You are on page 1of 14

METODE DISKUSI

DALAM PEMBELAJARAN

A. Pengertian Metode Diskusi

Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu
permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu
permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan
siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998). Karena itu, diskusi
bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi.

Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan
pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi
dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau
pendapat yang disepakati bersama.

Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk menggunakan metode
diskusi dalam proses pembelajaran. Keberatan itu biasanya timbul dari asumsi:

• diskusi merupakan metode yang sulit diprediksi hasilnya oleh karena


interaksi antar siswa muncul secara spontan, sehingga hasil dan arah
diskusi sulit ditentukan;
• diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang, padahal waktu
pembelajaran di dalam kelas sangat terbatas, sehingga keterbatasan itu tidak
mungkin dapat menghasilkan sesuatu secara tuntas. Sebenarnya hal ini tidak
perlu dirisaukan oleh guru. Sebab, dengan perencanaan dan persiapan yang
matang kejadian semacam itu bisa dihindari.

Adapun kegiatan guru dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut:

1. Guru menetapkan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan atau guru
meminta kepada siswa untuk mengemukakan suatu pokok atau problem yang
akan didiskusikan.
2. Guru menjelaskan tujuan diskusi.
3. Guru memberikan ceramah dengan diselingi tanya jawab mengenai materi
pelajaran yang didiskusikan.
4. Guru mengatur giliran pembicara agar tidak semua siswa serentak berbicara
mengeluarkan pendapat.
5. Menjaga suasana kelas dan mengatur setiap pembicara agar seluruh kelas
dapat mendengarkan apa yang sedang dikemukakan.
6. Mengatur giliran berbicara agar jangan siswa yang berani dan berambisi
menonjolkan diri saja yang menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan
pendapatnya.
7. Mengatur agar sifat dan isi pembicaraan tidak menyimpang dari
pokok/problem.
8. Mencatat hal-hal yang menurut pendapat guru harus segera dikoreksi yang
memungkinkan siswa tidak menyadari pendapat yang salah.
9. Selalu berusaha agar diskusi berlangsung antara siswa dengan siswa.
10. Bukan lagi menjadi pembicara utama melainkan menjadi pengatur
pembicaraan.

Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut:

1. Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan


Suatu problem dan topik kepada kelas.
2. Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau
sumber pengetahuan lainnya, agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan
problem yang diajukan.
3. Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh
setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok.
4. Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap
pendapat yang baru dikemukakan.
5. Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang
dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain.
6. Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda
pendapat.
7. Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan
teman baik setuju maupun bertentangan.
8. Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat.
9. Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi.
10. Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan
berusaha mencari pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut
pandang.

Diskusi sebagai metode pembelajaran adalah proses pelibatan dua orang


peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling
mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan
kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi
merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251).
Manakala salah satu diantara siswa berbicara, maka siswa-siswa lain yang menjadi
bagian dari kelompoknya aktif mendengarkan. Siapa yang berbicara terlebih
dahulu dan begitu pula yang menanggapi, tidak harus diatur terlebih dahulu.
Dalam berdiskusi, seringkali siswa saling menanggapi jawaban temannya atau
berkomentar terhadap jawaban yang diajukan siswa lain. Demikian pula mereka
kadang-kadang mengundang anggota kelompok lain untuk bicara, sebagai nara
sumber.

Dalam penentuan pimpinan diskusi, anggota kelompok dapat menetapkan


pemimpin diskusi mereka sendiri. Sehingga melalui metode diskusi, keaktifan siswa
sangat tinggi. Mc.Keachie dan Kulik (Gage dan Berliner, 1984: 487), menyebutkan
bahwa dibanding dengan metode ceramah, dalam hal retensi, proses berfikir tingkat
tinggi, pengembangan sikap dan pemertahanan motivasi, lebih baik dengan metode
diskusi. Hal ini disebabkan metode diskusi memberikan kesempatan anak untuk
lebih aktif dan memungkinkan adanya umpan balik yang bersifat langsung.

Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah,


metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan
keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan,
penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah.
Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan
anak dari pada metode diskusi.

