang terjadi setelah menderita penyakit
kerongkongan yang mungkin mengindikasikan adanya demam rhematik
2.2. Data tentang imunisasi juga diperlukan ( tetanus dan polio ), karena kekakuan pada
persendian maupun kejang pada otot dapat juga disebabkan oleh tetanus dan polio. Kondisi
seperti ini hampir mirip dengan arthritis.
2.3. Pada wanita paruh baya perlu juga ditanyakan mengenai riwayat menopause serta apakah
pasien tersebut mendapat terapi estrogen pengganti atau tidak. Wanita yang mengalami
menopause lebih awal biasanya berisiko menderita osteoporosis karena penurunan kadar
estrogen dalam tubuh yang mengakibatkan penurunan kepadatan tulang.
2.4. Selain penyakit muskuloskeletal, adanya penyakit lain seperti DM, anemia dan sistemik
lupus eritematosus, juga perlu dikaji. Karena hal ini juga dapat menjadi resiko terjadinya
masalah muskuloskeletal seperti osteoporosis dan osteomyelitis.
3. Riwayat Keluarga
Dapatkan informasi mengenai penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga seperti
riwayat rheumatoid arthritis, gout atau osteoporosis. Kondisi ini cenderung terjadi pada
hubungan keluarga.
4. Riwayat Sosial
Hal- hal yang dikaji disini meliputi pekerjaan yang berisiko terhadap terjadinya gangguan
muskuloskeletal. Termasuk juga aktivitas yang rutin dilakukan, pola diet/ kebiasaan
mengkonsumsi makanan maupun minuman keras, berat badan, serta penanganan yang
biasanya dilakukan jika terdapat keluhan.

Overfield (1995) dalam Weber menyatakan bahwa pria memiliki tulang yang lebih padat
setelah pubertas dan orang kulit hitam mempunyai tulang yang lebih padat dari orang kulit
putih. Ia juga menyebutkan bahwa orang Cina, Jepang, dan Eskimo memiliki kepadatan
tulang yang lebih rendah dari pada orang kulit putih, tetapi pada wanita Polynesia kepadatan
tulangnya 20 % lebih tinggi dari wanita kulit putih.
B. DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
1. 1. Persiapan klien
Persiapkan ruangan senyaman mungkin. Berikan informasi yang jelas kepada klien tentang
prosedur tindakan yang akan dilakukan, bila perlu didemonstrasikan terlebih dulu mengenai
gerakan yang akan dilakukan. Beberapa posisi mungkin mengakibatkan ketidaknyamanan
pada klien, oleh karena itu hindarkan aktivitas yang tidak perlu dan berikan periode istirahat
pada waktu pemeriksaan jika diperlukan. Pencahayaan yang baik pada di ruangan
pemeriksaan juga sangat penting.
1.2. Inspeksi
Observasi kulit dan jaringan terhadap adanya perubahan warna, pembengkakan, massa,
maupun deformitas. Catat ukuran dan bentuk dari persendian. Pembengkakan yang terjadi
dapat dikarenakan adanya cairan yang berlebih pada persendian, penebalan lapisan sinovial,
inflamasi dari jaringan lunak maupun pembesaran tulang. Deformitas yang terjadi termasuk
dislokasi, subluksasi, kontraktur ataupun ankilosis. Perhatikan juga postur tubuh dan gaya
berjalan klien, misalnya gaya berjalan spastik hemiparese ditemukan pada klien stroke,
tremor pada klien parkinson, dan gaya berjalan pincang. Jika klien berjalan pincang, maka
harus diobservasi apakah hal tersebut terjadi oleh karena kelainan organik pada tubuh sejak
bayi atau oleh karena cedera muskuloskeletal. Untuk dapat membedakannya dengan melihat
bentuk kesimetrisan pinggul, bila tidak simetris artinya gaya berjalan bukan karena cedera
muskuloskeletal.
Gambar 1. Gambaran Postur Tubuh Abnormal
A. Kiposis B. Skoliosis C. Lordosis
1.3. Palpasi
Lakukan palpasi pada setiap sendi termasuk keadaan suhu kulit, otot, artikulasi dan area pada
kapsul sendi. Normalnya sendi tidak teraba lembek pada saat dipalpasi, demikian juga pada
membran sinovial. Dan dalam jumlah yang sedikit, cairan yang terdapat pada sendi yang
normal juga tidak dapat diraba. Apabila klien mengalami fraktur, kemungkinan krepitasi
dapat ditemukan, tetapi pemeriksaan ini tidak dianjurkan karena dapat memperberat rasa
nyeri yang dirasakan klien.
