You are on page 1of 119

EMULSI , SHAMPO , LOTION ,

CLENSING CREAM

A. Emulsi
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat yang
terdispersi dalam cairan pembawa dan distabilkan oleh zat pengemulsinya atau surfaktan yang
cocok ( Farmakope Indonesia Ed.III )
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat bercampur,
biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil
dalam cairan yang lain. Dispersi ini tidak stabil, butir butir ini bergabung ( koalesen ) dan
membentuk dua lapisan yaitu air dan minyak yang terpisah yang dibantu oleh zat pengemulsi (
emulgator ) yang merupakan komponen yang paling penting untuk memperoleh emulsa yang
stabil .
Semua emulgator bekerja dengan membentuk film ( lapisan ) di sekeliling butir butir
tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinya koalesen dan
terpisahnya cairan dispersi sebagai zat pemisah. Terbentuk dua macam tipe emulsi yaitu tipe
M/A dimana tetes minyak terdispersi dalam fase air dan tipe A/M dimana fase intern adalah air
dan fase ekstern adalah minyak .
Zat-zat pengemulsi ( Emugator ) yang biasa digunakan adalah PGA, PGS, Gelatin,
Tragacantha, Sapo, ammonium kwartener, senyawa kolestrol, Surfaktan seperti Tween dan Span,
kuning telur atau merah telur, CMC, TEA, Sabun, dll.

Teori Emulsifikasi
Ada 3 teori tentang pembentukan emulsi , yaitu :
1. Teori Tegangan Permukaan
Teori ini menjelaskan bahwa emulsi terjadi bila ditambahkan suatu substansi yang
menurunkan tegangan antar muka diantara 2 cairan yang tidak bercampur .
2. Teori Orientasi Bentuk Baji
Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi dengan dasar adanya kelarutan
selektif dari bagian molekul emulgator, ada bagian yang bersifat suka terhadap air atau
mudah larut dalam air ( hidrofil ) dan ada bagian yang suka dengan minyak atau larut
dalam minyak ( Lifofil ) .
3. Teori Film Plastik
Teori ini menjelaskan bahwa emulgator ini mengendap pada permukan masing-masing
butir tetesan fase dispersi dalam bentuk film yang plastis.
( Farmasetika , 180 )
Surfaktan dapat membantu pembentukan emulsi dengan mengabsorpsi antar muka,
dengan menurunkan tegangan iterfasial dan bekerja sebagai pelindung agar butir-butir tetesan
tidak bersatu. Emulgator membantu terbentuknya emulsi dengan 3 jalan, yaitu :

1.
Penurunan tegangan antar muka ( stabilisasi termodinamika ).
2.
Terbentuknya film antar muka yang kaku ( pelindung mekanik terhadap
koalesen ).
3.
Terbentuknya lapisan ganda listrik, merupakan pelindung listrik dari pertikel.
Penggunaan Emulsi
Penggunaan Emulsi dibagi menjadi 2 golongan yaitu emulsi untuk pemakaian dalam dan
emulsi untuk pemakaian luar. Emulsi untuk pemakaian dalam meliputi peroral atau injeksi
intravena sedangkan untuk pemakaian luar digunakan pada kulit atau membran mukosa yaitu
liniment, lotion, krim dan salep. Emulsi utuk penggunaan oral biasanya mempuyai tipe M/A.
Emulgator merupakan film penutup dari minyak obat agar menutupi rasa obat yang tidak enak.
Emulsi juga berfaedah untuk menaikkan absorpsi lemak melalui dinding usus. Emulsi parental
banyak digunakan pada makanan dan minyak obat untuk hewan dan juga manusia.
Emulsi yang dipakai pada kulit sebagai obat luar bisa dibuat sebagai emulsi M/A atau
A/M, tergantung pada berbagai faktor seperti sifat zat terapeutik yang akan dimasukkan ke dalam
emulsi, keinginan untuk mendapatkan efek emolient atau pelembut jaringan dari preparat
tersebut dan dengan keadaan permukaan kulit. Zat obat yang mengiritasi kulit umumnya kurang
mengiritasi jika ada dalam fase luar yang mengalami kontak langsung dengan kulit.
( Ansel , 377 )
Pembuatan Emulsi
Dalam membuat emulsi dapat dilakukan dengan 3 metode , yaitu :
1.
Metode Gom Basah ( Metode Inggris )
Yaitu dengan membuat mucilago yang kental dengn sedikit air lalu ditambahkan
minyak sedikit demi sedikit dengan diaduk cepat. Bila emulsi terlalu kental,
ditambahkan air sedikit demi sedikit agar mudah diaduk dan diaduk lagi ditambah sisa
minyak. Bila semua minyak sudah masuk ditambahkan air sambil diaduk sampai

volume yang dikehendaki. Cara ini digunakan terutama bila emulgator yang akan
dipakai berupa cairan atau harus dilarutkan dulu dengan air.
2.
Metode Gom Kering
Metode ini juga disebut metode 4:2:1 ( 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian gom
), Selanjutnya sisa air dan bahan lain ditambahkan. Caranya ialah 4 bagian minyak dan
1 bagian gom diaduk dan dicampur dalam mortir yang kering dan bersih sampai
tercampur benar, lalu ditambahkan 2 bagian air sampai terjadi corpus emulsi.
Tambahkan sirup dan tambahkan sisa air sedikit demi sedikit, bila ada cairan alkohol
hendaklah ditambahkan setelah diencerkan sebab alkohol dapat merusak emulsi .
3.
Metode HLB
Dalam hal ini berhubungan dengan sifat-sifat molekul surfaktan mengenal sifat relatif
dari keseimbangan HLB ( Hydrophiel-Lyphopiel Balance ). ( Farmasetika , 186-187 )
Ketidakstabilan emulsi dapat digolongkan sebagai berikut , yaitu :
1. Flokulasi dan Creaming
Merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapis cairan, dimana masingmasing lapis mengandung fase dispersi yang berbeda.
2. Koalesen dan pecahnya emulsi ( Craking atau breaking )
Pecahnya emulsi yang bersifat tidak dapat kembali. Penggojokkan sederhana akan
gagal untuk mengemulsi kembali butir-butir tetesan dalam bentuk emulsi yang stabil.
3.
Inversi adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi M/A ke tipa A/M atau sebaliknya .
( IMO , 148 )
A.
Shampoo

Shampoo adalah sabun cair yang digunakan untuk mencuci rambut


dan kulit kepala yang terbuat dari campuran bahan bahan alami ( tumbuhan ) atau zat-zat
kimia. Pengertian lain dari sampo yaitu sediaan yang mengandung surfaktan dalam bentuk yang
cocok berguna untuk menghilangkan kotoran dan lemak yang melekat pada rambut dan kulit
kepala tidak membahayakan rambut, kulit kepala, dan kesehatan Si pemakai.
Semula sampo dibuat dari berbagai jenis bahan yang diperoleh dari sumber alam, seperti
sari biji rerak, sari daging kelapa, dan sari abu merang (sekam padi).
Sampo yang menggunakan bahan alam sudah banyak ditinggalkan, dan diganti dengan
sampo yang dibuat dari detergen, yakni zat sabun sintetik, sehingga saat ini jika orang
berbicara mengenai sampo yang dimaksud adalah sampo yang dibuat dari detergen. Dan untuk
sampo yang dibuat dari bahan lain, biasanya diberikan penjelasan seperlunya, misalnya sampo
merang.
Agar sampo berfungsi sebagaimana disebutkan di atas, sampo harus memiliki sifat
berikut :
1.
Sampo harus membentuk busa yang berlebih, yang terbentuk dengan cepat, lembut dan
mudah dihilangkan dengan membilas dengan air.

2.

Sampo harus mempunyai sifat detergensi yang baik tetapi tidak berlebihan, karena jika
tidak kulit kepala menjadi kering.
3.
Sampo harus dapat menghilangkan segala kotoran pada rambut, tetapi dapat mengganti
lemak natural yang ikut tercuci dengan zat lipid yang ada di dalam komposisi sampo.
Kotoran rambut yang dimaksud tentunya sangat kompleks yaitu : sekret dari kulit, sel kulit
yang rusak, kotoran yang disebabkan oleh lingkungan dan sisa sediaan kosmetika.
4.
Tidak mengiritasi kulit kepala dan mata.
5.
Sampo harus tetap stabil. Sampo yang dibuat transparan tidak boleh menjadi keruh dalam
penyimpanan. Viskosita dan pH-nya juga harus tetap konstan, sampo harus tidak terpengaruh
oleh wadahnya ataupun jasadrenik dan dapat mempertahankan bau parfum yang ditambahkan
ke dalamnya.
Detergen yang digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan sampo memiliki sifat
fisikokimia tersendiri yang umumnya tidak sepenuhnya searah dengan ciri sifat yang
dikehendaki untuk sampo. Umumnya, detergen dapat melarutkan lemak dan daya pembersih
kuat, sehingga jika digunakan untuk keramas rambut, lemak rambut dapat hilang, rambut
menjadi kering, kusam, dan mudah menjadi kusut, menyebabkan sukar diatur.
Sifat detergen yang terutama dikehendaki untuk sampo adalah kemampuan membangkitkan
busa. Jenis detergen yang paling lazim diedarkan tergolong alkil sulfat, terutama laurilsulfat,
juga alkohol monohidrat dengan rantai C 10 18.
Di samping itu detergen yang digunakan untuk pembuatan sampo, harus memiliki sifat
berikut :
1. harus bebas reaksi iritasi dan toksik, terutama pada kulit dan mata atau mukosa tertentu.
2. Tidak boleh memberikan bau tidak enak, atau bau yang tidak mungkin ditutupi dengan
baik.
3. Warnanya tidak boleh menyolok.
Zat tambahan sampo
Zat tambahan sampo terdiri dari berbagai jenis zat, yang dikelompokkan sesuai dengan
kesamaan fungsi yang diharapkan dalam formulasi sampo.
Alkilbromida asam lemak
Digunakan untuk meningkatkan stabilitas busa dan memperbaiki viskosita. Zat ini
merupakan hasil kondensasi asam lemak dengan monoetanolamina (MEA), dietanolamina
(DEA), atau isopropanolamina yang sesuai. Zat ini juga menunjukkan sifat dengan mendispersi
kerak sabun kalisium atau magnesium, dan mencegah pengerakan kedua jenis sabun itu pada
kulit kepala dan rambut.
Lemak bulu domba, lanolin atau salah satu derivatnya, kolesterol, oleilalkohol, dan
asetogliserida
Digunakan untuk makud memperbaiki efek kondesioner detergen dasar sampo yang
digunakan, sehingga rambut yang dikeramas-sampokan akan mudah diatur dan memberikan
penampilan rambut yang serasi.
Lanolin atau serbuk telur acapkali digunakan sebagai zat tambahan sampo dan dinyatakan
khusus untuk maksud memberikan rambut berkilau dan mudah diatur.
Asam amino

Terutama asam amino esensial digunakan sebagai zat tambahan sampo dengan harapan,
setelah rambut dikeramas-sampokan, zat ini akan tetap tertinggal pada kulit kepala dan rambut,
dan berfungsi sebagai pelembab, karena asam amino memiliki sifat higroskopik yang akan
memperbaiki kelembaban rambut.
Zat tambahan sampo lain
Terdiri dari berbagai jenis zat, umumya diharapkan untuk menimbulkan efek terhadap
pembentukan dan stabilisasi busa; meliputi zat golongan glikol, polivinilpirolidon,
karboksimetilselulosa, dan silikon cair, terutama yang kadarnya lebih kurang 4%.
Penyajian
Sampo disajikan dalam bebagai bentuk, meliputi bubuk, emulsi, krim atau pasta, dan larutan.
Selain itu jga dapat disajikan dalam :
1. Sampo bubuk
Sebagai dasar sampo digunakan sabun bubuk, sedangkan sebagai zat pengencer biasanya
digunakan natrium karbonat, natrium bikarbonat, natrium seskuikarbonat, dinatrium fosfat
atau boraks. Sampo jenis ini dapat dikombinasikan dengan zat warna alam hena atau
kamomil, sehingga dapat memberikan sedikit efek pewarnaan pada rambut.
Agar dalam air sadah dapat berbusa, biasanya bubuk sabun diganti dengan natrium
laurilsulfat.
1. Sampo emulsi
Sampo ini mudah dituang, karena konsistensinya tidak begitu kental. Tergantung dari
jenis zat tambahan yang digunakan, sampo ini diedarkan dengan berbagai nama seperti
sampo lanolin, sampo telur, sampo protein, sampo brendi, sampo susu, sampo lemon atau
bahkan sampo strawberry.
1. Sampo krim atau pasta
Sebagai bahan dasar digunakan natrium alkilsulfat dari jenis alkohol rantai sedang yang
dapat memberikan konsistensi kental. Untuk membuat sampo pasta dapat digunakan malam
seperti setilalkohol sebagi pengental. Dan sebagai pemantap busa dapat digunakan
dietanolamida minyak kelapa atau isopropanolamida laurat.
1. Sampo larutan
Merupakan larutan jernih. Faktor yang harus diperhatikan dalam formulasi sampo ini
meliputi, viskosita, warna, keharuman, pembentukan dan stabilitas busa dan pengawetan.
Zat pengawet yang lazim digunakan meliputi, 0,2% larutan formaldehida 40%, garam
fenilraksa; kedua zat ini sangat beracun, sehingga perlu memperhatikan batas kadar yang
ditetapkan pemerintah.
Parfum yang digunakan berkisar antara 0,3%-1,0%, tetapi umumnya berkadar 0,5%.
Cara pembuatan
a. Sampo krim atau pasta

Detergen dipanaskan dengan air pada suhu pada lebih kurang 800 dalam panci
dinding rangkap, sambil terus diaduk. Tambahkan zat malam, terus diaduk lebih kurang
15 menit. Biarkan campuran ini pada suhu lebih kurang 40-500C. Tambahkan parfum,
aduk terus hingga homogen; lanjutkan pengadukan untuk menghilangkan udara.
Wadahkan selagi panas.
a. Sampo larutan
Jika digunakan alkilolamida, mula-mula zat ini dilarutkan dalam setengah bagian
detergen yang digunakan dengan pemanasan hati-hati. Kemudian tambahkan sisa
detergen sedikit demi sedikit, sambil terus diaduk; tambahkan zat warna yang telah
dilarutkan dalam air secukupnya; jika masih terdapat sisa air tambahkan sedikit demi
sedikit, sambil terus diaduk untuk mencegah terjadinya busa.
Shampoo yang baik
Harus dapat mencuci rambut dan kulit kepala dengan bersih dan tidak menimbulkan
rangsangan
Harus mempunyai sifat detergent yang baik tetapi tidak membuat kulit kepala
menjadi kering
Harus dapat menghasilkan rambut yang halus, mengkilat, tidak kasar, tidak mudah
patah, serta mudah diatur
Harus memiliki konsistensi yang stabil, dapat menghasilkan busa dengan cepat,
lembut, dan mudah dihilangkan dengan pembilasan
Jenis-jenis Shampoo
Liquid Shampoo (Sampo Cair)
Lotion Shampoo (Sampo Losio)
Creme paste Shampoo (Sampo Pasta Krim)
Gel Shampoo (Sampo Jeli)
Aerosol Shampoo (Sompo Erosol)
Dry Shampoo (Sampo Serbuk)
Bahan Utama
Bahan utama pada shampoo adalah surfaktan (sabun dan detergent)
Sabun adalah garam dan asam lemak
Hasil reaksi antara lemak dan minyak hewan dan tumbuhan dengan alkali (cth. NaOH, KOH)
Kekurangan : tidak membentuk busa oleh air sadah, diatasi dengan penambahan chelating agent
Surfactant (1)
a.
Anionik
Gol. Alkyl benzene sulfonat
Mis. Sodium dodecyl benzene sulfonate
Gol. Primary alkyl sulfat
Mis. Triethanolamine lauryl sulfate
Gol. Secondary alkyl sulfat
Mis. Lauryc monoglyceride ammonium sulfate
Gol. Sarcosine
Mis. Laurosyl sarcoine, Cocoyl sarcosine
Surfaktan
b.
Kationik

Garam amonium kuarterner


Mis. Dstearyl dimethyl ommonium chloride, dilauryl dimethyl ammonium chloride, cetyl
trimethyl ammonium bromide
c.
Amfoterik
Mis. Miranol
d.
Non Ionik
Mis. Tween, Pluronic F-68
Bagaimana Shampoo bekerja
Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air meningkatkan kemampuan air untuk
membasahi kotoran yang melekat (Ingat Makin kecil nilai tegangan permukaan air, makin besar
kemampuan air membasahi benda).
Surfoktan bergerak di bawah lapisan berminyak mengangkat dan permukaan partikel
berbentuk bola.
Bahan Tambahan
Ditambahkan ke dalam sampo untuk menghasilkan sampo yang aman memiliki viskositas yang
baik, busa yang stabil, dan dapat mengoptimalkan kerja detergent
Opocifying agen
Clarifying agen
Foam builder
Conditioning agen
Thickening agen
Chelating agen
Preservotif
Active agent
Foam Builder
Bahan yang meningkatkan kualitas, volume, dan stabilitas busa
Membantu meningkatkan stabilitas dan efek kondisioner
Contoh : dodecyl benzene sulfonate, lauroyl monoethanolomide
Conditioning agent
Merupakan bahan berlemak yang memudahkan rambut untuk disisir
conditioning agent melapisi helai rambul halus dan mengkilap
Harus mudah dibilas, tidak meninggalkan rasa berminyak (lengket) di rambut
contoh lanolin, minyak mineral, telur, polipeptida
Opacifying agent
Bahan yang memberikan warna buram pada shampoo
Penting pada pembuatan shampoo jenis krim & losio
Contoh : Cetyl alcohol, stearyl alcohol, spermaceti, glycol monodistearate, Mg
stearate
Clarifying agent
bahan yang digunakan untuk mencegah kekeruhan pada shampoo
terutama untuk shampoo dengan bahan utama sabun
Penting pada pembuatan shampoo cair (likuid shampoo)
contoh : butil alkohol, isopropil alkohol etil alkohol, metilen glikol, EDTA
Cleating agen Sequestering agent
Bahan yang mencegah terbentuknya sabun Ca atau Mg karena air sadah

Contoh : asam sitrat, EDTA


Dapat digantikan oleh surfaktan non-ionik
Thickening agent
Bahan yang meningkatkan viskositas shampoo
Contoh : gom akasia, tragakan, CMC, Methocel
Kekurangan : dapat membentuk lapisan film pada helai rambut
Preservatif
Bahan yang berguna melindungi sampo dari mikroba yang dapat menyebabkan rusaknya sampo,
Harus dipilih
contoh : formadehid, etil alkohol, ester parahidroksibenzoat
Antidandruff agent
Antidandruff agent umumnya bersifat antimikroba
ditambahkan ke dalam shampoo dalam jumlah kecil
Contoh : Sulfur, Asam Salisilat, Resorsinol, Selenium Sulfida, Zink Piriton
Penunjang Stabilitas
Bahan-bahan tertentu dapat ditambahkan ke dalam sampo dengan tujuan menunjang
stabilitas shampoo (stability additive)
Antioxidant
Mencegah perubahan warna dan bau sediaan akibat oksidosi,
Sunsreen
Melindungi sediaan dari sinar matahari, Contoh : Benzophenon
Suspending agent
Contoh : veegum, bentonit
pH control agen (larutan dapar)
Mencegah perubahan worna dan bau sediaan akibat perubahan pH
Cosmetics additive
Bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sampo dengan tujuan memperbaiki
tampilan shampoo (cosmetics adihtive)
Perfume
campurarl minyak atsiri atau sintetik
Pewarna (dye)
Pewarna yang digunakan harus terdaftar pada Federal Food, Drug, and Cosmetics Act
Pearlescent pigements
B.
Lotion
Lotion adalah Sediaan cair berupa suspensi atau dispersi yang digunakan sebagai obat
luar dapat berbentuk suspensi zat padat dalam serbuk halus dengan bahan pensuspensi yang
cocok , emulsi tipe o/w dengan surfaktan yang cocok.
Kegunaan : membersihkan make-up (rias wajah) dan lemak dari wajah dan leher.

Ciri-ciri Lotion :
Lebih mudah digunakan (penyebaran losio lebih merata daripada krim)
Lebih ekonoms (Lotio menyebar dalam lapisan tipis)
Ada 2 jenis Lotio :
Larutan detergen dalam air
Emulsi tipe M/A
D. Cleansing Cream

Kegunaan Cleansing Cream adalah membersihkan make-up (rias wajah) dan


lemak dari wajah dan leher. Krim pembersih adalah modifikasi dari cold cream (krim sejuk).
Cold cream diformulasi oleh Galen (150 AD), terdiri atas campuran malam lebah, minyak zaitun
dan air. Ada 2 jenis cleansing cream : tipe beeswax-borax dan tipe krim cair.
1.
Tipe Emulsi Beeswax-Borax
o
Formula populer untuk kim pembersih
o
Berwarna putih dan bebas dari butiran
o
Mudah mencair dan menyebar pada kulit
o
Mengandung mineral oil dalam jumlah besar
o
Tipe emulsi M/A
Inversi ke Tipe A/M pada kulit
2.
Tipe Krim Cair
o
Terdiri dari campuran minyak dan malam yang mencair jika dioleskan
o
Efek membersihkan sama dengan tipe beeswax-borax
o
Dapat ditambahkan emolien untuk meninggalkan lapisan berminyak pada
kulit
o
Tampilannya tembus cahaya (translucent)
o
Untuk membuat tampilannya buram (opaque)
ditambah 2 % Zn O, TiO2,
Mg stearat, atau Zn stearat
o
Ditujukan untuk kulit kering
Pada umumnya sediaan perawatan dan pembersih kulit terdapat dalam bentuk krim atau
emulsi, dan yang akan dibicarakan dalam bab ini meliputi :
1.
2.
3.
4.

Krim Penghapus dan Krim Dasar


Krim Pembersih dan Krim Pendingin
Krim Urut dan Krim Pelembut
Krim Tangan dan Badan.
Krim Penghapus dan Krim Dasar
Vanishing and Faundation Cream

Krim penghapus adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud


menghilangkan tatarias wajah, sehingga wajah menjadi bersih dan siap dilekati dengan krim
dasar.
Krim dasar adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud sebagai dasar
tatarias wajah.
Bahan : bahan yang digunakan mencakup zat manfaat dan zat tambahan, termasuk
parfum dan zat warna.
Krim Pembersih dan Krim Pendingin
Cleansing and Cold Cream
Krim pembersih adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud menghilangkan
kotoran yang larut dalam air maupun yang larut dalam minyak secara efisien.
Krim pendingin adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud memberikan
rasa dingin dan nyaman pada kulit.
Ciri khas krim pendingin ialah kandungan airnya relatif banyak yang diikat dalam bentuk
emulsi m-a.
Bahan : bahan yang digunakan mencakup zat manfaat dan zat tambahan, termasuk
parfum dan zat pengawet.
Krim Urut dan Krim Pelembut
Massage and Emollient Creams
Krim urut dan krim pelembut adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud
memperbaiki kulit rusak karena suatu unsur atau bahan misalnya, detergen.
Biasanya, krim ini tetinggal pada kulit untuk beberapa jam, umumnya semalam. Krim ini
tidak boleh digosokkan karena terlalu cepat diabsorpsi melalui kulit. Krim yang tetinggal
merupakan lapisan yang tidak boleh telalu ditekan atau cepat hilang karena gesekan dengan kain
alas tidur.
Dasar krim, terutama yang mengandung banyak minyak, yaitu air dalam minyak, krim
lembut atau emulsi kental, mudah digunakan tetapi tidak mudah hilang. Krim sepeti ini akan
lama tinggal di kulit, sehingga dapat melindungi kulit dan mengurangi penguapan air dari kulit.
Makin lama tinggal di kulit makin banyak krim yang diaborpsi. Juga dapat berfungsi sebagai
lubrikan dan sebagai emolien.
Bahan : bahan yang digunakan mencakup zat manfaat, antara lain emolien termasuk
emolien alami yang larut dalam minyak,pelembab humektan, dan zat tambahan termasuk zat
pengawet dan parfum.
Krim Tangan dan Badan
Hand and Body Cream
Krim tangan dan badan adalah sediaan dan kosmetika yang digunakan untuk maksud
melindungi kulit supaya tetap halus dan lembut dan kering, bersisik dan mudah pecah.
Kulit mengeluarkan lubrikan alami yaitu sebum, untuk mempertahankan agar permukaan
kulit tetap lembut, lunak dan terlindung. Lapisan sebum dapat menjadi rusak atau hilang jika
kulit dicuci atau dicelupkan dalam larutan sabun atau detergen.
Jika sebum hilang sacara lebih cepat dari pada terbentuknya, kulit menjadi kering dan
bersisik. Permukaan kulit dapat pecah, mempermudah masuknya bakteri, dapat terjadi infeksi,
akhirnya kulit akan mengeluarkan cairan, jika dibiarkan dapat menyebabkan dermatitis.
Kulit juga mengandung lapisan lemak yang berfungsi untuk mengontrol penguaan air,
kulit juga mengeluarkan cairan pelembab alami. Keseimbangan kandungan kulit air dalam kulit
sangat penting untuk diperhatikan.

