You are on page 1of 11

Kemarau Datang, Heat Stress Mengancam

| Print |

Pernahkah anda menemukan kejadian dimana 1-2 ekor ayam broiler yang dipelihara panting kemudian mati
secara tiba-tiba, namun hanya menimpa ayam dengan bobot badan tinggi (berat, red) saja? Jika jawabannya
pernah, kemungkinan ayam tersebut terserang heat stress. Kejadian heat stress selama ini memang lebih sering
menimpa ayam dewasa karena secara alami tubuh ayam akan menghasilkan panas (panas metabolisme),
ditambah dengan suhu lingkungan yang semakin panas terutama disaat kemarau, sehingga panas dari dalam
tubuh tidak bisa distabilkan. Dan dampak akhir yang terjadi ialah berakhir dengan kematian.

Sumber : Dok. Medion


Ironisnya, kejadian heat stress alias stres akibat suhu panas ini tampaknya tidak hanya akrab dengan
ayambroiler, namun juga layer. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah seiring dengan adanya perubahan
iklim akibat pemanasan global, apakah memang kasus heat stress semata-mata hanya disebabkan oleh faktor
suhu dan kelembaban di lingkungan? Berikut akan coba kami bahas lebih detailnya.

Heat Stress dan Faktor Pemicunya


Heat stress merupakan suatu cekaman yang disebabkan suhu udara dalam kandang melebihi zona nyaman
(>28oC) dan hal ini menjadi salah satu problematika utama di dunia perunggasan Indonesia. Stres ini akan
muncul ketika ayam tidak bisa membuang panas dari dalam tubuhnya akibat tingginya cekaman suhu tersebut.
Seperti telah kita ketahui bersama bahwa negara kita Indonesia beriklim tropis, dimana seringkali ditemukan
kondisi yang kurang atau tidak nyaman bagi ayam. Suhu kandang yang tinggi (>28 oC) bukanlah suatu keadaan
yang sulit ditemukan, terutama saat musim kemarau. Kondisi ini tentu saja akan memicu ayam stres, dan
munculah heat stress.
Dilihat dari jenis spesiesnya, ayam modern komersial yang selama ini kita pelihara termasuk
hewanhomeothermal, yaitu mampu untuk mengatur suhu tubuhnya sendiri karena memiliki
sistem thermoregulator(sistem pengatur suhu tubuh) yang terdiri dari hipothalamus, susunan tali syaraf, dan
komponen lainnya yang sensitif terhadap suhu.
Dalam rangka menjaga stabilitas suhu tubuhnya, ayam akan menggunakan sistem thermoregulator yang
dimilikinya untuk mendeteksi dan memberikan respon terhadap berbagai energi panas yang terdapat dalam
kandang. Menurut Michael J. Darre (2000), sumber-sumber energi panas dalam suatu kandang ayam bisa
berasal dari:
1) Hasil metabolisme nutrisi bahan-bahan nutrisi yang terjadi dalam tubuh
Tubuh ayam, secara normal menghasilkan panas hasil metabolisme berbagai nutrisi, yang sering
disebut heat increament. Adanya perbaikan genetik pada ayam modern saat ini ternyata juga berdampak
pada kemampuan fisiologisnya, yaitu melalui peningkatan laju metabolisme tubuh sehingga bobot badan
cepat bertambah dan semakin banyak energi panas yang dilepaskan ayam ke lingkungan sekitarnya. Ayam
akan melepaskan kelebihan energi panas tubuh (heat excess) sekitar 10 BTU/kg bobot badan per jam (Van
Beek, 1995) atau setara dengan 2520 kalori per jamnya.

2) Radiasi sinar matahari


Semakin besar area bagian dalam kandang yang bisa diterpa oleh sinar matahari langsung, maka semakin
besar pula pengaruh radiasi sinar matahari terhadap suhu udara dalam kandang secara keseluruhan. Radiasi
(energi) panas matahari dalam kandang ayam juga sangat bervariasi, tergantung dari bahan atap kandang
yang digunakan, intensitas sinar matahari serta jarak atap kandang dengan ayam. Arah kandang juga
menjadi penentu utama besarnya radiasi yang masuk ke dalam kandang.

