You are on page 1of 15

STATUS PSIKIATRI

Nama : Twindy Rarasati


NIM : 141 0221 020
Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional
Dokter Pembimbing
dr. Salikur Kartono, SpKJ

Tanda Tangan

Nama Pasien

: Ny. S

No. Rekam Medik

: 031030

DPJP

: dr. Ismoyowati SpKJ

Masuk RS

: 7 Januari 2016

Rujukan / Datang sendiri / Keluarga : Diantar oleh keluarga (Adik)


I.

IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien
: Ny. S
Tempat, Tanggal Lahir
: Padang, 19 September 1968
Jenis Kelamin
: Perempuan
Alamat
: Balaraja, Tangerang
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Tidak Bekerja
Status Perkawinan
: Janda
Suku Bangsa
: Padang
Riwayat Perawatan
Pasien pertama kali dirawat di RSJ dr Soeharto Heerdjan pada tanggal 7
Januari 2016
II.

RIWAYAT PSIKIATRIK
Autoanamnesis
Tanggal 11 Januari 2016, pukul 09.00 WIB di ruang rawat inap PICU

Wanita (Kutilang)
Tanggal 14 Januari Januari 2016, pukul 09.00 WIB di ruang rawat inap

Cempaka
Tanggal 16 Januari 2016, pukul 16.00 WIB di ruang rawat inap Cempaka
Tanggal 20 Januari 2016, pukul 17.00 WIB di ruang rawat inap Cempaka

Alloanamnesis

Wawancara dilakukan dengan adik pasien (Tn. I) via telepon tanggal 15


Januari 2016 pukul 17.30 WIB dan tanggal 17 Januari 2016 pukul 09.00
WIB

A. KELUHAN UTAMA
Pasien datang ke IGD RSJ Soeharto Heerdjan diantar oleh keluarganya
pada tanggal 7 Januari 2016 karena mengamuk sejak 1 hari sebelum masuk
rumah sakit (SMRS).
B. RIWAYAT GANGGUAN SEKARANG
Pasien datang ke IGD RSJSH diantar oleh keluarganya pada tanggal 7
Januari 2016 dengan keluhan mengamuk sejak 1 hari SMRS. Pasin marahmarah terus menerus hingga memukul-mukul meja. Adik pasien mengatakan
sejak 1 minggu SMRS pasien mulai berperilaku aneh, yaitu setiap hari pasien
selalu keluar rumah dan berdiri memandang langit dari pagi hingga maghrib,
menunggu matahari terbit hingga terbenam, karena menurut pasien Ia
memiliki kekuatan untuk mengendalikan matahari. Jika Ia tidak melihat
matahari maka matahari akan tertutup awan dan timbul malapetaka di Bumi.
Hal tersebut Ia lakukan karena Ia merasa itu merupakan perintah Allah
kepadanya yang Ia dapatkan dari membaca Al-quran.
Keluarga merasa resah dengan perilaku pasien yang semakin kacau
sehingga mereka memutuskan untuk membawa pasien ke IGD RSJ dr.
Soeharto Heerdjan, namun pasien mengamuk dan meronta-ronta serta
menyatakan bahwa dirinya tidak gila, sehingga keluarga mengikat tangan
pasien dan membawanya.
Sejak 2 bulan SMRS, pasien mulai berbicara kacau, mengatakan
dirinya adalah pasangan Nabi Muhammad, bahwa Nabi Muhammad telah
dibangkitkan kembali dan menyatu dengan tubuhnya, sehingga bagian leher ke
atas tubuhnya adalah Nabi Muhammad dan sisanya adalah jelmaan Maryam,
dan bila Ia punya anak, maka anaknya adalah anak Nabi Muhammad. Ia
mengaku bahwa Ia diangkat oleh Allah menjadi manusia terpilih saat usianya
menginjak 47 tahun, dan Ia mendapatkan wahyu tersebut karena membaca AlQuran surat 19 yaitu Surat Maryam.
Sejak tahun 2012, pasien mengaku mulai berdakwah lewat internet dan
banyak orang-orang yang mengikutinya, bahkan hingga Ibu Ani SBY senang
dengan dakwahnya. Namun, Ia sempat merasa ketakutan karena orang-orang