Pada umumnya kulit tahan terhadap penggunaan sabun dan air untuk waktu yang tidak
terbatas. Kulit tidak tahan jika terus menerus terkena angin atau udara kering, atau terlalu sering
dan terus menerus menggunakan sabun atau detergen, kecuali dilindungi dengan cara tertentu.
Biasanya disajikan dalam bentuk krim dan krim cair atau emulsi.
Bahan : bahan yang digunakan mencakup zat emolien, zat sawar (barier), zat penutup
untuk kulit yang berpori lebar, zat humektan, zat pengental dan pembentuk lapisan tipis, zat
pengemulsi, zat pengawet, parfum, dn zat warna.
(Formularium Kosmetika Indonesia, 1985, 330-357)

SALEP
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. ( FI
III Hal 33 )
Salep adalah sediaan setengah padat yang ditujukan untuk pemakaian topical pada kulit atau
selaput lendir. (FI IV )
ATURAN UMUM PEMBUATAN SALEP
1. Bagian bagian yang dapat larut dalam sejumlah campuran lemak yamg diperuntukkan
bilamana perlu dilarutkan dengan pemanasan di dalamnya.
2. Zat-zat yang mudah larut dalam air kecuali ditentukan lain ,bila banyak nya air yang
dipergunakan untuk pelarutan dapat dipungut oleh jumlah campuran lemak yang telah
ditentukan, mula-mula dilarutkan dalam air; banyaknya air yang dipergunakan mulamula dikurangi dari jumlah yang telah ditentukan dari campuran lemak.
3. Zat-zat yang dalam lemak dan dalam air atau kurang cukup dapat larut harus sebelumnya
dijadikan serbuk, dan diayak melalui dasar ayakan B40. Pada pembuatan unguenta ini
zat yang padat sebelumnya dicampur rata dengan lemak, yang beratnya sama atau
setengahnya,bilamana perlu sebelumnya dilelehkan dan kemudian sejumlah sisa
lemaknya telah atau tidak dilelehkan ditambahkan sebagian demi sebagian.
4. Apabila unguenta dibuat dengan perlelehan, maka campurannya harus diaduk sampai
dingin.
BERDASARKAN KOMPOSISI DASAR SALEP DAPAT DIGOLONGKAN SEBAGAI
BERIKUT
1. Dasar salep hidrokarbon,yaitu terdiri dari antara lain:
Vaselin putih,Vaselin kuning
Campuran Vaselin dengan malam putih, malam kuning
Parafin encer, Parafin padat
Minyak tumbuh-tumbuhan
2. Dasar salep serap,yaitu dapat menyerap air terdiri antara lain:
Adeps lanae
Unguentum Simplex
Campuran 30 bagian malam kuning dan 70 bagian minyak wijen
Hydrophilic petrolatum

86 Vaselin Alba,8 Cera Alba,3 Stearyl alcohol, dan 3 kolesterol.


(IMO,hal 52-53)
ZAT-ZAT YANG DAPAT DILARUTKAN DALAM DASAR SALEP
Umumnya kelarutan obat dalam minyak lemak lebih besar daripada dalam vaselin.
Champora, Mentholum, Phenolum, Thymolum dan Guayacolum lebih mudah dilarutkan dengan
cara digerus dalam mortir dengan minyak lemak. Bila dasar salep mengandung vaselin, maka
zat-zat tersebut digerus halus dan tambahkan sebagian (+ sama banyak) Vaselin sampai
homogen, baru ditambahkan sisa vaselin dan bagian dasar salep yang lain.
Champora dapat dihaluskan dengan tambahan Spiritus fortior atau eter secukupnya sampai larut
setelah itu ditambahkan dasar salep sedikit demi sedikit, diaduk sampai spiritus fortiornya
menguap.
Bila zat-zat tersebut bersama-sama dalam salep, lebih mudah dicampur dan digerus dulu biar
meleleh baru ditambahkan dasar salep sedikit demi sedikit.
(IMO,hal 55)
ZAT-ZAT YANG MUDAH LARUT DALAM AIR
Bila masa salep mengandung air dan obatnya dapat larut dalam air yang tersedia maka obatnya
dilarutkan dulu dalam sebagian dulu dalam air dan dicampur dengan bagian dasar salep yang
dapat menyerap air, setelah seluruh obat dalam air terserap, baru ditambahkan bagian-bagian lain
dasar salep, digerus dan diaduk hingga homogen.
Dasar salep yang dapat menyerap air antara lain ialah Adeps lanae, Unguentum Simplex,
hydrophilic ointment. Dan dasar salep yang sudah mengandung air antara lain Lanoline (25%
air), Unguentum Leniens (25%), Unguentum Cetylicum hydrosum (40%).
(IMO, hal 57)
ZAT-ZAT YANG KURANG LARUT ATAU TIDAK LARUT DALAM DASAR SALEP
Zat-zat ini diserbukkan dulu dengan derajat halus serbuk pengayak no.100. setelah itu serbuk
dicampur baik-baik dengan sama berat masa salep, atau dengan salah satu bahan dasar salep.
Bila perlu bahan dasar salep tersebut dilelehkan terlebih dahulu, setelah itu sisa bahan-bahan
yang lainditambahkan sedikit demi sedikit sambil digerus dan diaduk hingga homogen. Untuk
pencegahan pengkristalan pada waktu pendinginan, seperti Cera flava, Cera alba,
Cetylalcoholum dan Paraffinum solidum tidak tersisa dari dasar salep yang cair atau lunak.
(IMO,hal 59)

BAHAN YANG DITAMBAHKAN TERAKHIR PADA SUATU MASSA SALEP


Balsem-balsem dan minyak atsiri, balsam merupakan campuran dari damar dan minyak atsiri,
jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya sedangkan minyak atsirinya akan menguap.
(Ilmu Resep Teori,hal 48)
KUALITAS SALEP YANG BAIK ADALAH
1. Stabil, selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas, tidak terpengaruh oleh suhu dan
kelembaban kamar.
2. Lunak,semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus, dan seluruh produk
harus lunak dan homogen.
3. Mudah dipakai atau mudah dioleskan.
4. Dasar salep yang cocok.
5. Dapat terdistribusi merat (Ilmu Resep Teori, hal 42)
DAFTAR PUSTAKA

KAPSUL
Kapsul(FI,III) adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsulKeras dan lunak ,
Kapsul (FI,IV) adalah sediaan Padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang
dapat larut .
Cangkang dibuat dari :

1. Gelatin
2. Pati
3. Bahan Lain yang cocok (FI,Ed,IV)

Kapsul memiliki nama lain :

1. Hard Capsule atau Kapsul Keras


2. Hard Gelatine Capsule atau Kapsul Lunak

Adapun pemerian dari kapsul adalah sedian bahan aktifnya dapat berbentuk padat atau
sediaan padat dengan atau tampa bahan tambahan dan terbungkus cangkang kapsul yang keras
terbuat dari gelatin .

Kapsul Brbentuk selindris dengan ukuran kapsul bermacam macam mulai yang terbesar
000(Untuk Hewan),00,0,1,2,3,4,dan 5.Dalam pengobatan lazim digunakan adalah 0,1,2,3 dan 4 .
Kapasitas Kapsul kira kira antara 30 mg 600 mg dan tergantung berat jenis serbuknya.

Konsitensi obat yang dimasukan kedalam kapsul dapat berupa serbuk , zat cair , granul .
Contoh :

Yang Berupa Serbuk

: Erythrocin caps
Incidal caps
Kemicetin caps.

Yang Berupa Cairan

: Oleum Chenopodii

Yang Berupa Granul

: Eryc caps
Excelase caps

Hard caps

: Librium,Terramycin,Juvelon

Soft caps

: Natur-E 100 .Super Tetra, Levertran caps

Kapsul memiliki sifat sifat yang menguntungkan yaitu :


1.

Cukup stabil dalam penyimpanan dan transportasi

2.

Dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak

3.

Tepat untuk Oat yang teroksidasi dan mempunyai bau dan rasa yang tidak enak

4.

Bentuk Kapsul Mudah ditelan dibanding bentuk tablet

Catatan

: Setelah cangkang larut dalam lambung dan bahan aktif bebas serta
terlarut maka akan terjadi proses absoropsi yang terjadi di Gastro
intestinal (GIT).

Pembuatan kapsul dengan cara yaitu bila obat obatanya berupa , maka setelah
obat obataya dan bahan tambahan / pengisi dicampur dan diserbukan ( Cara Seperti pada
pembuatan serbuk ),Lalu dibagi bagi sama banyak . Kemudian dimasukan kedalam kapsul
.Pilih kapsul yang sesuai dengan volume serbuknya .Bila setelah obat dimasukan ke dalam
kapsul dan apabila ada serbuk yang melekat pada kapsul ,maka kapsul tersebut dibersihkan
dengan kapas atau kertas tissue.

Penyimpanan disimpan ditempat yang sejuk kering , tertutup rapat dan diberi zat
pengering .Bila kapsul disimpan ditempat yang kelembapanya rendah ,maka kapsul akan rapuh
.Bila kapsul disimpan di kelembapan yang tinggi maka kapsul akan lembek ( Saling melekat ).

Catatan

: Tinjauan Pustaka yang diambil adalah hasil pengembangan buku


Farmakope ed III dan IV, Buku Penuntun Praktikum Farmasetika dasar
dan buku seni menulis resep.

FARMAKOLOGI (Cara Kerja Obat) &


INTERAKSI OBAT
1. PARASETAMOL
Faemakologi
Parasetamol adalah drivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik / analgesik. Sifat
antipiretiknya disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan
efek sentral. Sifat analgesik Parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai
sedang. Sifat antiinflamasinya sangat rendah sehingga tidak digunakan sebagai antirematik.
Pada penggunaan per oral Parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar
maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60 menit setelah pemberian.
Parasetamol diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan dan
sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi.
Interaksi Obat
Parasetamol diduga dapat menaikan aktivitas koagulan dari kumarin.
1. ASAM MEFENAMAT
Farmakologi
Asam mepenamat merupakan kelompok antiinflamasi non steroid bekerja dengan cara
menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim
siklooksiginase sehingga mempunyai efek analgesik, antiinflamasi dan antipiretik.
Interaksi Obat
Penggunaan bersama dengan antikoagulan oral dapat memperpanjang Prothombin
1. ALUMINIUM HIDROKSIDA & MAGNESIUM HIDROKSIDA
Farmakologi
Kombinasi Aluminium Hidroksida dan Magmesium Hidroksida merupakan antasida yang
bekerja menetralkan asam lambung dan meninaktifkan pepsin sehingga rasa nyeri ulu hati
akibat iritasi oleh asam lambung dan pepsin berkurang. Disamping itu, efek laksatif dari
magnesium Hidroksida akan mengurangi efek konstipasi dari aluminium hidroksida.
Interaksi Obat

Dapat mengganggu absoropsi obat obat tertentu seperti : Ketokenazole,metenamin,dan


tetrasiclyn sehingga mengurangi aktifitasnya.oleh karena itu pemakaian harus berselang
waktu minimal 1 2 jam.
1. AMOKSISILIN
Farmaklogi
Amoksisilin merupakan turunan dari penisilin semi sintetik dan stabil dalam suasana asam
lambung. Amoksisilin diabsoropsi dengan cepat dan baik pada saluran pencernaan,tidak
tergantung adanya makanan. Amoksisilin terutama diekskresikan dalam bentuk tidak berubah
di dalam urin. Ekskresi Amoksisilin dihambat saat pemberian bersamaan dengan probenesid
sehingga memperpanjang efek terapi. Amoksisilin aktif terhadap organisme Gram-positif dan
Gram-negatif.
Interaksi Obat
Probenesid dapat meningkatkan dan memperpanjang level darah dari amoksisilin.
Penggunaan bersamaan dengan allupurinol dapat menyebabkan peningkatan terjadinya reaksi
kulit.
1. SULFAMETHOXAZOLE
Farmakologi
Sulfamethoxazole termasuk golongan sulfonamida,bekerja secara kompetitif dengan PABA,
dimana PABA dibutuhkan oleh bakteri dalam hidupnya. Dengan adanya
Sulfonamida,pertumbuhan bakteri dihambat,karena masuknya PABA ke dalam
molekul,sehingga pembentukan asam dihidrofolat terhambat.
Interaksi Obat
Bila digunakan bersama sama dengan anti koagulan oral meningkatkan efek anti koagulan
oral akibatnya dapat terjadi shock hipoglukemik. Memperpanjang waktu paruh dari penitoin.
Sulfmethoxazole dapat menggantikan kedudukan ikatan protein plasma oleh beberapa obat
yang bersifat asam termasuk fenilbutajon,dikumarol dan asam salisilat.Kombinasi dengan
INH dapat menyebabkan hemolitik anemia akut. Vitamin C merupakan ekskresi dari
Sulfonamida,sehingga kemungkinan terjadinya kristaluria diperbesar. Dapat menyebabkan
trombositepenia jika digunakan bersama sama dengan diuretika tiazid.
1. DEXSAMETHASON
Farmakologi
Dexsametason merupakan glukokortikoid sintetik dengan efek antiinflamasi dan anti alergi.
Dexametason mencegah atau menekan timbulnya tanda tanda peradangan yang disebabkan

oleh mikroorganisme,zat kimia atau atau iritasi termik,trauma atau alergan. Pada inflamasi
permeabilitas kapiler bertambah,menyebabkan cairan edema dan protein ke daerah
inflamasi.Dexsametason dapat mencegah gangguan permeabilitas tersebut sehingga
pembengkakan dapat ditiadakan atau dapat berkurang dan juga dapat terjadi penghambatan
eksudasi sel leukosit dan sel mast. Dexsametason dapat mempertahankan keutuhan membran
sel dan membran plasma sehingga kerusakan sel oleh toksin,enzim protolitik atau sebab
mekanik dapat diatasi. Dexsametason dapat menstabilkan membran lisosom sehingga
menghambat pengeluaran enzim hidrolase yang dapat menghancurkan isi sel dan
menyebabkan perluasan reaksi inflamasi. Aktifitas anti inflamasi ini secara kuantitatif
tergantung kadar hormon didaerah meradang. Sebagai anti alergi Dexsametason
menyebabkan sel limfosit yamg berperan pada reaksi sensitisasi dan imunologik yaitu
limposit B yang menghasilkan anti bodi dan limposit T yang desensitisasi ternyata resisten
terhadap efek dekstruktif. Efek Dexsametason terhadap sel limposit ini bersifat sekunder
terhadap penghambatan sintesis protein dan metabolisme sel. Dexsametason bekerja dengan
mempengaruhi sintesa protein pada proses transkripsi RNA.
Interaksi Obat
Dexsametason menyebabkan efek derivat kumarin melemah (Karena jumlah trombosit
meningkat),tetapi kecendrungan perdarahan meningkat. Pemberian bersama Atropin atau
Antikolinergik yang lain akan meningkatkan tekanan intra Okuler. Dexsametason dapat
meningkatkan kebutuhan insulin atau antidiabetika oral. Metabolisme Kortikosteroid
dipercepat dengan adanya antiepilepsi : Carbamazepine dan Piramidone dan adanya
Aminoglutetimide. Dengan Salisilat dan antirematik non steroid akan meningkatkan insiden
tukak lambung dengan adanya bahaya perdarahan gastrointestinal. Dengan
antihipertensi,terjadi antagonisme terhadap efek hipotensi. Efek Dexsametason menurun
pada
pemberian
bersama

sama
Antasid,derivat
barbiturat
(Phenobarbital),Fenitoin,Rifampisin karena metabolisme kostikesteroid dipercepat.
Pemberian bersama sama diuretika dan thiazide menambah resiko hipokalemia
metabolisme dihambat oleh estrogen dan pada orang tua meningkat pada hiperthyrosis.
1. DIGOKSIN
Farmakologi
Merupakan prototipe glikosida jantung yang berasal dari Digitalis lanata. Mekanisme
Digoksin melalui 2 cara yaitu efek langsung dan efek tidak langsung. Efek langsung yaitu
meningkatkan kekuatan kontraki otot jantung (efek inotropik positif). Hal ini terjadi
berdasarkan penghambatan enzim Na+,K+ -ATPase dan peningkatan arus masuk ion kalsium
ke inta sel. Efek tidak langsung yaitu pengaruh digoksin terhadap aktivitas saraf otonom dan
sensitivitas jantung terhadap neorotransmiter.
Interaksi Obat
Kuinidin,Verapamil,Amiodaron dan Profapenon dapat meningkatkan kadar digitalis. Diuretik
kortikosteroid dapat menimbulkan hipokalemia, sehingga mudah terjadi intoksikasi digitalis.

Antibiotik tertentu menginaktivasi digoksin melalui metabolisme bakterial di usus bagian


bawah. Propantelin,Difenoksilat,meningkatkan absoropsi digoksin. Antasida,Kaolinpeptin,Sulfasalazin,Neomisinia,Kolestiramin,beberapa obat kangker, menghambat absoropsi
digoksin. Simpatomimetik,meningkatkan resiko aritima. Beta bloker, Kalsium antagonis,
berefek aditif dalam penghambatan konduksi AV.

Tablet (Kempa Langsung)


2.1. PengertianTablet
Tablet merupakan sediaan padat yang biasanya dibuat secara kempa cetak, berbentuk rata atau
cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan penambahan
bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Kebanyakan dari tablet digunakan pada pemberian
peroral, dan kebanyakan dari tablet ini dibuat dengan penambahan zat warna, zat pemberi rasa
dan lapisan lapisan berbagai jenis.
Penggunaan kata tablet sendiri secara umum merujuk pada tablet obat. Tablet obat juga sering
disebut pil. Produk lain yang juga diproduksi dalam bentuk tablet yang akan larut antara lain
adalah produk produk pembersih dan penghilang bau.
Tablet dibuat dengan cara kompresi. Secara singkat dapat dikatakan bahwa tablet yang dibuat
dengan cara kompresi menggunakan mesin yang mampu menekan bahan berbentuk serbuk dan
granul dengan menggunakan berbagai bentuk punch atau ukuran die. Alat kompresi tablet
merupakan alat berat dari alat berat dari berbagai kapasitas dipilih sesuai dengan dasar dan jenis
tablet yang dibuat serta produksi yang diinginkan. Tablet yang dicetak dibuat dengan tangan atau
dengan alat mesin tangan, dengan cara menekan tablet dalam cetakan, kemudian bahan tablet
yang dibentuk dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan sampai kering.
2.2. Jenis Jenis Tablet
1. Tablet Kempa Tujuan Saluran Pencernaan
a. Tablet Konvensional Biasa
Tablet yang dibuat atau dikempa dengan siklus kompresi tunggal yang biasanya terdiri dari zat
aktif sendiri atau kombinasi dengan bahan eksipien seperti :

Pengisi (memberi bentuk) : laktosa


o Pengikat (memberi adhesivitas/kelekatan saat bertemu saluran pencernaan): musilago
amili, amilum
Desintegrator (mempermudah hancurnya tablet)

b. Tablet Kempa Multi/Kempa Ganda


Adalah tablet konvensional yang dikompresi lebih dari satu siklus kompresi tunggal sehingga
tablet akhir tersebut terdiri atas 2 atau lebih lapisan. Disebut juga sebagai tablet berlapis.
Keuntungannya dapat memisahkan zat aktif yang inkompatibel (tidak tersatukan)
c. Tablet Lepas Lambat

Tablet yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi sehingga tablet tersebut melepaskan dosis awal
yang cukup untuk efek terapi yang kemudian disusul dengan dosis pemeliharaan sehingga
jumlah zat aktif atau konsentrasi zat aktif dalam darah cukup untuk beberapa waktu tertentu.
(misal tablet lepas lambat 6 jam, 12 jam, dsb).
d. Tablet Lepas Tunda (Tablet Salut Enterik)
Adalah tablet yang dikempa yang disalut dengan suatu zat yang tahan terhadap cairan lambung,
reaksi asam, tetapi terlarut dalam usus halus.
e. Tablet Lepas Terkendali
Yang pelepasan zat aktifnya terkendali pada waktu-waktu tertentu.
f. Tablet Salut Gula
Adalah tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun
tidak.
Tujuan: melindungi zat aktif terhadap lingkungan udara (O2, lembab), menutup rasa dan bau
tidak enak, menaikkan penampilan tablet.
g. Tablet Salut Film
Tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, bewarna atau tidak dari bahan polimer yang larut
dalam air yang hancur cepat di dalam saluran cerna. Penyalutan tidak perlu berkali-kali.
h. Tablet Efervesen
Tablet kempa yang jika berkontak dengan air menjadi berbuih karena mengeluarkan CO2. Tablet
ini harus dilarutkan dalam air baru diminum.
i. Tablet Kunyah
Tablet kempa yang mengandung zat aktif dan eksipien yang harus dikunyah sebelum ditelan.
2. Tablet Kempa Digunakan dalam Rongga Mulut
a. Tablet Bukal
Tablet kempa biasa berbentuks oval yang ditempatkan di antara gusi dan pipi. Biasanya keras
dan berisi hormon. Bekerja sistemik, tererosi atau terdisolusi di tempat tersebut dalam waktu
yang lama (secara perlahan).
b. Tablet Sublingual

Tablet kempa berbentuk pipih yang diletakkan di bawah lidah, berisi nitrogliserin. Biasanya
untuk obat penyempitan pembuluh darah ke jantung (angina pectoris) sehingga harus cepat
terlarut agar dapat segera memberi efek terapi. Diabsorbsi oleh selaput lendir di bawah lidah.
c. Tablet Hisap/Lozenges
Tablet yang mengandung zat aktif dan zat-zat penawar rasa dan bau, dimaksudkan untuk disolusi
lambat dalam mulut untuk tujuan lokal pada selaput lendir mulut.
d. Dental Cones (Kerucut Gigi)
Yaitu suatu bentuk tablet yang cukup kecil, dirancang untuk ditempatkan di dalam akar gigi yang
kosong setelah pencabutan gigi. Tujuannya biasanya untuk mencegah berkembangbiaknya
bakteri di tempat yang kosong tadi dengan menggunakan suatu senyawa antibakteri yang
dilepaskan secara perlahan-lahan, atau untuk mengurangi perdarahan dengan melepaskan suatu
astringen atau koagulan. Pembawa yang umum digunakan adalah Na bikarbonat, NaCl atau suatu
asam amino.
3. Tablet Kempa Digunakan Melalui Liang Tubuh
1. a. Tablet Rektal

Tablet kempa yang mengandung zat aktif yang digunakan secara rektal (dubur) yang tujuannya
untuk kerja lokal atau sistemik.
b. Tablet Vaginal
Tabler kempa yang berbentuk telur (ovula) untuk dimasukkan dalam vagina yang di dalamnya
terjadi disolusi dan melepaskan zat aktifnya. Biasanya mengandung antiseptik, astringen.
Digunakan untuk infeksi lokal dalam vagina dan mungkin juga untuk pemberian steroid dalam
pengobatan sistemik.
4. Tablet Kempa untuk Implantasi
a. Tablet Implantasi/Pelet

Dibuat berdasarkan teknik aseptik, mesin tablet harus steril. Dimaksudkan untuk implantasi
subkutan (Untuk KB, 3-6 bulan, mencegah kehamilan).
5. Tablet Cetak untuk Penggunaan Lain
a. Tablet Triturat untuk Dispensing
Adalah tablet yang dihaluskan dulu atau disiapkan untuk penggunaan tertentu. Tablet kempa atau
cetak berbentuk kecil umumnya silindris digunakan untuk memberikan jumlah zat aktif terukur

yang tepat untuk peracikan obat. Digunakan sebagai tablet sublingual atau dilepaskan di atas
lidah dan ditelan dengan air minum.
b. Tablet Hipodermik
Tablet cetak/kempa yang dibuat dari bahan mudah larut/melarut sempurna dalam air. Umumnya
digunakan untuk membuat sediaan injeksi steril dalam ampul dengan menambahkan pelarut
steril.
c. Tablet Dispensing
Tablet yang digunakan oleh apoteker dalam meracik bentuk sediaan padat/cair. Dimaksudkan
untuk ditambahkan ke dalam air dengan volume tertentu, oleh ahli farmasi atau konsumen, untuk
mendapatkan suatu larutan obat dengan konsentrasi tertentu.
2.3. Evalusi Tablet Kompresi
1. Sifat dan kualitas

Bentuk dan garis tengah ditentukan oleh punch dan die yang digunakan mengkompresi
(menekan) tablet. Bila punchnya kurang cembung maka tablet yang dihasilkan lebih datar,
sebaliknya semakin cekung punch semakin cembung tablet yang dihasilkan. Dibagi dua atau
empat bagian sehingga mudah dipotong potong secara tepat untuk klien.
Ketebalan tablet dipengaruhi oleh ketebalan obat yang dapat diisikan dalam cetakan dalam
jumlah tekanan waktu diwaktukan kompresi. Termasuk dalam hal ini, belah tablet, tebal tablet,
kekerasan tablet, daya hancur tablet, keseragaman dan isi/kandungan dan untuk beberapa tablet
dan kelarutan tablet. Faktor faktor ini harus diperiksa dan diproduksi satu batch tablet seperti
juga dilakukan dari suatu batch produksi kebatch produksi berikutnya untuk menjamin
keseragaman bukan hanya penampilan saja tapi efek terapinya.
1. Berat tablet

Jumlah bahan yang diisikan didalam cetakan yang akan dimasukan akan ditekan menentukan
berat tablet yang dihasilkan. Volume bahan yang diisikan (granul/serbuk) yang mungkin masuk
dalam cetakan harus disesuaikan beberapa tablet yang diharapkan.
Sebenarnya ukuran tablet yang diproduksi tidak hanya tergantung volume dan berat bahan yang
diisikan tapi juga tergantung pada garis tengah cetakan dan tekanan pada bahan yang diisikan
waktu ditekan (kompresi).
1. Ketebalan tablet

Untuk mendapatkan tablet yang seragam tebalnya selama produksi dan diantara produksi untuk
formula yang sama, harus dilakukan pengawasan supaya volume bahan yang diisikan dan
tekanan yang diberikan. Tablet diukur dengan jangka lengkung selama proses produksi, supaya

yakin ketebalanya sudah selesai. Maka berbeda bedanya ketebalan tablet lebih dipengaruhi oleh
ukuran cetakan dan bahan yang dapat dimasukan dari pada oleh tekanan yang diberikan.
1. Kekerasan tablet

Tidak jarang tablet kompresi menggunakan tekanan lebih kecil dari 3000 dan lebih besar 40000
pound dalam produksi. Umumnya semakin besar tekanan semakin keras tablet yang dihasilkan,
walaupun sifat dari granul menentukan kekerasan tablet. Pada umumnya tablet harus cukup keras
untuk tahan pecah waktu dikemas, dikirim dengan kapal dan waktu ditangani secara normal, tapi
juga tablet ini akan cukup lunak untuk melarut akan menghancur dengan sempurna begitu
digunakan atau dapat dipertahankan diantara jari jari bila memang tablet ini perlu dibagi untuk
pemakaianya.
Dalam bidang industry kekuatan tekanan minimum yang sesuai untuk tablet adalah 4 kg.
Penentuan kekerasan tablet ditetapkan waktu produksi supaya penyesuaian tekanan yang
dibutuhkan dapat diatur pada peralatanya. Alat lain untuk menentukan kekerasan tablet ini
dengan memakai sebuah friabilator. Ketahanan terhadap kehilangan bera, menunjukan tablet
tersebut untuk bertahan terhadap goresan ringan/kerusakan dan penaganan, pengemasan dan
penglepasan.
1. Daya hancur tablet

Supaya komponen obat sepenuhnya tersedia untuk di absorpsi dalam saluran pencernaan, maka
tablet harus hancur dan melepaskan obatnya kedalam cairan tubuh untuk dilarutkan. Daya hancur
tablet juga penting untuk tablet yang mengandung bahan obat (seperti antasida dan antidiare)
yang dapat dimaksudkan untuk di absorpsi tetapi lebih banyak bekerja setempat dalam saluran
cerna, dalam hal ini daya hancur tablet memungkinkan partikel obat menjadi lebih luas untuk
bekerja secara lokal didalam tubuh.
1. Disolusi tablet

Dalam USP cara pengujian disolusi tablet dan kapsul dinyatakan dalam masing masing
monografi obat. Pengujiaan merupakan alat yang objektif dalam menentukan sifat disolusi suatu
obat yang berada dalam sediaan padat. Karena absoropsi dan kemampuan obat berada dalam
tubuh dan tergantung pada adanya obat dalam keadaan melarut, karakteristik disolusi biasa
merupakan sifat yang penting dari produk obat yang memuaskan.
Dengan bertambahnya perhatian dan pengujiannya disolusi dan penetuanya bioavaibilitas dari
obat dengan bentuk sediaan padat menuju pada pendahuluan dari sistem yang sempurna bagi
analisis dan pengujian disolusi tablet.
2.4. Pembuatan Tablet Secara Umum
Untuk membuat tablet diperlukan zat tambahan berupa :

1. Zat pengisi (diluent) dimasukan untuk memperbesar volume tablet. Biasanya digunakan
Saccharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii phospas, Calcii carbonas dan zat lain yang cocok.
2. Zat pengikat (binder) dimasukan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya
digunakan mucilage 10 20% (panas, solutio, methylcellulosum 5%).
3. Zat penghancur (disintegrator) dimasukan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya
digunakan amylum manihot kering, glatinum, agar agar, natrium alginate.
4. Zat pelican (lubrikan) dimasukan agar tablet tidak melekat pada cetakan. Biasanya digunakan,
magnesium stearat, acidum stearicum.

Dalam pembuatan tablet, zat bekhasiat, zat zat lain, kecuali zat pelican dibuat granul, karena
serbuk yang halus tidak mengisi cetakan tablet, maka dibuat granul agar mudah mengalir,
mengisi cetakan serta agar tablet tidak retak.
2.6. Metode Tablet Cetak Langsung
Prinsip pembuatan tablet dengan cetak langsung yaitu menambahkan zat aktif dengan eksipien
yang mempunyai sifat alir dan kompresibilitas yang baik. Metode ini ditunjukan untuk zat aktif
dengan dosis yang relativ kecil.
Salah satu eksipien yang banyak digunakan dalam proses cetak langsung adalah mikokristalin
selulosa, karena mempunyai daya ikat tablet yang sangat baik dan waktu hancur tablet relative
singkat. Mikrokristalin selulosa yang beredar dipasaran adalah produk impor yang mahal,
sehingga berakibat pada mahalnya produk tablet yang dihasilkan. Mikrokristalin selulosa adalah
hasil olahan dari selulosa alami yang dapat diperoleh dari berbagai sumber baik dari tumbuhan
atau hasil fermentasi. Nata de Coco merupakan sumber selulosa yang diproduksi sebagai hasil
fermentasi Acetobacter xylinum dalam subtrat air kelapa. Selulosa bakteri identik dengan
selulosa yang berasal dari tumbuhan. Kelebihan selulosa yang berasal dari nata de coco
dibandingkan sumber selulosa lain, karena tidak bercampur dengan lignin dan hemiselulosa.
Untuk menghasilkan Mikrokristalin selulosa dengan harga murah, maka dilakukan pemanfaatan
selulosa nata de coco menjadi Mikrokristalin selulosa.
Isolasi dengan metode ekstraksi menggunakan natrium hidroksida 18% menghasilkan selulosa
dengan rendemen sebesar 93,48%, kemudian hidrolisa selulosa menggunakan Asam Klorida 2,5
N menghasilkan Mikrokristalin selulosa dibanding dengan Avicel pH 102 mempunyai
spectrum inframerah dan sinar x yang mirip serta rumus kimia yang sama yaitu C6H10O5.
Disarankan untuk membuat uji coba dalam skala produk untuk mengetahui konsistensi dan
efisiensi proses produksi agar bisa diterapkan untuk skala industri kecil atau menengah.
2.7. Keuntungan dan Kerugiaan Metode Cetak langsung
1. Keuntungan metode cetak langsung
1. Ekonomis,karena terjadi reduksi waktu pelaksanaan proses percetakan, ongkos produksi, tahap
pembuatan, jenis alat, ruang yang dibutuhkan dan jumlah tenaga kerja yang melakukan proses
tersebut.

