You are on page 1of 24

LAPORAN PRAKTIKUM PENGAYAAN

EKSTRAKSI MINYAK KEMIRI

Oleh:

Athallahriq Aang Gustaffi


XII KI 1 / 17

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 CERME GRESIK


KELOMPOK TEKNOLOGI INDUSTRI DAN PARIWISATA
Jl. Jurit Kec. Cerme Kab. Gresik Telp. (031) 7992471. Fax (031) 7994569
E-mail: smkn1cermegresik@yahoo.co.id Web site: http/smkcerme.blogspot.com
2015 2016

A. Judul : Ekstraksi minyak kemiri.


B. Tujuan
A.
B.
C.
D.
E.

Siswa mampu memahami metode soxhletasi


Siswa dapat membuat minyak kemiri sesuai prosedur
Siswa mampu merangkai alat dalam proses pembuatan minyak kemiri
Siswa mampu mengoperasikan peralatan dan melakukan perawatan ringan
Siswa mampu menggunakan dan mengembangkan peralatan sebagai sarana

pembelajaran
F. Siswa dapat mengetahui kegunaan minyak kemiri

C. Teori dasar
1. Kemiri
Adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dan
rempah - rempah. Tumbuhan ini masih sekerabat dengan singkong dan termasuk
dalam suku Euphorbiaceae.
sebagai candleberry, Indian

Dalam

perdagangan

walnut,

antar

serta candlenut.

Negara

dikenal

Pohonnya

disebut

sebagai varnish tree atau kukui nut tree.Minyak yang diekstrak dari bijinya berguna
dalam industry untuk digunakan sebagai bahan campuran cat.
Tidak diketahui dengan tepat asal-usulnya, tumbuhan ini menyebar luas mulai
dari India dan Cina,melewati Asia

Tenggara danNusantara,

hingga Polinesia dan Selandia Baru Di Indonesia, kemiri dikenal dengan banyak
nama.Diantaranya, kembiri, gambiri ,hambiri ; kemili ; kemiling ; buah kareh (buah
keras,; kaminting . Juga muncang ;drkan, pidekan, miri ; kamr, komr, mr ;
dan lain-lain
Kemiri terutama ditanam untuk bijinya; yang setelah diolah sering digunakan
dalam masakan Indonesia dan masakan Malaysia. Di Pulau Jawa, kemiri juga
dijadikan sebagai saus kental yang dimakan dengan sayuran dan nasi. Kemiri
memiliki kesamaan dalam rasa dan tekstur denganmacadamia yang juga memiliki
kandungan minyak yang hampir sama. Kemiri juga dibakar dan dicampur
dengan pasta dan garam untuk
disebut inamona.

Inamona

membuat

bumbu

masak

adalah

bumbu

masak

khas Hawaii yang


utama

untuk

membuat poke tradisional Hawaii.


Inti biji kemiri mengandung 6066% minya. Di Hawaii, pada masa kuno,
kemiri (di sini disebut kukui) dibakar untuk menghasilkan cahaya. Kemiri disusun
berbaris memanjang pada sehelai daun palem, dinyalakan salah satu ujungnya, dan

akan terbakar satu demi satu setiap 15 menit atau lebih. Ini juga berguna sebagai alat
pengukur waktu. Misalnya, seseorang bisa meminta orang lain untuk kembali ke
rumah sebelum kemiri kedua habis terbakar. Di Tonga, sampai sekarang, kemiri yang
sudah matang (dinamai tuitui) dijadikan pasta (tukilamulamu), dan digunakan
sebagai sabun dan shampoo.
Penanaman kemiri modern kebanyakan hanya untuk memperoleh minyaknya.
Dalam setiap penanaman, masing-masing pohon akan menghasilkan sekitar 3080 kg
kacang kemiri, dan sekitar 15 sampai 20% dari berat tersebut merupakan minyak yang
didapat. Kebanyakan minyak yang dihasilkan digunakan secara lokal, tidak
diperdagangkan secara internasional.
Minyak kemiri terutama mengandung asam oleostearat. Minyak yang lekas
mengering ini biasa digunakan untuk mengawetkan kayu, sebagai pernis atau cat,
melapis kertas agar anti-air, bahan sabun, bahan campuran isolasi, pengganti karet,
dan lain-lain. Minyak kemiri ini berkualitas lebih rendah daripada tung oil, minyak
serupa yang dihasilkan oleh Vernicia fordii (sin. Aleurites fordii) dari Cina.

2. Minyak kemiri
Buah kemiri tidak dapat langsung dimakan mentah karena beracun, yang
disebabkan oleh toxalbumin. Persenyawaan toxal bumin dapat dihilangkan dengan
cara pemanasan dan dapat dinetralkan dengan penambahan bumbu lainnya seperti
garam, merica dan terasi. Bila terjadi keracunan karena kemiri, dapat dinetralkan
dengan meminum air kelapa.
Daging buah kemiri digunakan sebagai bumbu dalam jumlah yang relative
kecil. Minyak kemiri tidak dapat dicerna karena bersifat laksatif dan biasanya
digunakan sebagai bahan dasar cat atau pernis, tinta cetak dan pembuatan sabun atau
sebagai pengawet kayu. Di Filipina minyak ini sudah lama dikenal dan digunakan
untuk melapisi bagian dasar perahu, agar tahan terhadap korosif akibat air laut.
Minyak kemiri dapat digunakan sebagai minyak rambut dan di Pulau Jawa sebagai
bahan pembatik, dan juga untuk penerangan.

