You are on page 1of 15

PROSES PENGOLAHAN TEPUNG IKAN DARI LIMBAH PADAT HASIL

OLAHAN IKAN DI PT. STARFOOD INTERNATIONAL, LAMONGAN,


JAWA TIMUR

ARTIKEL ILMIAH PRAKTEK KERJA LAPANG


PROGRAM STUDI S-1 BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh :
MUSTIKA ALIFA
SURABAYA JAWA TIMUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015

PROSES PENGOLAHAN TEPUNG IKAN DARI LIMBAH PADAT HASIL


OLAHAN IKAN DI PT. STARFOOD INTERNATIONAL, LAMONGAN,
JAWA TIMUR

Artikel Ilmiah Praktek Kerja Lapang sebagai Salah Satu Syarat untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Budidaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Oleh :
MUSTIKA ALIFA
NIM. 141211133013

Mengetahui,

Menyetujui,

Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan


Universitas Airlangga,

Dosen Pembimbing,

Prof. Dr. Hj. Sri Subekti, drh., DEA


NIP. 19520517 197803 2 001

Prof. Moch. Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D.


NIP. 19700116 199503 1 002

PROSES PENGOLAHAN TEPUNG IKAN DARI LIMBAH PADAT HASIL


OLAHAN IKAN DI PT. STARFOOD INTERNATIONAL, LAMONGAN,
JAWA TIMUR

Mustika Alifa dan Moch. Amin Alamsjah. 2015. 15 hal


Abstrak
Tepung ikan merupakan komoditas olahan hasil perikanan yang
mengandung protein tinggi. Pada umumnya tepung ikan digunakan sebagai bahan
campuran dalam formulasi pakan ternak. Limbah padat hasil olahan produk
perikanan yang berupa kepala, kulit, tulang dan organ dalam ikan dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tepung ikan. Tujuan dari Praktek
Kerja Lapang ini yaitu untuk mengetahui secara langsung proses pengolahan
tepung ikan dari limbah padat hasil olahan ikan serta hambatan yang dihadapi
dalam proses produksinya. Praktek kerja lapang ini dilaksanakan di Jalan Raya
Deandles Km. 76, Desa Kandang Semangkon, Kecamatan Paciran, Kabupaten
Lamongan, Provinsi Jawa Timur pada tanggal 27 Januari 21 Februari 2015.
Metode kerja yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pengambilan data
yang meliputi data primer dan data sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan
cara partisipasi aktif, observasi, wawancara dan studi pustaka. PT. Starfood
International adalah anak perusahaan PT. Kelola Mina Laut yang merupakan
perusahaan swasta nasional berbentuk perseroan terbatas bergerak dalam bidang
pengolahan hasil perikanan. Perusahaan ini memiliki tiga unit kegiatan
operasional diantaranya unit pengolahan surimi, unit pengolahan ikan beku dan
unit pengolahan tepung ikan. Unit kegiatan operasional tepung ikan telah
memiliki Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) No. 1844/35/SKP/RD/I/2014
dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Perikanan. Proses pengolahan tepung ikan terdiri dari beberapa
tahapan yang meliputi penerimaan bahan baku yang berasal dari limbah padat
hasil olahan surimi dan ikan beku, pemanasan boiler hingga mencapai tekanan
uap 0,7 Mpa, pemasakan dengan uap bertekanan, pengeringan pertama,
pengeringan kedua, pendinginan, penghancuran dan penyaringan oleh mesin
hammermill, pengemasan pada kemasan karung berlaminating serta pemasaran
secara lokal. Pengujian tepung ikan dilakukan setiap kali produksi. Pengujian
tersebut diantaranya uji kadar protein, uji kadar lemak, uji kadar air, uji kadar
abu,uji keasaman dan uji Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N).