Hasil-hasil penelitian tentang penggunaan metode diskusi kelompok oleh Lorge,


Fox, Davitz, dan Brenner (Davies, 1984:237--239) dapat disimpulkan dalam
rangkuman berikut.
1) Mengenai soal-soal yang berisiko, keputusan kelompok lebih radikal dari
pada keputusan perorangan.
2) Kalau ada pelbagi pendapat tentang sebuah soal yang masih baru, maka
pemecahan kelompok lebih tepat daripada pemecahan perorangan; tetapi
tidak selalu demikian kalau soalnya biasa-biasa saja.
3) Kalau bahan persoalan bukan materi baru, dan anggota-anggota kelompok
mempunyai keterampilan dalam memecahkan soal-soal sejenis, pemecahan
kelompok lebih baik dari pemecahan oleh anggota masing-masing, tetapi
kadang-kadang pemcahan anggota yang paling cerdas lebih baik lagi.
4) Kebaikan utama diskusi kelompok bukanlah pengajuan banyak pendekatan,
melainkan penolakan terhadap pendekatan yang tidak masuk akal.
(Konklusi ini tidak berlaku untuk "brain storming").
5) Yang memperoleh keuntungan dari diskusi kelompok, ialah siswa-siswa
yang lemah dalam pemecahan soal.
6) Superioritas kelompok merupakan fungsi dari kualitas tiap anggota kelompok.
Sebuah kelompok dapat diharapkan memecahkan sebuah soal, kalau
sekurang-kurangnya satu anggota dapat memecahkan soal itu secara
individual, sekalipun ia memerlukan lebih banyak waktu.
7) Dalam hal waktu, metode kelompok biasanya kurang efisien. Kalau anggota-
anggota saling percaya dan bekerjasama dengan baik, maka kelompok
dapat bekerja lebih cepat daripada kerja perorangan.
8) Kehadiran orang luar mempengaruhi prestasi anggota-anggota kelompok.
Kalau kelompok itu bekerjasama secara harmonis, dan orang luar bergabung
dengan kelompok, hal itu mempunyai pengaruh positif; kalau kerja sama
itu tidak harmonis, maka kehadiran itu merusak, jika dia hanya bertindak
sebagai pendengar saja. Dengan metode diskusi perubahan sikap dapat
dicapai dengan lebih baik daripada kritik langsung untuk mengubah sikap
yang diharapkan. Metode diskusi juga paling baik untuk memperkenalkan
inovasi-inovasi atau perubahan.
9) Kalau dipakai struktur pembahasan yang cocok dengan tugas, dan cukup
waktu untuk meninjau persoalan dari segala segi, serta jika anggota-
anggota tidak saling mengevaluasi, maka diskusi kelompok terbukti lebih
kreatif daripada belajar perorangan. (Kondisi-kondisi ini terdapat pada
"brain storming")

Bertolak dari hasil-hasil penelitian tersebut di atas menyokong asumsi bahwa


keunggulan metode diskusi terletak pada efektivitasnya untuk mencapai tujuan-
tujuan pembelajaran tingkat tinggi dan tujuan pembelajaran ranah afektif (Davies,
1984: 239). Karena itu, ada tiga macam tujuan pembelajaran yang cocok melalui
penggunaan metode diskusi:
a) penguasaan bahan pelajaran,
b) pembentukkan dan modifikasi sikap,
c) pemecahan masalah (Gall dan Gall, dalam Depdikbud, 1983:28).

Pembentukkan dan modifikasi sikap merupakan tujuan diskusi yang


berorientasi pada isu yang sedang berkembang. Diskusi yang bertujuan membentuk
atau memodifikasi sikap ini, dimulai dengan guru mengajukan permasalahan atau
sejumlah peristiwa yang menggambarkan isu yang ada dalam masyarakat (seperti:
kolusi dalam suatu lembaga, pelecehan seksual, gerakan disiplin nasional,
penggusuran, dan lain sebagainya).

