You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Hipertensi seringkali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer), karena termasuk

penyakit yang mematikan, tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai
peringatan bagi korbannya.
Hipertensi menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, karena jika tidak
terkendali akan berkembang dan menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Akibatnya bisa
fatal karena sering timbul komplikasi, misalnya stroke (perdarahan otak), penyakit jantung
koroner, dan gagal ginjal.
Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan pada kelompok lansia. Sebagai hasil
pembangunan yang pesat dewasa ini dapat meningkatkan umur harapan hidup, sehingga
jumlah lansia bertambah tiap tahunnya, peningkatan usia tersebut sering diikiuti dengan
meningkatnya

penyakit degeneratif dan masalah kesehatan lain pada kelompok ini.

Hipertensi sebagai salah satu penyakit degeneratif yang sering dijumpai pada kelompok
lansia.
Menurut World Healt Organization (WHO) penyakit darah tinggi atau hipertensi telah
membunuh 9,4 juta warga dunia setiap tahunnya. Badan kesehatan dunia (WHO)
memperkirakan, jumlah penderita hipertensi akan terus meningkat setiap tahunnya. Pada
2025 diperkirakan sekitar 29% warga dunia terkena hipertensi. Persentasi penderita hipertensi
paling banyak di negara berkembang. Data Global Status Report on Noncommunicable
Diseasse 2010 dari WHO menyebutkan, 40% negara ekonomi berkembang memiliki
penderita hipertensi, sedangkan negara berkembang mempunyai kasus hipertensi kurang
lebih 35%. Kawasan Afrika memegang posisi puncak penderita hipertensi sebanyak 46%.
Sementara kawasan Amerika menempati posisi 35%, di kawasan Asia Tenggara, 36% orang
dewasa memiliki hipertensi.
Di Asia, penyakit ini telah membunuh sekitar 1,5 juta orang setiap tahunnya. Hal ini
menandakan satu dari tiga orang menderita hipertensi.Untuk pria dan wanita terjadi
peningkatan jumlah penderita, dari 18% menjadi 31% dan 16% menjadi 29%. Pada 2011,
WHO mencatat satu milliar orang terkena hipertensi.
Di Indonesia, angka hipertensi mencapai 32% pada tahun 2008 dan dengan kisaran
usia diatas 25 tahun. Jumlah penderita pria 42,7% sedangkan jumlah penderita wanita
1

sebanyak 39,2%. Sedangkan riset data Kesehatan Dasar 2007 menyebutkan, propinsi dengan
angka prevalensi tertinggi pada kepulauan Natuna 53,3%. Sedangkan di propinsi Papua Barat
dengan angka prevalensi 6,8%.
Di Muntok, angka kejadian hipertensi pada bulan april 2015 tercatat 50 orang yang
menderita hipertensi di Posbindu PTM, dengan angka kejadian pada laki-laki yaitu 14 orang
dan yang perenpuan 36 orang, berdasarkan usia, 18-44 tahun sebanyak 4 orang diantaranya
laki-laki 1 orang dan perempuan 3 orang. pada rentang usia 45-64 tahun sebanyak 28 orang,
diantaranya laki-laki 8 orang dan perempuan 20 orang, sedangkan pada rentang usia >65
tahun, kasus hipertensi tercatat sebanyak 18 orang, diantaranya laki-laki 5 orang dan
perempuan 15 orang.
1.2

Rumusan Masalah
o Hipertensi merupakan penyakit tertinggi pertama di Muntok.
o Sebagian besar masyarakat Muntok belum mengetahui bahaya komplikasi
penyakit hipertensi.
o Sebagian besar penderita hipertensi di Muntok mengalami komplikasi seperti
stroke..
o Tidak ada media maupun perencanaan promosi penyakit hipertensi

1.3

Tujuan
Tujuan umum
Untuk mempromosikan atau melakukan seminar awam mengenai hipertensi
kepada kader dan penderita Hipertensi, serta mengetahui dampak dari kelas hipertensi
terhadap penurunan angka kejadian hipertensi di Muntok.
Tujuan Khusus
o Mengidentifikasi sejauh mana pasien dengan hipertensi mengetahui
mengenai penyakit hipertensi.
o Para kader untuk mengadakan kegiatan kelas hipertensi secara rutin.

1.4

Manfaat
o Bagi Pelaksana
Meningkatkan keterampilan dan

mengaplikasikan ilmu mengenai penyakit

hipertensi dan melakukan penerapan klinis kelas hipertensi untuk menekan angka
kekambuhan hipertensi.
o Bagi masyarakat
2

Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang


penyakit hipertensi, komplikasi, pencegahan hipertensi dan latihan yang efektif
bagi penderita hipertensi.
o Bagi Instansi
Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi kegiatan rutin yang bermanfaat dan dapat
mengurangi jumlah penderita hipertensi khususnya pada lansia di puskesmas
Muntok.

BAB II
3

TINJAUAN PUSTAKA
A.