Sumber : insulation4less.com
3) Aktivitas fermentasi mikroba dalam litter
Semakin besar komponen feses dalam litter, atau semakin kecil daya serap litter dalam suatu kandang ayam
sistem postal, maka energi panas yang dihasilkan dari proses fermentasi mikroba akan semakin tinggi. Pada
kandang baterai, manajemen penanganan feses yang buruk juga bisa meningkatkan suhu dalam kandang
akibat tingginya aktivitas fermentasi mikroba yang terjadi.

Ketika ayam menghadapi kondisi panas dari berbagai sumber tersebut, ayam akan merespon dengan cara
menurunkan suhu tubuhnya melalui pengeluaran kelebihan energi panas tersebut dari dalam tubuh. Menurut
Buyse dan Decuypere (2005), proses pengeluaran panas tubuh bisa dilakukan oleh ayam melalui 4 macam cara,
yaitu:

Konduksi, ialah pelepasan kelebihan (energi) panas tubuh melalui kontak langsung dengan bendabenda padat, misalnya menempelkan tubuh ke bagian dinding kandang yang lebih dingin, atau
membenamkan tubuhnya ke dalam litter

Konveksi, ialah pelepasan kelebihan (energi) panas tubuh melalui perpindahan fluida. Contohnya melalui
aliran udara yang membawa panas tubuh ayam, atau adanya fenomena main air yang dilakukan oleh
ayam

Radiasi, ialah pelepasan kelebihan (energi) panas tubuh secara langsung dari seluruh permukaan tubuh
ke udara sekitarnya. Melebarkan sayap atau adanya gejala bulu yang berdiri merupakan usaha ayam
untuk mengoptimalkan pengeluaran kelebihan panas tubuh lewat proses radiasi

Sumber : Dok. Medion

Evaporasi, ialah pelepasan kelebihan (energi) panas tubuh melalui proses evaporasi (penguapan) yang
terjadi di dalam paru-paru. Untuk mengoptimalkan proses evaporasi, maka ayam akan menunjukkan
gejalapanting (megap-megap)

Mekanisme pengeluaran panas tubuh ini akan berfungsi secara normal (optimal), saat ayam dipelihara pada
zona nyaman (comfort zone), dengan suhu lingkungan kandang 25-28oC dan kelembaban 60-70%. Diluar
kondisi ini, dengan suhu melebihi zona nyaman, maka respon ayam untuk mengeluarkan panas tubuh akan
berubah.
Kondisi tidak nyaman yang juga bisa menjadi faktor pemicu munculnya heat stress ialah manajemen
pemeliharaan yang kurang baik. Contohnya pengaturan kepadatan kandang yang tidak sesuai, pemilihan bahan
kandang dan konstruksi kandang yang kurang tepat, ventilasi udara yang tidak diatur dengan baik, serta
pemberian ransum dengan kandungan protein berlebihan. Ransum dengan kandungan protein melebihi standar
akan dicerna, dan zat sisa metabolismenya akan dikeluarkan bersamaan dengan feses, kemudian difermentasi
oleh mikroba menghasilkan amonia dan panas.

Dampak Heat Stress


Kasus heat stress terbagi menjadi 2 bentuk yaitu bentuk akut dan kronis. Bentuk akut muncul saat terjadi
peningkatan suhu secara drastis (tiba-tiba, red), sedangkan bentuk kronis terjadi jika suhu meningkat secara
perlahan-lahan dalam waktu yang lama.
Ketika heat stress terjadi pada ayam secara kronis, maka ayam akan langsung memberikan respon secara
fisiologis. Gejala yang ditunjukkan adalah adanya perubahan tingkah laku dalam usahanya untuk meningkatkan
pelepasan kelebihan (energi) panas tubuh melalui ke-4 cara seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Ketika kondisi tidak nyaman tersebut terus berlangsung, maka ayam akan memberikan respon melalui
mekanisme hormonal, dimana kadar hormon ACTH (adeno-cortico-tropic hormone) akan meningkat tajam dalam
sirkulasi darah. Akibatnya feed intake (konsumsi ransum) menurun dan konsumsi air minum meningkat.

