You are on page 1of 15

MAKALAH

KEUNGGULAN PERBANYAKAN PISANG (Musa spp)


SECARA KULTUR JARINGAN DIBANDINGKAN DENGAN
PERBANYAKAN KONVENSIONAL

Disusun oleh :
Kelompok 1 Praktikum 1

Andhika Geofany
Amarudin
Aulia Rahma S
Aina Aitunisya

(J3G114005)
(J3G114007)
(J3G114042)
(J3G214059)

PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah Keunggulan Perbanyakan Buah Pisang (Musa spp) Secara Kultur Jaringan Dibandingkan Perbanyakan Secara Konvensional dapat tersusun
hingga selesai.Tak lupa kami ucapkan terimaksih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi membantu selesainya makalah ini dengan sumbangan ide ide dan
informasi yang sangat dibutuhkan untuk penyelesaian makalah ini.
Tidak banyak didapati masalah dalam proses penyelesaian makalah ini.
Masalah masalah kecil biasanya kami dapati dalam pencarian informasi informasi yang terpercaya. Informasi dalam penyususnan makalah ini, namun
dengan memeriksa ulang setiap informasi makalah ini ditulis dengan informasi
yang dapat dipercaya dan saling medukung satu sama lain.
Selanjutnya seperti disadari makalah ini tidak sempurna.Kritik dan saran
sangat dibutuhkan untuk perbaikan. Pengalaman yang didapatkan dalam pembuatan makalah ini semoga dapat menjadi tambahan ilmu dan pengalaman bagi
tim penyusun yang berkontribusi dengan harapan dapat lebih baik dalam pembuatan karya tulis. Selebihnya dimohon maaf atas kekuragan yang terdapat pada
makalah ini.

Bogor, 2015 Desember 23

Kelompok 1 Praktikum 1 TIB 51


Program Diploma IPB

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pisang adalah salah satu tanaman budidaya paling penting untuk masyarakat
yang hidup daerah tropis dan subtropis. Tanaman ini menjadi komoditaspertanian
global terpenting nomor empat setelah beras, gandum dan susu. Sebagian besar dikonsumsi oleh penduduk lokal, tetapi kira-kira 10 persen dari 70 juta produksi dunia adalah diekspor.Sebagai hasilnya industri ini mewakili sumber utama dari pemasukan dan tenaga kerja di banyak negara-negara tropis yang sedang berkembang.
Permintaan komoditas pisang di dalam negeri akan terus mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya pendidikan, pendapatan dan kesadaran akan pentingnya gizi masyarakat. Selain itu
perkembangan pariwisata atau agrowisata dan agroindustri yang mengolah hasilhasil pertanian secara langsung akan meningkatkan kebutuhan bahan baku dari
komoditas hortikultura (Cahyono 1995).
Peningkatan kebutuhan pisang sejalan dengan peningkatan populasi
perkembangan pasar-pasar baru, khususnya di Eropa, memiliki metode perkembangbiakan tradisional yang memungkinkan untuk mengatasi permintaan bahan
tanaman baru. Lagipula produksi pisang di tahun-tahun terakhir dipengaruhi oleh
penyakit yang diakibatkan oleh jamur dan virus seperti Sigatoka hitam
(Mycosphaerella musiocola), penyakit Panama (Fusarium oxysporum f. sp.
cubense) dan penyakit pucuk tandan menyebarkan perbanyakan tanaman dari negara ke negara atau benua ke benua termasuk penyebaran yang mungkin diikuti
oleh penyakit tersebut.
Perbanyakan tanaman secara konvensional umumnya masih memerlukan
waktu yang lama dan tempat yang luas. Untuk mengatasi hal tersebut maka dapat
dilakukan beberapa cara yang dianggap efektif untuk dapat meningkatkan
kualitasmaupun kuantitas dari produksi tanaman pisang khususnya pisang varietas
raja. Sesuai dengan kemajuan teknologi, budidaya pisang pun mengalami
kemajuan pesat. Budidaya pisang tidak hanya sekedar dilakukan tetapi telah

dilakukan secara intensif (Satuhu dan Supriyadi 2004). Sistem perbanyakan


tanaman ini dikenal sebagai teknik kultur jaringan atau budidaya jaringan, dapat
juga disebut dengan perbanyakan tanaman secara vegetatif modern.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa akibat dari kenaikan permintaan buah pisang?
2. Bagaimana cara menanggulangi kenaikan permintaan buah pisang agar
kebutuhan konsumen terpenuhi?
3. Apa kendala yang dihadapi dalam perbanyakan buah pisang
(konvensional)?
4.