Hipertensi

2.1

Definisi
Hipertensi adalah penyakit yang terjadi akibat peningkatan tekanan darah. Tekanan

darah (TD) ditentukan oleh dua faktor utama yaitu curah jantung dan resistensi perifer. Curah
jantung adalah hasil kali denyut jantung dan isi sekuncup. Besar ini sekuncup ditentukan oleh
kekuatan kontraksi miokard dan alir balik vena. Resistensi perifer merupakan gabungan
resistensi pada pembuluh darah (arteri dan arteriol) dan viskositas darah. Resistensi pembuluh
darah ditentukan oleh tonus otot polos arteri dan arteriol dan elastisitas dinding pembuluh
darah.
Diagnosis hipertensi tidak boleh ditegakan berdasarkan sekali pengukuran, kecuali
bila tekanan darah diastolik (TDD) 120 mmHg dan atau tekanan darah sistolik (TDS) 210
mmHg. Pengukuran pertama harus dikonfirmasi pada sedikitnya dua kunjungan lagi dalam
waktu satu sampai beberapa minggu (tergantung dari tingginya tekanan darah tersebut).
Diagnosis hipertensi ditegakan bila dari pengukuran berulang-ulang tersebut diperoleh nilai
rata-rata TDD 90 mmHg dan atau TDS 140 mmHg.
2.2

Klasifikasi Hipertensi

Tabel 1. Klasifikasi tekanan darah menurut The Sevent Joint National Committee on
Prevention Detection Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC7)

2.3

Etiologi Hipertensi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
a) Hipertensi Primer atau Esensial
Hipertensi yang tidak atau belum diketahui penyebabnya (terdapat sekitar 90% - 95%
kasus). Penyebab hipertensi primer atau esensial adalah multifaktor, terdiri dari faktor
genetik dan lingkungan. Faktor keturunan bersifat poligenik dan terlihat dari adanya
riwayat penyakit kardiovaskuler dalam keluarga. Faktor predisposisi genetik ini dapat
berupa sensitifitas terhadap natrium, kepekaan terhadap stress, peningkatan reaktivitas
4

vaskuler

(terhadap

vasokonstriksi)

dan

resistensi

insulin

(Setiawati

dan

Bustami,1995:315-342).
b) Hipertensi sekunder atau Renal Hipertensi
yang disebabkan atau sebagai akibat dari adanya penyakit lain (terdapat sekitar 5% 10% kasus) penyebabnya antara lain hipertensi akibat penyakit ginjal (hipertensi
renal), hipertensi endokrin, kelainan saraf pusat, obat-obat dan lain-lain.
2.4

Patogenesis Hipertensi
Pada geriatri patogenesis terjadinya hipertensi usia lanjut sedikit berbeda dengan yang

terjadi pada dewasa muda. Faktor yang berperan pada geriatri adalah:
a) Penurunan kadar rennin karena menurunya jumlah nefron akibat proses menua.
b) Peningkatan sensitivitas terhadap asupan natrium.
c) Penurunan elastisitas pembuluh darah perifer akibat proses menua akan meningkatkan
resistensi pembuluh darah perifer yang pada akhirnya akan mengakibatkan hipertensi
d) Sistolik saja (ISH = Isolated Systolic Hypertension).
2.5

Faktor Risiko Hipertensi


Faktor risiko hipertensi dapat dibagi menjadi 2 yaitu faktor risiko yang dapat diubah

dan yang tidak dapat diubah.


a. faktor yang tidak dapat diubah
1. Umur
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua seseorang semakin besar
risiko terserang hipertensi. Umur lebih dari 40 tahun mempunyai risiko terkena
hipertensi.
2. Jenis kelamin
Bila ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata terdapat angka yang
cukup bervariasi. Para Ahli mengatakan pria lebih banyak menderita hipertensi
dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 2,29 mmHg untuk peningkatan darah
sistolik.38 Sedangkan menurut Arif Mansjoer, dkk, pria dan wanita menapouse
mempunyai pengaruh yang sama untuk terjadinya hipertensi.37 Menurut MN.
Bustan bahwa wanita lebih banyak yang menderita hipertensi dibanding pria,
hal ini disebabkan karena terdapatnya hormon estrogen pada wanita.
3. Riwayat Keluarga
Menurut Nurkhalida, orang-orang dengan sejarah keluarga yang mempunyai
hipertensi lebih sering menderita hipertensi. Riwayat keluarga dekat yang
menderita hipertensi (faktor keturunan) juga mempertinggi risiko terkena

hipertensi terutama pada hipertensi primer. Keluarga yang memiliki hipertensi


dan penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2-5 kali lipat
4. Genetika
Peran faktor

genetik

terhadap

timbulnya

hipertensi

terbukti

dengan

ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada kembar monozigot


(satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel telur). Seorang penderita yang
mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila dibiarkan secara
alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan menyebabkan
hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan
timbul tanda dan gejala.
b. faktor yang dapat diubah
1. Kebiasaan merokok
Zat-zat kimia beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida yang diisap melalui
rokok, yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh
darah arteri dan mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi.
2. Kebiasaan konsumsi garam/asin
Garam merupakan faktor yang sangat penting dalam patogenesis hipertensi.
Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa dengan asupan
garam yang minimal. Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh,
karena menarik cairan diluar sel agar tidak keluar, sehingga akan meningkatkan
volume dan tekanan darah.
3. Konsumsi lemak jenuh
Kebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan peningkatan berat badan
yang berisiko terjadinya hipertensi
4. Penggunaan jelantah
Pentingnya membatasi penggunaan minyak goreng terutama jelantah karena akan
meningkatkan pembentukan kolesterol yang berlebihan yang dapat menyebabkan
aterosklerosis dan hal ini dapat memicu terjadinya penyakit tertentu, seperti
penyakit jantung, darah tinggi dan lain-lain.
5. Kebiasaan konsumsi alkohol
Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas. Namun
diduga, peningkatan kadar kortisol dan peningkatan volume sel darah merah serta
kekentalan darah merah berperan dalam menaikkan tekanan darah
6. Obesitas
Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi yang obesitas lebih
tinggi dari penderita hipertensi yang tidak obesitas. Pada obesitas tahanan perifer