Minyak kemiri mempunyai sifat-sifat khusus, dimana minyak ini mudah


mongering bila dibiarkan di udara terbuka. Oleh karena itu minyak kemiri dapat
digunakan sebagai minyak pengering dalam industry minyak dan varnish.
Sifat minyak kemiri yang dihasilkan, antara lain dipengaruhi oleh metode
ekstraksi dan mutu bahan bakunya, pemasakan biji kemiri, seingga dalam melakukan
pemasakan biji kemiri memerlu kan metode yang tepat sehingga hasil dapat optimal.

3. Hexana
Heksana adalah senyawa organik yang terbuat dari karbon dan hidrogen yang
paling sering diisolasi sebagai produk sampingan dari minyak bumi dan
penyempurnaan minyak mentah. Pada suhu kamar Heksana adalah, cairan tidak
berwarna tidak berbau, dan memiliki banyak kegunaan dalam industri. Heksana
adalah pelarut yang sangat populer, misalnya, dan sering digunakan dalam pembersih
industri; Heksana juga sering digunakan untuk mengekstrak minyak dari sayuran,
khususnya kedelai. Kebanyakan kendaraan kelas bensin mengandung Heksana juga.
Meskipun sebagian ahli mengatakan senyawa Heksana tidak beracun dan
hanya menyajikan risiko rendah untuk manusia dan hewan, masih ada banyak
kontroversi di banyak tempat ketika berbicara seberapa sering terpapar, kadangkadang tanpa pengungkapan penuh, dalam makanan dan produk konsumen.
Heksana biasanya dianggap sebagai molekul yang relatif sederhana. Karena
awalan hex- menunjukkan, ia memiliki enam atom karbon, yang disertai dengan atom
hidrogen 14 memberikan rumus molekul C6H14. Karbon dirantai berturut-turut, satu
menyusul berikutnya. Setiap karbon memiliki setidaknya dua atom hidrogen yang
melekat padanya kecuali untuk karbon pertama dan terakhir, yang memiliki tiga.
Karena bentuk karbon-hidrogen eksklusif dan fakta bahwa ia hanya memiliki ikatan
molekul tunggal, dapat diklasifikasikan sebagai alkana rantai lurus.
Senyawa Heksana stabil pada suhu kamar, dan paling sering terjadi sebagai
cairan berwarna. Ia memiliki titik leleh sekitar -139,54 F (-95,3 C), titik didih
154,04 F (67,8 C), dan itu massa molar adalah 86,18 gram per mol (g / mol).
Heksana juga merupakan molekul non-polar, yang berarti bahwa tidak larut dalam air.

4. Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dari
campurannya dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat
mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Faktorfaktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah: tipe persiapan sampel, waktu
ekstraksi, kuantitas pelarut, suhu pelarut dan tipe pelarut. Secara umum, tujuan
ekstraksi adalah :
a) Senyawa kimia sesuai dengan kebutuhan
b) Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu, misalnya
alkaloid, flavanoid atau saponin
c) Organisme yang digunakan dalam pengobatan tradisional, dan biasanya dibuat
dengan cara dididihkan dalam air
d) Sifat senyawa yang akan diisolasi dalam menguji organism untuk mengetahui
adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus (Rachman, 2009).
Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu pelarut
organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang
mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka
larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai
terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel.
Prinsip maserasi adalah penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam
serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur
kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati
dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di
dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar
dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa
tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel
dan di dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian
cairan penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya
dipekatkan (Rachman, 2009)
Hampir 70% dari semua lemak dan minyak yang dihasilkan dunia adalah
minyak nabati. Minyak diperoleh dari biji tanaman seperti kacang tanah, kedelai,

bunga matahari, zaitun dan sebagainya. Minyak diekstraksi dari dalam biji atau inti
dengan menggilingnya dan dengan menggunakan pelarut dan kemudian memisahkan
pelarutnya dengan evaporasi.
Ekstraksi merupakan teknik pemisahan yang sangat sering dilakukan di
laboratorium kimia organic. Jarang sekali pekerjaan laboratorium organic yang tidak
melibatkan ekstraksi. Ekstraksi dapat didefinisikan sebagai metode pemisahan
komponen dari suatu campuran dengan menggunakan suatu pelarut.
Ragam ekstraksi yang tepat sudah tentu bergantung pada tekstut dan
kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi dan pada jenis senyawa yang
diisolasi umumnya kita perlu membunuh jaringan tumbuhan untuk mencegah terjadi
oksidasi enzim / hidrolisis ( harborne, 1987 ).
Teknik ekstraksi pelarut merupakan suatu teknik pemisahan yang lazim,
penting dan sangat berguna serta banyak digunakan dalam cabang kimia analisis.
Dasar berfikir ini adalah pemisahan dari campuran solute lewat proses partisi antar
dua pelarut kedalam campuran tidak merusak residu yang terbentuk sehingga
memisahkan ekstrak lebih mudah. Disamping itu air juga memiliki viskositas rendah
sehingga sirkulasi zat dapat terjadi dengan bebas.
Ekstraksiadalah pemisahan suatu zat atau beberapa dari suatu padatan atau
cairan dengan bantuan pelarut, pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larutan yang
berbeda-beda dari komponen campuran tersebut

( Geancoplis, 1998 ).