Bagaimana cara perbanyakan buah pisang dengan kultur jaringan?

5. Apa saja faktor yang mempengaruhi perbanyakan pisang secarakultur


jaringan dan saat tanam dalam kondisi lapang?
6.

Apa keunggulan perbanyakan secara kultur jaringan dibandingkan dengan


konvensional pada pisang?

1.3Tujuan
Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tanaman pisang (Musa paradisiaca) dengan teknik kultur jaringan beserta keunggulannya dibandingkan dengan perbanyakan secara konvensional.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistematika Pisang


Menurut Stennis (2003) pisang (Musa spp) adalah genus yang berada di dalam famili Musaceae, ordo Zingiberales, dan divisi tumbuhan tingkat tinggi atau
yang biasa disebut Spermatophyta.
Pisang berasal dari bahasa Arab yaitu maus dan menurut Linnaeus termasuk keluargaMusaceae (Satuhu dan Supriyadi 1999). Indonesia merupakan salah
satu negara penghasil tanaman pisang dengan tingkat keragaman yang sangat

tinggi dan tersebar di seluruh daerah di Indonesia. (Nainggolan dkk 2002 dalam
Wahyudi 2004).
Adapun botani tanaman pisang adalah sebagai berikut: tumbuhan seperti pohon, tinggi 2-9 m; batang pendek dalam tanah yang disebut Corm; mempunyai
kuncup-kuncup tunas yang akhirnya berkembang menjadi anakan. Akar liar (adventif) tumbuh menyebar secara lateral, dapat mencapai panjang 4-5 m. Batang
yang di atas permukaan tanah adalah batang semu yang merupakan kumpulan dari
pelepah daun yang berdaging, membentuk suatu bentuk silindris dengan diameter
20-50 cm. Daun baru yang terbentuk tumbuh dari batang semu. Helai daun berbentuk oblong yang besar dengan panjang 150-400 cm dengan lebar 70-100 cm.
Bila bunga majemuk telah terbentuk di ujung batang semu, maka pembentukan
helai daun baru akan berhenti. Bunga majemuk terkumpul menjadi beberapa kelompok (sisir) dan setiap kelompok didukung oleh daun penumpu yang besar, berwarna merah dan di dalamnya terdapat dua baris bunga.Keseluruhan kelompok
bunga ini bersatu dalam bentuk seperti jantung, sehingga disebut sebagai jantung
pisang. Daun penumpu dari setiap kelompok bunga akan luruh setelah terjadinya
proses perkembangan buah (Sudarnadi 1996).
Tanaman pisang termasuk tanaman iklim tropis basah yang mudah didapatkan di Indonesia, tanaman ini tahan hidup di musim kemarau, mampu tumbuh
dan berproduksi baik pada berbagai jenis tanah pada ketinggian tempat antara 01000 m di atas permukaan laut. Tanaman pisang mudah tumbuh di berbagai tempat sehingga penanaman yang dilakukan oleh petani belum teratur dan sering dicampur dengan tanaman lainnya. Selain itu pemeliharaan tanaman pisang belum
dilakukan secara intensif, sehingga produksi dan mutu buah yang dihasilkan masih rendah (Warda dan Hutagalung 1994).

2.2 Teknik Kultur Jaringan

Kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture. Kultur
adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan
fungsi yang sama. Maka, kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan
tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya
(Suryowinoto 1991 dalam Hendaryono dan Wijayani 1994).