berkurang atau normal, sedangkan aktivitas saraf simpatis meninggi dengan


aktivitas renin plasma yang rendah.
7. Kurang aktifitas fisik
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi, karena olahraga
isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan
tekanan darah.
8. Stress
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis,
yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Apabila stress menjadi
berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi.
9. Penggunaan estrogen
Estrogen meningkatkan risiko hipertensi tetapi secara epidemiologi belum ada
data apakah peningkatan tekanan darah tersebut disebabkan karena estrogen dari
dalam tubuh atau dari penggunaan kontrasepsi hormonal estrogen
2.6

Manifestasi Klinik
a) Gejala hipertensi
Peninggian tekanan darah kadang kadang merupakan satu-satunya gejala.
Hipertensi tidak memberikan gejala khas, baru setelah beberapa tahun adakalanya
pasien merasakan nyeri kepala pagi hari sebelum bangun tidur, nyeri ini biasanya
hilang setelah bangun (Tan dan Raharja, 2001). Pada survai hipertensi di Indonesia
tercatat berbagai keluhan yang dihubungkan dengan hipertensi seperti pusing, cepat
marah, telinga berdenging, sukar tidur, sesak nafas, rasa berat ditekuk, mudah lelah,
sakit

kepala,

dan

mata

berkunang-kunang.

Gejala

lain

yang

disebabkan

olehkomplikasi hipertensi seperti : gangguan penglihatan, gangguan neurologi, gagal


jantung dan gangguan fungsi ginjal tidak jarang dijumpai. Timbulnya gejala tersebut
merupakan pertanda bahwa tekanan darah perlu segera diturunkan (Susalit et al,
2001:453-472).
b) Hasil Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan pada pasien hipertensi meliputi:
1) Pemeriksaan ureum dan kreatinin dalam darah dipakai untuk menilai fungsi
ginjal.
2) Pemeriksaan kalium dalam serum dapat membantu menyingkirkan kemungkinan
aldosteronisme primer pada pasien hipertensi.
3) Pemeriksaan kalsium penting untuk pasien hiperparatiroidisme primer dan
dilakukan sebelum memberikan diuretik karena efek samping diuretik adalah
peningkatan kadar kalsium darah.
7

4) Pemeriksaan glukosa dilakukan karena hipertensi sering dijumpai pada pasien


diabetes mellitus.
5) Pemeriksaan urinalisis diperlukan untuk membantu menegakan diagnosis
penyakit ginjal, juga karena proteinuria ditemukan pada hampir separuh pasien.
sebaiknya pemeriksaan dilakukan pada urine segar.
6) Pemeriksaan elektrokardiogram dan foto pada yang bermanfaat untuk mengetahui
apakah hipertensi telah berlangsung lama. Pembesaran ventrikel kiri dan
gambaran kardiomegali dapat dideteksi dengan pemeriksaan ini (Suyono,
2001:461-462).
2.7

Diagnosis
Diagnosis hipertensi didasarkan pada peningkatan tekanan darah yang terjadi
pada pengukuran yang berulang. Joint National Committee VII menuliskan diagnosis
hipertensi ditegakan berdasarkan sekurang-kurangnya dua kali pengukuran tekanan
darah pada saat yang berbeda. pengukuran pertama harus dikonfirmasi pada
sedikitnya dua kunjungan lagi dalam waktu satu sampai beberapa minggu (tergantung
dari tingginya tekanan darah tersebut). Diagnosis hipertensi ditegakan bila dari
pengukuran berulang-ulang tersebut diperoleh nilai rata-rata tekanan darah diastolik
90 mmHg dan atau tekanan darah sistolik 140 mmHg. Diagnosis hipertensi boleh
ditegakan bila tekanan darah sistolik 210 mmHg dan atau tekanan darah diastolik
120 mmHg (Ganiswara,1995:317).
Evaluasi pasien hipertensi mempunyai tiga tujuan:
a) Mengidentifikasi penyebab hipertensi.
b) Menilai adanya kerusakan organ target dan penyakit kardiovaskuler,beratnya
penyakit,serta respon terhadap pengobatan.
c) Mengidentifikasi adanya faktor resiko kardiovaskuler lain atau penyakit penyerta,
yang ikut menentukan prognosis dan ikut menentukan panduan pengobatan. Data
yang diperlukan untuk evaluasi tersebut diperoleh dengan cara anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang (Susalit
et al, 2001).

