You are on page 1of 5

Abdul Aziz, Al-Quran Berbicara Euthanasia

Al-Quran Berbicara Euthanasia


Oleh: Abdul Aziz

Masalah Kontemporer
Essai ini hendak membahas mengenai sebagian kecil sisi semu kehidupan
manusia, beserta tawaran sains modern dalam mengatasinya. Tentunya dengan
tetap berlandaskan pada nash atau dalil-dalil al-Quran, sebagai sumber referensi
utama kehidupan umat Muslim. Dewasa ini, al-Quran sebagai kitab yang dijamin
ke-valid-an datanya, telah berhasil mengungkap sekaligus membuktikan berbagai
fakta sejarah dan sains yang ada dikehidupan. Mulai dari teori evolusi manusia,
cerita Firaun, Kapal Nabi Nuh, Negeri Saba dan Sulaiman (oleh peneliti
Indonesia) walaupun akhirnya teori Borobudur masa Nabi Sulaiman ini
terpatahkan--, sistem tata surya (teori big bang, bumi itu bulat, matahari pusat tata
surya), kehidupan di bawah laut (gunung api di bawah laut dan sungai tawar di
bawah laut), bidang kesehatan (bahaya memakan daging babi) dan berbagai data
lainnya dalam al-Quran yang sesuai dengan sains.
Hanya saja menurut saya, sebagian tawaran sains modern yang terbukti hidup
dan diberlakukan dalam kehidupan nyata masih jarang untuk dibahas. Euthanasia
misalnya, masih jarang para ilmuan (Islam) yang membahas mengenai penafsiran
(bagaimana al-Quran berbicara) tentang euthanasia. Kebanyakan para ahli
membaca isu euthanasia dengan menggunakan sudut pandang HAM, bukan Islam
(al-Quran), walaupun sangat sedikit juga yang membahas dalam sudut pandang
fiqih, seperti Yusuf Qardhawi. Padahal umat Muslim sebagai bagian dari pelaku
kehidupan modern ini, sangat membutuhkan pencerahan mengenai interpretasi
(bagaimana al-Quran berbicara) tentang euthanasia. Sebab euthanasia ini tidak
dapat dipisahkan dalam kehidupan (nyata) manusia, apalagi di era modern kini.
Sebuah Taysr al-Maut
Euthanasia dalam KBBI diartikan sebagai suatu tindakan mengakhiri
dengan sengaja kehidupan makhluk (orang atau pun hewan piaraan) yang sakit
berat atau luka parah dengan kematian yang tenang dan mudah atas dasar
perikemanusiaan. Sedangkan dalam definisi lain, euthanasia diartikan sebagai a
1

Abdul Aziz, Al-Quran Berbicara Euthanasia

good death, atau mati dengan tenang. Hal ini dapat terjadi karena permintaan dari
pasien ataupun keluarganya, karena penderitaan yang sangat hebat dan tiada akhir,
ataupun tindakan membiarkan saja oleh dokter kepada pasien yang sedang sakit
tanpa memberikan pertolongan pengobatan seperlunya (Djoko Prakoso dan
Diaman Andhi Nirwanto, 1984: 55).
Pada perkembangannya, euthanasia ada dua macam yakni, euthanasia
positif (taisir al-maut al-faal) dan euthanasia negatif (taisir al-maut al-munfail).
Keduanya sama-sama cara untuk mengakhiri hidup si sakit, namun yang
membedakannya adalah jika yang pertama dilakukan dengan langkah aktif,
artinya menggunakan obat khusus untuk mematikan si pasien. Sedang yang kedua
dengan langkah pasif, yaitu dengan mencabut semua pengobatan pasien dan
membiarkannya (dengan penuh ketawakkalan) hingga meninggal (Yusuf
Qardhawi, 1995: 749).
Taysr al-maut ini biasanya dipraktikkan pada pasien yang memang telah
mengalami koma panjang --jika dilihat dari segi aktivitas maka si sakit itu sudah
seperti orang mati, tidak responsif, tidak dapat mengerti sesuatu dan tidak pula
merasakan apa-apa, karena jaringan otak dan sarafnya sebagai sumber semua itu
telah rusak--, dan jika pengobatan tetap akan diberlanjutkan, maka hanya akan
memakan biaya atau dana yang tidak sedikit, bahkan boleh jadi tak terbatas. Nah,
dalam kondisi seperti ini, medis di abad modern menawarkan jalan keluarnya,
yaitu dengan melakukan euthanasia, atau mengakhiri hidup secara sengaja dan
sadar. Mengakhiri hidup disini maksudnya adalah memudahkan kematian
seseorang yang dilakukan dengan qatl al-rahmat (mematikan dengan kasih
sayang, maupun taysr al-maut) demi meringankan penderita si sakit baik dengan
cara yang positif (pasif) maupun negatif (aktif). Oleh karenanya, essai ini akan
berusaha mengungkap mengenai, bagaimana al-Quran berbicara tentang
euthanasia? Dan seperti apa solusi yang ditawarkan al-Quran terhadap praktik
sains (medis) modern ini bagi kemaslahatan umat (Muslim)?
Dilihat dari kacamata agama secara umum, baik itu Islam, Kristen, Katholik
dan sebagainya maka euthanasia dan suicide merupakan perbuatan yang
terlarang. Sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu adalah berasal
2