2. Adanya eliminasi panas dan lembab yang sangat bermanfaat untuk mencetak zat aktif yang peka
terhadap panas dan lembab.
3. Mempercepat disolusi yang merupakan suatu proses optimasi disintegrasi tablet.
4. Stabil
5. Ukuran partikel seragam
6. Teknologi
7. Untuk zat aktif
1. i. Dosis rendah < 50 mg
1. Kerugian metode cetak langsung

Keseragaman distribusi obat akan menjadi, kemungkinan tidak tercampur dengan bahan
tambahan atau terjadi pemisahan selama proses pencetakan.
1. ii.

Dosis tinggi

Senyawa senyawa dengan bulk volume besar, kompresibilitas rendah dan aliran buruk tidak
mungkin dicetak dengan metode cetak langsung.
1. Pemilihan zat tambahan sangat kritis dimana pengisi dan pengikat harus mempunyai
kompresibilitas dan sifat alir yang baik.
2. Dapat terjadi pemisahan setelah proses pencampuran dengan berkurang lembab dapat
meningkatkan muatan elektrostatik sehingga dapat menyebabkan pemisahan.

FORMULASI
3.1. Formulasi Cetak Langsung
Bahan

Kelompok C

Vitamin C

100 mg

Pharmatose DCL

Qs

Avicel 101

Qs

HPC LM

4%

Amilum

5%

Aerosil

0,25%

Talk

1,5%

Mg Stearat

1%

2.7. Uraian Bahan


1. Acidum Ascorbium

1)

Sinonim

2)

Fungsi

Asam Askorbat, Vitamin C


:

Antiskorbut

3) Pemerian
:
Serbuk atau hablur putih atau agak kuning, tidak berbau rasa asam.
Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering, mantap diudara, dalam
larutan cepat teroksidasi.
4)
Kelarutan :
Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%) P,
praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam benzene P.
5)

Dosis

DL : 1h = 75 mg 1 g biasanya 500 mg

Dosis pemeliharaan sehari 60 mg.


1. Amilum (Ph. Excipient)

1)

Sinonim

2)

Fungsi

Strach, Amidon, Amilo, Pure Gel


:

Glidant, Binder, tablet dan kapsul Disintegrant

3) Pemerian
:
ukuran yang bervariasi.

Tidak berbau dan tidak berasa, serbuk berwarna putih dengan

4)

Binder = 5 25%

Konsentrasi

Tablet Disintegrant = 3 15%


1. Avicel 101 (Ph. Excipient)

1)

Sinonim

2)

Fungsi

Cellulosa gel, fibrocel, tabulose, vivapur


:

Tablet disintegrant, diluent tablet dan kapsul

3) Pemerian
:
Serbuk putih bersih, tidak berbau, tidak berasa, campuran serbuk
kristal dan partikel berpori. Dipasarkan dalam ukuran yang berbeda dan ukuran kelembutan
disesuaikan dengan penggunaan yang berbeda pula.
4)

Konsentrasi

Anti adherent = 5 20%

Tablet Disintegrant = 5 15%

Tablet Binder/Diluent = 20 90%


1. Talk (FI III)

1)

Sinonim

Talcum, steatite, E 5536, Altalc

2)

Fungsi

Glidant, tablet dan kapsul diluent, tablet dan kapsul lubrikan.

3) Pemerian
:
Sebuk hablur, sangat halus licin, mudah melekat pada kulit, bebas
dari butiran, warna putih atau putih kelabu.
4)

Konsentrasi

Lubricant = 5 10%

1. Mg Staearat (FI III)

1)

Sinonim

2)

Fungsi

Magnesii stearas
:

Lubricant (pelican)

3) Pemerian
lemah.

Serbuk putih, halus, licin, dan mudah melekat pada kulit, bau khas

4)

0,5 2%

Konsentrasi

1. Aerosil (Ph. Excipient)

1)

Sinonim

2)

Fungsi

Colloidal Silicon Dioxide, Cabosil, colloidal silica, Cabosil M 5P


:

Glidant, tablet disintegrant

3) Pemerian
:
Berbentuk silica submikroskopik dengan ukuran partikel 15 nm,
berwarna mengkilat, berbentuk hablur, warna putih, tidak berbau, tidak berasa, serbuk amorf.
4)

Konsentrasi

Glidant = 0,1 0,5%

1. Hydroxipropyl cellulose, Low substituted (HPC LM)

1)

Sinonim

2) Fungsi
binder.

Hydroproluse, low substituted

Pada tablet dan kapsul sebagai disintegrant, pada tablet sebagai

3) Pemerian
:
berbau,agak berasa.

Serbuk putih atau granul, putih hingga kekuningan, agak

4)

5 25%

Konsentrasi

3.3. Penimbangan Formula


Formula C
Dibuat 200 tablet @300 mg
Berat total

= 200 tab x 300 mg

= 60 g

Vitamin C

= 100 mg x 200 tab

= 20 g

HPC-LM

= 4 % x 60 g

= 2,4 g

Amilum = 5 % x 60 g

=3g

Aerosil

= 0,25 % x 60 g

= 0,15 g

Talk

= 1,5 % x 60 g

= 0,9 g

Mg Stearat

= 1 % x 60 g

= 0,6 g

+
27,05 g
Sehingga di dapat Avicel 101 yang diperlukan
= 60 g 27,05 g = 32,95 g
3.4. Cara Kerja
3.4.1. Cara Kerja Kempa Langsung
1. Ditimbang semua bahan sesuai dengan formula.
1. Vitamin C ditambahkan Avicel 101, HPC-LM, amilum, aerosil aduk hingga homogen
selama 15 menit, diayak melalui ayakan mesh 40.
2. Ditambahkan talkum dan Magnesium stearat melalui ayakan mesh 40 diaduk hingga
homogen selama 5 menit.
3. Dilakukan evaluasi terhadap massa 3, meliputi uji aliran granul dan uji compressibilitas
(bulk density).
4. Dicetak dengan mesin tablet single punch dengan bobot rata-rata tablet 300 mg dan
diameter 10 mm.
5. Dilakukan evaluasi terhadap tablet meliputi uji kekerasan, kerenyahan, waktu hancur,
dan keseragaman ukuran (ketebalan dan diameter).
2. Dibuat desain kemasan tablet seperti contoh.

3.4.2. Cara kerja Evaluasi Tablet

a. Keseragaman Bobot
Timbang 20 tablet, dihitung bobot rata rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh
lebih dari 2 tablet yang menyimpang dari bobot rata rata lebih besar dari harga yang ditetapkan
kolom A dan tidak boleh 1 tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata rata lebih dari
harga dalam kolom B. Jika perlu dapat digunakan 10 tablet dan tidak ada 1 tablet yang bobotnya
menyimpang dari bobot rata rata yang ditetapkan dalam kolom A dan B.
Penyimpangan Bobot rata rata (%)
Bobot rata rata
A

25 mg atau kurang

15

30

26 mg 150 mg

10

20

151 mg 300 mg

7,5

15

Lebih dari 300 mg

10

b. Kekerasan
Ambil 20 tab,et ukur kekerasan menggunakan alat ukur kekerasan. Hitung rata rata dan SD nya.
Persyaratan ukuran yang didapat per tablet minimal 4 kg/cm2, maksimal 10 kg/cm2.
c. Keseragaman Ukuran
Menggunakan 20 tablet, ukur diameter dan ketebalanya menggunakan jangka sorong. Hitung
rata rata dan SD nya. Persyaratan kecuali dinyatakan lain, diameter tidak lebih dari 3 kali dan
tidak kurang dari 4/3 kali tebal tablet. Tebal tablet pada umumnya tidak lebih besar dari 50%
diameter.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,1979.Farmakope Indonesia Ed. III.Depkes RI : Jakarta
Anonim,1995.Farmakope Indonesia Ed IV. Depkes RI : Jakarta
Wade,A & Weller,P.J.1995. Handbook of Pharmacetuical Excipient. Pharmaceutical Press :
London
Lachman L,1986. Teori dan Praktek Farmasi Industri Ed 2.Gadjah Mada University
: Yogyakarta
Voigt,Rudolf.1995.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Industri.UI Press : Jakarta

SUSPENSI
A.Suspensiones ( Suspensi )
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut,
terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat
mengendap, dan bila digojog perlahan lahan, endapan harus terdispersi kembali. Dapat di
tambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus
menjamin sediaan mudah di gojog dan di tuang .
Dalam pembuatan suspensi harus diperhatikan beberapa faktor anatara lain sifat partikel
terdispersi ( derajat pembasahan partikel ), Zat pembasah, Medium pendispersi serta komponen
komponen formulasi seperti pewarna, pengaroma, pemberi rasa dan pengawet yang digunakan.
Suspensi harus dikemas dalam wadah yang memadai di atas cairan sehigga dapat dikocok dan
mudah dituang. Pada etiket harus tertera Kocok dahulu dan di simpan dalam wadah tertutup
baik dan disimpan di tempat yang sejuk .
B. Keuntugan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut :
a. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat memperlambat terlepasnya
obat .
b. Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan.
c. Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena rasa
obat yang tergantung kelarutannya.
Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :
a. Rasa obat dalam larutan lebih jelas.
b. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya pulveres, tablet, dan
kapsul.
c. Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan
dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator .
C. Pembasahan Partikel
Dalam pembuatan suspensi, pembasahan partikel dari serbuk yang tidak larut di dalam
cairan pembawa adalah langkah yang penting. kadang kadang adalah sukar mendispersi
serbuk, karena adanya udara, lemak dan lain lain kontaminan .
Serbuk tadi tidak dapat segera dibasahi, walaupun BJ nya besar mereka mengambang
pada permukaan cairan.

Pada serbuk yang halus mudah kemasukan udara dan sukar dibasahi meskipun ditekan di
bawah permukaan cairan.
Serbuk dengan sudut kontak 90 akan menghasilkan serbuk yang terapung keluar dari
cairan. Sedangkan serbuk yang mengambang di bawah cairan mempunyai sudut kontak yang
lebih kecil dan bila tenggelam, menunjukkkan tidak adanya sudut kontak .
Serbuk yang sulit dibasahi air , disebut hidrofob , seperti sulfur , carbo adsorben,
Magnesii Stearat dan serbuk yang mudah dibasahi air disebut hidropofil seperti toluen , Zincy
Oxydi , Magnesii Carbonas .
Dalam pembuatan suspensi penggunaan surfaktan ( wetting agent ) adalah sangat berguna
dalam penurunan tegangan antar muka akan menurunkan sudut kontak , pembasahan akan
dipermudah.
Gliserin dapat berguna di dalam penggerusan zat yang tidak larut karena akan
memindahkan udara diantara partikel partikel hingga bila ditambahkan air dapat menembus
dan membasahi partikel karena lapisan gliserin pada permukaan partikel mudah campur dengan
air. Maka itu pendispersian partikel dilakukan dengan menggerus dulu partikel dengan gliserin,
propilenglikol, koloid gom baru diencerkan dengan air. ( IMO , 152 )
D. Pada pembuatan Suspensi di kenal 2 macam sistem , yaitu :
a. Sistem Deflokulasi
b. Sistem Flokulasi
Dalam system flokulasi, partikel terflokulasi adalah terikat lemah, cepat mengendap dan
mudah tersuspensi kembali dan tidak membentuk cake. Sedangkan pada system Deflokulasi,
partikel terdeflokulasi mengendap perlahan lahan dan akhirnya akan membentuk sendimen
dan terjadi agregasi dan selanjutnya cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. (
Farmasetika , 163 )
Cara Pembuatan Suspensi
Suspensi dapat di buat dengan menggunakan 2 metode, yaitu :
1. Metode Dispersi
2. Metode Presipitasi ( Pengendapan ) , metode ini di bagi lagi menjadi 3 macam , yaitu :
Presipitasi dengan pelarut organik
Presipitasi dengan perubahan pH dari media
Presipitasi dengan dokomposisi rangkap

1. Metode Dispersi
Serbuk yang terbagi halus, didispersi didalam cairan pembawa. Umumnya sebagai
cairan pembawa adalah air. Dalam formulasi suspensi yang penting adalah partikel
partikel harus terdispersi betul di dalam air, mendispersi serbuk yang tidak larut dalam air,
kadang kadang sukar. Hal ini di sebabkan karena adanya udara, lemak dan lain lain
kontaminan pada permukaan serbuk . ( Farmasetika , 165 )
2. Metode Presipitasi
Dengan pelarut organik dilakukan dengan zat yang tidak larut dalam air,dilarutkan
dulu dalam pelarut organik yang dapat dicampur dengan air, lalu ditambahkan air suling
dengan kondisi tertentu. Pelarut organik yang digunakan adalah etanol, methanol,
propilenglikol dan gliserin. Yang perlu diperhatikan dengan metode ini adalah control
ukuran partikel, yaitu terjadinya bentuk polimorf atau hidrat dari kristal. ( Farmasetika ,
165 )
Daftar Pustaka
Anief. 1987. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press: Yogyakarta.
Anief. Farmasetika . Gajah Mada University Press: Yogyakarta.

.1 KESIMPULAN
Dari pengolahan data diatas, kita dapat menyimpulkan:

1.Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Setiap sabun dibuat
melalui reaksi antara lemak dengan bahan yang disebut alkali --basa yang sangat kuat (basa adalah lawan dari
asam). Karena dibuat melalui pencampuran sebuah senyawa organik (asam lemak) dengan sebuah senyawa
anorganik (alkali), molekul sabun mempertahankan beberapa ciri keduanya. Molekul sabun mempunyai
sebuah kaki organik yang senang bergandengan dengan bahan-bahan organik berminyak, dan sebuah kaki
anorganik yang senang bergandengan dengan air. Itulah sebabnya sabun memiliki kemampuan tiada banding
dalam menarik kotoran berminyak dari tubuh atau pakaian ke dalam air.
2. Dalam proses saponifikasi, lemak akan terhidrolisis oleh basa,
menghasilkan gliserol dan sabun mentah.

3. Titik akhir proses saponifikasi adalah trace. Trace merupakan suatu kondisi pada saat cairan yang diaduk
(minyak sawit) mulai mengental. Pada saat ini biasanya ditambahkan pengharum, peawarna dan zat-zat aditif
lainnya. 4. Bahan baku pembuatan sabun dapat berupa senyawa tripalmitin, asam oksalat, maupun asam
stearat.

5. Hasil percobaan yang diperoleh yaitu terbentuk campuran berwarna coklat tua dan berbusa. Hal ini berarti
telah terjadi perpisahan antara garam alkali (sabun) dengan gliserol. Pada dasarnya gliserol tetap digunakan
dalam campuran sabun (tidak dipisahkan) agar kandungan gliserol dapat membantu sabun dalam mengangkat
benda asing yang akan dibersihkan.

5.2 SARAN
28

1. Pada proses pembuatan sabun sebaiknya menggunakan sampel CPO yang telah mengalami pemurnian atau
RBDPO karena kadar pengotor dalam CPO sudah dikurangi bahkan dihilangkan.

2. Sebelum melakukan pengujian sebaiknya menggunakan peralatan keamanan seperti masker, sarung tangan karet
dan kaca mata jika diperlukan. Para praktikan harus disiplin pada peraturan dan petunjuk yang ada untuk
bekerja di laboratorium.

3. Sebelum sampel minyak digunakan sebaiknya dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 70oC dengan tujuan kadar
air pada sampel minyak berkurang sehingga mutu sabun yang dihasilkan menjadi lebih baik.
4. Pada saat melarutkan NaOH, jangan menuangkan air ke dalam NaOH
akan tetapi masukkanlah NaOH ke dalam wadah yang berisi air.

DAFTAR PUSTAKA
29

Definisi 'sabun'
Indonesian to English
soap
powered by: google translate
Indonesian to Indonesian
adjective
1. putih atau putih kekuningan
source: kbbi3
noun
2. bahan yg dapat berbuih, digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, piring, dsb, biasanya
berupa campuran alkali, garam, dan natrium;
-- bubuk sabun yg diperdagangkan dl bentuk serbuk; -- cair sabun dl bentuk cairan; -- colek
sabun yg lunak untuk mencuci pakaian, piring, dsb, digunakan dng cara mencoleknya sedikitsedikit; -- cuci sabun untuk mencuci; -- cukur sabun yg digunakan bersama sikat cukur,
menghasilkan busa yg cukup tebal dan lama hilangnya, dibuat dr minyak kelapa atau
turunannya dan turunan minyak lainnya, tersedia dl bentuk krim atau padat; -- harum sabun
mandi (krn harum baunya); -- karbol sabun yg dibuat dng campuran karbol, biasanya
digunakan oleh orang yg mempunyai penyakit kulit yg ringan; -- keras Kim garam natrium
dr asam lemak berantai panjang yg kurang larut dl air apabila dibandingkan dng garam lunak;
-- mandi sabun untuk mandi; -- wangi sabun mandi;
bersabun v membersihkan diri dng sabun; mandi dng menggunakan sabun;
menyabun v 1 mencuci dng sabun: sebelum dibilas, Ibu - piring-piring kotor lebih dulu; 2
menjadi spt sabun: minyak goreng yg membeku krn dingin telah - ; 3 ki berbuat curang;
mencurangi: ia telah - atasannya dng pemalsuan tanda tangan; 4 cak melakukan onani;
menyabuni v mencuci dng membubuhkan sabun; menyabun: ibu - tubuh adik yg kotor;
menyabunkan v 1 menyabun untuk orang lain; 2 memakai sesuatu menjadi spt sabun:
petani itu - pasir putih ke badan;
penyabunan n proses, cara, perbuatan menyabun atau menyabuni
source: kbbi3
Related Word(s)
bersabun, menyabun, menyabuni, menyabunkan, penyabunan, sabun,
Visual ArtiKata

ENEMA

Pengertian Enema
Enema adalah larutan yang dimasukkan dalam rektum dan kolon sigmoid. Alasan utama : untuk
meningkatkan defekasi dengan menstimulasi peristaltik. Volume cairan yang dimasukkan akan
memecah massa feses, meregangkan dinding rektum, kadang-kadang mengiritasi mukosa
usus,dan mengawali refleks defekasi. Juga digunakan untuk alat transportasi obat-obatan yang
menimbulkan efek lokal pada mukosa rektum.
Indikasinya adalah menghilangkan konstipasi untuk sementara, membuang feses yang
mengalami impaksi, mengosongkan usus sebelum pemeriksaan diagnostik, pembedahan, atau
melahirkan, dan memulai program bowel training.
Jenis enema :
1. Cleansing enema / huknah (membersihkan)
Cleansing enema dimaksudkan untuk mengeluarkan feses. Tindakan ini utamanya diberikan
untuk :
- Mencegah keluarnya feses saat operasi
- Persiapan pemeriksaan diagnostik tertentu pada usus
- Mengeluarkan feses dari usus saat konstipasi / obstipasi

Cleansing enema efektif digunakan 5-10 menit. Cleansing enema juga dapat digambarkan
tinggi dan rendah. Ketinggian ini mempengaruhi kekeuatan tekanan aliran enema yang
diberikan.Tinggi jika pembersihan dimungkinkan mencapai kolon. Klien berubah posisi dari
lateral kiri ke dorsal recumbent dan kemudian lateral kanan selama pemberian enema, dengan
posisi kontainer 30 46 cm dari klien atau sedikit lebih tinggi di atas panggul klien. Perubahan
posisi memastikan bahwa cairan mencapai usus besar. Sering diberikan sekitar 1000ml larutan
untuk orang dewasa.
Rendah jika pembersihan hanya pada rektum dan sigmoid. Posisi klien dipertahankan lateral kiri
selama pemberian enema dengan posisi kontainer 7,5 cm atau lebih rendah daripinggul klien.
Sekitar 500ml larutan diberikan pada orang dewasa,
2. Carminative enema (mengobati flatulen)

Diberikan utamanya untuk mengeluarkan flatus. Cairan dimasukkan ke dalam rektum


mengeluarkan gas yang menambah distensi pada rektum dan kolon, kemudian merangsang
peristaltik. Untuk dewasa diperlukan cairan 60 80 cc.
Contoh : 30ml magnesium, 60ml gliserin, dan 90 ml air.
3. Retention enema / klisma/ enema retensi-minyak (menahan)
Adalah memasukkan minyak atau obat ke dalam rektum dan kolon sigmoid. Cairan
dipertahankan dalam waktu yang relatif lama (misalnya 1 3 jam). Feses mengabsorbsi minyak
untuk melunakkan feses dan lubrikasi rektum dan anus yang membantu keluarnya feses.
Antibiotik enema digunakan untuk menangani infeksi lokal, antihelmentic enema untuk
membunuh cacing parasit, nutritive enema untuk memberikan cairan dan nutrien pada rektum.
4. Return-flow enema
Merupakan irigasi kolon yang ringan. Digunakan untuk mengeluarkan flatus. Sekitar 100 200
cc cairan dimasukkan ke dalam rektum dan kolon sigmoid yang akan merangsang peristaltik.
Kemudian perawat merendahkan wadah enema untuk memungkinkan larutan mengalir kembali
melelui selang rektum dan menuju ke wadah. Tindakan ini diulangi 4 5 x sampai flatus keluar
dan sampai (perut) gembung hilang atau abdomen merenggang dan rasa tidak nyaman berkurang
atau hilang. Jumlah total 1000ml merupakan hal yang biasa diberikan pada orang dewasa.
Pada cairan tubuh dan elektrolit, larutan hipertonik seperti larutan phosphate dari beberapa
enema siap pakai menyebabkan sedikit iritasi pada membran mukosa, dan yang menyebabkan
cairan tertarim ke dalam kolon dari jaringan sekitar. Proses ini disebut osmosis. Karena hanya
sebagian kecil cairan yang diambil, rasa nyaman tertahan untuk 5-7 menit dan secara umum di
luar dari manfaat ini. Bagaimanapun, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dapat terjadi,
terutama pada anak di bawah 2 tahun . larutan bisa menyebabkan hypokalsemia dan
hyperphosphatemia.
Pemberian hipotonik yang berulang seperti enema berbentuk kran, dapat mengakibatkan absorpsi
volume darah dan dapat mengakibatkan intoksikasi air. Untuk aliran ini, beberapa agency
kesehatan membatasi pemberian enema berbentuk kran. Ini adalah perhatian yang istimewa
ketika permintaan pemasangan enema sampai kembali bersih harus jelas, contohnya pemeriksaan
pendahuluan visual usus besar. Larutan hipotonik juga dapat mengakibatkan ketidaknyamanan
pada klien dengan penurunan fungsi ginjal atau gagal jantung akut.

k2_nurse
Unpad Webblog

Blog Search
o

Favorit
o

ENEMA

Calender
November 2011
S M T W T F S
Jan
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30

Blogroll
o
o
o
o
o
o
o

Gate
o
o
o
o

Arif
BlogsUnpad
Dito
Oki
Okkim
Pupung
Widianto
Log in
Entries RSS
Comments RSS
WordPress.org

Search for:

Recent Posts
o
o

ETIKA KEPERAWATAN
What you can get ?

Tags
Etika Keperawatan REHAT

Archives
o
o

Categories
o

January 2009
December 2008
Uncategorized

Categories
o

Uncategorized

Google Search
o

Widgets Ready
this space will be replaced by widgets as well as left column, only the two search boxex
will remain
ENEMA
Dec
15
15 December 2008, admin @ 10:27 am
Eliminasi yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh yang normal. Perubahan
pada eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh yang lain. Karena
fungsi usus tergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan masingmasing orang berbeda. Klien sering meminta pertolongan dari perawat untuk memelihara kebiasaan
eliminasi yang normal. Pada keadaan sakit klien tidak dapat menggunakan toilet dan tidak memiliki
program yang teratur, lingkungan rumah bisa menghadirkan hambatan untuk klien dengan perubahan
mobilitas.

Untuk menangani masalah eliminasi terutama pada defekasi perawat harus memahami dan mengerti
proses eliminasi yang mana salah satunya dapat dilakukan dengan Enema.
Perawat memahami standar operasional pemberian enema, tujuan, manfaat, indikasi, dan
kontraindikasi.
Definisi.
Enema adalah tindakan memasukkan cairan kedalam rectum dan kolon melalui lubang anus.
Tujuan.
Tindakan enema diberikan dengan tujuan untuk mengeluarkan feses dan flatus.
Manfaat.
Tindakan ini dapat digunakan sebagi:

1.

Pertimbangan medis sebagai metoda pengosongan feces dengan segera dari kolon,
seperti: tindakan pre operasi, konstipasi, toilet training pada akan-anak dengan
encopresis.

2.

Terapi alternative bidang kesehatan seperti merangsang kontraksi prenatal.

3.

Rangsangan seksual.

Pada perkembangannya penggunaan enema saat ini jauh lebih spesifik dari masa awal
keberadaannya.

LANDASAN TEORI
Pada bagian ini akan dijelaskan latar belakang, tujuan dan manfaat tindakan, indikasi dan kontra indikasi
tindakan enema.
Latar belakang

Pada permulaannya tindakan enema dikenal dengan nama Clyster (abad ke 17 M) menggunakan clyster
syringe yang terdiri dari tabung syrine, pipa anus dan batang pendorong. Clyster digunakan sejak abad
ke 17 (atau sebelumnya) hingga abad ke 19, kemudian digantikan dengan syringe balon, bocks, dan
kantong.

Pada awal era modern Francis Mauriceau dalam The Diseases of Women with Child mencatat
para bidan memberikan enema pada wanita hamil menjelang melahirkan.
Pada abad ke 20, enema digunakan secara luas di negara tertentu seperti amerika serikat; saat itu
enema merupakan ide yang sangat baik untuk cuci kolon pada kasus fever, menjelang partus
dengan tujuan untuk mengurangi keluarnya feces saat partus. Beberapa kontroversi
diperdebatkan penggunaan enema untuk mempercepat proses melahirkan dengan menstimulasi
terjadinya kontrkasi, pada akhirnya enema dengan tujuan ini dilarang karena para obstetrik
menggunakan oxytocin sebagai penggantinya selain dikarenakan para ibu hamil merasa tidak
nyaman dengan tindakan enema ini.
Pada masa John Donne Elegy XVIII, pada masa itu kaum pria menyalahgunakan tindakan enema
dengan melukai selaput dara pengantin wanita menggunakan clyster.
Clyster juga tercatat pada periode sado-masochistic, pada masa itu mereka menggunakan enema
sebagai tindakan disipliner. Khususnya wanita dihukum menggunakan clyster berukuran besar
untuk periode tertentu, sebagai contoh ditemukan dalam The Prussian Girl oleh P.N Dedeaux.
Clyster merupakan pengobatan yang banyak digemari oleh orang berada dan terhormat di dunia
barat hingga abad ke 19.
William Laighton dari Portsmouth, New Hampshire merupakan orang pertama yang mendapat hak
paten untuk kursi enema pada 8 agustus 1846.
Hingga kini berbagai inovasi bentuk enema dan jenis enema dibuat dengan tujuan untuk mempermudah
dalam cara pemberian, faktor kenyamanan dan simpel.
Tujuan

Enema dilakukan untuk mengobati penyakit ringan seperti sakit perut, kembung; namun pada
perkembangannya digunakan untuk berbagai tujuan yang berbeda seperti telah diuraikan dalam sejarah
dilakukannya tindakan ini. Pada akhirnya setelah ilmu pengetahuan medis berkembang dengan adanya
penelitian dan ditemukannya berbagai peralatan medis, penggunaan enema saat ini jauh lebih spesifik
dari masa awal keberadaannya.
Manfaat

Merangsang gerakan usus besar, berbeda dengan laxative. Perbedaan utama terletak pada cara
penggunaannya, laxative biasanya diberikan per oral sedangkan enema diberikan langsung ke
rectum hingga kolon. Setelah seluruh dosis enema hingga ambang batas daya tampung rongga
kolon diberikan, pasien akan buang air bersamaan dengan keluarnya cairan enema ke dalam
bedpan atau di toilet. , larutan garam isotonik sangat sedikit mengiritasi rektum dan kolon,
mempunyai konsentrasi gradien yang netral. Larutan ini tidak menarik elektrilit dari tubuh
seperti jika menggunakan air biasa dan larutan ini tidak masuk ke membran kolon seperti
pada penggunaan phosphat. Dengan demikian larutan ini bisa digunakan untuk enema dengan
waktu retensi yang lama, seperti melembutkan feses pada kasus fecal impaction.

