You are on page 1of 10

Sembiring / Sintesis Bioplastik Berbahan Pati Umbi Talas Dengan Penguat Selulosa

Batang Pisang

SINTESIS BIOPLASTIK BERBAHAN PATI UMBI TALAS DENGAN PENGUAT


SELULOSA BATANG PISANG
Wira Bima Stevent Sembiring1, Yunita Selonika1, Roy Marthin Panjaitan1, Naomi Ebinasari br
Sembiring2, Christiani Widia br Karo2
1
Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Riau
2
Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Riau
wbstevent@yahoo.com; yunitaselonika@gmail.com; panjaitanroy665@yahoo.com;
naomiebinasari@yahoo.com; christianywidya@gmail.com

ABSTRAK
Plastik konvensional termasuk bahan yang paling dekat dengan kehidupan manusia.Kenaikan
konsumsi plastik telah meningkatkan limbah plastik sebab tidak mudah diurai oleh alam, baik oleh
cuaca maupun mikroba. Oleh karena itu perlu pengalihan penggunaan plastik konvensional menjadi
bioplastik. Bioplastik merupakan jenis plastik yang terbuat dari bahan mudah diperbarui sehingga
mudah terdegradasi. Namun kekuatan dan elastisitas bioplastik masih kurang, sehingga masih perlu
pengembangan seperti penggunakan bahan alam misalnya pati talas dan selulosa batang pisang.
Talas dan batang pisang merupakan bahan alam yang kurang banyak dimanfaatkan sehingga
berpotensi tinggi sebagai bahan pembuatan bioplastik. Tujuan penelitian ini adalah membuat
bioplastik berbahan baku pati umbi talas dengan penguat selulosa batang pisang. Proses sintesis
terdiri dari pembuatan pati umbi talas (Colocasia esculenta), pembuatan selulosa dari batang pisang
kepok (Musa paradisiaca) dan pembuatan bioplastik dengan penambahan 0%, 3%, 6%, 9%, dan 12%
selulosa.Peningkatan penggunaan selulosa menghasilkan bioplastik yang semakin kuat namun
kurang elastis. Bioplastik dengan sifat yang kuat namun cukup elastis dan tahan air diperoleh ketika
penambahan 6%selulosa. Nilai kuat tarik dari bioplastik dengan penambahan 6% selulosa adalah
sebesar 13,191 MPa, elongasi sebesar 1,41% dan swelling sebesar 21,55%. Uji biodegrabilitas
terhadap bioplastik yang dihasilkan menunjukkan bahwa bioplastik dapat terurai dalam waktu 10
hari.
Kata kunci: Bioplastik, Batang Pisang, Pati, Plastik, Selulosa, Umbi Talas,
ABSTRACT
Conventional plastic is commonly found in human life. Increasing of plastic consumption has
increased plastic waste. Therefore it is necessary to diversion of conventional plastic into bioplastic.
Bioplastic is a type of plastic which made from biodegradable materials. However, tensile strength
and elasticity of bioplastic is still lack, so that still need development. One of the solutions from this
problem is to use natural materials such as cellulose starch Colocasia esculenta and banana stem.
Colocasia esculenta and banana stem are rarely used, so it has a high potency to be used as materials
for bioplastic. The purpose of this research is to produce bioplastic which made from Colocasia
esculenta starch with cellulose reinforcement banana stem. The synthesis process consists the
manufacture Colocasia esculenta starch, the manufacture of banana stem fiber cellulose (Musa
paradisiacal), and the manufacture of bioplastics with the addition of cellulose that is 0%, 3%, 6%,
9% and 12% wt. The increasing amount of cellulose used to produce bioplastic are getting stronger,
yet rigid and less elastic. The best characteristics obtained when the addition of 6% cellulose cause
tensile strength values 13.191 MPa, 1.41% elongation, and 21.55% swelling. Biodegradability test
shows it can be biodegraded within 10 days.
Keywords: Bioplastic, Banana Stems, Colocasia esculenta, Plastic, Selulose, Strach

Sembiring / Sintesis Bioplastik Berbahan Pati Umbi Talas Dengan Penguat Selulosa
Batang Pisang

1.

