You are on page 1of 18

MAKALAH

SISTEM POLITIK ISLAM


Disusun Sebagai Syarat Untuk Melaksanakan Mata Kuliah Pendidikan Agama
Islam
Oleh :
Kelompok 9 (PAI 11)
Albania Mahartika

150903102011

Sandi Maulana U.

140210204047

Anna Rishofa

150210103037

Novianti Fadillah

150210103056

Agista Rizki R.

150810101174

Hermin Retnowati

150710101463

Nur Cahyani Nisa

150903102016

Sigit Satria Putra

121710101111

Firdyan Septhanta

121710101113

UNIVERSITAS JEMBER
2015
A.

KATA PENGATAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah S.W.T yang telah
melimpahkan kepada kami kesehatan badan, iman dan pikiran tercurah kepada
kita melalui rahmatNya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul SISTEM POLITIK ISLAM ini dengan tepat waktu.
Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan
agama islam. Selain itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Zainul
Fannani selaku dosen pembimbing yang membantu penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat dijadikan refrensi bagi umum untuk bahan dalam
mengerjakan tugas mengenai sistem politik islam.
Kami sadar dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Maka dari itu, kritik serta saran kami butuhkan untuk menyempurnakan makalah
ini.

Jember, 30 Agustus 2015


Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGATAR.............................................................2
DAFTAR ISI..................................................................... 3
BAB 1.PENDAHULUAN....................................................4
1.1. Latar belakang....................................................4
1.2. Rumusan masalah................................................5
1.3. Tujuan..................................................................5
BAB 2.PEMBAHASAN......................................................6
2.1. Pengertian politik islam........................................6
2.2. Nilai Nilai Dasar Sistem Politik Dalam Al Quran
.................................................................................10
2.3. Ruang Lingkup Pembahasan Siasyah
Dusturiyah.....13
BAB 3.PENUTUP..
.......16
3.1.Kesimpulan.........................................................16
DAFTARPUSTAKA.
.17

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Umat muslim, dalam hidupnya berpegang teguh pada Al Quran dan Al
Hadist sebagai pedoman hidupnya.Dari kedua pedoman tersebut, umat muslim
tidak perlu khawatir dalam menjalani persoalan hidup. Segala apa yang menjadi
persoalan, solusi, peringatan, kebaikan dan ancaman termuat di dalam pedoman
tersebut. Bahkan dalam Al Quran dan Al Hadist permasalahan politik juga
tertuang didalamnya. Diantaranya membahas: prinsip politik islam, prinsip politik
luar negeri islam. Baik politik luar negeri dalam keadaan damai maupun dalam
keadaan perang.
Prinsip-prinsip politik yang tertuang dalam Al Quran dan Al Hadist
merupakan dasar politik islam yang harus diaplikasikan kedalam sistem yang ada.
Diantaranya prinsip-prinsip politik islam tersebut:
1. Keharusam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat (Al Mumin:52).
2. Keharusan menyelesaikan masalah ijtihadnya dengan damai (Al Syura:38 dan
Ali Imran:159).
3. Ketetapan menunaikan amanat dan melaksanakan hukum secara adil (Al
Nisa:58).
4. Kewajiban menaati Allah dan Rosulullah serta ulil amr (Al Nisa:59).
5. Kewajiban mendamaikan konflik dalam masyarakat islam (Al Hujarat:9).
6. Kewajiban mempertahankan kedaulatan negara dan larangan
agresi(AlBaqarah:190).
7. Kewajiban mementingkan perdamain dari pada permusuhan (Al Anfal:61).
8. Keharusan meningkatkan kewaspadaan dalam pertahanan dan keamanan (Al
Anfal:60).
9. Keharusan menepati janji (An Nahl:91).
10. Keharusan mengutamakan perdamaian diantara bangsa-bangsa (Al
Hujarat:13).
11. Keharusan peredaran harta keseluruh masyarakat (Al Hasyr:7).
12. Keharusan mengikuti pelaksanaan hukum.
Menurut Abdul Halim Mahmud (1998), bahwa islam juga memiliki politik
luar negeri. Tujuan dari politik luar negeri tersebut adalah penyebaran dakwah

kepada manusia di penjuru dunia, mengamankan batas territorial umat islam dari
fitnah agama, dan system jihad fisabilillah untuk menegakkan kalimat Allah SWT.
Jadi politik bermakna instansi dari negara untuk keamanan kedaulatan negara dan
ekonomi.

1.1.