Membersihkan kolon bagian bawah (desenden) menjelang tindakan operasi seperti


sigmoidoscopy atau colonoscopy. Untuk kenyamanan dan mengharapkan kecepatan proses
tindakan enema dapat diberikan disposibel enema dengan konsentrasi lebih kental berbahan
dasar air yg berisikan sodium phospat atau sodium bikarbonat.

Sebagai jalan alternatif pemberian obat. Hal ini dilakukan bila pemberian obat per oral tidak
memungkinkan, seperti pemberian antiemetik untuk mengurangi rasa mual, beberapa anti
angiogenik lebih baik diberikan tanpa melalui saluran pencernaan , pemberian obat kanker,
arthritis, pada orang lanjut usia yang telah mengalami penurunan fungsi organ pencernaan,
menghilangkan iritable bowel syndrome menggunakan cayenne pepper untuk squelch iritasi
pada kolon dan rectum dan untuk tujuan hidrasi.

Pemberian obat topikal seperti kortikosteroid dan mesalazine yang digunakan untuk mengobati
peradangan usus besar.

Pemeriksaan radiologi seperti pemberian barium enema. Enema berisi barium sulphat ,
pembilasan dengan air atau saline dilakukan setelah selesai dengan tujuan untuk
mengembalikan fungsi normal dari kolon tanpa komplikasi berupa konstipasi akibat pemberian
barium sulphat.

INDIKASI
1. Konstipasi
Konstipasi berhubungan dengan jalur pembuangan yang kecil, kering, kotoran yang keras, atau tidak
lewatnya kotoran di usus untuk beberapa waktu. Ini terjadi karena pergerakan feses melalui usus besar
lambat dimana reabsorbsi cairan terjadi di usus besar. Konstipasi berhubungan dengan pengosongan
kotoran yang sulit dan meningkatnya usaha atau tegangan dari otot-otot volunter pada proses defekasi.
Ada banyak penyebab konstipasi :
1. Kebiasaan buang air besar (b.a.b) yang tidak teratur
Salah satu penyebab yang paling sering menyebabkan konstipasi adalah kebiasaan b.a.b yang tidak
teratur. Refleks defekasi yagn normal dihambat atau diabaikan, refleks-refleks ini terkondisi menjadi
semakin melemah. Ketika kebiasaan diabaikan, keinginan untuk defekasi hilang.
Anak pada masa bermain biasa mengabaikan refleks-refleks ini; orang dewasa mengabaikannya karena
tekanan waktu dan pekerjaan.
Klien yang dirawat inap bisa menekan keinginan buang air besar karena malu menggunakan bedpan
atau karena proses defekasi yang sangat tidak nyaman. Perubahan rutinitas dan diet juga dapat
berperan dalam konstipasi. Jalan terbaik untuk menghindari konstipasi adalah membiasakan b.a.b
teratur dalam kehidupan.
2. Penggunaan laxative yang berlebihan
Laxative sering digunakan untuk menghilangkan ketidakteraturan buang air besar. Penggunaan laxative
yang berlebihan mempunyai efek yang sama dengan mengabaikan keinginan b.a.b refleks pada proses
defekasi yang alami dihambat. Kebiasaan pengguna laxative bahkan memerlukan dosis yang lebih besar
dan kuat, sejak mereka mengalami efek yang semakin berkurang dengan penggunaan yang terusmenerus (toleransi obat).
3. Peningkatan stres psikologis
Emosi yang kuat diperkirakan menyebabkan konstipasi dengan menghambat gerak peristaltik usus
melalui kerja dari epinefrin dan sistem syaraf simpatis. Stres juga dapat menyebabkan usus spastik

(spastik/konstipasi hipertonik atau iritasi colon ). Yang berhubungan dengan konstipasi tipe ini adalah
kram pada abdominal, meningkatnya jumlah mukus dan adanya periode pertukaran antara diare dan
konstipasi.
4. Ketidaksesuaian diet
Makanan lunak dan rendah serat yang berkurang pada feses menghasilkan produks ampas sisa yang
tidak cukup untuk merangsang refleks pada proses defekasi. Makan rendah serat seperti; beras, telur
dan daging segar bergerak lebih lambat di saluran cerna. Meningkatnya asupan cairan dengan makanan
seperti itu meningkatkan pergerakan makanan tersebut.
5. Obat-obatan
Banyak obat-obatan dengan efek samping berupa konstipasi. Beberapa di antaranya seperti ; morfiin,
codein, sama halnya dengan obat-obatan adrenergik dan antikolinergik, melambatkan pergerakan kolon
melalui kerja mereka pada sistem syaraf pusat. Penyebab lainnya seperti: zat besi, mempunyai efek
menciutkan dan kerja yang lebih secara lokal pada mukosa usus menyebabkan konstipasi. Zat besi juga
mempunyai efek mengiritasi dan dapat menyebabkan diare pada sebagian orang.
6. Latihan yang tidak cukup
Pada klien dengan masa rawat inap yang lama, otot secara umum akan melemah, termasuk otot
abdomen, diafragma, dasar pelvik, yang digunakan pada proses defekasi. Kurangnya latihan secara tidak
langsung dihubungkan dengan berkurangnya nafsu makan dan kemungkinan kurangnya jumlah serat
yang penting untuk merangsang refleks pada proses defekasi.
7. Umur
Pada manula, otot-otot dan tonus spinkter semakin melemah turut berperan sebagai penyebab
punurunan kemampuan defekasi.
8. Proses penyakit
Beberapa penyakit pada usus dapat menyebabkan konstipasi, beberapa di antaranya obstruksi usus,
nyeri ketika defekasi berhubungan dengan hemorhoid, yang membuat orang menghindari defekasi;
paralisis, yang menghambat kemampuan klien untuk buang air besar; terjadinya peradangan pelvik yang
menghasilkan paralisis atau atoni pada usus.

Konstipasi bisa jadi beresiko pada klien, regangan ketika b.a.b dapat menyebabkan stres pada abdomen
atau luka pada perineum (post operasi); Ruptur dapat terjadi jika tekanan saat defekasi cukup besar.
Ditambah lagi peregangan sering bersamaan dengan tertahannya napas. Gerakan ini dapat
menyebabkan masalah serius pada orang dengan sakit jantung, trauma otak, atau penyakit pada
pernapasan. Tertahannya napas meningkatkan tekanan intra torakal dan intrakranial. Pada kondisi
tertentu, tekanan ini dapat dikurangi jika seseorang mengeluarkan napas melalui mulut ketika
mengejan/regangan terjadi. Bagaimanapun, menghindari regangan merupakan pencegahan yang
terbaik.
2. Impaksi Feses (tertahannya feses)
Impaksi feses dapat didefenisikan sebagai suatu massa atau kumpulan yang mengeras, feses seperti
dempul pada lipatan rektum. Impaksi terjadi pada retensi yang lama dan akumulasi dari bahan-bahan
feses. Pada impaksi yang gawat feses terkumpul dan ada di dalam colon sigmoid. Impaksi feses ditandai
dengan adanya diare dan kotoran yang tidak normal. Cairan merembes keluar feses sekeliling dari massa
yang tertahan. Impaksi dapat juga dinilai dengan pemeriksaan digital pada rektum, selama impaksi
massa yang mengeras sering juga dapat dipalpasi.
Diare yang bersama dengan konstipasi, termasuk gejala yang sering tetapi tidak ada keinginan untuk
defekasi dan nyeri pada rektum. Hadirnya tanda-tanda umum dari terjadinya penyakit ; klien menjadi
anoreksia, abdomen menjadi tegang dan bisa juga terjadi muntah.
Penyebab dari impaksi feses biasanya kebiasaan buang air besar yang jarang dan konstipasi. Obat-obat
tertentu juga berperan serta pada impaksi. Barium digunakan pada pemeriksaan radiologi pada saluran
gastrointestinal bagian atas dan bawah dapat menjadi faktor penyebab, sehingga setelah pemeriksaan
ini hasil pengukuran diperoleh untuk memastikan pergerakan barium.
Pada orang yang lebih tua, faktor-faktor yang beragam dapat menyebabkan impaksi; asupan cairan yang
kurang, diet yang kurang serat, rendahnya aktivitas, melemahnya tonus otot.
Pemeriksaan digital harus dilakukan dengan lembut dan hati-hati karena rangsangan pada nervus vagus
di dinding rektum dapat memperlambat kerja jantung pasien.
3. Persiapan pre operasi

Biasanya pada semua tindakan operasi sebelumnya di lakukan enema. Anastesia umum (GA) dalam
pembedahan bisa diberikan melalui enema dengan tujuan untuk mengurangi efek muntah selama dan
setelah operasi, juga mencegah terjadinya aspirasi.
4. Untuk tindakan diagnostik misalnya pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi seperti colonoscopy, endoscopy, dll.
5. Pasien dengan melena

Kontra Indikasi
Irigasi kolon tidak boleh diberikan pada pasien dengan diverticulitis, ulcerative colitis, Crohns
disease, post operasi, pasien dengan gangguan fungsi jantung atau gagal ginjal, keadaan patologi
klinis pada rektum dan kolon seperti hemoroid bagian dalam atau hemoroid besar, tumor rektum
dan kolon.

Tipe-tipe enema
Enema dapat diklasifikasikan ke dalam 4 golongan menurut cara kerjanya: cleansing
(membersihkan),

carminative

(untuk

mengobati

flatulence),

retensi

(menahan),

dan

mengembalikan aliran.
Cleansing enema merangsang peristaltik dengan mengiritasi kolon dan rektum dan atau dengan
meregangkan intestinal dengan memasuki volume cairan. Ada 2 cleansing enema yaitu high enema
(huknah tinggi) dan low enema (huknah rendah). High enema diberikan untuk membersihkan kolon
sebanyak mungkin, sering diberikan sekitar 1000ml larutan untuk orang dewasa, dan posisi klien
berubah dari posisi lateral kiri ke posisi dorsal recumbent dan kemudian ke posisi lateral kanan selama
pemberian ini agar cairan dapat turun ke usus besar. Cairan diberikan pada tekanan yang tinggi daripada
low enema.; oleh karena itu wadah dari larutan digantung lebih tinggi. Cleansing enema paling efektif
jika diberikan dalam waktu 5-10 menit.
Low enema diberikan hanya untuk membersihkan rektum dan kolon sigmoid. Sekitar 500ml larutan
diberikan pada orang dewasa, klien dipertahankan pada posisi sims/miring ke kiri selama pemberian.

Carminative enema terutama diberikan untuk mengeluarkan flatus. Larutan dimasukkan ke dalam
rektum untuk mengeluarkan gas dimana ia meregangkan rektum dan kolon, kemudian merangsang
peristaltik. Untuk orang dewasa dimasukkan 60-180ml.
Retention enema: dimasukkan oil (pelumas) ke dalam rektum dan kolon sigmoid, pelumas tersebut
tertahan untuk waktu yang lama (1-3 jam). Ia bekerja untuk melumasi rektum dan kanal anal, yang
akhirnya memudahkan jalannya feses.

Enema yang mengembalikan aliran, kadangkadang mengarah pada pembilasan kolon,


digunakan untuk mengeluarkan flatus. Ini adalah pemasukan cairan yang berulang ke dalam
rektum dan pengaliran cairan dari rektum. Pertama-tama larutan (100-200ml untuk orang
dewasa) dimasukkan ke rektum dan kolon sigmoid klien, kemudian wadah larutan direndahkan
sehingga cairan turun kembali keluar melalui rectal tube ke dalam wadah. Pertukaran aliran
cairan ke dalam dan keluar ini berulang 5-6 kali, sampai (perut) kembung hilang dan rasa tidak
nyaman berkurang atau hilang. Banyak macam larutan yang digunakan untuk enema. Larutan
khusus mungkin diminta oleh dokter.
Pemberian enema merupakan prosedur yang relatif mudah untuk klien. Bahaya utamanya adalah iritasi
sabun dan efek negatif dari larutan hypertonik atau hipotonik. Pada cairan tubuh dan elektrolit, larutan
hipertonik seperti larutan phosphate dari beberapa enema siap pakai menyebabkan sedikit iritasi pada
membran mukosa menyebabkan cairan tertarik ke dalam kolon dari jaringan sekitar. Proses ini disebut
osmosis. Karena hanya sebagian kecil cairan yang diambil, rasa nyaman tertahan untuk 5-7 menit dan
secara umum di luar dari manfaat ini. Bagaimanapun, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dapat
terjadi, terutama pada anak di bawah 2 tahun larutan ini bisa menyebabkan hypokalsemia dan
hyperphosphatemia.
Pemberian hipotonik yang berulang seperti enema berbentuk kran, dapat mengakibatkan absorpsi
volume darah dan dapat mengakibatkan intoksikasi air. Untuk aliran ini, beberapa agency kesehatan
membatasi pemberian enema berbentuk kran. Ini adalah perhatian yang istimewa ketika permintaan
pemasangan enema sampai kembali bersih harus jelas, contohnya pemeriksaan pendahuluan visual usus
besar. Larutan hipotonik juga dapat mengakibatkan ketidaknyamanan pada klien dengan penurunan
fungsi ginjal atau gagal jantung akut.

Pengkajian

Pengkajian pasien dilakukan untuk mendapatkan data subjektif dan data objektif melalui
interview dan pemeriksaan fisik terutama yang berkaitan dengan saluran cerna,
pemeriksaan laboratorium dan radiology.
Data subjektif

Pengumpulan data berkaitan dengan riwayat eliminasi feses akan membantu perawat
memastikan pola b.a.b pasien yang normal.
Sebagian besar pengkajian riwayat keperawatan terdiri dari :
1. Pola defekasi
Frekuensi dan waktu klien mengalami defekasi, apakah pola b.a.b berubah baru-baru ini, apakah pola
b.a.b pernah berubah. Jika iya, apakah klien mengetahui faktor-faktor penyebabnya.
2. Pola tingkah laku
Penggunaan laksatif, dan bahan-bahan yang sama yang mempertahankan pola b.a.b yang normal. Apa
rutinitas yang dilakukan klien untuk mempertahankan pola defekasi yang biasa (contoh; segelas jus
lemon panas ketika sarapan pagi atau jalan pagi sebelum sarapan).
3. Deskripsi feses
Bagaimana klien mendeskripsikan fesesnya, termasuk warna, tekstur (keras, lembut, berair), bentuk,
bau.
4. Diet
Makanan apa yang dipercayai oleh klien yang dapat mempengaruhi proses defekasi, jenis makanan,
porsi; Makanan yang selalu dia dihindari, pakah makanan tersebut dimakan secara teratur.
5. Cairan
Berapa jumlah dan jenis asupan cairan setiap hari (contoh: 6 gelas air, 5 cangkir kopi).
6. Latihan
Pola latihan seperti apa yang dilakukan klien setiap hari, frekuensi dan lamanya?
7. Obat-obatan

Apakah klien mengkonsumsi obat-obatan yang dapat mempengaruhi saluran intestinal (contoh: zat besi,
antibiotika)
8. Stres
Apakah klien mengalami stres dalam jangka waktu yang lama atau singkat? Tetapkan stres seperti apa
yang dialami klien dan bagaimana dia menerimanya
9. Pembedahan
Apakah klien mengalami pembedahan atau penyakit yang berpengaruh terhadap saluran cerna?.
Keberadaan ostomi harus diperhatikan.

Data objektif
Data objektif didapat melalui pemeriksaan fisik khususnya yang berkaitan dengan proses pembuangan
yaitu intestin pada bagian perut hingga anus, pengkajian dilakukan dengan car inspeksi, palpasi, perkusi
dan auskultasi.
Intestinal

Pengkajian pada abdomen dengan rujukan khusus pada saluran intestinal; Klien dianjurkan
dalam posisi supine dan diselimuti sehingga hanya bagian abdomen yang terlihat. Perawat harus
mengidentifikasi

batasan-batasan

yang

digunakan

sebagai

nilai-nilai

rujukan

untuk

mendeskripsikan hasil yang dijumpai.


Inspeksi
Perawat mengobservasi bentuk dan kesimetrisan. Normalnya perut berbentuk datar/rata tanpa
adanya tonjolan. Tonjolan seperti massa akan kelihatan suatu bengkak, mengobservasi dinding
abdomen untuk gelombang yang dapat dilihat yang mengidentifikasikan kerja peristaltik usus.
Kecuali pada orang-orang tertentu terkadang tidak dapat diobservasi secara normal. Peristaltik
yang dapat diobservasi menunjukkan adanya suatu obstruksi intestinal.
Palpasi

Baik palpasi ringan atau dalam keduanya digunakan, biasanya untuk mendeteksi dan mengetahui
adanya daerah lunak dan massa. Keempat kuadran pada abdomen dipalpasi mulai dari quadran
kanan atas, kiri atas, kiri bawah, kanan bawah dan daerah umbilikal, otot-otot abdomen harus
rileks untuk memperoleh hasil palpasi yang diharapkan. Perawat seharusnya melakukan palpasi
ringan kemudian dalam. Daerah yang sensitif ( daerah yang menjadi keluhan pasien) seharusnya
dipalpasi terakhir karena kontraksi otot-otot (pelindung abdomen) yang sering terjadi ketika
daerah yang nyeri tersentuh.
Suatu kelainan abdomen seharusnya dapat diukur pada daerah umbilikal dengan menempatkan suatu
tip pengukur sekeliling tubuh. Pengukuran berulang akan menunjukkan apakah tekanan meningkat atau
menurun.
Secara normal perut akan terasa lembut, tidak ada nyeri pada palpasi ringan dan dalam, dat tidak
dijumpai adanya massa yang keras.
Perkusi

Daerah abdomen diketuk untuk mendeteksi cairan pada rongga abdomen, tekanan intestinal
berhubungan dengan flatus dan pembentukan massa seperti pembesaran kantung empedu dan
lever.
Daerah seluruh abdomen diperkusi, dimulai pada daerah kuadran kanan atas menurut arah jarum jam.
Flatus menghasilkan resonansi (tympani), sementara cairan dan massa menghasilkan bunyi dull
(tumpul).
Ketika ada cairan di abdominal, ketukan menghasilkan suara tumpul diantara cairan. Ketika klien berada
pada satu sisi, cairan ascites mengalir ke sisi tersebut. Ketukan memperlihatkan sebuah garis damartasi
di antara dulnes dan tympani; garis ini menandai adanya tingkat cairan; sebuah garis ditarik di atas
abdomen sehingga perawat dapat mengukur apakah jumlahnya meningkat atau menurum, ketika
dilakukan ketukan selanjutnya.
Auskultasi
Suara usus dikaji dengan stetoskop. Suara usus mencerminkan peristaltik usus kecil, dideskripsikan
menurut intensitas, keteraturan, dan frekuensi atau tingkat aktivitasnya. Intensitas menunjukkan
kekuatan dari suara atau rata-rata dari peristaltik. Kuat lemahnya (dentum) dari dinding intestinal
sebagai hasil dari gelombang peristaltik, pada peningkatan tekanan intestinal akan ada kemungkinan

peningkatan dentuman. Tingkat aktivitas atau frekuensi dari suara usus juga dikaji. Peningkatan atau
penurunan peristaltik dapat terjadi karena beberapa alasan: proses pembedahan; ketidakseimbangan
elektrolit, seperti ketidaknormalan dari rendahnya tingkat potasium serum dan peritonitis. Intensitas
dan frekuensi yang abnormal pada suara usus (borborygmi) terjadi pada enteritis dan pada obstruksi
usus kecil.

Rektum dan anus


Pada pemeriksaan anorektal klien biasanya dianjurkan dalam posisi sims/miring ke kiri atau
genupectoral. Klien wanita juga disarankan dalam posisi litotomi.
Inspeksi
Daerah perianal dikaji warnanya, tanda-tanda peradangan, scar, lesi, fisura, fistula atau
hemorhoid. Juga ukuran, lokasi dan kepadatan dari lesi dicatat. Secara normal tidak ditemukan
adanya peradangan ataupun fistula.
Palpasi
Selama pemeriksaan rektal sangat penting bahwa palpasi harus lembut sehingga tidak
merangsang refleks dari nervus vagus, yang dapat menekan denyut jantung.
Feses
Wadah khusus harus disediakan untuk sampel feses. Sangat penting bagi perawat mengetahui
mengapa spesimen diambil dan wadah yang digunakan tepat. Kadang-kadang wadah memakai
zat pengawet khusus untuk menunjukkan hasil tes. Petunjuk khusus harus ditulis dan
dilampirkan ketika penyediaan spesimen.
Klien dapat menyediakan spesimennya setelah diberi informasi yang adekuat. Feses tidak boleh
bercampur dengan urin atau air, karenanya klien diminta b.a.b di bedpan.
Sebuah tongue spatel kayu atau plastik digunakan untuk memindahkan spesimen, dan sekitar
2,5cm ditempatkan di dalam wadah. Jika kotoran berbentuk cair, dikumpulkan 15-30ml. Wadah
kemudian ditutup dengan aman dan tepat, dilengkapi label. Pada kenyataannya bahwa spesimen
yang telah diperoleh harus dimasukkan sebagai rahasia klien.
Untuk tes tertentu diperlukan feses segar. Jika harus seperti itu spesimen dibawa segera ke lab.
Spesimen kotoran jangan ditinggalkan pada suhu ruangan dalam waktu yang lama karena bakteri
dapat mengubahnya. Wadah spesimen biasanya memiliki petunjuk penyimpanan, hal ini harus
diikuti jika spesimen tidak dapat dikirim segera ke lab. Pada beberapa instansi digunakan
pendingin.

Untuk mengamankan spesimen dari bayi atau anak-anak yang tidak terlatih di toilet, spesimen
diambil dari feses yang baru. Ketika feses dikultur untuk memperoleh mikroorganisme, feses
dipindahkan ke wadah dengan aplikator steril.
Feses normal berwarna coklat, hal ini berhubungan dengan adanya bilirubin dan turunannya
yaitu stercobilin dan urotilin; kegiatan dari bakteri normal yang terdapat pada intestinal.
Bilirubin merupakan pigmen berwarna kuning pada empedu. Feses dapat berwarna lain,
khususnya ketika ada hal-hal yang abnormal. Misalnya; feses hitam seperti tir, ini menunjukkan
adanya perdarahan dari lambung atau usus halus; warna tanah liat (acholic) menunjukkan adanya
penurunan fungsi empedu; hijau atau orange menunjukkan adanya infeksi pada intestinal.
Makanan juga dapat mempengaruhi warna feses, misalnya: gula bit merubah feses menjadi
warna merah, kadang-kadang hijau. Obat-obatan juga dapat merubah warna feses, misalnya zat
besi, dapat membuat feses berwarna hitam.
Konsistensi
Secara normal feses berbentuk tetapi lembut dan mengandung air sebanyak 75% jika seseorang
mendapat intake cairan yang cukup, sedangkan 25% lagi adalah bagian padat.
Feses normal bergerak lebih cepat dari normal melalui intestinal, sehingga hanya sedikit air dan
ion yang direabsorpsi ke dalam tubuh.
Feses yang keras mengandung lebih sedikit air daripada normal dan pada beberapa kasus
mungkin sulit atau nyeri sekali saat dikeluarkan. Beberapa orang, bayi dan anak-anak khususnya
mungkin mengeluarkan feses yang berisi makanan yang tidak dicerna.
Bentuk
Feses normal berbentuk rektum
Bau
Bau feses merupakan hasil kerja bakteri pada intestinal dan bervariasi pada setiap orang. Bau
feses yang sangat menyengat (tajam) dapat menunjukkan adanya gangguan saluran cerna.
Darah
Darah yang terdapat pada feses adalah abnormal. Darah dapat berwarna terang atau merah
terang, hal ini berarti darah mewarnai feses pada proses eliminasi akhir. Feses berwarna hitam

dan tir berarti darah memasuki chyme pada lambung atau usus halus. Beberapa obat-obatan dan
makanan juga dapat membuat feses berwarna merah atau hitam. Oleh karena itu adanya darah
harus dikonfirmasi melalui sebuah test. Perdarahan pada feses kadang tidak terlihat, ini dikenal
occult bleeding(perdarahan tersembunyi).
Test untuk mengetahui adanya darah pada feses secara rutin dilakukan di klinik. Hemotest
menggunakan tablet sebagai reagen; sementara guaiac dan hemoccult test menggunakan reagen
berbentuk solusion (larutan), setiap test memerlukan spesimen feses. Guaiac test secara umum
lebih sering digunakan. Feses yang sedikit diletakkan pada kertas saring atau kertas usap. Reagen
selanjutnya diletakkan dan warna dicatat; warna biru menunjukkan adanya darah.
Bahan-bahan abnormal
Kadang-kadang feses mengandung bahan-bahan asing yang dicerna secara kebetulan,
pencernaan benda-benda asing secara kebetulan banyak ditemukan pada anak-anak. Bahanbahan abnormal lain termasuk pus, mukus, parasit, lemak dalam jumlah banyak dan bakteri
patogen. Test untuk mengetahui keberadaan bahan-bahan asing biasanya ditunjukkan di lab.
Pemeriksaan penunjang
Test laboratorium
Feces ditampung dalam kontainer untuk diperiksa di laboratorium untuk mengetahui adanya atau
tidaknya kelainan dalam feses berupa kadar darah, bakteri dll.
Pandangan langsung
Yaitu tehnik pandangan secara langsung ; anoscopy, pandangan dari saluran anus; proctoscopy,
pandangan pada rektum; proctosigmoidoscopy, pandangan pada rektum dan kolon sigmoid;
umumnya saat ini dilakukan tindakan colonoscopy.
Roentgenography
Roentgenoraphy dilakukan untuk mengetahui kondisi saluran cerna dari sumbatan ataupun
deformitas dengan memasukkan zat kontras seperti bubur barium dilarutkan dalam 1 liter air
untuk diminum, atau dengan memasukkan larutan omnipaque kedalam kolon menggunakan
rektal tube melalui anus.
DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan berasal dari pengkajian data yang konkrit dari perawat.
Contoh contoh diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan alternatif b.a.b :
1. Konstipasi yang berhubungan dengan barium.
2. Konstipasi yang berhubungan dengan immobilitas
3. Konstipasi yang berhubungan dengan trauma pada sumsum tulang belakang

Perencanaan
Tujuan utama klien dalam perencanaan/intervensi adalah :
1. mengerti tentang eleminasi yang normal
2. mengerti akan makanan dan cairan yang dibutuhkan secara wajar
3. memelihara integritas kulit
4. mengikuti program latihan secara teratur
5. memelihara kestabilan dalam pengeluaran BAB
6. mengerti tentang pengukuran untuk menghilangkan stress
Pedoman pemberian enema

1. Gunakan rectal tube dengan ukuran yang tepat, untuk orang dewasa biasanya no.22-30; anakanak menggunakan tube yang kecil seperti no.12 untuk bayi; no.14-18 untuk anak todler atau
anak usia sekolah.
2. Rectal tube harus licin dan fleksibel, dengan 1 atau 2 pembuka pada ujung dimana larutan mengalir.
Biasanya terbuat dari karet atau plastik. Beberapa tube yang ujungnya tajam dan kasar seharusnya
tidak digunakan, karena kemungkinan rusaknya membran mukosa pada rektum. Rectal tube
dilumasi dengan jelly/pelumas untuk memudahkan pemasukannya dan mengurangi iritasi pada
mukosa rektum.
3. Enema untuk orang dewasa biasanya diberikan pada suhu 40,5-43 0C, untuk anak-anak 37,7 0C.
Beberapa retensi enema diberikan pada suhu 33 0C. Suhu yang tinggi bisa berbahaya untuk mukosa

usus; suhu yang dingin tidak nyaman untuk klien dan dapat menyebabkan spasme pada otot
spinkter.
4. Jumlah larutan yang diberikan tergantung pada jenis enema, usia dan ukuran tubuh klien dan jumlah
cairan yang bisa disimpan :
a. bayi, 250ml
b. toddler atau preschool, 250 350 ml
c. anak usia sekolah, 300 - 500ml
d. adolescent, 500 - 750ml
e. adult, 750-1000ml

5. Ketika enema diberikan, klien biasanya mengambil posisi lateral kiri, sehingga kolon sigmoid
berada di bawah rektum sehingga memudahkan pemasukan cairan. Selama high enema, klien
mengubah posisinya dari lateral kiri ke dorsal recumbent, kemudian lateral kanan. Pada
posisi ini seluruh kolon dijangkau oleh air.
6. Insesrsi tube tergantung pada usia dan ukuran klien. Pada orang dewasa, biasanya dimasukkan
7,5 - 10cm, pada anak-anak 5-7,5cm dan pada bayi hanya 2,5-3,75 cm. Jika obstruksi
dianjurkan ketika tube dimasukkan, tube harus ditarik dan obstruksi terjadi.
7. Kekuatan aliran larutan ditentukan oleh :
a. tingginya wadah larutan
b. ukuran tube
c. kekentalan cairan
d. tekanan rektum
Enema pada sebagian orang dewasa, wadah larutan tidak boleh lebih tinggi dari 30cm di atas
rektum. Selama high enema, wadah larutan biasanya 30-45cm di atas rektum, karena cairan
dimasukkan lebih jauh untuk membersihkan seluruh usus. Untuk bayi, wadah larutan tidak
boleh lebih dari 7,5 cm di atas rektum.