Manfaat perbanyakan tanaman secara kultur jaringan adalah untuk perbanyakan vegetatif tanaman yang permintaannya tinggi tetapi pasokannya rendah,
karena laju perbanyakan secara konvensional dianggap lambat. Di samping itu,
perbanyakan tanaman secara kultur jaringan sangat bermanfaat untuk memperbanyak tanaman introduksi, tanaman klon unggul baru, dan tanaman bebas patogen yang perludiperbanyak dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat (Yusnita 2003).
Perbanyakan bibit secara cepat adalah salah satu dari penerapan teknik kultur jaringan yang telah dilakukan terutama untuk beberapa jenis tanaman yang
diperbanyak secara klonal.Tujuan utamanya adalah memproduksi bibit secara
masal dalam waktu singkat.Hal ini terutama dilakukan pada tanaman-tanaman
yang persentase perkecambahan bijinya rendah. Tanaman hibrida yang berasal dari tetua yang menunjukkan sifat male sterility, hibrida-hibrida yang unik, perbanyakan pohon elite dan/atau pohon untuk batang bawah dan tanaman yang selalu diperbanyak secara vegetatif seperti kentang, pisang dan strawberry juga
diperbanyak secara kultur jaringan (Gunawan 1987 dalam Mattjik 2005). Tujuan
lain dari kultur jaringan adalah untuk membiakkan bagian tanaman dalam ukuran
yang sekecilkecilnya sehingga menjadi beratus-ratus ribu tanaman kecil (klon),
dan untuk menghasilkan kalus sebanyak-banyaknya.

BAB III METODELOGI

Meretode penulisan adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk mengumpulkan,mengolah dan menganalisa data dengan teknik tertentu.
Sesuai dengan sumber data serta maksud dan tujuan penyusunan karya
ilmiah maka dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode yang berupa
studi kepustakaan.Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk
menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau
sedang diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, buku tahunan, ensiklopedian dan sumber-sumber tertulis.Penuliasan makalah ini menggunakan metode pengumulan data.

Untuk melakukan studi kepustakaan, perpustakaan merupakan suatu tempat


yang tepat guna memperoleh bahan-bahan dan informasi yang relevan untuk dikumpulkan, dibaca dan dikaji, dicatat dan dimanfaatkan.

BAB IV PEMBAHASAN

Akibat dari kenaikan minat masyarakat terhadap buah pisang


Gizi yang baik menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Sumber gizi yang baik
dapat kita dapatkan dari buah-buahan.Dari bermacam buah yang ada, pisang merupakan salah satu komoditas buah yang kandungan gizinya baik. Kelebihan
utama dari buah ini dibandingkan dari konsumsi buah yang lainnya adalah menyediakan energi yang cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lainnya karena pisang memiliki serat dan kandungan gula yang tinggi.
Pisang kaya akan mineral seperti kalium, magnesium, besi, fosfor dan kalsium, mengandung vitamin B; B6; dan C, serta mengandung serotinin yang aktif
sebagai neutransmitter untuk kelancaran fungsi otak (Suyanti & Ahmad Supriyadi
2008). Semua kandungan tersebut dibutuhkan oleh manusia sebagai keseimbangan gizi yang dikonsumsi setiap hari, membuat pisang cocok sebagai makanan utama dibandingkan hanya kudapan seperti buah-buahan yang lain.
Bentuk,tekstur, dan tingkat kemanisan pisang yang memiliki banyak varian
(tegantung dari varietasnya) membuat pisang dapat memenuhi selera masyarakat
yang luas. Pisang yang bertekstur lembut seperti Sunrise cocok digunakan untuk
bayi, untuk anak-anak yang menyukai makanan manis dan mudah dimakan pisang
mas menjadi varian yang dianjurkan karena perilaku anak-anak yang aktif sehingga cocok sebagai kudapan. Banyak varian pisang lain yang tidak hanya cocok
untuk pangan langsung, seperti pisang gajih yang cocok sebagai pakan hewan peliharaan dan produk olahan seperti pisang goreng yang bisa menggunakan berbagai varian pisang. Kisaran selera yang luas tersebut menyebabkan pisang
memiliki permintaan produksi yang tinggi.
Potensi permintaan komoditas yang besar menyebabkan rencana untuk
produksi pisang secara masal semakin tinggi, karena sedikitnya jumlah produksi