Rumusan masalah
-

1.2.

Apa pengertian sistem politik islam ?


Bagaimana nilai-nilai dasar sistem politik dalam al-quran ?
Bagaimana ruang lingkup pembahasan siasyah dusturiyah ?
Tujuan

Untuk menjelaskan pengertian politik islam.


Untuk mengetahui nilai-nilai dasar sistem politik dalam al-quran.
Untuk menjelaskan ruang lingkup pwembahasan siasyiah dusturiyah.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1. Pengertian politik islam


Perkataan politik berasal dari bahasa Latin politicus dan bahasa Yunani
politicos, artinya sesuatu yang berhubungan dengan warga negara atau warga
kota. Kedua kata itu berasal dari kata polis yang maknanya kota. Dalam Agama
Islam, Politik Islam yang dalam bahasa agamanya disebut Fiqh Siyasah. Fiqh
Siyasah dalam kontek terjemahan diartikan sebagai materi yang membahas
mengenai ketatanegaraan islam (Politik Islam). Secara bahasa Fiqh adalah
mengetahui hukum islam yang bersifat amali melalui dalil-dalil terperinci.
Sedangkan siyasah adalah pemerintahan pengambilan keputusan, pembuatan
kebijaksanaan, pengurusan dan pengawasan. Sedangkan Ibn Al-Qayyim
mengartikan Fiqh Siyasah adalah segala perbuatan yang membawa manusia lebih
dekat kepada kemaslahatan dan lebih jauh dari kemudharatan, serta sekalipun
Rosulullah tidak menetapkannya dan bahkan Allah menetapkannya pula.
Politik merupakan pemikiran yang mengurus kepentingan masyarakat,
pemikiran tersebut berupa pedoman, keyakinan hukum atau aktivitas dan
informasi. Beberapa prinsip politik islam berisi: mewujudkan persatuan dan
kesatuan bermusyawarah, menjalankan amanah dan menetapkan hukum secara
adil atau dapat dikatakan bertanggung jawab, mentaati Allah, Rasulullah dan Ulill
Amr (pemegang kekuasaan) dan menepati janji.
Dari pengertian di atas dapat di simpulkan,Fiqh siyasah adalah aspek
ajaran islam yang mengatur sistem kekuasaan dan pemerintahan atau hukum yang
mengatur hubungan penguasa dengan rakyatnya . Politik artinya segala urusan
dan tindakan, kebijakan, dan siasat mengenai pemerintahan suatu negara atau
kebijakan suatu negara terhadap negara-negara lain. Politik dapat juga dikatakan
kebijakan atau cara bertindak suatu negara dalam menghadapi / menangani suatu
masalah.

Politik dan agama adalah sesuatu yang terpisah. Dan, sesungguhnya


pembentukan pemerintahan dan kenegaraan adalah atas dasar manfaat-manfaat

amaliah, bukan atas dasar sesuatu yang lain. Jadi, pembentukan negara modern
didasarkan pada kepentingan-kepentingan praktis, bukan atas dasar agama.
Pemerintahan yang berlaku pada masa Rasulullah dan khalifah bukanlah
diturunkan Allah dari langit. Wahyu Allah hanya mengarahkan Rasul dan kaum
muslimin untuk menjamin kemaslahatan umum, tanpa merenggut kebebasan
mereka untuk memikirkan usaha-usaha menegakkan kebenaran, kebajikan, dan
keadilan.
Alquran sendiri tidak mengatur urusan politik secara khusus, tetapi hanya
memerintahkan untuk menegakkan keadilan, kebajikan, membantu kaum lemah,
dan melarang perbuatan yang tidak senonoh, tercela, serta durhaka. Alquran hanya
meletakkan garis besar pada kaum muslimin, kemudian memberikan kebebasan
untuk memikirkan hal-hal yang diinginkan dengan ketentuan tidak sampai
melanggar batas-batas yang telah ditetapkan.
Islam pada dasarnya adalah Siyasatullah fil Ardh. Maksudnya, dengan
Islam inilah Allah mengatur semesta alam, yang diperuntukan kepada manusia.
Islam itu secara substantif bersifat politis. Konteks pemberian amanah kepada
manusia yang dimaksud di atas adalah Istikhlaf sebagai konsep politik. Istikhlaf
berarti "menjadikan khalifah untuk mewakili dan melaksanakan tugas yang
diwakilkan kepadanya."
Untuk lebih memahaminya, perlu kita ingat kembali bahwa Allah
memberikan manusia dua amanah :
1. Ubudiyah, yaitu untuk beribadah, penghambaan kepada Allah.
2. Amanah Kekhalifahan, hal ini lebih dekat kepada otoritas untuk mengendalikan
kehidupan (di atas bumi).
Allah SWT berfirman, "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang
beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana
Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, .." (QS. An Nur: 55)
Dengan demikian, Islam secara substantif adalah siyasah, yaitu menghendaki agar
ummat menjalankan kepemimpinan politik.