8. Waktu yang diperlukan untuk memasukkan enema sebagian besar tergantung pada jumlah
cairan yang dimasukkan dan toleransi klien. Volume yang banyak seperti 1000ml, mungkin
membutuhkan waktu 10-15 menit. Untuk membantu klien menahan larutan, perawat dapat
menekan bokongnya, agar terjadi tekanan di luar area anal.
9. Ketika larutan enema berada di dalam tubuh, klien mungkin merasa gembung, dan rasa tidak
nyaman pada abdomen.
10. Ketika klien b.a.b, perawat bisa membantunya ke kamar kecil, tergantung pada pilihan klien
dan kondisi fisik.
11. Pada pemberian enema yang dilakukan sendiri, orang dewasa dapat diatur posisi litotomi.
12. Ketika pemberian enema pada bayi, kaki bayi bisa ditahan dengan popok.

Prosedur pemberian enema


Persiapan pasien
a.

Mengucapkan salam terapeutik

b.

Memperkenalkan diri

c.

Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang

d.

Prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan.

e.

Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

f.

Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.

g.

Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi

h.

Menjaga privasi klien.

i.

Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama
berkomunikasi dan melakukan tindakan

j.

Peralatan

Pasien disiapkan dalam posisi yang sesuai

1. Disposible enema set


2. 1 set enema berisi
a. wadah untuk tempat larutan
b. pipa untuk menghubungkan wadah ke rectal tube
c. klem untuk menjepit pipa, untuk mengontrol aliran larutan ke pasien
d. rectal tube dengan ukuran yang tepat
e. pelumas yang digunakan untuk rectal tube sebelum dimasukkan
f. termometer untuk mengukur suhu larutan
g. sabun / garam.
h. sejumlah larutan yang dibutuhkan dengan suhu yang tepat. Larutan ditempatkan di
wadahnya, diperiksa suhunya, kemudian menambahkan sabun / garam.
3. selimut mandi untuk menutupi klien
4. perlak agar tempat tidur tidak basah
5. bedpan.

Intervensi

1.

Tutup pintu/pasang sampiran (screen).


Rasional: memberikan privasi pada klien.

2.

Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.


Rasional: pencegahan terjadinya transmisi bakteri.

3.

Kaji kondisi anal dan deformitas.


Rasional: pengkajian merupakan tahap awal setiap prosedur yang akan memberikan
informasi suatu tindakan dapat dilaksanakan atau tidak.

4.

Jelaskan prosedur kepada klien bahwa ia mungkin akan merasakan gembung ketika larutan
dimasukkan.

Rasional: memberikan informasi dapat meningkatkan kesiapan dan kerjasama pasien selama
proses tindakan enema berlangsung.
5.

Bantu klien orang dewasa atau usia toddle untuk mengambil posisi lateral kiri, dengan kali
kanan fleksi dan beri selimut mandi.
Rasional: posisi ini memudahkan aliran larutan sesuai dengan gravitasi ke dalam sigmoid dan
kolon descenden yang berada pada sisi kiri. Kaki kanan fleksi agar anus lebih tampak.

6.

Letakkan perlak di bawah bokong klien agar sprey tidak basah.


Rasional: merupakan tindakan preventif untuk menjaga kebersihan tempat tidur.

7.

Beri pelumas pada rectal tube 5cm jika untuk orang dewasa. Untuk anak-anak beberapa
enema yang dijual sudah mempunyai tube yang sudah dilumasi.
Rasional: pelumas memudahkan masuknya tube melalui spinkter ani dan

meminimalisir

trauma.
8.

Buka klem lewatkan beberapa larutan melalui pipa penghubung dan rectal tube, kemudian
tutup klem.
Rasional: pipa diisi dengan larutan untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Udara yang
masukke dalam rektum menyebabkan peregangan yang tidak perlu.

9.

Masukkan rectal tube dengan lembut dan perlahan ke dalam rektum, tujukan ke unbilikus.
Masukkan tube dengan jarak yang tepat.
Rasional: pemasukan pipa k eumbilikus memandu opipa di sepanjang rektum. Rectal tube
dimasukkan melewati spinkter internal

10. Jika terjadi tahanan di spinkter internal, suruh klien untuk bernapas dalam dan lewatkan
sedikit larutan melalui pipa. Jika tahanan berlangsung lama, tarik pipa dan laporkan pada
perawat yang bertanggung jawab
Rasional: bernapas dalam dan memasukkan sedikit larutan bisa membuat spinkter rileks.
11. Jika tidak ada tahanan, buka klem dan angkat wadah larutan ke atas rektum pada ketinggian
yang tepat ; 30-45cm untuk dewasa dan 7,5 untuk bayi

Rasional: pada ketinggian ini, larutan tidak mendesak tekanan yang cukup untuk mengganti
kerusakan lapisan pada rektum
11. Masukkan cairan dengan perlahan. Jika klien mengeluh merasa gembung atau nyeri, gunakan
klem untuk menghentikan aliran selama 30 detik, kaji warna kulit, keringat, dyspnoe. Jika
tidak dijupai kelainan buka kembali alirannya dengan kecepatan yang rendah.
Rasional: memasukkan cairan dengan perlahan dan menghentikan aliran untuk sementara
menurunkan kemungkinan spasme intestinal dan pengeluaran yang dini pada larutan.
13. Setelah semua larutan dimasukkan atau ketika klien tidak bisa menerima lagi dan ingin b.a.b,
tutup klem dan keluarkan rectal tube dari anus
Rasional: keinginan untuk b.a.b biasanya mengindikasikan bahwa cairan yang masuk sudah
cukup
14. Gunakan tekanan yang tetap pada anus dengan tissu atau tekan bokong untuk membantu
menahan enema. Biarkan klien dalam posisi berbaring.
Rasional: beberapa enema lebih efektif jika ditahan 5-10 menit. Waktunya tergantung pada
jenis enema. Klien lebih mudah menahannya pada posisi berbaring daripada ketika duduk
atau berdiri, karena gravitasi membantu pengaliran peristaltik.
15. Bantu klien untuk duduk pada bedpan atau toilet. Jika spesimen feses dibutuhkan anjurkan
klien menggunakan bedpan
Rasional: posisi duduk lebih dianjurkan karen amembantu proses defekasi
16. Suruh klien agar tidak menyiram toilet jika ia selesai menggunakannya.
Rasional: untuk mengevaluasi output/keberhasilan tindakan enema
17. Catat pemasukan dan pengeluaran enema; jumlah, warna, konsistensi, pengeluaran flatus dan
perenggangan abdomen.
Rasional: Pencatatan merupakan aspek legal sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat.
Pemberian enema pada pasien yang tidak bisa mengontrol diri
Kadang-kadang perawat perlu memberikan enema untuk klien yang tidak bisa mengontrol
otot spinkter externalnya dan lalu tidak bisa menahan larutan enema untuk beberapa menit.

Pada kasus ini klien dianjurkan pada posisi supine di atas bedpan. Bagian kepala dari bedpan
bisa sedikit disudut, misal 30 derajat jika perlu, dan kepala dan punggung klien ditahan
dengan guling. Perawat mengenakan sarung tangan untuk memegang rectal tube, untuk
mencegah kontak langsugn dengan larutan dan feses yagn dikeluarkan dengan tangan ke
dalam bedpan selama pemberian enema.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
Penggunaan enema yang tidak benar dapat menyebabkan tergangguanya keseimbangan elektrolit
tubuh (pemberian enema berulang) atau perlukaan pada jaringan kolon atau rektum hingga
terjadinya perdarahan bagian dalam. Perlukaan ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi,
perdarahan dalam kolon terkadang tidak nampak secara nyata tetapi dapat diketahui melalui
perubahan warna feces menjadi merah atau kehitaman. Jika terdapat tanda ini maka diperlukan
tindakan medis dengan segera.
Tindakan enema juga dapat merangsang nervus vagus yang memicu terjadinya arritmia misalnya
bradikardi. Tindakan enema tidak dapat diberikan selagi adanya nyeri perut yang belum
diketahui penyebabnya, peristaltik usus dapat menyebabkan peradangan apendiks hingga
pecahnya apendiks.
IMPLEMENTASI
1.

Mengkaji pola defekasi klien

2.

Mengkaji pola makanan dan cairan klien

3.

Mengkaji kondisi anal dan deformitas klien

4.

Menjelaskan prosedur dan tahapan tahapan pada pemberian enema pada klien

5.

Menjelaskan tujuan dan manfaat pemberian enema pada klien

6.

Memberikan tindakan enema.

EVALUASI
Klien akan :

Menetapkan waktu yang teratur untuk defekasi

Berpartisipasi dalam program latihan yang teratur

Memakan makanan sesuai dengan diet yang ditentukan

B.A.B dengan nyaman dan lancar

Minum + 2000 ml cairan / hari

Tidak terjadi defekasi pada saat dilakukan tindakan operasi

Sukses pada pemeriksaan diagnostic radiologi

DAFTAR PUSTAKA

Carol Taylor Et All, 1997, Fundamental Of Nursing, Lippincott Raven Washington.


Chen TS, Chen PS (1989). Intestinal autointoxication: a medical leitmotif. Journal of Clinical
Gastroenterology.
De Boer AG, Moolenaar F, de Leede LG, Breimer DD (1982). Rectal drug administration: clinical
pharmacokinetic considerations. Clin Pharmacokinet 7 (4): 285311.
Deeb, Benjamin, Enemas for Everyone: A Case Study of Alexander Moaveni, University of Nebraska
Press, 2000
E.M.D. Ernst (June 1997), Journal of Clinical Gastroenterology: 196-198.
FDA, Code of Federal Regulations, Title 21 Food and Drugs, Subchapter H Medical Devices, Part 876
Gatroenterology-Urology Devices.
Kaiser (1985). The Case Against Colonic Irrigation. California Morbidity (38).

Locke GR, Pemberton JH, Phillips SF (2000). AGA technical review on constipation. Gastroenterology.

Patricia A. Potter Et All. Fundamental Of Nursing, Concepts Process & Practice, Third Edition,
1992, Mosby Year Book Washington.
Priscilla Lemone, Medical Surgical Nursing, Critical Thinking In Client Care, 1996. Addisson
Wesley Nursing
Sandra M. Nettina, Manual Of Nursing Practice, 6 Th Edition, 1996 , Lippinciott Raven Publishers.
Webber, Edith. Basic In-Home Colon Cleansing: An Illustrated Guide. Health Management Research
Institute 2003, USA.
Whorton J (2000). Civilisation and the colon: constipation as the disease of diseases.

4 Comments to ENEMA

1. Srwjvgsd July 14, 2009 @ 3:43 am

BWvnbs
2. rorijhx July 17, 2009 @ 5:14 am

M5XUyf bmfzuvqpwfxr, [url=http://whfeelckkppl.com/]whfeelckkppl[/url],


[link=http://tqrxdwyxdajh.com/]tqrxdwyxdajh[/link], http://hpfgbjmhmake.com/
3. Additytethy October 1, 2009 @ 8:16 pm

discount air travel


airfare deals to ireland
super cheap airfare tickets
track flights currently in the air
very cheap airline tickets
airline cheap flights
jackson ms airlines tickets
delta airplane tickets
cheap air plane tickets
tickets on kenya airways
best airfares
flight departures
cheap international airfares
dirt cheap airfare tickets
cheap airlines bergamo to bulgaria
cheap economy airline tickets cheap airline tickets to italy
cheap air line ticket in canada
cheap airline tickets to florida
cheap flights to orlando
cheap plane tickets to rome
student discount airfares
discount codes for airline ticket
discount flights to china
american airlines flight tracke
real time flight tracking

cheap flights to orlando


flights to australia
best last minute airfare
cheap last minute one way flights
lowest airfares
200 dollar plane tickets
4. pzaktma December 15, 2009 @ 9:28 am

BD1pUV eyxfjxebmljh, [url=http://erzkulbnstem.com/]erzkulbnstem[/url],


[link=http://perclgawunjv.com/]perclgawunjv[/link], http://madclwltcqtd.com/
RSS feed for comments on this post.
TrackBack URL

Write a comment

Name

E-mail (will not be shown)

Website

Filed under: Uncategorized |

Definisi Shampo
Harry (3) mendefinisikan shampoo sebagai sediaan dari surfaktan (bahan aktif
permukaan) dalam bentuk yang sesuai-cair,padat, atau serbuk, dimana jika digunakan di bawah
kondisi khusus dapat menghilangkan lemak, kotoran dan kulit terkelupas pada permukaan dari
rambut dan kulit kepala tanpa menimbulkan efek merugikan bagi rambut, kulit kepala atau
kesehatan dari yang menggunakan.

Fungsi shampo

Fungsi utama dari shampo adalah membersihkan rambut dan kulit kepala, kotoran rambut
termasuk sekresi alami dari kulit, kulit kepala yang terkelupas, penumpukan kotoran dari
lingkungan dan sisa dari produk perawatan rambut yang digunakan oleh konsumen. Setelah
aksi pembersihan sempurna dapat memberikan kepuasan bagi pemakai. Shampo akan
menghasilkan rambut yang lembut, berkilau, dan mudah diatur. Formulasi dari shampo dapat
pula berupa campuran yang ditekankan untuk beberapa kemampuan khusus seperti
meminimalkan rasa perih pada mata, mengontrol ketombe atau memberikan keharuman yang
menarik untuk bau wangi yang dapat diterima.

Fungsi shampo adalah untuk membersihkan lemak (seperti sebum) dan melapisi rambut dari
kotoran tersebut yang terikat pada rambut dan kulit kepala. Evaluasi shampo berdasarkan
kriteria berikut:

1. Keefektifan dari deterjen


2. Kemampuannya berbusa dalam air sadah
3. Kemampuan shampoo untuk dapat terdistribusi pada rambut

4. Kemampuan untuk membersihkan lemak


5. Keharuman yang menyenangkan
6. Mudah untuk dibilas
7. Kemampuan untuk memberikan busa dan kelembutan pada rambut
8. Tidak mengiritasi

Shampo tersedia dalam beberapa varietas bentuk dan tipe. Beberapa


Metode dari klasifikasi disesuaikan dengan keperluan dan berubah ubah sesuai dengan sudut
pandang. Klasifikasi menurut bentuk produk terdiri dari cairan jernih, lotion, pasta, gel, dan
akhirnya aerosol dan produk kering. Shampo lebih lanjut dibedakan berdasarkan pertimbangan
khusus yang komponennya tidak biasa atau kombinasi dari komponen yang tersedia, sebagai
contoh: Shampo untuk rambut dan kulit kepala dengan kondisi khusus, shampoo untuk anakanak, atau bayi, shampoo untuk laki-laki, dll.

1. Shampo cair jernih

Produk ini pada dasarnya mengandung larutan berair dari deterjen, yang memiliki
konsentrasi surfaktan bervariasi antara 10% dan 30%. Selain dari persyaratan umum yang
harus ditemui pada semua shampoo; dua atau lebih ditambahkan disini.

Sediaan harus memiliki konsistensinya yang sesuai. Jika sediaan terlalu encer,
sediaan tersebut terlalu mudah mengalir dari kulit kepala menuju ke wajah (mata!) dan
turun ke leher. Jika sediaannya terlalu kental, sediaan itu sangat lambat (susah dituang dari
botol dan tidak akan mudah tercampur dengan air pada rambut sehingga sediaan tersebut

kehilangan keefektifan penuhnya. Sediaan harus tetap jernih pada kondisi penyimpanan
normal. Titik kabutnya harus berada di bawah 5oC.

Untuk memberikan sifat yang diinginkan pada shampoo cair, beberapa zat
tambahan seringkali digunakan. Zat tambahan tersebut dapat dibagi menjadi kelompok di
bawah ini tergantung pada keefektifannya:

a. Bahan pendispersi garam kalsium

Tujuan dari produk ini adalah untuk mencegah pengendapan sabun kalsium dan
perlekatanatau rambut yang lepek yang disebabkan oleh bahan ini. Aksi ini
menyebabkan peningkatan busa. Bahan pendispersi garam kalsium adalah secara
khusus penting pada sabun shampoo. Tapi bahan inijuga digunakan dengan alkil aril
sulfonat dan sarkosida. Diantara bahan-bahan ini adalah Igenon T, produk asam lemak
alylolamine terkondensasi, alkil polioksietilen fenol, dan bahan etylen oksida
terkondensasi non ionik lainnya.

b. Bahan sequestrant

Bahan-bahan ini juga untuk mencegah pengendapan garam kalsium dan karenanya
menjadi sangat penting dalam shampoo busa. Mengingat keefektifan bahan pendispersi
tergantung pada aktifitas permukaannya, sequestrant memiliki efek kimia murni.
Sequestrant menahan kalsium dan ion logam polyvalent lainnya menjadi kompleks
larut air yang stabil, dan melalui cara ini mencegah pembentukan garam kalsium yang
tidak larut.

Bahkan penambahan sejumlah kecil ( 1%) dari sequestrant akan menjernihkan semua
kabut karena air yang kaya akan kalsium dari sabun shampoo dan juga mencegah
flokulasi yang dapat terjadi pada botol oleh pelepasan garam kalsium.

c. Pelarut

Seperti yang telah dilihat pada bab 2, sudah menjadi sifat yang melekat pada deterjen
bahwa deterjen tidak mudah larut dalam air, dan bagian molekul yang tidak larut dalam
air harus cukup kuat untuk membawa molekul ke antar muka dari larutan. Dalam
penyiapan dari konsentrasi shampoo kadang-kadang dibutuhkan untuk mendekati batas
dari larutan dimana larutan akan menjadi berkabut. Bagaimanapun shampoo yang
jernih secara absolut dapat berkabut setelah pengocokan yang kuat atau diletakkan pada
suhu rendah. Pelarut-pelarut ini ditambahkan untuk mencegah sifat pengkabutan ini.
Yang paling sering digunakan adalah alkohol (ethyl n-propil atau isopropyl alkohol) ,
glikol (1,2-propilenglikol, 1,3-butilenglikol, polyglikol) dan gliserol. Pelarut sering
meningkatkan aksi pembusaan dari shampoo kecuali yang berviskositas lebih rendah.

4. Bahan pengental

Dalam penambahan bahan-bahan yang secara umum diguanakan untuk


mengentalkan larutan berair (alginate, polivinil alkohol, metilseslulosa, dan silikat
koloidal). Beberapa tipe lainnya adalah garam inorganic yang cocok (ammonium
klorida) yang paling efektif dan paling umum digunakan;( walaupun ammonium
klorida meningkatkan sedikit aroma amoniak yang harus ditutupi dengan menggunakan
parfum), ester polietilen glikol (ex. Polietilenglikol 400 distearat) . Konsistensi yang

diminta mungkin juga dicapai melalui campuran dari surfaktan sebagai dasar shampoo,
minyak kastor tersulfonkan sebagai contoh, meningkatkan dari shampoo tergantung
pada minyak zaitun tersulfonkan dan dasar shampoo alkil aril trietanolamin sulfonat
dapat ditingkatkan oleh penambahan garam ammonium.

e. Bahan pelembut rambut dan kulit

Karena sebelumnya telah diterangkan beberapa deterjen mempunyai efek menghilangkan


lemak yang kuat pada rambut. Ini dengan demikian tidak menyenangkan; bila dalam
penambahan surfaktan cenderung untuk diserap pada rambut. Ini dapat menyebabkan
rambut rapuh dan rambut menjadi susah diatur.

Lanolin dan turunan lanolin, cetyl dan oleat alkohol mempunyai efek yang baik tetapi harus
digunakan dengan hemat; konsentrasi di atas 2% biasanya memberikan efek
pembentukan busa dari shampoo. Lanolin sering memberi efek rambut menjadi jarang
yang nyata pada konsistensinya pada shampoo.

f. Bahan finishing

Beberapa bahan pelembut juga memperbaiki kilapan dari rambut setelah pencucian; rambut
berminyak tidak menghasilkan busa. Dispersi sequestrant dan sabun kalsium juga
mencegah rambut menjadi tidak mengkilap setelah shampoo tertentu digunakan.

g. Pembentuk busa

Sequestrant dalam sabun shampoo memperbaiki busa dengan menghambat pembentukan


dari sabun kalsium dimana menekan pembentukan busa. Dalam shampoo yang

didasarkan pada lemak alkohol tersulfonkan dengan penambahan 1-2% bebas alkoho,
(ex. Cetyl alkohol) dapat menurunkan volume busa tetapi membuat padat dan lebih
stabil. Bagian kecil dari asam lemak alkil amin dipertimbangkan untuk ditambahkan ke
dalam deterjen anionic untuk mencapai pembentukan kabut dan busa padat yang cepat.
Derivat amfoterik dapat memberikan efek yang sama.

h. pengawet

menurut Bryce & Smart, shampoo komersial yang tersedia sering mengandung jumlah
yang besar dari bakteri gram negatif. Garam fenil merkuri dan formaldehid kadangkadang digunakan, walaupun kestabilan keduanya tidak cukup. Bryce & Smart
merekomendasikan penggunaan 2-bromo-2 nitropropan-1,3 diol.

2. Shampo Krim

Shampo krim dipertimbangkan, sebuah kesalahan estetika yang serius jika cairan shampoo
emulsi mengkabut setelah penyimpanan jangka panjang atau pendinginan yang kuat. Ahli
kimia kosmetika membatasi formula ini dengan persyaratan bahwa sisa produk jelas di
bawah keadaan sekitar yang normal. Beberapa deterjen dapat ditambahkan hanya dalam
konsentrasi yang terbatas; sebagai contoh, beberapa kelas dari lemak alkohol sulfat dengan
kandungan tinggi garam sulfat (yang mana kristalisasi pada temperatur rendah).
Pengabutan dapat lebih kuat dicegah dengan penambahan lemak lebih dari 5%.

3. Sabun shampoo

Shampo sabun cair yang biasa adalah larutan berair garam kalium dari minyak kelapa mudah
larut dan dikembangkan cukup berbusa yang berhubungan dengan asam laurat yang
dikandung cukup besar oleh minyak. Minyak kelapa dapat keseluruhan atau sebagian
digantikan oleh minyak palm yang juga tinggi kadar asam lauratnya tapi mengandung
sedikit asam kaprilat dan asam kaproat. Penambahan minyak zaitun (mengandung
kebanyakan rioleine) memberi tekstur yang halus, busa lebih stabil dan aksi meredakan
iritasi kulit darti sabun minyak kelapa; Ada 3 cara untuk menyiapkan shampoo sabun:

1. dasar sabun yang lengkap dapat dilarutkan dalam air


2. Asam lemak bebas dapat dinetralisasi dengan alkali
3. Sabun dapat disiapkan dengan mensaponifikasi lemak bebas

4. Shampo Gel

Jika kandungan bahan pengental dalam shampoo cair atau krim secara kuat ditingkatkan,
hasilnya produk seperti jelly yang transparan. Menurut Djikstra, dasar yang baik untuk tipe
ini dari penyiapannya terdiri dari bagian seimbang dari TEA lauryl sulfat dan TEA miristat.

5. Shampo Kering

Shampo kering menghasilkan jenis yang paling murah dari sediaan pembersih rambut. 5 g
serbuk deterjen cukup untuk satu penggunaan dan harga kemasan yang rendah juga lebih
praktis, lebih lagi, mudah untuk mengemas dalam bagian penggunaan tunggal yang pasti
untuk keuntungan (shampoo cair jernih dan shampoo cair krim juga dapat terdapat dalam

kemasan tunggal, walaupun metode ini pengemasannya terhitung mahal. Ini lebih popular
khususnya di Eropa). Pada pihak lain, ini adalah keuntungan shampoo kering yang bahan
kondisionernya rambut dapat ditambahkan pada batas jumlah yang dipilih. Dari deterjen
aktif, shampoo ini biasanya juga mengandung beberapa garam inorganic, karena garam ini
mempunyai reaksi alkali lemah dalam larutan (soda bikarbonat, borax), dapat
meningkatkan kekuatan pembersihan untuk tinghkat tertentu. Fungsi utamanya,
bagaimanapun adalah pengaruh fisiologis pada pembeli. Mereka meningkatkan volume
serbuk. Pengguna menemukan hanya satu sendok teh penuh dari serbuk dalam kemasan
shampoo sehingga pengguna merasa ditipu.

Formulasi Shampo

Setelah penggambaran sebelumnya dari banyak deterjen yang berharga untuk shampoo,
bagian formualsi tidak lengkap, hanya diindikasikan dari tipe. Dimana formula yang
diberikan didasarkan pada beberapa deterjen khusus, ini biasanya diasumsikan bahwa
deterjen lain atau campuran malahan dapat digunakan, membolehkan untuk beberapa
bahan karena kelarutannya, dsb. Dengan pengertian ini formula sederhana yang
digunakan sebagai dasar untuk formula berikutnya.

Sebagai catatan penting, bahwa konsumen di negara yang berbeda mempunyai ide yang
berbeda mengenai konsentrasiideal untuk shampoo. Di Inggris, untuk contoh,
kebanyakan konsumen lebih menyukai sejumlah besar shampoo cair. Dimana di Jerman
tampak bahwa konsumen mengharapkan untuk memperoleh beberapa shampoo dari
kemasan kecil yang agak baik. Perbedaan ini dalam kebiasaan social dan permintaan
membuat sulit untuk direkomendasikan tingkat deterjen yang mana akan cocok secara

universal. Formula yang ditemukan mengikuti hak paten Inggris dari 12-20 ml per
kepala.

Tipe shampoo di pasaran mengikuti kategori berikut:

1. Shampo cair jernih


2. Shampo krim cair
3. Shampo krim padat
4. Shampo serbuk
5. Shampo aerosol
6. Shampo kering (tipe serbuk)
7. Shampo kering (tipe cair

1. Shampo cair jernih

Shampo ini ada pada kebanyakan tipe yang popular, dan mempunyai variasi
penampilan dari formulasi yang paling baik. Dimana tidak ada gambaran yang
sangat jelas dari mayarakat yang mengharapkan shampoo cair jernih, hal ini dapat
dilihat bahwa formula ini dapat dibagi secara kasar ke dalam dua bagian besar dari
kekuatan membersihkan untuk rambut berminyak (yang mana dikategorikan
sebagai shampoo pembersih) dan karena dengan janji dari pembersihan, mereka
menyarankan bahwa rambut berada dalam keadaan baik setelah penyampoan. Hal
ini popular pada konsumen dengan rambut kering dan dapat disebut sebagai
shampoo kosmetik.

Tipe pembersih lebih mudah diformulasikan, karena hanya cocok untuk larutan
dari deterjen seperti TEA lauril sulfat atau lauril eter sulfa; TEA lauril sulfat
biasanya digunakan 30-33% Larutan dan 50 bagian dari ini, parfum, pewarna, dan
air hingga 100 bagian akan membuat bergerak, larutan jernih dengan kekuatan
pembusaan yang baik untuk produk yang lebih kental, eter sulfat mungkin
digunakan.