Kata kunci: Industri pengolahan perikanan, Limbah padat perikanan, Pengolahan


Limbah, Tepung ikan

PROCESSING OF FISH MEAL PRODUCTION FROM SOLID FISH


WASTE OF PROCESSING FISHERY PRODUCTS IN PT. STARFOOD
INTERNATIONAL, LAMONGAN, EAST JAVA

Mustika Alifa and Moch. Amin Alamsjah. 2015. 15 page.


Abstract
Fish meal is commodity of fishery product which contains high proteins.
Commonly, fish meal is used as mix material of feed formulation. Solid fish waste
from processing of fishery product like heads, skins, bones and internal organs of
fish can be used as raw material of fish meal production. The purpose of this field
practice project (PKL) is to find out directly the production process of fish meal
from solid fish waste of processing fishery product and it is also the obstacle that
occurs on the production. The field practice project was carried out at Jalan Raya
Deandles Km. 76, Kandang Semangkon village, Paciran sub-district, Lamongan
regency, East Java province on 27th January to 21th February, 2015. The work
method was implemented as the descriptive method by taking the data such as the
primary data and secondary data. The data collection was done by active
participation, observation, interview and literature study. PT. Starfood
International is a branch of PT. Kelola Mina Laut which is national private
company that is form of limited company engages in the processing of fishery
products. This company has three operational activity units including surimi
managing unit, frozen fish managing unit and fish meal managing unit. The fish
meal operational unit have gotten a Certificate of Good Manufacturing Practices
No. 1844/35/SKP/RD/I/2014 from Ministry of Marine Affairs and Fisheries
Directorate General of Fisheries Product Processing and Marketing. The fish meal
production process consists of several stages, raw material receipt derives from
solid fish waste production of surimi and frozen fish, the boiler heat reaches until
the steam pressure at 0,7 Mpa, cooking with steam pressure, first drying, second
drying, cooling, grinding and filtering with hammermilled machine, packaging on
laminated sack and local marketing. The fish meal test is done every production.
The test includes test of protein content, test of fat content, test of water content,
test of ash content, test of acid content and test of Total Volatile Base Nitrogen
(TVB-N).

Key words: Industry of Fishery processing, Solid fish waste, Waste Processing,
Fish meal

PENDAHULUAN
Produk olahan ikan merupakan produk yang diperoleh melalui proses
pengolahan yang tentunya menghasilkan sisa hasil pengolahan ikan atau yang
disebut limbah. Umumnya, bahan sisa yang ditimbulkan dalam bentuk cair berupa
air buangan dari proses produksi, sedangkan apabila dalam bentuk padat berupa
kepala ikan, sirip, sisik dan isi perut (Ariani, 2011). Sisa-sisa olahan tersebut
sebenarnya bisa menjadi komuniti yang bisa dimanfaatkan, salah satunya yaitu
menjadi tepung ikan.
Menurut Sukarman dkk. (2011) saat ini produksi perikanan budidaya
semakin meningkat dan jumlah tepung ikan didunia semakin menurun, sehingga
menyebabkan harga tepung ikan menjadi mahal. Indonesia mempunyai potensi
yang besar dalam memproduksi tepung ikan karena mempunyai banyak sumber
ikan murah, produksi ikan pada musim-musim tertentu berlimpah dan sebagian
besar sisa hasil pengolahan ikan belum dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya
(Purnamasari dkk., 2013). Potensi lain yang juga terdapat pada tepung ikan yaitu
pembuatan pakan ikan selama ini lebih banyak mengandalkan tepung ikan sebagai
sumber protein, sedangkan pemenuhan kebutuhan tepung ikan di dalam negeri
masih harus diimpor (Irianto dan Soesilo, 2007). Berdasarkan uraian tersebut,
untuk mengetahui secara langsung proses pengolahan tepung ikan dari limbah
padat hasil olahan ikan, maka dilakukan praktek kerja lapang di salah satu industri
pengolahan hasil perikanan, salah satunya di PT Starfood International,
Lamongan, Jawa Timur.
Tujuan pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah mempelajari
secara langsung tentang proses pengolahan tepung, mengetahui analisis pengujian
mutu dan mengetahui permasalahan yang timbul dalam proses pengolahan tepung
ikan dari limbah padat hasil olahan ikan di PT. Starfood International, Lamongan,
Jawa Timur. Manfaat dari hasil Praktek Kerja Lapang (PKL) ini yaitu diharapkan
mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmu yang telah didapat secara langsung
di lapangan serta menambah pengetahuan dan wawasan tentang proses
pengolahan limbah padat di PT. Starfood International khususnya yang diolah
menjadi produk tepung ikan.