Salah satu tujuan Islam adalah bagaimana agar bisa menerapkan


kehidupan secara Islami dan agar sampai tidak ada lagi fitnah di muka bumi.
Untuk itu perlu dilakukan suatu tindakan untuk merubah situasi saat yang
masih jauh dari harapan ini agar mencapai tujuan di atas. Ada dua pendekatan
dalam agenda perubahan tersebut (secara berurut):
1. Pendekatan secara kultural. Tersirat dalam firman Allah SWT pada Surat Al
Jumuah ayat 2, "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang
Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah).
Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang
nyata."
2. Pendekatan secara struktural. Pendekatan inilah yang lebih bersifat siyasi. Jadi,
ketika telah terbentuk masyarakat yang Islami secara kultural, maka
dibutuhkanlah pemerintahan yang Islami. Contohnya dalam peristiwa Piagam
Madinah. Ketika itu masyarakat Madinah sudah terkondisikan sebagai
masyarakat yang Islami secara kultural.
Kedua pendekatan di atas tidak dapat dipilah-pilahkan satu sama lain. Kedua
hal di atas hanyalah terkait pada tahapan perubahan saja. Jadi, sebenarnya tidak
ada istilah Islam kultural, dan Islam Politik. Islam itu adalah menyeluruh.
Kemudian Politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah sasa-yasususiyasah . Yang berarti (mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya) dan secara
bahasa adalah cara pemerintahan Islam mengurus urusan rakyatnya, serta urusan
negara, umat dan rakyatnya terkait dengan negara, umat dan bangsa lain.
Politik Islam yang dimaksud dan perlu termaktub di dalamnya adalah
konsepsi Islam mengenai politik, menyangkut isu-isu seputar soal kepala Negara
dan tata cara pemilihannya, pelaksanaan kenegaraan, hak dan kewajiban rakyat,
aparatur negara, penciptaan undang-undang, dan sebagainya, yang itu semua
dapat dijejaki sejak rasulullah, masa al-Khulafa al-Rasyidun, kerajaan-kerajaan
Islam, dan seterusnya hingga ke masyarakat kontemporer kalamana Negaranegara mayoritas Muslim menerima bentuk nation-state, baik berbentuk kerajaan
maupun republik.

Politik Islam terdiri dari dua aspek yaitu politik dan islam. Politik berarti
suatu cara bagaimana penguasa mempengaruhi perilaku kelompok yang dikuasai
agar sesuai dengan keinginan penguasa. Sedangkan islam berarti penataan dan
islam sebagai dinnul merupakan organisasi penataan menurut ajaran Allah , yaitu
Al-Quran dan menurut sunnah rasulnya.
Politik Islam dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mempengaruhi
anggota masyarakat, agar berprilaku sesuai dengan ajaran Allah menurut sunah
rasulnya. Dalam konsep islam, kekuasaan tertinggi adalah Allah SWT. Ekspresi
kekuasaan Allah tertuang dalam Al-Quran menurut sunah rasul. Penguasa tidak
memiliki kekuasaan yang mutlak, ia hanya wakil (khalifah) Allah di muka bumi
yang berfungsi untuk menegakkan ajaran Allah dalam kehidupan nyata.
Korelasi (Hubungan) pengertian politik islam dengan

politik

menghalalkan segala cara merupakan dua hal yang sangat bertentangan. Islam
menolak dengan tegas mengenai politik yang menghalalkan segala cara.
Pemerintahan yang otoriter adalah pemerintahan yang menekan dan memaksakn
kehendaknya kepada rakyat. Setiap pemerintahan harus dapat melindungi,
mengayomi

masyarakat.

