You are on page 1of 7

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menua atau menjadi tua adalah proses menghilangnya secara perlahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan
mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita
(Nugroho W, 2012 : 11).
Pada zaman modern seperti sekarang ini, terjadi banyak perkembangan di
berbagai bidang kehidupan manusia. Baik dalam bidang ekonomi, politik,
pendidikan, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi dan tidak ketinggalan
juga perkembangan pada bidang kesehatan. Sehat menurut WHO adalah suatu
keadaan sehat jasmani, rohani, dan sosial yang merupakan aspek positif dan tidak
hanya bebas dari penyakit serta kecacatan yang merupakan aspek negatif.
(Purnawan, 2008).
Perkembangan teknologi dan pendidikan pada sekolah-sekolah yang terus
bergerak maju semakin menuntun siswa untuk aktif, dimana sering kali keaktifan
ini dapat berakibat buruk terhadap terjadinya kesalahan pada tubuh yang dapat
menimbulkan cidera pada jaringan lunak, tulang, maupun saraf. Kejadian yang
banyak terjadi pada usia anak sekolah antara SD sampai SMP ialah kebiasaan
membawa tas yang mereka pakai saat pergi ke sekolah, yang dapat
mengakibatkan gangguan cedera yang terjadi akibat kesalahan pemakaian tas, dan
hal itu dapat menyebabkan deformitas pada tulang belakang seperti skoliosis,
lordosis, dan kifosis.
Berdasarkan kejadian di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten
Bojonegoro penulis mendapatkan fenomena bahwa ada seorang lansia yang selalu
timbul keinginan kencing yang sangat mendesak, tetapi sebelum sampai kamar
mandi celananya sudah basah oleh air kencing, dan berdasarkan keterangan
keluarganya lansia tersebut selalu menggunakan pempers.
Kifosis adalah penyimpangan postur dalam bidang sagital yang dapat disebabkan
oleh beberapa faktor yaitu terjadi secara kongenital, faktor sikap tubuh yang salah
pada saat bekerja dan berolahraga, serta akibat dari kesalahan tubuh saat
beraktifitas seperti duduk, berdiri dengan tubuh membungkuk dalam waktu lama
dan statis. Pemakaian tas ransel beban berat dalam jangka waktu lama juga bisa
menyebabkan tubuh condong ke depan atau kifosis (Macagno and OBrien, 2006).
Pada orang muda sudut kifosis normal berkisar antara 10 dan 25. Nilai sudut ini
bervariasi disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan kondisi patologis
(Macagno and OBrien, 2006). Postur kifosis ditandai dengan peningkatan kurva
torakal, protraksi skapula, dan disertai forward head position. Berpotensi
menyebabkan nyeri karena stress pada ligament longitudinal posterior, kelelahan
otot erector spine dan rhomboid, thoracic outlet syndrome, dan upper crossed