2.8

Terapi Hipertensi
Terapi pengobatan hipertensi adalah untuk mencegah terjadinya morbiditas
dan mortalitas akibat tekanan darah tinggi, ini berarti tekanan darah harus diturunkan
serendah mungkin yang tidak mengganggu fungsi, ginjal, otak, jantung maupun
8

kualitas hidup. Terapi hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu terapi Non
farmakologi (tanpa obat) dan terapi farmakologi (dengan obat).
a) Terapi non farmakologi ditujukan untuk menurunkan tekanan darah pasien
dengan jalan memperbaiki pola hidup pasien. Terapi ini sesuai untuk segala jenis
hipertensi. Modifikasi pola hidup terbukti dapat menurunkan tekanan darah lain
penurunan tekanan darah pada kasus obesitas, diet asupan kalium dan kalsium,
pengurangan asupan natrium, melakukan kegiatan fisik, dan mengurangi
konsumsi alcohol (Chobanian et al, 2003).
b) Terapi farmakologi sedikit berbeda dibanding dengan pasien usia muda.
Perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada usia lanjut menyebabkan
konsentrasi obat menjadi tinggi dan waktu eliminasi menjadi panjang. Juga
terjadi penurunan fungsi dan respon organ-organ, adanya penyakit lain, adanya
obat-obat untuk penyakit lain yang sementara dikonsumsi, harus diperhitungkan
dalam pemberian obat anti-hipertensi.
Prinsip pemberian obat pada pasien usia lanjut:
1) Sebaiknya dimulai dengan satu macam obat dengan dosis kecil.
2) Penurunan tekanan darah sebaiknya secara perlahan,untuk penyesuaian
autoregulasi guna mempertahankan perfusi ke organ vital.
3) Regimen obat harus sederhana dan dosis sebaiknya sekali sehari.
4) Antisipasi efek samping obat.
5) Pemantauan tekanan darah itu sendiri di rumah untuk evaluasi fektivitas
pengobatan.
Pengobatan harus segera dilakukan pada hipertensi berat dan apabila terdapat
kelainan target organ. Oleh karena itu fungsi ginjal telah menurun dan terdapat
gangguan metabolisme obat,sebaiknya dosis awal dimulai dengan dosis yang
lebih rendah pada hipertensi tanpa komplikasi. Hipertensi pada usia lanjut perlu
diobati seperti pada usia yang lebih muda,secara hati-hati sampai tekanan sistolik
140 mmHg dan diastolik 80 mmHg atau kurang. Selain itu perlu diobati faktor
resiko kardiovaskuler yang lain: dislipedemia, merokok, obesitas, diabetes
melitus dan lain-lain (Suharjono,Syakib,2001: 484-485).
2.9

Obat-Obat Antihipertensi
Semua obat antihipertensi bekerja pada salah satu atau lebih dari empat tempat
kontrol anatomis dan efek tersebut terjadi dengan mempengaruhi mekanisme normal
regulasi

tekanan

darah.

Obat-obat

antihipertensi

yang

sering

digunakan

diklasifikasikan sebagai berikut:


9

a) Diuretik
Khasiat hipertensi diuretik berawal dari efeknya meningkatkan ekskresi natrium,
klorida, dan air, sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel.
Tekanan darah turun akibat berkurangnya curah jantung, sedangkan resistensi
perifer tidak berubah pada awal terapi. pada pemberian kronik, vo lume plasma
kembali tetapi masih kira-kira 5% dibawah nilai sebelum pengobatan curah
jantung kembali mendekati normal. Tekanan darah tetap turun karena sekarang
resistensi perifer menurun. Vasodilatasi perifer yang terjadi kemudian ini
tampaknya bukan efek langsung tetapi karena adanya penyesuaian pembuluh
darah perifer terhadap pengurangan volume plasma yang terus menerus.
Kemungkinan lain adalah berkurangnya volume cairan intestisial yang berakibat
pada berkurangnya kekakuan. Dinding pembuluh darah dan bertambahnya daya
b)

lentur (Ganiswara, 1995).


-Bloker (beta-bloker).
Mekanisme kerja beta-bloker sebagai antihipertensi masih belum jelas,
diperkirakan ada beberapa cara, cara pertama adalah pengurangan denyut jantung
dan kontraktilitas miokard menyebabkan denyut berkurang. Refleks baroreseptor
serta hambatan reseptor B2 Vaskuler menyebabkan resistensi perifer menurun,
mungkin sebagai penyesuaian terhadap pengurangan curah jantung yang kronik.
Cara yang kedua adalah hambatan sekresi rennin melalui reseptor B1 di ginjal
(Ganiswara, 1995:330). Penurunan tekanan darah oleh beta bloker yang diberikan
per oral berlangsung lambat. Efek ini mulai terlihat dalam 24 jam sampai 1
minggu setelah terapi dimulai, dan tidak diperoleh penurunan tekanan darah lebih
lanjut setelah 2 minggu bila dosisnya tetap. Efek samping obat golongan beta
bloker dapat diperkirakan selain itu juga terdapat banyak pilihan sehingga beta
bloker sering digunakan sebagai obat pilihan pertama. Khususnya pada kasus
hipertensi dengan aritmia atau ischaemia heart disease. Kontra indikasi
pemakaian beta bloker adalah obstruksi saluran nafas (asma bronkhial), penyakit

pembuluh darah perifer, dan gagal jantung (Raharjo, 2001).