Secara umum ekstraksi senyawa metabolit sekunder dari seluruh bagian


tumbuhan seperti bunga, buah, daun, kulit batang dan akar menggunakan system
maserasi menggunakan pelarut organik polar seperti methanol dan n heksan.
Beberapa metode ekstarksi senyawa organic bahan alam yang umum digunkan antara
lain(Darwis.D,2000).

a) Maserasi
Maserasi merupakan proses perendaman sampel dengan pelarut
organik yang digunakan pada temperatur ruangan. Proses ini sangat
menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam karena dengan

perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membran


sel akibat perbedaan tekanan antara didalam dan diluar sel sehingga senyawa
metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut
organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama
perendaman yang dilakukan. Pemilihan pelarut untuk proses maserasi akan
memberikan efektifitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa
bahan alam pelarut tersebut. Secara umum pelarut methanol merupakan
pelarut yang paling banyak digunakan dalam proses isolasi senyawa organik
bahan alam, karena dapat melarutkan seluruh golongan metabolit sekunder.
b) Perkolasi
Perkolasi merupakan proses melewatkan pelarut organik pada sampel
sehingga pelarut akan membawa senyawa organik bersama- sama pelarutnya.
Tetapi efektifitasnya dari proses ini hanya akan lebih besar untuk senyawa
organik yang sangat mudah larut dalam pelarut yang digunakan.
c) Sokletasi
Soxhlet merupakan alat yang terdiri dari pengaduk atau granul antibumping, still pot (wadahpenyuling) bypass sidearm, thimble selulosa,
extraction liquid, syphon arm inlet, syphon arm outlet,expansion adapter,
condenser (pendingin), cooling water in, dan cooling water out. Soxhlet
biasadigunakan dalam pengekstrasian emak pada suatu bahan makanan.
Metode soxhlet ini dipilihkarena pelarut yang digunakan lebih sedikit
(efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkanmelalui sifon tetap tinggal
dalam labu, sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampelselalu
baru dan meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat.
Kerugian metodeini ialah pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan
hanya digunakan untuk ekstraksisenyawa yang tahan panas (Harper 1979).Soxhlet
merupakan Ekstraksi padat-cair digunakan untuk memisahkan analit yang
terdapat padapadatan menggunkan pelarut organic. Padatan yang akan
diekstrak dilembutkan terlebih dahuludengan cara ditumbuk atau juga diirisiris. Kemudian padatan yang telah halus dibungkus dengankertas saring.
Padatan yang terbungkkus kertas saring dimasukkan kedalam alat ekstraksi
soxhlet.Pelarut organic dimasukkan kedalam labu alas bulat. Kemudian alat

ektraksi soxhlet dirangkaidengan kondensor . Ekstraksi dilakukan dengan


memanaskan pelarut organic sampai semua analitterekstrak (Annim A, 2013)
Sebuah ekstraktor Soxhlet adalah bagian dari peralatan laboratorium.
Ditemukan pada tahun 1879 oleh Franz von Soxhlet. Ini awalnya dirancang
untuk ekstraksi lipid dari bahan padat. Namun, ekstraktor Soxhlet tidak
terbatas pada ekstraksi lipid. Biasanya, ekstraksi Soxhlet hanya diperlukan
apabila senyawa yang diinginkan memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut,
dan pengotor tidak larut dalam pelarut. Jika senyawa yang diinginkan
memiliki kelarutan yang signifikan dalam pelarut maka filtrasi sederhana
dapat digunakan untuk memisahkan senyawa dari substansi pelarut.
Biasanya bahan padat yang mengandung beberapa senyawa yang
diinginkan ditempatkan dalam sebuah sarung tangan yang terbuat dari kertas
filter tebal, yang dimuat ke dalam ruang utama dari ekstraktor Soxhlet.
Ekstraktor Soxhlet ditempatkan ke botol berisi ekstraksi pelarut. Soxhlet
tersebut kemudian dilengkapi dengan sebuah kondensor (Anonim B, 2013).
Sokletasi adalah suatu metode / proses pemisahan suatu komponen
yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang ulang dengan
menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang diinginkan
akan terisolasi.
Catatan William B. Jensen bahwa contoh awal extractor kontinu adalah
bukti arkeologi untuk Mesopotamia air panas ekstraktor untuk bahan organik
berasal dari sekitar 3500 SM. Sebelum Soxhlet, kimiawan Perancis Anselme
Payen juga memelopori dengan ekstraksi terus menerus dalam tahun 1830-an.
Sebuah ekstraktor Soxhlet adalah bagian dari peralatan laboratorium.
Ditemukan pada tahun 1879 oleh Franz von Soxhlet. Ini awalnya dirancang
untuk ekstraksi lipid dari bahan padat. Namun, ekstraktor Soxhlet tidak
terbatas pada ekstraksi lipid. Biasanya, ekstraksi Soxhlet hanya diperlukan
apabila senyawa yang diinginkan memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut,
dan pengotor tidak larut dalam pelarut. Jika senyawa yang diinginkan
memiliki kelarutan yang signifikan dalam pelarut maka filtrasi sederhana
dapat digunakan untuk memisahkan senyawa dari substansi pelarut.
Biasanya bahan padat yang mengandung beberapa senyawa yang
diinginkan ditempatkan dalam sebuah sarung tangan yang terbuat dari kertas