syndrome. Selain itu postur kifosis menyebabkan ketidakseimbangan otot,


ketegangan otot dada depan (otot intercostalis), otot-otot anggota gerak atas yang
berorigo pada thorak, (pectoralis mayor dan minor, latissimus dorsi, dan serratus
anterior), otot servikal dan kepala yang berhubungan pada skapula (levator
skapula dan upper trapezius), dan otot region servikal, penguluran dan kelemahan
erector spine dan otot retraksi scapula (rhomboid dan upper dan lower trapezius)
(Kisner and Colby, 2007).
Pada postur kifosis dijumpai diskus mengalami pemipihan pada bagian ventral
dan pelebaran pada bagian dorsal, akibatnya nucleus terdorong dan terjebak pada
bagian dorsal, sehingga gerka ektensi terkunci. dan terjadi kontraktur pada posisi
tersebut, serta membuat iritasi pada ligament longitudinal posterior. Selain itu
pada kapsul ligament akan terjadi pemanjangan pada satu sisi dan pada sisi lain
kapsul ligament terjadi pemendekan sehingga memungkinkan terjadi tightness
pada kapsul ligament tersebut. Terdapat 4 tipe deformitas kifosis yaitu : 1)
lokalisasi, berlebihannya angulasi posterior yang disebut gibbous atau hump back,
2) dowagers hump, yang disebabkan oleh osteoporosis paska menopause pada
wanita, 3) pengurangan inklinasi pelvis 20 dengan lumbal flat, dan 4)
pengurangan inklinasi pelvis 20 dengan torakolumbal atau kifosis torakal (round
back). Sedangkan secara umum dikenal tiga jenis kifosis :1) kifosis congenital
(kelainan bawaan sejak dirahim), 2) kifosis postural banyak ditemui pada remaja
putri, 3) Scheuermanns khyposis yang banyak terjadi di usia belasan tahun
terutama pada remaja pria yang terlalu kurus (Hertling and M.Kessler, 2006).
Perbedaan antara kifosis postural dan penyakit Scheuermann ditentukan dengan
pemeriksaan klinis dan radiografi. Penderita dengan penyakit Scheuermann tidak
dapat memperbaiki kifosis pada posisi berdiri atau tengkurap, hiperektensi. Bila
dipandang dari samping pada posisi fleksi ke depan, penderita biasanya akan
menunjukkan pembengkakan yang mendadak pada daerah toraks tengah sampai
bawah. Penderita dengan kifosis postural menunjukkan kontur lentur halus,
simetri. Tas ransel sangat diminati oleh anak sekolah. Di amerika serikat, sekitar 4
juta anak menggunakan tas punggung untuk membawa barang barang kebutuhan
mereka (Bauer, 2007). Di salah satu kota di Indonesia, jumlah pengguna tas
punggung mencapai 77,9% (n=247). Banyaknya peminat yang menggunakan tas
ransel disebabkan karena tas ini lebih praktis dan memiliki daya tamping lebih
besar. Tas ransel, meskipun banyak diminati tetapi dapat menyebabkan masalah
kesehatan apabila penggunaannya tidak tepat, salah satunya bias menyebabkan
perubahan pada postur. Berdasarkan hasil penelitian Sheir-Neiss et al (2003), dari
1126 anak usia 12-18 tahun yang menggunakan tas ransel ada sekitar 74,4% yang
mengeluh nyeri punggung disertai keterbatasan fungsi aktivitas fisik. Hal ini
dikarenakan beban tas ransel yang terlalu berat dapat memberikan tekanan pada
bagian disc tulang belakang yang berfungsi sebagai bantalan antara tulang-tulang
belakang sehingga merangsang saraf nyeri dan menimbulkan nyeri American
Chiropractic Association (ACA) menyebutkan penggunaan tas ransel yang aman
harus memenuhi beberapa kriteria agar tidak terjadi punggung yang aman harus
memenuhi beberapa kriteria agar tidak terjadi perubahan postur seperti kifosis,
posisi bawah tas tidak boleh lebih dari 4 inch dari garis pinggang atau kira-kira
melebihi pelvis, beban yang dibawa beratnya tidak boleh bertumpu pada salah