MATERI DAN METODE


Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini dilaksanakan pada tanggal 27
Januari - 21 Februari 2015 di PT. Starfood International, Jalan Deandles Km 76,
Desa Kandang Semangkon, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi
Jawa Timur. Metode kerja yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan
pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Data primer yang
dikumpulkan meliputi kegiatan persiapan bahan baku, persiapan alat produksi,
proses pengolahan tepung ikan, pemasaran, pengemasan, penyimpanan, pengujian
mutu produk akhir tepung ikan, cara kerja mesin pengolah tepung ikan, hasil
tepung ikan pada setiap proses, dan hambatan yang dialami oleh PT. Starfood
International. Sedangkan data sekunder yang mendukung kegiatan ini meliputi
Sertifikat Kelayakan Proses (SKP) dan persyaratan mutu tepung ikan yang
mengacu pada Badan Standarisasi Nasional (BSN).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Proses Pengolahan Tepung Ikan
Proses pengolahan tepung ikan di PT. Starfood International berasal dari
limbah padat hasil kegiatan operasional perusahaan yaitu surimi dan ikan beku.
Bahan baku terdiri dari dua jenis ikan diantaranya yaitu ikan Kurisi (Nemipterus
nemaptophorus) dan ikan Swanggi (Priacanthus tayanus) yang berasal tempat
Pelelangan Ikan (TPI) Brondong dan TPI Rembang. Limbah padat ikan tersebut
diantaranya berupa kepala, sisik, kulit, sirip, organ dalam dan tulang untuk unit
kegiatan surimi, sedangkan yang berasal dari proses pengolahan ikan beku hanya
bagian kepala ikan. Diagram alir proses pengolahan tepung ikan di PT. Starfood
International dapat dilihat pada Gambar 1.
Waktu yang dibutuhkan dalam sekali proses produksi yaitu 2 jam dengan
bahan baku limbah padat ikan sebanyak 6 ton. Proses pengolahan tepung ikan di
PT. Starfood International telah memiliki Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP)
yang diberikan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jendral
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan No. 1844/35/SKP/RD/1/2014.

Pemansan Boiler
Penerimaan Bahan Baku
Pemasakan
Pengeringan Pertama
Pengeringan Kedua

Pendinginan
Penyaringan
Pengemasan
Pemasaran
Gambar 1. Diagram alir proses pengolahan tepung ikan di PT. Starfood
International
Pemanasan Boiler
Boiler merupakan mesin yang berfungsi mengubah air menjadi uap panas.
Proses perubahan air menjadi uap terjadi dengan memanaskan air dalam boiler
melalui proses pembakaran bahan bakar. Bahan bakar utama yang digunakan
yaitu batu bara dan bahan bakar pendukung lainnya yaitu batok kelapa yang hanya
digunakan sebagai pemantik awal untuk membakar batu bara. Perbandingan batu
bara yang dibutuhkan untuk pemanasan boiler dengan bahan baku limbah padat
pada proses produksi tepung ikan yaitu 1 : 7, sedangkan perbandingan batu bara
dengan hasil akhir tepung ikan yaitu 1 : 2.
Air yang diubah menjadi uap di mesin boiler adalah air Perusahaan Daerah
Air Minum (PDAM) yang melalui tiga kali proses penyaringan terlebih dahulu
sehingga memiliki kadar kesadahan (water hardness) <150 mg/l. Menurut Suharto
(2011) kesadahan air dapat membentuk endapan pada dinding alat sehingga akan
menghambat perpindahan panas, sedangkan endapan pada dinding boiler akan
menyebabkan kelebihan pemanasan (overheating) yang sangat berbahaya bagi
keselamatan kerja karyawan.
Kadar kesadahan air juga dapat menyebabkan pengapuran dan
pengkaratan pada mesin boiler sehingga pipa-pipa uap cepat keropos dan perlu
diganti sebelum waktunya. Jika hal tersebut terjadi secara terus menerus, maka