Amerika akan memburunya dan akan membunuhnya karena menyebarkan


kebenaran.
Keluarga sudah beberapa kali membujuk pasien untuk berobat ke
dokter, namun pasien malah marah dan merasa bahwa adik-adiknya berniat
jahat kepadanya karena iri bahwa Ia anak yang paling cerdas di keluarganya
dan semua orang mendengar pidatonya. Ia juga merasa adik-adiknya ingin
menguasai harta miliknya, sama seperti mantan suaminya yang hanya
menikahinya untuk mendapatkan kekayaannya.
Mendengar bisikan atau suara-suara tak berwujud disangkal, merasa
pikirannya tersiar sehingga orang lain dapat mendengarnya disangkal, merasa
orang-orang membicarakannya disangkal, nafsu makan dan minum baik, tidak
ada gangguan tidur. Riwayat perasaan gembira berlebihan sebelumnya
disangkal.
C. RIWAYAT GANGGUAN SEBELUMNYA
1. Gangguan Psikiatrik
Pasien sudah pernah dirawat di RSJ di Padang pada tahun 1985, karena
berlari telanjang ke luar rumah. Saat itu pasien masih SMA dan akan
mengikuti ujian, pasien terus menerus belajar dari pagi hingga malam
tanpa henti, hingga akhirnya pasien berbicara kacau dan berlari telanjang
keluar rumah. Keluar dari RSJ, pasien tidak pernah kontrol dan tidak
pernah mau minum obat karena merasa tidak sakit.
Tahun 2013 pasien dirawat kembali di RSJ di Serpong selama 2
minggu, saat itu pasien tidak mau keluar rumah, mengunci kamar dan
menutup semua jendela. Ia merasa takut kepada semua orang, dan takut
didatangi SBY karena ia disangka teroris, pasien juga membakar semua
kartu identitasnya, melepas baterai telepon genggamnya dan hanya
berdiam diri di kamar. Setelah keluar dari RSJ pasien juga tidak mau
kontrol dan minum obat.
Adik pasien tidak mengetahui obat-obatan yang pernah dikonsumsi
pasien saat dirawat dulu baik pada tahun 1985 maupun 2013.
2. Riwayat Gangguan Medik
Riwayat hipertensi disangkal
Diabetes melitus disangkal
Trauma kepala disangkal
Kejang disangkal
Alergi disangkal

3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif


Pasien tidak merokok, tidak minum alkohol, dan tidak pernah
menggunakan obat-obatan terlarang sebelumnya.
4. Riwayat Gangguan Sebelumnya

1985
Berbicara sendiri
Berlari keluar rumah telanjang
RSJ Padang

2012 - 2013
Berbicara sendiri
Menarik diri
Waham kejar (+)
RSJ Serpong

2016
Perilaku aneh
Marah-marah
Waham ( + )

D. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Anak
pertama dan ketiga sudah meninggal. Adik pasien tidak mengetahui
riwayat kehamilan ibunya saat sedang mengandung pasien.
2. Riwayat Perkembangan Kepribadian
a. Masa Kanak Awal (0-3 tahun)
Pasien merupakan anak yang aktif dan sehat dengan proses tumbuh
kembang sesuai dengan anak-anak seusianya.
b. Masa Kanak Menengah (3-11 tahun)
Pasien merupakan anak yang baik, prestasi belajar cukup baik dan
selalu juara kelas. Proses tumbuh kembang sesuai dengan anak
seusianya.
c. Masa Kanak Akhir (11-18 tahun)

Pasien merupakan anak yang tertutup baik terhadap teman maupun


keluarga, sehingga pasien tidak punya teman banyak saat SMP
maupun SMA. Pasien selalu menjadi juara kelas dan sering
mengikuti lomba pidato sehingga merasa dirinya paling hebat,
pasien merasa iri dan tersaingi apabila ada temannya yang lebih
hebat.
d. Masa Dewasa
Pergaulan pasien tidak terlalu baik, pasien cenderung pendiam dan
tertutup serta pasien tertutup terhadap teman dan keluarga. Pasien
juga lebih sering memendam perasaannya. Dalam mengerjakan
sesuatu pasien sangat berhati-hati, sulit mempercayakan kepada
orang lain dan sulit dibantah. Pasien juga selalu menyalahkan
orang lain apabila dirinya gagal dalam mengerjakan sesuatu. Pasien
juga merasa kecewa karena teman-teman sekolahnya dulu banyak
yang lebih sukses darinya meskipun dulu pasien lebih pintar
dibandingkan teman-temannya tersebut. Pasien merupakan orang
yang ambisius dan memiliki banyak cita-cita, akan tetapi pada
kenyataannya banyak yang tidak sesuai dengan harapan.

