You are on page 1of 3

Muhammad Dinar Ramadhan

B2C013008
Analisis Bahan Deterjen Buatan Sendiri

Natrium lauril eter sulfat (SLES), P8.50 per 500 ml


Natrium klorida atau garam beryodium, P13.50 per 500 gm pak
Cocodiethanolamide (CDEA), P72.50 per 500 ml
Etil alkohol, P54.50 per 500 ml
Pewarna yang larut dalam air, P35 per 400 gm pak
Benzalkonium klorida, P109.50 per 500 ml
DEGREASER, P30 per 120 ml
Fragrance (pewangi), P161.40 per 120 ml
Air suling atau air ionisasi, P14.19 per liter
330 ml botol PET, P5.50/pc

Dalam deterjen terdapat beberapa bahan penyusun, di antaranya:


1. Surfaktan
Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai gugus
yang berbeda yaitu hidrofilik (suka air), gugus yang tertarik pada senyawa polar dan
hidrofobik (suka lemak), gugus yang tertarik pada senyawa non polar, (Gambar 3). Bahan
aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran
yang menempel pada permukaan air. Surfaktan berfungsi menghilangkan atau mengendapkan
kotoran dalam larutan dan sebagai pengemulsi (Timurti Betty Cahya dkk. 2009).
Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan, yaitu :
a. Anionik
: Surfaktan yang gugus hidrofilnya bermuatan negatif (dapat
tertarik kearah medan listrik positif). Contoh: Alkyl Benzena
Sulfonate (ABS), Linear Alkyl Benzene Sulfonate (LAS). Surfaktan
jenis ini biasa digunakan untuk deterjen, sabun mandi dan kosmetik
(cleansing agent untuk kulit wajah).
b. Kationik

: Surfaktan yang gugus hidrofilnya bermuatan positif (dapat


tertarik ke arah medan listrik negatif) dan gugus hidrofilnya adalah
senyawa amino quarternary nitrogen.
Contoh: lauril, alkil, dan dialkilamina. Surfaktan jenis ini biasanya
digunakan sebagai bahan anti korosi dan sanitizer serta pelembut
tekstil.

c. Non ionik

: Surfaktan yang gugus hidrofilnya tidak bermuatan.


Contoh: alkohol etoksilat (synperonic), alkil fenol etoksilat. Jenis
surfaktan non ionik ini dapat juga digunakan untuk deterjen, tetapi
biasanya digunakan untuk pelapis furniture
d. Amphoterik : Surfaktan yang mempunyai dua gugus hidrofil yang
bermuatan positif (basa) dan bermuatan negatif (asam).
Contoh: coco amidopropyl betaine yang merupakan
surfaktan pada sampo.
Surfaktan yang digunakan pada deterjen adalah jenis surfaktan anionik yaitu LAS (Linier
Alkil Benzena Sulfonat). Surfaktan anionik dalam deterjen ini berfungsi sebagai zat pembasah
yang akan masuk ke dalam ikatan antara serat kain dan kotoran yang menyebabkan kotoran
menjadi menggulung sehingga menjadi besar dan akhirnya terlepas dari serat kain.
2. Builder (pembentuk)
Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci surfaktan dengan cara
menonaktifkan mineral penyebab kesadahan air. Selain itu builder juga dapat membantu
menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih
baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah dilepas. Contoh
dari builder, antara lain:
a. Fosfat
: Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)
b. Asetat
:Nitril Tri Acetate (NTA), Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)
c. Silikat
: Zeolit
d. Sitrat
: Asam sitrat
Builder yang biasa dimanfaatkan di dalam deterjen adalah fosfat dalam bentuk senyawaan
Sodium Tri Poly Phospate (STPP). Fosfat mempunyai fungsi penting dalam deterjen yaitu
sebagai softener air. Fosfat juga mampu menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion
Ca2+ dan Mg2+. Karena aksi softenernya, efektivitas dari daya cuci deterjen meningkat. Fosfat
tidak bersifat racun, bahkan sebaliknya fosfat merupakan salah satu nutrisi penting yang
dibutuhkan oleh mahluk hidup. Namun dalam jumlah yang terlalu banyak, fosfat juga dapat
menyebabkan pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) yang berlebihan di dalam badan air,
sehingga badan air kekurangan oksigen akibat dari pertumbuhan algae (phytoplankton)
berlebih yang merupakan makanan dari bakteri. Populasi bakteri yang berlebihan ini akan
menggunakan oksigen dalam air yang suatu saat akan menyebabkan terjadinya kekurangan
oksigen di badan air dan pada akhirnya justru membahayakan kehidupan mahluk hidup dan
sekitarnya.
3. Filler (pengisi)
Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak meningkatkan daya cuci,
tetapi menambah kuantitas berat jenis dari deterjen. Contoh filler yang biasa digunakan
adalah natrium sulfat.
4. Additives (aditif)
Aditif adalah bahan tambahan untuk pembuatan produk lebih menarik, misalnya pewangi,
pelembut, pemutih dan pewarna yang tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen.
Aditif ditambahkan juga untuk mengkomersialkan produk. Contoh aditif, antara lain: enzim,
boraks, natrium klorida dan Carboxy Methy cellulose (CMC) digunakan agar kotoran yang
telah dibawa oleh deterjen ke dalam larutan tidak kembali lagi ke bahan cucian pada waktu
mencuci (anti redeposisi).