filter tebal, yang dimuat ke dalam ruang utama dari ekstraktor Soxhlet.
Ekstraktor Soxhlet ditempatkan ke botol berisi ekstraksi pelarut. Soxhlet
tersebut kemudian dilengkapi dengan sebuah kondensor.
Prinsip soxhlet i0alah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru
yang umumnya sehinggaterjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut
konstan dengan adanya pendingin balik. Penetapan kadar lemak dengan
metode soxhlet ini dilakukan dengan cara mengeluarkan lemak dari
bahandengan pelarut anhydrous. Pelarut anhydrous merupakan pelarut yang
benar-benar bebas air. Haltersebut bertujuan supaya bahan-bahan yang larut
air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak serta keaktifan pelarut tersebut
tidak berkurang.

Pelarut

yang

biasa

digunakan

adalah

pelarut

hexana(Darmasih 1997).
Adapun prinsip sokletasi ini yaitu : Penyaringan yang berulang ulang
sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif
sedikit. Bila penyaringan ini telah selesai, maka pelarutnya diuapkan kembali
dan sisanya adalah zat yang tersari. Metode sokletasi menggunakan suatu
pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang
terdapat pada bahan tersebut, tapi tidak melarutkan zat padat yang tidak
diinginkan.
Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda
maserasi dan perkolasi. Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi
uap ), tidak dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang
akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan
pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini, maka cara yang
terbaik yang didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi
Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Dengan cara
pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontunyu akan
membasahi sampel, secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali
kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut.
Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan
dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila
suatu campuran organik berbentuk cair atau padat ditemui pada suatu zat
padat, maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut yang diinginkan.

d) Destilasi Uap
Proses destilasi lebih banyak digunakan untuk senyawa organik yang
tahan pada suhu yang cukup tinggi, yang lebih tinggi dari titik didih pelarut
yang digunakan. Pada umumnya lebih banyak digunakan untuk minyak atsiri.
e) Pengempaan
Metode ini lebih banyak digunakan dalam proses industri seperti pada
isolasi CPO dari buah kelapa sawit dan isolasi dari daun gambir. Dimana pada
proses inni tidak menggunakan pelarut. Penggunaan ekstraksi soxhlet
mempunyai keuntungan, salah satunya adalah proses ekstraksi dapat
berlangsung berulang-ulang secara otomatis sampai ekstraksi sempurna.
Namun kekurangan dari sistem ini adalah suhu campuran pada tabung
ekstraksi tidak sama dengan titik didih pelarutnya, sehingga proses ekstraksi
membutuhkan waktu lama.

5. Destilasi
Destilasi adalah suatu teknik pemisahan suatu zat dari campurannya
berdasarkan titik didih. Destilasi ada dua macam, yaitu destilasi sederhana dan
destilasi bertingkat. Destilasi sederhana merupakan proses penguapan yang diikuti
pengembunan. Destilasi dilakukan untuk memisahkan suatu cairan dari campurannya
apabila komponen lain tidak ikut menguap (titik didih komponen lain jauh lebih
tinggi). Misalnya pengolahan air tawar dan air laut. Sementara destilasi bertingkat
merupakan proses destilasi berulang-ulang yang terjadi pada kolom fraksionasi.
Kolom fraksionasi terdiri atas beberapa plat yang lebih tinggi lebih banyak
mengandung cairan yang mudah menguap, sedangkan cairan yang tidak mudah
menguap lebih banyak dalam kondensat. Contoh destilasi bertingkat adalah
pemisahan
lain

campuran

alkohol-air,

pemurnian

minyak

bumi

dan

lain-

(Syarifudin, 2008).
Destilasi adalah suatu proses pemisahan yang sangat penting dalam berbagai

industri kimia. Operasi ini bekerja untuk memisahkan suatu campuran menjadi
komponen-komponennya berdasarkan perbedaan titik didih. Destilasi ini selalu
digunakan untuk memisahkan minyak bumi menjadi fraksi-fraksinya, memisahkan