Kebanyakan shampoo pengobatan di pasaran termasuk dalam kelas ini dan


mereka dibuat dengan dasar pembersihan dan penambahan germisida. Shampo
yang tertinggal pada kulit kepala dan rambut untuk waktu yang singkat, germisida
harus pada tipe yang nyata, sehingga dapat meninggalkan kulit kepala dan
menghasilkan aksi. Bahan yang cocok adalah Hexacloropen pada 0,2-1%, lebih
detail dapat ditemukan pada chapter antiseptik dan pengawet.

Tipe kosmetik dari shampoo cair dapat diformulasikan dengan mengoleksi


deterjen direkomendasikan untuk efek baik setelahnya seperti metil laurina,
amfoterik, dsb. Dan juga dari lauril sulfat dengan penggunaan tambahan alkohol
amida.

2. Shampo krim cair


Shampo bentuk ini adalah bentuk yang khusus dari kelas kosmetik, karena
masyarakat berharap shampoo ini menjadi sangat lembut dalam aksinya pada
rambut. Kemunculan dari krim cair ini diperhitungkan untuk memberi kelembutan,
karena tidak bijaksana untuk memasukkan sangat banyak bahan berlemak ke dalam

produk seperti ini, atau rambut akan menjadi berminyak lagi setelah penggunaan
Pengopak biasanya ditambahkan untuk mengubah shampoo, kosmetik tipe cair
jernih ke dalam shampoo krim cair adalah stearat non ionic, seperti propilenglikol
stearat, polietilenglikol 400 distearat atau dietilenglikol stearat, bersama dengan
logam stearat yang tidak larut, seerti Mg, Zn, atau Cu stearat; penambahan yang
terakhir ini karena ester glikol cenderung larut kembali dalam shampoo pada suhu
yang panas kemudian shampoo lebih berkabut daripada krim.

Sementara krim cair secara nyata adalah emulsi, lotion susu ini adalah emulsi yang
sangat larut dan dengan melarutkannya dianggap bahwa tidakakan mempunyai sifat
warna putih dari emulsi atau merupakan larutan atau dispersi dari bahan bahan
dalam air. Jadi, untuk alasan ini, pengopak ditambahkan untuk memberikan
penampilan putih seperti susu.

Shampo krim cair dan shampoo lotion susu adalah tipe yang sama secara essensial,
yang pertama biasanya adalah sesuatu yang mempunyai kekentalan lebih tinggi
daripada yang terakhir. Utamanya shampoo ini adalah emulsi. Bagaimanapun pada
saat ini bahwa pengopak ditambahkan dan menghasilkan produk dan biasanya
dipilih sebagai lotion atau shampoo susu. Ada beberapa deterjen digunakan dalam
formulasi cair ini, dan ini sama baiknya dengan tipe pasta, sedikit pilihan
ditunjukkan untuk lemak alkohol sulfat. Bahan pelembut rambut ditambahkan
dalam kasus ini, juga adalah bahan yang didesain untuk memberikan bentuk dan
untuk pengemulsi adanya lemak. Kebanyakan krim cair ini mempunyai beberapa
polietilenglikol larut air sebagai bahan pembentuk, pendispersi, dan penstabil busa,

biasanya bahan pengemulsi yang digunakan adalah TEA, etanolamin lain yang
berhubungan dari amino glikol, 2-amino 2-metil-1,3 propandiol. Sebagai contoh
bahan pelembut tertentu ditambahkan dalam emulsifikasi sebagai deterjen

Anatomi Rambut

Rambut adalah bagian tubuh yang terdiri dari satu bagian muncul dalam kulit (akarnya), dan
satu bagian keluar dari kulit (batang rambut), dimulai dari luar, penampang melintang dari
rambut dapat dilihat mengandung tiga lapis:

1. Kutikula terdiri dari sel keratin tipis pada sebelah dalam dan bekerja sebagai
proteksi/pelindung untuk mencegah kekeringan dan penetrasi dari bahan-bahan
asing. Kutikula dapat rusak oleh tekanan mekanik.
2. Korteks, terdiri dari serta yang tersusun secara longitudinal yang berikatan
bersama. Menurut Astbury, serat ini terjadi secara normal dalam bentuk lipatan
alfa. Jika rambut dilembutkan dan direnggangkan, rambut ini dapat tertarik
menjadi bentuk beta dan jika ini dilakukan secara lambat suatu serat dapat
diperpanjang 1,5 dari panjang aslinya. Lapisan ini mengandung bagian utama dari
pigmen rambut dan ruang udara. Korteks dapat ada pada bagian utama rambut,
strukturnya menentukan tipenya (lurus, keriting, ikal).
3. Medula disusun atas 3-4 lapisan seperti sel kubus yang mengandung keratohialin,
granul lemak, dan ruang udara. Lapisan tipis tidak mempunyai medulla.

Menurut Mod. Cosmet

1. Batang rambut adalah bagian yang memanjang ke luar pada permukaan kulit. Batang
rambut terdiri dari lapisan luar dari sel-selyang cenderung membelah, seperti kutikula,
disekeliling lapisan sel epitel tipis terdapat pigmen (ke korteks). Pusat dari korteks
dilewati oleh sebuah kolom dari sel yang sangat besar yang dibebankan (medulla) dalam
bentuk kanal pusat, yang mana inti yang dekat dengan papilla akan kehilangan intinya
dengan bertambahnya jarak. Larugo mengatakan bahwa rambut halus tidak mempunyai
medulla.
2. Akar rambut, yaitu bagian yang tertanam dinamakan akar. Akar mengandung pada
bagian paling bawahnya sebuah bola (konkau pada bagian bawah permukaan),
membentuk jalan melalui papilla dimana darah akan mengalir untuk memberi nutrisi
pada rambut. Setiap rambut dikandung di bawah permukaan kulit dalam suatu invasinasi
dari kulit yang disebut folikel. Ini terdiri dari kantung sempit dibentuk sebagian oleh
dermis dan sebagian oleh epidermis. Bahan pelapis yang paling luar yang disambung ke
bawah oleh lapisan malphigi, sementara yang paling dalam diperoleh dari lapisan tanduk
dari epidermis. Folikel ini bersambung dengan rambut, dan jika yang terakhir terlepas
dengan terpaksa pembentukannya mengikuti itu dan kemudian terlihat dengan mata
telanjang. Dasar dari kantung ini mengandung penampakan yang seperti jari, yang terdiri
dari jaringan penghubung dimana rambut baru akan tumbuh disebut sebagai papilla.

Folikel tidak berada dalam kulit kepala tetapi folikel duduk pada sudut sehingga
bagian dari rambut di bawah permukaan memiliki kemiringan yang alami dengan yang
lain. Ikatan pada sisi bawah pada setiap kemiringan folikel rambut adalah otot kecil tidak
mengelupas. Arrector pili, disebut karena dia adalah otot yang menyebabkan rambut
akhirnya tegak saat dikontraksi oleh rasa takut, dll.

Kelenjar sebaseus adalah struktur yang bulat terletak dalam dermis dan berhubungan
dengan folikel rambut, kecuali pada kelenjarpenis, kulit khatom, labia minor, dan bagian
merah dari bibir. Kelenjar sebaceous mensekresi senyawa lemak yang disebut sebum,
tempat dimana rambut akan menyerap dengan efek kapiler dan berfungsi memberikan
busa dan lunak, dan menjaga permukaan kulit lembut dan liat. Kondisi dari kelenjar
endokrin yang memberikan pengaruh yang baik dalam sekresi. Pada puberitas kelenjar ini
akan lebih efektif tetapi aktivitasnya biasanya menurun setelah umur pertengahan.

Bahan Utama

Karena komponen utama dalam shampoo adalah surfaktan (sabun dan deterjen sintetik) maka
tepat untuk mengulang kegunaan masing-masing, poerbedaan,dan keuntungannya.

Sabun, Umumnya didefinisikan sebagai garam dari asam lemak. Asalnya sabun
diperoleh dengan saponifiksi lemak alamimhewan dan lemak tumbuhan/nabati dan
minyak dengan alkali, seperti NaOH dan KOH. Baru-baru ini alkanolamida telah
digunakan.

Setelah beberapa tahun mungkin untuk memformulasikan shampoo sabun yang


didasarkan campuran dari minyak, sehingga diperoleh bagian yang meragukan dari asam
lemak.

Deterjen sintetik, Kecenderungan dari shampoo sabun untuk membentuk garam yang tidak larut
karena adanya gugus karboksilat terikat pada ujung rantai panjang hidrokarbon. Dengan
menghilangkan gugus ini,m bayak surfaktan yang mencegah pembusaan dan
pembersihan negatif dari sabun yang telah dikembangkan.

Deterjen sintetik secara normal, diklasifikasikan dengan kealamian gugus hidrofiliknya .


Anionik yang paling luas digunakan, dengan nono ionic sebagai pilihan kedua.

Anionik

Bagian hidrofilik dari surfaktan anionic membawa muatan negatif dalam larutan.
Deterjen ini umumnya lebih bagus dari kelas alin dalam istilah pembusaannya,
pembersihandan hasil akhir. Beberapa anggota kelas ini; o Alkil benzen sulfonat;
o alkil sulfat primer; o alkohol sulfat kedua; o alkil benzen polioksietilen sulfonat;
o monogliserida tersulfat; o alkohol eter sulfat; o Sarkosina; o sulfasuksinat; o
igepon; o Maypon.

Kationik

Deterjen kationik dipertimbangkan kurang terkenal dari anionic. Dengan


gugus ini, bagian hidrofilik dari senyawa ini bermuatan positif, biasanya adalah
garam ammonium kuartener.Kationik adalah deterjen yang umumnyakurang
aksinya, kasar untuk kulit dan mata, dan lebih mahal. Satu keuntungan bahwa
kationik memiliki aktivitas bakterisida. Beberapa tipe kationik adalah distearil
dimesik, ammonium klorida, dilauril dimetil ammonium klorida, diiso butyl
penoksietoksi etil dimetil benzil ammonium klorida, cetil trimetril ammonium
bromida, N-cetil piridin bromida dan benzetonium klorida.

Ketika anionic dan kationik dikombinasikan, sering sifat yang paling


banyak/buruk dari keduanya dihasilkan. Anionik kehilangan sifat pembusaannya
dan kationik kehilangan aktivitas bakterisidnya yang mungkin telah dimiliki.

Amfoter

Meskipun kationik dan anionic tidak bercampur, mungkin untuk


mengkombinasikan gugus pembentuk anion dengan gugus pembentuk kation
dalam molekul deterjen yang sama dan memperoleh produk yang berguna. Ini
disebut deterjen amfoterik (amfofilik) atau zwitter ion.

Non ionic

Kelas kedua yang paling luas digunakan dari deterjen sintetik adalah
nonionic. Non ionic busanya rendah, bagaimanapun telah dibatasi penggunaannya
sebagai komponen utama formula. Non ionic mempunyai ketahanan yang sangat
baik terhadap air sadah, juga air laut, sama efektifnya dalam larutan alkali/basa,
dan umumnya lembut pada kulit.

Kombinasi sabun-deterjen sintetik

Kebanyakan shampoo didasarkan pada kombinasi formula sabun dan


deterjen sintetik, kekurangan air sadah dari sabun dapat diatasi secara baik dan
sifat kosmetik dari shampoo yang dihasilkan adalah modifikasi dari kombinasi
ini.

Zat tambahan Shampo

Peningkatan jumlah senyawa yang telah dikembangkan memperbesar pada penampilan dari
shampoo. Ini dapat mempengaruhi busa, perasaan, konsistensi atau hasil akhir yang diberikan
untuk shampoo. Kebanyakan dilindungi oleh hak paten, dan ilmu pengetahuan lainnya

dirahasiakan. Beberapa zat tambahan yang paling dikenal adalah sebagai berikut menurut
fungsinya:

Pembentuk busa

Pembentuk busa atau penstabil busa adalah bahan yang ketika ditambahkan ke dalam
formulasi meningkatkan kualitas, volume, dan kestabilan busa. Sering bahan ini juga
keran viskositas dan memberikan sedikit efek melembutkan pada rambut. Dasar dari
pembentuk busa adalah asam lemak alkalonamida (seperti lauril dietanolamida, lauil
monoetanolamida, coconut monoetanolamida), super amida, lemak alkohol dalam
konsentrasi rendah dan pada jumlah sedikit sarkosinat, dan fosfat.

Bahan pelembut

Perbedaan antara surfaktan yang biasanya dengan hampo terletak pada aksi akhir atau
pelembutan dari shampoo. Kebanyakan surfaktan membersihakn rambut dengan baik
sehingga menjadi bercahaya dan mengkilap. Bahan pelembut menyaluti rambut dengan
sejumlah kecil bahan yang memperbaiki sifat penanganan dari serat rambut atau
melicinkan rambut untuk tergelincir dan kehalusannya.

Bahan pengopak

Karena shampoo krim dan lotio mencatat untuk bagian yang besar dari konsumsi total
shampoo, ada ketertarikan yang besar pada bahan ini. Pengopak yang paling dikenal
termasuk alkohol tinggi, seperti stearil dan cetil alkohol, dan asam kuat seperti asam
beneat (22 karbon).

Bahan penjernih

Kebutuhanakan bahan penjernih sama besarnya dengan bahan pengopak, karena shampoo
jernih merupakan bentukyang paling popular. Umumnya Bahan pelarut membentuk,
memelihara kejernihan shampoo pada range suhu yang luas. Pemeliharaan harus dilatih
dalam pemilihan seragam dari tipe ini. Bahan ini harus dicek untuk kemungkinan iritasi
mata dan toksisitasnya. Beberapa contoh dari bahan ini adalah butyl alkohol, isopropyl
alkohol, terpineol, dietilenglikol, propilenglikol, dan dietil carbitol.

Bahan sequestrant

Untuk mencegah pembentukan kapur sabun, ada dua pertimbangan, yaitu pembentukan
sabun kalsium/magnesium tidak larut saat shampoo dicampur dengan air sadah, dan
pengendapan lapisan sabun kapur saat rambut bershampo dibilas dengan air sadah. Pada
kasus terakhir, batas-batas bagian shampoo mungkin dibilas denagn sebanyak 25-50
bagian akhir.

Bahan anti ketombe

Ada banyak shampoo antiketombe di pasaran, kebanyakan didasarkan pada bahan


antimikroba dalam alam. Shampoo mengandung sejumlah kecil bahan efektif ini, yang
berhubungan dengan kulit kepala dalam waktu singkat. Agar menjadi efektif bahan aktif
ini harus bekerja di lingkungan minyak-air pada kulit kepala dan berada di kulit kepala
untuk melanjutkan aktivitasnya. Karena itu, mudah dimengerti mengapa shampoo
antiketombe tidak cukup keefektifannya. Senyawa antiketombe tradisional termasuk
belerang, asam salisilat, hexakloroform, resorsinol, dan tar.

Bahan pengental

Masalah dalam kekentalan shampoo adalah tidak sesederhana dalam memilih gum
sintetik atau gum alam yang tepat. Karena banyak ester dan amida yang baik juga
memperbesar viskositas shampoo. Pada umumnya gum alam extrak, Tragakan, gum
akasia, dan gum locust bean juga digantikan oleh gum sintetik seperti
hidroksietilselulosa, metil selulosa, karboksimetilselulosa, dan carbopol, suatu karboksi
polimer vinil, tetapi jumlah sintetik ini harus digunakan dengan beberapa pemeliharaan
karena gum sintetik dapat membentuk lapisan pada rambut.

Pengawet

Ada masalah yang muncul dalam melindungi shampoo dari keburukan oleh aksi
bakteriatau jamur. Larutan atau bahan dari pemilihan pengawet yang tepat dari daftar
yang mungkin termasuk formaldehid, etanol, metil, propil, butyl hidroksibenzoat, fenil
merkuri asetat, fenil merkuri nitrat, Alkil anisol, alkil kresol, zat tambahan amida, dan
beberapa zat seperti parfum menunjukkan beberapa Aktivitas antibakteri.

Bahan penstabil lainnya

Kadang-kadang dibutuhkan untuk melindungi shampoo dengan menambahkan penstabil


yang diantaranya adalah antioksidan, sunscreen, bahan pensuspensi, dan bahan
pengontrol pH.

Bahan pereduksi melindungi produk dari kehilangan warna atau perubahan bau atau
karena oksidasi. Sunscreen, seperti benzophenol atau turunan benzotriazol mempunyai

sifat mengabsorbsi radiasi UV dan kemudian menurunkan kerusakan produk dari paparan
cahaya matahari. Bahan pensuspensi seperti veegum dan bentonit lain, menstabilkan
shampoo dimana partikel padat disuspensikan dalam cairan. Variasi bahan pengontrol
yang dapat sesederhana asam dan basa umum, melindungi produk dari perubahan warna,
bau, atau tingkat iritasi karena perubahan dalam pH.

Zat tambahan kosmetik lain

Semua shampoo memiliki parfum dan zat warna, untuk meyakinkan konsumennya
tentang penerimaan kosmetiknya dan beberapa kandungan zat tambahan seperti pemberi
warna atau pigmen seperti mutiara, untuk mempengaruhi penerimaan kosmetiknya.

Silika gel merpakan suatu bentuk dari silika yang dihasilkan melalui penggumpalan sol natrium
silikat (NaSiO2). Sol mirip agar - agar ini dapat didehidrasi sehingga berubah menjadi padatan
atau butiran mirip kaca yang bersifat tidak elastis. Sifat ini menjadikan silika gel ndimanfaatkan
sebagai zat penyerap, pengering dan penopang katalis. Garam - garam kobalt dapat diabsorpsi
oleh gel ini.
Silica gel mencegah terbentuknya kelembaban yang berlebihan sebelum terjadi. Para pabrikan
mengetahui hal ini, karena itu mereka selalu memakai silica gel dalam setiap pengiriman barangbarang mereka yang disimpan dalam kotak. Silica gel merupakan produk yang aman digunakan
untuk menjaga kelembaban makanan, obat-obatan, bahan sensitif, elektronik dan film sekalipun.
Jangan terlalu mengartikan gel dalam pengertian suatu produk yang bentuknya gel ataupun
silicon gel. Produk anti lembab ini menyerap lembab tanpa merubah kondisi zatnya. Walaupun
dipegang, butiran-butiran silica gel ini tetap kering.
Silica gel penyerap kandungan air bisa diaktifkan sesuai kebutuhan. Unit ini mempunyai
indikator khusus yang akan berubah dari warna biru ke merah muda kalau produk mulai
mengalami kejenuhan kelembaban. Saat itulah alat ini aktif. Setelah udara mengalami
kejenuhan/kelembaban, dia bisa diaktifkan kembali lewat oven. Sejak Perang Dunia II, silica gel
sudah menjadi pilihan yang terpercaya oleh pemerintah dan pelaku industri.

3 tahun lalu
Lapor Penyalahgunaan

Farmasi dan Dunia


pharmacist use pharmacy knowledge to change the world

Rabu, 16 Februari 2011


obat dan bentuk sediaan obat
Untuk menyembuhkan seseorang dari suatu penyakit, suatu terapi dapat dilakukan dengan atau tanpa
menggunakan obat. Terapi dengan menggunakan obat dikenal sebagai farmakoterapi atau kemoterapi.
Keamanan dan khasiat, serta rasionalitas pemakaian obat menjadi pertimbangan dalam proses suatu
terapi. Namun perlu diketahui bahwa obat tidak hanya digunakan untuk menyembuhkan (terapi) saja.
Obat merupakan suatu bahan, yang dapat merupakan bahan alam ataupun sintesis, yang dapat
digunakan untuk mempengaruhi sistem biologis pada tubuh manusia ataupun hewan, dengan tujuan
untuk menyembuhkan, mengurangi/menghilangkan gejala, mencegah, menegakkan diagnosis,
meningkatkan stamina maupun memperelok badan. Dalam hal ini obat didesain sebagai suatu sistem
yang terintegrasi untuk mencapai tujuan terapi secara aman, efektif dan efisien.
Secara umum, pengertian tentang obat dibedakan sebagai zat aktif (drug) dan sediaan obat (medicine).
Zat aktif merupakan zat yang memang terbukti memberikan efek farmakologis pada tubuh manusia atau
hewan dalam dosis tertentu. Zat aktif juga dikenal sebagai drug, active ingredient, dan active
pharmaceutical ingredient (API). Suatu proses penemuan obat (drug discovery) dilakukan untuk
memperoleh suatu zat aktif yang dibutuhkan, baik dari bahan alam, semisintesis maupun sintesis penuh.
Hal utama yang perlu diperhatikan dalam menemukan suatu senyawa aktif farmakologis tersebut adalah
terbuktinya keamanan dan khasiatnya. Perlu dipertimbangkan benefit to risk ratio dari senyawa aktif
yang baru tersebut.
Zat aktif sangat beragam dalam memberikan efek farmakologis. Zat aktif yang poten, hanya dibutuhkan
dalam jumlah yang sangat sedikit untuk memberikan efek farmakologis yang bermakna, tidak jarang
hanya berkisar microgram saja. Untuk membawa sejumlah kecil zat aktif tersebut, maka dibutuhkan
bahan lain yang dapat membawa zat aktif tanpa memberikan efek farmakologis (inaktif).
Zat inaktif adalah zat yang tidak memberikan efek secara farmakologis, namun dapat menunjang kinerja
penghantaran zat aktif pada aplikasi. Kinerja yang dimaksudkan dalam hal ini adalah:
1. Membawa zat aktif ke tempat pelepasan/lokasi aksi,
2. Memodulasi pelepasan zat aktif,

3. Meningkatkan stabilitas dan mempertahankan kualitas.


Zat inaktif juga dikenal sebagai excipients atau inactive ingredients.
Zat aktif dan inaktif yang disatukan dalam suatu kesatuan sistem dengan desain tertentu, dikenal
sebagai bentuk sediaan obat = BSO (drug dosage form). BSO pada prinsipnya merupakan suatu bentukan
yang membawa zat aktif menuju lokasi terapi atau tempat pelepasan zat aktif. BSO dikenal dengan
pengertian lain sebagai obat (medicine).
Kriteria suatu BSO secara umum adalah:
1. Aman
2. Stabil dalam penyimpanan menunjukkan kualitas fisik yang baik selama penyimpanan sesuai
dengan batasan kadaluarsanya
3. Dapat bercampur dengan zat aktif, mampu membawa dan melepaskan zat aktif pada lokasi
aksi/tempat pelepasan
4. Mampu melindungi zat aktif dari kemungkinan degradasi
5. Efektif, efisien, ekonomis
6. Dikemas dalam kemasan yang sesuai
Berdasarkan wujudnya, BSO dibedakan sebagai BSO solid, BSO liquid dan BSO semisolid.
Desain BSO memegang peranan penting terutama agar BSO dapat mendukung timbulnya efek
farmakologis suatu zat aktif secara repsodusibel dan agar BSO dapat diproduksi dalam industry skala
besar.
Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam desain suatu BSO antara lain:
1. Tujuan terapi dan kondisi anatomi fisiologi pasien.
2. Sifat fisikokimia zat aktif.
3. Pertimbangan biofarmasetis terkait kapasitas absorpsi untuk beberapa jenis zat aktif dalam berbagai
jenis jalur pemberian obat.
4. Desain kemasan sebagai alat yang mewadahi, memberikan proteksi, menjaga stabilitas produk,
memberikan informasi, dan mendukung kenyamanan penggunaan obat sehingga meningkatkan
kepatuhan pasien.
BSO merupakan bagian dari suatu sistem penghantaran obat.
Sistem penghantaran obat merupakan suatu sistem atau cara untuk membawa, menghantarkan dan
melepaskan obat pada tempat aksi / tempat pelepasan dengan aman, efektif dan efisien.
Pengertian aman dalam hal ini dimaksudkan bahwa efek obat yang tidak diinginkan (adverse effect)
dapat diminimalkan, dan juga bahwa zat aktif dilindungi dalam perjalanannya menuju lokasi
aksi/pelepasan.

Pengertian efektif dalam hal ini terkait dengan khasiat (efficacy) dari obat tersebut, sedangkan
efisien terkait dengan perhitungan dosis, frekuensi penggunaan obat dan lama waktu terapi yang
tepat, yang dapat memberikan imbas pada jumlah beaya terapi yang ditimbulkan.
Hal-hal yang terkait dalam suatu sistem penghantaran obat adalah:
1. BSO (termasuk sifat fisikokimia zat aktif maupun excipient),
2. Jalur pemberian obat,
3. Mekanisme pelepasan zat aktif dari BSO,
4. Pertimbangan bioavailabilitas (bagaimana zat aktif dapat mencapai sirkulasi sistemik dengan laju
dan jumlah yang memadai).
Sistem penghantaran obat didesain sedemikian rupa sehingga diharapkan mampu melaksanakan
fungsinya dengan baik. Sistem ini dikategorikan sebagai conventional delivery system dan advanced
delivery system. Dalam conventional delivery system, kondisi obat setelah dilepaskan dari BSO tidak
dimonitor, sedangkan dalam advanced system, pelepasan obat dimanipulasi, dikendalikan bahkan
diarahkan untuk dapat ditargetkan melepaskan zat aktif di dalam sel (targeting drug delivery untuk
pengobatan dengan menggunakan cancer chemotherapy).
Efek farmakologis suatu obat yang dikehendaki pada suatu terapi sebagai akibat berjalannya sistem
penghantaran obat, dapat dibedakan dalam 2 hal, yaitu: efek local (setempat) dan efek sistemik
(terabsorpsi ke- atau langsung melalui peredaran darah, terdistribusi ke seluruh bagian tubuh). Efek
local dapat dicapai terutama dengan jalur pemberian topical (diaplikasikan pada permukaan kulit dan
atau selaput mukosa) dan jalur parenteral khusus (sub plantar / ginggival selama tidak terabsorpsi
masuk ke pembuluh darah), sedangkan efek sistemik dapat dicapai terutama dengan jalur oral (telan
zat aktif terabsorpsi melalui membrane dinding usus), parenteral (intravascular atau ekstravaskular)
atau transdermal
Pada prinsipnya pembeda dari efek local ataupun sistemik adalah apakah zat aktif tersebut diarahkan
menuju ke pembuluh darah atau tidak. Selama obat tersebut tidak diberikan secara intra vascular
(langsung ke sirkulasi sistemik via pembuluh darah) atau terabsorpsi melewati pembuluh darah, maka
efek yang timbul adalah efek local.
BENTUK SEDIAAN SOLID
Bentuk sediaan solid merupakan BSO yang memiliki wujud padat, kering, mengandung satu atau lebih
zat aktif yang tercampur homogen.
Bentuk sediaan solid memiliki suatu keunggulan jika dibandingkan dengan bentuk sediaan liquid, yaitu
bahwa dengan keringnya bentuk sediaan tersebut, maka bentuk sediaan tersebut lebih menjamin
stabilitas kimia zat aktif di dalamnya, sedangkan kelemahan dari bentuk sediaan ini adalah: pada
penggunaan oral (telan), pemberian bentuk sediaan ini pada beberapa pasien terasa cukup menyulitkan,

perlu disertai dengan cairan untuk dapat ditelan dengan baik.