Guru atau pimpinan kelompok selanjutnya meminta pandangan dari anggota


kelompok untuk menemukan alternatif-alternatif pemecahan masalah isu tersebut.
Komentar-komentar terhadap masalah atau jawaban masalah dapat diberikan anggota
kelompok maupun pimpinan kelompok. Selama diskusi berlangsung, pemimpin
diskusi mencoba memperoleh penajaman dan klarifikasi yang lebih baik tentang
isu tersebut dengan memperkenalkan contoh-contoh yang berbeda, dan
menggerakkan para anggota diskusi mengajukan pernyataan-pernyataannya.

B. Pemecahan Masalah sebagai Tujuan Diskusi


Pemecahan masalah merupakan tujuan utama dari diskusi (Maier, dalam
Depdikbud, 1983:29). Masalah-masalah yang tepat untuk pembelajaran dengan
metode diskusi adalah masalah yang menghasilkan banyak alternatif pemecahan.
Dan juga masalah yang mengandung banyak variabel. Banyaknya alternatif dan
atau variabel tersebut dapat memancing anak untuk berfikir. Oleh karena itu,
masalah untuk diskusi yang pemecahannya tidak menuntut anak untuk berfikir,
misalnya hanya menuntut anak untuk menghafal, maka masalah tersebut tidak
cocok untuk didiskusikan.

Menurut Maiyer (Depdikbud,1983:29) dalam diskusi kelompok kecil, dapat


meningkatkan siswa untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah. Untuk itu,
bilamana guru menginginkan keterlibatan anak secara maksimal dalam diskusi,
maka jumlah anggota kelompok diskusi perlu diperhatikan guru. Jumlah anggota
kelompok diskusi yang mampu memaksimalkan partisipasi anggota adalah antara
3--7 anggota. Dari hasil pengamatan, kelompok diskusi yang jumlah anggotanya
antara 3--7 itu saja, anggota yang diduga kurang berpartisipasi penuh berkisar 1--2
orang. Dalam diskusi dengan jumlah anggota yang relatif kecil memungkinkan setiap
anak memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi. Masalah atau isu yang dijadikan
topik diskusi hendaknya yang relevan dengan minat anak. Masalah diskusi yang
cocok dengan minat anak dapat mendorong keterlibatan mental dan keterlibatan
emosional siswa secara optimal.

Melalui penggunaan metode diskusi, siswa juga mendapat kesempatan untuk


latihan keterampilan berkomunikasi dan keterampilan untuk mengembangkan
strategi berfikir dalam memecahkan masalah. Namun demikian pembelajaran
dengan metode diskusi semacam ini keberhasilannya sangat bergantung pada anggota
kelompok itu sendiri dalam memanfaatkan kesempatan untuk berpatisipasi dalam
pembelajaran. Untuk meningkatkan proses diskusi, peranan pemimpin diskusi
sangat menentukan. Pemimpin diskusi bertugas untuk mengklarifikasi topik yang
tidak jelas. Jika diskusi tidak berjalan, pemimpin diskusi berkewajiban mengambil
inisiatif dengan melontarkan ide-ide yang dapat memancing pendapat peserta
diskusi. Demikian pula bila terjadi ketegangan dalam proses diskusi, tugas
pemimpin diskusi adalah meredakan ketegangan. Tidak jarang pendapat-pendapat
dalam diskusi menyimpang dari topik utama, karena itu pemimpin diskusi bertugas
untuk mengembalikan pembicaraan kepada topik utama diskusi.

Pemilikan pengetahuan secara umum tentang masalah yang didiskusikan adalah


prasyarat agar setiap peserta mampu mengemukakan pendapat. Diskusi tidak akan
berhasil manakala peserta diskusi belum memiliki pengetahuan yang menjadi
masalah yang didiskusikan. Dalam diskusi formal, untuk membekali pengetahuan
peserta, disajikan terlebih dahulu makalah yang disusun oleh salah satu peserta
diskusi.