suatu produk kimia dari pengotornya, dan sangat diperlukan dalam industri obatobatan. ( anonim A, 2013)
Destilasi merupakan teknik pemisahan yang didasari atas perbedaan perbedaan
titik didik atau titik cair dari masing-masing zat penyusun dari campuran homogen.
Dalam proses destilasi terdapat dua tahap proses yaitu tahap penguapan dan
dilanjutkan dengan tahap pengembangan kembali uap menjadi cair atau padatan. Atas
dasar ini maka perangkat peralatan destilasi menggunakan alat pemanas dan alat
pendingin
Proses destilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang memiliki titik
didih lebih rendah akan menguap. Uap tersebut bergerak menuju kondenser yaitu
pendingin, proses pendinginan terjadi karena kita mengalirkan air kedalam dinding
(bagian luar condenser), sehingga uap yang dihasilkan akan kembali cair. Proses ini
berjalan terus menerus dan akhirnya kita dapat memisahkan seluruh senyawa-senyawa
yang ada dalam campuran homogen tersebut (anonim A, 2013)
Cara kerja destilasi
Destilasi merupakan suatu perubahan cairan menjadi uap dan uap tersebut
didinginkan kembali menjadi cairan. Unit operasi destilasi merupakan metode yang
digunakan untuk memisahkan komponen-komponennya yang terdapat dalam salah
satu larutan atau campuran dan bergantung pada distribusi komponen-komponen
tersebut antara fasa uap dan fasa air. Syarat utama dalam operasi pemisahan
komponen-komponen dengan cara destilasi adalai komposisi uap harus berbeda
dengan komposisi cairan dengan terjadi keseimbangan larutan-larutan, dengan
komponen-komponennya cukup dapat menguap (anonim B, 2013).
Tahap destilasi
1) Evaporasi : memindahkan pelarut sebagai uap dari cairan.
2) Pemisahan uap-cairan didalam kolom dan untuk memisahkan komponen
dengan titik didih lebih rendah yang lebih mudah menguap komponen lain
yang kurang volatil.
3) Kondensasi dari uap, serta untuk mendapatkan fraksi pelarut yang lebih
volatil.

6. Evaporasi

Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan molekul di dalam


keadaan cair (contohnya air) dengan spontan menjadi gas (contohnya uap air). Proses
ini adalah kebalikan dari kondensasi. Umumnya penguapan dapat dilihat dari
lenyapnya

cairan

secara

berangsur-angsur

ketika

terpapar

pada

gas

dengan volume signifikan.


Rata-rata molekul tidak memiliki energi yang cukup untuk lepas dari cairan.
Bila tidak cairan akan berubah menjadi uap dengan cepat. Ketika molekul-molekul
saling bertumbukan mereka saling bertukar energi dalam berbagai derajat, tergantung
bagaimana mereka bertumbukan. Terkadang transfer energi ini begitu berat sebelah,
sehingga salah satu molekul mendapatkan energi yang cukup untuk menembus titik
didih cairan. Bila ini terjadi di dekat permukaan cairan molekul tersebut dapat terbang
ke dalam gas dan "menguap"
Ada cairan yang kelihatannya tidak menguap pada suhu tertentu di dalam gas
tertentu (contohnya minyak makan pada suhu kamar). Cairan seperti ini memiliki
molekul-molekul yang cenderung tidak menghantar energi satu sama lain dalam pola
yang cukup buat memberi satu molekul "kecepatan lepas" - energi panas - yang
diperlukan untuk berubah menjadi uap. Namun cairan seperti ini sebenarnya
menguap, hanya saja prosesnya jauh lebih lambat dan karena itu lebih tak terlihat.

D. Alat dan Bahan


TABEL ALAT

No.
1
2
3
4
5
6
7

NamaAlat
Mortar danAlu
Neraca Analitik
Beaker Glass
Kertas Saring
Penjepit
Soxhlet
Kondensor Reflux

Spesifikasi
Standard
Standard
250
Standard
Standard
Standard
Standard

Jumlah
1
1
1
1
1
1
1

Satuan
Buah
Buah
ml
Lembar
Buah
Buah
Buah

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Kondensor
Leibiegh
Selang plastic
Aerator
Bak air
Elektromantel
Statif dan Klem
Batu Didih
Stopwatch
Labu distilasi
Termometer
Sumbat karet
Adaptor
Erlenmeyer
Botol Semprot
Spatula
Cawan Porselen
Oven
Labu Alas Bulat
Corong gelas
Gelas ukur
Piknometer
Botol kemasan
Botol tempat
pelarut bekas
Benang

No
1
2

Standard

Buah

Standard
Standard
Standard
Standard
Standard
Standard
Standard
250
100
Standard
Standard
100
Standard
Standard
Standard
Standard
250
Kaca 40 cm
25 ml
5 ml
Kaca

2
1
1
1
2
3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
ml
C
Buah
Buah
ml
Buah
Buah
Buah
Buah
ml
Buah
Buah
Buah
Buah

Plastic

Buah

Standard

Buah

TABEL BAHAN
Nama bahan
Jumlah
Biji Kemiri
40
Heksana
167

E. Rangkaian alat
Rangkaian alat ekstraksi
Metode soxhletasi

Satuan
Gram
Ml

Pipa
samping

Fungsi :
a. Labu alas bulat : untuk wadah pelarut yang akan dipanaskan.
b. Sifon : untuk mengalirkan pelarut yang berada didalam alat soxhletasi
a. Condensor : untuk mendinginkan uap agar menjadi cairan kembali.
c. Pipa samping : untuk mengalirkan uap dari labu alaas bulat ke kondensor.

Rangkaian alat destilasi

erlenmeyer

Fungsi :
a. Statif : untuk menahan alat agar tetap tegak .
b. Klem : penjepit alat, menghubungkan antara statif dan alat.
c. Pemanas : untuk memanaskan dan mengatur suhu suatu zat.
d. Labu destilasi : untuk menampung zat yang akan di pisahkan.
e. Kondensor : untuk mendinginkan uap agar menjadi cairan kembali.
f. Labu penampung / erlenmeyer : untuk menampung hasil keluaran dari
kondensor
Rangkaian alat
Evaporasi

rak

Timer
Pengatur
suhu

Fungsi :
a. rak : untuk wadah menempatkan barang yang akan dioven.
b. Pengatur suhu : untuk mengatur suhu sesuai dengan kebutuhan.
c. Timer : untuk mengukur waktu pengovenan.