PENDAHULUAN

Plastik merupakan bahan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia karena
fungsinya yang sangat luas untuk berbagai tujuan penggunaan. Plastik konvensional
merupakan jenis plastik yang paling lama dan banyak diproduksi secara global. Plastik
konvensional merupakan jenis plastik yang paling lama dan banyak diproduksi secara global. Plastik
konvensional dibuat dengan menggunakan bahan baku berupa minyak bumi. Konsumsi plastik
konvensional terus mengalami peningkatan, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya produksi plastik
konvensional secara global. Konsumsi plastik konvensional di Indonesia hingga semester pertama
2013 mencapai 1,9 juta ton dan hal menunjukkan peningkatan sekitar 22,58% dibandingkan semester
yang sama ditahun 2012 (Laporan Kementrian Perindustrian Republik Indonesia, 2013).
Plastik konvensional adalah plastik sintetis yang diproduksi dari bahan-bahan petrokimia yang
merupakan sumber daya terbatas dan tidak dapat diperbaharui (Atifah, 2010). Kenaikan konsumsi
plastik di Indonesia dan secara global telah meningkatkan limbah plastik sebab plastik konvensional
merupakan bahan yang tidak mudah diurai oleh alam, baik oleh cuaca maupun mikroba (Atifah,
2010). Peningkatan limbah platik menyebabkan pencemaran lingkungan dan menggangu kehidupan
ekosistem khususnya ekosistem di perairan. Setiap tahunnya, sekitar 8,8 juta ton plastik berakhir
dilautan (VOA, 2015). Sampah plastik tersebut merupakan isu penting didunia karena menyebabkan
keracunan bagi ekosistem laut. Oleh karena itu perlu pengalihan penggunaan plastik konvensional
menjadi bioplastik yang lebih mudah terdegradasi.
Bioplastik lebih mudah terdegradasi dibandingkan plastik konvensional karena bioplastik
terbuat dari bahan baku yang mudah diurai oleh mikroorganisme seperti pati dan selulosa. Bioplastik
telah banyak diproduksi secara gobal, bahkan berdasarkan pendataan oleh European Bioplastics pada
tahun 2011 produksi bioplastik mencapai 1.161.200 ton (European Bioplastics, 2012). Meskipun
kapasitas produksi bioplastik secara global cukup tinggi, namun penggunaan bioplastik masih lebih
sedikit dibandingkan plastik konvensional. Kurangnya penggunaan bioplastik untuk berbagai
keperluan disebabkan oleh karakteristik bioplastik yang masih belum begitu kuat dan elastis jika
dibandingkan dengan plastik konvensioanl. Selain itu masih mahalnya proses produksi bioplastik
yang telah ada menjadi salah satu faktor kurangnya penggunaan bioplastik. Oleh karena itu diperlukan
pengembangan lebih lanjut untuk menghasilkan bioplastik dengan karakteristik yang bagus namun
proses pengolahanya mudah dan murah.
1.1

Rumusan Masalah
Permasalahan yang diteliti adalah pembuatan bioplastik berbahan baku pati umbi talas dengan
penguat dari selulosa batang pisang. Sinaga dkk. (2014) telah melakukan penelitian mengenai
pengaruh penambahan gliserol terhadap sifat kekuatan tarik dan pemanjangan saat putus bioplastik
dari pati umbi talas dengan variasi larutan pati, variasi penambahan gliserol, dan variasi temperatur
pemanasan gelatin. Hasil terbaik diperoleh dari bioplastik dengan menggunakan 0,3 w/v pati, 1%
gliserol pada temperatur 70oC yang menghasilkan kuat tarik 18,5992 MPa dan nilai pemanjangan saat
putus 2,1290%.
Ginting dkk (2014) juga telah melakukan penelitian pembuatan bioplastik dengan bahan baku
umbi talas. Ginting dkk. melakukan variasi temperatur gelatinisasi pati untuk terhadap sifat kekuatan
tarik dan pemanjangan pada saat putus. Variasi temperatur yang dipergunakan adalah 6 oC, 70oC, dan
80oC. Hasil terbaik diperoleh ketika proses gelatinisasi dilakukan pada temperatur 70 oC dengan nilai
kuat tarik dan pemanjangan saat putus 9,4062 MPa dan nilai pemanjangan 6,762%.
Sedangkan penambahan selulosa dari batang pisang untuk memperkuat bioplastik telah
dilakukan oleh Febriyani (2014) dan Hilan dkk (2012), namun pati yang dipergunakan merupakan