Sedangkan

penyimpangan

yang

terjadi

adalah

pemerintahan yang tidak mengabdi pada rakyatnya; menekan rakyatnya. Sehingga


pemerintahan yang terjadi adalah otoriter. Yaitu bentuk pemerintahan yang
menyimpang dari prinsip-prinsip islam. Dalam politik luar negerinya islam
menganjurakan dan menjaga adanya perdamain. Walaupun demikan islam juga
memporbolehkan adanya perang, namun dengan sebab yang sudah jelas karena
mengancam kelangsungan umat muslim itu sendiri. Dan perang inipun telah
memiliki ketentuan-ketentuan hukum yang mengaturnya. Jadi tidak sembarangan
perang dapat dilakukan. Politik islam menuju kemaslahatan dan kesejahteraan
seluruh umat.

Pilar-pilar dasar dalam pemerintahan Politik Islam antara lain adalah :


1. Kedaulatan di Tangan Syara(hukum Islam)
2. Kekuasaan di Tangan Umat
3. Hanya Khalifah yang Berhak Mengadopdi Hukum

4. Wajib Membaiat Satu Khalifah


Struktur Pemerintahan dan Administrasi dalam sistem Khalifah Politik
Islam :
1. Khalifah
2. Muawin Tafwidh/Mentri tapi tidak berhak membuat UU (Pembantu
Khalifah Bidang Pemerintahan)
3. Muawin Tanfidz (Pembantu Khalifah Bidang Administrasi)
4. Wali/Kepala Daerah
5. Amir Jihad Mabes Angkatan Bersenjata
6. Departemen Keamanan Dalam Negeri
7. Departemen Luar Negeri
8. Departemen Perindustrian
9. Departemen Kehakiman
10. Departemen Penerangan
11. Kemaslahatan Publik
12. Baitul Mal (rumah penyimpan harta)
13. Majelis Ummah/Dewan Perwakilan Rakyat.
2.2. Nilai Nilai Dasar Sistem Politik Dalam Al Quran
Namun perlu dicatat, al-Quran bukanlah kitab politik. Ia hanya
memberikan prinsip-prinsipnya saja dan bukan mengajari cara-cara berpolitik
praktis. Dengan

demikian, perhatian utama al-Qur'an adalah memberikan

petunjuk yang benar kepada manusia, yaitu petunjuk yang akan membawanya
kepada kebenaran dan suasana kehidupan yang baik. Sebagai kitab petunjuk, alQur'an mengarahkan manusia kepada hal-hal praktis. Ia memberi tekanan lebih
atas amal perbuatan daripada gagasan.
Bertolak dari sisi pandangan ini, maka iman barulah punya arti jika diikuti
secara terpadu oleh perbuatan baik yang positif dan konstruktif.
Sebagai suatu petunjuk bagi manusia, al-Qur'an menyediakan suatu dasar
yang kukuh dan tak berubah bagi semua prinsip-prinsip etik dan moral yang perlu
bagi kehidupan ini. Menurut Muhammad Asad, al-Qur'an memberikan jawaban
komprehensif untuk persoalan tingkah laku yang baik bagi manusia sebagai

10

perorangan dan sebagai anggota masyarakat dalam rangka menciptakan suatu


kehidupan yang berimbang di dunia ini dengan tujuan terakhir kebahagiaan di
akhirat.
Al-Qur'an sendiri mengajarkan bahwa kehidupan di dunia merupakan
prasyarat bagi kebahagiaan hidup yang akan datang seperti dinyatakan dalam alQur'an, Barang siapa buta di dunia ini, maka akan buta di akhirat, dan bahkan
lebih sesat lagi perjalanannya (terj. Q.s., al-Ahzb 72) Bagi seorang mukmin,
al-Qur'an merupakan manifestasi terakhir bagi rahmat Allah swt. kepada manusia,
di samping sebagai prinsip kebijaksanaan yang terakhir pula.
Jadi, jangan menjadikan al-Quran dan pemerintahan Nabi untuk
instrument politik. Tapi ambillah prinsip-prinsip etiknya dan sesuaikan dengan
kondisi-kondisi sosial politik sehingga melahirkan suatu kombinasi moralitas
Islam dan relevansi sosial politik. Wallhu Alamu bil-Shawb.
Al-Quran sebagai ajaran utama dan pertama dalam agama islam yang
mengandung ajaran tentang nilai-nilai dasar yang harus diaplikasikan dalam
pengembangan sistem politik Islam. Nilai-nilai dasar itu yaitu:
1. Kemestian mewujudkan persatuan dan kesatuan umat. Tercantum dalam
surat al-Muminun-52 yang artinya Sesungguhnya umat kamu ini umat
yang satu, dan Aku adalah Tuhan kamu, maka bertaqwalah kamu
kepadaKu. Tahqiq,Nanang,POLITIK ISLAM, Prenada Media, Jakarta,
2004,xi
2. Kemestian bermusayawarah dalam menyelesaikan masalah-masalah
ijtihadiyyah. Tercantum dalam surat al-Syuro-38 dan Ali Imran-159
menjelaskan:
a. Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah diantara mereka
b. Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
c. Keharusan menunaikan amanat dan menetapkan hukum secara adil.
Tercantum dalam surat an-Nisa-58 yang artinya Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu

menyampaikan

amanat

kepada

yang

berhak

menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hokum


diantara manusia supaya kamu menetapkan secara adil.