Jika dibandingkan dengan bentuk sediaan semisolid, dalam pemakaian topical, maka bentuk sediaan
solid ini memiliki keunggulan bahwa pemberiannya cukup ditaburkan pada kulit dengan area permukaan
yang luas, sedangkan kelemahannya adalah bahwa serbuk lebih cepat hilang dari permukaan kulit /
waktu tinggal pada permukaan kulit tidak lama.
Banyak ragam bentuk sediaan solid dalam dunia kefarmasian, antara lain: serbuk, tablet, kapsul, pil,
suppositoria.
A. SERBUK
Serbuk, dalam dunia kefarmasian, ada yang berfungsi langsung sebagai bentuk sediaan, ada yang
berfungsi sebagai bahan penolong bagi bentuk sediaan yang lain.
Yang berfungsi langsung sebaga bentuk sediaan, lebih dikenal dengan istilah sediaan serbuk. Sediaan
serbuk ini dibedakan menjadi 2, yaitu :
1. Pulveres / puyer serbuk terbagi
Pulveres biasa diberikan dalam suatu resep racikan. Pulveres merupakan sediaan padat yang berbentuk
serbuk, yang dikemas dalam beberapa bungkus kertas perkamen, sesuai dengan jumlah yang tertulis
pada resep, biasa digunakan untuk pemakaian oral. Dengan pulveres, dokter dapat lebih leluasa
menentukan jenis dan dosis obat yang dicampurkan. Suatu tanggungjawab bagi apoteker untuk
memastikan bahwa campuran tersebut tidak menunjukkan inkompatibilitas (ke-tak tercampur-an) yang
merugikan. Apoteker dapat menambahkan bahan inaktif sebagai pengisi atau penyamar rasa pahit,
seperti misalnya amylum, saccharum lactis/lactose, atau saccharum album (gula halus). Namun, yang
perlu diperhatikan adalah sifat higroskopisitas dari saccharum album, mengingat syarat / kriteria sediaan
pulveres adalah : aman, kering, homogen, halus dan mudah mengalir (free flowing).
Resep pulveres dapat dituliskan dalam 2 cara:
a. Dengan penambahan dtd pada permintaan pembuatan sediaan
Contoh:
R/ A 40 mg
B

50 mg

Sacch.lact q.s

m.f. pulv dtd No XII


dtd merupakan singkatan dari pernyataan da tales doses yang berarti berikan sesuai dengan
takarannya.
Dengan demikian, berarti tiap bungkusnya terkandung 40mg A dan 50 mg B
b. Tanpa penambahan dtd pada permintaan pembuatan sediaan
Contoh:
R/ A

500 mg

100 mg

Sacch.lact q.s
m.f. pulv No XII
Dengan pemberian ini maka 500 mg A dan 100 mg B dicampur homogen bersama Sacch lactis
secukupnya untuk kemudian dibagi sejumlah bungkus yang diminta dalam resep.
Untuk mendapatkan suatu sediaan pulveres yang homogen, maka pencampuran perlu dilakukan dalam
mortar dan menggunakan stamper untuk menggilas dan mencampur, terlebih-lebih apabila zat aktif
tersebut ada dalam tablet-tablet trituratio.
Untuk memudahkan pemberian kepada pasien, pulveres dapat dicampurkan pada makanan atau sedikit
air yang berasa manis (madu, sirup).
2. Pulvis serbuk tidak terbagi
Pulvis merupakan sediaan serbuk tidak terbagi, yang biasanya dimaksudkan untuk pemakaian luar /
ditaburkan (pulvis adspersorius=serbuk tabur).
Dalam suatu peresepan, hal utama yang dapat dijadikan ciri untuk membedakan apakah resep tersebut
untuk pulveres atau pulvis adalah pada ada tidaknya No.(numero) pada permintaan pembuatan
sediaan.
Kriteria dari serbuk tabur (pemberian topical) ini antara lain:
a. Aman tidak iritatif, tidak allergenic, tidak komedogenic/acnegenik
b. Homogen

c.
d.
e.
f.

Kerin
Halus (diayak dengan ayakan nomor 100)
Kering (tidak lembab/basah)
Melekat pada kulit dengan baik

Salah satu metode pencampuran yang dilakukan dalam skala peracikan untuk pulvis adalah geometric
dilution. Pada metode ini, bahan yang akan dicampurkan diambil sama banyak dengan yang telah
berada di mortar, dicampur homogeny, demikian seterusnya sampai semua bahan dipindahkan kedalam
mortar.
Untuk keperluan menunjang pembuatan bentuk sediaan yang lain, serbuk dikategorikan menjadi
beberapa tingkat sesuai dengan ukuran serbuknya mulai 10 mm 1 micron1
Ukuran serbuk dinyatakan dengan bilangan yang biasanya diikuti dengan mesh. Mesh merupakan
ukuran pengayak dalam artian bahwa ukuran 100 mesh menunjukkan bahwa dalam 1 inchi (2,54 cm)
panjang kawat pengayak melintang memuat lobang ayakan sebanyak 100 buah.
Untuk serbuk dengan 2 bilangan ukuran (misal 40/60) maka diartikan bahwa serbuk tersebut dapat
melewati pengayak nomor 40 dan tidak lebih dari 40% melewati pengayak nomor 60 2.
Dalam dunia kefarmasian dikenal pula serbuk yang bersifat higroskopis, deliquescent dan serbuk
efflorescent. Serbuk higroskopis merupakan serbuk yang mampu menangkap uap air di lingkungan,
sehingga serbuk menjadi basah. Serbuk yang bersifat deliquescent adalah seperti serbuk higroskopis
namun kemampuan menyerap airnya sangat tinggi, sehingga sejumlah air yang ditangkap justru
melarutka serbuk tersebut. Serbuk efflorescent merupakan serbuk dari senyawa yang memiliki air
kristal, yang pada kondisi kelembaban lingkungan yang rendah justru dapat melepaskan air kristal dari
strukturnya, sehingga serbuk menjadi basah 3.
Arti penting memahami sifat-sifat serbuk ini adalah apabila sekiranya kita meracik suatu sediaan serbuk,
kita harus pastikan sifat-sifat bahan yang kita racik, karena jika bahan-bahan tersebut memiliki sifat
seperti di atas, maka dapat dipastikan kualitas sediaan kita kurang dapat terjaga dalam penyimpanan.
TABLET
Tablet merupakan sediaan padat yang kompak, mengandung satu atau lebih zat aktif, mempunyai
bentuk tertentu, biasanya pipih bundar, yang dibuat melalui proses pengempaan atau pencetakan.
Kaplet merupakan modifikasi bentuk dari tablet yaitu tablet yang berbentuk kapsular.
Menurut mekanisme disintegrasi (penghancuran) sediaan/pelepasan zat aktif, maka tablet dapat
dibedakan menjadi:
1. Fast disintegrating tablet

Tablet jenis ini mengalami disintegrasi dan pelepasan zat aktif yang sangat cepat saat bersentuhan
dengan cairan (saliva, jika diletakkan di atas lidah). Tablet ini didesain untuk mengakomodasi pasienpasien geriatric yang mengalami kesulitan dalam menelan tablet biasa (immediate released tablet).Biasa
didesain dalam ukuran yang cukup kecil.
2. Chewable tablet (tablet kunyah)
Tablet ini dimaksudkan untuk dikunyah terlebih dulu sebelum ditelan, untuk membantu mempercepat
proses disintegrasi dalam lambung. Biasanya tablet ini mengandung zat aktif dan atau eksipien dalam
jumlah besar sehingga tablet ini bervolume besar, sehingga tidak memungkinkan untuk ditelan langsung
tanpa dikunyah terlebih dulu. Tablet dipastikan tidak memiliki kekerasan yang terlalu tinggi untuk
memfasilitasi proses penguyahan dengan mudah. Contoh : tablet antasida
3. Troches/Lozenges (tablet hisap)
Tablet ini dimaksudkan untuk terdisintegrasi pelan-pelan sehingga bertahan lama dalam rongga mulut,
sebagaimana halnya gula-gula. Contoh: tablet hisap Vitamin C
4. Immediate released tablet
Tablet ini dimaksudkan untuk langsung ditelan dengan bantuan cairan atau makanan. Tablet ini akan
terdisintegrasi dalam lambung selama kurang dari 15 menit untuk dapat segera melepaskan zat aktifnya.

5. Sustained released tablet


Tablet ini juga dimaksudkan untuk lansung ditelan, namun diforumulasikan sedemikian rupa sehingga
dapat terdisintegrasi secara perlahan pada lambung dan usus, sehingga dapat melepaskan zat aktif
secara bertahap dalam waktu yang cukup lama. Tablet ini dimaksudkan untuk memfasilitasi
pengurangan frekuensi minum obat dari pasien. Hal ini akan sangat membantu treutama bagi pasien
geriatric.
6. Delayed release tablet
Tablet ini juga langsung ditelan, namun didesain untuk memberikan pelepasan zat aktif yang tertunda,
contoh: enteric coated tablet dan pulsatile released tablet
7. Dispersed tablets
Tablet ini dimaksudkan untuk didispersikan terlebih dulu dalam sejumlah cairan, sebelum ditelan.

Maksud didispersikan terlebih dulu adalah untuk lebih memfasilitasi proses disintegrasi dan distribusi
zat aktif terlarut dalam cairan lambung maupun usus.
8. Effervescent tablets
Disintegrasi tablet ini difasilitasi oleh reaksi saturasi (pendesakan oleh gas CO2 yang terjadi dari reaksi
asam lemah (asam sitrat/asam tartrat/asam fumarat) dan garam berkarbonat (NaHCO3/Na2CO3) yang
ada dalam tablet, saat bersentuhan dengan air). Untuk itu, effervescent tablet tidak boleh langsung
ditelan, namun harus di larutkan dulu dalam segelas air dingin. Gas CO2 yang masih ada dalam larutan
tersebut dapat berfungsi sebagai penyegar (sebagaimana CO2 dalam soft drink) dan dapat
menyamarkan rasa pahit, sehingga effervescent tablet ini biasa digunakan untuk minuman tonik yang
mengandung vitamin atau suplemen makanan yang larut air
Menurut lokasi pelepasan zat aktif , tablet dapat dibedakan menjadi:
1. Tablet oral
Tablet oral adalah tablet yang dimaksudkan untuk ditelan, sehingga tablet akan terdisintegrasi dalam
saluran cerna

2. Tablet buccal
Tablet ini diletakkan pada rongga mulut, antara gusi dan mukosa pipi (diaplikasikan secara topical pada
selaput mukosa mulut) untuk mendapatkan onset yang cukup cepat dan mengingat bahwa zat aktif
mudah terdegradasi oleh asam lambung
3. Tablet sublingual
Tablet ini diletakkan di bawah lidah secara topical, dengan maksud yang sama dengan aplikasi tablet
buccal. Namun mengingat struktur sel yang lebih renggang, maka absorpsi obat pada sublingual relative
lebih cepat daripada di daerah buccal, sehingga onset diperkirakan dapat lebih cepat. Kelemahan dari
penempatan di bawah lidah ini adalah kondisi anatomis bawah lidah yang dapat mengakibatkan resiko
cepat hilangnya zat aktif sebagai akibat sekeresi dan mobilisasi saliva.
Berdasar keberadaan salut, tablet dapat dibedakan menjadi:
1. Tablet tak bersalut (uncoated tablets)
Tablet ini tidak ada penyalutan sama sekali, sehingga hanya mengandalkan kelicinan permukaan tablet
hasil pengempaan. Jika zat aktif mudah larut air dan berasa pahit, jika tablet kontak dengan saliva, rasa

pahit tidak akan bisa ditutupi. Hal ini menjadi tidak akomodatif untuk anak-anak.
2. Tablet bersalut gula (sugar coated tablets = dragee)
Dari istilahnya, dapat diketahui bahwa tablet tersebut disalut dengan gula dengan desain dan proses
penyalutan tertentu. Tujuan penyalutan gula lebih pada untuk menyamarkan rasa dan bau, melindungi
terhadap radiasi UV matahari (yang dapat memberikan reaksi degrdasi pada zat aktif yang peka), selain
memberikan rasa manis dan warna yang menarik yang membantu proses pemberian obat, terutama
untuk anak-anak. Mengingat penyalutan dilakukan berkali-kali, maka tablet salut gula terlihat bervolume
sedikit lebih besar, sebagai akibat tebalnya penyalutan gula tersebut. Hal yang perlu diperhatikan adalah
bahwa tablet salut gula tidak sesuai jika diberikan kepada pasien yang menderita diabetes maupun pada
pasien yang melakukan diet rendah gula. Selain itu sifat hiroskopisitas dari gula perlu dipertimbangkan
terutama dalam mendesain kemasan maupun memberikan instruksi penyimpanan, agar terhindar dari
lembab.
3. Tablet bersalut film (film coated tablets)
Saat ini mulai dikembangkan tablet bersalut film sebagai komplemen dari salut gula. Film penyalut
terbuat dari polymer yang aman dimakan (edible), namun tidak berasa. Penyalutan dengan film
menghasilkan tablet yang mengkilap, licin, namun masih menunjukkan bentuk dan warna asli dari tablet
inti. Karena penyalutan tidak perlu berkali-kali, maka volume tablet salut film tidak berbeda jauh dari
tablet intinya. Tablet (atau kaplet) salut inti sesuai diberikan untuk pasien diabetes maupun pasien
dengan diet rendah gula. Jika salut film transparan, maka penyalutan tidak dapat menghindarkan tablet
dari paparan UV matahari.
4. Tablet bersalut enterik (enteric coated tablets)
Tablet ini dimaksudkan untuk mengalami pelepasan zat aktif yang tertunda. Zat aktif pada dasarnya
tidak boleh terlepas pada saat tablet berada di lambung, karena kemungkinan bahwa zat aktif tersebut
mudah rusak oleh asam lambung atau memberikan efek iritasi yang tidak dikehendaki pada lambung.
Salut enteric ini dibuat sedemikian rupa sehingga salut tersebut tahan terhadap pH asam (di lambung),
namun akan rusak terhadap pH basa (di usus). Mengingat konsep ini, maka jika pasien akan
mengkonsumsi tablet jenis ini, perlu dipastikan bahwa pasien tersebut tidak mengkonsumsi tablet ini
bersamaan dengan makanan/minuman yang bersifat basa.
Menurut cara pembuatannya tablet dibedakan menjadi:
1. Tablet cetak
Pada tablet cetak, tablet dicetak dari massa bahan yang lembab, lalu dikeringkan. Metode pembuatan
tablet ini tidak melibatkan tekanan yang tinggi. Metode ini sesuai untuk bahan yang tahan panas dan
lembab, yang dimaksudkan untuk skala kecil pentabletan. Tablet yang dihasilkan memiliki tingkat

kekerasan yang rendah.


2. Tablet kempa.
Untuk tablet kempa, tablet dikempa dari campuran bahan yang kering, dikempa dalam suatu instalasi
mesin pentabletan dengan tekanan kempa yang cukup tinggi. Metode kempa ini memungkinkan untuk
tablet dapat diproduksi delam skala besar (industry) dengan cepat dan reproducible.
Tablet, terutama tablet kempa, memiliki keunggulan pada keakuratan dosis yang dihasilkan, mengingat
pembuatan tablet dilakukan secara otomatisasi mesin. Selain itu, stabilitas zat aktif lebih terjaga terkait
dengan minimumnya kontak zat aktif dengan lingkungan/atmosfer. Bentuk dan warna yang atraktif dari
tablet memberikan ciri dan penampilan yang lebih meyakinkan (contoh: tablet hisap vitamin untuk
anak-anak yang berbentuk berbagai macam binatang, dengan warna yang disukai anak-anak). Bentuk
yang kompak dan praktis juga memberikan keunggulan tersendiri untuk tablet sehingga memudahkan
dalam pengemasan maupun pengeluaran tablet dari kemasan.
Adapun kelemahan dari sediaan tablet adalah tidak sesuai diberikan pada pasien yang tidak kooperatif
dalam menelan sediaan padat kompak (kesulitan menelan sediaan padat kompak, keadaan pingsan), jika
tablet dimaksudkan untuk ditelan.
Pada pembuatan tablet kempa, beberapa sifat fisik campuran yang akan ditablet perlu
dipertimbangkan, yaitu:
1. Sifat alir
2. Kompresibilitas dan kompaktibilitas
3. Ketahanan terhadap panas, lembab atau tekanan tinggi
Dua metode dikenal dalam pembuatan tablet kempa, yaitu metode kempa langsung dan granulasi.
Industri cenderung memilih metode kempa langsung karena kepraktisan dan kecepatannya. Namun,
apabila sifat alir ataupun kompresi-kompaktibilitas bahan campuran yang akan dikempa tidak baik,
maka memilih metode kempa langsung akan menjadi suatu kerugian. Dua sifat utama campuran
tersebut perlu dipastikan atau diusahakan.
Secara umum, eksipien yang digunakan dalam pembuatan tablet adalah:
1. bahan pengikat (binder), dengan fungsi mendukung kekerasan tablet dan kekuatan ikatan tablet
bagian tepi (sebagai lawan dari kerapuhan) melalui pengikatan antar partikel yang intensif contoh:
muscilago amyli 10%, larutan polyvynilpyrolidon (PVP)
2. bahan penghancur (disintegrant), dengan fungsi mendukung disintegrasi tablet saat bersentuhan
dengan cairan lambung, contoh: amylum, Dicafos

Bahan penghancur perlu diberikan, untuk menjamin bahwa tablet tidak hanya mampu membawa obat
dalam bentuknya, namun mampu melepaskan obat di lokasi pelepasan dengan baik.
3. bahan pengisi (filler/diluents), dengan fungsi menambah massa dan volume tablet sehingga dapat
dikempa dengan ukuran punch dan die yang sudah ditentukan, contoh: lactose
Saat ini telah dikembangkan bahan pengisi yang juga berfungsi sebagai pengikat, dengan sifat alir dan
kompaktibilitas yang bagus, dikenal sebagai filler-binder, sebagai eksipien yang mendukung proses
kempa langsung, contoh: Avicel PH 102
4. bahan pelicin (lubricant/anti adherent), berfungsi untuk memperlancar proses pengeluaran tablet
dari die contoh: Mg stearat, talk.
Yang perlu mendapat perhatian lebih adalah bahwa tidak semua bahan penolong tersebut inert.
Formulator perlu mewaspadai kejadian inkompatibilitas yang mungkin terjadi antara eksipient dengan
zat aktif.
Jika bahan-bahan yang akan dikempa ternyata memiliki sifat alir atau kompaktibilitas yang tidak baik,
maka jika mencari bahan lain ternyata justru lebih mahal beaya produksinya, perlu dilakukan usaha
untuk memperbaiki sifat alir dan kompaktibilitas dengan cara melakukan suatu granulasi. Granulasi yang
dilakukan dapat berupa granulasi basah atau granulasi kering (berdasarkan wujud bahan pengikatnya,
apakah cair atau padat).
Granulasi kering pada prinsipnya dilakukan dengan cara melewatkan campuran dengan bahan pengikat
kering pada suatu roller compactor atau slugger bertekanan sangat tinggi, untuk mendapatkan papan
(compacted materials) atau tablet besar hasil slugging (slugs), yang kemudian papan atau slugs tersebut
dihancurkan hingga mencapai granul ukuran tertentu.
Granulasi basah dapat dilakukan dengan metode tray, dengan cara mencampur bahan-bahan yang akan
digranul dengan bahan pengikat cair, sehingga didapat massa yang lembab. Setelah itu massa dibentuk
granul dengan cara dilewatkan pada suatu granulator. Granul basah yang terbentuk lalu ditimbang
sesaat sebelum dikeringkan. Setelah granul mongering, granul tersebut ditimbang untuk dapat
menentukan proporsi penambahan bahan-bahan lain sesuai dengan formula. Selain itu, granulasi basah
juga dapat dilakukan dengan metode fluid bed granulator dengan menyemburkan serbuk-serbuk bahan
padat dari bagian bawah dan menyemprotkan bahan pengikat cair dari bagian atas granulator, lalu
dikeringkan secara simultan sehingga didapat granul kering yang diinginkan. Metode ini sangat praktis
dilakukan dalam skala industry dengan memperhatikan antara lain kapasitas granulator, setting tekanan
penyemburan dan laju peneyemprotan, ukuran droplet bahan pengikat, dan viskositas bahan pengikat.
Untuk menjaga kualitas fisik dari tablet kempa maka perlu dilakukan suatu kontrol kualitas fisik tablet
dalam hal:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tampilan (bentuk, warna, kualitas permukaan) dan ukuran (ketebalan, diameter)


Keseragaman bobot dan keseragaman kandungan
Kekerasan tablet
Kerapuhan tablet
Waktu hancur tablet
Disolusi tablet

A. KAPSUL
Yang menjadi ciri khas dari sediaan solid ini ini adalah adanya cangkang yang terbuat dari gelatin atau
selulosa, yang digunakan untuk mewadahi sejumlah serbuk zat aktif atau cairan obat dan untuk
menutupi rasa dan bau yang ditimbulkan oleh zat aktif.
Kapsul dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Kapsul keras
Cangkang kapsul keras terdiri dari dua bagian terpisah yaitu badan dan tutup, yang dapat disatukan.
Kapsul keras digunakan untuk memfasilitasi satu atau lebih zat aktif dalam bentuk serbuk padat yang
tercampur homogen dengan eksipien, yang dibuat baik dalam skala racikan ataupun industry. Karena
cangkang kapsul keras kebanyakan terbuat dari gelatin maka penyimpanan kapsul harus dihindarkan
dari lembab, dan serbuk yang akan dikapsul perlu dipastikan bukan serbuk yang higroskopis, atau
deliquescent, atau efflorescent.
Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi mulai 00-0-1-2-3-4-5. Cangkang yang paling besar ditunjukkan
dengan ukuran 00. Untuk kapsul dengan satu jenis zat aktif dalam jumlah < 200 mg, cangkang mulai
nomor 2 sampai dengan 5 dapat digunakan, sedangkan untuk keperluan peracikan, cangkang kapsul
yang biasa digunakan adalah 1, 0 atau 00.
2. Kapsul lunak
Kapsul lunak digunakan untuk mengakomodasi cairan-cairan non aqueous, seperti misalnya: minyak,
gliserin karena kapsul tersegel penuh dan tidak terdiri dari bagian-bagian yang terpisah. Namun, kapsul
lunak harus diproduksi dalam skala industry (manufacturing scale) untuk menjamin kualitas integritas
penyegelan penuh (full sealing) pada kapsul lunak tersebut.
B. PIL
Pil merupakan sediaan solid yang berbentuk bulat dengan berat sekitar 100-500 mg, biasanya 300 mg,
mengandung satu atau lebih zat aktif. Sediaan padat bulat dengan masaa < 100 mg dikenal dengan
istilah granul, sedangkan yang lebih dari 500 mg dikenal dengan istilah boli (untuk hewan ternak).

Sediaan pil masih digunakan dan dikembangkan dalam industri obat tradisional dalam hal ini jamu dan
obat herbal terstandar, serta makanan suplemen. Zat aktif yang dibuat pil kebanyakan merupakan
simplisia tanaman yang telah dihaluskan atau.sudah berwujud ekstrak. Bahan lain yang digunakan dalam
pembuatan pil ini adalah: bahan pengikat, bahan pengisi, bahan penghancur dan bahan penyalut.
Kontrol kualitas sediaan pil juga dilakukan dengan aspek yang hamper sama dengan yang dilakukan
untuk sediaan tablet, yaitu penampilan dan ukuran, keseragaman bobot, kekerasan dan waktu hancur.
C. SUPPOSITORIA
Suppositoria merupakan sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang larut
ataupun terdispersi pada bahan pembawa, dimaksudkan untuk pemakaian luar (pada rongga tubuh),
berbentuk torpedo (per anal), atau elips (per vaginal) atau batang (per urethral).
Suppositoria didesain untuk:
1. terapi dengan efek lokal pada bagian anal (contoh: hemorrhoid) atau vaginal (contoh: candidiasis)
2. terapi dengan efek sistemik (suppositoria anal) sebagai alternative pengobatan melalui anal bagi
pasien yang tidak kooperatif terhadap pengobatan oral (keadaan pingsan atau mengalami emesis)
Mekanisme pelepasan zat aktif dari suppositoria adalah dengan pelelehan suppositoria pada suhu tubuh
(jenis basis: oleum cacao, Witepsol) atau penglarutan suppositoria pada cairan anal/vaginal (jenis basis:
Polietilen glikol, gliserogelatin).
BENTUK SEDIAAN LIQUID
Bentuk sediaan liquid merupakan sediaan dengan wujud cair, mengandung satu atau lebih zat aktif yang
terlarut atau terdispersi stabil dalam medium, yang homogen pada saat diaplikasikan.
Bentuk sediaan liquid dalam konsistensi cairnya, memiliki keunggulan terhadap bentuk sediaan solid
dalam hal kemudahan pemberian obat terkait sifat kemudahan mengalir dari sediaan liquid ini. Selain
itu, dosis yang diberikan relative lebih akurat dan pengaturan dosis lebih mudah divariasi dengan
penggunaan sendok takar. Namun, bentuk sediaan ini tidak sesuai untuk zat aktif yang tidak stabil
terhadap air. Dengan kemasan botol dan penggunaan sendok takar untuk sediaan oral, maka tingkat
kepraktisan bentuk sediaan ini relative lebih rendah jika dibanding bentuk sediaan solid.
Untuk pemakaian topical, keunggulan bentuk sediaan liquid, jika dibanding bentuk sediaan solid
maupun semisolid, terletak pada daya sebar dan bioadhesivitasnya, selama viskositasnya optimum.
Namun terkait daya lekat dan ketahanan pada permukaan kulit, bentuk sediaan liquid relative lebih
rendah jika dibanding bentuk sediaan semisolid. Hal ini terutama berhubungan dengan tingkat viskositas
dari kedua bentuk sediaan tersebut.
Ragam bentuk sediaan liquid yang akan didiskusikan dalam modul ini adalah larutan, emulsi dan

suspensi.
A. LARUTAN
Larutan merupakan sediaan liquid yang mengandung satu atau lebih zat aktif (solute) yang terlarut
dalam medium/pelarut/solvent yang sesuai. Medium/pelarut/solvent yang universal adalah air. Namun
demikian, ada berbagai jenis solvent lain yang digunakan, antara lain minyak dan etanol.
Kriteria yang berlaku untuk suatu sediaan larutan adalah bahwa sediaan tersebut harus:
1. Aman dalam penggunaannya (tidak toksik, tidak iritatif, tidak alergenik)
2. Homogen
3. Zat aktif harus terlarut sempurna dan stabil dalam medium
Dengan persyaratan yang mendasar dari larutan bahwa semua komponen solute harus terlarut, maka
kelarutan (solubility) suatu bahan dalam medium memegang peranan penting. Yang dimaksud dengan
kelarutan (solubility) adalah ratio sejumlah solute yang larut dalam pelarut yang sesuai.
4. Tidak boleh ada partikel yang mengapung, melayang, atau mengendap pada sistem larutan
5. Viskositas dan daya sebar memungkinkan untuk penuangan maupun aplikasi dengan mudah

Dalam larutan oral, dikenal istilah sirup dan elixir. Istilah sirup terkait dengan penggunaan gula dengan
kadar 60-80%, sedangkan elixir terkait dengan keberadaan etanol (dengan proporsi bervariasi) yang
berfungsi sebagai cosolvent1.
Cosolvent merupakan bahan yang dapat membentu kelarutan suatu solute dalam medium utamanya.
Contioh cosolvent selain etanol yang sering digunakan adalah propylene glycol, isopropyl alcohol.
Penggunaan cosolvent selain mempertimbangkan kadar dan kapasitas cosolvensinya, juga harus
mempertimbangkan faktor keamanan pada pemakaian (tidak toksik), halal/tidaknya solvent tersebut
saat digunakan per oral (telan)
Sehubungan dengan pemakaian larutan oral, penggunaan sendok takar memegang peranan penting,
untuk memastikan kebenaran dosis sediaan yang dikonsumsi oleh pasien. Sangat tidak dianjurkan untuk
menggunakan sendok makan atau sendok teh rumah tangga, mengingat volume yang belum tentu
sesuai dengan volume yang tertara sebagai sendok makan (15 mL) atau sendok teh (5 mL) pada standar
peresepan. Di dalam Farmakope Indonesia edisi IV (1995) untuk merujuk takaran sendok sudah
digunakan istilah sendok besar (15 mL) dan sendok kecil (5 mL).

Larutan tidak hanya digunakan untuk keperluan per oral saja, namun juga parenteral dan topical.
Larutan parenteral memerlukan tambahan criteria khusus yaitu sterilitas dan bebas pyrogen.
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam desain sediaan larutan, antara lain:
1. Tujuan terapi dan jalur pemberian
Dalam tujuan terapi ini perlu dipastikan:
a. Apakah dibutuhkan sediaan yang mampu memberikan onset cepat,
b. Apakah perlu secara per oral atau parenteral.
c. Zat aktif apa yang sekiranya memberikan efikasi dan keamanan dalam terapi tersebut.
2. Zat aktif dan pemilihan medium
a. Kelarutan zat aktif terpilih dalam medium yang sesuai
b. Stabilitas zat aktif dalam medium
c. Kadar zat aktif yang akan diformulasikan
d. Kebutuhan peran viscocity enhancer atau cosolvent
e. Kebutuhan peran additives, seperti misalnya: gula/pemanis, flavoring agent, coloring agent,
preservative,antioksidant
3. Desain kemasan baik primer (yang bersentuhan dengan produk) ataupun sekunder (yang mengemas
kemasan primer)
B. EMULSI
Emulsi dan suspensi tergolong dalam sistem dispersi, yang artinya bahwa bahan tidak larut dalam
medium, namun hanya tersebar merata dalam medium.
Emulsi merupakan sediaan liquid yang mengandung satu atau lebih zat aktif, yang berada dalam 2 atau 3
jenis cairan yang tidak saling menyatu, namun terdispersi homogen, yang distabilkan oleh suatu
emulgator. Zat aktif dalam sediaan ini dapat berupa minyak, atau solid yang terlarut dalam salah satu
fase dalam sistem dispersi ini.