Sembiring / Sintesis Bioplastik Berbahan Pati Umbi Talas Dengan Penguat Selulosa
Batang Pisang
jenis pati yang termasuk sebagai pakan pokok. Febriyani (2014) memanfaatkan selulosa mikrofibril
dari batang pisang sebagai bahan baku film plastik yang disintesisnya. Variasi yang dilakukan adalah
jumlah pati jagung 1,5; 1,75; 2,0; dan 3,0 gram dengan penambahan selulosa sebanyak 2,5 gram dan
gliserol sebanyak 1 gram. Film plastik yang terbaik diperoleh dari 1,5 gram pati dengan nilai kuat
tarik 13 Mpa dan permeabilitas uap air paling rendah yaitu 2,3 ngm/m 2sPa. Sedangkan elongasi
terbaik diperoleh dari film plastik yang mengandung pati 3,0 gram, yaitu elongasi sebesar 11%.
Hilan dkk. (2012) juga melakukan penelitian mengenai pembuatan dan karakteristik bioplastik
dari komposit kitosan-pati singkong-selulosa diasetat dari serat batang kepok (Musa paradisiaca
normalis) dengan plasticizer asam stearat. Variasi yang dilakukan adalah variasi selulosa diasetat dan
variasi asam stearat. Hasil terbaik yang diperoleh adalah bioplastik dengan kitosan 3%, pati 2%,
selulosa diasetat 3%, dan asam stearat 4% yang memiliki ketebalan 0,01mm, stress 0,0200 kN/mm2,
strain 0,0947 kN/mm2 dan modulus young 0,2112 kN/mm2, serta %swelling 0,35%. Waktu
terdegradasi yang diperlukan adalah 3 hari.

1.2

Tujuan Penelitian
Tujuan yang dicapai dari penelitian ini adalah membuat bioplastik berbahan baku pati umbi
talas dengan penguat selulosa batang pisang.
1.3

Urgensi Penelitian
Salah satu permasalah lingkungan yang paling banyak di Indonesia adalah limbah plastik.
Kebutuhan penggunaan plastik dalam kehidupan seperti sebagai kemasan pangan dan barang,
semakin meningkat sehingga menimbulkan peningkatan penggunaan plastik.
Plastik konvensional diproduksi dari bahan-bahan petrokimia yang merupakan sumber daya
terbatas dan tidak dapat diperbaharui. Kenaikan konsumsi plastik di Indonesia dan secara global telah
meningkatkan limbah plastik sebab plastik konvensional merupakan bahan yang tidak mudah diurai
oleh alam, baik oleh cuaca maupun mikroba. Oleh karena itu perlu pengalihan penggunaan plastik
konvensional menjadi bioplastik.
Bioplastik disintesis dari bahan-bahan alam yang dapat diurai oleh mikroorganisme ditanah.
Salah satu bahan utama yang digunakan adalah pati umbi talas dengan penguat selulosa batang
pisang. Umbi talas dan batang pisang merupakan bagian tanaman yang kurang banyak dimanfaatkan,
sehingga memiliki potensial yang tinggi untuk dijadikan bahan pembuatan bioplastik.
1.4 Tinjauan Pustaka
1.4.1 Bioplastik
Bioplastik atau yang sering disebut plastik biodegradable, merupakan salah satu jenis plastik
yang hampir keseluruhannya terbuat dari bahan yang dapat diperbarui dan dapat terurai oleh aktivitas
mikroorganisme (Coniwanti dkk., 2014). Permintaan bioplastik yang meningkat menyebabkan
bioplastik berkembang cepat dalam produk termoplastik global, baik yang bersifat biodegradable atau
non-biodegradable. Permintaan bioplastik global diperkirakan akan mencapai lebih dari satu milyar
pon pada 2012. Saat ini, segmen bioplastik biodegradable adalah segmen terbesar dari kategori
bioplastik, tetapi diperkirakan akan digeser oleh kelompok produk bioplastik non-biodegradable,
yang paling tidak 100% berasal dari biomassa. Penggunaan utama bioplastik ditujukan untuk
kemasan, pelayanan makanan sekali pakai, dan serat aplikasi.
Bioplastik dikelompokkan menjadi dua kelompok dan empat macam yaitu (1) agro-polimer
yang terdiri dari polisakaridan protein, dan (2) biopoliester seperti poli asam laktat (PLA),
polyhydroxyalkaoate (PHA), aromatik dan alifatik co-polieste r(Marbun, 2012). Agro-polimer
merupakan produk-produk biomassa yang diperoleh dari bahan-bahan pertanian contohnya
polisakarida dari pati umbi-umbian, jagung, dll.