F. Prosedur
1. menimbang biji kemiri sebanyak 100 gram.

2. menghaluskan biji kemiri dan memasukkan biji kemiri yang sudah halus
kedalam selongsong kertas saring, pastikan tidak ada kebocoran.
3. bungkusan bahan kemiri dimasukkan kedalam tabung soxhlet.
4. labu didih leher 1, soxhlate, pendingin air, dan pemanasnya dipasang tegak
lurus dan leher soxhlate dijepit dengan menggunakan klem & statif.
5. pelarut heksana diambil sebanyak 150 ml dengan menggunakan gelas ukur
dimasukkan dalam labu datat bulat.
6. rakit alat ekstraksi dan alirkan air pendingin.
7. lakukan pengecekan alat.
8. pemanas dinyalakan dengan suhu 70-80c sampai pelarutnya mendidih dan
uapnya mengembun sampai menghasilkan tetesan.
9. proses ekstraksi dilakukan sampai minyak telah larut seluruhnya.
10. bungkusan bahan padat diambil dan dikeringkan , kemudian ditimbang berat
bubuk kemiri lainnya.
11. lakukan pemurnian minyak kemiri dengan destilasi.
12. pelarut yang diperoleh diukur volumenya dan disimpan dibotol.yang sudah
disediakan.
13. memanaskan minyak kemiri dengan cara melakukan evaporasi di oven pada
suhu 100c untuk menghilangkan pelarut yang tersisa.
14. mengukur volume minyak kemiri yang sudah dievaporasi.
15. mencatat seluruh rangkaian kegiatan.

G. Diagram alir
H. Data pengamatan
N
O

Pengamatan

Keterangan

1.

Jenis Pelarut

Heksana

2.

Jenis Ekstraksi

Soxhletasi

3.

Metode ekstraksi

Padat Cair

4.

Berat bahan ekstraksi

40 gram

5.

Kadar minyak bahan ekstraksi

35%

6.

Volume pelarut

167 ml

7.

Berat pelarut

8.

Laju pengembunan pelarut


(tetes/menit)

126 / menit

9.

Laju aliran pelarut


(sirkulasi/jam)

5 /jam

10
.

Suhu air pendingin inlet

34

11
.

Suhu air pendingin outlet

32

12
.

Waktu ekstraksi

1 jam 30 menit

13
.

Berat ekstrak (minyak yang


dihasilkan)

14 gram

14
.

Berat rafinat

4.5 gram

15
.

Kadar minyak dalam rafinat

16
.

Kadar solven dalam rafinat

17
.

Rendemen

33%

18
.

Density

0,924 g/ml

19
.

Kenampakan produk hasil


produk ekstraksi

Kuning jernih,bau
khas kemiri

I. Analisa
1. Densitas

piknometer isi piknometer kosong


Volume piknometer
20.1 g 10.86 g
10 ml

43,56821,818 gram
=0,87 g/ml
= 0,924 g/ml
25 ml

2. Rendemen

Massa produk
x 100
Massa bahan baku

48.7 g x 34.7 g
x 100
40 g

=35%
3.berat minyak dalam rafinat

= (bahan baku) (massa produk + ampas)


=40 gram - (14 gram + 21.5 gram)
= 40gram 35.5 gram
= 4.5 gram

4.Gram produk

= density . volume produk


=0.924 g/ml . 16 ml
=14.784 gram

5.Berat ekstrak

= (berat cawan + isi) berat cawan kosong


=48.7 g - 34.7 g
= 14 g

6.Yield

35 (rendemen)
x 100
50 (teoritis)

= 70 %

J. Perhitungan ekonomi
Anggaran biaya produksi dan keuntungan dalm membuat minyak kemiri adalah sebagai
berikut :

Harga bahan :

Kemiri
1000 g = Rp. 35.000
40g = Rp. 1400

Pelarut (heksana)
1 liter = Rp.40.000
37 ml = Rp. 1.480

Harga jual produk 125 ml

125.000
125
Harga jual produk/ml

= Rp.125.000

= Rp.1000

Keuntungan kotor
= Harga jual produk (harga bahan+penyusutan alat+upah+listrik dan air)
= Rp.16.000 Rp.9380
= Rp.6620

PPN (10%)