3. Riwayat Pendidikan
Pasien menempuh SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, dan tamat SMA 3
tahun. Prestasi akademik cukup menonjol, pasien sering menjadi juara
kelas dan menang lomba pidato. Pasien sempat kuliah selama 1 tahun di
jurusan matematika tapi kemudian tidak dilanjutkan lagi karena hambatan
biaya.

4. Riwayat Pekerjaan
Pasien pernah bekerja di perkantoran, tetapi tidak pernah bertahan
lama di satu kantor, pasien hampir 15 kali berpindah-pindah kantor.
Menurut adiknya, pasien sulit bersosialisasi dengan rekan-rekan kerjanya
dan suka membantah atasannya. Pada tahun 2000-an pasien membuka
usaha percetakan hingga tahun 2011, kemudian tahun 2013 setelah keluar
dari RSJ di Serpong sempat membantu menjaga warung milik adiknya,
tetapi pasien tidak mau bekerja untuk orang lain sehingga adiknya

memberikannya sebuah warung dan ia jadikan untuk membuka usaha toko


sepatu, akan tetapi menurut adiknya usahanya tersebut tidak dapat
dikelola pasien dengan baik.
5. Kehidupan Beragama
Pasien beragama Islam, taat beribadah. Tidak pernah meninggalkan
sholat 5 waktu dan dapat menghafal ayat-ayat dalam Al-quran. Di waktu
senggang, Ia sering membaca surat Yasin.
6. Kehidupan Sosial dan Perkawinan
Pasien pernah menikah 5 kali, yang pertama pada tahun 1997 dan
pernikahan yang terakhir pada tahun 2013. Menurut adik pasien, para
mantan suaminya menceraikannya karena terdapat alasan tidak kuat
dengan tingkah laku pasien yang aneh. Pasien tidak memiliki anak dari
kelima pernikahannya tersebut. Pasien juga tidak pernah memiliki teman
dekat.

7. Riwayat Hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum, tidak pernah
berurusan dengan aparat penegak hukum, dan tidak pernah terlibat dalam
proses peradilan.
E. RIWAYAT KELUARGA
Pasien adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Anak pertama
meninggal saat usia 3 bulan dan anak ketiga juga sudah meninggal. Pasien
memiliki 4 orang adik laki-laki. Tidak ada keluhan serupa pada keluarga
pasien

Keterangan :

F. SITUASI KEHIDUPAN SOSIAL SEKARANG


Saat ini pasien tinggal serumah dengan ibunya. Yang membiayai
pasien saat ini adalah keempat adiknya, termasuk biaya berobat dan yang
membiayai BPJS pasien.
G. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN KEHIDUPANNYA
Pasien tidak mengakui dirinya sakit, Pasien mengetahui ia berobat di RSJSH.
Persepsi lingkungan terhadap dirinya, ia dianggap stress dan berperilaku aneh.
A. STATUS MENTAL
B. DESKRIPSI UMUM
1. Penampilan
Pasien wanita, berusia 48 tahun, tampak sesuai dengan usianya, postur
tubuh tegap, rambut hitam sebahu ikal berantakan, kulit sawo matang,
dengan bintik-bintik hitam pada kedua pipi. Pada saat wawancara pasien
memakai kaos seragam RSJSH berwarna cokelat, celana pendek selutut
berwarna cokelat, sandal jepit berwarna hitam. Kebersihan dan kerapihan
diri cukup
a. Kesadaran sensorium/neurologik
: compos mentis
b. Kesadaran psikiatrik
: tampak terganggu
2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor :
a. Sebelum wawancara : pasien sedang memandang langit