c) - Bloker (Alfa-bloker).
Antagonis adrenoreseptorm memblok reseptor adrenergic dipembuluh darah
sehingga vasodilatasi. obat ini tidak menimbulkan toleransi pada penggunaan janka
panjang sebagai antihipertensi. Alfa bloker merupakan satu-satunya golongan
antihipertensi yang memberikan efek positif terhadap lipid darah (menurunkan
kolesterol LDL dan trigliserida dan meningkatkan kolesterol HDL). Alfa bloker juga
10

dapat menurunkan resistensi insulin (disamping penghambat ACE), memberikan


sedikit efek bronkodilatasi dan mengurangi serangan asma akibat latihan fisik, dan
tidak berinteraksi dengan AINS. Karena itu, alfa bloker dianjurkan penggunaanya
pada penderita hipertensi yang disertai diabetes, dislipidemia, obesitas, gangguan
resistensi perifer, asma, dan perokok. Merokok meningkatkan trigliserida dan
menurunkan kolesterol HDL dalam darah. Alfa bloker juga dapat dianjurkan untuk
penderita muda yang aktif secara fisik, dan mereka yang menggunakan AINS
(Ganiswara,1995:321).
d) Antagonis kalsium
Pada otot jantung ada otot vaskuler, ion kalsium terutama berperan dalam peristiwa
kontraksi. Meningkatnya kadar ion kalsium dalam sitosol akan meningkatkan
kontraksi. Masuknya ion kalsium dalam ruang ekstrasel kedalam ruang intrasel dipacu
oleh perbedaan kadar (kadar kalsium ekstrasel 10. 000 kali lebih tinggi disbanding
kadar ion kalsium intrasel sewaktu diastole). Obat antihipertensi golongan antagonis
kalsium bekerja dengan jalan memblok kanal kalsium yang terletak pada otot polos
sehingga mencegah terjadinya vasokonstriksi (Ganiswara, 1995:325). Antagonis
kalsium makin banyak digunakan karena efek sampingnya pada kardiovaskuler,
bronkus, dan metabolism tubuh lebih kecil dibandingkan dengan beta bloker.
Berdasarkan efek tersebut, antagonis kalsium ini terutama digunakan pada hipertensi,
apabila diuretik dan atau beta bloker kurang efektif. Golongan obat antihipertensi ini
menurunkan darah secara efektif, dan umumnya dapat ditoleransi dengan baik serta
menekan kejadian stroke. Indikasi terutama hipertensi sistolik pada lansia.
e) Penghambat Enzim konversi Angiotensin (ACE-inhibitor)
Mekanisme kerja penghambat ACE adalah mengurangi pembentukan angiotensin II
sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi aldostero yang menyebabkan
terjadinya ekresi natrium dan air, serta retensi kalium. Akibatnya terjadi penurunan
tekanan darah akibat penghambat ACE disertai dengan penurunan resistensi perifer.
Tampaknya kerja golongan obat ini tidak hanya melalui system renninangiotensinaldosteron, tetapi juga melalui system rennin. Hambatan inaktivasi
bradikinin oleh penghambat ACE meningkatkan bradikinin dan prostaglandin
vasodilator sehingga meningkatkan vasodilatasi akibat hambatan pembentukan
angiotensin II (Ganiswara,1995).
f) Obat Antihipertensi Kerja Sentral
Kelompok ini termasuk metildopa, yang mempunyai keuntungan karena aman bagi
pasien asma, gagal jantung, dan kehamilan. Efek sampingnya diperkecil jika dosis
perharinya dipertahankan tetap dibawah 1g. Klonidin mempunyai kerugian karena
11

penghentian pengobatan secara tiba-tiba bisa menyebabkan krisis hipertensif.


Maksonidin, obat yang bekerja sentral, belum lama ini diperkenalkan untuk hipertensi
esensial ringan sampai sedang (DepKes RI, 2000).
g) Antagonis Reseptor Angiotensin II.
Ada dua tipe reseptor angiotensin II. tipe I Mengontrol vasokonstriksi dan sintesis
aldosteron, dan tipe 2 yang aksinya kurang spesifik. Antagonis angiotensin II
menghambat pada reseptor tipe I dan memiliki tipe yang sama dengan penghambat
ACE dan menurunkan tekanan darah namun efek sampingnya lebih kecil (Clarke and
Hebron,1999).
h) Vasodilator
Obat antihipertensi golongan ini dapat mengembangkan dindingdinding arteriola
sehingga daya tahan pembuluh perifer berkurang dan tekanan darah menurun.
Mekanisme kerjanya langsung terhadap obat-obat licin pembuluh yang daya
kontraksinya dikurangi, tanpa hubungan dengan saraf-saraf adrenergic. (Tan Raharja,
2002). Beberapa contoh obat anti hipertensi dari tiap golongan dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
Tabel: 2 Golongan obat Antihipertensi

Evaluasi pasien dengan riwayat hipertensi memiliki 3 tujuan yaitu:


12

1) Untuk menilai gaya hidup dan mengidentifikasikan faktor resiko kardiovaskuler atau
dengan penyakit yang mungkin mempengaruhi prognosis dan pedoman pengobatan.
2) Untuk menyatukan penyebab tingginya tekanan darah.
3) Menilai parahnya kerusakan organ target dan penyakit kardiovaskuler.
Pemberian dua atau lebih obat pada waktu bersamaan dapat memberikan efeknya
tanpa saling mempengaruhi atau bisa jadi saling berinteraksi. Kemungkinan interaksi
obat yang dapat terjadi pada terapi pasien hipertensi.

