You are on page 1of 3

Artikel Profesi Keguruan

Nama : Lalu Abdul Yasir

Guru Tanpa

NIM

Tunjangan Profesi

: E1R014030

Prodi : Pendidikan Matematika


Kelas : A Regular Pagi

Masa-masa bulan madu guru akan segera berakhir. Tunjangan profesi yang selama ini
menjadi kebanggaan sekaligus pembeda, akan dihapus pada 2016. Sesungguhnya tanda-tanda
penghapusan itu sudah terbaca. Paling tidak, dalam dua tahun terakhir pencairan tunjangan ini
mulai tersendat. Aturan pun diperketat dengan beragam persyaratan, tidak semudah sebelumnya.
Seiring dengan itu dimunculkanlah wacana penghapusan. Tahun depan, guru pegawai negeri sipil
yang lulus sertifikasi tidak lagi menerima tunjangan profesi. Ini merupakan konsekuensi dari
sistem penggajian tunggal yang diberlakukan sama untuk 4,6 juta aparatur sipil negara (ASN),
tidak terkecuali 1,7 juta guru.
Dengan sistem gaji tunggal tidak ada tunjangan profesi. Semua ASN menerima gaji
dengan tiga komponen, gaji pokok (75 persen), tunjangan kinerja (25 persen), dan tunjangan
kemahalan. Gaji pokok berbasis beban kerja, tanggung jawab jabatan, dan risiko. Sementara
pencapaian kinerja berdasarkan penilaian kinerja individu. Tunjangan profesi guru masuk
komponen penilaian kinerja. Dengan model penggajian ini, tidak ada lagi pegawai negeri yang
gajinya kecil tetapi take home pay besar. Besar-kecilnya gaji bergantung pada beban kerja,
tanggung jawab jabatan, dan risiko, ditambah penilaian kinerja masing-masing individu.
Tunjangan profesi guru mengundang polemik. Beranggaran jumbo Rp 80 triliun per tahun,
tunjangan ini berpotensi manipulatif. Wacana penghapusan diprotes para guru. Dengan UndangUndang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, tunjangan profesi guru otomatis
hilang. Berbeda dari Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 yakni gaji PNS terdiri dari gaji
pokok, kenaikan berkala, kenaikan istimewa, tunjangan, dan honorarium. Pada peraturan lama,
sumber penghasilan PNS berbeda-beda, sulit diawasi dan dievaluasi. Tunjangan tidak berbasis
kinerja, tetapi dipukul rata. Dengan aturan baru, guru yang bekerja baik akan mendapat
tunjangan kinerja lebih.

Sistem dibangun terbuka dan adil dengan penilaian terukur. Siapa yang ingin mendapat
take home pay besar, dituntut bekerja keras dan profesional. Namun kebijakan positif ini
mematik keresahan di kalangan guru. Tekad pemerintah menghapus tunjangan profesi guru bisa
dimaklumi sebagai bagian dari reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja, membangun
transparansi dan berkeadilan. Hasil penelitian Bank Dunia menyimpulkan, program sertifikasi
tidak memberi pengaruh signifikan terhadap kualitas guru, selain kemakmuran materi.
Peningkatan penghasilan tidak memacu kinerja, justru sebaliknya meningkatkan konsumerisme
dalam gaya hidup.
Komentar terhadap artikel :
Tunjangan profesi guru adalah salah satu cara meningkatkan kemakmuran guru berupa
gaji yang jumlahnya setara dengan satu kali gaji pokok guru yang dibuat oleh pemerintah .
Sistem penggajian dibagi dua dengan tunjangan pokok dan tunjangan kinerja. Besar gaji yang
diperoleh dilhat dari kinerja, tanggung jawab, jabatan dan resiko.
Saya tidak setuju dengan hal ini. Seperti yang kita ketahui guru harus memiliki sertifikasi
untuk mendapatkan tunjangan profesi. Guru adalah sosok pengajar yang patut dicontohi karena
tekat , niat untuk mengajar para murid atau siswa. Seharusnya guru harus diberi tunjangan.
Terkait dengan kinerjanya guru terus menerus mengajarkan ilmu pada anak didik. Ilmu yang
terus menerus diberikan diharapkan membuat para generasi anak didik menjadi lebih baik.
Tunjangan guru diharapkan dapat meningkatkan kualitas guru atas profesionalitas untuk
mewujudkan amanah undang-undang guru dan dosen antaranya mengangkat martabat guru ,
meningkatkan kommpetensi guru, memajukan profesi guru, meningkatkan mutu pembelajaran
dan meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. Seharusnya Tunjangan Profesi bersifat
tetap selama guru yang bersangkutan melaksanakan tugas sebagai guru atau guru yang mendapat
tugas tambahan sebagai pengawas satuan pendidikan dengan memenuhi persyaratan yang sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Seharusnya pemerintah juga menetapkan tunjangan kepada para guru PNS maupun non
PNS. Tidak seharusnya aturan-aturan diperketat dan malah membuat para guru kesulitan. Seperti
halnya guru yang menerima tunjangan dengan syarat adanya SK/ surat penugasan dari kepala
sekolah dan belum mendapatkan tunjangan profesi. Guru harus memiliki jam wajib mengajar

minimal 24 jam tatap muka per minggu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, yang
dibuktikan dengan SK/Surat Penugasan dari kepala sekolah. Guru yang memiliki tatap muka
kurang dari 24 jam per minggu perlu dipertimbangkan karena tidak sesuai denga syarat untuk
menerima tunjangan profesi. Sehingga adanya hak dan kewajiban dari guru yaitu hak guru
mendapatkan tunjangan profesi namun cara memenuhinya adalah dengan melaksanakan
kewajiban dari syarat tersebut dengan kewajiban guru adalah untuk mengajar para peseta didik
dengan kriteria dari tunjangan profesi tersebut.
Tak hanya itu, pemerintah juga harus melihat guru-guru yang berada di daerah tertinggal
atau dipelosok. Kebanyakan dari mereka adalah guru honorer yang sudah mengajar lebih dari
lima tahun namun mereka terus mengabdi demi para anak didik. Tak seharusnya pemerintah
menghapus tunjangan untuk para guru. Pemerintah kurang memerhatikan kondisi para guru
dipelosok Seharusnya pemerintah mendata guru yang telah mengajar lebih dari lima tahun dan
mengankat para guru menjadi PNS sehingga guru mendapatkan sertifikasi dan mendapatkan
upah yang layak
Dalam mendapatkan tunjangan profesi. Menurut pemerintah ada tiga kriteria penilaian
dalan mendapatkan tunjangan yaitu kinerja guru, uji kompetensi guru dan prestasi siswa. Dalan
kinerja guru ada banyak sekali guru yang memiliki kinerja bagus dalam melakukan profesinya,
namun disamping itu juga ada sebagian guru yang memiliki kinerja yang kurang dalam
pekerjaannya. Dalam hal ini pemerintah harus selektif memilih dan melihat kinerja dari guru,
tidak seharusnya tunjangan guru dihapus karena menurut pemerintah ada beberapa guru yang
kurang dalam kinerjanya sehingga tunjangan dihapus. Dengan adanya pengawasan guru yang
memiliki kinerja bagus dapat mendapatkan tunjangan yang besar sedangkan guru yang kurang
maksimal dalam kinerjanya mendapatkan sebagian dari tunjangan atau mengurangi tunjangan.
Dengan adanya tunjangan pada guru diharapkan kinerja guru semakin lebih baik lagi dan
dengan tujuan, cita-cita dan niat mampu mencetak anak bangsa menjadi anak-anak yang cerdas
dan mampu meminpin bangsa.