satu sisi, tali tas ransel memiliki lapisan atau bantalan, dilengkapi oleh waist belt,
dan ukuran tas punggung sesuai dengan ukuran tubuh (ACA, 2004). Batas berat
beban tas punggung yang masih diperbolehkan untuk dibawa yaitu tidak lebih dari
10%-15% berat badan. Berat tas ransel yang terlalu berat dapat mengkibatkan
anak membungkuk ke depan untuk menopang berat dipunggung dan
mempertahankan keseimbangan sehingga timbul ketegangan di area punggung.
(Grimmer et al, 2002). Apabila posisi ini dipertahankan dalam jangka waktu
tertentu, maka anak dapat mengalami pegal atau ketidaknyamanan diarea
punggung. Selain itu, posisi tersebut dapat meningkatkan risiko perubahan postur
tubuh yaitu kifosis. Selain berat beban tas, posisi bawah tas juga berpengaruh , tas
ransel yang bergantung terlalu rendah dapat meningkatkan beban yang ditopang
bahu sehingga menyebabkan anak akan condong kearah depan ketika berjalan
sehingga menimbulkan ketegangan otot (ACA, 2004).
Berat rata-rata tas sekolah memiliki jangkauan antara 4,7 kg dan 9,3 kg, beban
relatif dibawa oleh anak-anak sekolah dinyatakan sebagai persentase berat badan
(% BW) ini merupakan kisaran antara 10% dan 22% BW, beban relative yang
dibawa anak ke sekolah (dinyatakan sebagai% BW) telah dipertimbangkan dalam
studi ergonomis sebagai salah satu faktor penyebab pada masalah muskuloskeletal
antara lain kelompok usia. Sebuah tas sekolah batas berat 10% sampai 15% dari
berat badan telah disarankan sebagai beban maksimum untuk siswa sekolah.
Jadi membawa tas sekolah yang berat dapat mempengaruhi sistem
muskuloskeletal anak-anak dan cenderung menimbulkan masalah yang berbeda
seperti perubahan di kepala / leher dan postur tulang belakang dan meningkatkan
tingkat aktifitas pada otot leher dan trunk. (Dianat Iman et al, 2011).
Kesalahan sikap tubuh yaitu kifosis torakal akan mengganggu kesehatan yang
menyebabkan nyeri akibat stress mekanik pada tulang belakang,
ketidakseimbangan otot, upper crosses syndrome, stress pada ligament,
keterbatasan gerak torakal, gangguan pernapasan, sindroma miofascial (Paterson,
2009).
Dengan demikian kifosis merupakan suatu kondisi yang berpengaruh buruk pada
tulang belakang seseorang jika tidak segera ditangani. Penanganan dan
pemeriksaan kifosis diperlukan kemampuan dan keahlian sehingga penanganan
dan pemeriksaan yang dilakukan benar dan dapat mengurangi derajat kifosis
tersebut. Terutama bagi fisioterapi yang lebih fokus memberikan pelayanan
kesehatan dalam masalah kemampuan gerak dan fungsi. Seperti yang tercantum
dalam KEPMENKES NO.517/MENKES/SK/VI/2008 tentang standar pelayanan
fisioterapi di sarana kesehatan. Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan
yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan,
memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan
dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan
(fisik,elektroterapeutis, dan mekanis), pelatihan fungsi dan komunikasi (Sunarto,
2009).
Penegakkan diagnosa fisioterapi kifosis dilakukan standar pemeriksaan postur
menggunakan plum line atau bandul. Plum line merupakan alat pemeriksaan
standar pada postur yang mewakili garis vertical tubuh dengan prinsip kerja
berdasarkan hokum gravitasi. Plum line digunakan dalam keilmuan sebagai garis