= 10% x keuntungan kotor


= 10% x Rp.6620
= Rp.662

Keuntungan bersih
= keuntungan kotor PPN (10%)
= Rp.6620 Rp. 662

= Rp. 5958

PEMASUKAN
Hasil produk = 16 ml
Harga jual produk
= 16 ml x Rp.1000 = Rp. 16.000

PENGELUARAN

Harga bahan
Penyusutan alat
Upah
PPN (10%)
Listrik dan air

= Rp.2.880
= Rp.1.500
= Rp.3000
= Rp.662
= Rp.2000
+

Rp.10042

K. Pembahasan
Percobaan ini merupakan simulasi pembuatan minyak kemiri secara sederhana
dengan menggunakan peralatan destilasi sederhana dan alat soxhletasi sederhana.
Percobaan ini ditujukan agar siswa mampu memahami proses pembuatan minyak kemiri
dari awal hingga akhir, membuat siswa agar dapat menggunakan alat dengan baik dan
memanfaatkan alat alat tersebut sebagai bahan pembelajaran yang berguna untuk bekal di
masa yang akan datang.
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dari
campurannya dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak
substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi laju ekstraksi adalah: tipe persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas
pelarut, suhu pelarut dan tipe pelarut.
Dalam percobaan yang dilakukan , ekstraksi yang kami lakukan menggunakan
metode Soxhletasi. prinsip sokletasi ini yaitu : Penyaringan yang berulang ulang
sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. Bila
penyaringan ini telah selesai, maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat
yang tersaring. Metode sokletasi menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan
dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan tersebut, tapi tidak

melarutkan zat padat yang tidak diinginkan. Dengan kata lain pelarut yang digunakan
harus benar benar sesuai kriteria pelarut yang baik digunakan untuk melarutkan minyak
dalam kemiri. Beberapa pelarut yang disediakan yaitu Methanol, Ethanol, dan nHeksana. Dalam percobaan kali ini, n-heksana lah yang digunakan, alasan kami
menggunakan heksana yaitu pelarut tersebut yang paling baik digunakan karena sifat
yang dimilikinya,sifat yang dimiliki heksana yaitu non polar sedangkan pelarut yang lain
memiliki sifat semi polar (ethanol) dan polar (methanol). Kami menggunakan pelarut
non polar karena produk yang ingin kami ekstrak yaitu minyak dengan kata lain produk
yang kami inginkan memiliki sifat non polar. Maka dari itu pelarut yang paling cocok
untuk melarutkan larutan non polar (minyak) yaitu dengan melarutkannya dengan pelarut
non polar pula (heksana).
Cara kerja dalam proses ekstraksi minyak kemiri dengan menggunakan metode
soxhletasi dengan cara pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah dingin secara
kontunyu akan membasahi sampel, secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali
kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. Pelarut
yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan dengan
elektromantel sehingga pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik
berbentuk cair atau padat ditemui pada suatu zat padat, maka dapat diekstrak dengan
menggunakan pelarut yang diinginkan.
Dalam pelaksanaannya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama proses ekstraksi
biji kemiri hingga menjadi minyak siap pakai. Biji kemiri yang digunakan adalah biji kemiri
kering, penggunaan biji kemiri kering ini berhubungan dengan hasil ekstraksi yang akan diambil,
apabila kemiri yang digunakan adalah biji kemiri basah, maka hasil ekstraksi yang terbentuk
memiliki kandungan air yang dapat menyebabkan hasil yang kurang maksimal saat produk
terbentuk.
Sebelum proses ekstraksi dilaksanakan, biji kemiri harus digerus terlebih dahulu hingga
menjadi partikel yang lebih kecil, alasannya agar pelarut lebih maksimal dalam melarutkan
minyak karena media yang akan diektrak lebih terbuka sehingga minyak yang ada didalam
kemiri lebih mudah terlarut dengan pelarut.
Bahan yang dihaluskan dimasukkan kedalam kertas saring untuk kemudian dimasukkan
kedalam tabung soxhletasi, penggunaan kertas saring ini agar bahan bisa terbungkus menjadi 1
dan pelarut juga dapat mengenai bahan yang akan diektrak yaitu kemiri.

Pastikan terbungkus rapat dan tidak bocor, lalu sisakan tali agar mempermudah saat
pengambilan ampas kemiri.
Pastikan saat memasukkan kedalam alat soxhletasi, bahan yang ada dalam kertas saring
harus tidak melebihi tinggi sifon, hal ini bertujuan agar kemiri yang berada dalam kertas saring
terendam secara keseluruhan, apabila melebihi tinggi sifon, maka kemiri yang akan diektrak
tidak terendam secara keseluruhan dan menyebabkan minyak tidak ter ekstrak secara maksimal.
Jumlah pelarut yang digunakan untuk melarutkan harus sesuai dengan kebutuhan,
apabila pelarut yang digunakan terlalu banyak, maka akan memperlambat proses pemisahan
antar minyak denga pelarut tersebut. Namun, apabila jumlah pelarut yang digunakan terlalu
sedikit, maka dapat menyebabkan tekanan panas yang sangat tinggi terhadap labu, apabila
tekanan yang diterima labu terlalu tinggi, maka akan memungkinkan labu tersebut pecah karena
tidak mampu menahan tekanan tersebut.
Saat proses pemanasan, disarankan suhu yang digunakan adalah lebih dari titik didih
pelarutnya agar pelarut lebih cepat mengalami penguapan. Namun yang perlu diperhatikan, titik
didih tidak boleh melebihi dari titik didih minyak agar minyak tidak ikut menguap dan tetap
berada didalam labu alas bulat.
Ekstraksi dihentikan apabila tetesan tetesan yang terjadi selalu konstan dalam suatu
waktu terteentu dan warna dari rendaman yang ada dalam tabung soxhlet bening, hal ini
menunjukkan bahwa minyak yang ada dalam kemiri sudah terlarut semua. Kita tidak bisa
mematok jam, karena belum tentu hasil terbaik berpatokan pada jam.
Keuntungan yang kita dapat saat melakukan metode soxhletasi yaitu penggunaan pelarut
yang sedikit karena pelarut yang digunakan secara kontinyu sehingga tidak mengurangi terlalu
banyak pelarut , satu satunya hal yang dapat mengurangi pelarut adalah penguapan dari pelarut
itu, yang biasanya penguapan terjadi saat pelarut di biarkan dalam udara bebas. Selanjutnya yitu
waktu yang digunakan relatif singkat karena pelarut merendam secara keselutruhan biji kemiri.
Namun, kekurangan metode ini adalah tidak dapat mengekstrak bahan yang tidak tahan
panas karena dapat menyebabkan penguraian dan produk akan menjadi rusak. Lalu juga pelarut
yang digunakan harus pelarut yang memiliki titik didih rendah sehingga menyebabkan mudahnya
penguapan pelarut pada saat sebelum melakukan proses pemanasan.
Setelah proses ekstraksi dengan metode soxhletasi selesai, langkah berikutnya yaitu
melakukan proses destilasi untuk memisahkan minyak dan heksan yang tercampur. Suhu yang
digunakan berkisar 80 - 100C, digunakan suhu sedimikian rupa agar proses terpisahnya antara
heksana dengan minyak terjadi lebih cepat dan tidak memakan banyak waktu.