b. Selama wawancara

: pasien duduk di sebelah kanan pemeriksa,

melakukan kontak mata dengan pemeriksa, kooperatif dan menjawab


pertanyaan dari pemeriksa.
c. Sesudah wawancara : pasien kembali memandang langit
3. Sikap Terhadap Pemeriksa : Kooperatif
4. Pembicaraan
a. Cara berbicara
: Pembicaraan spontan, lancar, artikulasi jelas
dan volume suara keras.
b. Gangguan berbicara : Tidak ada
C. ALAM PERASAAN (EMOSI)
1. Mood
: Irritabel
2. Afek
a. Ekspresi afektif
: Terbatas
b. Keserasian
: Tidak serasi
D. GANGGUAN PERSEPSI
1. Halusinasi
: Tidak ada
2. Ilusi
: Tidak ada
3. Depersonalisasi : Tidak ada
4. Derealisasi
: Tidak ada
E. SENSORIUM DAN KOGNITIF (FUNGSI INTELEKTUAL)
1. Taraf Pendidikan
: Sesuai dengan tingkat pendidikan (tamat SMA)
2. Pengetahuan Umum
: Baik (mengetahui nama presiden saat ini)
3. Kecerdasan
: Diatas rata-rata
4. Konsentrasi
: Baik (Pasien dapat melakukan seven serial test)
5. Orientasi
a. Waktu
: Baik (dapat mengetahui waktu wawancara).
b. Tempat: Baik (pasien mengetahui ia berada di rumah sakit).
c. Orang
: Baik (pasien mengetahui ia diantar oleh siapa ke
rumah sakit).
d. Situasi
: Baik (Pasien mengetahui situasi di sekitar RSJSH).
6. Daya Ingat
a. Jangka panjang
: Baik (pasien dapat mengingat tanggal lahirnya)
b. Jangka pendek
: Baik (pasien dapat mengingat menu makanan
yang ia makan).
c. Segera

: Baik (Pasien dapat mengulang tiga nama benda

yang disebutkan pewawancara)


7. Pikiran Abstraktif
: Baik (pasien dapat mendeskripsikan perbedaan
dan persamaan bola dengan jeruk, Ia juga mengetahui maksud dari
peribahasa Ada udang di balik batu)
8. Visuospasial
: Baik (dapat menulis dengan baik)
9. Bakat Kreatif
: Tidak dapat terlihat
10. Kemampuan menolong diri sendiri : Baik (pasien makan, mandi, mencuci
dan berpakaian sendiri)
8

F. PROSES PIKIR
1. Arus Pikir
a. Produktivitas
: Banyak ide
b. Kontinuitas
: Flight of Idea
c. Hendaya bahasa
: Tidak ada
2. Isi Pikir
a. Preokupasi
: Tidak ada
b. Waham
: Kejar, kebesaran
c. Obsesi
: Tidak ada
d. Fobia
: Tidak ada
G. PENGENDALIAN IMPULS
Baik, selama wawancara pasien bersemangat dan tidak menunjukkan gejala
yang agresif.
H. DAYA NILAI
1. Daya nilai sosial :
Baik (pasien mengetahui bahwa mencuri itu berdosa)
2. Uji daya nilai
:
Baik (pasien akan mengembalikan dompet ke kantor polisi apabila
menemukan dompet yang terjatuh di jalanan)
3. Daya nilai realitas :
Buruk
I. TILIKAN
Derajat 1 : Mempunyai sedikit pemahaman terhadap penyakit tetapi juga
sekaligus menyangkal pada waktu yang bersamaan
J. RELIABILITAS
Taraf dapat dipercaya

III.
PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS INTERNUS
Keadaan Umum
: Baik, tampak tidak sakit
Kesadaran
: Compos mentis
Tekanan Darah
: 120/80 mmHg
Frekuensi Nadi
: 96x/menit
Frekuensi Napas
: 20 x/menit
Suhu Badan
: 36,5 C
Kulit
: Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), turgor baik
Kepala
: Normocephali
Mata
: Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks
cahaya tidak langsung +/+, konjungtiva anemis -/-,
sklera ikterik -/-, oedem -/-.

Hidung

: Bentuk normal,

septum deviasi (-), nafas cuping

Telinga
Mulut

hidung (-), sekret -/: Normotia, membran timpani intak +/+, nyeri tarik -/-.
: Bibir merah, sariawan (-), trismus (-), halitosis (-),

Lidah

candidiasis (-).
: Normoglosia, warna merah muda, kotor (-), tremor (-),

Gigi geligi
Uvula
Tonsil
Tenggorokan
Leher

deviasi(-)
: Baik
: Letak di tengah, hiperemis (-)
:T1/T1, tidak hiperemis
: Faring tidak hiperemis
: KGB supra klavikular tidak teraba membesar, kelenjar
tiroid tidak teraba .membesar, trakea letak normal

Thorax
Paru
Inspeksi

: Bentuk dada normal, simetris dalam keadaan statis

maupun dinamis, efloresensi dinding dada (-), pulsasi abnormal (-), gerak
napas simetris, irama teratur, retraksi suprasternal (-).
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Tidak dilakukan.
: Tidak dilakukan.
: Suara napas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/: Ictus cordis tidak tampak
: Tidak dilakukan.
: Tidak dilakukan
: S1 normal,S2 normal, reguler, murmur (-), gallop (-)