pisang membuat harga naik dan orang merasa berat untuk membeli. Hal tersebut
menjadi masalah utama minat akan buah pisang turun, tanpa disadari pula bahwa
kandungan gizi buah pisang sangatlah penting untuk keseharian. Sudaraman
(2000) menyatakan secara umum bila harga suatu komoditas tinggi, maka hanya
sedikit orang yang mau dan mampu membelinya.Akibatnya, jumlah komoditas
yang dibelinya hanya sedikit saja.
Produksi jumlah banyak menyebabkan harga komoditas terjangkau, dan
harga yang terjangkau menyebabkan minat yang semakin tinggi akan komoditas
tersebut. Minat tinggi berbanding lurus dengan kenaikan produksi.Secara otomatis
jumlah produksi naik, menyebabkan harga jual terjangkau oleh masyarakat umum.

Cara menanggulangi kenaikan permintaan buah pisang agar kebutuhan


konsumen tercukupi.
Seiring peningkatan jumlah penduduk dan tingkat kesadaran masyarakat
untuk mengkonsumsi buah-buahan diharapkan dapat meningkatkan konsumsi
buah pisang secara nasional, sehingga kebutuhan buah pisang akan terus meningkat, maka perlu dilakukan pengembangan pisang baik secara intensifikasi maupun
secara ekstensifikasi. Pengembangan pisang berskala kebun rakyat dan besar akan
membuka peluang agribisnis hulu, seperti industri perbenihan dan industri peralatan mekanisasi pertaniannya.
Industri benih pada komoditas pisang selama ini dilakukan dengan metode
perbanyakan secara anakan, dimana metode tersebut membutuhakan waktu yang
cukup lama. Lamanya proses mempengaruhi kebutuhan bibit pisang yang dibutuhkan untuk mencukupi produksinya. Menggunakan metode perbanyakan yang
lebih efektif dan efisien diperlukan dalam perkembangannya.

Kendala yang dihadapi dalam perbanyakan buah pisang (konvensional)


Banyak kendala yang dihadapi dalam perbanyakan buah pisang. Buah pisangyang banyak dibudidayakan dewasa ini adalah buah pisang yang berasal dari
varian tanpa biji sesuai dari selera dan permintaan masyarakat, artinya pisang tidak bisa diperbanyak secara generatif seperti komoditas hortikultura pada umumnya. Pisang adalah komoditas yang diperbanyak secara vegetatif, menyebabkan

anakan atau keturunan pisang identik secara penampakan (fenotip) dengan indukannya.Keadaan ini memiliki kelebihan yaitu keseragaman saat produksi namun memiliki kekurangan yaitu risiko penularan penyakit yang terbawa dari
induknya. Kendala lain dari perbanyakan pisang vegetatif adalah lama proses perbanyakan. Keadaan seperti ini mendorong inovasi-inovasi baru dalam metode
budidaya.
Salah satu tanaman buah-buahan yang diperbanyak secara komersial dengan
teknik kultur jaringan adalah pisang. Pisang biasanya diperbanyak secara vegetatif
menggunakan anakan atau bonggolnya atau biasa disebut perbanyakan secara
konvensional.Menurut Sunarjono (2004) satu tanaman induk umumnya menghasilkan 5-10 anakan per tahun.Sedangkan, menurut SOP Pisang Raja Bulu
Kabupaten 2 Cianjur (2010) dalam Direktorat Tanaman Buah Ditjen Bina Produksi Hortikultura (2010), hanya 2-3 anakan per rumpun yang baik digunakan
sebagai bahan tanam.
Berbagai kendala dalam budidaya pisang secara konvensional adalah sulit
mendapatkan bibit yang berkualitas dalam jumlah besar, waktu yang singkat dan
kontinu.Ukuran anakan yang cukup besar menyulitkan transportasi bibit dari satu
tempat ke tempat penanamannya.Anakan yang diproduksi oleh satu induk pisang
ukuran dan umurnya beragam, sehingga sangat sulit untuk memperoleh anakan
berukuran seragam dalam jumlah memadai untuk perkebunan pisang secara komersial.
Perbanyakan bibit pisang dapat dilakukan dengan cara membelah bonggol
sesuai dengan mata tunasnya, setiap belahan tunasnya disebut dengan istilah bit.
Namun, perbanyakan bibit unggul secara konvensional ini belum mampu memenuhi kebutuhan bibit pisang pada perkebunan skala besar.Selain itu umur
anakan yang tidak seragam menyebabkan peningkatan biaya produksi.
Untuk mengatasi kendala dari perbanyakan secara konvensional tersebut diperlukan teknologi alternatif sehingga dapat menyediakan bibit yang seragam dalam jumlah besar, berkualitas, bebas penyakit, dalam waktu yang singkat dan
kontinu. Teknik perbanyakan klonal alternatif yang efesien adalah melalui teknik
kultur jaringan.