Sembiring / Sintesis Bioplastik Berbahan Pati Umbi Talas Dengan Penguat Selulosa
Batang Pisang
Pati merupakan komponen utama dalam umbi talas (Colocasia esculenta) yang akan
dipergunakan untuk membuat bioplastik. Kandungan umbi talas ditunjukkan pada Tabel 2.1.
Bioplastik yang dibuat dengan menggunakan bahan utama pati umbi talas merupakan bioplastik
dengan jenis agro-polimer.
Tabel 1. Kandungan Umbi Talas
Komposisi
Komponen
(g pati/ 100g talas)
Kadar air (g/100g)
10,20
Protein (g/100g)
12,25
Lemak (g/100g)
0,50
Abu (g/100g)
4,15
Serat kasar (g/100g)
0,75
Karbohidrat (g/100g)
72,15
Pati (g/100g)
67,42
2,25
Amilosa (g/100g)
65,17
Amilopektin (g/100g)
(Sinaga dkk., 2014)
Pembuatan bioplastik berbasis pati dilakukan dengan prinsip gelatinisasi. Menurut Ginting dkk.
(2014), gelatinisasi merupakan proses penambahan sejumlah air pada pati dan dipanaskan pada suhu
yang tinggi akan menyebabkan granula pati menyerap air dan membengkak. Gelatinisasi
mengakibatkan ikatan amilosa akan saling berdekatan karena adanya ikatan hidrogen. Suhu
gelatinisasi pati akan mempengaruhi perubahan viskositas larutan pati. Pada umumnya suhu pecahnya
granula pati (suhu gelatinisasi) berkisar pada 55 oC 65oC.
Pembuatan bioplastik memerlukan plasticizer untuk memberikan sifat elastis pada produk.
Plasticizer adalah bahan organik dengan bobot molekul rendah dan dapat meningkatkan fleksibilitas
dan ekstensibilitas polimer (Febriyani, 2014). Plasticizer menurunkan kekuatan inter dan intra
molekular sehingga mampu meningkatkan mobilitas dan fleksibilitas (Coniwanti dkk., 2014). Jenis
dan konsentrasi dari plasticizer yang dipergunakan mempengaruhi kelarutan dari film berbasis pati
karena plasticizer dimana semakin banyak plasticizer maka kelarutan akan semakin meningkat.
Gliserol merupakan salah satu jenis plasticizer yang banyak dipergunakan. Gliserol memiliki sifat
mudah larut dalam air atau hidrofilik dan mampu meningkatkan jarak intermolekuler (Febriyani,
2014). Selain itu, gliserol banyak dipergunakan karena titik didihnya mencapai 204 oC sehingga cocok
untuk proses pembuatan bioplastik.
Selain elastis, bioplastik diharapkan memiliki kekuatan yang baik sehingga tidak mudah putus
ketika diberikan tekanan. Salah satu cara untuk memperkuat bioplastik adalah dengan menggunakan
selulosa. Selulosa merupakan polimer yang tersusun atas monomer glukosa melalui ikatan -1,4glikosida. Selulosa menjadi komponen utama penyusun jaringan dinding sel pada tumbuhan. Sifat
alami selulosa murni adalah kristalin, kaku dan tidak larut dalam air (Febriyani, 2014). Panjang
molekul selulosa ditentukan oleh derajat polimerisasi. Derajat polimerisasi selulosa tergantung pada
jenis tanaman dan umumnya berkisar antara 20027.000 unit glukosa. Selulosa termasuk zat
karbohidrat (polisakarida) yang mempunyai rumus molekul 2(C 6H10O5)n (Marbun, 2012).
Salah satu bahan alam yang dapat digunakan untuk menghasilkan selulosa adalah batang pisang
karena batang pisang memiliki serat alami yang merupakan selulosa rantai pendek. Batang pisang
merupakan limbah lignoselulosa. Limbah lignoselulosa adalah limbah hasil pertanian yang
mengandung serat selulosa, hemiselulosa, dan lignin (Febriyani, 2014). Umumnya masyarakat hanya
memanfaatkan batang pisang sebagai pakan ternak atau hanya dibuang saja. Padahal, batang pisang