1.4. Rentang Gerak ( ROM )
o Buatlah tiap sendi mencapai rentang gerak normal penuh ( seperti pada tabel 2 ). Pada
kondisi normal sendi harus bebas dari kekakuan, ketidakstabilan, pembengkakan, atau
inflamasi.
o Bandingkan sendi yang sama pada kedua sisi tubuh terhadap keselarasan.
o Uji kedua rentang gerak aktif dan pasif untuk masing-masing kelompok sendi otot mayor
yang berhubungan.
o Jangan paksa sendi bergerak ke posisi yang menyakitkan.
o Beri klien cukup ruang untuk menggerakkan masing-masing kelompok otot sesuai rentang
geraknya.
o Selama pengkajian terhadap rentang gerak, kekuatan dan tegangan otot , inspeksi juga

memgenai adanya pembengkakan, deformitas, dan kondisi dari jaringan sekitar, palpasi atau
observasi terjadinya kekakuan, ketidakstabilan, gerakan sendi yang tidak biasanya, sakit,
nyeri, krepitasi dan nodul-nodul.
o Bila sendi tampak bengkak dan inflamasi, palpasilah kehangatannya.
o Selama pengukuran rentang gerak pasif, minta klien agar rilek dan memungkinkan
pemeriksa menggerakkan sendi secara pasif sampai akhir rentang gerak terasa. Pemeriksa
membandingkan rentang gerak aktif dan pasif yang harus setara untuk masing-masing sendi
dan diantara sendi-sendi kontralateral. Dalam keadaan normal dapat bergerak bebas tanpa
sakit atau krepitasi.
o Bila diduga terjadi penurunan gerakan sendi, gunakan sebuah goniometer untuk
pengukuran yang tepat mengenai derajat gerakan. (Caranya tempatkan goniometer pada
tengah siku dengan lengan melebar disepanjang lengan bawah dan lengan atas klien. Setelah
klien memfleksikan lengan, goniometer akan mengukur derajat fleksi sendi).
o Ukur sudut sendi sebelum rentang gerak sendi secara penuh atau pada posisi netral dan
ukur kembali setelah sendi bergerak penuh. Bandingkan hasilnya dengan derajat normal
gerakan sendi.
o Tonus dan kekuatan otot dapat diperiksa selama pengukuran rentang gerak sendi.
o Tonus dideteksi sebagai tahanan otot saat ekstremitas rilek secara pasif digerakkan melalui
rentang geraknya. Tonus otot normal menyebabkan tahanan ringan dan data terhadap gerakan
pasif selamanya rentang geraknya.
o Periksa tiap kelompok otot untuk mengkaji kekuatan otot dan membandingkan pada kedua
sisi tubuh. Caranya minta klien membentuk suatu posisi stabil. Minta klien untuk
memfleksikan otot yang akan diperiksa dan kemudian menahan tenaga dorong yang
dilakukan pemeriksa terhadap fleksinya . Periksa seluruh kelompok otot mayor. Bandingkan
kekuatan secara bilateral, dalam keadaan normal kekuatan otot secara bilateral simetris
terhadap tahanan tenaga dorong, lengan dominan mungkin sedikit lebih kuat dari lengan yang
tidak dominan.
o Bersamaan dengan tiap manuver : minta klien membentuk suatu posisi kuatnya. Berikan
peningkatan tenaga dorong secara bertahap terhadap kelompok otot.
o Klien menahan dorongan dengan usaha untuk menggerakkan sendinya berlawanan dengan
dorongan tersebut.
o Klien menjaga tahanan tersebut agar tetap ada sampai diminta untuk menghentikannya.
o Sendi seharusnya bergerak saat pemeriksa memberi variasi kekuatan tenaga dorong
terhadap kelompok otot tersebut.
o Bila kelemahan otot terjadi, periksa ukuran otot dengan menempatkan pita pengukur di
sekitar lingkar otot tubuh tersebut dan membandingkannya dengan sisi yang berlawanan.
