Вы находитесь на странице: 1из 4

BAB V

KETERJANGKAUAN PANGAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 46 ( keterjangkauan pangan )
(1) Pemerintah dan Pemda bertanggung jawab untuk mewujudkan
keterjangkauan pangan dari masyarakat sampai individu.
(2) Untuk mewujudkan hal pada ayat (1), pemerintah melaksanakan kebijakan
:
Distribusi, pemasaran, perdagangan, stabilisasi pasokan, dan harga
pangan pokok serta bantuan pangan.
Bagian Kedua
Distribusi Pangan
Pasal 47 ( Dsitribusi Pangan )
(1) Distribusi panga bertujuan untuk pemerataan Ketersediaan Pangan ke
seluruh wilayah Indonesia.
(2) Distribusi pangan dilakukan agar perseorangan dapat memperoleh pangan
dalam jumlah yang cukup, aman, bermutu, beragam, bergizi dan
terjangkau.
(3) Pemerintah dan Pemda bertanggung jawab terhadap distribusi pangan.
Pasal 48 ( Sistem Distribusi Pangan)
(1) Distribusi Pangan dilakukan melalui :
a. Pengembangan sistem distribusi pangan : menjangkau seluruh wilayah
b. pengelolaan sistem distribusi pangan : mempertahankan keamanan,
mutu, gizi, tidak bertentangan dengan agama dan budaya
c. kelancaran dan keamanan
(2) Ketentuan lebih lanjut diatur dalam PP
Pasal 49 ( Kelancaran Distribusi Pangan )
(1) Pelayanan transportasi yang efektif dan efisien untuk kelancaran
distribusi pangan.
(2) Memberikan prioritas untuk kelancaran bongkar muat produk pangan.
(3) Menyediakan sarana dan prasarana distribusi pangan
(4) Mengembangkan lembaga distribusi pangan masyarakat
Bagian Ketiga
Pemasaran Pangan
Pasal 50 (pemasaran Pangan)
(1) Melakukan pembinaan kepada pihak yang melakukan pemasaran pangan
(2) Tujuannya agar setiap pihak mempunyai kemampuan pemasaran yang
baik
(3) Promosi untuk meningkatkan penggunaan produk pangan lokal
(4) Promosi di luar negeri untuk meningkatkan pemasaran produk pangan

Bagian Keempat
Perdagangan Pangan
Pasal 51 (mengatur perdagangan pangan)
(1) Mengatur perdagangan pangan
(2) Tujuannya untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan pokok, manajemen
cadangan pangan, dan penciptaan iklim usaha pangan yang sehat
Pasal 52 (mekanisme, tata cara dan jumlah maksimal penyimpanan
pangan pokok)
(1) Menetapkan mekanisme, tata cara dan jumlah maksimal penyimpanan
pangan pokok oleh pelaku usaha pangan
(2) Ketentuan pada ayat 1 diatur berdasarkan peraturan pemerintah
Pasal 53 (larangan menimbun dan menyimpan pangan pokok melebihi
jumlah maksimal)
Pelaku usaha pangan dilarang menimbun pangan pokok melebihi jumlah
maksimal

Pasal 54 ( Sanksi pelanggaran pasal 53)


(1) Pelaku usaha pangan yang melanggar ketentuan di kenakan sanksi
administratif
(2) Sanksi berupa denda, penghentian sementara dari kegiatan dan atau
pencabutan izin
(3) Ketentuan ayat 1 dan 2 diatur dalam PP
Bagian Kelima
Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Pokok
Pasal 55 (stabilisasi pasokan dan harga pangan pokok)
(1) Pemerintah wajib melakukan stabilisasi pasokan dan harga pangan pokok
di tingkat produsen dan konsumen
(2) Untuk melindungi pendapatan dan daya beli petani, nelayan,
pembudidaya ikan dan pelaku usaha pangan mikro dan kecil , serta
menjaga keterjangkauan konsumen.
Pasal 56 ( cara stabilisasi pasokan dan harga pangan pokok)
Satbilisasi pasokan dan harga pangan pokok dilakukan melalui :
penetapan harga pada tingkat produsen dan konsumen, pengelolaan dan
pemeliharaan cadangan pangan, pengetauran dan pengelolaan pasokan
pangan, penetapan kebijakan pajak atau tarif yang berpihak pada
kepentingan nasional, pengaturan kelancaran distribusi antar
wilayah,ekspor dan impor pangan
Pasal 57 ( penetuan harga minimum daerah untuk pangan lokal)
(1) Pemda menentukan harga minimum pangan lokal
(2) Penetuan harga diatur oleh Perda, Pergub, Perbup