Tabel 3. Interaksi obat yang mungkin terjadi antara obat yang mungkin terjadi antara
obat Antihipertensi dengan Antihipertensi yang lain.

Tabel 4. Interaksi obat yang mungkin terjadi obat Antihipertensi


dengan obat lain.

13

2.9

Komplikasi Hipertensi

Pada umumnya komplikasi terjadi pada hipertensi berat yaitu jika tekanan darah (TD)
diastolik 130 mmHg atau kenaikan tekanan darah (TD) yang terjadi mendadak dan tinggi.
Pada hipertensi ringan dan sedang komplikasi yang sering terjadi adalah pada mata, ginjal,
jantung, dan otak. Pada mata berupa pendarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan
kebutaan. Gagal jantung merupakan kelainan yang sering dijumpai pada hipertensi berat
disamping kelainan koroner dan miokard. pada otak sering terjadi pendarahan yang
disebabkan pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibatkan kematian. Kelainan lain
yang terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan iskemia otak sementara. Gagal ginjal
sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi.
B. PENGGUNAAN OBAT
Dampak negatif pemakaian obat yang tidak rasional sangat luas dan kompleks seperti halnya
faktor-faktor pendorong atau penyebab terjadinya. Tetapi secara ringkas dampak tersebut
dapat digambarkan seperti berikut:
1) Dampak terhadap mutu pengobatan dan pelayanan.
14

2) Dampak terhadap biaya pelayanan pengobatan.


3) Dampak terhadap kemungkinan efek samping obat.
4) Dampak psikososial.
Suatu pengobatan dikatakan rasional bila memenuhi beberapa criteria tertentu. Kriteria ini
mungkin akan bervariasi tergantung interpretasi masing-masing, Tetapi paling tidak akan
mencangkup hal-hal berikut:
1) Ketepatan indikasi
Indikasi pemakaiann obat secara khusus adalah indikasi medik dimana intervensi
dengan obat (farmakoterapi) memang diperlukan dan telah diketahui memberikan
manfaat terapetik. Pada banyak keadaan, Ketidak-rasionalan pemakaian obat terjadi
oleh karena keperluan intervensi farmakoterapi dan kemanfaatanya tidak jelas.
2) Ketepatan Pemilihan obat
Pemilihan jenis obat harus memenuhi beberapa segi pertimbangan yakni:
a. Kemanfaatan dan keamanan obat sudah terbukti secara pasti.
b. Risiko dari pengobatan dipilih yang paling kecil untuk pasien dan imbang dengan
manfaat yang akan diperoleh.
c. Biaya obat paling sesuai untuk alternatif-alternatif obat dengan manfaat dan
keamanan yang sama dan paling terjangkau oleh pasien (affordable).
d. Jenis obat yang paling mudah didapat (available).
e. Cara pemakaian paling cocok dan paling mudah diikuti pasien.
f. Sedikit mungkin kombinasi obat atau jumlah jenis obat.
3. Ketepatan cara pemakaian dan dosis obat
Banyak ketidakrasionalan bersumber pada pemilihan obat-obat dengan manfaat dan
keamanan yang samar-samar atau obat-obat yang mahal pada alternatif yang sama dengan
harga lebih murah juga tersedia. Cara pemakaian obat memerlukan pertimbangan
farmakokinetika yakni : Cara pemberian, besar dosis, frekuensi pemberian dan lama
pemberian, Sampai kepemilihan cara pemakaian yang paling mudah diikuti oleh pasien dan
paling aman serta efektif untuk pasien.
4. Ketepatan penilaian terhadap kondisi pasien atau tindak lanjut efek pengobatan.
Ketepatan pasien serta penilaianya mencangkup pertimbangan apakah ada
kontraindikasi atau adakah kondisi-kondisi khusus yang memerlukan penyesuaian dosis
secara individual. Apakah ada keadaan yang merupakan faktor konstitusi terjadinya efek
samping obat pada penderita. Jika kemudian terjadi efek samping tertentu, bagaimana
menentukan dan menanganinya
C. USIA LANJUT/GERIATRI