Gambar 2. Teknik penggunaan Goniometer
Tabel 1. Terminologi untuk posisi rentang gerak sendi normal
Istilah Rentang Gerak Contoh Sendi
Fleksi Gerakan memperkecil sudut antara dua tulang yang menyatu ; penekukan ekstremitas
Siku, jari dan lutut
Ekstensi Gerakan mempesar sudut antara dua tulang yang menyatu Siku, jari dan lutut
Hiperekstensi Gerakan bagian-bagian tubuh melebihi batas normal posisi ekstensinya Kepala
Pronasi Permukaan depan atau ventral bagian tubuh menghadap ke bawah Tangan dan lengan
bawah
Supinasi Permukaan depan atau ventral bagian tubuh menghadap ke atas Tangan dan lengan
bawah
Abduksi Gerakan ekstremitas menjauh dari garis tengah tubuh Tungkai, lengan dan jari

Adduksi Gerakan ekstremitas ke arah garis tengah tubuh Tungkai, lengan dan jari
Rotasi internal Rotasi sendi ke arah dalam Lutut dan panggul
Rotasi eksternal Rotasi sendi ke arah luar Lutut dan panggul
Eversi Pembalikan bagian tubuh menjauh dari garis tengah Telapak kaki
Inversi Pembalikan bagian tubuh ke arah garis tengah Telapak kaki
Dorsifleksi Fleksi dari telapak kaki dan jari-jarinya ke atas Telapak kaki
Plantar fleksi Penekukan telapak kaki dan jari-jarinya ke bawah Telapak kaki
Sumber : Potter, Patricia A, Pocket guide to health assessment, hal.345.
Tabel 2. Rentang Gerak Sendi Normal
Anggota Tubuh Gerakan Pengukuran
Rahang Membuka dan menutup rahang
Gerakkan rahang dari sisi ke sisi
Gerakkan rahang ke depan Mampu memasukkan
tiga jari
Sisi dasar gigi tumpang tindih dengan puncak sisi gigi.
Puncak gigi jatuh di belakang gigi bawah
Leher Menyentuh dagu ke sternum
Ekstensi leher dengan dagu mengarah ke atas
Menekuk leher secara lateral
Rotasi leher dengan telinga mengarah ke dada Fleksi 70o 90o
Hiperekstensi 55o
Penekukan lateral 35o
Rotasi 70o ke kiri dan ke kanan.
Tulang Belakang Menekuk ke depan pada pinggang
Menekuk ke belakang
Menekuk ke tiap sisi Fleksi 75o
Ekstensi 30o
Penekukan lateral 35o
Bahu Abduksi lengan lurus ke atas
Adduksi lengan ke arah garis tengah tubuh
Abduksi lengan secara horizontal lurus dengan lantai ; tarik lengan ke belakang ke arah
tulang belakang dan ke depan menyilang terhadap dada
Fleksi ke depan atau elevasi dengan lengan lurus
Ekstensi ke belakang dengan lengan lurus Abduksi 180o
Adduksi 45o
Ekstensi horizontal 45o
Fleksi horizontal 130o
Fleksi 180o
Ekstensi 60o
Siku Ekstensi lengan bawah ke batas terjauh normal
Fleksi lengan bawah ke arah bisep
Hiperekstensi lengan di luar batas normalnya
Supinasi lengan bawah
Pronasi lengan bawah Ekstensi 150o

Fleksi 150o
Hiperekstensi 0o 10o
Supinasi 90o
Pronasi 90o
Pergelangan
Tangan Fleksi pergelangan ke arah lengan bawah
Fleksi pergelangan ke arah belakang
Simpangkan secara lateral pergelangan ke arah radial
Simpangkan lateral pergelangan ke arah ulnar Fleksi 80o 90o
Ekstensi 70o
Penyimpangan ke arah radial 20o
Penyimpangan ke arah ulnar 30o 50o
Jari-jari Fleksikan jari-jari membentuk sebuah kepalan kemudian
Ekstensikan sampai datar
Buka jari-jari sampai terpisah
Silangkan jari-jari bersamaan
Oposisi setiap jari mampu menyentu ibu jari Fleksi 80o- 100o
( bervariasi tergantung pada sendinya )
Ekstensi 0o 45o
Abduksi antara jari-jari 20o
Abduksi ( jari-jari bersentuhan )
Meliputi abduksi, rotasi dan fleksi.