perusahaan akan mengalami kerugian. Menghindari hal tersebut, perusahaan


menambahkan cairan kimia dengan merk inchem ASL pada air PDAM untuk
menghindari korosi pada boiler, sedangkan menurut Suharto (2011) cara
mencegah proses korosi yaitu dengan menambahkan campuran Natriumsilikat dan
larutan Natriumhidroksida pada air yang akan digunakan.
Uap air hasil pemanasan mesin boiler dapat dialirkan melalui pipa menuju
mesin-mesin pengolahan tepung ikan apabila telah mencapai tekanan 0,7 Mpa.
Tekanan uap yang dialirkan diatur menggunakan kran dan dipantau dengan alat
pengukur tekanan yang disebut manometer.
Penerimaan Bahan Baku
Limbah padat hasil olahan ikan yang berupa kepala, sisik, sirip, ekor,
organ dalam dan tulang diangkut menggunakan truk yang memiliki kapasitas 6 - 7
ton menuju ke tempat produksi tepung ikan. Bahan baku yang telah diangkut
kemudian diletakkan pada tong besar yang berada di bagian depan ruang produksi
tepung ikan. Bagian tengah bawah tong terdapat conveyor ulir yang berfungsi
mengangkut bahan baku secara otomatis menuju ke mesin selanjutnya.
Pemasakan
Proses pemasakan bahan baku limbah padat ikan berlangsung dalam mesin
yang disebut cooker dengan desain berbentuk silinder. Bahan baku secara
otomatis masuk dan melewati cooker dengan menggunakan conveyor ulir. Proses
pemasakan bahan baku berlangsung selama 30 menit dengan tekanan uap sebesar
0,7 Mpa dan dengan suhu 100oC. Cara yang dilakukan tersebut sesuai dengan
Nygaard (2010) yaitu bahan baku tepung ikan dipanaskan pada suhu 100oC dan
pada tekanan atmosfer. Uap panas yang digunakan pada mesin cooker berasal dari
hasil pemanasan air PDAM di boiler yang mengalir melalui plat pada dindingdinding bagian dan juga pada pipa tengah conveyor ulir dalam cooker.
Tujuan dari proses pemasakan yaitu untuk membunuh mikroorganisme
yang terdapat pada bahan baku ikan dan membuat bahan baku menjadi lunak
sehingga dapat memudahkan proses selanjutnya. Nygaard (2010) menyatakan
bahwa proses pemasakan bahan baku tepung ikan di dalam cooker uap panas yaitu