Sembiring / Sintesis Bioplastik Berbahan Pati Umbi Talas Dengan Penguat Selulosa
Batang Pisang
dapat dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bermanfaat misalnya sebagai sumber selulosa karena
selulosa pada batang pisang mencapai 40-65% (Febriyani, 2014).
1.4.2 Karakterisasi Bioplastik
Bioplastik yang dihasilkan haruslah ditentukan karakteristiknya sehingga dapat menjadi
pertimbangan untuk diaplikasikan atau dikembangkan kembali. Beberapa karakterisasi bioplastik
yang utama adalah kuat tarik, kelenturan (elongasi), sifat ketahanan air dan biodegrabilitas.
Uji kuat tarik dan elongasi/kelenturan pada bioplastik perlu dilakukan untuk mengetahui
seberapa kuat dan elastisnya bioplastik yang dihasilkan. Kuat tarik dan elongasi diukur dengan
menggunakan alat uji tarik berdasarkan pada standar ASTM D 882-02 (Febriyani, 2014). Perhitungan
besarnya kuat tarik dan persentase elongasi menggunakan persamaan (1) dan (2).
(1)

(2)

Sifat ketahanan bioplastik terhadap air ditentukan dengan uji swelling (Ummah, 2013). Uji
swelling disebut juga sebagai persentase pengembungan film plastik karena adanya air. Ketahanan
bioplstik hasil uji swelling ditentukan dengan persamaan (3), dimana Wo merupakan berat kering dan
W adalah berat basah (Ummah, 2013).
(3)

Uji biodegrabilitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan suatu bahan terdegradasi


lingkungan. Proses biodegrabilitas dapat dilakukan dengan proses hidrolisis (degradasi kimia),
bakteri/jamur, cahaya atau fotodegradasi (Ummah, 2013). Selain itu, prose degradasi dapat dilakukan
juga dengan bantuan bakteri/jamur pada tanah dengan kondisi aerobik.
2.

METODE
Penelitian pembuatan bioplastik berbahan baku umbi talas dengan penguat dari selulosa batang
pisang dilakukan selama Mei Juni 2015. Tempat pelaksanaan adalah Laboratorium Teknologi Bahan
Alam dan Mineral (TBAM) Universitas Riau dan Laboratorium Bahan Teknik Sipil Universitas Riau.
2.1 Tahapan dan Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Tahapan pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan terdiri dari penentuan variabel penelitian,
persiapan bahan, pembuatan pati dari umbi talas (Colocasia esculenta), pembuatan selulosa dari serat
batang pisang kepok (Musa paradisiaca. L.) dan proses terakhir adalah pembuatan bioplastik.
Variabel tetap yang dipergunakan adalah 0,2 gr/ml larutan pati, gliserol 20%wt pati, dan temperatur
pemanasan 70oC. Variabel berubah yang dipergunakan adalah jumlah selulosa yaitu 0%, 3%, 6%, 9%,
dan 12%wt pati.
Persiapan awal dilakukan dengan pembuatan pati umbi talas dimana umbi talas dibersihkan dan
kemudian diparut. Parutan umbi talas kemudian dipress secara manual sehingga diperoleh larutan
pati. Larutan didiamkan selama 24 jam dan kemudian filtrat dibuang sehingga diperoleh endapan pati.