yang mewakili alignment tubuh untuk melihat apakah postur tubuh mengalami
deviasi. (Kendall et al, 2005).
Setelah dilakukan pemeriksaan menggunakan plum line kemudian dilakukan
pungukuran besarnya kurva kifosis torakal menggunakan Flexible ruler untuk
mengetahui besarnya nilai kurva kifosis. Diagnosa sedini mungkin setidaknya
dapat memberikan informasi kepada penderita kifosis dan penanganannya
sesegera mungkin guna menghindari deformitas yang lebih parah sehingga kifosis
dengan derajat kurva yang lebih besar dapat dihindari. Oleh karena hal itulah
observasi dalam penelitian skripsi ini adalah anak-anak sekolah menengah
pertama dengan Mengadakan survei di sekolah tersebut, penulis mengamati
kebiasaan anak-anak dalam pemakaian tas yang dipakai saat ke sekolah.
Proses penuaan merupakan akumulasi secara progesif dari berbagai
perubahan fisiologis organ tubuh yang berlangsung seiring berjalannya waktu,
menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan
tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh, selain
itu proses penuaan akan meningkatkan kemungkinan terserang penyakit bahkan
kematian (Azizah LM, 2011 : 7). Meningkatnya jumlah usia lanjut tidak terlepas
dari faktor keberhasilan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
ditandai dengan meningkatnya usia harapan hidup. Meskipun banyak orang usia
lanjut dalam kesehatan yang baik, namun tetap merupakan kelompok yang
rentan terhadap penyakit karena terjadinya perubahan struktur dan fungsi tubuh
akibat proses degeneratif (Nawawi U, 2009 : 9). Perubahan-perubahan yang
terjadi pada lansia dapat memberikan dampak kepada kemampuan lansia dalam
melakukan aktifitas sehari-hari/Activity Daily Livings (ADLs). ADLs adalah
fungsi dan aktivitas individu yang normalnya dilakukan tanpa bantuan orang lain.
Kegiatan ADLs berdasarkan Katz Indeks meliputi mandi, berpakaian, pergi ke
toilet, berpindah, kontinensia dan makan (Joko Wijono, 2007). Peran keluarga
sangat diperlukan untuk membantu, dan mengontrol lansia sehingga dapat
mengubah perilaku lansia (Supartini, Y, 2004 : 28). Peran yang dapat dijalankan
keluarga adalah dengan memberikan kasih sayang, rasa aman dan memberikan
perhatian diantara anggota keluarga (lansia) (Nasrul Effendy, 1998 : 35). Namun
berdasarkan fenomena di Desa Margomulyo peran keluarga dalam perawatan
lansia masih sangat kurang, karena sebagian besar keluarga yang mempunyai
lansia kurang memperhatikan kebutuhan pada aktivitas kehidupan sehari-hari
terutama dalam hal mandi, berpakian, pergi kekamar mandi, berpindah,
BAK/BAB dan kebutuhan makan lansia.
Hasil Sensus Penduduk tahun 2010, Indonesia saat ini termasuk ke dalam
lima besar negara dengan jumlah penduduk lanjut usia terbanyak di dunia yakni
18,1 juta jiwa atau 9,6% dari jumlah penduduk. Berdasarkan proyeksi Bappenas,
jumlah penduduk lansia 60 tahun atau lebih diperkirakan akan meningkat dari
18,1 juta (2010) menjadi 29,1 juta (2020) dan 36 juta (2025) (DepKes RI, 2012).
Berdasarkan hasil penelitian Yip Riyani pada tahun 2009 tentang peran keluarga
terhadap lansia dengan ketergantungan di Madiun menunjukkan peran keluarga
dalam perawatan lansia dalam memenuhi kebutuhan mandi terdapat 52% berperan
baik, memenuhi kebutuhan berpakaian terdapat 56% berperan baik, memenuhi
kebutuhan pergi ke toilet terdapat 60% berperan baik, memenuhi kebutuhan