Proses destilasi dihentikan saat tidak ada lagi tetesan yang menetes. Setlah destilasi
selesai, heksana hasil yang diperoleh dikembalikan ke botol semula, sedangkan minyak yang
terbentuk harus di evaporasi agar seluruh heksan maupun zat zat yang mungkin ikut terlarut
dalam minyak hilang.
Setelah dipanaskan, ambil minyak, ukur denstias atau yang lain yang mungkin digunakan
untuk data pengamatan. Setelah semua selesai, masukkan minyak kedalam wadah yang telah
disediakan. Darri percobaan yang kami lakukan, minyak kemiri produk kami memiliki massa
jenis sebesar 0,924 g/ml dan rendemen yang kami hasilkan sebesar 35%.

L. Kesimpulan
Dari hasil yang kami peroleh, dapat dismpulkan bahwa Minyak kemiri dapat
terbentuk dari proses ekstraksi biji kemiri lalu dibantu dengan proses destilasi dan
evaporasi untuk membuat hasilnya agar maksimal.
Dalam pelaksanaannya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama proses
a.
b.
c.
d.
e.
f.

praktikum berlangsung, yaitu :


Biji kemiri harus kering.
Biji kemiri harus halus.
Tidak boleh ada kebocoran saat membungkus kemiri.
Tinggi bungkusan bahan harus tidak boleh lebih tinggi dari tinggi sifon.
Jumlah pelarut harus sesuai.
Disrankan untuk menggunakan suhu yang tinggi untuk mempercepat proses.
Pelarut yang kami gunakan adalah heksana, karena selain harganya murah,
pelarut jenis ini memiliki kemampuan yang lebbih dalam melarutkan minyak karena
sifatnya yang sama dengan minyak yaitu sifat non polar.
Ekstraksi dapat dihentikan apabila warna rendaman pada sifon berwarna bening
dan lama siklus satu dengan siklus lainnya secara berturut turut memiliki waktu yang
konstan, penghentian ekstraksi tidak berdasarkan waktu (misal 2 jam harus selesai).
Metode yang digunakan adalah metode soxhletasi yang memiliki beberapa

keunggulan yaitu :
A. Menghemat jumlah pelarut.
B. Menghemat waktu.
C. Sampel terekstraksi secara sempurna.
Pengukuean saat destilasi adalah uapnya yaitu uap heksana sehingga termometer

a.
b.
c.
d.

diletakkan tidak menempel pada cairan.


Melakukan pengujian :
densitas : 0,924 g/ml
rendemen : 35 %
warna produk : kuning jernih
bau : khas kemiri

M.Daftarpustaka
http://analisakimia.com/wp-content/uploads/2014/12/destilasi1.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-pcEQRIlf9Hw/UGBV_fjjMI/AAAAAAAAAEM/A4lylenHi90/s1600/s2.jpg
https://id.wikipedia.org/wiki/Kemiri
http://dokumen.tips/download/link/makalah-minyak-kemiri
http://ilmualam.net/pengertian-heksana-dan-penggunaan-heksana.html
http://inengahjuliana.blogspot.co.id/2013/06/laporan-soxhlet.html
http://inengahjuliana.blogspot.co.id/2013/06/destilasi-i.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Penguapan
Darwis D. 2000. Teknik Dasar Laboratorium Dalam Penelitian Senyawa Bahan
Alam Hayati, Workshop Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Bidang
Kimia Organik Bahan Alam Hayati, FMIPA Universitas Andalas Padang.
Nurida, N.L., A. Dariah, dan A, Rachman. 2009. Kualitas limbah pertanian sebagai
bahan baku pembenah berupa biochar untuk rehabilitasi lahan. Prosiding
Seminar Nasional dan Dialog Sumber daya Lahan Pertanian. Tahun 2009.8. Hal.
209 - 215.
Syarifudin. 2008. Kimia. Tangerang : Scientific Press.
http://www.genlab.co.uk/uploads/images/gpi_pic2.jpg