Bagian Keenam
Bantuan Pangan
Pasal 58 (penyediaan dan penyaluran pangan pokok )
(1) Pemerintah dan Pemda bertanggung jawab dalam penyediaan dan
penyaluran pangan pokok sesuai dengan kebutuhan
(2) Bantuan pangan dilakukan untuk mengutamakan prodiuksi dalam negeri
dan kearifan lokal.
BAB VI
KONSUMSI PANGAN DAN GIZI
Bagian Kesatu
Konsumsi Pangan
Pasal 59 ( peningkatan pemenuhan kuantitas dan kualitas konsumsi
pangan )
Pemerintah dan Pemda wajib meningkatkan kuantitas dan kualitas konsumsi
pangan melalui penetapan target pencapaian angka konsumsi pangan per
kapita sesuai AKG, penyediaan pangan yang B2SA yang tidak bertentangan
dengan agama dan budaya, serta pengembangan pengetahuan dan kemampuan
masyarakat dalam pola konsumsi pangan yang B2SA

Bagian Kedua
Penganekaragaman Konsumsi Pangan
Pasal 60 (penganekaragaman konsumsi pangan)
(1) Pemerintah dan Pemda wajib mewujudkan penganekaragaman konsumsi
pangan
(2) Penganekaragaman dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan
membudayakan B2SA sesuai potensi dan kearifan lokal
Pasal 61 ( Cara penganekaragaman konsumsi pangan)
Penganekaragam konsumsi pangan dilakukan dengan promosi, meningkatkan
pengetahuan, kesadaran, meningkatkan keterampilan pengembangan olahan
pangan lokal serta mengembangkan dan mendiseminasikan teknologi tepat
guna

Pasal 62
Tercapainyan penganekaragaman konsumsi pangan

Bagian Ketiga

Perbaikan Gizi
Pasal 63 (kebijakan di idang gizi untuk perbaikan SG )
(1) Kebijakan untuk perbaikan status gizi
(2) Kebijakan dilakukan melalui : penetapan persyaratan perbaikan atau
pengayaan gizi, penetapan persyaratan khusus mengenai komposisi
pangan, pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil, menyusui, bayi, balita, dan
kelompok rawan gizi, peningkatan konsumsi pangan hasil produk ternak,
ikan, sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian lokal
(3) pemerintah dan Pemda Menyusun rencana aksi pangan dan gizi setiap 5
tahun
Pasal 64 ( kewajiban menerapkan tata cara pengolahan pangan )
(1) Setiap orang yang melakukan produksi pangan olahan wajib menerapkan
tata cara pengolahan pangan
(2) Tata cara pengolahan pangan dilakukan bertahap berdasarkan jenis dan
skala usaha produksi pangan
Pasal 65 ( sanksi administratif pelanggaran pasal 64 ayat 1 )
(1) Setiap orang yang melanggar pasal 64 ayat 1 dikenai sanksi administratif
(2) Sanksi yang dimaksud berupa : denda, penghentian sementara dari
kegiatan, penarikan pangan dari peredaran, ganti rugi, dan atau
pencabutan izin
(3) ketentuan tentang sanksi administratif diatur dalam PP
Pasal 66
Ketentuan mengenai syarat khusus komposisi, perbaikan atau pengayaan gizi
dan tata cara pengolahan pangan diatur PP.