Cara perbanyakan buah pisang dengan kultur jaringan


Kultur jaringan adalah suatu usaha untuk menumbuhkan sel, jaringan, dan organ
tanaman pada medium buatan secara aseptik dalam lingkungan yang terkendali. Pengadaan bibit dengan cara ini, sangat sesuai untuk usaha pisang dalam skala besar (industri).
Pisang umumnya diperbanyak dengan anakan. Anakan yang berdaun pedang lebih
disenangi petani, sebab pohon pisang yang berasal dari anakan demikian akan menghasilkan tandan yang lebih besar pada panen pertamanya (tanaman induk). Bonggol atau
potongan bonggol juga digunakan sebagai bahan perbanyakan.Tetapi jantung pisang juga
merupakan eksplan yang menguntungkan karena mudah mendapatkannya dan resiko
kontaminasi lebih kecil karena bukan berasal dari tanah dan tertutup rapat oleh kelopak
bunga (Nisa dan Rodinah 2005).
Kini telah dikembangkan kultur jaringan untuk perbanyakan secara cepat, melalui
ujung pucuk yang bebas penyakit. Cara ini telah dilaksanakan dalam skala komersial,
tetapi adanya mutasi yang tidak dikehendaki menimbulkan kekhawatiran. Dalam perbanyakan bibit pisang menurut Gunawan (1995) media yang digunakan dalam kultur
jaringan pisang ini adalah MS.
Empat tahap yang harus dilalui pada kultur jaringan pisang. Pertama, tahap
inisiasi.Pada tahap ini eksplan membentuk kalus dan bertunas banyak. Kedua, tahap
pelipatan tunas (multiplikasi) yaitu tunas yang sudah terbentuk dipisahkan kemudian
ditumbuhkan dalam medium agar tumbuh tunas baru (perbanyakan sub kultur). Ketiga,
tahap perakaran tunas (regenerasi planlet) dan tahap terakhir yaitu tahap aklimatisasi
lingkungan (Sunarjono 2002 dalam Wahyudi 2004).

Faktor mempengaruhi produktivitas perbanyakan pisang secara kultur


jaringan dan saat dalam kondisi di lapang
Perbanyakan bibit pisang dengan kultur jaringan juga mempunyai faktor
yang perlu diperhatikan untuk membuat kondisi perbanyakan optimal. Beberapa
faktor tersebut yaitu,
1. Bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan awal untuk dikulturkan. Bahan bagian tanaman atau sering juga disebut dengan nama Eksplan. Eksplan
adalah bagian tanaman yang dipergunakan sebagai bahan awal untuk perbanyakan
tanaman.Faktor eksplan yang penting adalah genotipe/varietas, umur eksplan,
letak pada cabang, dan seks (jantan/betina). Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagi eksplan untuk perbanyakan tanaman dengan metoda kultur ja-