Panggul Naikkan tungkai dengan lutut lurus
Naikkan tungkai dengan lutut fleksi
Berbaring tengkurap, ekstensikan tungkai lurus ke belakang
Abduksi sebagian tungkai yang fleksi ke arah luar
Adduksi sebagian tungkai yang fleksi ke arah dalam
Fleksi lutut dan ayunkan kaki menjauhi garis tengah
Fleksi lutut dan ayun kaki ke arah garis tengah Fleksi 90o
Fleksi 110o 120o
Ekstensi 30o
Abduksi 45o 50o
Adduksi 20o 30o
Rotasi internal 35o- 40o
Rotasi eksternal 45o
Lutut Fleksi lutut dengan betis menyentuh paha
Ekstensikan lutut di luar batas normal ekstensinya
Putar lutut dan tungkai bawah ke arah garis tengah Fleksi 130o
Hiperekstensi 15o
Rotasi internal 10o
Tumit Dorsifleksikan kaki dengan ibu jari mengarah ke kepala
Plantar kaki fleksi dengan ibu jari mengarah ke bawah
Putar balik kaki menjauh dari garis tengah
Putar balik kaki mengarah ke garis tengah Dorsifleksi 20o
Plantar fleksi 45o
Eversi 20o

Inversi 30o
Ibu Jari Lekukan ibu jari kaki di bawah telapak kaki
Angkat ibu jari ke atas
Ibu jari kaki diregangkan Fleksi 35o-60o
Ekstensi 0o- 90o
Bervariasi
Sumber : Potter, Patricia A, Pocket guide to health assessment, hal.346-348.
1.5. Tes kekuatan otot
Pemeriksaan kekuatan otot dapat dilakukan dengan menggerakkan tiap ekstremitas
( pergerakan penuh ) dalam menahan tahanan. Lakukan tindakan ini dengan menggunakan
beberapa tahanan yang bervariasi. Apabila klien tidak mampu melakukan gerakan untuk
melawan tahanan yang diberikan pemeriksa, maka klien untuk meggerakan ekstremitas
dalam melawan gravitasi. Jika hal ini tidak dapat dilakukan, usahakan/ bantu klien untuk
melakukan rentang gerak secara pasif. Apabila cara ini juga tidak berhasil, maka perhatikan
dan rasakan (palpasi) kontraksi otot pada saat klien berusaha menggerakkannya.
Gambar 3. Teknik Pemeriksaan Kekuatan Otot
Dokumentasikan skala ini dengan menggunakan skala berikut :
Tabel 3. Skala kekuatan otot
Skala Gambaran Persentasi
normal Klasifikasi
5 Gerakan aktif, dapat melawan tahanan penuh 100 Normal
4 Gerakan aktif, hanya dapat menahan sebagian tahanan 75 Kelemahan ringan
3 Gerakan aktif, dapat melawan gravitasi 50 Cukup/ kelemahan sedang
2 Rentang gerak ( ROM ) pasif 25 Buruk
1 Hanya terdapat kontraksi otot 10 Sangat buruk
( Kelemahan berat )
0 Tidak terdapat kontraksi otot 0 Paralisis
Umumnya penulisan kekuatan otot di institusi kesehatan menggunakan tanda atau symbol :
4444 3333
5555 2222
Arti tanda tersebut adalah :
o Nilai kekuatan otot yang berada di sebelah kanan atas garis ( 4444) menunjukkan kekuatan
otot ekstremitas kanan bagian atas, sedangkan yang di sebelah kiri atas (3333) menunjukan
kekuatan otot ekstremitas kiri bagian atas.
o Nilai kekuatan otot yang berada di sebelah kanan bawah garis (5555) menunjukkan
kekuatan otot ekstremitas kanan bagian bawah, sedangkan yang di sebelah kiri bawah (2222)
menunjukan kekuatan otot ekstremitas kiri bagian bawah.
o Nilai horizontal yang terjauh dengan garis menunjukkan kekuatan otot dari persendian yang
terdistal dari organ yang diuji.
Pada beberapa klien biasanya mengalami pergerakan yang lebih lambat dan penurunan
kekuatan otot yang diakibatkan oleh degenerasi serabut otot dan sendi serta penurunan
elastisitas dari tendon.
Hal yang perlu diperhatikan :
- Jangan paksa organ tubuh/ ekstremitas untuk melakukan gerakan normal. Hentikan gerakan
pasif apabila klien merasa nyeri atau tidak nyaman. Lakukan pemeriksaan dengan hati-hati
khususnya pada pasien lanjut usia.