15

Geriatri berasal dari kata-kata geros (usia lanjut) dan iatreia (mengobati). Geriatri
merupakan cabang Gerontologi. Gerantologi ini dibagi menjadi tiga yaitu Biology of aging,
social gerontology, dan geriatri medicine, yang mengupas problem klinik orang-orang lanjut
usia (Darmojo dan pranaka, 2001).
Menua (menjadi tua=aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan
struktur serta fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk
infeksi) dan kerusakan yang diderita (Darmojo dan Martono, 2006).
Prinsip dan tujuan terapi pada usia lanjut antara lain:
5. Menghindari obat yang tidak perlu, misalnya pada pasien hipertensi yang belum
begitu parah mungkin bisa diberi tanpa obat yang telah terbukti efikasinya.
6. Penggunaan obat golongan sedative hipnotik sebaiknya dihindari.
7. Tujuan terapi dari para pasien usia lanjut antara lain tidak hanya memperpanjang
umurnya tetapi juga mengubah kualitas hidupnya.
8. Terapi sebaiknya ditujukan pada penyebab penyakit, bukan terhadap gejala yang
timbul.
9. Riwayat penggunaan obat, untuk memastikan bahwa pasien tidak alergi terhadap
obat tersebut.
10. Pemilihan obat, obat yang diberikan pada usia lanjut hendaknya yang sudah
terbukti efikasinya dan mungkin terjadinya Adverse Drug Reactions kecil atau
tidak ada.
11. Titrasi dosis (walker dan Edwards, 2003).

16

BAB III
METODE
3.1. Persiapan
1. Surat Permohonan
Surat permohonan dilakukannya presentasi kelas hipertensi kepada kader dan pasien
hipertensi lansia oleh Puskesmas Muntok, Bangka Barat.
2. Alat dan Bahan
a. Layar
b. Koran dan kursi
c. LCD
d. Komputer (Laptop)
e. video Senam Kaki Diabetikum
3. Tempat
Ruangan Lantai 2 Puskesmas Muntok, Bangka Barat
4. Tenaga
a. Tenaga pelatih/narasumber
b. Tenaga administrasi
c. Tenaga penyedia alat
1.2 Rencana Penyelesaian Masalah
1.2.1

Sosialisasi kelas hipertensi pada kader dan pasien di Puskesmas Muntok

What

Sosialisasi mengenai penyakit hipertensi pada kader dan pasien hipertensi

Why

di wilayah kerja Puskesmas Muntok


Belum mengetahui tentang penyakit hipertensi, gejala, penatalaksanaan,

When
Who
Where
How

komplikasi serta pencegahannya.


Mei 2015
Kader dan pasien hipertensi di Puskesmas Muntok
Puskesmas Muntok lantai 2
Dokter internship meminta tolong pemegang program PTM untuk
mengurus ijin mengadakan acara penyuluhan tentang penyakit hipertensi
serta

mengumpulkan peserta dari program senam pagi lansia. Dokter

17

internship melakukan penyuluhan tentang penyakit hipertensi.


1.2.2

Sosialisasi kepala program PTM untuk melakukan supervisi berkala

What
Why

Sosialisasi kepala program PTM untuk melakukan supervisi berkala


Kepala program PTM mempunyai peran penting dalam menilai
keberhasilan kelas hipertensi yang diadakan. Kepala program PTM yang
turun langsung ke lapangan sehingga dapat mengetahui lebih pasti apakah
ada pengaruh antara kelas hipertensi yang diadakan dengan menurunnya

When
Who
Where
How

angka hipertensi pada lansia di tempat yang telah diadakan penyuluhan.


Mei 2015
Kepala program PTM
Puskesmas Muntok
Dokter internship menjelaskan masalah yang ada di lapangan mengenai
banyaknya pasien hipertensi. Supervisi diharapkan dapat dilakukan setiap
adanya kunjungan Posbindu maka para kader dan masyarakat akan merasa
lebih diperhatikan dan lebih bersemangat dalam menjalankan apa yang
telah diajarkan dalam kelas hipertensi.

1.2.3

Supervisi pada Posbindu PTM untuk melakukan kelas hipertensi

What
Why

Supervisi langsung pada Posbindu dalam melaksanakan kelas hipertensi


Dengan melakukan supervisi langsung, maka dapat melihat pemahaman
kader dan penerapannya secara langsung dalam melakukan kelas

When
Who
Where
How

hipertensi
Mei 2015
Kader posbindu dan masyarakat
Seluruh posbindu yang ada diwilayah kerja Puskesmas Muntok
Dokter internship bersama kepala program PTM langsung turun ke
lapangan pada saat dilakukan program pengobatan PTM dan untuk melihat
penerapan kader menyampaikan dan mengajarkan tentang hipertensi.
Setelah dilakukan kelas hipertensi dilakukan pengobatan dan pengecekan
tekanan darah, lipid darah serta glukosa darah.

3.3

Rencana Evaluasi
Perencanaan dimulai dari bulan Februari 2015, dan periode pelaksanaan
dimulai dari bulan Februari 2015 sampai dengan bulan Juni 2015. Evaluasi tidak perlu
menggunakan analisis statistik sebab perencanaan melakukan penyuluhan mengenai

18

hipertensi dan penyelesaian masalahnya berupa pelaksanaan kelas hipertensi secara


berkesinambungan.

BAB IV
PELAKSANAAN
19

Berdasarkan

perencanaan yang sudah dibuat pada bulan Februari 2015, maka

penyuluhan mengenai penyakit hipertensi dan pelaksanaan kelas hipertensi di Puskesmas


Muntok dilakukan pada bulan Februari 2015-Juni 2015. Ada 3 hal yang akan dilaksanakan
dalam mini project ini, yang terdiri dari:
1.

Sosialisasi kelas hipertensi pada pasien dengan tekanan darah tinggi yang sudah

2.

dihubungi dan bersedia hadir di Puskesmas Muntok.