Sembiring / Sintesis Bioplastik Berbahan Pati Umbi Talas Dengan Penguat Selulosa
Batang Pisang
Endapan tersebut dicuci dan diamkan kembali. Proses pencucian dilakukan untuk mendapatkan pati
yang bersih. Pati dikeringkan dan dihaluskan hingga berukuran 100 mesh.
Proses selanjutnya adalah pembuatan selulosa dari batang pisang dengan menggunakan metode
Ferbiyani (2014). Tahap pertama adalah hidrolisis hemiselulosa dan depolimerisasi liginin
menggunakan larutan NaOH 1M selama 4 jam dengan temperatur pemanasan 80oC. Selulosa yang
diperoleh tersebut dicuci dengan menggunakan akuades sampai netral dan kemudian direndam
menggunakan NaOCl 5% selama 3 jam untuk menghilangkan warna. Selulosa yang telah berwarna
pucat kemudian dicuci kembali menggunakan akuades dan direfluks kembali menggunakan larutan
HCl 3% pada temperatur 60oC untuk menguraikan fibril selulosa menjadi bentuk makrofilik selulosa.
Selulosa kemudia dicuci sampai netral dan dikeringkan.
Pati dan selulosa yang telah kering kemudian dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan
bioplastik. Pati, air, selulosa, dan gliserol dicampurkan dalam jumlah yang telah ditetapkan.
Campuran dipanaskan pada suhu gelatinasi yaitu 70oC sampai terbentuk campuran yang amorf.
Bioplastik dicetak dan kemudian dikeringkan pada temperatur kamar. Bioplastik kering kemudian
diuji karakteristiknya yaitu kuat tarik, elongasi, dan swelling (ketahanan terhadap air).
2.2 Instrumen Pelaksanaan Penelitian
Instrumen pelaksanaan penelitian terdiri dari alat dan bahan yang digunakan. Bahan yang
dipergunakan adalah umbi talas, batang pisang, NaOH, aquades,HCl, NaOCl, tanah. Alat yang
dipergunakan adalah neraca analitik, labu ukur, gelas piala, gelas ukur, pengaduk, oven, kertas saring,
loyang, cetakan kaca, pipet tetes, dan beberapa peralatan plastik.
3.

Hasil dan Pembahasan


Bioplastik yang disintesis pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bahan baku
berupa pati umbi talas, gliserol dan selulosa seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Bahan Baku Pembuatan Bioplastik (a) Pati, (b) Gliserol dan (c) Selulosa Batang Pisang
Setiap penambahan selulosa menghasilkan bioplastik dengan warna yang bervariasi. Semakin
banyak selulosa yang ditambahkan, warna bioplastik menjadi semakin cokelat seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2. Warna coklat tersebut terbentuk karena selulosa yang dipergunakan
masih berwarna kecokelatan.

Sembiring / Sintesis Bioplastik Berbahan Pati Umbi Talas Dengan Penguat Selulosa
Batang Pisang

Gambar 2.Bioplastik Hasil Penambahan 0%, 3%, 6%, 9% dan 12% Selulosa Batang Pisang
Penentuan karakteristik bioplastik yang terdiri dari kuat tarik, elongasi dan ketahanan terhadap
air (swelling). Hasil pengujian karakteristik dari setiap bioplastik ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Data Hasil Pengujian Karakteristik
Selulosa
Kuat Tarik
Elongasi
Swelling
(%wt
(MPa)
(%)
(%)
pati)
0
10,573
2,11
44,72
3
11,733
1,95
44,74
6
13,191
1,41
21,55
9
13,784
1,26
53,68
12
15,499
1,18
54,67
Hasil uji kuat tarik ditampilkan dalam bentuk grafik seperti pada Gambar 3. Grafik
menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah selulosa yang dipergunakan maka semakin kuat
bioplastik yang dihasilkan.Peningkatan sifat mekanik tersebut terjadi karena adanya kontribusi
selulosa. Selulosa meningkatkan nilai kuat tarik karena adanya ikatan hidrogen yang terjadi antara
gugus hidroksil (O-H) dari pati dengan hidroksi (OH) dan karboksil (COOH) dari selulosa (Septiosari,
2014). Ikatan tersebutlah yang menyebabkan peningkatan kekuatan material.