11

3. Kemestian menaati Allah dan Rasulullah dan Uli Al-Amr (Pemegang


Kekuasaan). Tercantum dalam surat an-Nisa-59 yang artinya Hai orangorang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan orangorang yang memegang kekuasaan di antara kamu.
4. Keniscayaan mendamaikan konflik antara kelompok dalam masyarakat
islam. Tercantum dalam surat al-Hujurat-9 yang artinya Dan jika ada
dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah
keduanya.
5. Kemestian mempertahankan kedaulatan negara dan larangan melakukan
agresi dan invasi. Tercantum dalam surat al-Baqarah-190 yang artinya
Dan peranglah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi
janganlah kamu melampaui batas.
6. Kemestian mementingkan perdamaian daripada permusuhan. Tercantum
dalam surat al-Anfal-61 yang artinya Apabila mereka condong terhadap
perdamaian, hendaklah kamupun condong kepadanya dan bertaqwalah
kepada Allah.
7. Keharusan meningkatkan kewaspadaan dalam bidang pertahanan dan
keamanan. Tercantum dalan surat al-Anfal-60 yang artinya Dan
siapkanlahuntuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi, dari kuda-kuda yang ditambat untuk perang, (yang dengan
persiapan itu) kamu dapat menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan
orang-orang selain mereka yang kamu tidak ketahui sedangkan Allah
mengetahuinya.
8. Keharusan menepati janji. Tercantum dalam surat an-Nahl-91 yang artinya
Dan tepatilah perjanjian dengan Allah, apabila kamu berjanji dan
janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu sesudah
meneguhkannya.

12

9. Keharusan mengutamakan perdamaian bangsa-bangsa. Tercantum dalam


surat al-Hujurat-13 yang artinya Hai manusia, sesungguhnya kami telah
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
10. Kemestian peredaran harta pada seluruh lapisan masyarakat. Tercantum
dalam surat al-Hasyr-7 yang artinya Supaya harta itu tidak hanya
beredar di antara orang-orang kaya diantara kamu.
11.

Keharusan mengikuti prinsip-prinsip pelaksanaan hukum dalam hal:


a.

b.
c.

Menyedikitkan beban (taqlil al-takalif)


Berangsur-angsur (al-tadarruf)
Tidak menyulitkan (adam al-Haraj)

2.3. Ruang Lingkup Pembahasan Siasyah Dusturiyah


Siyasah Dusturiyah menurut tata bahasanya terdiri dari dua suku kata
yaitu Siyasah itu sendiri serta Dusturiyah. Arti Siyasah dapat kita lihat di
pembahasan diatas, sedangkan Dusturiyah adalah undang-undang atau peraturan.
Secara pengertian umum Siyasah Dusturiyah adalah keputusan kepala negara
dalam mengambil keputusan atau undang-undang bagi kemaslahatan umat.
Sedangkan menurut Pulungan (2002, hal:39) Siyasah Dusturiyah adalah
hal yang mengatur atau kebijakan yang diambil oleh kepala negara atau
pemerintah dalam mengatur warga negaranya. Hal ini berarti Siyasah Dusturiyah
adalah kajian terpenting dlam suatu negara, karena hal ini menyangkut hal-hal
yang mendasar dari suatu negara. Yaitu keharmonisan antara warga negara dengan
kepala negaranya.
Fiqih Siyasah Dusturiyah mencakup bidang kehidupan yang sangat luas
dan kompleks, secara umum meliputi hal-hal sebagai berikut:

13

a) Persoalan dan ruang lingkup (pembahasan) Membahas tentang imam, rakyat,


hak dan kewajibanya, permasalahan Baiat, Waliyul Ahdi, perwakilan dan
persoalan Ahlul Halli Wal Aqdi.
b) Persoalan imamah, hak dan kewajibannya. Imamah atau imam di dalam AlQuran pada umumnya , kata-kata imam menunjukan kepada bimbingan
kepada kebaikan. Firman Allah: Artinya: dan orang orang yang berkata: "ya
tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang
yang bertakwa.
c) Persoalan rakyat, statusnya dan hak-haknya Rakyat terdiri dari Muslim dan non
Muslim, adapun hak-hak rakyat, Abu Ala al-Maududi menyebutkan bahwa
hak-hak rakyat adalah sebagai berikut:
1. Perlindungan terhadap hidupnya, hartanya dan kehormatannya.
2. Perlindungan terhadap kebebasan pribadi.
3. Kebebasan menyatakan pendapat dan keyakinan.
4. Terjamin kebutuhan pokok hidupnya, dengan tidak membedakan kelas dan
kepercayaan.
d) Persoalan Baiat Baiat (Mubayaah), pengakuan mematuhi dan mentaati
imam yang dilakukan oleh Ahl Al-Hall Wa Al-Aqd dan dilaksanakan sesudah
permusyawaratan. Diaudin Rais mengutip pendapat Ibnu Khaldun tentang
baiat ini, dan menjelaskan:
Adalah mereka apabila mem Baiat-kan seseorang amir dan mengikat
perjanjian, mereka meletakkan tangan-tangannya untuk menguatkan perjanjian
e) Persoalan Waliyul Ahdi Imama itu dapat terjadi dengan salah satu cara dari dua
cara: Pertama dengan pemilihan Ahl Al-Hall Wa Al-Aqdi dan Kedua dengan
janji (penyerahan kekuasaan) imam yang sebelumnya. Cara yang kedua yang
dapat dimaksudkan dengan waliyul ahdi. Hal ini didasarkan pada: Abu Bakar
r.a menunjuk Umar ra. Yang kemudian kaum Muslimin menetapkan keimanan
(imamah) umar dengan penunjukan Abu Bakar tadi .
f) Persoalan perwakilan dan Ahlul Halli Wal Aqdi

14

g) Persoalan Wuzaroh (Kementerian) dan Perbandinganya Ulama mengambil


dasar-dasar adanya kementerian (Wuzarah) dengan dua alasan, Pertama: firman
Allah dalam surat At-Thaha 29-32 yang Artinya Dan jadikanlah untukku
seorang wazir dari keluargaku, yaiut harun, saudaraku. Teguhkanlah
kekuatanku dengan dia, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku. Dan
Kedua karena alasan yang sifatnya praktis.

15

BAB 4. PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dengan demikian penyusun dapat menyimpulkan bahwa hubungan Islam
dan Politik itu sangat berkaitan karena telah dijelaskan tentang aturan dan caracara dalam berpolitik yang sesuai tuntunan Al Quran dan Hadits. Oleh karena itu
sistem politik Islam yang melihat dokumen-dokumen dari Al-Quran ini memuat
prinsip-prinsip politik berupa keadilan, musyawarah, toleransi, hak-hak dan
kewajiban, amar maruf dan nahi mungkar, kejujuran, dan penegakan hukum.
Jadi dengan sistem dan peraturan-peraturan hukum yang sesuai dengan AlQuran sudah pasti sistem politik Islam lebih baik dibandingkan dengan sistem
Politik yang lain.
Sedangkan siyasah dusturiyah adalah hal yang mengatur atau kebijakan
yang diambil oleh kepala negara atau pemerintah dalam mengatur warga
negaranya. Hal ini berarti Siyasah Dusturiyah adalah kajian terpenting dlam suatu
negara, karena hal ini menyangkut hal-hal yang mendasar dari suatu negara. Yaitu
keharmonisan antara warga negara dengan kepala negaranya.

DAFTAR PUSTAKA

16

Abu A'la al Maududi, Sistem PolitikIslam, Bandung, Mizan, 1993.


Azra,Dr. Azyumardi . 1996 .

PERGOLAKAN POLITIK ISLAM . Jakarta :

Paramadina.
Saasan Man, Pendirian Partai Politik Menurut Pandangan Islam, dalam Jurnal
Syariah,

Akademi

Pengkajian

Islam,

Universitas

Malaya:

vol.

8,

edisi2juli2000.
Shiddieqy , Teungku . 2002 . ISLAM DAN POLITIK BERNEGARA . Semarang :
PT. Pustaka Riski Putra.
Tahqiq, Nanang . 2004 . POLITIK ISLAM . Jakarta : Prenada Media.

17

18