C. Beberapa Jenis Diskusi


a) Diskusi Kelompok Besar (Whole Group Discussion).
Jenis diskusi kelompok besar dilakukan dengan memandang kelas sebagai
satu kelompok. Dalam diskusi ini, guru sekaligus sebagai pemimpin diskusi.
Namun begitu, siswa yang dipandang cakap, dapat saja ditugasi guru sebagai
pemimpin diskusi. Dalam diskusi kelompok besar, sebagai pemimpin diskusi,
guru berperan dalam memprakarsai terjadinya diskusi. Untuk itu, guru dapat
mengajukan permasalahan-permasalahan serta mengklarifikasinya sehingga
mendorong anak untuk mengajukan pendapat. Dalam diskusi kelompok besar,
tidak semua siswa menaruh perhatian yang sama, karena itu tugas guru sebagai
pemimpin diskusi untuk membangkitkan perhatian anak terhadap masalah yang
sedang didiskusikan. Di samping itu, distribusi siswa yang ingin berpendapat
perlu diperhatikan. Dalam diskusi kelompok besar, pembicaraan sering
didominasi oleh anak-anak tertentu. Akibatnya tidak semua anak berkesempatan
untuk berpendapat. Untuk menghindari keadaan itu, pemimpin diskusi perlu
mengatur distribusi pembicaraan. Tugas terberat bagi pemimpin diskusi adalah
menumbuhkan keberanian peserta untuk mengemukakan pendapatnya. Dalam
praktek, tidak sedikit anak-anak yang kurang berani berpendapat dalam
berdiskusi. Terlebih bagi anak yang kurang menguasai permasalahan yang
menjadi bahan diskusi.

b) Diskusi Kelompok Kecil (Buzz Group Discussion)


Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil terdiri atas 4--5 orang.
Tempat berdiskusi diatur agar siswa dapat berhadapan muka dan bertukar
pikiran dengan mudah. Diskusi diadakan dipertengahan pelajaran atau diakhir
pelajaran dengan maksud menajamkan pemahaman kerangka pelajaran,
memperjelas penguasaan bahan pelajaran atau menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Hasil belajar yang diharapkan ialah agar segenap individu membandingkan
persepsinya yang mungkin berbeda-beda tentang bahan pelajaran,
membandingkan interpretasi dan informasi yang diperoleh masing-masing
individu yang dapat saling memperbaiki pengertian, persepsi, informasi,
interpretasi, sehingga dapat dihindarkan kekeliruan-kekeliruan.

c) Diskusi Panel
Fungsi utama diskusi panel adalah untuk mempertahankan keuntungan
diskusi kelompok dengan situasi peserta besar, dimana ukuran kelompok tidak
memungkinkan partisipasi kelompok secara mutlak. Dalam artian panel
memberikan pada kelompok besar keuntungan partisipasi yang dilakukan orang
lain dalam situasi diskusi yang dibawakan oleh beberapa peserta yang terplih.
Peserta yang terpilih yang melaksanakan panel mewakili beberapa sudut
pandangan yang dipertimbangkan dalam memecahkan masalah. Mereka
memiliki latar belakang pengetahuan yang memenuhi syarat untuk berperan
dalam diskusi tersebut. Forum panel secara fisik dapat dihadiri audience
secara lansung atau tidak langsung (melalui TV, radio, dan sebagainya).

d) Diskusi Kelompok.
Suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil terdiri atas 3--6
orang. Masing-masing kelompok kecil melaksanakan diskusi dengan masalah
tertentu. Guru menjelaskan garis besar problem kepada kelas, ia
menggambarkan aspek- aspek masalah kemudian tiap-tiap kelompok (syndicate)
diberi topik masalah yang sama atau berbeda-beda selanjutnya masing-masing
kelompok bertugas untuk menemukan kesepakatan jawaban penyelesaiannya.
Untuk memudahkan diskusi anak, guru dapat menyediakan reference atau
sumber-sumber informasi yang relevan. Setiap sindikat bersidang sendiri-
sendiri atau membaca bahan, berdiskusi dan menysusun kesimpulan sindikat.
Tiap-tiap kelompok mempresentasikan kesimpulan hasil diskusinya dalam sidang
pleno untuk didiskusikan secara klasikal.

e) Brain Storming Group.