Sumber : Dok. Medion


Dalam situasi demikian, maka gangguan pertumbuhan, keseragaman ayam yang buruk, membengkaknya nilai
konversi ransum (FCR), serta munculnya gejala defisiensi nutrisi akan terjadi di lapangan. Akibat terburuk
bahkan menyebabkan kematian. Besar kecilnya kerugian akibat heat stress ini dipengaruhi oleh umur, jenis dan
berat badan ayam maupun periode dan tingkat heat stress yang dialami oleh ayam (suhu maksimum yang
diterima ayam, lamanya cekaman dan kecepatan perubahan suhu udara).
Peningkatan konsumsi air minum saat ayam mengalami heat stress juga membawa dampak tersendiri, salah
satunya ialah penurunan kualitas kotoran (menjadi lebih basah). Akibatnya penangan feses menjadi lebih sulit
dan pencemaran feses pada telur dan bulu ayam menjadi meningkat sehingga kualitas telur dan karkas ayam
dapat menurun. Selain itu, kondisi feses yang lebih basah akan menyebabkan lalat lebih mudah dan cepat
berkembang. Peningkatan kadar amonia juga dapat terjadi akibat feses yang basah, dampaknya kasus penyakit
saluran pernafasan, seperti ngorok atau CRD pun lebih mudah terjadi.
Kondisi suhu yang tinggi juga mempengaruhi kestabilan kandungan nutrisi dalam ransum ayam, terutama
vitamin. Vitamin merupakan mikronutrien essensial yang diperlukan dalam proses metabolisme di dalam tubuh

ayam. Penurunan kadar vitamin ini akan berpengaruh terhadap produktivitas ayam.
Bukan hanya menyebabkan penurunan produktivitas ayam, heat stress juga mengakibatkan sistem kekebalan
tubuh melemah (bersifat immunosupresif). Jumlah total sel darah putih dan produksi antibodi menurun secara
signifikan pada ayam petelur yang mengalami heat stress. Selain itu, aktivitas limfosit juga akan menurun. Kadar
ACTH yang tinggi dalam sirkulasi darah juga akan memicu korteks adrenalin untuk meningkatkan produksi
hormon koltisol sehingga terjadi penurunan jumlah maupun perubahan jenis leukosit, yaitu sel eosinofil, basofil
dan limfosit.
Selanjutnya Tony Unandar (2012) menyatakan bahwa peningkatan derajat keparahan heat stress yang
disebabkan oleh peningkatan aktivitas panting, pada tahap selanjutnya akan mengakibatkan respiratory
alkalosis. Ujung-ujungnya akan terjadi ketidakseimbangan mikroflora di dalam usus. Dalam situasi seperti ini,
proses penyerapan nutrisi akan terganggu. Akibatnya tentu saja akan semakin memperparah gangguan
produktivitas ayam. Kasus-kasus penyakit infeksius di saluran pencernaan pun juga akan bermunculan.