dengan pemanasan pada suhu berkisar 100oC dengan durasi waktu pada umumnya
mendekati 30 menit. Mikroorganisme akan mati dengan pemanasan yang lama
pada temperatur diatas 80oC (Berkel et al., 2004). Ketika bahan baku ikan
dipanaskan, protein yang terkandung dalam bahan terkoagulasi dan lapisan lemak
terpecah, sehingga dapat membebaskan minyak dan air (Ghaly et al., 2013).
Protein yang terkoagulasi menyebabkan bahan baku ikan menjadi lunak, sehingga
akan lebih mudah hancur apabila melewati conveyor ulir (Nygaard, 2010),
sehingga pada proses pemasakan ini hasil yang keluar dari mesin cooker yaitu
berupa ikan matang yang masih basah dengan tekstur lunak dan mudah hancur.
Pengeringan Pertama
Proses pengeringan juga menggunakan uap panas yang berasal dari boiler.
Mesin pengering berbentuk tabung horizontal, di dalamnya terdapat pipa besi
spiral dan pipa panjang pada bagian tengah mesin yang berfungsi sebagai tempat
mengalirnya uap panas. Proses pengeringan pertama membutuhkan waktu
berkisar 15 menit untuk mengurangi kandungan air yang terdapat pada bahan
baku ikan. Hasil yang keluar berupa bahan baku ikan setengah kering.
Pada bagian luar mesin pengering pertama terdapat blower yang berfungsi
untuk menarik uap melewati pipa menuju tangki pembuangan uap. Sisa uap yang
keluar bukan berasal dari uap pemanasan boiler untuk proses pengeringan,
melainkan sisa uap yang keluar berasal dari bahan baku ikan yang masih dalam
kondisi panas akibat proses pemasakan. Uap tersebut merupakan limbah proses
produksi tepung ikan yang menimbulkan bau.
Pengeringan Kedua
Mesin pengering kedua memiliki sistem kerja yang sama dengan mesin
pengering pertama. Perbedaannya terletak pada waktu yang dibutuhkan lebih
singkat yaitu 10 menit dan hasil yang keluar setelah melalui proses pengeringan
sudah dalam bentuk tepung ikan kasar kering. Proses pengeringan pertama lebih
lama dikarenakan bahan baku ikan yang basah, sedangkan pada pengeringan
kedua bahan baku yang diproses dalam mesin berbentuk setengah kering. Menurut

Widyasari dkk. (2013) proses pengeringan yang berlebihan dapat menurunkan


kandungan nutrisinya sehingga akan mempengaruhi kualitas tepung ikan.
Proses pengeringan kedua bertujuan untuk menurunkan kadar air yang
terkandung dalam bahan hingga tepung ikan menjadi kering dan berkadar air
rendah, hal tersebut juga sama seperti yang dinyatakan oleh Ariyawansa (2000)
bahwa tujuan utama proses pengeringan yaitu mengurangi kadar air agar
mikroorganisme tidak dapat tumbuh didalam bahan, namun apabila proses
pengeringan yang terjadi kurang sempurna maka jamur dan bakteri dapat tumbuh
dan hidup didalamnya sehingga dapat menyebabkan tepung ikan mudah busuk
dan rusak saat penyimpanan.
Pendinginan
Mesin pendingin berbentuk tabung horizontal dan disebut dengan cooler
memiliki kapasitas tiga ton. Proses pendinginan yang dilakukan oleh cooler
bekerja dengan cara alat tersebut berputar sehingga tepung ikan yang terdapat
dalam mesin juga akan ikut berputar. Berputarnya tepung ikan dalam mesin
cooler yaitu seperti mengguling-gulingkan tepung ikan hingga tepung ikan
menjadi dingin. Lama proses pendinginan yaitu 10 menit.
Pada bagian akhir mesin pendingin tempat keluarnya tepung ikan terdapat
magnet di dindingnya. Fungsi dari magnet tersebut untuk menempelkan serpihan
pisau yang berasal dari proses pemotongan kepala pada proses produksi surimi
dan headless frozen fish yang secara tidak sengaja ikut tercampur dengan bahan
baku limbah padat ikan. Apabila besi-besi tersebut dibiarkan tercampur dengan
tepung ikan maka akan mengganggu kerja mesin selanjutnya.
Penghancuran dan Penyaringan
Proses penghancuran dan penyaringan tepung ikan terjadi didalam satu
alat yang disebut hammermilled. Sebelum tepung disaring, tepung ikan
dihancurkan hingga menjadi partikel tepung yang lebih halus didalam mesin.
Komponen dalam hammermilled yaitu terdapat 24 pisau besi yang tajam pada
kedua bagian ujungnya dan pisau tersebut berputar pada poros horizontal dengan
kecepatan tertentu. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) (2002)