Abdul Aziz, Al-Quran Berbicara Euthanasia

dari pencipta-Nya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, merupakan perbuatan yang
bertentangan dengan kehendak Tuhan, oleh karenanya tidak dibenarkan (Djoko
Prakoso dan Diaman Andhi Nirwanto, 1984: 64). Dalam hal ini, Islam secara
mayoritas hukum fiqihjuga melarang adanya euthanasia dan suicide.
Solusi dan Perspektif al-Quran
Bagaimana kondisi yang membolehkan seseorang melakukan euthanasia?
Tentunya untuk menjawab persoalan yang tidak mudah ini, para ulama berbeda
pandangan. Namun, mayoritas ulama dan cendikiawan Muslim berpendapat
bahwa, euthanasia aktif adalah haram hukumnya. Baik itu karena permintaan
sendiri dari pasien, keluarga pasien, maupun anjuran dokter. Apabila hal itu
dilakukan, maka dokter dapat dikenai hukum pidana. Baik karena melanggar
hukum pidana Indonesia (Undang-Undang Pasal 344 KUHP), maupun karena
melanggar ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang larangan membunuh
dengan sengaja, seperti dalam surat an-Nis` ayat 29 dan 92.
Sedangkan hukum euthanasia pasif dalam arti menghentikan pengobatan
dengan mencabut alat-alat bantu pada pasien --setelah mati atau rusaknya organ
otak-- hukumnya jaiz, karena tidak ada satu pun ayat yang melarangnya secara
konkrit. Bahkan dalam satu hadis riwayat jamaah, disebutkan apabila sedang
mengalami kesukaran (sakit parah), untuk berdoa memilih yang terbaik
untuknya. Jika yang terbaik untuknya adalah hidup, maka mintalah dipanjangakan
umurnya, jika memang mati yang terbaik untuknya, maka mintalah mati.
Namun perlu juga dipahami penafsiran lain mengenai euthanasia dari alQuran surat al-Isra ayat 33:

















Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang
benar, dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya
Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi
3

Abdul Aziz, Al-Quran Berbicara Euthanasia

janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh.


Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.
mencangkup membunuh jiwa orang lain atau membunuh jiwa

sendiri, sedangkan firman-Nya , mengecualikan beberapa


jenis pembunuhan (M. Quraish Shihab, 2001: 460). Sebagaimana Ibnu Katsir
(2008: 244), Mushtofa al-Maraghi (1986: 25), Thaba Thabai (1991: 327) dan sebagian
ulama lain dalam mengecualikan beberapa jenis pembunuhan tersebut adalah
dengan mengutip hadis Rasulullah SAW riwayat Bukhari-Muslim, diantaranya;
jiwa (dibayar) dengan jiwa, seorang yang sudah kawin baik laki-laki atau
perempuan yang berbuat zina, serta orang yang meninggalkan agamanya dan
memisahkan diri dari jamaah.
Nashruddin Baidan, salah satu guru besar ilmu al-Quran dan tafsir
Indonesia, ketika memahami kata al-haq diatas, diartikan sebagai sebuah
keadilan, kebenaran dan merupakan lawan dari kedzaliman. Oleh karenanya,
selama dalam melakukan euthanasia tidak ada unsur ( tidak didzalimi
dan tidak mendzalimi), maka diperbolehkan (Nashruddin Baidan, 2014).
Memang tidak mudah dalam melakukan euthanasia. Sebab sebelum
melakukannya pun harus izin keluarga terlebih dahulu, dan tentunya izin kepada
pengadilan, agar tidak melanggar hukum pidana. Euthanasia tujuannya tidak lain
hanya untuk kemaslahatan si mayit, bukan mendzalimi mayit. Jadi, pada saat
tertentu, selama tidak ada unsur-unsur kedzaliman, selama kita ingin membantu
keluarga dan selama kemaslahatan itu untuk mayit maka tidak apa-apa. Sebab
bagi si mayit, sebenarnya pindah dari takdir yang satu ke takdir yang lain
(Nashruddin Baidan, 2014). Namun, yang perlu dicatat adalah bahwa Islam secara
eksplisit tidak menganjurkan menggunakan euthanasia, dan benar-benar
dilakukan bukan hanya sekedar kedok.

Abdul Aziz, Al-Quran Berbicara Euthanasia

IDENTITAS PENULIS
Nama
TTL
Alamat Asli
Kebumen,
Alamat Sekarang
Jawa
Pekerjaan
E-mail
Facebook
No. HP
No. Rekening

: Abdul Aziz
: Kebumen, 15 Desember 1993
: Jogomertan RT 03 RW 01, Kec. Petanahan, Kab.
Prov. Jawa Tengah
: Jl. Wiroto No. 10 Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, Solo,
Tengah
: Mahasiswa IAIN SURAKARTA Jurusan Ilmu Al-Quran
dan Tafsir
: radenaziz@ymail.com
: Abdel Azeez
: 085868447433
: 0182-01-033904-50-4/ ABDUL AZIS/ KC SOLO
KARTASURA

Pass Foto

Riwayat Pendidikan : MAN KEBUMEN 2, lulusan tahun 2012.


Karya Tulis (Buku) : Jejak Para Kyai di Tanah Jawa: Kilas Sejarah
Penyebaran Islam di Kebumen Jawa Tengah (Penerbit Pustaka Ilmu, Yogyakarta,
2014).