Suhu Efektif Bagi Ayam


Pada bahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa saat energi panas di lingkungan sekitar ayam menunjukkan
angka yang tinggi, ayam akan langsung merespon dan berusaha menstabilkan panas tubuhnya dengan cara
mengeluarkan panas tersebut ke lingkungan. Dengan kompleksnya berbagai proses thermoregulasi yang
dimilikinya (ayam, red), mengakibatkan suhu efektif (suhu yang dirasakan oleh ayam) tidak selalu sama dengan
suhu aktual (suhu lingkungan ayam yang dideteksi dengan termometer). Itulah sebabnya dalam upaya
menganalisa kenyamanan lingkungan ayam, kita tidak bisa sepenuhnya mengandalkan angka yang diperoleh
dari termometer.
Suhu efektif yang dirasakan oleh ayam dalam hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat kelembaban udara.
Kelembaban udara mencerminkan banyaknya air yang terkandung (terikat) dalam udara. Semakin banyak air
yang terikat dalam udara maka udara semakin lembab, begitu juga sebaliknya. Tingkat kelembaban akan
mempangaruhi suhu yang dirasakan ayam.
Saat kelembaban tinggi, suhu yang dirasakan oleh ayam menjadi lebih tinggi dibandingkan suhu yang tertera
pada termometer. Saat kelembaban 80% dan suhu termometer sebesar 27 oC, maka suhu efektif yang dirasakan
ayam bisa mencapai 30oC. Begitu juga sebaliknya, saat kelembaban udara 50% dan suhu termometer 33,2 oC,
maka ayam akan merasakan suhu sebesar 30oC. Berdasarkan hal tersebut penting sekiranya kita
memperhatikan suhu dan kelembaban yang nyaman untuk ayam, yaitu 25-28 oC dan kelembaban 60-70%.
Bila kita lebih jauh membicarakan kombinasi suhu dan kelembaban, maka kita akan masuk pada satu pengertian
dasar yaitu mengenai indeks heat stress (Heat Stress Index/HI). Indeks heat stress didefinisikan sebagai suatu
indeks yang menjadi ukuran tingkatan dimana ayam masih dapat beradaptasi atau tidak terhadap kondisi cuaca.
HI bisa diperoleh dengan rumus sebagai berikut (Technical focus, Publication of Cobb Vantress, 2008):
HI= nilai suhu (dalam satuan Fahrenheit (oF)) + nilai kelembaban (dalam satuan %)
Contoh dari rumus di atas, pada suhu 30oC ((30o x 1,8) + 32oC = 86oF) dengan kelembaban yang terukur adalah
85%, maka nilai HI adalah 171. Nilai HI yang masih dapat ditolerir oleh ayam adalah 160, artinya apabila HI
melebihi angka 160 maka ayam akan mengalami panting atau megap-megap. Bahkan mungkin akan terjadi
kematian. Sebaliknya bila angka HI berada di bawah 160 maka ayam masih dapat beradaptasi. Besarnya
kelembaban kandang sangat mempengaruhi nilai HI ini. Pada suhu yang sama dengan kelembaban yang lebih
tinggi, maka secara fisiologis ayam akan merasakan suhu yang lebih tinggi dari pada suhu yang terukur.
Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah pada suhu berapa kita semestinya memperlakukan ayam agar tidak
mengalami panting? Untuk menjawab pertanyaan ini kuncinya adalah dengan mencermati dan menganalisa
tingkah laku ayam secara rutin, serta menentukan apakah ayam sudah mulai mengalami heat stress atau belum.
Beberapa kondisi seperti suhu, kelembaban, serta kepadatan ayam yang tinggi akan mengakibatkan suhu efektif
akan lebih tinggi dari suhu aktual. Buruknya ventilasi atau kecepatan angin yang sangat rendah juga akan
mengakibatkan hal serupa. Sebaliknya, kondisi kecepatan angin yang terlalu tinggi menerpa ayam akan

mengakibatkan suhu efektif lebih rendah dari suhu aktual.

Mengatasi Heat Stress


Di daerah tropis seperti di Indonesia, kejadian kasus heat stress sebenarnya bisa saja terjadi tidak hanya di
musim kemarau tetapi juga di musim hujan, tergantung dari nilai heat stress index (HI) sudah melebihi atau
belum. Langkah untuk mencegah heat stress dilakukan dengan menekan atau menghilangkan faktor
penyebabnya diantaranya:
1.

Menciptakan suasana nyaman (comfort zone) bagi ayam, melalui :

Kandang dibangun dengan memperhatikan sistem sirkulasi udara yang baik. Pilih bahan atap yang
mampu mereduksi (mengurangi) panas. Jika perlu gunakan sistem atap monitor. Ada pula beberapa
farm yang telah menambahkan sistem hujan buatan di atas atap yang digunakan saat kondisi suhu
panas.

Kandang sistem slat (panggung) dengan ketinggian 1,25-2 m akan membantu memperlancar sirkulasi
udara. Penambahan blower atau kipas semakin meningkatkan kualitas udara di dalam kandang, hanya
saja perlu diperhatikan kecepatan angin sebaiknya tidak lebih dari 2,5 meter/detik. Selain itu, arah aliran
anginnya juga harus searah

Perhatikan jarak antar kandang, jarak kandang dengan tebing maupun ketinggian pohon yang berada di
sekitar kandang. Jarak antar kandang minimal 1 x lebar kandang (lebar kandang sebaiknya tidak lebih
dari 7 m)

Atur kepadatan kandang, misalnya 1 m2 untuk 15 kg ayam pedaging dan 8 ekor/m2 untuk ayam petelur
umur 6-16 minggu. Data kepadatan kandang secara detail bisa dilihat pada manual management

2.

