Вы находитесь на странице: 1из 8

I.

Judul
Formulasi

Masker

Peel

Off

Ekstrak

Batang

Brotowali

(Tinospora Crispa L. Miers) Sebagai Anti Jerawat


II.
Pendahuluan
Brotowali yang dikenal sebagai tanaman obat ini berasal dari Asia Tenggara.
Wilayah penyebarannya di Asia Tenggara cukup luas, meliputi wilayah Cina,
Semenanjung Melayu, Filipina, dan Indonesia. Brotowali (Tinospora crispa, L.
Miers.) merupakan tanaman merambat dan tumbuh dengan baik di hutan terbuka atau
semak belukar di daerah tropis.
Berdasarkan

pemeriksaan

laboratorium

tanaman

ini

mengandung pati, alkaloid yang terdiri dari N-asetil-nornuciferin, Nformil-annonain,

dan

N-

formilnornuceferin.

Disamping

itu

ditemukan pula suatu glikosida furanoditerpen yang berasa pahit.


Pada akar tanaman juga terdapat alkaloid berberin. Sebagai obat
tradisional air rebusan batang atau ranting brotowali manjur untuk
mengobati

penyakit

malaria,

demam,

penyakit

kulit,

serta

membersihkn ginjal dan menyembuhkan luka. (Dahlia, 2011)


Pada
brotowali

pemakaian
bisa

kudis.Selain

sebagai

digunakan

itu

dapat

obat

untuk

luar,

rendaman

membersihakan

mengobati

jerawat

pada

batang

luka

atau

wajah

juga

mencerahkan kulit karena mengandung senyawa alkaloid berberin


yang mampu membersihkan jerawat. Karena senyawa alkaloid ini
maka batang brotowali dapat dimanfaatkan sebagai salah satu
bahan

aditif

dalam

kosmetika

seperti

pemanfaatan

dalam

pembuatan masker wajah.


Kulit merupakan organ yang pertama terkena dampak buruk
polusi, paparan sinar ultraviolet yang dapat merusak kulit. Apabila
kulit wajah tidak dibersihkan dan dirawat dengan teratur akan
mengakibatkan sel kulit mati, menumpuk dapat menimbulkan kulit
kusam, kering, dan flek pada wajah serta memudahkan tumbuhnya

bakteri yang dapat memicu terjadinya jerawat. Oleh karena itu,


perawatan kulit sangat diperlukan untuk memelihara agar kulit
tetap sehat, indah dan terlihat bersih. Salah satu caranya adalah
dengan menggunakan masker wajah. Masker adalah salah satu
kosmetik perawatan kulit. Namun, proses pemakaian masker pada
umumnya cukup rumit, padahal gaya hidup masyarakat perkotaan
dipenuhi dengan kesibukan. Sehingga dibutuhkan produk masker
yang praktis dalam pemakaiannya, salah satunya adalah dengan
memakai masker peel off. Masker peel off merupakan sediaan
kosmetik

perawatan

kulit

yang

berbentuk

gel

dan

setelah

diaplikasikan ke kulit dalam waktu tertentu hingga mengering,


sediaan ini akan membentuk lapisan film transparan yang elastis,
sehingga dapat dikelupaskan. Masker peel off memiliki banyak
keunggulan dibandingkan masker jenis lain yaitu sediaannya
berbentuk

gel

yang

sejuk

mampu

merelaksasikan

dan

membersihkan wajah secara maksimal dengan mudah (Morris


dalam Makalah Myra, 2014).
Hal-hal yang perlu diketahui dalam pembuatan masker peel
off ini dipengaruhi oleh HPMC atau Hidroxypropil Metil Celullose
yang berfungsi untuk meningkatkan viskositas pada masker gel
sendiri,

selain

menghilangkan

itu

bagaimana

jerawat

yang

aktivitas

zat

disebabkan

berberin

dalam

oleh

bakteri

staphylococcus epidermidis.
III.

Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh penambahan bahan aditif batang Brotowali (Tinospora
Crispa L. Miers) dalam formulasi masker peel off ?
2. Bagaimana pengaruh aktivitas antibakteri sediaan masker peel off dari batang
Brotowali (Tinospora Crispa L. Miers)?
3. Bagaimana pengaruh konsentrasi HPMC terhadap sifat fisik masker peel off?

IV.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari pelaksanaan dan penulisan penelitian ini

sebagai berikut:
1. Mengetahui tahapan dan metode pembuatan masker peel off
dengan penambahan bahan aditif dari batang brotowali
(Tinospora Crispa L. Miers).
2. Mengetahui aktivitas senyawa alkaloid berberin terhadap
bakteri

Staphylococcus

epidermidis

yang

menyebabkan

timbulnya jerawat pada wajah.


3. Mengetahui konsentrasi optimum penambahan Hydropropil
Metil Celullose (HPMC) dan juga bahan aditif dari ekstrak
batang brotowali (Tinospora Crispa L. Miers).
V.

Manfaat
Penelitian ini dilakukan untuk menambah wawasan atau

informasi mengenai manfaat tanaman brotowali (Tinospora Crispa


L.Miers) sebagai anti jerawat dan memberikan informasi bahwa
senyawa berberin yang terkandung didalam batang tanaman
Brotowali (Tinospora Crispa L.Miers) mampu menghambat bakteri
Staphylococcus Epidermidis. Selain itu juga sebagai acuan untuk
penelitian selanjutnya.
VI.

Tinjauan Pustaka
VI.1. Brotowali
Brotowali yang dikenal sebagai tanaman obat ini berasal dari Asia
Tenggara. Wilayah penyebarannya di Asia Tenggara cukup luas, meliputi
wilayah Cina, Semenanjung Melayu, Filipina, dan Indonesia. Brotowali
(Tinospora crispa, L. Miers.) merupakan tanaman merambat dan tumbuh
dengan baik di hutan terbuka atau semak belukar di daerah tropis. (Indri,2012)
Brotowali merupakan tumbuhan merambat dengan
panjang mencapai 2,5 meter atau lebih. Brotowali tumbuh
baik di hutan terbuka atau semak belukar di daerah tropis.
Batang Brotowali hanya sebesar jari kelingking, berbintilbintil rapat dan rasanya pahit. Daun Brotowali merupakan dan

tunggal, tersebar, berbentuk jantung dengan ujung runcing,


tepi daun rata, pangkalnya berlekuk, memiliki panjang 7-12
cm dan lebar 7-11 cm. Tangkai daun menebal pada pangkal
dan ujung, pertulangan daun menjari dan berwarna hijau
Bunga majemuk berbentuk tandan, terletak pada batang
kelopak tiga. Memiliki enam mahkota, berbentuk benang
berwarna

hijau.

Benang

sari

berjumlah

enam,

tangkai

berwarna hijau muda dengan kepala sari kuning. Buah


Brotowali keras seperti batu, berwarna hijau. (Dahlia Pohand,
2011:8). Tanaman Brotowali dapat dilihat pada gambar 6.1.

Gambar 6.1. Brotowali (Tinospora Crispa L.Miers)


Berikut ini adalah klasifikasi ilmiah tanaman Brotowali pada
tabel 6.1.
Tabel 6.1. Klasifikasi Ilmiah
Kingdom
Divisi
Class
Famili

Plantae
Spermatophyte
Dicotyledon
Menispermceae

Genus

Tinospora

Species

L Miers

Sumber : Indri, 2012

Brotowali

mengandung

damar

lunak, pati,

glikosida,

pikroretosid, zat pahit pikroretin, harsa, alkaloid berberin dan


palmatin. Bagian akarnya mengandung alkaloid berberin dan

kolumbin

(Indri,2012)

mengandung

alkaloid,

Daun

dan

saponin,

dan

batang

Tinospora

tanin.