- Pada saat membandingkan kekuatan otot dengan ekstremitas lainnya, biasanya otot
ekstremitas yang lebih dominan cenderung lebih kuat.
1.6. Pemeriksaan Phalen ( Phalens test )
Minta klien untuk melakukan fleksi 90o pada kedua pergelangan tangan, dan kedua
punggung tangan saling merapat ( bersentuhan ). Pertahankan posisi ini selama 60 detik.
Normal tidak ada keluhan, tetapi pada Carpal Tunnel Syndrome , tangan akan kebas dan
terasa seperti terbakar. Carpal Tunnel syndrome adalah suatu keadaan dimana terjadi
peningkatan tekanan / penekanan saraf pada pergelangan tangan.
1.7. Tanda Tinel ( Tinels Sign )
Lakukan perkusi langsung pada nervus yang berada di bagian tengah dari pergelangan
tangan. Tinels Sign positif apabila sewaktu perkusi dilakukan klien merasa seperti
terbakar ataupun merasa geli pada area pergelangan tangan, dan sekitarnya. Ini juga dapat
ditemukan pada Carpal Tunnel Syndrome .
1.8. Tanda bulge ( Bulge Sign )
Lakukan gerakan (seperti masase) dengan agak kuat pada bagian medial paha bagian dalam
ke arah lutut lebih kurang 2-3 kali, kemudian tahan. Tangan yang lain menahan pada sisi yang
berlawanan. Perhatikan bagian tengah dari lutut pada daerah yang agak cekung terhadap
adanya tonjolan yang jelas dari gelombang cairan. Normalnya tonjolan tersebut tidak ada
( Bulge Sign negative ).
1.9. Pemeriksaan ballotemen
Pemeriksaan ini dapat digunakan apabila terdapat sejumlah cairan pada area patela. Gunakan
tangan kiri untuk menekan rongga suprapatelar. Dengan jari tangan kanan dorong patella
dengan tajam ke arah femur. Apabila tidak terdapat cairan maka patella yang terdorong akan
kembali ke posisi semula.
1.10. Pemeriksaan McMurray ( McMurrays test )
Pemeriksaan ini dilakukan apabila klien melaporkan adanya riwayat trauma yang diikuti
dengan rasa nyeri pada lutut dan kesulitan dalam menggerakkannya. Klien dibaringkan
dengan posisi supine, dan pemeriksa berdiri di sisi klien pada bagian yang akan diperiksa.
Sokong tumit kaki dan fleksikan lutut dan pinggul. Tangan yang lain memegang lutut.
Kemudian rotasikan kaki dari dalam ke luar dan sebaliknya, lalu sambil menahan tumit kaki
dan memegang lutut dorong tumit tersebut kea rah kepala. Setelah itu secara perlahan lutut
diluruskan. McMurrays test positif apabila terdengar atau terasa bunyi klik pada lutut.
Normalnya kaki dapat diluruskan kembali dengan lembut tanpa kekakuan dan tanpa nyeri.
Gambar 4. Teknik Pemeriksaan McMurrays
1.11. Pemeriksaan LaSegue ( LaSegues test )
Berikan posisi supine pada klien, kemudian angkat salah satu tungkai bawah dan tungkai
yang lain tetap lurus di atas tempat tidur. Lalu dorsofleksikan telapak/ pergelangan kaki.
Dilakukan pada kedua kaki secara bergantian. Hasilnya positif apabila klien mengeluhkan
nyeri sewaktu pemeriksaan. Keluhan ini biasanya terjadi pada hernia nucleus pulposus ( HNP
)
2 Pemeriksaan Diagnostik dan Laboratorium
2.1. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik pada sistem musculoskeletal dapat digunakan sebagai pendukung


untuk menegakkan diagnosa penyakit pasien. Adapun pemeriksaan ini meliputi:
2.1.1. Bone X-Ray
X-Ray merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran kondisi
keadaan tulang sesorang, apakah ada fraktur, infeksi tulang seperti osteomiletis, kelainan
bawaan, destruksi sendi pada klien arthritis, osteoporosis tahap lanjut atau tumor baik fase
awal atau yang telah metastase.