Terapkan manajemen pemeliharaan yang baik

Sediakan air minum yang berkualitas dalam jumlah yang cukup

Berikan ransum dengan kandungan nutrisi yang sesuai dan atur distribusi tempat ransumnya

Atur sistem buka tutup tirai kandang, sesuaikan dengan kondisi cuaca

Sedangkan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengurangi terjadinya kasus heat stress di lapangan,
yaitu:

Evaluasi dan tangani penyebab heat stress


Saat ada beberapa ayam yang telah menunjukkan gejala terserang heat stress, segera lakukan evaluasi
terhadap faktor penyebabnya, seperti suhu lingkungan, kepadatan kandang, maupun sistem sirkulasi
udara. Lakukan penanganan sesuai dengan faktor penyebab heat stress

Berikan tambahan blower, atur sirkulasi udara dan berikan hujan buatan saat suhu lingkungan melebihi
zona nyaman

Sumber : Dok. Medion

Hidupkan kipas angin (fan) saat suhu meningkat melebihi zona nyaman

Perlebar sekat kandang untuk mengurangi kepadatan kandang. Saat heat stress kepadatan kandang
dapat dikurangi 10%

Atur konsumsi air minum dan ransum. Saat suhu tinggi nafsu minum meningkat drastis, bahkan jika suhu
mencapai 32oC konsumsi air minum bisa meningkat 50%. Suhu air minum yang baik adalah 20-24 oC.
Berikan air minum dengan kualitas yang baik dalam jumlah yang cukup, begitu juga ransumnya.

Atur distribusi tempat air minum (TMA) dan kontrol ketersediaan air secara berkala (terutama jika
menggunakan TMA manual)

Jika perlu tambah jumlah TMA dan distribusinya diatur sehingga tidak mempersulit ayam untuk
mengaksesnya

Saat kondisi panas, kurangi jumlah ransum yang diberikan. Kemudian saat suhu mulai menurun, berikan
ransum dengan porsi/jumlah lebih besar. Intinya, jumlah total ransum yang diberikan harus sesuai
dengan standar, namun pada cuaca panas, waktu pemberiannya bisa diubah. Jika perlu ransum
diberikan pada malam hari, jangan lupa untuk memberikan tambahan pencahayaan

Berikan nutrisi tambahan

Suplai elektrolit dan vitamin perlu ditambahkan saat heat stress, baik melalui air minum atau
ransum. Vita Stress dan Vita Strong menjadi pilihan produk yang dapat diberikan saat heat stress.
Vitamin yang terkandung pada kedua produk ini diperlukan untuk menjaga prosesmetabolisme tubuh
tetap optimal. Vitamin yang diperlukan saat heat stress antara lain vitamin C, E, K, biotin, riboflavin dan
D. Sedangkan elektrolit diperlukan untuk menjaga kestabilan pH darah yang terganggu akibat
menurunnya kadar CO2 didalam tubuh ayam saat melakukan panting. Selain itu elektrolit juga membantu
meningkatan retensi air dan mencegah dehidrasi.

Tingkatkan biosecurity

Vita Stress,
vitamin untuk mengatasi stres pada ayam
(Sumber: Dok.Medion)
Saat suhu tinggi, perkembangan bibit penyakit di dalam paralon air minum menjadi lebih cepat. Oleh
karenanya jadwal pembersihan dan desinfeksi saluran air minum sebaiknya ditingkatkan. Begitu juga
desinfeksi kandang. Saat ada ayam pilih desinfektan yang aman,
seperti Antisep, Neo Antisep atauMedisep. Jika di dalam saluran air minum telah terbentuk lapisan
atau kerak (disebut biofilm yang merupakan tempat perkembangan bibit penyakit yang baik) sebaiknya
dilakukan flushing (mengalirkan air bertekanan) dengan melarutkan hidrogen peroksida (H 2O2) 15-20
ppm, asam sitrat 1,5-2 g/l atau asam cuka 8 ml/l, karena pada kondisi banyak terdapat biofilm, senyawa
desinfektan tidak dapat bekerja secara optimal.
Adanya perbaikan genetik ayam modern yang terus berlangsung dan disertai dampak pemanasan global yang
terus terjadi, maka kasus heat stress akan terus mengancam ayam. Terlebih saat kondisi musim kemarau,
dimana kejadian heat stress perlu diwaspadai karena akan lebih mengancam kondisi ayam di peternakan.
Dengan mengetahui berbagai penyebab heat stress dan menerapkan manajemen pencegahan yang tepat
diharapkan akan mampu menekan kerugian yang bisa muncul akibat kasus heat stress tersebut. Selamat
berkarya dan sukses selalu. Salam