ringan (kultur in vitro) adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon,
hipokotil, endosperm, ovari muda, anther, embrio, dll.
2. Wadah dan media tumbuh yang steril. Media tumbuh untuk perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan harus mengandung komposisi garam anorganik, zat
pengatur tumbuh, dan bentuk fisik media. Media tersebut berfungsi untuk penyediaan air, hara mineral, vitamin, zat pengatur tumbuh, akses ke atmosfer untuk
pertukaran gas, dan pembuangan sisa metabolisme tanaman pada proses regenerasi kultur jaringan (Kultur in vitro). Di dalam media yang steril juga harus
terkandung unsur-unsur mineral makro, mikro, senyawa organik, vitamin, arang
aktif dan zat pengatur tumbuh yang digunakan.
3. Faktor lingkungan tumbuh yang dapat mempengruhi regenerasi tanaman meliputi pH, temperatur, panjang penyinaran, intensitas penyinaran, kualitas sinar, dan
ukuran wadah kultur.
Setelah masa kultur, bibit pisang akan dipindahkan pada kondisi lapang
yang sebelumnya diaklimatisasi terlebih dahulu. Dalam kondisi lapang pisang termasuk tanaman yang gampang tumbuh karena bisa tumbuh di sembarang
tempat.Namun agar produktivitasnya optimal, sebaiknya pisang ditanam di daerah
da-taran rendah.Ketinggian tempat yang ideal untuk pertumbuhan pisang berada
di bawah 1.000 meter dpl. Di atas kisaran tersebut, produksi pisang cenderung kurang optimal, waktu berbuah menjadi lama, serta kulit buah menjadi tebal. Iklim
yang dikehendaki adalah iklim basah dengan curah hujan merata sepanjang
tahun.Oleh karena itu tanaman pisang kerap memberikan hasil yang baik pada
musim hujan dan hasil yang kurang memuaskan pada musim kemarau.Namun, hal
ini bisa diatasi dengan memeberikan pengairan pada musim kemarau.
Walaupun bisa tumbuh dan menghasilkan buah di lahan kritis, tanaman pisang tetap menghendaki kondisi tempat tumbuh yang subur. Di daerah beriklim
kering, antara 4-5 bulan, tanaman pisang masih tumbuh subur asalkan air tidak lebih dari 150 cm dibawah permukaan tanah (Suyanti dan Ahmad Supriyadi 2008).
Bila dikaitkan dengan syarat tumbuh pisang, faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya tandan buah pisang adalah kondisi tanah, iklim, jenis pisang, dan kecepatan tumbuh tanaman. Kondisi tanah yang subur tentu saja akan
berpengaruh baik terhadap besar dan panjang tandan. Sebaliknya, tanah yang ti-

10

dak subur akan mengakibatkan tandan pisang kecil dan pendek. Faktor iklim, bila
bunga keluar saat musim hujan, tandan akan lebih besar dan panjang dibandingkan pada musim kemarau. Panjang tandan dipengaruhi oleh jenis pisang
itu sendiri, tergantung sifat dari masing-masing jenis pisang tersebut. Pisang yang
masa mudanya tumbuh dan berkembang dengan baik akan mengasilkan tandan
yang lebih baik dibandingkan tanaman pisang yang saat mudanya kerdil.
Keunggulan teknik perbanyakan secara kultur jaringan dibandingkan
konvensional pada pisang
Perbanyakan kultur jaringan terkesan mahal dan tidak efisien, karena harus
menggunakan alat-alat canggih dan tenaga kerja yang ahli pada bidang tersebut.
Pada setiap prosesnya harus dikerjakan dalam kondisi yang aseptik dari ruangan,
tanaman, dan alat yang digunakan.Tujuan dari kondisi aseptik untuk menghindari
terjadinya kontaminasi pada tanaman.
Perbanyakan secara kultur jaringan lebih baik dilakukan dalam skala besar
agar sesuai dengan hasil akhir produksi. Namun, dari beberapa kendala yang dialami oleh kultur jaringan, banyak juga keuntungannya.
Keuntungan perbanyakan bibit pisang melalui kultur jaringan antara lain bibit yang dihasilkan seragam, bibit bebas hama dan penyakit, dapat dihasilkan
jumlah banyak dalam waktu lebih singkat, tanaman asal kultur jaringan berbuah
lebih awal, pengiriman bibit lebih muda dan dapat dikirim jarak jauh dengan volume yang relatif kecil.
Bibit hasil kultur jaringan memiliki keunggulan antara lain:Penyediaan bibit dapat diprogram sesuai dengan jadwal kebutuhan dan jumlah yangdiperlukan
pekebun.Sifat unggul tanaman induk tetap dimiliki oleh tanaman hasil perbanyakan dengan kulturjaringan, Bibit dalam keadaan bebas hama dan penyakit
karena diperbanyak dalam keadaan aseptikdari tanaman yang sehat, Tingkat keseragaman bahan tanaman yang tinggi, sehingga mampu meningkatkan
efisiensidalam pengelolaan kebun.