Gambaran X-Ray pada klien osteoporosis tampak terjadi dimineralisasi yang ditunjukkan
dengan adanya radiolusensni tulang, vertebra torakalis berbentuk baji sedangkan vertebra
lumbalis menjadi bikonkaf.
Selain itu, dengan X-Ray juga dapat memonitor perkembangan penyembuhan fraktur. Film
radiograpis dapat memperlihatkan adanya cairan sendi, pembengkakan dan kalsifikasi
jaringan lunak .
Bila ditemukan tanda kalsifikasi pada jaringan lunak dapat menunjukkan adanya peradangan
kronis yang merubah bursa atau tendon di area tersebut, karena X-Ray tidak mampu melihat
secara langsung keaadaan kartilago dan tendon, begitu juga fraktur kartilago, sprain, cedera
ligamentum.
Umumnya untuk mendapatkan gambaran yang akurat diperlukan dua sudut yang berbeda,
yaitu anterior-posterior dan lateral.
Sebelum dilakukan pemeriksaan X-Ray ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh
seorang perawat, antara lain :
Menjelaskan tujuan dan gambaran prosedur tindakan.
Tidak perlu puasa atau pemberian sedasi, kecuali bila diperlukan.
Bagi anak-anak, umumnya merasa takut dengan peralatan yang besar dan asing serta ia
merasa terisolasi dari orang tuanya, pastikan pada bagian radiology kemungkinan orang tua
dapat mendampiringi anaknya pada saat prosedur.
Informasikan pada klien, prosedur ini tidak menyebabkan rasa nyeri, tetapi mungkin merasa
kurang nyaman terhadap papan pemeriksaan yang keras dan dingin.
Sokong dengan hati-hati bagian yang cidera dengan cara memegang ekstremitas dengan
lembut pada papan pemeriksaan.
Lindungi testis, ovarium, perut ibu hamil dengan pelindung khusus terhadap radiasi selama
prosedur.
2.1.2. CT-Scan
Computed Tomography digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan luasnya cedera yang
sulit teridentifikasi oleh pemeriksaan lain. Sehingga CT Scan mempunyai tujuan untuk
mengevaluasi cedera ligament, tendon dan tulang serta dapat mengetahui adanya tumor
secara spesifik.
Bagi klien yang diamputasi pemeriksaan ini berfungsi untuk mengidentifikasi lesi neoplastik ,
osteomielitis dan pembentukan hematoma.
Pemeriksaan ini dapat atau tidak menggunakan zat kontras. Waktu yang digunakan kurang
lebih 60 menit.
Yang perlu diperhatikan oleh perawat selama prosedur pelaksanaan adalah :
Jelaskan tujuan dan gambaran tindakan, seperti klien akan dibaringkan di medan magnet,
kemudian dimasukkan dalam sebuah tabung. Informasikan pada klien, prosedur ini tidak

menyebabkan rasa nyeri, tetapi mungkin merasa kurang nyaman terhadap papan pemeriksaan
yang keras dan dingin.
Anjurkan klien melepas semua bahan metal seperti : ikat pinggang, arloji, kartu kredit,
karena ini akan mempengaruhi hasil scaning dan medan magnet dapat merusak fungsi bendabenda tersebut.
Informasikan bahwa perubahan posisi dapat menyebabkan perubahan hasil scan. Sehingga
anak-anak sering diberikan obat penenang sebelum prosedur dilakukan.
2.1.3. MRI ( Magnetic Resonance Imaging ).
MRI merupakan teknik scaning diagnostic yang non invasive dan menggunakan medan
magnet. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi tentang tulang, sendi , kartilago,
ligament dan tendon. Klien dengan keluhan nyeri leher dan pinggang dapat diketahui dengan
MRI untuk melihat kemungkinan adanya herniasi.
Kelebihan dari MRI adalah klien tidak terpapar oleh ion-ion radiasi. MRI penting dalam
pengkajian untuk mengetahui perbaikan dari suatu pembedahan ortopedik.
Hal yang perlu diperhatikan perawat pada pemeriksaan MRI ini adalah :
Tidak ada pembatasan input baik makan maupun minum sebelum tindakan.
Jelaskan tujuan dan gambaran tindakan, seperti klien akan dibaringkan di medan magnet,
kemudian dimasukkan dalam sebuah tabung.
Kemungkinan klien merasakan keidaknyamanan seperti pusing, tingling pada gigi yang
mengandung tambalan metal. Sebenarnya klien yang menggunakan implant logam tidak
dianjurkan untuk MRI.