Gambar 3.Hasil Uji Kuat Tarik Bioplastik

Sembiring / Sintesis Bioplastik Berbahan Pati Umbi Talas Dengan Penguat Selulosa
Batang Pisang
Nilai kuat tarik pada dasarnya berbanding terbalik dengan nilai elastisitas pada bioplastik. Nilai
elongasi atau elastisitas dari bioplastik yang dihasilkan ditunjukkan pada Gambar 4. Elastisitas
menjadi menurun dengan adanya penambahan selulosa dan bioplastik menjadi lebih kaku serta
keras.Elastisitas bioplastik dihasilkan dari penggunaan plasticizer, sehingga semakin banyak jumlah
plasticizer maka akan semakin lentur bioplastik tersebut. Namun pada penelitian ini dipergunakan
jumlah gliserol yang konstan untuk semua variabel.

Gambar 4.Hasil Uji Elongasi Bioplastik


Namun peningkatan jumlah selulosa yang dipergunakan belum tentu menghasilkan bioplastik
yang tahan terhadap air. Uji swelling merupakan pengujian yang dilakukan untuk menentukan sifat
ketahanan bioplastik terhadap air dengan hasil seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Tingginya
penyerapan air oleh bioplastik ditentukan oleh jumlah gliserol yang dipergunakan. Gliserol
merupakan plasticizer yang bersifat hidrofilik sehingga ketika direndam didalam air maka bioplastik
akan menyerap air lebih banyak. Sifat hidrofilik tersebut dapat dikurangi dengan penambahan
sejumlah selulosa. Namun, berdasarkan hasil pengujian nilai penyerapan air terendah terjadi pada
bioplastik dengan penambahan 6% selulosa.

Gambar 5.Hasil Uji Swelling Bioplastik

Sembiring / Sintesis Bioplastik Berbahan Pati Umbi Talas Dengan Penguat Selulosa
Batang Pisang
Berdasarkan struktur kimianya, selulosa memiliki ikatan hidrogen yang kuat sehingga akan sulit
untuk bergabung dengan air (Septiosari dkk, 2014). Namun, penambahan selulosa yang berlebih akan
mampu meningkatkan daya serap selulosa. Hal tersebut terjadi karena ikatan hidrogen dalam molekul
selulosa cenderung untuk membentuk ikatan hidrogen intermolekul dengan air (Septiosari dkk, 2014).
Sehingga hasil yang terbaik adalah bioplastik dengan penambahan 6% selulosa.
Hasil terbaik tersebut kemudian diuji kemampuan biodegrabilitasnya. Uji biodegrabilitas
dilakukan dengan memedam sampel didalam pot berisi tanah. Pada hari ke-4, bioplastik telah
berjamur dan hancur secara sempurna pada hari ke-10. Kecepatan proses biodegrabilitas dipengaruhi
oleh kelembaban, keasaman dan jumlah mikroorganisme pengurai pada tanah. Semakin lembab dan
banyak mikroorganisme dalam tanah maka semakin cepat penguraian bioplastik.
4.

Kesimpulan
Bioplastik merupakan jenis plastik yang terbuat dari bahan yang dapat diperbarui dan dapat
terurai oleh aktivitas mikroorganisme. Salah satu bahan alam yang dapat dipergunakan sebagai bahan
baku pembuatan bioplastik adalah pati umbi talas (Colocasia esculenta). Pembuatan bioplastik
berbahan baku pati umbi talas dilakukan dengan menggunakan penguat berupa selulosa yang berasal
dari batang pisang kepok (Musa paradisiaca. L.) dan gliserol sebagai plasticizer.
Peningkatan jumlah selulosa yang dipergunakan dapat menghasilkan bioplastik yang semakin
kuat namun kaku dan kurang elastis. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, bioplastik dengan
sifat yang kuat namun cukup elastis dan tahan air diperoleh ketika dilakukan penambahan selulosa
6%. Nilai kuat tarik dari bioplastik dengan penambahan 6% selulosa adalah sebesar 13,191 MPa
dengan elongasi sebesar 1,41% dan swelling sebesar 21,55%. Uji biodegrabilitas terhadap bioplstik
yang dihasilkan menunjukkan bahwa bioplastik dapat terurai dalam waktu 10 hari.
5.