STANDAR IDEAL IKLIM MIKRO PERKANDANGAN


UNGGAS
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Iklim (Parameter)
Suhu
Kelembapan
Kecepatan Angin
Radiasi Matahari
Gas yang dibutuhkan unggas
O2
Gas yang bersifat racun
H2S
NO2
NH3

Maksimal
23C
75%
1,5 m/s
400 kkal/m2/jam

Minimal
21C
50%
1,0 m/s
366 kkal/m2/jam
10 liter/jam

Alat Ukur
thermometer
hygrometer
anemometer
blackglobe

800 ppm

1. SUHU
Suhu nyaman ayam broiler berkisar antara 20 24C (Charles, 1981), sementara suhu harian
di daerah tropis pada siang hari dapat mencapai 34 0C. Menurut Baziz et al. (1996), suhu udara

lingkungan termonetral untuk ayam adalah 21-23 oC. Pada suhu udara termonetral inilah ayam
broiler akan berproduksi optimal. Pemeliharaan ayam broiler pada suhu udara lingkungan di atas
21 oC mengakibatkan ayam mengalami cekaman panas.
Tingginya suhu lingkungan merupakan salah satu penyebab terjadinya stres oksidatif yakni
keadaan dimana aktivitas oksidan (radikal bebas) melebihi antioksidan. Hasil penelitian Harlova
et al. (2002) menunjukkan bahwa cekaman panas pada ayam broiler (suhu siang hari 35 - 40C
dan malam hari 28 - 300C), nyata menurunkan jumlah sel darah merah, sel darah putih,
konsentrasi hemoglobin dan nilai hematokrit darah ayam broiler umur 1 minggu.
Dilaporkan pula bahwa cekaman panas ternyata menyebabkan turunnya kekebalan tubuh, hal
ini terlihat dari peningkatan rasio heterofil/limfosit.

2. KELEMBAPAN
Apabila kelembaban udara lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang,
akibatnya aktivitas mikroorganisme akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang
menimbulkan bau tidak sedap. Menurut Charles dan Hariono (1991), senyawa yang
menimbulkan bau dapat mudah terbentuk dalam kondisi anaerob seperti tumpukan kotoran yang
masih basah. Senyawa tersebut dapat dihasilkan selama proses dekomposisi pada kotoran ayam.
Oleh karena itu, faktor lingkungan yaitu kelembaban udara dapat mempengaruhi jumlah emisi
yang dihasilkan.
Hal ini sejalan dengan pendapat NORTH (1982) bahwa kelembaban yang ideal untuk unggas
di daerah tropik tidak lebih dari 75%, karena bila lebih dapat menyebabkan perkembangan
mikroorganisme meningkat. Kelembaban dapat mempengaruhi penyerapan zat amoniak yang
dihasilkan dari kotoran itik, kandungan amonia yang tinggi mengganggu itik dalam pengambilan
oksigen sehingga mengganggu metabolisme (Mardalena 2002). Pada Kandang Slat kisaran
kelembaban kandang rendah (30%), sirkulasi udara yang baik pada kandang Slat dapat
mengurangi cekaman panas pada itik yang dapat menyebabkan kotoran itik yang lebih encer,
lantai Slat lebih kering mengurangi polusi amonia karena dekomposisi kotoran sempurna.
Kelembaban optimum pada kandang yaitu berkisar antara 55-65% (Purwanto & Yani 2006).
Borges et al. (2004) menyatakan bahwa kelembaban udara optimum untuk pertumbuhan ayam
broiler berkisar antara 50%-70%. Menurut BPS (1992), ayam broiler akan terkena stress apabila
kelembaban udaranya terlalu tinggi yaitu diatas 70%.