11

BAB V KESIMPULAN

1. Pisang adalah komoditas yang terus mengalami perkembangan.


2. Banyak kendala yang ditemukan dalam praktik perbanyakan pisang secara
konvensional.
3.Teknik kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif
yang mampu memperbanyak tanaman dengan mengambil sedikit dari bagian
tanaman tersebut.
4.Perbanyakan secara kultur jaringan lebih cepat bila dibandingkan dengan teknik
konvensional.

12

DAFTAR PUSTAKA
Cahyono B. 1995. Budidaya Pisang dan Analisis Usahatani. Yogyakarta (ID): Kanisius.
Hendaryono SP, Wijayani A. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta (ID): Kanisius.
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2015. Produktivitas pisang menurut provinsi, 2010
2014
[internet].
[diunduh 2015
Desember
20].
Tersedia
pada:
http://www.pertanian.go.id/ap_pages/mod/datahorti
Mattjik NA. 2005. Peran Kultur Jaringan Dalam Perbaikan Tanaman. Bogor (ID):
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Nisa C, Rodinah. 2005. Kultur jaringan beberapa kultivar buah pisang (Musa paradisiaca
L) dengan pemberian campuran NAA dan kinetin.Jurnal Bioscientiae.Vol 2, No.2.
Satuhu S, Supriyadi A. 1999. Budidaya Pisang, Pengolahan dan Prospek Pasar. Jakarta
(ID): Penebar Swadaya.
___________________. 2004. Pisang Budidaya, Pengolahan, dan Prospek Pasar.
Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Steenis JV. 2003. Flora Untuk Sekolah Indonesia. Cetakan IX. Jakarta (ID): Pradnya
Paramita

Sudaraman A. 2000. Teori Ekonomi Mikro: Buku I. Yogyakarta (ID): BPFE


Sudarnadi H. 1996. Tumbuhan Monokotil. Bogor (ID): Penebar Swadaya.
Sunarjono H. 2004. Budidaya Pisang dengan Bibit Kultur Jaringan. Jakarta (ID):Penebar
Swadaya.
Wahyudi, D. 2004. Pembentukan tunas pada eksplan jantung pisang barangan merah
(Musa acuminata L) dalam media MS dengan berbagai konsentrasi BAP dan NAA
[skripsi]. Medan (ID): Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, USU.
Warda dan Hutagalung, L. 1994.Pisang barangan kultivar Sulawesi Selatan.Informasi
Hortikultura 2(1).
Yusnita. 2003. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Jakarta
(ID): Agromedia Pustaka.

13

DAFTAR ISTILAH
Anther : alat kelamin jantan pada tubuhan (benang sari)
Eksplan : bagian tanaman yang digunakan untuk bahan kultur jaringan
Embrio : organel tumbuhan hasil peleburan gamet jantan dan betina yang akan
tumbuh dan berkembang menjadi organ tumbuhan
Endosperma : cadangan makanan benih
Fenotipe : ciri yang dapat diamati
Generatif : perbanyakan secara seksual
Genotipe :faktor keturunan yang menentukan sifat berdasar indukan
Hibrida : keturunan pertama hasil persilangan
Hipokotil : bakal batang
Klonal : tanaman hasil perbanyakan vegetatif
Komoditas : hasil bumi
Male sterility: mandul jantan
Ovari : Sel telur
Patogen : organisme pengganggu
Planlet : tanaman lengkap didalam kultur jaringan
Varietas : tingkatan taksonomi dibawah spesies, menjelaskan ciri yang lebih
spesifik
Vegetatif : perbanyakan aseksual.