proses penggilingan tepung ikan akan hancur akibat dari perputaran pisau besi
yang sangat cepat didalam mesin. Tepung ikan yang telah hancur selanjutnya
disaring dengan saringan besi mesh size 4 mm dan 6 mm. Penyaringan bertujuan
untuk mendapatkan tepung ikan dengan ukuran partikel yang lebih halus.
Pengemasan
Tahapan terakhir

yaitu pengemasan tepung ikan dalam karung

berlaminating dengan kapasitas 50 kg/karung. Karung laminating (laminated


sack) yang digunakan merupakan wadah pengemas berlapis plastik jenis
polipropilen yang memiliki kelebihan kuat dan kedap udara, sehingga dapat
menjaga kualitas tepung ikan dari proses oksidasi. Karung laminating yang berisi
tepung ikan kemudian diberi label tanggal produksi pada bagian luar dan ditutup
dengan cara dijahit pada bagian atas karung. Produk tepung ikan yang sudah
dikemas dengan baik, siap untuk didistribusikan atau disimpan pada ruang
penyimpanan. Kapasitas ruang penyimpanan tepung ikan di PT. Starfood
International yaitu sebesar 80 ton. Sistem distribusinya menerapkan sistem first in
first out (FIFO), artinya tepung ikan yang diproduksi atau masuk dalam gudang
penyimpanan lebih dahulu akan dikeluarkan atau dijual lebih dahulu pula, hal ini
bertujuan untuk menghindari adanya kadaluwarsa produk akibat penyimpanan
yang terlalu lama. Kondisi ruang penyimpanan tepung ikan di PT. Starfood
International yaitu kering dan tertutup namun masih terdapat sirkulasi udara
sesuai dengan pernyataan Sahwan (2001) yaitu proses penyimpanan tepung ikan
yang baik dilakukan ditempat yang kering dan juga tidak terlalu panas. Menurut
Nygaard (2010) kestabilan mikrobiologi dari tepung ikan hanya bergantung pada
kadar air rendah, sehingga selama penanganan dan penyimpanan tepung ikan
harus diperhatikan dengan baik agar tepung ikan dapat terjaga dari kelembaban
atau kondensasi uap air.
Pemasaran
Tepung ikan PT. Starfood International memiliki tekstur yang tidak mudah
menggumpal serta memiliki kandungan protein yang tinggi. Tepung ikan ini
dipasarkan diperusahaan pakan lokal, diantaranya PT. Matahari Sakti, PT.

Bumindo dan PT. Hasan. Pemasaran tepung ikan dilakukan dengan sistem
purchase order (PO). Awalnya, perusahaan memberikan penawaran produk.
Pembeli yang berminat terhadap produk yang telah ditawarkan akan mengirimkan
surat permintaan penawaran harga. Perusahaan menyetujui penawaran harga
tersebut dengan mengirimkan penawaran penjualan kepada pembeli. Selanjutnya,
pembeli akan mengajukan pemesanan yang disebut dengan purchase order yang
didalamnya terdapat produk yang dipesan, jumlah, harga, waktu pengiriman
produk, cara pembayaran, tujuan pengiriman produk dan persyaratan dalam
penerimaan produk saat dikirim oleh perusahaan. Apabila perusahaan
menyetujuinya, maka perusahaan akan mengirimkan lembar invoice sebagai
tanggapan bahwa perusahaan dapat memenuhi pemesanan sesuai PO dari pembeli.
Proses pemasaran mengunakan truk yang memiliki kapastitas 30 35 ton
dalam sekali pengangkutan. Harga penjualan tepung ikan produksi PT. Starfood
International bergantung pada kadar protein yang terkandung. Tepung ikan
dengan kadar protein 45%-50% dijual dengan harga Rp10.000,00 per kg dan
tepung ikan dengan kadar protein >50% dijual dengan harga Rp 13.500,00 per kg.
Rendemen Tepung Ikan
Rendemen merupakan perbandingan antara produk akhir tepung ikan yang
dihasilkan dengan bahan baku limbah padat ikan yang berasal dari olahan ikan
surimi dan ikan beku. Umumnya, tepung ikan yang diproduksi oleh PT. Starfood
International memiliki rendemen sebesar 30%.
Proses pengolahan tepung ikan di PT. Starfood International menghasilkan
limbah padat, cair dan gas. Limbah padat dihasilkan dari sisa pembakaran batu
bara dalam boiler yang merupakan limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3),
sehingga perusahaan harus membayar kepada perusahaan lain untuk pengolahan
lebih lanjut limbah B3 tersebut. Limbah cair yang dihasilkan berasal dari limbah
padat ikan basah yang memiliki kadar air tinggi. Proses pemasakan, pengeringan
pertama dan kedua serta pendinginan dapat mengurangi kadar air yang terdapat
dalam bahan baku tersebut. Selain itu, limbah gas proses pengolahan tepung ikan
berasal dari dua sumber yaitu sisa pembakaran batu bara dan sisa proses produksi