B. STATUS NEUROLOGIK
1. Saraf kranialis (IXII)
2. Tanda rangsang meningeal
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Refleks fisiologis
Refleks patologis
Motorik
Sensorik
Fungsi luhur
Gangguan khusus
Gejala EPS
-

: Baik
: Tidak ada
: (+) normal
: Tidak ada
: Baik
: Baik
: Baik
: Tidak ada
:

Akatisia (-)
Bradikinesia (-)
Rigiditas (-)
Tonus otot normal
Tremor (-)
Distonia (-)

10

IV.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Perempuan, usia 48 tahun datang ke IGD RSJSH diantar oleh keluarga
karena marah-marah 1 hari SMRS hingga memukul meja. 1 Minggu SMRS, Ia
selalu berdiri di teras rumah, memandang langit dari pagi hingga maghrib
karena merasa yakin memiliki kekuatan untuk mengendalikan matahari, dan
bila tidak Ia lakukan akan timbul malapetaka di bumi. Pasien merasa dipilih
oleh Allah dan diangkat menjadi pendamping Nabi Muhammad saat berusia
47 tahun, dengan petunjuk dari Al-Quran surat ke 19 (Surat Maryam). Tahun
2012 - 2013 pasien merasa sangat ketakutan, Ia yakin orang Amerika akan
membunuhnya sehingga Ia mengunci diri di kamar, membakar semua identitas
diri dan melepas baterai telepon genggam. Waham curiga terhadap adikadiknya dan mantan suaminya.
Dari pemeriksaan psikiatri ditemukan psikomotor pasien tenang, mood
iritabel, afek terbatas, tidak serasi. Tidak ada halusinasi, ditemukan waham
kejar dan waham kebesaran. Tilikan derajat 1.

V.

FORMULASI DIAGNOSTIK

Aksis I: Gangguan Klinis dan Kondisi Klinis yang Menjadi Fokus


Perhatian Khusus
Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, maka kasus ini dapat digolongkan
kedalam:
1. Gangguan kejiwaan karena adanya :

Ganguan fungsi / hendaya (disabilitas): gangguan dalam fungsi sosial

seperti gangguan hubungan intrapersonal.


Distress / penderitaan: tingkah laku aneh, mengamuk dan adanya

keyakinan yang aneh.


2. Gangguan jiwa ini sebagai GMNO, karena:

Tidak ada gangguan jiwa yang disebabkan oleh penyakit organik.

Tidak ada penurunan kesadaran biologis.

Tidak ada gangguan kognitif (orientasi dan memori).


3. Gangguan jiwa ini tidak disebabkan pengaruh zat psikoaktif
Tidak ada gangguan akibat penyalahgunaan obat dan zat psikoaktif yang
berefek pada episode saat ini (menurut pasien mengaku tidak pernah
mengkonsumsi alkohol dan NAPZA).

11

4. Menurut PPDGJ III GMNO psikosis ini termasuk skizofrenia karena


memenuhi kriteria diagnostik yaitu :
Waham kebesaran (pasien merasa dirinya orang terpilih, mendapatkan
wahyu dari Allah, menjadi pendamping Nabi)
Waham kejar (pasien mengatakan ada yang ingin mencelakainya)
Aksis II: Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental
Ditemukan ciri kepribadian skizoid dan anankastik, dimana pasien tidak
memiliki banyak teman, tertutup dan mengerjakan segala sesuatunya lebih
senang sendiri.
Aksis III: Kondisi Medis Umum
Tidak ada kelainan fisik dan cacat bawaan yang ditemukan.
Aksis IV: Problem Psikososisal dan Lingkungan
Masalah ekonomi dan keluarga
Aksis V: Penilaian Fungsi Secara Global
Berdasarkan hasil wawancara dengan pasien dan observasi, maka skala
Global Assesment of Functioning (GAF) ditentukan berikut ini:
GAF current
: 50-41 (gejala berat, disabilitas bera)
GAF HLPY
: 60-51 (gejala sedang, disabilitas sedang)
VI.

VII.

VIII.

IX.

X.

EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I
: F20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II
: Ciri kepribadian skizoid dan anankastik
Aksis III
: Tidak ada
Aksis IV
: Masalah ekonomi dan keluarga
Aksis V
: GAF current
: 50-41
GAF HLPY
: 60-51
DIAGNOSIS BANDING
Skizoafektif tipe Manik
Gangguan Bipolar, Episode Kini Manik dengan Gejala Psikotik
FAKTOR YANG MEMPERINGAN
- Gejala positif (Waham, peningkatan pembicaraan)
- Tidak ada riwayat konsumsi alkohol
- Tidak ada riwayat penggunaan NAPZA
FAKTOR YANG MEMPERBURUK
- Tidak menyadari dirinya sedang sakit
- Menolak minum obat dan kontrol ke dokter
- Perjalanan penyakit sudah lama
PROGNOSIS

12

A. Quo ad vitam : dubia ad bonam (skizofrenia paranoid tidak menyebabkan


kematian, tidak ada tanda-tanda pasien menderita.gangguan organik atau
penyakit lain)
B. Quo ad functionam : dubia ad malam (pasien akan sulit menjalankan kegiatan
sehari-hari ketika sudah terdapat gejala psikotik)
C. Quo ad sanactionam : dubia ad bonam (gejala yang timbul dapat diminimalisir
bila pasien patuh minum obat dna melakukan terapi rehabilitasi)
XI.

DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik :
- Tidak didapatkan kelainan organik
B. Psikologi/psikiatri :
- Waham Kejar
- Waham Kebesaran
- Tilikan derajat 1
C. Sosial/keluarga :
- Jika gejala muncul, didapatkan hendaya dalam aktivitas sehari-hari

XII.

TERAPI
Psikofarmaka
Risperidone 2 mg 2 x 2 tab sehari
Efek terapi : Antipsikotik atipikal. Risperidon adalah salah satu firstline treatment pada pasien dengan skizofrenia. Risperidon merupakan
obat antipsikotik generasi 2 atau antipsikotik atipikal, yang bekerja
sebagai antagonis reseptor serotonin (terutama 5HT2A) dan reseptor
dopamine D2. Risperidon dapat digunakan untuk mengobati baik
gejala positif maupun negative karena aktivitasnya sebagai antagonis
reseptor D2 yang tidak terlalu kuat sehingga efek samping terutama
efek samping ekstrapiramidal rendah, dan juga aktivitasnya terhadap
reseptor serotonin 5HT2 yang juga tinggi sehingga juga dapat
digunakan untuk mengobati gejala negatif.

Psikoedukasi
Dilakukan psikoedukasi pada pasien dan keluarganya mengenai
penyakit yang dialami pasien, gejala yang mungkin terjadi, rencana
tatalaksana yang mungkin diberikan, pilihan obat, efek samping
pengobatan, prognosis penyakit, kemana harus mencari pertolongan

13

bila kambuh, menekankan pentingnya kepatuhan pengobatan dan


pemeriksaan rutin.
Menjelaskan kepada keluarga tentang pentingnya mengawasi dan
ikut serta dalam mendisiplinkan pasien untuk mengkonsumsi obat
yang diberi dan kontrol rutin setelah pulang dari rumah sakit untuk
memperbaiki

daya

fungsi

pasien

dan

menghindari

terjadi

kekambuhan.
Memberikan pengertian pada keluarga, dukungan keluarga terhadap
pasien akan membantu kesembuhan dan kestabilan keadaan pasien
secara optimal.
Psikoterapi
Ventilasi : Supaya pasien bisa menceritakan masalahnya yang dihadapi
sekarang.
Persuasi : Tenangkan pasien secara masuk akal tentang gejala-gelaja
penyakitnya yang timbul sebagai akibat cara berpikir, perasaan dan
sikapnya terhadap masalah.
Sugesti : Menanamkan perasaan percaya kepada pasien bahawa gejalagejala itu akan hilang.
Reassurance : Meyakinkan kembali kemampuan pasien dengan
menunjukkan hasil pencapaian pasien.
Bimbingan : Membimbing dengan cara praktis hubungan antar
manusia serta cara berkomunikasi.
Penyuluhan/konseling : Membantu pasien mengerti dirinya sendiri
secara lebih baik, supaya dapat mengatasi permasalahannya dan dapat
menyesuaikan diri.
Terapi kelompok : Memusatkan rencana pada masalah dan hubungan
dalam kehidupan nyata. Terapi kelompok ini bisa menurunkan isolasi
sosial, meningkatkan rasa persatuan dan meningkatkan tes realitas bagi
pasien dengan skizofrenia.
Sosioterapi
Melibatkan pasien dalam kegiatan di RSJSH seperti kegiatan terapi
kelompok.
Memberikan aktivitas sesuai dengan kemampuan pasien di RSJSH.
Melibatkan pasien dalam kegiatan keagamaan di RSJSH.
Menganjurkan pasien untuk mau bersosialisasi dengan pasien lain.

14

15