Ucapan Terima Kasih


Dalam penulisan artikel ilmiah ini, penulis memperoleh bantuan dan bimbinga dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
a. Pihak DIKTI yang telah mendanai penelitian.
b. Bapak Dr. Ir. Bahruddin, M.T. selaku dosen pembimbing penelitian yang telah bersedia untuk
memberi arahan dan masukan terhadap penelitian.
c. Orangtua tercinta yang telah memberi dukungan secara moral.
6.
Kesimpulan
2012. Bioplastics Facts and Figures. European Bioplastics. Institute for Bioplastics and
Biocomposites.
2013. Semester I, Konsumsi Plastik 1,9 Juta Ton. Laporan Kementrian Perindustrian Republik
Indonesia. http://www.kemenperin.go.id/artikel/6262/Semester-I,-Konsumsi-Plastik-1,9-JutaTon. Diakses 26 Maret 2015.
Atifah, N. 2010. Pemanfaatan Hidrolisat Pati Sagu sebagai Sumber Karbon pada Produksi Bioplastik
Polihidroksialkanoat secara Fed-Batch oleh Ralstonia eutropha. Tesis. Institut Pertanian Bogor
Coniwati, P., L. Laila, M.R. Alfira. 2014. Pembuatan Film Plastik Biodegredabel dari Pati Jagung
Dengan Penambahan Kitosan dan Pemplastis Gliserol. Jurnal Teknik Kimia. 20 (4): 22-30.
Febriyani, E.P. 2014. Selulosa Mikrobifril dari Batang Pisang Sebagai Bahan Baku Film Plastik.
Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Ginting, M.H.S., R.F. Sinaga, R. Hasibuan, & G. Ginting. 2014. Pengaruh Variasi Temperatur
Gelatinisasi Pati Terhadap Sifat Kekuatan Tarik dan Pemanjangan pada Saat Putus Bioplastik
Pati Umbi Talas. Seminar Nasional Sains dan Teknologi. 12 November 2014, Jakarta. Hal. 1-3.

Sembiring / Sintesis Bioplastik Berbahan Pati Umbi Talas Dengan Penguat Selulosa
Batang Pisang
Hillan, L.R., S. Wafiroh., Suyanto. 2012. Pembuatan dan Karakteristik Bioplastik dari Komposit
Kitosan-Pati Singkong-Selulosa Diasetat dari Serat Batang Pisang Kepok (Musa paradisiaca
normalis) dengan Plastizer Asam Stearat. Surabaya.
Marbun. 2012. Sintesis Bioplastik dari Pati Ubi Jalar Menggunakan Penguat Logam ZnO dan Penguat
Alami Selulosa. Skripsi. Universitas Indonesia; Depok.
Septiosari, A., Latifah & E. Kusumawati. 2014. Pembuatan dan Karakterisasi Bioplastik Limbah Biji
Mangga dengan Penambahan Selulosa dan Gliserol. Indonesian Journal of Chemical Science. 3
(2): 157-162.
Sinaga, R.F., Ginting, G.M., Hasibuan, R. 2014. Pengaruh Penambahan Gliserol Terhadap Sifat
Kekuatan Tarik dan Pemanjangan Saat Putus Bioplastik dari Pati Umbi Talas. Jurnal Teknik
Kimia USU. 3 (2): 19-24.
Ummah, N.A., 2013. Uji Ketahanan Biodegradable Plastic Berbasis Tepung Biji Durian (Durio
Ziberthinus Murr) terhadap air dan Pengukuran Densitasnya. Skripsi. Universitas Negeri
Semarang.
VOA. 2015. Studi: 8,8 Juta Ton Sampah Plastik Dibuang ke Laut Setiap Tahun.
http://www.voaindonesia.com/content/studi-8-juta-ton-sampah-plastik-dibuang-ke-laut-setiaptahun/2641750.html. Diakses tanggal 25 Agustus 2015.

10