tepung ikan. Limbag gas yang berupa uap hasil proses produksi memiliki bau
yang tidak sedap, oleh sebab itu dilakukan treatment terlebih dahulu sebelum uap
tersebut dibuang ke udara. Treatment limbah gas yang dilakukan PT. Starfood
International menurut Zulkifli (2014) merupakan cara penanganan limbah gas
filter basah, yaitu membersihkan gas yang kotor dengan cara menyalurkan limbah
gas ke dalam filter kemudian menyemprotkan air kedalamnya, sehingga saat
limbah gas kontak dengan air, materi partikulat padat dan senyawa lain yang larut
air akan ikut terbawa air turun kebagian bawah.
Analisis Pengujian Tepung Ikan
Mutu tepung ikan PT. Starfood International ditentukan dengan pengujian
analisis proksimat yang meliputi uji kadar protein, kadar lemak, kadar air, kadar
abu, kadar keasaman dan Total Volatile Base Nitrogen (TVBN) yang dilakukan di
laboratorium kimia yang berada di perusahaan. Standar persyaratan mutu produk
tepung ikan PT. Starfood International mengacu pada standar pengujian tepung
ikan yang ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional (1996). Hasil pengujian
mutu tepung ikan oleh PT. Starfood International dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil pengujian mutu tepung ikan PT. Starfood International
Komposisi
Kadar protein (%) min
Kadar lemak (%) mak
Kadar air (%)
Kadar abu (%)
Keasaman (mg/g)
TVBN (mg/100g)

Kadar
45
14
< 11
25 30
12
40 60

Sumber : PT. Starfood International (2015)

Berdasarkan hasil analisis proksimat dari tepung ikan di PT. Starfood


International menunjukkan hasil kualitas tepung termasuk dalam spesifikasi
persyaratan mutu oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN), walaupun berada pada
spesifikasi Mutu I dan Mutu III. Misalnya untuk kadar protein (minimum 45%),
kadar abu (25 - 30%) dan kadar lemak tepung ikan yang cukup tinggi (14%)
dikelompokkan dalam spesifikasi Mutu III, namun untuk kadar airnya (< 11%)
termasuk dalam spesifikasi Mutu I.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Simpulan yang dapat diambil dari PKL di PT. Starfood International diantaranya :
1. Proses pengolahan tepung ikan dari limbah padat hasil olahan ikan di PT.
Starfood International merupakan pengolahan hasil perikanan modern.
Tahapan pengolahan tepung ikan diantaranya pemanasan boiler, penerimaan
bahan

baku,

pemasakan,

pengeringan

pertama,

pengeringan

kedua,

pendinginan, penghancuran dan penyaringan, pengemasan dan pemasaran.