Anjurkan klien melepas semua bahan metal seperti : ikat pinggang, arloji, kartu kredit,
karena ini akan mempengaruhi hasil scaning dan medan magnet dapat merusak fungsi bendabenda tersebut.
Bagi klien claustrophobia mungkin merasa takut berada di tabung yang tertutup oleh
karena itu perlu penjelasan dan bila memungkinkan mesin tidak ditutup.
Informasikan bahwa perubahan posisi dapat menyebabkan perubahan hasil scan. Sehingga
anak-anak sering diberikan obat penenang sebelum prosedur dilakukan.
Didalam tabung pemeriksaan, klien akan mendengarkan suara mesin yang mungkin
membuat rasa tidak nyaman atau takut. Sehingga salah satu solusinya
klien dapat mengunakan earplug atau di ruang tersebut diperdengarkan alunan
musik.
Untuk kenyamanan, anjurkan klien mengosongkan bladder sebelum
pemeriksaan.
Pemeriksaan ini memerlukan waktu 30 90 menit.
Kontraindikasi MRI adalah :
Klien obesitas ( BB > 150 kg ) karena meja pemeriksaan tidak mampu menyokong berat
badan klien.
Klien yang memakaki implant logam seperti : pacemaker, infuse pump, implant telinga
dalam, klien ortopedik dengan pemasangan screw dan plat, karena magnet logam tersebut
dapat memindahkan ion magnet ke tubuh klien dan dapat menimbulkan cedera.
2.1.4. Angiography
Merupakan teknik pemeriksaan untuk mengetahui kondisi struktur vaskuler. Arteriografi
dilakukan dengan cara memasukkan zat kontras radioopak melalui arteri. Setelah diinjeksi
area tersebut di foto rongent. Hal ini untuk mengetahui sirkulasi/ perfusi jaringan apakah
masih baik atau buruk. Biasanya dilakukan untuk mengetahui perfusi jaringan pada area yang

akan diamputasi. Setelah dilakukan tindakan klien dianjurkan untuk istirahat kurang lebih 12
24 jam dan dibebat elastis guna mencegah terjadinya perdarahan paska injeksi.
2.1.5. Atroscopy
Dapat digunakan untuk mengetahui adanya robekan pada kapsul sendi atau ligament
penyangga lutut, bahu, tumit, pinggul, pergelangan tangan dan temporomandibular.
Pemeriksaan ini merupakan tindakan endoskopi yang memungkinkan pandangan langsung ke
dalam ruang sendi.
Setelah dilakukan pemeriksaan ini, klien dianjurkan istirahat kurang lebih 12 24 jam dan
diberikan bebat elastis pada area pemeriksaan. Sebelum dilakukan prosedur ini, terutama bila
pemeriksaan pada bagian sendi ekstremitas bawah, pastikan klien mampu menggunakan alat
Bantu jalan seperti crucht. Crucht digunakan oleh klien hingga klien mampu menunjukkan
kemampuan berjalan tanpa pincang.
Setelah dilakukan pemeriksaan ini maka yang perlu diperhatikan perawat adalah pengkajian
TTV, status neurovaskuler pada area kaki : cek pulse, warna, temperature, dan sensasi serta
observasi tanda-tanda infeksi, termasuk panas, bengkak, nyeri, kemerahan dan pengeluaran
cairan.
Potensial komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh pemeriksaan ini adalah:
Infeksi (tindakan ini harus dilakukan dengan steril dan di kamar operasi).
Tromboplebitis yang dapat disebabkan oleh karena immobilisasi yang lama.
Hemartrosis (perdarahan dalam sendi) yang dapat disebabkan oleh aspirasi karena jarum.
Cedera sendi oleh karena pembedahan.
Rupture sinovial.
Hal-hal yang harus diketahui oleh perawat adalah :
Klien sebaiknya tidak diberikan obat-obat peroral sampai tengah malam pada hari dimana
prosedur tindakan dilakukan.
Pada umumnya tindakkan ini menggunakan anestesi spinal atau general anestesi.
Khususnya apabila pembedahan pada lutut diperlukan.
Sebelum pemeriksaan pada lutut, rambut halus sekitar 6 inci di bawah dan di atas lutut
harus dibersihkan.