Sedangkan

batangnya mengandung flavanoid. Beberapa jenis senyawa


kimia yang dikandung Brotowali antara lain : alkaloida,
dammar lunak, pati, glikosida, zat pahit, pikroretin, harsa,
barberin, palmatin, kolumbin, dan jatrorhize (Dahlia,2011).
Studi

pustaka

tumbuhan

terhadap

dari

kandungan

keluarga

kimia

Menispermaceae

jenis-

jenis

menunjukkan

adanya beberapa macam alkaloid, yaitu berberina, palmatina,


kolumbamina, yatrorrhiza.
Berdasarkan
mengandung
nornuciferin,

pemeriksaan

pati,

alkaloid

laboratorium
yang

N-formil-annonain,

terdiri

dan

tanaman
dari

ini

N-asetil-

N-formilnornuceferin.

Disamping itu ditemukan pula suatu glikosida furanoditerpen


yang berasa pahit. Pada akar tanaman juga terdapat alkaloid
berberin. Sebagai obat tradisional air rebusan batang atau
ranting brotowali manjur untuk mengobati penyakit malaria,
demam,

penyakit

kulit,

serta

membersihkn

ginjal

dan

menyembuhkan luka. Batang brotowali penuh ditutupi dengan


kutil dan mengandung banyak air. Rebusan batang brotowali
juga

merangsang

pertukaran

zat

kerja

pernapasan

sehingga

dapat

dan

menggiatkan

menurunkan

panas.

Kandungan berberin untuk membunuh bakteri pada luka.


Kandungan bahan yang lain dimanfaatkan untuk menambah
nafsu makan maupun menurunkan kadar gula darah. Batang
brotowali juga digunakan untuk pengobatan penyakit kuning,
kencing manis dan nyeri perut. Pada pemakaian sebagai obat
luar, rendaman batang brotowali bisa digunakan untuk
membersihkan luka atau kudis. Selain untuk penyembuhan

luka, batang brotowali juga dapat mengobati jerawat pada


wajah karena aktivitas anti bakteri dari alkaloid berberin.
(Simbolon, 2014)
VI.2. Kulit
Kulit adalah organ tubuh terbesar dari sistem yg menutupi otot dan
organ dasar. Kulit berfungsi sebagai pelindung terhadap suhu berbahaya,
cahaya, cedera, dan infeksi. Kulit juga menyimpan air, lemak, vitamin D,
indra perasa stimulasi yang menyakitkan dan menyenangkan. Berat kulit
orang dewasa sekitar 2,7 kg (Putri,2012). Kulit terbagi atas tiga
pokok,

yaitu

epidermis,

dermis,

dan

jaringan

subkutan

lapisan
atau

subkutis.Epidermis, lapisan luar kulit, membentuk perisai fisik dan


antimikroba untuk melindungi tubuh dari ancaman lingkungan. Epidermis
mengandung

keratinosit

yang

berfungsi

sebagai

tempat

sintesis

keratin.Lapisan kedua kulit, dermis berisi jaringan pembuluh darah, ujung


saraf, kelenjar keringat, kelenjar sebasea, folikel rambut, dan otot
rambut.Dermis pada dasarnya terdiri dari protein struktural urat saraf yang
dikenal sebagai kolagen. Dermis paling tebal berada di punggung, di mana
sekitar 30-40 kali dari ketebalan epidermis (James, Bergen, & Elston dalam
Makalah Myra, 2014). Lapisan ketiga dari kulit adalah lapisan subkutis.
Lapisan subkutis merupakan lapisan jaringan ikat longgar dan lemak di bawah
dermis. Subkutis terdiri dari kumpulankumpulan selsel lemak dan di antara
gerombolan ini berjalan serabutserabut jaringan ikat dermis.Lapisan lemak
ini disebut penikulus adiposus. Tebal jaringan lemak tidak sama bergantung
pada lokasi, di abdomen 3 cm, sedangkan didaerah kelopak mata dan penis
sangat tipis Kulit merupakan indikator bagi seseorang untuk memperoleh
kesan umum dengan melihat perubahan yang terjadi pada kulit. Misalnya
menjadi pucat, kekuningkuningan, kemerahmerahan atau suhu kulit
meningkat,memperlihatkan adanya

kelainan yang terjadi pada tubuh

gangguan kulit karena penyakit tertentu. (Myra,2014:22)