Kelompok menyumbangkan ide-ide baru tanpa dinilai segera. Setiap
anggota kelompok mengeluarkan pendapatnya. Hasil belajar yang diharapkan
ialah agar kelompok belajar menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan
ide-ide yang yang ditemukannya dianggap benar.

f) Symposium.
Beberapa orang membahas tentang aspek dari suatu subjek tertentu dan
membacakan di muka peserta simposium secara singkat (5--20 menit).
Kemudian dikuti dengan sanggahan dan pertanyaan dari para penyanggah dan
juga dari pendengar. Bahasan dan sanggahan itu selanjutnya dirumuskan oleh
panitia perumus sebagai hasil simposium.

g) Informal Debate.
Kelas dibagi menjadi dua tim yang agak sama besarnya dan mendiskusikan
subjek yang cocok untuk diperdebatkan tanpa memperdebatkan peraturan
perdebatan. Bahan yang cocok untuk diperdebatkan ialah yang bersifat
problematis, bukan yang bersifat faktual.

h) Colloqium.
Seseorang atau beberapa orang manusia sumber menjawab pertanyaan-
pertanyaan dari audiensi. Dalam kegiatan belajar mengajar siswa/mahasiswa
menginterview manusia sumber, selanjutnya mengundang pertanyaan
lain/tambahan dari siswa mahasiswa lain.

i) Fish Bowl.
Beberapa orang peserta dipimpin oleh seorang ketua mengadakan suatu diskusi
untuk mengambil suatu keputusan. Tempat duduk diatur merupakan setengah
lingkaran dengan dua atau tiga kursi kosong menghadap peserta diskusi,
kelompok pendengar duduk mengelilingi kelompok diskusi, seolah-olah melihat
ikan yang berada dalam mangkuk (fish bowl). Selama kelompok diskusi
berdiskusi, kelompok pendengar yang ingin menyumbang pikiran dapat masuk
duduk di kursi kosong. Apabila ketua diskusi mempersilahkan berbicara ia dapat
langsung berbicara, dan meninggalkan kursi setelah berbicara.

D. Kegunaan Metode Diskusi


Diskusi sebagai metode mengajar lebih cocok dan diperlukan apabila kita
(guru) hendak memberi kesempatan kepada siswa:
• untuk mengekspresikan kemampuannya,
• berpikir kritis,
• menilai perannya dalam diskusi,
• memandang masalah dari pengalaman sendiri dan pelajaran yang diperoleh
di sekolah,
• memotivasi, dan
• mengkaji lebih lanjut.

Melalui diskusi dapat dikembangkan keterampilan mengklarifikasi,


mengklasifikasi, menyusun hipotesis, menginterpretasi, menarik kesimpulan,
mengaplikasikan teori, dan mengkomunikasikan pendapat. Disamping itu, metode
diskusi dapat melatih sikap anak menghargai pendapat orang lain, melatih
keberanian untuk mengutarakan pendapat, mempertahankan pendapat, dan memberi
rasional sehubungan dengan pendapat yang dikemukakannya.

E. kelebihan Dan Kelemahan Metode Diskusi Dalam Pembelajaran

Adapun kelebihan metode diskusi sebagai berikut:

• Mendidik siswa untuk belajar mengemukakan pikiran atau pendapat.


• Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh penjelasan-
penjelasan dari berbagai sumber data.
• Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati pembaharuan suatu
problem bersama-sama.
• Melatih siswa untuk berdiskusi di bawah asuhan guru.
• Merangsang siswa untuk ikut mengemukakan pendapat sendiri,
menyetujui atau menentang pendapat teman-temannya.
• Membina suatu perasaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat,
kesimpulan, atau keputusan yang akan atau telah diambil.
• Mengembangkan rasa solidaritas/toleransi terhadap pendapat yang
bervariasi atau mungkin bertentangan sama sekali.
• Membina siswa untuk berpikir matang-matang sebelum berbicara.
• Berdiskusi bukan hanya menuntut pengetahuan, siap dan kefasihan
berbicara saja tetapi juga menuntut kemampuan berbicara secara
sistematis dan logis.
• Dengan mendengarkan semua keterangan yang dikemukakan oleh
pembicara, pengetahuan dan pandangan siswa mengenai suatu problem
akan bertambah luas.
Kelemahan metode diskusi sebagai berikut:

• Tidak semua topik dapat dijadikan metode diskusi hanya hal-hal yang
bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan.
• Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu.
• Sulit untuk menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian
diskusi.
• Biasanya tidak semua siswa berani menyatakan pendapat sehingga
waktu akan terbuang karena menunggu siswa mengemukakan
pendapat.
• Pembicaraan dalam diskusi mungkin didominasi oleh siswa yang
berani dan telah biasa berbicara. Siswa pemalu dan pendiam tidak
akan menggunakan kesempatan untuk berbicara.
• Memungkinkan timbulnya rasa permusuhan antarkelompok atau
menganggap kelompoknya sendiri lebih pandai dan serba tahu
daripada kelompok lain atau menganggap kelompok lain sebagai
saingan, lebih rendah, remeh atau lebih bodoh.

F. Prinsip Umum Penggunaan Metode Diskusi


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan metode diskusi, antara
lain sebagai berikut.
a. Perumusan masalah atau masalah-masalah yang didiskusikan agar dilakukan
bersama-sama dengan siswa.
b. Menjelaskan hakikat masalah itu disertai tujuan mengapa masalah tersebut
dipilih untuk didiskusikan.
c. Pengaturan peran siswa yang meliputi pemberian tanggapan, saran, pendapat,
pertanyaan, dan jawaban yang timbul untuk memecahkan masalah.
d. Memberitahukan tata tertib diskusi.
e. Pengarahan pembicaraan agar sesuai dengan tujuan.
f. Pemberian bimbingan siswa untuk mengambil kesimpulan.

G. Langkah-Langkah Pelaksanaan Diskusi Kelompok


Langkah-langkah diskusi sangat bergantung pada jenis diskusi yang digunakan.
Hal ini dikarenakan tiap-tiap jenis memiliki karakteristik masing-masing. Seminar
memiliki karakteristik yang berbeda dengan simposium, brain storming, debat,
panel, sindikat group dan lain-lain. Demikian pula siposium dan yang lain-lain
tersebut juga memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Akibat
perbedaan karakteristik tersebut, maka langkah dan atau prosedur pelaksanaannya
berbeda satu dengan yang lain. Meskipun demikian, secara umum untuk keperluan
pembelajaran di kelas, langkah-langkah diskusi kelas dapat dilaksanakan dengan
prosedur yang lebih sederhana. Moedjiono, dkk (1996) menyebutkan langkah-
langkah umum pelaksanaan diskusi sebagai berikut ini.
a. Merumuskan masalah secara jelas
b. Dengan pimpinan guru para siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi,
memilih pimpinan diskusi (ketua, sekretaris, pelapor), mengatur tempat
duduk, ruangan, sarana, dan sebagainya sesuai dengan tujuan diskusi. Tugas
pimpinan diskusi antara lain:
(1) mengatur dan mengarahkan diskusi,
(2) mengatur "lalu lintas" pembicaraan.

c. Melaksanakan diskusi. Setiap anggota diskusi hendaknya tahu persis apa


yang akan didiskusikan dan bagaimana cara berdiskusi. Diskusi harus
berjalan dalam suasana bebas, setiap anggota tahu bahwa mereka mempunyai
hak bicara yang sama.

d. Melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasil tersebut ditanggapi oleh semua


siswa, terutama dari kelompok lain. Guru memberi alasan atau penjelasan
terhadap laporan tersebut. Akhirnya siswa mencatat hasil diskusi, dan guru
mengumpulkan laporan hasil diskusi dari tiap kelompok.

