You are on page 1of 4

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM)

F5. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR


DAN TIDAK MENULAR
GOUT ARTRITIS

Oleh :
dr. Muhammad Agita Hutomo, MMR

Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Tegalrejo


Yogyakarta - DIY
Periode Juli November 2014

LATAR
BELAKANG

WHO mendata penderita gangguan sendi di Indonesia

mencapai 81% dari populasi, hanya 24% yang pergi ke dokter,


sedangkan 71% nya cenderung langsung mengkonsumsi obat-obatan
pereda nyeri yang dijual bebas. Angka ini menempatkan Indonesia
sebagai negara yang paling tinggi menderita gangguan sendi jika
dibandingkan dengan negara di Asia lainnya seperti Hongkong,
Malaysia, Singapura dan Taiwan. Penyakit sendi secara nasional
prevalensinya berdasarkan wawancara sebesar 30,3% dan prevalensi
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14% (Riskesdas
2007-2008) Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit sendi
adalah umur, jenis kelamin, genetik, obesitas dan penyakit
metabolik, cedera sendi, pekerjaan dan olah raga. (Rabea, 2009)
Penyakit gout merupakan salah satu penyakit degeneratif.
Salah satu tanda dari penyakit gout adalah adanya kenaikan kadar
asam

urat

dalam

darah(hiperurisemia).

Faktor-faktor

yang

berhubungan dengan kejadian hiperurisemia adalah jenis kelamin,


IMT, asupan karbohidrat dan asupan purin. Asupan purin merupakan
faktor risiko paling kuat yang berhubungan dengan kejadian
hiperurisemia. (Setyoningsih, 2009)
Hiperurisemia yang merupakan kondisi predisposisi untuk
gout, sangat berhubungan erat dengan sindrom metabolik seperti :
hipertensi, intoleransi glukosa, dislipidemia, obesitas truncal, dan
peningkatan resiko penyakit kardiovaskular. Didapatkan bukti
bahwa hiperurisemia sendiri mungkin merupakan faktor risiko
independen untuk penyakit kardiovaskular. Insiden dan prevalensi
gout di seluruh dunia tampaknya meningkat karena berbagai alasan,
termasuk yang iatrogenik. Gout memengaruhi minimal 1% dari
populasi dinegara-negara Barat dan merupakan penyakit yang paling
umum bersama inflamasi pada pria lebih tua dari 40 tahun (Andrew,
2005). Satu survei epidemiologik yang dilakukan di Bandungan,
Jawa Tengah atas kerjasama WHO COPCORD terhadap 4.683
sampel berusia antara 1545 tahun didapatkan bahwa prevalensi

hiperurisemia sebesar 24,3 % pada laki-laki dan 11,7% pada wanita.


PERMASALAHAN

(Purwaningsih, 2010)
Semakin bertambahnya usia dan karena gaya hidup seperti
sekarang ini, prevalensi masalah persendian khusus Gout Arthritus
semakin meningkat, Oleh karena itu, tindakan pencegahan seperti
edukasi kepada masyarakat tentang masalah ini sangatlah penting
baik kepada mereka yang sudah mengalami masalah persendian
maupun mereka yang rentan terhadap penyakit ini.
Intervensi yang dilakukan dalam upaya pencegahan dan

PERENCANAAN
DAN PEMILIHAN
penanganan Gout Arthritis dengan memberikan edukasi kepada
INTERVENSI
pasien dengan GA yang diperiksa di poli umum Puskesmas
Tegalrejo yang sudah diketahui kadar asam uratnya maupun yang
belum diketahui.
PELAKSANAAN

Kegiatan pemeriksaan di Puskesmas Tegalrejo berlangsung


mulai hari Senin sampai Sabtu, kegiatan pemberian edukasi
dilaksanakan pada setiap hari kerja di poli umum Puskesmas
Tegalrejo. Poli umum Puskesmas Tegalrejo memulai kegiatan pada
pukul 08.00 12.00 WIB.
Pada awal kegiatan pasien mendaftar terlebih dahulu ke
pendaftaran kemudian akan dipanggil sesuai antrian. Setelah itu
pasien akan diperiksa tekanan darahnya, setelah itu akan
dianamnesis untuk menemukan permasalahan khususnya tentang
persendian dan yang dicurigai GA akan diperiksan dilaboratorium
untuk mengetahui kadar asam uratnya. Ketika hasil sudah keluar
yang memiliki kadar asam urat >7 mg/dL untuk pria atau >6 mg/dL
untuk wanita akan diedukasi tentang pola makan yang rendah purin
serta aktivitas olahraga yang dilakukan dan prinsip pengobatan yang

MONITORING
DAN EVALUASI

akan dijalani.
Secara keseluruhan kegiatan edukasi terhadap pasien Gout
Arthritis yang periksa di poli umum Puskesmas Tegalrejo berjalan
baik terbukti dengan banyaknya pasien yang kontrol kembali dengan

kadar asam urat yang cenderung kembali berada di rentan normal


serta tetap menjalankan edukasi-edukasi yang sudah diberikan.

Komentar/Umpan Balik :

Yogyakarta, 28 Oktober 2014


Dokter Internsip,

Dokter Pendamping,

dr. Muh Agita H, MMR

dr. Widyastuti