Klien ditempatkan pada meja operasi dengan posisi supinasi. Kaki klien
ditinggikan kemudian dibalut dengan pembalut elastis dari ibu jari sampai ke paha bagian
bawah guna meminimalkan vaskularisasi ke bagian distal.
Sebuah tourniquet ditempatkan pada tungkai proksimal klien. Kemudian kaki dibuat lebih
rendah, sehingga lutut membentuk sudut 45.
Pembalut elastis dilepas lalu segera buat incici kecil di lutut, kemudian alat atroskopi
dimasukkan di sela persendian lutut untuk melihat keadaan di dalam sendi lutut tersebut.
Setelah pemeriksaan dilakukan atroskope dilepas dan dilakukan irigasi didaerah persendian,
luka dibersihkan dan ditutup dengan kassa steril.
Prosedur ini dilakukan di ruang operasi oleh ahli ortopedik yang memerlukan waktu 30
menit 2 jam.
Kontraindikasi ;
Klien dengan ankylosis, karena tidak memungkinkan benda-benda untuk bergerak pada
sendi yang kaku oleh karena perlekatan.
Klien dengan luka infeksi karena resiko sepsis.
2.1.6. Bone Densitometry
Merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kadar mineral dalam tulang dan kepadatannya

untuk mendiagnosa penyakit osteoporosis.


Faktor-faktor yang mempengaruhi/ mengganggu hasil densitometri tulang adalah:
Barium. Bila dilakukan pemeriksaan paska pemberia barium hasilnya tidak terlalu
bermakna kecuali setelah 10 hari dari waktu pemasukan zat kontras ini.
Pengapuran pada vertebra posterior, arthritis sclerosis.
Aneurisme pada aorta abdominal yang disebabkan oleh karena pengapuran.
Penggunaan alat-alat metal, sehinga alat alat ini harus dilepas sebelum pemeriksaan.
Riwayat fraktur tulang yang mana telah mengalami proses penyembuhan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh perawat adalah :
Klien tidak perlu puasa atau diberikan sedasi.
Pemeriksaan ini memerlukan waktu 30 40 menit.
Jelaskan pada klien bahwa ia akan dibarinkan pada sebuah matras pemeriksaan dengan kaki
yang disokong dengan sebuah bantalan agar pelvis dan lumal tetap pada posisi datar.
Sebuah alat generator potton akan ditempatkan didekat meja pemeriksaan yang nantinya
dimasukkan perlahan dibawah lumbal. Sedangkan X-Ray detector akan berada diatas area
yang akan diperiksa.
Gambaran lumbal dan tulang pinggul dengan mengunakan kamera yang dihubungkan
dengan monitoring computer.
Kaki atau tangan yang tidak dominant dimasukkan ke dalam penjepit dan hasilnya akan
diperlihatkan melalui computer baik hasil pada bagian paha, pinggul, lumbal atau bagian
tangan sendiri.
Komputer akan menghitung jumlah potton yang tidak dapat diserap oleh tulang. Ini disebut
BMC = Bone Mineral Content.
BMD ( Bone Mineral Density ) mempunyai rumus :
BMD = BMC (gm/ cm) / permukaan area tulang.
Kemudian dari data tersebut akan dianlisa oleh ahli radiology.
Nilai Normal : 1.0 )
Osteopenia : 1.0 2,5 ( SD di bawah normal 1.0 2.5 )
Osteoporosis : > 2,5 ( SD di bawah normal 12 mg/ dl
2 Asam urat urine 250 750 mg / hari atau
1,48 4,43 mmol/ hari Pada kasus Gout dan artritis akan megalami peningkatan dari nilai
normal
3 SGOT 10 40 / ml
( SI : 0,08 0,32 mol 1/ l ) Meningkat akibat kerusakan otot.
4. Hb Darah LK : 13 18 mg/ dl
PR : 12 16 mg/ dl Menurun bila terjadi perdarahan akibat trauma.
5. Leukosit 4300 10.800/ mm3 Meningkat
6 Kalsium Serum 8,5 10,5 mg /dl Menurun pada Osteomalacia, Paget, tumor tulang yang
telah metastase serta klien yang immobilisasi lama,
7 Kreatinin Kinase ( CK ) < 100 mg/ hari Meningkat akibat kerusakan otot
8. Hormon Paratiroid < 10 l equiv / ml
( SI : < 10 ml equiv/ l ) Meningkat