VI.3. Ekstraksi Secara Maserasi


Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair
dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapatmengekstrak
substansi yang diinginkan tanpamelarutkan material lainnya (Ditjen POM,
1995). Pelarut organik yang paling sering digunakan dalam mengekstraksizat
aktif dari sel tanaman adalah metanol, etanol, kloroform, hexan,
aseton,benzen dan etil asetat (Dtrjen POM, 1995). Selama proses ekstraksi,
pelarut akan berdifusi sampai ke material padat dari tumbuhan dan akan
melarutkan senyawa dengan polaritas yang sesuai dengan pelarutnya (Myra,
2014)
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan
pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur
ruangan (kamar) (Dirjen POM, 2000). Dalam maserasi (untuk ekstrak cairan),
serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan pelarut
disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan pengadukan
yang sering,

sampai zat tertentu dapat terlarut. Metode ini paling cocok

digunakan untuk senyawa yang termolabil (Myra, 2014:19)


VI.4. Masker Peel Off
Kosmetika wajah yang umumnya digunakan tersedia dalam berbagai
bentuk sediaan, salah satunya dalam bentuk masker wajah peel-off. Masker
peel-off biasanya dalam bentuk gel atau pasta, yang dioleskan ke kulit muka.
Setelah alkohol yang terkandung dalam masker menguap, terbentuklah lapisan
film yang tipis dan transparan pada kulit muka. Setelah berkontak selama 1530 menit, lapisan tersebut diangkat dari permukaan kulit dengan cara
dikelupas (Slavtcheff, 2000). Masker peel-off memiliki beberapa manfaat
diantaranya

mampu

merilekskan

otot-otot

wajah,membersihkan,

menyegarkan, melembabkan, dan melembutkan kulit wajah (Vieira, 2009).


Masker berbentuk gel mempunyai beberapa keuntungan diantaranya

penggunaan yang mudah, serta mudah untuk dibilas dan dibersihkan.Selain


itu, dapat juga diangkat atau dilepaskan seperti membran elastik (Harry,1973).
(Farida,2014)
VI.5.

Manfaat Batang Brotowali

Batang tanaman Brotowali ini direbus, lalu bisa dioleskan saja maupun
diminum, sesuai kebutuhan yang akan dicapai, dimana Brotowali bekerja
sebagai:

Di minum sebagai obat alami untuk penambah nafsu makan, bisa juga di
campur dengan daun Brotowali.

Di minum sebagai obat Hepatitis, dari batang dan daunnya yang diolah
bersama.

Di minum untuk mencegah terjadinya hepatitis dan kanker hati, karena


adanya senyawa terpan, flavanoid, alkaloid, steroid yang berfungsi sebagai
hepato protektor atau bisa disebut dengan pelindung hati.

Dari batang dan juga daunnya, di campur dengan madu, diminum sebagai
obat malaria.

Rebusan batang Brotowali dapat disajikan sebagai obat gatal-gatal yang


menyerang tubuh. Cukup dengan mengoleskan pada bagian yang gatal.

Kulit batang Brotowali mengandung alkaloid yang berfungsi sebagai


pelumpuh bakteri pada luka, dengan cara dioleskan pada bagian yang
terluka. Jika bakteri dapat dilumpuhkan, maka infeksi pada luka dapat
terhindari.

Tidak hanya untuk luka saja, air rebusan pada batang Brotowali
bermanfaat untuk menghapus warna kusam pada wajah sekaligus
mencerahkan wajah, penggunaannya seperti untuk cuci muka atau bisa
juga untuk masker wajah.(Novita, 2012)