berpindah terdapat 52% berperan baik, memenuhi kebutuhan kontinensia terdapat


44% berperan baik, memenuhi kebutuhan makan terdapat 60% berperan baik.
Di Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2011, jumlah usia lanjut (lebih dari
60 tahun) sebanyak 129.291 orang dan yang mendapatkan pelayanan kesehatan
sebanyak 88.357 atau 68,34% dengan rincian laki-laki 69,16% dan perempuan
67,60%. Di Kecamatan Balen pada tahun 2012 dari 70.556 orang penduduk
Kecamatan Balen, jumlah usia lanjut (lebih dari 60 tahun) sebanyak 7.231 orang
(10,25%) dan yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 3.264 atau
45,14% dengan rincian laki-laki 46,21% dan perempuan 44,10%. Di Desa
Margomulyo pada tahun 2012 jumlah penduduknya sebanyak 2673 orang, jumlah
usia lanjut (lebih dari 60 tahun) sebanyak 587 orang (21,96%) dan yang
mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 142 atau 24,2% (Laporan Bulanan
Kegiatan Kesehatan Usia Lanjut Desa Margomulyo, tahun 2012).
Secara biologis makin tua usia seseorang maka semakin banyak fungsi
organ tubuh yang mengalami perubahan berupa penurunan atau bahkan tidak
berfungsi sama sekali. Menurun atau hilangnya fungsi tersebut akan berpengaruh
langsung terhadap kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (Yuliani,
2003). Penurunan aktifitas yang terjadi pada lansia tersebut memberikan dampak
yang buruk pada lansia. Salah satu contohnya adalah lansia sering mengalami
keluhan mengompol atau inkontenensia urin (IU) karena adanya gangguan
kemampuan atau ketidakmampuan menunda berkemih tatkala timbul sensasi
keinginan untuk berkemih (Andra, 2007). Hal itulah yang menyebabkan bau
pesing pada lansia. Jika peran yang dilakukan keluarga dalam merawat lansia
kurang maka akan berdampak terhadap kondisi psikologis dan fisik. Dampak
terhadap psikologis lansia yaitu lansia akan merasa menjadi beban bagi keluarga
dan selalu merasa tidak berguna. Sedangkan dampak terhadap fisik lansia yaitu
kebutuhan dasar lansia tidak terpenuhi, lansia akan semakin lemah dan akan
terjadi ketergantungan yang lebih berat (Joko Wijono, 2007). Selain itu dampak
dari penurunan aktifitas (imobilitas) tersebut adalah timbulnya berbagai penyakit,
ketergantungan kepada orang lain, tingginya biaya perawatan kesehatan,
rendahnya kualitas hidup dan kematian (Mangoenprasodjo, 2004 : 7).
Keluarga menjadi pusat utama karena keluarga mampu memperhatikan
segi-segi kehidupan lanjut usia (lansia) yang mengalami kemunduran fungsi dari
berbagai aspek merupakan salah satu anggota keluarga yang memerlukan
perawatan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Selain itu keluarga juga sebagai
pemberi asuhan informal dalam melaksanakan fungsi memberikan perawatan
pada lansia melibatkan seluruh aspek yaitu fisik, psikologis, emosional, sosial dan
finansial (Friedman, 2003). Sehingga penyuluhan atau pendidikan kesehatan
sangat penting diberikan pada lansia dan keluarga. Dengan adanya pendidikan
kesehatan yang diberikan sehingga keluarga tahu perannya dalam memberikan
perawatan lansia dan lansia sendiri dalam menjalani masa tua sehingga lansia
akan merasa nyaman dalam menjalani kehidupan di hari tuanya dan tetap
melakukan kegiatan walaupun hanya dilakukan di rumah dengan keadaan fisik
yang mengalami kemunduran (Rahayu S, 2009).

Berdasarkan fenomena diatas, maka penulis tertarik untuk mengangkat


masalah ini dalam membuat laporan studi kasus dengan judul Asuhan
keperawatan lansia hidup mandiri dengan kifosis di Desa Ngumpakdalem
Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2016.
1.2 Rumusan Masalah
Karena keterbatasan di dalam berbagai hal, maka ruang lingkup
pembahasan dibatasi pada satu keluarga yang mempunyai lansia dengan
inkontinesia urine saja tentang Bagaimana keperawatan lansia hidup mandiri
dengan kifosis di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten
Bojonegoro tahun 2016?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Melakukan asuhan keperawatan lansia hidup mandiri dengan kifosis di
Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2016.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian pada lansia hidup mandiri dengan kifosis di Desa
Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2016.
2. Merumuskan diagnosa keperawatan pada lansia hidup mandiri dengan kifosis
di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun
2016.
3. Menyusun rencana asuhan keperawatan pada lansia hidup mandiri dengan
kifosis di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro
tahun 2016.
4. Melakukan implementasi pada lansia hidup mandiri dengan kifosis di Desa
Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2016.
5. Melakukan evaluasi pada lansia hidup mandiri dengan kifosis di Desa
Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2016.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan, pengalaman tentang penelitian dan menambah
wawasan tentang penyakit urogenital, gangguan perkemihan serta cara perawatan
pada lansia yang mengalami inkontinensia urine sehingga peneliti mampu
menerapkan asuhan keperawatan keluarga.
1.4.2 Bagi Instituti Pendidikan

Sebagai acuan dan pertimbangan dalam usaha peningkatan kualitas dan


mutu pendidikan serta sebagai referensi untuk meningkatkan proses belajar pada
mahasiswa.
1.4.3 Bagi Lansia
Untuk menambah pengetahuan bagi pasien, pola hidup sehat dan
menggunakan koping adaptif saat terjadi inkontinensia urine.
1.4.4 Bagi Perawat
Untuk menambah pengetahuan bagi perawat tentang memberikan asuhan
keperawatan bagi lansia yang mengalami inkontinensia urine.
1.4.5 Manfaat Bagi Peneliti lain
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar bagi peneliti yang lain.