Sosialisasi kelas hipertensi kepada para kader, agar bisa diteruskan kepada pasien di

3.

masing-masing posbindu.
Sosialisasi kepala program PTM (Penyakit Tidak Menular) agar melakukan supervisi

4.

berkala tiap Posbindu PTM agar kelas hipertensi dapat terus berlangsung.
Dokter internsip beserta kepala program PTM melakukan supervisi pada tiap posbindu
PTM dalam melakukan kelas hipertensi.
Dalam pelaksanaannya, didapatkan hasil dan kendala yang akan dibahas dalam setiap

poin berikut ini:


4.1 Sosialisasi kelas hipertensi pada kader dan pasien di Puskesmas Muntok
4.1.1 Hasil Pelaksanaan
Pelaksana dengan pemegang program PTM merencanakan dan mengurus ijin untuk
mengadakan penyuluhan tentang penyakit hipertensi berupa kelas hipertensi kepada
kader dan pasien-pasien dengan tekanan darah tinggi di Puskesmas Muntok, agar para
pasien dapat mengetahui lebih dalam tentang penyakit yang dideritanya, dapat rutin
kontrol dan berobat dan melakukan pencegahan terhadap hipertensi di rumah masingmasing sehingga dapat mencegah komplikasi. Dibantu oleh petugas PTM dalam
mengumpulkan peserta kelas hipertensi yang dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2015
jam 08.00 WIB. Setelahnya dilakukan konsultasi beruapa tanya jawab dan
pengobatan.
Waktu pelaksanaan : 22 Mei 2015
Pelaksana kelas hipertensi: dr. Cendri Diana, dr. Eka Sulastri, dr. Alberdo Rio Limenta
, dr. Jessica Cyntia Dewi dan dr.Rinaldy Teja Setiawan
Hambatan : beberapa peserta yang hadir datang terlambat dari waktu yang ditentukan,
sehingga acara mundur dari yang direncanakan, dan ada beberapa peserta yang tidak
mengikuti acara dari awal
peserta yang datang kebanyakan lansia yang sama sekali masih awam tentang
penyakit hipertensi sehingga apa yang disampaikan oleh pelaksana hanya sedikit
yang bisa ditangkap dan dalam pelaksanaan lebih lama karena harus melakukan
pengulangan agar peserta dapat mengingat.
20

Banyak kader-kader yang datang terlambat dari jadwal yang sudah ditetapkan,
karena tempat beberapa kader jaraknya cukup jauh untuk sampai ke Puskesmas
Muntok.
Kurangnya antusias serta minat dari beberapa kader dalam mengikuti kelas
hipertensi ini.
4.2 Sosialisasi kepala program PTM untuk melakukan supervisi berkala
4.2.1 Hasil Pelaksanaan
Pelaksana sudah meminta kepala program PTM untuk memantau dan melakukan
supervisi secara berkala tentang kelas hipertensi di masing-masing posbindu
wilayah kerja Puskesmas Muntok. Pelaksana juga sudah memberi tahu apa
kepentingannya, dan apa manfaatnya jika pelaksanaan kelas hipertensi dilakukan

secara teratur.
Hambatan: -

4.3 Melakukan Supervisi langsung ke tiap posbindu


4.3.1 Hasil Pelaksanaan
Pelaksana tidak hanya meminta kepala program PTM mengenai kelas hipertensi ,
tetapi juga ikut mengawasi dan turun ke lapangan untuk melihat penerapan kelas

hipertensi.
Waktu pelaksanaan : Setiap kali jadwal posbindu dilakukan, mulai dari Februari
2015 sampai Juni 2015, pelaksana ikut serta dalam setiap kali kegiatan posbindu
dilakukan, melihat dan menilai kader untuk mengajar dalam kelas hipertensi
sekaligus melakukan pengecekan tekanan darah dan pengobatan.

Pelaksana, bersama dengan tim lapangan dan kepala program PTM Puskesmas
Muntok melakukan beberapa kali supervisi kegiatan kelas hipertensi sekaligus
melakukan pengecekan tekanan darah dan pengobatan.
Tanggal

Tempat

Pelaksana

5/1/2015
6/1/2015
7/1/2015

Posbindu Tanjung Ular


Posbindu Terabik
Posbindu Air Belo

Supervisi
Dr. Jessica, Dr Eka
Dr. Jessica, Dr. Eka
Dr. Cendri, Dr

8/1/2015

Posbindu Air Putih

Jessica
Dr. Cendri,

Dr

Posbindu Sinar Senja

Jessica
Dr. Rinaldy,

Dr.

9/1/2015

Alberdo
21

10/1/2015 Posbindu Senang Hati

Dr.

Alberdo,

Dr.

Rinaldy

Hambatan :

Tidak adanya komputer dan proyektor di setiap posbindu, hanya ada


beberapa posbindu yang memiliki komputer yang dapat digunakan untuk
memberikan penyuluhan tentang hipertensi sehingga pada posbindu yang
tidak memiliki proyektor hanya dijelaskan menggunakan brosur, flyer, dan
flipchart.

LAMPIRAN
FOTO-FOTO KEGIATAN LAMPIRAN

22

23

24

25