Proses pengolahan tersebut berlangsung selama dua jam untuk sekali proses
produksi dengan bahan baku sebanyak 6 ton.
2. Pengujian hasil akhir tepung ikan di laboratorium milik PT. Starfood
International memiliki kadar protein yang tinggi yaitu minimum 45%, kadar
lemak maksimal 14%, kadar air <11%, kadar abu 25% 30%, kadar
keasaman 1 2 mg/g, dan kadar Total Volatile Basa Nitrogen (TVBN) 40
60 mg/100g.
3. Permasalahan yang timbul dalam proses pengolahan tepung ikan di PT.
Starfood International diantaranya yaitu sering terjadi gangguan pada mesin
hammermilled serta limbah gas yang dihasilkan dari proses produksi tepung
ikan masih belum teratasi dengan baik.
Saran
Adapun saran yang disampaikan kepada PT. Starfood International yaitu
adanya proses pengepresan bahan baku limbah padat olahan ikan setelah melalui
proses pemasakan yang bertujuan untuk mengeluarkan kandungan lemak yang
terdapat dalam bahan sehingga produk akhir yang dihasilkan memiliki kandungan
lemak yang dapat memenuhi persyaratan tepung ikan Mutu I menurut BSN.
Selain itu juga, disarankan untuk menambahkan antioksidan Ethoxyquin pada
produk akhir agar dapat memperpanjang masa simpan tepung ikan.
DAFTAR PUSTAKA
Ariani, N. M. 2011. Kajian Penerapan Produksi Bersih Pada Industri Pengolahan
Ikan. Volume XLVI, No. 1. Hal. 70-76.

Ariyawansa, S. 2000. The Evaluation of Functional Properties of Fish Meal.


Fishery of Technology Programme of The United Ruhuna University.
Srilanka.
Badan Standarisasi Nasional. 1996. Standar Nasional Indonesia (SNI) Tepung
Ikan. Badan Standarisasi Nasional (BSN). Jakarta. SNI 01-27151996/Rev.92.
Berkel, B.M., B.V. Boogaard and C. Heijnen. 2004. Preservation of Fish and
Meat. Agromisa Foundation, Wageningen, The Netherlands, ISBN: 9072746-01-9 pp: 78-80.
Food Agriculture Organization Of The United Nation (FAO). 2002. The
Production Of Fish Meal and Oil. FAO Fisheries Technical Paper. Rome.
Ghaly, A. E., V. Ramakrishnan, M.S. Brooks, S.M. Budge and D. Dave. 2013.
Fish Processing Wastes as a Potential Source of Proteins Amino Acid and
Oils: A Critical Review. J Microb Biochem Technol, Vol. 5 (4).
Irianto, H. E. dan I. Soesilo. 2007. Dukungan Teknologi Penyediaan Produk
Perikanan. Makalah Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia di Auditorium
II Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu. Bogor. Hal. 1, 14-15.
Nygaard, H. 2010. Standard Norwegian Fish Meal- and Fish Oil Process Heat
Treatment Requirements. Nofirma. Norway. Pp. 12-15.
Purnmasari, E., B. I. Gunawan, dan A. N. Asikin. 2006. Potensi dan Pemanfaatan
Bahan Baku Produk Tepung Ikan. EPP. Vol 3 No. 2: 1-7.
Sahwan, M. F. 2001. Pakan Ikan dan Udang, Formulasi, Pembuatan, Analisis
Ekonomi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suharto. 2011. Limbah Kimia dalam Pencemaran Udara dan Air. CV. Andi
Offset. Yogyakarta. Hal. 271-408.
Sukarman., S. Subandiyah, A. Permana dan I. W. Subamia. 2011. Nilai Nutrisi
Limbah Fillet Ikan Nila Sebagai Bahan Baku Pakan Ikan. Prosiding
Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. Hal. 837-843.
Widyasari, R. H. E., C. M. Kusharto, B. Wiryawan, E. S. Wiyono dan S. H.
Suseno. 2013. Pemanfaatan Limbah Ikan Sidat Indonesia (Anguilla
bicolor) Sebagai Tepung Pada Industri Pengolahan Ikan di Palabuhan
Ratu, Kabupaten Sukabumi. Jurnal Gizi dan Pangan, 8 (3): 215-220.
Zulkifli, A. 2014. Pengolahan Limbah Berkelanjutan. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Hal. 15-37.