Sediaan emulsi ini didesain dalam dunia kefarmasian untuk memfasilitasi penghantaran zat aktif yang
berupa minyak, atau zat aktif yang larut minyak. Jika hanya diberikan dalam bentuk minyak saja, maka
tingkat penerimaan pasien akan cenderung rendah.
Emulgator adalah suatu bahan yang dalam strukturnya memiliki bagian yang lyofilik maupun lyofobik,
yang mampu mengakomodasi droplet-droplet cairan yang tidak saling campur, untuk dapat terdispersi
dengan stabil.
Contoh dari emulgator adalah: Pulvis Gummi Arabicum (PGA), Tween, dan Span
HLB (hydrophyl-lipophyl balance) merupakan suatu tingkat keseimbangan bagian hidrofil dan bagian
lipofil dari suatu emulgator dalam membentuk emulsi yang stabil. Untuk mendesain suatu emulsi,
seorang formulator perlu memahami HLB dari emulgator atau campuran emulgator yang akan
digunakan, untuk menstabilkan emulsi sesuai tipe emulsi yang dikehendaki. Lebih daripada itu,
beberapa fase minyak juga mengindikasikan kebutuhan HLB (required HLB) yang harus dipunyai oleh
emulgator untuk menstabilkan emulsi pada dua jenis tipe emulsi.
Kriteria emulsi yang baik adalah:
1. Aman
2. Efektif dan efisien sesuai dengan tujuan terapi
3. Merupakan disperse homogen antara minyak dengan air
4. Stabil baik secara fisik maupun khemis dalam penyimpanan
5. Memiliki viskositas yang optimal, sehingga mampu menjaga stabilitas dalam penyimpanan, serta
dapat dituangkan dengan mudah
6. Dikemas dalam kemasan yang mendukung penggunaan dan stabilitas obat
Dalam emulsi dikenal istilah fase dispers dan medium pendispersi. Ada dua jenis tipe emulsi secara
umum, yaitu:
1. Tipe air/minyak (A/M)
Tipe A/M berarti air (fase terdispersi) terdispersi dalam minyak (medium)
2. Tipe minyak/air (M/A)
Tipe M/A berarti minyak (fase terdispersi) terdispersi dalam air (medium)

Secara khusus dikenal pula tipe air/minyak/air dan tipe minyak/air/minyak.


Untuk membedakan tipe emulsi tersebut dapat dilakukan dengan cara:
1. Pemberian pewarna yang larut pada salah satu fase, kemudian dilakukan pengamatan secara
mkiroskopis terhadap kondisi emulsi yang telah terwarnai salah satu fasenya.
Contoh: semisal digunakan methylen blue yang larut air, apabila diamati melalui mikroskop, yang
terwarnai adalah dropletnya, maka emulsi tersebut bertipe A/M, begitu juga sebaliknya
Jika digunakan Sudan III yang larut minyak, apabila diamati melalui mikroskop, yang terwarnai adalah
dropletnya, maka emulsi tersebut bertipe M/A, begitu juga sebaliknya
Catatan: untuk pemastian hasil, emulsi perlu ditest dengan 2 jenis pewarna tersebut
2. Pengenceran dengan menggunakan cairan salah satu fase. Jika cairan untuk mengencerkan tersebut
bercampur dengan emulsi, maka dapat dipastikan bahwa cairan tersebut berperan sebagai medium
pendispersi.
Catatan: untuk pemastian hasil, emulsi perlu ditest dengan 2 jenis cairan tersebut
Sistem emulsi merupakan sistem dispersi yang diupayakan untuk memanipulasi dalam waktu tertentu,
dua cairan yang secara alami tidak saling menyatu, sehingga suatu saat fase-fase dalam sistem tersebut
dapat memisah sesuai dengan kealamiannya (by nature). Fenomena ketidakstabilan emulsi dapat
diamati sebagai berikut:
1. Creaming
Creaming merupakan peristiwa pemisahan fase yang terjadi sementara, yang dapat didispersikan
kembali dengan penggojogan ringan
2. Cracking
Cracking merupakan peristiwa pemisahan fase yang permanen, yang tidak dapat didispersikan kembali
3.

Inversi

Inversi merupakan persitiwa perubahan fase sekonyong-konyong sebagai akibat dari perubahan
temperature yang ekstrim. Inversi ini dapat berimbas pada penurunan tingkat penerimaan pasien.
C. SUSPENSI

Suspensi merupakan sediaan yang merupakan sistem dispersi dari partikel zat aktif solid yang memiliki
kelarutan yang rendah pada medium. Yang diharapkan dari suatu sediaan suspensi adalah bahwa sistem
terdistribusi homogen saat digunakan.
Untuk itu yang menjadi criteria dalam sediaan suspensi adalah:
1. Aman
2. Efektif dan efisien
3. Partikel solid stabil secara kimia dalam medium
4. Partikel solid terdistribusi merata, tidak boleh cepat mengendap, kalaupun mengendap dapat
diredispersikan kembali dengan penggojogan ringan
5. Tidak membentuk cake (endapan massif yang kompak pada dasar botol yang tidak dapat
diredispersikan kembali)
6. Partikel solid tidak mengapung (floating)
Suspensi didesain dalam dunia kefarmasian untuk mengakomodasi penghantaran zat aktif solid yang
perlu dihantarkan dengan sediaan liquid, yang memiliki kelarutan yang rendah terhadap medium.
Dalam suspense dikenal dua sistem yaitu:
1. Sistem flokulasi
Dalam sistem ini, saat tidak dilakukan intervensi mekanik apa pun, partikel-partikel solid saling
bergabung perlahan membentuk flok dengan ikatan yang lemah. Dengan terbentuknya flok ini, maka
flok akan cepat mengendap dan supernatant/medium akan tampak relatif jernih. Namun dengan adanya
kerenggangan dalam struktur flok ini, apabila sistem digojog, maka partikel akan mudah terdispersi
kembali.
2. Sistem deflokulasi
Dalam sistem ini, partikel-partikel solid tidak membentuk flok, dan sebagai akibat gravitasi, mengendap
perlahan pada dasar. Berhubung partikel tersebut mengendap perlahan, maka terjadi suatu penataan
partikel di dasar botol yang cenderung membuat endapan menjadi kompak dan keras (terbentuk cake)
yang relative sulit untuk didispersikan kembali dengan penggojogan ringan.
Kedua sistem tersebut bukan merupakan suatu pilihan. Formulator perlu mengakomodasi kebaikan dari
dua sistem tersebut untuk sediaan suspensi yang berkualitas (lama mengendap, sekalipun mengendap
dapat diredispersikan kembali dengan mudah, sehingga dalam pemakaian/penggunaan obat dapat
memberikan sejumlah partikel yang terdistribusi homogen dalam medium) dalam penyimpanan waktu
yang dikehendaki.

Komposisi dari sediaan suspensi adalah:


1. Zat aktif dengan kelarutan yang rendah pada medium
2. Medium suspensi yang diharapkan (dapat berupa air atau minyak)
3. Wetting agent surface active agent
Solid yang memiliki kelarutan yang rendah dalam medium cenderung memiliki tegangan permukaan
yang tinggi. Keperluan menyertakan wetting agent disini adalah agar tegangan permukaan solid dapat
diturunkan, sehingga solid dapat terbasahi dengan baik, dapat berada dalam medium, tidak terjadi
pengapungan partikel (floating)
4. Viscocity enhancer
Viscocity enhancer dibutuhkan untuk membentuk struktur pembawa (structured vehicle) yang mampu
menahan laju pengendapan partikel. Semakin kental sistem, maka laju pengendapan partikel akan
semakin rendah (salah satu intepretasi dari Hukum Stokes)
5. Agen pemflokulasi
Agen pemflokulasi dibutuhkan untuk menstimulasi partikel-partikel membentuk flok, sehingga resiko
terbentuknya cake dapat dihindari. Namun, perlu diperhatikan penambahan agen pemflokulasi ini,
diarahkan untuk flokulasi yang terkendali (controlled flocculation)
6. Additives
Sebagai additives disini dapat digunakan: gula (yang juga dapat berfungsi sebagai viscocity enhancer)
atau pemanis, pewarna, antioksidant, pengawet (yang kesemuanya harus larut pada medium)
Suspensi juga dapat digunakan secara oral, topical, maupun parenteral. Namun hal yang perlu
diperhatikan terutama dengan penggunaan parenteral adalah kadar solid, ukuran partikel solid (micro or
nano sized) dan bentuk partikel solid (spheris), selain sterilitas dan kondisi pyrogen-free. Demikian juga
dengan penggunaan topical yang ditujukan pada mata (ophthalmic suspension), perlu juga melihat
ukuran dan bentuk partikel, sealing sterilitas. Dalam ophthalmic suspension, kondisi pyrogen free tidak
dipersyaratkan, mengingat pemberian dilakukan secara topical.
BENTUK SEDIAAN SEMISOLID
Bentuk sediaan semisolid memiliki konsistensi dan wujud antara solid dan liquid, dapat mengandung zat
aktif yang larut atau terdispersi dalam pembawa (basis). Bentuk sediaan semisolid biasanya digunakan
secara topical, yaitu diaplikasikan pada permukaan kulit atau sleput mukosa. Namun demikian sediaan
topical tidak harus semisolid.

Bentuk sediaan semisolid jika dibandingkan dengan bentuk sediaan solid dan liquid, dalam pemakaian
topical, memiliki keunggulan dalam hal adhesivitas sediaan sehingga memberikan waktu tinggal yang
relative lebih lama.Selain itu fungsi perlindungan terhadap kulit lebih nampak pada penggunaan sediaan
semisolid. Namun, sediaan semisolid tidak umum diaplikasikan dalam area permukaan kulit yang luas,
sebagaimana halnya sediaan solid maupun liquid. Kemudahan pengeluaran dari kemasan primer juga
menjadi pertimbangan yang harus diantisipasi dalam desain sediaan semisolid, terutama semisolid steril
(contoh: salep mata), terkait dengan viskositas yang dimiliki oleh sediaan tersebut.
Variasi sediaan semisolid yang umum dalam dunia kefarmasian adalah: salep (unguenta), cream, gel dan
pasta.
A. SALEP
Salep merupakan sediaan semi solid yang mengandung satu atau lebih zat aktif yang larut atau
terdispersi dalam basis salep yang sesuai.
Salep memiliki criteria sebagai berikut:
1. Aman (tidak toksik, tidak iritatif)
2. Efektif dan efisien
3. Stabil dalam penyimpanan
4. Basis salep mampu membawa zat aktif dan melepaskannya pada tempat aksi
5. Memiliki viskositas dan daya sebar sedemikian rupa sehingga mudah dikeluarkan dari kemasan dan
mudah dioleskan secara merata
Basis salep yang umum digunakan dalam pembuatan salep adalah:
1. Basis salep hidrokarbon
Basis ini merupakan basis dengan karakteristik berminyak, dapat berasal dari mineral alam, ataupun
dihasilkan oleh serangga (lebah) atau tanaman
Contoh: vaselinum album (White petrolatum), vaselinum flavum (yellow petrolatum), paraffin, cera alba
(white wax), cera flava (yellow wax)
2. Basis salep serap
Basis ini merupakan basis yang mampu menyerap sejumlah air dengan tetap menunujukkan stabilitas
sediaan.
Contoh: adeps lanae, lanolin

3. Basis salep emulsi


Basis ini merupakan basis dengan sistem emulsi, dimana merupakan sistem disperse air dan minyak
yang ditabilkan dengan emulgator. Sering dikenal sebagai basis tercuci air (water washable base)
Contoh : cold cream (tipe A/M);vanishing cream (tipe M/A)
4. Basis salep larut air
Basis ini merupakan basis yang larut dalam air
Contoh: Polietilen glikol
Pada pembuatan salep, dikenal kaidah pembuatan salep yang merupakan warisan dari Farmakope
Belanda edisi V, yaitu:
1. Zat aktif yang larut dalam basis, dilarutkan dalam basis, jika perlu dengan pemanasan rendah
2. Zat aktif yang larut dalam air, dilarutkan dalam air sebanyak yang dapat diserap oleh basis sale
3. Zat aktif yang tidak larut dalam air maupun basis, diayak dengan ayakan ukuran 100 sebelum
didispersikan dalam basis
4. Basis yang dibuat dengan cara peleburan, harus diaduj sampai dingin
B. CREAM
Cream merupakan sediaan semisolid yang menggunakan basis emulsi, dapat bertipe A/M ataupun M/A,
dapat mengandung zat aktif (obat) atau tidak mengandung zat aktif (kosmetika). Cream menjadi
alternatif pillihan sediaan semisolid karena jika dibandingkan dengan salep (unguenta) yang bukan
berbasis emulsi, cream lebih menunjukkan keunggulan yaitu pada aspek kelembutan, kelunakan, dan
bahwa cream relatif tidak meninggalkan kesan berminyak (greasy) jika dibanding salep dengan basis
bukan basis emulsi. Dalam segi absorpsi, cream juga lebih baik jika dibanding salep, karena mengandung
air yang dapat membantu proses hidrasi pada kulit, sehingga kulit akan terlembabkan dan obat dapat
terpenetrasi dengan baik.
Terkait bahwa cream merupakan sediaan semisolid berbasis emulsi, maka kriteria cream sama dengan
kriteria untuk sediaan emulsi.
Basis cream biasanya terdiri dari:
1.
3.
4.
5.
6.

Asam lemak, contoh : asam steara2. Basa kuat, contoh : triethanolamin


Emulgator eksternal, contoh: tween, span
Humektan, contoh: gliserol, sorbitol, propilen glikol
Antioksidan, contoh: BHA, BHT
Pengawet, contoh: Nipagin, Nipasol

Humektan merupakan bahan yang higroskopis, mampu mempertahankan kandungan air dalam sediaan
(mencegah kekeringan sediaan) serta mendukung hidrasi kulit, sehingga kondisi kelembaban kulit dapat
terjaga.
Dalam pembuatan krim, secara umum ada 2 macam reaksi yang terjadi, yaitu:
1. Reaksi penyabunan
Reaksi ini merupakan reaksi kimia antara sejumlah asam lemak dalam komposisi cream yang direaksikan
dengan basa kuat, membentuk sabun dan gliserol. Sabun yang terjadi, merupakan emulgator internal
yang digunakan dalam reaksi selanjutnya
2. Reaksi emulsifikasi
Reaksi ini merupakan reaksi fisika antara sisa asam lemak yang tidak tersabunkan, dengan air, dalam
kondisi asam lemak yang meleleh, membentuk suatu emulsi yang distabilkan oleh sabun sebagai
emulgator internal. Dalam sediaan cream ini juga sering ditambahkan emulgator eksternal untuk lebih
menjamin stabilitas fisik dari cream tersebut.
C. GEL
Gel merupakan sediaan semisolid yang mengandung cairan yang terperangkap dalam suatu matriks 3
dimensi yang terbentuk dari gelling agent yang mengembang.
Gel dapat dikategorikan menurut:
1. Jenis gelling agent
a. Gel organik
Merupakan gel dengan gelling agent yang memiliki rantai atom C, atau merupakan suatu polymer
dengan kemampuan mengembang setelah bersentuhan dengan cairan. Biasanya terbentuk satu fase,
tidak ada batasan antara gelling agent dengan cairan
Contoh: gel dengan gelling agent CMC-Na, Carbopol
b. Gel inorganik
Merupakan gel dengan gelling agent suatu bahan inorganic. Biasanya nampak batas antara gelling agent
dengan cairaContoh: bentonit magma, Veegum
2. Jenis cairan yang terperangkap
a. Organogel
Organogel atau oleaogel merupakan gel dengan cairan berwujud minyak.

b. Hydrogel
Merupakan gel dengan cairan berupa air.
Hydrogel sangat umum diaplikasikan dalam desain sediaan semisolid dengan keunggulannya yang
samasekali tidak menimbulkan kesan berminyak (greasy), dapat memberikan daya tarik sehubungan
dengan kejernihan sediaan (namun tidak semua htdrogel jernih, sangat tergantung dengan bahan lain,
apakah terlarut atau terdispersi dalam gel), kehalusan dan kelembutan sediaan, dan bahwa saat
diaplikasikan, meninggalkan lapisan tipis transparan yang elastic pada permukaan kulit.
c. Emulgel
Merupakan gel dengan cairan berbentuk emulsi, biasanya untuk menghantarkan minyak yang
merupakan zat aktif dalam sediaan tersebut, dengan mengurangi kesan berminyak dalam aplikasinya.
Suatu gel dapat mengandung komponen:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Zat aktif
Gelling agent bahan pembentuk ge
Cairan untuk hidrogel berupa air, yang mengembangkan gelling agent
Humektan
Pengawet
Antoksidan

D. PASTA
Pasta merupakan sediaan semisolid yang mengandung banyak partikel solid yang terdispersi dalam
basis. Pasta dapat digunakan sebagai agen pembersih gigi (pasta gigi, yang mengandung bahan abrasif)
ataupun sebagai bahan intermediet pembuatan salep, sebelum dicampurkan dengan basis yang lain
(contoh: pembuatan pasta ZnO dengan minyak mineral pada peracikan Zinc Oxide ointment, sesaat
sebelum disatukan dengan white ointment dengan metode levigasi).
Diposkan oleh MulyaRies di 18:58
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Label: Apt., Ratna rini nastiti M.pharm.
0 komentar:
Poskan Komentar
Posting Lama Beranda
Langgan: Poskan Komentar (Atom)

My profile
MulyaRies

Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

2011 (2)
o Februari (2)
obat dan bentuk sediaan obat
Bentuk sediaan farmasi

2010 (1)

Pengikut
Template Watermark. Gambar template oleh Jason Morrow. Diberdayakan oleh Blogger.

1. Lotion
Lotion adalah suatu sediaan dengan medium air yang digunakan pada kulit tanpa
digosokkan.Biasanya mengandung substansi tidak larut yang tersuspensi, dapat pula berupa larutan
dan emulsi di mana mediumnya berupa air.Biasanya ditambah gliserin untuk mencegah efek
pengeringan, sebaliknya diberi alcohol untuk cepat kering pada waktu dipakai dan memberi efek
penyejuknya (Anief, 1984).
Ada 2 jenis Lotion:
- Larutan detergen dalam air
- Emulsi tipe M/A
2. Salep
Salep merupakan sediaan semipadat yang umumnya bersifat anhydrous, berlemak, dan mengandung
obat yang tidak larut atau terdispersi ( Saifullah, 2008 : 59 ). Salep dapat digunakan sebagai sediaan
untuk tujuan pengobatan atau terapi ( harus mengandung bahan obat ), sebagai pelindung, pelunak
kulit, atau sebagai pembawa ( vehikulum ) ( Saifullah, 2008 : 63 ). Salep tidak boleh berbau tengik,
kecuali dinyatakan lain kadar obat di dalam salep yang mengandung keras atau obat narkotik tidak
boleh lebih dari 10% ( Anief, 2000 : 53 ).
Pembuatan salep baik daam ukuran besar maupun keci, salep dibuat dengan dua metode: (1)
pencampuran dan (2) peleburan. Metode untuk pembuata tertentu terutama tergantung pada sifatsifat bahannya.
a. Pencampuran
Komponen dari salep dicampur bersama-sama dengan sgala cara sampai sediaan yang rata tercapai.
b. Peleburan
Semua atau beberapa komponen dari salep dicampurkan dengan melebur bersama dan didinginkan
dengan pengadukan yang konstan sampai mengental.Komponen-komponen yang tidak dicairkan
biasanya ditambahkan pada campuran yang sedang mengental setelah didinginkan dan diaduk.
Penggolongan dasar salep
* Dasar salep berminyak. Contohnya : Vaselin, parafin, minyak tumbuh-tumbuhan dan silikon.
* Dasar salep absorpsi
Golongan dasar salep absorpsi meliputi minyak hidrofil yaitu adeps lanae, Hydrophylic petrolatum
dan dasar salep yang baru seperti polysorb.
Dasar salep absorpsi ada dua tipe:
1. Dasar salep anhidrous yang mampu menyerap air dan membentuk tipe emulsi A/M seperti adeps
lanae dan Hydrophilic petrolatum.
2. Dasar salep hidrus dan merupakan tipe emulsi A/M tetapi masih mampu menyerap air yang
ditambahkan seperti cold cream dan lanolin.Sifat lain dasar salep absorpsi adalah tidak mudah dicuci,
karena fase kontinyu adalah minyak.
* Dasar salep tercuci
Dasar salep tercuci adalah anhidrous, larut dalam air dan mudah dicuci dengan air. Hanya bagian kecil
dari cairan dapat didukung oleh dasar salep tanpa perubahan viskositas.
Contohnya : Polietilenglikol.

* Dasar salep emulsi


Ada dua macam yaitu :
1. Dasar salep emulsi tipe A/M seperti lanolin dan cold cream.
2. Dasar salep emulsi tipe M/A seperti hydrophilic oinment dan Vanishing cream
-Evaluasi sediaan salep:
1. uji daya lekat
2. uji proteksi (warna)
3. uji menyebar
4. uji pelepasan (kadar obat)
5. uji fisik organoleptis:bau,rasa,warna
3. Krim
Krim merupakan cairan kental atau emulsi setengah padat bak bertipe air dalam minyak atau mingyak
dalam air.Krim biasanya banyak digunakan sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit.
Tipe krim :
1. Krim tipe M/A (o/w) ; minyak terdispersi dalam air
2. Krim tipe A/M (w/o) ; air terdispersi dalam minyak
- Formula dasar krim :
1. Fasa minyak
bahan obat yang larut dalam minyak, bersifat asam
Contoh : asam stearat, adepslanae, paraffin liquidum, paraffin solidum, minyak lemak, cera,
cetaceum, vaselin, setil alkohol, stearil alkohol, dsb.
2. Fasa air
bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa
Contoh : Na tetraborat (borax, Na biboras), Trietanolamin/ TEA, NaOH, KOH, Na2CO3, Gliserin,
Polietilenglikol/ PEG, Propilenglikol, Surfaktan (Na lauril sulfat, Na setostearil alkohol, polisorbatum/
Tween, Span dsb).
- Emulgator/ bahan pengemulsi :
Disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki.
a. Untuk tipe A/M
Sabun Polivalen, Span, Adepslanae, Cholesterol, Cera.
b. Untuk tipe M/A
Sabun monovalen (TEA, Na stearat, K stearat, Amonium stearat), Tween, Na lauril sulfat, kuning telur,
Gelatin, Caseinum, CMC, Pektin, Emulgid.
- Bahan tambahan :
a. Bahan pengawet
b. Bahan tambahan lain (bila perlu), contoh : pewarna, pewangi.
- Stabilitas Krim : krim dapat rusak jika terjadi :
a. Perubahan suhu
b. Perubahan komposisi; perubahan salah satu fasa secara berlebihan, emulgator tidak tercampur

-Pembuatan krim dapat dilakukan dengan dua metode berbeda. Metode pertama yaitu bahan-bahan
yang larut dalam minyak (fase minyak) dilebur bersama di atas penangas air pada suhu 700C sampai
semua bahan lebur, dan bahan-bahan yang larut dalam air (fase air) dilarutkan terlebih dahulu
dengan air panas juga pada suhu 700C sampai semua bahan larut, kemudian baru dicampurkan,
digerus kuat sampai terbentuk massa krim. Sedangkan dengan metode kedua, semua bahan, baik fase
minyak maupun fase air dicampurkan untuk dilebur di atas penangas air sampai lebur, baru kemudian
langsung digerus sampai terbentuk massa krim. Baik metode pertama maupun metode kedua, samasama menghasilkan sediaan krim yang stabil, bila proses penggerusan dilakukan dengan cepat dan
kuat dalam mortar yang panas sampai terbentuk massa krim. Tetapi dengan metode kedua, kita
dapat menggunakan peralatan yang lebih sedikit daripada metode pertama.
Cleansing Cream adalah membersihkan make-up (rias wajah) dan lemak dari wajah dan leher.Krim
pembersih adalah modifikasi dari cold cream (krim sejuk).Cold cream diformulasi oleh Galen (150 AD),
terdiri atas campuran malam lebah, minyak zaitun dan air. Ada 2 jenis cleansing cream : tipe beeswaxborax dan tipe krim cair. Pada umumnya sediaan perawatan dan pembersih kulit terdapat dalam
bentuk krim atau emulsi, dan yang akan dibicarakan dalam bab ini meliputi :
1. Krim Penghapus dan Krim Dasar
2. Krim Pembersih dan Krim Pendingin
3. Krim Urut dan Krim Pelembut
4. Krim Tangan dan Badan.

4. Pasta
Sediaan semipadat yang mrngandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk sediaan
topikal. Pasta dengan salep dimaksudkan untuk pemakaian luar pada kulit .perbedaan dengan salep
terutama dalam kandungannya , secara umum presentase bahan padat lebih besar dan sebagai
akibatnya pasta lebih kaku dari pada salep.
Bahan dasar pasta : vaselin, lanolin, adepslanae, unguentum simplex, minyak lemak dan parafin
liquidum.
Pembuatan : bahan dasar yang berbentuk setengah padat dicairkan lebih dulu, baru dicampur dengan
bahan padat dalam keadaan panas agar lebih tercampur dan homogen.
5. Gel
Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil
atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh cairan .gel kadang-kadang disebut jeli.
Macam Gel :
a. Gel fase tunggal : terdiri dari makro molekul organik yang tersebar merata dalam suatu cairan
b. Gel dua fase : terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah. Jika ukuran partikel dari fase
terdispersi besar disebut magma (misal : magma bentonit)
- Bahan dasar :
Umumnya hidrokoloid organik, kadang-kadang digunakan juga senyawa anorganik yang hidrofilik
seperti Tragakan, Na alginat, Pektin, Amylum, Gelatin, turunan Selulosa (Na CMC, Tilosa, HPMC,

Carbomer).
Gel juga dapat dibentuk oleh selulosa seperti hidroksipropilselulosa dan hidroksipropilmetilselulosa.
- Contoh :
R/ Gelatin 20
Aqua 40
Gliserin 25
ZnO 15
- Cara Pembuatan :
a. Masukan gelatin dan air dalam botol bermulut lebar, biarkan sampai mengembang.
b. Panaskan di atas penangas air sampai gelatin larut.
c. Masukan ZnO dan gliserin gerus ad homogen.
d. Masukan dalam botol, aduk sampai rata dan dingin.
Evaluasi Gel :
a.Homogenitas
Sampel dioleskan pada lempeng kaca secara merata, kemudian diamati secara visual homogenitas
dari gel tersebut.
b.Daya Sebar
Sampel dengan berat 0,5 gram diletakan ditengah tengah kaca bulat, ditutup dengan kaca lain yang
telah ditimbang beratnya dan biarkan selama 1 menit, kemudian diukur diameter sebar sampel.
Setelah itu ditambah beban berat 50 gram dan dibiarkan selama 1 menit, kemudian ukur diameter
sebarnya.Penambahan beban seberat 50 gram setelah 1 menit dilakukan secara luas terus menerus
hingga diperoleh diameter yang cukup untuk melihat pengaruh bebanterhadap perubahan diameter
sebar gel.
c.Daya Lekat
Sampel 0,25 gram diletakan diatas 2 gelas obyek yang telah ditentukan kemudian ditekan dengan
beban 1 kg selama 5 menit. Setelah itu gelas obyek dipasang pada alat test. Alat test diberi beban 80
gram dan kemudian dicatat waktu pelepasannya gel dari gelas obyek.
Stabilitas fisik sediaan gel ditentukan berdasarkan pengamatan terhadap perubahan bentuk, warna,
bau, pH dan viskositas selama dua bulan penyimpanan.
Pengamatan Stabilitas FisikSediaan Gel
1. Pengamatan Stabilitas Sediaan Gel
Analisis organoleptis dilakukandengan mengamati perubahan bentuk,warna, dan bau darisediaan
blangko dan sediaan.
2. Pengukuran pH
Pengukuran pH dilakukan dengancara mencelupkan pHmeter ke dalamsediaan gel.
3. Pengukuran Viskositas
sediaan gel diukurviskositasnya dengan menggunakanviskometer atau viskotester dengan spindle
yang cocok.