3. KECEPATAN ANGIN
Menurut DEFRA (2005), kecepatan angin di daerah beriklim tropis untuk ayam broiler
minimal 1,0 m/s dengan kisaran 1,0-1,5 m/s. Kecepatan angin yang semakin tinggi menyebabkan
pencampuran dan penyebaran polutan dari sumber emisi di atmosfer akan semakin besar
sehingga konsentrasi zat pencemar menjadi encer begitu juga sebaliknya. Hal ini akan
menurunkan konsentrasi zat polutan di udara (Hasnaeni, 2004).
4. RADIASI MATAHARI
RAdiasi matahari yang baLama cekaman panas semakin menurunkan laju metabolisme dan
konsumsi oksigen. Semakin tinggi radiasi matahari mengakibatkan tingginya suhu lungkungan
pada perkandangan. Cekaman panas ternak akibat radiasi matahari langsung menyebabkan
respon fisiologisnya lebih tinggi dari ternak yang ternaungi.
5. GAS YANG DIBUTUHKAN UNGGAS
Oksigen (O2) sangat dibutuhkan oleh unggas untuk proses metabolism. Standar kandungan
oksigen yang harus terhirup oleh unggas sekitar 10 lt/jam.
6. GAS YANG BERSIFAT RACUN
Hidrogen sulfida (H2S) merupakan gas yang dapat menghasilkan bau tidak sedap. Gas
tersebut bersifat toksik bagi manusia dan ternak, dapat meningkatkan kerentanan terhadap
penyakit, dan dapat mengganggu efisiensi aktivitas para pekerja yang berada di sekitar
peternakan karena bau yang ditimbulkan (Setiawan, 1996).
Selain gas H2S, terdapat juga gas NO2 yang dibentuk melalui proses mikrobiologi dari
nitrifikasi dan denitrifikasi. Gas ini dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan terutama
gangguan pernafasan akut. Gas ini juga dapat menyebabkan keracunan apabila konsentrasinya
melebihi ambang batas normal.
Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang
yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Pemberian NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10
menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas (Wardhana, 2001).
Gas NO2 (nitrogen dioksida), dapat juga merusak jaringan paru-paru dan jika bersama H2O
akan membentuknitric acid (HNO3) yang pada gilirannya dapat menimbulkan hujan asam yang
sangat berbahaya bagi lingkungan (Kusuma, 2002).

Penyebab jumlah terbesar timbulnya bau dari peternakan berasal dari berbagai komponen
yang meliputi NH3, VOCs, dan H2S (NRC, 2003). Senyawa yang menimbulkan bau ini dapat
mudah terbentuk dalam kondisi anaerob seperti tumpukan kotoran yang masih basah. Senyawa
tersebut tercium dengan mudah walau dalam konsentrasi yang sangat kecil. Untuk H2S, kadar
0,47 mg/l atau dalam konsentarasi part per million (ppm) di udara merupakan batas konsentrasi
yang masih dapat tercium bau busuk. Untuk amonia, kadar rendah yang dapat terdeteksi baunya
adalah 5 ppm. Akan tetapi, kepekaan seseorang terhadap bau ini sangat tidak mutlak, terlebih
lagi bau yang disebabkan oleh campuran gas (Charles dan Hariono, 1991).
Bau kotoran ayam selain berdampak negatif terhadap kesehatan manusia yang tinggal di
lingkungan sekitar peternakan, juga berdampak negatif terhadap ternak dan menyebabkan
produktivitas ternak menurun. Pengelolaan lingkungan peternakan yang kurang baik dapat
menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak itu sendiri karena gas-gas tersebut dapat
menyebabkan produktivitas ayam menurun sedangkan biaya kesehatan semakin meningkat yang
menyebabkan keuntungan peternak menipis (Pauzenga, 1991).
DAFTAR PUSTAKA
Kusnadi, E. 2008. Pengaruh temperature kandang terhadap konsumsi ransum dan komponen darah
ayam broiler. J.Indon.Trop.Agric.33(3):197-220.
Prasetyanto, N. 2011. Kadar H2S, NO2 dan debu pada peternakan ayam broiler dengan kondisi
lingkungan yang berbeda di kab. Bogor, Jawa Barat. Departemen Ilmu produksi dan Teknologi
Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. (Skripsi)