Budiardjo, dkk, 1994:20--23 membuat langkah penggunaan metode diskusi


melalui tahap-tahap berikut ini.
1. Tahap Persiapan
a. Merumuskan tujuan pembelajaran
b. Merumuskan permasalahan dengan jelas dan ringkas.
c. Mempertimbangkan karakteristik anak dengan benar.
d. Menyiapkan kerangka diskusi yang meliputi:
(1) menentukan dan merumuskan aspek-aspek masalah,
(2) menentukan alokasi waktu,
(3) menuliskan garis besar bahan diskusi,
(4) menentukan format susunan tempat,
(5) menetukan aturan main jalannya diskusi.
e. Menyiapkan fasilitas diskusi, meliputi:
(1) menggandakan bahan diskusi,
(2) menentukan dan mendisain tempat,
(3) mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
2. Tahap pelaksanaan
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Menyampaikan pokok-pokok yang akan didiskusikan.
c. Menjelaskan prosedur diskusi.
d. Mengatur kelompok-kelompok diskusi
e. Melaksanakan diskusi.

3. Tahap penutup
a. Memberi kesempatan kelompok untuk melaporkan hasil.
b. Memberi kesempatan kelompok untuk menanggapi.
c. Memberikan umpan balik.
d. Menyimpulkan hasil diskusi.

H. Peranan Guru Sebagai Pemimpin Diskusi


Untuk mempertahankan kelangsungan, kelancaran dan efektivitas diskusi, guru
sebagai pemimpin diskusi memegang peranan menentukan. Mainuddin,
Hadisusanto dan Moedjiono, 1980:8--9, menyebutkan sejumlah peranan yang harus
dimainkan guru sebagai pemimpin diskusi, adalah berikut ini.
1. Initiating,
yakni menyarankan gagasan baru, atau cara baru dalam melihat masalah
yang sedang didiskusikan.
2. Seeking information,
yakni meminta fakta yang relavan atau informasi yang otoritarif tentang
topik diskusi.
3. Giving information,
yakni fakta yang relavan atau menghubungkan pokok diskusi dengan
pengalaman pribadi peserta.
4. Giving opinion,
yakni memberi pendapat tentang pokok yang sedang dipertimbangkan
kelompok, bisa dalam bentuk menantang konsesus atau sikap "nrimo" kelompok.
5. Clarifying,
yakni merumuskan kembali pernyataan sesorang; memperjelas pernyataan
sesorang anggota.
6. Elaborating,
yakni mengembangkan pernyataan seseorang atau memberi contoh atau
penerapan.
7. Controlling,
yakni menyakinkan bahwa giliran bicara merata; menyakinkan bahwa
anggota yang perlu bicara, memperoleh giliran bicara.
8. Encouraging,
yakni bersikap resetif dan responsitif terhadap pernyataan serta buah
pikiran anggota.
9. Setting Standards,
yakni memberi atau meminta kelompok menetapkan, kriteria untuk menilai
urunan anggota.
10. Harmonizing,
yakni menurunkan kadar ketegangan yang terjadi dalam diskusi.
11. Relieving tension,
yakni melakukan penyembuhan setelah terjadinya tegangan.
12. Coordinating,
yakni menyimpulkan gagasan pokok yang timbul dalam diskusi,
membantu kelompok mengembangkan gagasan.
13. Orientating,
yakni menyampaikan posisi yang telah dicapai kelompok dalam diskusi dan
mengarahkan perjalanan diskusi selanjutnya.
14. Testing,
yakni menilai pendapat dan meluruskan pendapat kearah yang seharusnya
dicapai.
15. Consensus Testing,
menialai tingkat kesepakatan yang telah dicapai dan menghindarkan
perbedaan pandangan.
16. Summarizing,
yakni merangkum kesepakatan yang telah dicapai.
DAFTAR PUSTAKA

http://aula.unair.ac.id/file.php/1/Materi_PEKERTI_15-19_Feb.2010/07-
METODE_PEMBELAJARAN.pdf
http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/26/metode-diskusi/
http://idb4.wikispaces.com/file/view/lr4002Cover.pdf
http://www.laboratorium-um.sch.id/files/BAB%20IX%20STRATEGI
%20PEMBELAJARAN%20DENGAN%20METODE%20%20DISKUSI.pdf